• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sejarah kelam penjajahan di masa lalu memang tidak bisa dilupakan oleh setiap negara manapun, termasuk Korea. Dibarengi gemuruh filmmaker Korea kerap unjuk taring agar bisa bersaing sebagai film blockbluster ala Asia. Titik inilah yang membuat seringnya mereka mengambil premis yang melatarbelakangi peperangan antara Korea dan Jepang, dimana Jepang sendiri memang sudah dikenal atas kebengisan dan kekejamannya di masa penjajahan terhadap Korea yang tak mampu dilupakan selamanya. Sebelum The Battle: Roar to Victory banyak film yang sudah membahas hal serupa, sejauh yang saya ingat yaitu 'Age of Shadow' dan 'Battleship Island'. Dan istimewanya di negaranya sendiri, film ini adalah film terlaris yang menyedot penonton sebanyak 1 juta dalam 4 hari penayangan. Yang bisa dikatakan film ambisius dari sutradara Won Shin-yeon ini mungkin berusaha mampu berkata banyak melalui filmnya.

Kita mendapatkan seorang tokoh utama Hwang Hae-Cheol (Yu Hae-Jin) seorang milisi kemerdekaan Korea bersama rekannya Jang-Ha (Ryoo Joon-Yeol) yang berjuang melawan para elite tentara Jepang yang dipimpin oleh Jiro Yasukawa (Kazuki Kitamura) si pembunuh harimau berkumis Pak Raden di Manchuria, China (1920). Tak lepas dari tentara Jepang sebagai penjahatnya yang super-duper kejam, kita akan melihat banyaknya adegan brutal dan bengis di film ini. Dari banyaknya adegan kepala terpenggal berserakan, hingga seorang bocah mati tertembak saat ia mencoba kabur membawa tali layangan, sementara gilanya para tentara asyik menyaksikannya sambil tertawa sebagai hiburan. Film ini memang hampir begitu banyak adegan eksploitatif yang kemungkinan besar bakal membuatmu banyak mengeluskan dada.

Sepanjang film berjalan ia akan dipenuhi dengan sederet aksi tanpa henti, dari aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, sumput-sumputan, dan tentu saja ia bukan sekedar aksi tanpa otak, tapi lebih ke alur yang lebih taktis, walau tidak sampai terkesan cerdas, rumit atau apapun dengan gagasan super simple tapi alurnya enak diikuti. Walau dalam beberapa adegan terkesan repetitif, tapi Shin-yeon mengurainya dengan elemen-elemen yang tampak baru dalam sajian film perang seperti senjata golok/parang yang digunakan Hae-Cheol untuk membantai para tentara Jepang dengan hebatnya. Walau kadang tingkahnya overreacted menurut saya, selalu maju sendirian ditengah senjata api yang ditodong tepat dihadapannya, well, saya dapat memaklumi karena meski begitu aksinya terlihat sangat keren dan brutal bagaikan saya sedang menyaksikan Iko Uwais di film The Raid. Tokoh lain pun tidak sekedar menjadi peramai semata, Jang-Ha yang bisa dikatakan second-leader hadir dengan kemampuan menembaknya, walau tak semenonjol Hae-Cheol, tapi ia punya kegesitan dan akal yang lumayan dibalik muka cemberutnya yang menyebalkan.

Tapi, saya sedikit agak kecewa dengan beberapa pengenalan karakternya yang terlampau seadanya, menimbulkan banyak tanda tanya dan sesaknya tokoh yang terus bermunculan sampai akhir membuat saya tidak peduli lagi dengan mereka. Seperti Hae-Cheol dan Jang-Ha yang ternyata punya ikatan masa lalu yang sama, membuat penasaran tapi nyatanya malah membingungkan. Sementara Jang-Ha yang sedikit banyak terlihat masa lalu dan hubungan bersama kakak perempuannya, malah lebih banyak mengambil porsi cerita. Yang lebih banyak ditekankan pada film ini justru pada interaksi para tokohnya, diwaktu luang kita dihadirkan nuansa jenaka dan santai para pejuang milisi, hal menarik lainnya juga datang pada Hae-Cheol yang seringkali tampak memberi semangat dari sebagai dialognya yang membuat kita terhenyak dengan kata-katanya soal patriotisme, kenapa kita berperang, dan bagaimana mereka ada disini meski latar belakang para milisi bukanlah prajurit murni. Sementara Ma Byeong-Ku (Jo Woo-Jin) menjadi sidekick Hae-Cheol yang penampilanya cukup menarik dengan syal birunya, dan sedikit ada bumbu romansa Choon-Hee (Lee Jae-In) sisa penduduk desa yang dibantai dan Yukio (Kotaro Daigo) yang rada-rada mirip Dilan sebagai tawanan tentara Jepang yang berumur masih sangat muda, tapi sayang di penghujung cerita mereka pun agak menggantung. Boss villain, Jiro yang diperankan cukup baik oleh Kitamura yang diawal cukup bengis menumbal harimau tanpa ampun pun tidak terlalu kentara dalam bagian aksinya, kecuali Park Ji-Hwan yang berperan sebagai tentara berpangkat Shigeru Arayoshi yang lebih banyak memberi penonton rasa penasaran, "Ini orang kok ga mati-mati!?"

Jika berbicara segi teknis dan sinematografi, film ini juaranya. Saya menonton ini seperti tidak percaya ini bukan film fantasi, tapi ia menyajikan landscape dan panorama keindahan dari setiap gambar yang ia sajikan, pergerakan dari gambar ke gambar dengan nuansa aksi dan perang yang memuntahkan peluru, meriam dan darah. Tapi, dari sana ia memperlihatkan bentang rumput hijau, ilalang, hutan, bukitan-bukitan bahkan ketika menyusuri lereng-lereng dari atas layaknya film Peter Jackson, LOTR yang dikombinasikan dengan 'Saving Private Ryan.'nya Steven Spielberg. Tidak berlebihan, karena penyajiannya memang sebaik itu, apalagi mungkin film ini tampak berputar-putar di satu tempat, tapi ia digarap dengan memunculkan berbagai panorama perspektif yang baru dari tiap scene yang ada.

Saya tidak mengatakan The Battle: Roar to Victory sebuah mahakarya yang besar, ia punya kekurangan terutama pada alur belakang: pengenalan tokoh dan alur depan: semerawutnya tokoh baru yang terus-menerus bermunculan yang kadangkala kita heran mereka ini siapa-siapa, apalagi bagi yang buta sejarah Korea. Yang paling menghibur tentu saja aksi 'movie walkthrough' disepanjang film yang akan memperlihatkan aksi kejar-kejaran antara milisi Korea dan tentara Jepang tanpa henti. Walau rada-rada repetitif tapi sekian banyak ia memberikan letusan-letusan kebrutalan dan kegilaan yang lumayan memancing emosi dan sensasi, sehingga alurnya tetap enak diikuti.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Kita sering dengar orang-orang yang menikah itu ngga selamanya bahagia, ada yang cerai dalam hitungan tahun atau mungkin bisa jadi seumur jagung, padahal pada masa pacaran itu tampaknya indah, peluk-mesra, bahagia apalagi beberapa dari mereka mungkin sudah menjalin hubungan begitu lama. Menjalin kisah hidup bersama orang lain (berumah tangga) itu faktanya ngga seromantis itu. Ibarat pernikahan itu urusannya orang dewasa, jika belum siap secara emosional, maka lebih baik introspeksi diri dulu sampai keduanya lebih dewasa, membuang ego masing-masing, saling pengertian, mengatur emosi, meskipun secara materi dan cinta mungkin sudah bukan masalah lagi. Oke, saya ga sedang memberi nasehat buat figur-figur jomblo, pacaran, PDKT ataupun yang baru sudah menikah. Tapi, inilah pesan dasar yang ingin disampaikan dalam film berjudul Twivortiare yang diadaptasi melalui novel karangan Ika Natassha berjudul sama.

Saya sebetulnya tidak mengekspetasikan apa-apa terhadap film ini, tapi setelah menontonnya, this turns out to be a romantic movie that doesn't really sell the cliché love fantasy experience. Disutradarai oleh Benni Setiawan dan ditulis naskah oleh Alim Sudio, Twivortiare menceritakan kisah metropop dua insan yang dipertemukan tidak sengaja dalam sebuah acara pesta. Beno (Reza Rahardian) adalah seorang dokter rumah sakit yang akan segera bercerai dengan istrinya Alex (Raihaanun) yang berprofesi sebagai banker. Dan dikisahkan mereka berdua hanya menikah selama 2 Tahun, bercerai, lalu mencoba menikah kembali untuk kedua kalinya. Menikah kembali?! ya kamu ga salah dengar, menikahi orang yang sama, dan saya rasa buat mereka menikah itu kok gampang banget ya. 😂 Tapi, begitulah, memang keduanya punya status sosial (orang tajir), timbulnya masalah sudah pasti bukan berasal dari materi, apalagi soal tampang dan fisik keduanya sudah oke. Yang jadi perhatian adalah sampai batas mana kemampuan mereka beradaptasi satu sama lain.

Berasal dari sebuah novel fiksi dari serangkaian cuitan rekayasa di twitter, yang saya suka dari film ini adalah pesan yang disampaikan sangat kuat. Beno dan Alex ini ibarat dua orang yang mewakili segelintir mereka tentang susahnya berjuang demi suatu hubungan yang layak, saya memahami keduanya dengan sangat detil dari masalah, latar belakang dan sifat yang kadang ego mereka yang sangat tinggi. Diawali dengan pertengkaran berujung perceraian, lalu sendirian, kesepian tapi karena hate-but-love mereka remarry. Beno adalah tipe orang yang sebetulnya a good person dan workaholic, sedangkan Alex pun kurang lebih punya sifat yang sama, tapi yang membuat mereka berbeda pun banyak, mereka kadang sering bertengkar hanya karena masalah sepele, seperti Alex yang sering terlambat dan lupa, selalu gampang emosional, berucap cerai berulang kali, dan kabur dari rumah pergi ke apartemennya, Beno pun seperti itu, terlampau sibuk dengan pekerjaannya, kurang punya quality time, yang kadang suka berucap ketus dan kurang berkomunikasi dengan Alex.

Pernikahan pertama memang tidak terlalu kentara diceritakan pada babak awal yang muncul secara singkat yang nantinya akan jadi perpanjangan dari pernikahan kedua mereka, lalu melompat langsung ke babak kedua paska perceraian, dan babak ketiga pernikahan ulang yang paling mendominasi alur cerita. Di babak kedua, kita melihat proses dimana keduanya telah berpisah menyimpan benci tapi saling rindu, pada tahap ini entah kenapa proses kisahnya agak membosankan, saya memahami orang jatuh cinta, ketika berpisah pasti sulit untuk move on, tapi bagaimana caranya, atau dalam situasi apa yang membuat mereka kok bisa ingin bersatu kembali setelah beberapa tahun berpisah, saya berpikir mungkin ya ini karena masalah kuatnya cinta diantara mereka, tapi ini bagai memaksa cinta yang sudah redup dipaksa kembali bersinar. Ditambah penyuntingannya amat sangat berantakan dan kasar, dimana Benni berusaha mencampur momen masa lalu, sehingga kita bisa melihat sekelibat seberapa besar hubungan mereka di masa itu, tapi ini terlalu kacau untuk dipahami dan akhirnya menggagalkan saya pada tahap alasan kuat mengapa mereka mencoba lagi. Saya tahu ada momen dimana Beno yang ingin memulai hubungan itu kembali, alasan yang sama pun timbul dari benak Alex yang notabene paling memperlihatkan rasa paling menyesalnya ia pernah membiarkan Beno menyentuh tangannya dan berkenalan dengannya. Tapi, Saya tidak tahu apa sangking bucin-nya mereka, jadi mau tak mau mereka menikah lagi segampang itu hanya karena alasan cinta? Hey, dude, mereka sudah resmi berpisah, bahkan untuk menikah lagi disaat melihat mereka bertengkar, membenci seperti kucing-anjing, saya butuh alasan yang lebih kuat dari sekedar "cinta".

Bahkan ada situasi dimana muncul Denny, orang ketiga yang kerap menaruh bunga diatas meja Alex, mencintanya sebagaimana ia ingin segera melamar dirinya. Tapi, sekali lagi entah mengapa, kemunculannya hanya sebegitu doank, ia muncul, mendekati, melamar, lalu menghilang. Ia bagaikan sesuatu yang muncul dengan balutan konflik baru tapi terlalu tanggung, dia sama sekali tidak memberi impact dan akhirnya tiada konflik apapun kecuali sedikit obrolan didalam mobil sebagai konklusinya, Denny jadi sekedar Denny di kehidupan Alex, dan bukan sebuah perspektif baru Alex buat emosinya. Malah satu-satunya yang sedikit mempengaruhi adalah temannya Wina (Anggika Bolsterli) yang selalu menjadi teman (BFF) curhat Alex selama ini. Saya tahu dia cuman teman curhat yang sangat scooby-doo, tapi malah ia yang paling konsisten dalam membangunkan Alex untuk memahami dirinya sendiri.

Sekali lagi cinta, cinta yang membuat mereka lagi-lagi bersama. Tapi, situasi tetap saja tidak berubah, mereka masih mempertengkarkan hal yang sama, sifat yang sama, ego yang sama, dan pernikahan yang ujung-ujungnya tidak ada perubahan sama sekali. Babak ketiga adalah yang paling menarik, tahap ini saya melihat potensi dari naskah Alim Sudio, karena dari setiap dialog antara Beno dan Alex begitu hidup dan terasa lebih ada ruang buat mereka membentuk chemistry. Saya melihat setiap usaha dari cara mereka untuk saling melengkapi dan mencoba bertahan dalam ruang paling menyakitkan terasa emosional, ada keluarga, teman dan orang-orang yang membantu mereka, tapi tentu saja yang bisa menolong mereka adalah diri mereka sendiri. bahkan tidak sedikit gangguan-gangguan lain dari luar atmosfer hubungan mereka, termasuk Adrian, seseorang yang kemunculannya cukup mendendang goyangkan hati dan pikiran Alex. Pria menarik, karismatik, dan yang paling saya suka aktingnya disini, sehingga saya pikir Adrian akan menjadi sesuatu yang berbeda, tapi sekali lagi, ia hadir hanya sekedar hadir dalam ruang hidup Alex, yang lagi-lagi tidak berdampak apa-apa sama seperti Denny, lempem.

Twivortiare, sebetulnya mencoba menarik semua potensi didalamnya, film yang selama 3 Tahun digarap ini, tapi berakhir kurang maksimal, ia bahkan punya komedi, tidak sampai konyol namun tetap lucu untuk menghangatkan suasana yang kadang berada dalam situasi sulit dan semerawut (walau kadang ada beberapa cringe). Disisi lain pun terkait karakter dan cerita yang sedikit banyak sudah saya sampaikan, beberapa terasa generik dan serba tanggung, seolah film ini ragu untuk mengeksekusi berbagai hal yang jikalau ia berani mengambil resiko, pasti akan terasa lebih berbeda. Satu-satunya kesan yang saya dapat adalah chemistry Reza dan Raihaanun, ia punya ikatan emosional dari caranya mereka bertengkar, tapi seolah cinta mereka memang tidak terasa bohongan, cara mereka menatap satu sama lain, cara mereka bertahan dalam keegoisan dan sifat kekanak-kanakkan, dan bahkan saya bisa mempercayai bahwa tidak ada yang benar dan salah, mereka hanya kurang saling memahami, menyebalkan tapi dapat dimaklumi dan tentu saja saya jadi sadar memahami pasangan itu tidak semudah yang dikatakan. Pesan moral yang disampaikan soal pernikahan dan hidup berumah tangga itu tersampaikan dengan sangat sempurna. Saya pikir, tidak ada cerita yang sekuat itu menyampaikan isu soal ini, dimana semua terasa relatable untuk dipelajari jika ia pun memuat cerita yang seharusnya lebih baik dari ini.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Jika dipikir-pikir Aquman tak ayal seperti film action fantasy konvensional yang terikat dengan kisahnya yang standard dengen element visual bawah laut yang megah layaknya Percy Jackson. Disutradarai oleh James Wan yang lebih dikenal menangani film-film horror semacam Saw dan The Conjuring, lalu merambah ke action theme yang telah mensukseskan salah satu franchise besar Furious 7. Kini DC Comics mempercayai Wan untuk menangani salah satu karakternya yang populer, Aquaman aka Arthur (Jason Momoa). Meski saya sebut Aquaman ini film dengan kisah standard dan konvensional, tapi bukan juga deretan film buruk DC dalam universe yang coba dibangun. Ia memang menyajikan spirit petualangan penuh aksi memukau dan visual dunia bawah laut dan kota atlantis yang megah.

Diawali dengan kisah pertemuan orang tua Arthur, ibunya Atlanna (Nicole Kidman) seorang putri Atlantis yang berusaha kabur dari pernikahan orang tuanya dan Tom Curry (Temuera Morrison) penjaga mercusuar yang tak sengaja melihatnya dan mencoba menolongnya di tepi pantai. Pertemuan mereka menjadi benih cinta dan melahirkan seorang anak bernama Arthur. Ketika dewasa Arthur hanya tinggal bersama ayahnya saat ibunya Atlanna harus kembali ke Atlantis saat ia kecil dan tak pernah melihatnya lagi. Di lain pihak, Atlantis kini dikuasai oleh adik tiri Arthur (ibu yang sama tapi ayah berbeda) bernama King Orm (Patrick Wilson) yang berniat melawan manusia dipermukaan karena dianggap sebagai sebuah ancaman bagi dunia bawah laut. Mera (Amber Heard), anak dari King Nereus (Dolph Lundgren) sekutu sekaligus tunangan King Orm berupaya mencegah niat buruk Orm dengan membujuk Arthur merebut kembali tahta Atlantis dari tangannya. Agar upaya Arthur dan Mera berhasil mereka harus mencari trisula Atlan yang digunakan raja pertama Atlantis agar ia bisa menantang Orm dan merebut takhta.

Beberapa tahun terakhir mungkin beberapa orang kompak bahwa salah satu film DC Comics yang selamat dari banjir kritikan pedas adalah Wonder Woman. Film Wonder Woman memang tipikal film dengan cerita yang sebetulnya sangat sederhana, tapi saya menyukai filmnya karena punya spirit feminisme dan kemanusiaan yang kuat dalam balutan kisah mitologi. Dan menyangkut beberapa element termasuk komedi dan naskah pun cukup berhasil. James Wan dipercayai merangkul Aquaman sepertinya ingin membawa film dengan tampilan keren dengan atraksi visual dan aksi. Dan bukan cuman itu, Wan beserta tim penulis naskah David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall menyuntikkan setiap element agar filmnya tidak hanya renyah dimata tetapi renyah pula dihati. Wan mencoba memasukkan semuanya kedalam film seperti tak luput membawa isu lingkungan alam dan pula sentuhan emosional tentang cinta dan keluarga. Tapi, dalam eksekusi hanya sedikit yang bisa terasa, selebihnya hanya cerita linear dan biasa tentang petualangan mencari trisula, perebutan takhta kekuasaan layaknya Black Phanter, klimaks perang layaknya LOTR versi bawah laut dan berbagai suntikan aksi dan cerita yang sebetulnya jika ditilik tampak familiar. Dan kesan familiar inilah yang mungkin menyebabkan kisahnya sendiri terjebak oleh naskah yang enggan keluar dari kebiasaan.

Ada hal yang saya suka dan tidak suka di film ini. Terutama imbas villain yang lagi-lagi seperti kebanyakan villain superhero lainnya, yaitu sifat megalomania yang tidak memiliki kompleksitas dan kurang berkesan. Komedinya pun terasa hit & miss, dan beberapa malah terdengar seperti dialog biasa. Hal-hal yang saya suka tentu masih ada, ditangan Wan aksinya tetap memancing adrenalin, bumbu Furious 7 masih terasa melekat dengan aksi yang kebanyakan memang penuh chase scences, pertama adegan yang sudah ditampilkan dalam trailernya yang berdurasi panjang (promosi trailer yang terlalu berlebihan dan sia-sia) dan kedua kejar-kejaran dengan The Trench, salah satu best scene menurut saya. Aksi dan visual berpadu dalam gaya sinematik khas film action fantasy yang menyenangkan. Tapi, memang meski bermain di ranah visual, terkadang Wan kurang menyajikannya secara lebih berwarna dan indah, beberapa tone kadang malah terasa gelap, kaku dan kurang bernuansa dimana sebenarnya banyak yang bisa di eksplorasi dalam tatanan visual laut dan kota Atlantis yang seringkali diceritakan sebagai kota legenda paling indah. Hal yang cukup saya suka adalah kostumnya, beberapa kostum berat dan nyeleneh tapi membuat filmnya tampil agak berbeda, seperti kostum yang dipakai oleh para tentara Atlantis yang kesannya mirip kostum di game Halo, pakaian ketat dan blinking dipakai Mera dan Arthur yang awalnya kelihatan aneh tapi saya pikir kostumnya bagus dan tidak terlalu berlebihan. Dan ada Willem Dafoe disini berperan sebagai penasehat raja Atlantis yang loyal bernama Vulko, entah kenapa di film ini dandanannya tidak segarang film-film lainnya dan tampak lucu dengan gaya rambutnya yang klimis itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


The Battleship Island mungkin bisa menjadi salah satu tontonan yang bagus untuk melihat betapa sejarah kelam penderitaan rakyat Korea akibat kolonialisme Jepang sangatlah kejam dan tak manusiawi. Seingat saya baru dua film Korea yang pernah saya tonton bersangkutan dengan tragedi ini, judulnya The Last Princess (2016), namun sayang film ini terlampau melodrama dan terkesan mirip soap opera ketimbang film biopik yang serius. Sedangkan yang paling bagus menurut saya adalah The Age of Shadow, namun juga film ini hanya kisah fiksi semata. Ryoo Seung-wan sutradara sekaligus penulis naskah membawa kita menyelami perspektif cerita melalui perjuangan masyarakat tanpa kelas, tentu saja tanpa embel-embel patriotisme tentara. Bahkan termasuk Lee Gang-ok (Hwang Jung-min) dan anaknya So-hee (Kim Su-an), keluarga yang bisa dibilang mencari nafkah dengan menjadi seniman musik, dijebak (atau terjebak?) menjadi buruh tambang di pulau battleship Island (Hasima Island). Selain keduanya, ada anggota mafia bernama Choi Chil-sung (So Ji-seob) dan seorang wanita Mallyon (Lee Jung-hyun), sepasang kekasih yang bisa dibilang hubungan mereka benci-cinta dalam pertemuan tak terduga. Song Joong-Ki (Park Mu-young) seorang tentara yang diam-diam masuk ke Hashima. Selain dari mereka masih terdapat lagi karakter-karakter lainnya, meski tidak sedominan mereka, bisa dilihat dari poster yang terpampang mewakili wajah 400 orang Korea yang terisolasi di Hashima.

Tentu saja film ini mengangkat tema tentang realita kekejaman para tentara Jepang di Hashima, termasuk perbudakan dan penyiksaan terhadap kaum pria yang dijanjikan upah sebagai pekerja tambang, sedangkan kaum wanita dijadikan pelacur di rumah bordir bagi para tentara Jepang. The Battleship Island termasuk film dengan biaya produksi termahal yaitu US$21 million (Rp276 miliar), itu bisa dilihat bagaimana film ini akan dipenuhi berbagai visual effect yang megah dan epic. Bukan cuman visual efek, tapi bagaimana Ryoo Seung-wan memenuhi segala plot cerita dengan paket full-action, dari sekedar perkelahian di tempat mandi umum yang kotor dan licin, ledakan pipa gas dalam tambang yang penuh semburan api dan ledakan, hingga klimaks yang dramatis dan megah. Tidak heran film ini bisa dikatakan sebagai film yang sangat ambisius mencoba untuk menyaingi pasar blockbuster hollywood Amerika Serikat.

Tetapi The Battleship Island adalah film yang sebetulnya punya narasi cerita yang lemah. Tentu saja ini bisa dilihat bagaimana Ryoo mencoba membagi sekuens cerita dimana fokus cerita terbagi-bagi dengan linimasa yang kompleks dan berdiri sendiri. Melompat-lompati cerita sepertinya bukan keahlian Ryoo menangani set piece sebesar ini, dengan banyak karakter, banyak tempat dan banyak cerita. Ruang cerita tersebut menjadi sesak dan sempit, sehingga narasi yang disampaikan menjadi kabur dan seringkali tak jelas. Seperti kemunculan Song Joong-Ki yang tiba-tiba, Mallyon yang sama sekali tidak diceritakan asal-usul dan masalah yang dihadapinya di Hashima. Motif Choi Chil-sung yang seorang anggota mafia kok bisa-bisanya terjun menjadi buruh tambang. Semua latar cerita film ini terasa dibuat random, bahkan sekedar menceritakan asal-usul Hashima sebagai posisi tempat mencari nafkah para pekerja atau memang para pekerja paksa yang dijebak sama seperti yang dialami Lee Gang-ok? Bencinya saya memang tidak terlalu mengikuti fakta sejarah Hashima, tapi bukan berarti film ini memperlemah narasinya sendiri. The Battleship Island memang menjanjikan cerita yang emosional, menegangkan dan dramatis, seperti bagaimana sekuens hubungan ayah dan anak yang rentan terpisah, sepasang kekasih dalam pertemuan romantis di tempat yang salah, konflik internal, dan muatan politik keji beberapa karakternya membuat film ini sama sekali tidak monoton dan kita pun turut terikat dengan berbagai karakternya, bahkan beberapa elemen komedi sempat memancing tawa meski bungkusan adegan seringkali begitu intens, penuh kekerasan dan ledakan, lantaran terdapat sosok Lee Gang-ok, pria oportunis dan selengean yang sebetulnya tokoh sentris yang lemah dan tidak berdaya, tapi cukup memiliki akal dan upaya untuk tetap bertahan hidup dan melindungi anaknya. Tapi, tetap saja sih saya tidak menyukai narasi ceritanya yang lemah yang tidak bisa ditutup-tutupi di beberapa babak, membingungkan dan terkesan random.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Secara hukum alam pria mendominasi wanita secara fisik maupun emosi karena dianggap lebih lemah. Pria dan wanita memang ditakdirkan memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut justru mengikat mereka melalui hasrat dan ketertarikan. Sofia Coppola sutradara wanita yang dulu sangat sukses dengan film romance "Lost In Translation" 2007 lalu, mencoba mengekspresikan wujud interaksi antara wanita dan pria dalam wujud yang paling darkly dari sebuah karya film terbarunya, The Beguiled yang artinya "memperdaya", "menipu", "mempermainkan". Film ini sendiri seolah kentara bermain dengan unsur psycho-thriller, dimana atmosfer juga tatanan visual dark dan vintage yang kusam membuatnya terasa sangat kelam.

Bersetting tahun 1864 di kota Virginia, Amerika Serikat atau lebih tepatnya 3 Tahun menjelang perang sipil. The Beguiled bercerita tentang seorang pria misterius tak dikenal, Corporal McBurney (Colin Farrell) mengklaim dirinya adalah tentara yang berhasil kabur dari medan perang sipil. Seorang gadis, Amy (Oona Laurence) yang tengah mencari jamur di dalam hutan menemukannya tergeletak tak berdaya dengan kaki terluka memintanya pertolongan. Amy yang merasa kasihan lalu membawanya ke tempat ia tinggal, sebuah sekolah sekaligus asrama wanita. Tentu saja kedatangan tamu tak di undang, McBurney mengejutkan Miss Martha (Nicole Kidman), guru sekaligus pemilik dan pengurus sekolah, Edwina (Kirsten Dunst) seorang guru tunggal, dan para murid mereka Alicia (Elle Fanning), Jane (Angourie Rice), Mary (Addison Riecke), dan Emily (Emma Howard).


Saya sebenarnya agak bingung mengkategorikan film The Beguiled sebagai thriller suspense, meski seperti yang sudah saya katakan film yang diadaptasi dari novel Thomas Cullinan berjudul sama ini agak terasa kurang menegangkan dan terkesan lebih tipikal. Ya, beberapa faktor kekurangan film ini terutama dari segi narasi cerita yang rasanya menjadi asal muasal film yang mencoba menyulap konflik wanita-pria-wanita terasa lemah. Filmnya hampir terasa datar dan beberapa scene terasa repetitif.

Seperti yang saya tahu wanita-wanita ini berada dalam lingkungan yang jauh dari lingkungan sosial masyarakat kota, beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi jauh dari perkotaan, ditambah kecamuk perang sipil yang bergejolak. Rasa paranoid akan keadaan hingga kemunculan sosok McBurney yang identitasnya hanya diketahui dari mulutnya entah benar atau tidak, menambah kecurigaan berdasar, apalagi isu pemerkosaan yang disebut-sebut sering dialami wanita oleh para tentara musuh selama perang semakin membuat sosok pria semakin berbahaya. Tapi, filmnya membaur secara lebih kompleks, kehadiran pria oleh para wanita di film ini memiliki perspektif berbeda saat interaksi dilakukan dengan pria (apalagi tampan) secara langsung dan terbuka, dari yang polos sampai yang genit. Hingga terjadi kedekatan asmara, cinta dan nafsu diantara mereka menimbulkan kecemburuan.


Sayangnya film ini diperburuk oleh naskah cerita, filmnya membingungkan dengan banyaknya kontradiksi yang ada, *SPOILER* semisal identitas McBurney yang samasekali tak pernah diketahui apa ia betul-betul seorang tentara atau bukan, atau perbuatan yang dilakukan Miss Martha sesungguhnya karena paranoid, cemburu atau panik saat memotong kaki McBurney, hingga melakukan pembunuhan keji disertai menyeret para gadis-gadis polos dan tak berdosa untuk melakukan rencana keji tersebut dengan rasa tak berdosa *SPOILER END*. Hasrat dan nafsu yang ditekankan oleh Sofia Coppola terasa lemah dan rasanya Coppola kurang pandai memancing kekacauan dan buruknya pengenalan karakter yang ada. Untungnya akting semacam Nicole Kidman masih mengadiksi melalui tatapan matanya yang tajam, memancing paranoid, otorisasi, penolakan dan kebencian meski kita tahu ia hanya mencoba melindungi para gadis dan sedikitnya selalu bersikap baik dan ramah, entah ia baik atau jahat saya pun kurang mengerti. Kirsten Dunst berlaku pada wanita dewasa yang lemah, mudah diperdaya dan jauh lebih polos dari yang saya duga. Hingga yang tak habis pikir, Elle Fanning tetap harus berkutat dengan akting "liar"-nya selain "20th Century Women" dan "The Neon Demon", but it's okay melihat parasnya yang muda dan cantik, tapi raut wajahnya memang selalu terkesan labil dan sedikit-sedikit horny. Dan Collin Farrell, tipikal pria yang suka memperdaya dan memanfaatkan kelemahan wanita dengan kata-katanya yang manis dan penuh bualan.


Well, saya sempat bingung ketika menyelesaikan film ini dengan penuh tanda tanya, tak mengerti tujuan dari Coppola membuat film ini. Tapi, jika menafsirkan sendiri makna dibalik novel Chullinan sendiri pada dasarnya The Beguiled bercerita tentang manusia dalam sosial selalu merasa bijak dan berperilaku sesuai moral didepan orang lain, memenuhi dan mengajarkan tentang bersikap baik dan sopan, meski itu dalam literasi alkitab maupun buku pedoman, namun ketika dorongan hasrat, cinta dan nafsu memanggil, alam bawah sadar kadang membuat logika menjadi dangkal, hingga sifat manusia yang asli muncul dengan kedok kelemahan dan kebaikan, mungkin dimisalkan para wanita yang diremehkan oleh McBurney. Hanya saja Coppola kurang menggali lebih dalam konflik dan hubungan yang hadir seadanya saja, terkesan Coppola takut mengeksplorasi sisi yang lebih menggigit dari sekedar seorang pria yang mencoba memanipulasi sisi terlemah wanita, meski tata visual vintage terasa cantik dan haunted, sampai tata busana-nya cukup manis untuk ditampilkan. The Beguiled hanya kurang terasa fokus mengalirkan tujuan utamanya, hingga di akhir cerita saya sempat bengong, apakah endingnya hanya begini saja? Jadi apa maknanya?
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kumis ikonik, suara emas, rendah hati dan juga humoris, deskripsi kecil dari sosok grandpa berkepala tujuh namun punya enchantment luar biasa. Hayden Lee (Sam Elliot), dulunya aktor terkenal yang sempat menjadi legenda di film koboi era '70-'80-an. Diusianya yang tidak lagi muda dan pamornya sebagai aktor telah usai, Lee menghabiskan sisa hidupnya sendirian, ditemani ganja dari seorang drug dealer bernama Jeremy Frost (Nick Offerman) yang juga dianggapnya sebagai sahabat. Selain telah bercerai dengan istrinya Valerie (Katharine Ross) ia pun sempat tidak akur dengan anak perempuannya Lucy Hayden (Krysten Ritter). Kehidupannya mencapai puncak kritis, ketika Lee di diagnosa mengidap kanker Pankreas yang membuat hidupnya terancam, mengalami putus asa hingga berusaha menyembunyikan deritanya terhadap orang terdekatnya. Namun, Charlotte Dylan (Laura Prepon) seorang wanita muda yang dikenalnya lewat transaksi ganja, mulai membuatnya terpikat dan Charlotte akhirnya mengisi kehidupannya yang suram.

Mendapuk Elliot di film kedua Brett Haley memang bukan suatu kebetulan. Sebelumnya mereka berdua pernah berkolaborasi di "I'll See You in My Dreams" sebagai karakter sampingan. Kesan sebagai grandpa gentleman, membuat Haley terinspirasi dari sosok yang digambarkan oleh kepribadian Elliot sendiri, tentu dengan penempatan tokoh yang lebih sentris. Elliot memang pada puncaknya, eksis sebagai pria tua yang beruban, ia tampil sempurna, kendati suara beratnya menjadi ciri khas yang terdengar cool.


Memang tidak aneh, kekuatan The Hero terletak dari pesona Elliot, mengiringi perjalanan kisah sebagai mantan aktor berbakat yang kemudian penuh dilema di masa tua, bukan hanya penyakit, tapi juga hubungan dengan keluarganya. Kesan sebagai pecandu ganja, penyendiri, meski sepintas tampak periang, hidupnya tergolong suram. Haley memang ingin antusias menggerakkan situasi masa tua dalam perjuangan hidup mereka, dilema yang juga terasa di film pertamanya  "I'll See You In My Dream", dari seorang wanita tua yang berpijak pada keinginan hidup single tapi berkontemplasi mencari makna hidup sejati.

The Hero juga punya drama romansa yang memikat, dan panggung utama tentu saja kisah cinta antara Lee dan Charlotte. Elliot, perfection in imperfection, yang lugas memantapkan dirinya sebagai pria loveable yang gampang dicintai, karakterisasi kuat dan dalam, hingga saya tidak merasa risih tentang cinta beda umurnya dengan Charlotte, dengan kisah yang tak dipaksakan namun tetap terasa hangat dan begitu dewasa.

Tapi, sayang The Hero kurang mantap dalam bercerita, mengemban esensi emosi tapi tampak meleset dengan jalinan konflik yang ada. Apalagi semua yang ditampilkan oleh naskah Brett Haley dan Marc Basch terlalu klise, alih-alih sentimentil pun permasalahan dalam ruang lingkup kehidupan dan masa lalu Elliot hanya sekenanya, menggulirkan kontemplasi permasalahan hidup Lee sembari mencoba kembali memperbaiki setiap kesalahan yang pernah ia buat. Membuat saya sedikit sekali mengerti masalah yang terjadi bahkan antara Lee dan Lucy sekalipun, sampai pada garis konklusi yang rasanya tampak dipaksakan di bagian soal hubungan Lee dan Charlotte, semua hanya ambisi Haley memberi cinta, tapi tidak sampai pada klimaks yang emosional.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



"Did she? Didn't she? Who was to blame?" sebuah kata yang dipakai saat film ini dimulai ternyata menjadi konklusi di akhir cerita. My Cousin Rachel adalah sebuah film karya Roger Michell ("Notting Hill", "Le Week-End", "Venus") yang di remake ulang melalui film klasik berjudul sama tahun 1952 yang dimainkan oleh Olivia de Havilland dan Richard Burton, dan juga adaptasi asli novel karya Daphne du Maurier di tahun 1951. Film ini dasarnya adalah sebuah film romantis berbalut misteri yang mengelilingi identitas penuh teka-teki seorang wanita janda bernama Rachel Ashley (Rachel Weisz) yang baru saja kehilangan seorang suaminya, Ambrose. Philip (Sam Claflin) anak baptis sekaligus sepupu Ambrose yang telah membesarkan dan menganggapnya sebagai ayahnya sendiri, tidak mempercayai kematian Ambrose bukan karena penyakit tumor kepala seperti yang di klaim oleh penasehat dan pengacara Ambrose, Mr. Rainaldi (Pierfrancesco Favino) dan yakin bahwa Rachel sendirilah penyebab kematian ayah baptisnya tersebut.


Film ini datang dari rasa kebencian yang berubah tumbuh menjadi obsesi cinta yang membutakan. Philip sama sekali belum bertemu secara langsung dengan Rachel. Tinggal bersama wali hakim Nick Kendall (Iain Glen) dan anak perempuannya Louise Kendall (Holliday Grainger) sebelum Philip akhirnya mendapatkan harta warisan dan kendali penuh atas perkebunan yang dimiliki Ambrose, Rachel yang menghilang lalu tiba-tiba datang mengunjungi Philip. Disaat pertemuan pertama mereka tentu saja Philip dipenuhi rasa benci serta ingin menuntut balas dendam atas kematian Ambrose, namun niatnya seketika berubah saat melihat Rachel untuk pertama kalinya yang ia kira adalah wanita gendut, tua dan jelek yang hanya punya niat jahat untuk menguras harta Ambrose. Rachel yang tersenyum ramah dan lembut, hingga membuat wajah sendu disertai getaran rasa gugup memegang cangkir teh ditangannya. Pertemuan mereka di awal penuh kecanggungan, membuat segala kebencian Philip di awal sirna melihat kecantikan dan pesona Rachel yang akhirnya membuat Philip jatuh cinta dan terobsesi dengan sepupunya tersebut.



Wanita adalah konotasi yang diciptakan melalui penggambaran kecantikan dan pesona yang menghipnotis. Bisa dibilang Philip adalah pria yang digambarkan memiliki kelemahan seperti yang pernah ia ucapkan, ketika hasrat cinta dan obsesi meracuni kesadaran dan tujuan awal yang ia miliki. Melalui sepetak romantisme yang penuh skeptisme, Rachel adalah wanita yang dibentuk melalui ambiguitas karakter yang terkombinasi hampir sempurna. Mulut manis dan getar-getir optimisme disertai kerapuhan yang dipancarkan melalui akting Rachel Weisz sangat menakjubkan, ia punya nyawa untuk mencampur adukkan tipikal wanita yang sepenuhnya mencurigakan tapi disisi lain membawa sentimen keragu-raguan akan daya tariknya yang sangat istimewa tentang kesubtilan gestur dan mimik wajah yang mendayu-dayu seakan ia memang wanita yang terpresentasikan sebagai wanita yang baik-baik tanpa punya maksud dan motif tertentu.


Sesungguhnya penyajian film ini cukup meyakinkan melalui pencampuran romansa dari penyutradaraan yang indah dibungkus melalui atmosfer yang gelap dan misterius. Sihir dalam film ini tentu saja semua berasal dari kepiawaian akting para pemainnya, terutama Rachel Weisz yang berhasil memikat sepanjang film, apalagi tatapan mata serta senyumnya yang begitu kuat memancarkan kecantikan dan keanggunan layaknya wanita normal dan biasa berhasil menipu dan memanipulasi otak saya untuk percaya sepenuhnya padanya, seperti yang pernah saya rasakan melalui akting Rosamund Pike di film "Gone Girl". Dari sebentuk visualisasi vintage klasik dan juga senimatis yang mencoba menggambarkan keindahan landscape dan set dekor dibuat cukup elegant. Hanya saja Michell gagal memberi pesan kontradiktif yang akan membuat saya kurang merasa mind-blowing di akhir cerita, setiap jawaban dan clue yang serentet coba diungkap satu-persatu telah mempermudah penonton untuk menyimpulkan kebenaran sesungguhnya, meski Michell sendiri merasa apa yang ia coba terangkan mengenai persepsi multi-tafsir pikiran tidak berhasil dilampaui hingga finish.

Ditambah lagi film ini enggan menyentuh ranah yang konteks seksualnya lebih abusive, meski film ini menyajikan sebentuk hubungan cinta antar sepupu yang terbilang manipulatif, kontradiktif, dan obsesif, tapi peluang Michell mempersentasikan hal yang lebih berbau "busuk" dan suffering dari sekedar penekanan unsur romansa yang terbilang tarik ulur terasa kurang bergairah, hingga timbal balik di akhir film ini pun tidak lagi sesuai dengan apa yang diharapkan menjadi dark romantic dalam motif yang lebih provokatif serta kotor. Saya rasa Michell masih terlalu takut untuk menggenggam narasi dan penyutradaraan yang lebih memuaskan secara obsesi yang lebih mendorongnya lebih dalam, demi menghasilkan penokohan yang abu-abu justru terjerembab pada narasi yang ikut menjadi abu-abu yang tidak lagi menyulap hasilnya menjadi kontradiksi yang sesuai dengan ending yang memuaskan di akhir cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Korea Selatan terkenal dengan soap opera drama yang cukup mendunia terutama di Indonesia. Dimulai dari kisah asmara sepasang kekasih dari benci hingga cinta, sampai yang hits bertajuk drama perang yang terdengung sebagai drama televisi termahal di Korea Selatan. The Last Princess pun lewat sinema besar mencoba peruntungan lebih dari sekedar tetek bengek film asmara maupun drama keluarga yang membumi. Bertemakan sejarah kolonialisme Jepang dan merupakan adaptasi novel karya Bi-Young Kwon berjudul "Princess Deok-hye", Hur Jin-ho meletakkan kesempatan terbaiknya mentengahkan kisah nyata perjuangan besar wanita dalam sejarah yang hampir dilupakan oleh negaranya sendiri berjudul The Last of Princess (Deokhyeongju).

Bercerita di tahun 1912 Princess Deok-hye (Son Ye-jin) adalah pewaris kerajaan terakhir Joseoung (Korea). Semenjak ayahnya King Gojong (Baek Yoon-Sik) meninggal Deok-hye bersama ibunya terpaksa bertahan hidup dibawah kekuasaan Jepang. Saat beranjak usia 13 tahun Doek-hye dipaksa dikirim ke Jepang, ditemani handmaiden bernama Bok-soon (Ra Mi-ran). Bertolak belakang dengan keinginan hatinya sendiri, Deok-hye harus rela meninggalkan negara kelahirannya dan dijadikan sebagai alat kepentingan politik di negara Jepang. Suatu ketika Kim Jang-han (Park Hae-il) yang memiliki hubungan dengan Deok-hye sejak kecil muncul di Jepang, menyamar sebagai tentara. Jang-han membawa misi untuk “menyelundupkan” Deok-hye dan membawanya kembali ke Joseon.

Sebetulnya saya tidak begitu peduli bagaimana cara sebuah film digulirkan, meski teknik dan penceritaan Jin-ho lebih mirip soap opera ketimbang konsep yang diperkaya secara lebih tegas dan mulia. Tapi sayangnya The Last Princess jauh mementingkan aspek melodramatik ketimbang struggle yang menjadi kekuatan utamanya, yang justru overdramatic yang tidak efektif. Sedikit-sedikit Jin-ho menghasilkan air mata yang tumpah terlalu banyak dan tidak tepat sasaran. Dan ini ditemukan sepenuhnya dalam film, seolah metode ini dipergunakan sebagai amunisi utama Jin-ho untuk menghabiskan satu kotak tisu penontonnya, melalui serentet penderitaan yang dialami tokoh utamanya. Dan ini di "amin"kan oleh sang sutradara sekaligus penulis naskah yang keroyokan antara Hur Jin-ho, Lee Han-eol, dan Seo You-min, makin banyak penderitaan maka film yang dihasilkan lebih baik.


Tapi, beberapa scene saya menjumpai heroism dan keberanian dari tokoh utamanya, meski awalnya Jin-ho dibentuk melalui tokoh egosentris, naif dan distressing. Perangkatnya dikembangkan melalui yel-yel serta pidato menyentuh Jin-ho ditengah rakyat Korea yang ditindas dan dipekerja paksakan oleh Jepang. Tapi, setelah itu semangatnya kembali pudar dan akhirnya kembali diseret melalui tugas Deok-hye untuk berjuang kembali ke kampung halamannya yang selama ini ia rindukan. Beriringan kesedihan dan air mata terus-menerus menjadi pesan yang disampaikan oleh Jin-ho, hingga akhirnya air mata menjadi hal yang saya sepelekan. Apalagi penindasan ini dilakukan oleh antagonis yang buat saya terlalu dilebih-lebihkan kemunculannya, Yoon Je-Moon sebagai karakter bengis dengan tatapan jahatnya sebagai Han Taek-Soo.

Dan inipun diperburuk melalui kemampuan penyutradaraan Jin-ho yang terasa compang-camping. barisan cerita terasa tumpang tindih disetiap adegan, apalagi berharap film ini mampu membagi kisah antara dua alur cerita antara Kim Jang-Han sewaktu tua di tahun 1961 dengan kisah Deok-hye di tahun 1961, sayang diantara keduanya tidak saling menyeimbangkan, setiap film ini mencoba berkilas-balik hasilnya menjadi tidak rapih dan hasilnya sedikit berantakan.


Tapi, Jin-ho punya beberapa kelebihan untuk menutupi kekurangannya meliputi segi teknis dan art decoration-nya hampir menyamai "The Handmaiden". Juga pemilihan busana yang vintage tanpa membuatnya lebih kuno dan jauh lebih mencerminkan pesona yang lebih modern. Dan untuk segi aktingnya sendiri seperti Son Ye-jin meski terlalu banyak aura pesimistis dan kesedihan tapi saya sedikit suka aktingnya yang solid terutama dibagian akhir cerita saat digambarkan melalui realitanya di masa depan yang kelam selain aktingnya di A Moment to Remember. Dan juga Park Hae-il dalam perjuangannya menyelamatkan kekasih hatinya, meski film ini tidak didukung dengan cerita yang lebih romantis dan jauh lebih banyak mengandung aksi pun cukup mendukung chemistry antara keduanya.

Well, setidaknya film ini cukup punya ambisi menjadi film yang mencoba menjadi sebuah blockbuster Asia, meski realitanya film ini adalah segumpal biografi yang tercermin melalui penderitaan, air mata, hingga berujung pada kegilaan dan keputusasaan. Meski menyempit melalui persentasi yang kurang tepat dalam membentuk emosi dan empati. Saya kira film ini sedikit banyak menggambarkan realita yang ada antara tragedi eksploitasi wanita dan hak asasi manusia di Korea Selatan, semuanya cukup relevan tersaji melalui haluan kerja keras penyutradaraan Jin-ho meski dirasa dengan segala pernak-pernik melodramatisasi cerita film ini tampak klise dan sedikit berlebihan.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Ibarat film-film trio Warkop DKI, film klasik seperti punya daya tarik tersendiri bagi para pecinta film yang tidak dimiliki film sekarang. Begitu sederhana dan konvensionalnya film klasik dibuat sebelum betul-betul ditemukannya trik manipulasi gambar, teknik pencahayaan dan efek CGI mumpuni, film-film semacam itu sudah tidak bisa lagi ditemukan di era serba modern sekarang sehingga membuat film-film klasik menjadi langka dan terasa antik. Syukurlah jika ternyata segelintir sutradara masih mau menggunakan trik-trik film sederhana zaman dulu yang pastinya sudah sangat sedikit digunakan seperti yang masih terasa dalam film-filmnya Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez.

Dan classic experience paling kental saya dapatkan ada pada film The Love Witch (Penyihir Cinta). Film yang tampil sangat mencolok sebagai film cult dengan cerminan horror classic era '60-an. Ini adalah film berbiaya murah yang keseluruhan aspek seperti set dekorasi, musik, dan kostum dibuat dan ditangani oleh sutradara sekaligus penulis naskah film itu sendiri. Hanya saja bagaimana bisa film yang sekelibat tampak seperti film chessy ini disambut hangat oleh para kritikus dan pengamat film yang dipersentasikan sepenuhnya oleh sutradara wanita bernama Anna Biller.


Film ini bercerita tentang penyihir wanita muda bernama Elaine (Samantha Robinson) yang berencana menetap tinggal di sebuah kota baru. Ia adalah wanita cantik dengan kulit putih, rambut hitam panjang terurai, riasan menor dengan lipstik pink, eyeliner hitam dan eye shadow biru yang sangat mencolok, tidak lain dan tidak bukan itu digunakannya sebagai trik tebar pesona demi mendapatkan pria yang bisa jatuh cinta kepadanya, ditambah dengan menggunakan ramuan dan mantra sihir buatannya sendiri, kemampuan menghipnotis mata serta daya tarik sensual dan erotisme yang ia tunjukkan kepada tiap pria yang digaetnya. Meski terbayangi masa lalu setelah perceraian dan kematian suaminya, tapi hasratnya untuk berburu sekaligus menaklukan hati pria adalah tujuan terbesar dalam hidupnya.

Elaine mungkin bukanlah tipikal wanita yang terwujud dalam realitas budaya dan mungkin tidak ada yang lebih mengada-ada soal wanita selain dirinya, tapi ia lebih dicerminkan sebagai bentuk sensibilitas wanita terhadap cara pandangnya mengenai cinta, hasrat dan seks. Mungkin terlihat tampak murahan begitu ceritanya bergulir dan numb-acting, menggunakan element tempo dulu baik penggunaan proyektor murahan, pencahayaan berlebihan, serta romansa sebegai bentuk olokan. Tapi, begitu banyak hal yang tersampaikan Biller bergitu provokatif dan satir menyindir berbagai aspek seksualitas serta gambaran pernikahan yang digambarkan dengan bentuk eksploitasi pria terhadap wanita. Dan terus terang menyampaikan kepedulian seorang wanita terhadap seksualitas dan pentingnya pemenuhan sisi erotisme terhadap kepuasan yang lebih dari sekedar kebutuhan biologis semata.


Biller menyampaikan sebuah tutur subtil tentang bagaimana seksualitas bukan semata-mata ditujukan kepada pria. Tanpa berusaha mendukung salah satu gender, Biller berusaha menyampaikan hal tersebut dengan menyeimbangakan keduanya bahwa wanita adalah sebentuk keindahan dalam fantasi pria yang tak pernah terbatas namun mengadiksi sehingga menjadi buta dan gila. Dan wanita adalah sosok yang selalu berusaha memenuhi kepuasan orang lain dari fantasi semu yang datang dari hasrat cinta yang besar didalamnya. Dalam materi berisi absurditas, paganisme, romantic dan erotisme seksual yang tergambar seperti di film "Eyes Wide Shut". Tapi, sayang film ini memiliki kesenjangan dalam ceritanya yang rapuh dan melelahkan akibat dari kurangnya Biller merangsang kegilaan dan emosional lebih dalam selain memandang bahwa cinta, seks dan sihir itu sama-sama mampu mengendalikan pikiranmu melalui caranya yang gila atau pada klimaks yang substansial di film ini. Tapi, saya akui ini adalah bentuk Biller menghargai sebuah film klasik dan satir dalam menangguhkan eksploitasi dan eksplorasi yang dalam begitu cantik dan artistik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa cuma saya yang merasa kalau instalment ke-8 dari The Fate of the Furious ini terasa kurang semenjak kepergian aktor Paul Walker? Apalagi di sekuel terbarunya ini ceritanya soal pengkhianatan dari pemimpin yang menyebut kelompok mereka sebagai 'family' yaitu Dom (Vin Diesel). Mengikuti sepak terjang tokoh protagonis sentris Optimus Prime di "Transformers: The Last Knight" yang juga sama-sama berkhianat, seharusnya film yang lagi-lagi berganti sutradara menjadi F. Gary Gray, "The Italian Job" dan "Straight Outta Compton" ini menjadi sekuel paling emosional dan menegangkan, tapi apalah daya, meski franchise ini sudah berusaha bertransformasi bagus menjadi heist movie sejak film ke-5 nya ternyata film ini hanya sebuah repetesi latah pada film-film FF sebelumnya.

Kedatangan villain baru seorang hacker bernama Chiper (Charlize Theron) yang sanggup merekrut dan membuat Dom membelot dari kelompoknya, memang tampak menjanjikan bahwa kali ini musuh yang dihadapi lebih manipulatif dan lebih berbahaya dari biasanya. Yups, semenjak Charlize Theron berhasil memukau aksinya lewat di "Mad Max: Fury Road", sebagai villain utama wanita pertama, The Fate of the Furious serasa dipenuhi aksi menegangkan dan cerita yang lebih kompleks dari biasanya. Apalagi Hobbs (Dwayne Johnson) juga harus bernasib na'as saat ia harus dijebloskan ke penjara gara-gara pengkhianatan Dom, menyisakan Letty (Michelle Rodriguez), Roman (Tyrese Gibson), Tej Parker (Ludacris) dan Ramsey (Nathalie Emmanuel) tanpa leader, menyadari bahwa sedari awal memungkinkan misi mereka semakin mustahil untuk dilakukan.


Namun sepertinya jangan terlalu berharap lebih banyak dari film ini, teaser dalam trailer film ini pun hanya sekedar memperpanjang antrian bioskop. Premis tentang pengkhianatan Dom pun hanya sekedarnya saja, Chris Morgan sebagai penulis naskah film ini pun terlampau dangkal dalam menghadirkan konflik dan permasalahan yang justru dijejali begitu banyak plot cerita yang terlampau terpaksa. Sebetulnya tidak masalah toh ini memang bukan tipikal film yang mengedepankan esensi cerita namun berusaha memenuhinya dengan aksi penuh ledakan, adrenalin, kebut-kebutan mobil di jalan raya, maskulinitas, dan steroid. Tapi, jika saja Gray dan Morgan mau berusaha tidak mengungkapkan twist hingga akhir cerita dan sedikit mau menawarkan hal baru dengan sebuah aksi yang bercampur suspense, mungkin agaknya film ini sedikit berbeda. Tapi, keduanya tentu saja menyepelekan berbagai aspek terutama masalah cerita yang tak masuk akal, mengada-ada, dan tidak berbobot-bobot.


Ditambah saya lebih prefer dengan duo beradik Deckard Shaw (Jason Statham) dan Owen Shaw (Luke Evans)  sebagai villain ketimbang Chiper. Musuh macam apa yang memiliki gerak terbatas, berpingit ria didalam ruangan dan lebih banyak mengancam musuh di balik layar komputer tanpa banyak melakukan aksinya secara langsung. Jujur saja Chiper tidaklah sehebat yang saya bayangkan, mungkin inilah faktor kenapa ia ingin merekrut Dom dalam timnya, motifnya klise, ditambah kehebatan dirinya hanyalah sebatas nama besarnya sebagai hacker dan selebihnya tidak ada. Dan bodohnya, meski tampak sebagai villain yang manipulatif dan licik, percayalah Chiper jauh dibawah rata-rata dan lebih mudah diperdaya musuhnya sendiri ketimbang ia lebih cerdik mendominasi alur cerita.


Di satu sisi, sayapun tidak menyukai kehadiran Deckard yang kemudian bersekutu dengan Hobbs, Letty dkk. Ada rasa canggung antara keterlibatan dirinya yang sama-sama berada tergabung untuk menangkap Chiper, terlebih pemaksaan motif Deckard yang punya dendam pribadi pada Chiper pun terkesan diada-adakan, membuat saya berpikir tidak peduli lagi kenapa ia mesti ada di film ini kecuali menambah jumlah orang botak dan juga kontribusinya dalam maksimalitas adu mulutnya bersama Hobbs, meski parahnya tokoh Deckard pun tidak ditampilkan secara maksimal dan justru hanya jadi bulan-bulanan di film ini yang semestinya diperlakukan jauh lebih baik dan sehebat dia di film sebelumnya. Dan beberapa konflik cerita, argh! entah saya betul-betul muak dengan berbagai inkonsistensi dan dangkalnya cerita membuat saya sedikit capek menuturkan deretan buruknya materi naskah di film ini.


Tapi, karena tujuan saya menonton film ini hanya sekedar hiburan tanpa menuntut cerita yang lebih kompleks, The Fate of the Furious memang banyak menghadirkan keriuhan dan aksi yang memborbardir dari segelintir efek CGI dan modal menghancurkan puluhan mobil. Dari sekedar gimmick sequence yang terinspirasi dari film "World War Z" versi mobil di kota New York atau juga klimaks inovatif dari kejar-kejaran mobil di atas lantai es dan submarine, ini memang terasa sedikit seru dan asyik. Terlebih beberapa dialog dan lontaran adu mulut yang selebihnya banyak ditonjolkan dari Tyrese Gybson yang konyol hingga perubahan drastis sosok Deckard yang lebih banyak beraksi secara lucu. Well, entah jika film ke-9 dengan judul yang mungkin bisa jadi Fire of the Furious, Fury of the Furious, Fantastic of the Furious, atau Final of the Furious akan kembali berlanjut (dan sepertinya pasti), saya berharap suatu saat franchise ini segera diakhiri karena buat saya tanpa hadirnya Paul Walker ada moment yang terasa hilang bersamaan hilangnya dramatisasi cerita yang lebih memupuk soal 'family' yang lebih emosional pada franchise ini, meski di dalam film kehadiran Paul akan tetap dibuat selalu ada dan hidup sebagai Brian O'Conner sampai kapan pun, mungkin suatu saat karakter ini akan kembali di inkarnasikan dengan sosok aktor lainnya, maybe? we'll see soon...
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Seringnya film-film bertema Nazi dan sejarah kelamnya diangkat menjadi sebuah film, baik dipakai sebagai media propoganda atau lebih menekankan rasa empathy dan duka terhadap mereka yang menjadi saksi bisu sebuah perang. Tapi, selama Hollywood masih mensumbangsihkan gambaran setiap sisi negatif perang dan berupaya menyebarluaskan penyakit manusia ini untuk memberi keprihatinan kita dengan apa yang masih terjadi pada konflik timur tengah sekarang. Maka saya tidak ragu dan mendukung sepenuhnya film yang tetap memegang penuh kekhawatiran mereka terhadap pencemaran hak asasi manusia di dunia nyata.

Tak selamanya perang itu dipenuhi dengan kesedihan dan penderitaan, disisi lain perang masih terus menyimpan banyak peristiwa penting yang berasal dari kemuliaan hati orang-orang yang masih rela mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan para korban perang dunia II dan kaum Yahudi seperti di film The Zookeeper's Wife. Film ini berdasarkan novel non-fiksi karya Diane Ackerman, yang terinspirasi oleh catatan diary suami-istri Antonina Zabinska (Jessica Chastain) dan Jan Zabinski (Johan Heldenbergh). Mereka berdua adalah pemilik dari kebun binatang di daerah bernama Warsawa, Polandia tahun 1939, atas serangan bombardir yang menghancurkan sebagian kebun binatang beserta aset mereka, karena pada saat itu wilayah Polandia sepenuhnya telah dikuasai oleh tentara Nazi Jerman. Tapi, meski berada di pihak yang sama, mereka salah satu dari sekian banyak orang yang masih mau mengulurkan tangan mereka tanpa membeda-bedakan ras dan kebangsaan.


Salah satu bagian terpenting dalam mengilustrasikan sebuah film bertema WW2 dan Nazi adalah bagaimana film tersebut mampu memporsir sebanyak-banyaknya penonton kepada rasa empati dan emosi yang mendalam pada tragedi kemanusiaan. Dan juga seberapa pintar sutradara menyelipkan sebuah pesan moral yang mengatasnamakan hati nurani dan perasaan. Sutradara Niki Caro beserta penulis naskah Angela Workman sebenarnya punya potensi untuk mewakili kesetiaan mereka menuliskan kisah heartbreaking keluarga Zabinski. Apalagi melibatkan hewan-hewan kebun binatang yang mati hingga berhamburan keluar kandang, semestinya juga menyulut amarah dan kepedihan kita. Tapi sayangnya secara keseluruhan pengarahan Niki kurang terasa membius dan emosional.


Beberapa adegan memang terasa menyayat hati, apalagi tiap kali kita selalu melihat gadis-gadis kecil tak berdosa yang berusia sekitar 5-7 tahun berlalu lalang di perkampungan Yahudi hingga sederet anak-anak digendong Jan Zabinski memasuki gerbong-gerbong kereta yang mungkin dimaksudkan untuk dibawa ke Auschwitz (IYKWIM) mengundang realita kepedihan. Tapi sedemikian persen kisah yang dipaparkan Caro terlalu lunak dan melibatkan PG-13 sebagai pembatasan moral yang melibatkan margasatwa asli tanpa CGI, entah apa karena ia tidak terlalu berani memamerkan lebih banyak darah dan mayat bergelimpangan. Tapi, bagian tersebut mengurangi esensi yang terasa netral dan kurang melukai saya lebih dalam, kecuali perbuatan asusila yang terjadi seorang gadis kecil itu berhasil mengoyak-ngoyakkan batin saya lebih dalam.


Selain itu film ini pun tak lupa membawa kisah personal antara cinta segitiga Antonina, Jan dan seorang rekan kerja zoologist milik Hitler, Lutz Heck (Daniel Brühl) yang kurang lebih digambarkan sebagai antagonis abu-abu yang mengundang rasa kehati-hatian. Meski di bagian tersebut juga tidak banyak melibatkan emosi dan konflik karakter lebih terasa apa adanya, tapi saya cukup menyukai beberapa adegan seperti detik-detik menegangkan Jan dan Antonini yang harus berusaha menyembunyikan, membawa dan melewati puluhan tentara Nazi yang berkeliaran untuk menyelamatkan para Yahudi yang terdiri dari wanita, pria, anak-anak, dan lansia, dengan resiko petaruhan nyawa cukup menjadi moment dramatisasi yang menegangkan dalam film ini.

Well, The Zookeeper's Wife memang belum sepenuhnya memberi impact besar dalam sebuah tragedi WW2 meski film ini punya segudang potensi, kurangnya rasa dan emosi yang lebih dalam dan tragis dipicu kemungkinan rating tontonan yang dibatasi. Yap, ini memang kerap terasa seperti tontonan drama keluarga, hamparan sinematis yang kurang kelam dan terlalu cantik, meski saya cukup menyukai akting Jessica Chastain yang punya pengaruh dalam cerita. By the way, The Zookeeper's Wife sebagai representasi peristiwa dan biopik dari segelintir saksi bisu dan juga sukarelawan kemanusiaan, film ini patut di hargai.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Sejak dulu selain sebagai sarana hiburan, film merupakan sebuah alat yang mampu menyelipkan pesan propoganda. Dan melalui selipan pesan tersebut maka buah pikiran dari si penulis atau si pembuat film akan tersampaikan entah itu sebuah pesan moral ataupun kritisi mengenai isu terkait yang berdampak pada masyarakat. Didasarkan karya novel berjudul "Their Finest Hour and a Half" milik Lissa Evans, film yang kemudian mendapatkan pemangkasan judul menjadi Their Finest ini memiliki sekelumit cerita yang penuh dengan beberapa isu dan kritisi terkait feminisme, perang, dan juga propoganda di dunia perfilman itu sendiri.

Berangkat dari peristiwa yang baru saja diangkat oleh sineas Christopher Nolan tentang sejarah besar Dunkirk, Their Finest didasarkan pada situasi kota London tahun 1940 pasca evakuasi besar-besaran yang sangat mempengaruhi mental tentara Inggris pada saat itu, selain kekalahan telak dari Jerman, negara Inggris pun mengalami masa-masa sulit bangkit dalam keterpurukan. Maka institusi pemerintahan bernama British Ministry of Information berupaya membuat sebuah film propoganda kepada publik. Seorang wanita bernama Catrin Cole (Gemma Arterton) pun ditunjuk untuk membuat dan menuliskan naskah cerita tentang 2 gadis kembar muda yang konon ikut membantu melakukan evakuasi dinamo dan menyelamatkan sebagian tentara di Dunkirk. Tapi, tugas Cole tidak mudah, karena tugasnya dalam menulis tiap-tiap point naskah cerita haruslah bersifat autentitas dan optimistik, karena ia tidak boleh kembali gagal seperti pada film sebelumnya yang justru menjadi bahan tertawaan dan olokan oleh penonton di bioskop.


Film memang tidak selamanya jujur, itulah yang ingin disampaikan oleh cerita film ini. Mengangkat situasi London saat The Blitz (serangan bom reguler oleh Jerman di kota-kota Inggris dan sekitarnya), saya menangkap bahwa ada sebentuk keinginan dan wujud dari sebuah pencetusan propoganda dalam film yang dibuat pemerintah ini condong pada ketidakrelevanan dengan kisah nyata yang ada. ketidak relevanan itu adalah bumbu cerita yang ditambah-tambahkan dalam film agar bisa menarik penonton. Dan sebuah kritisi disampaikan dalam cerita film ini bahwa seperti yang dikatakan Tom Buckley (Sam Claflin) selaku partner Cole, "Real life with the boring bits cut out". Selama itu masih wajar dan tidak mencemari kisah yang ada. Apapun diperlukan selama film tersebut dapat memuaskan penontonnya.


Selain itu saya pun menemukan begitu banyak pesan penting selaku perlakuan gender dan relasinya dalam hubungan pekerjaan (terutama di dunia hiburan). Sama seperti contoh satir akan adanya perbedaan dalam pengupahan kerja yang bahkan sampai saat inipun di dunia hiburan masih terjadi diskriminasi terhadap persamaan hak kaum wanita dan laki-laki. Dan hal ini secara lugas tersampaikan melalui refleksi seorang Cole yang diperankan oleh Gemma Arterton dengan sangat manis dan tangguh. Di tengah deras dan gemuruhnya kota London akibat perang serta beban dan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita demi pekerjaan (dan negaranya). Meski tidak diwujudkan dalam bentuk kisah yang lebih patriotik, ada energi yang disampaikan dalam bentuk kelembutan seorang Cole, selain kuat dan cerdas dalam bidang profesi yang ia cintai dan tekuni, dalam hal ini Cole cukup banyak mencurahkan secara subtil aksi feminisme yang ia wujudkan dalam ide naskah film yang ia buat. Selain menggambarkan kondisi perang Dunkirk kepada penonton melalui kisah heroik para pria, Cole sedikitnya menyelipkan pengaruh wanita dalam kapabilitas dan juga heroisme-nya di medan perang. Bahkan seolah Cole pun secara tak sadar menyindir kaum pria yang gampang berstereotip soal kemampuan wanita dalam hal ini terkait masalah teknis dan mekanis yang seolah hanya bisa dilakukan oleh kaum adam.


Meski memiliki segelintir isu yang cukup tajam dan satir, namun kekurangan Their Finest terletak pada masalah alur cerita yang cukup gagal meraih emosi. Meski disebut sebagai sebuah film romantis, tapi di act pertama saya menemukan rasa lelah bercampur bosan selaku garapan sutradara Lone Scherfig (One Day) ini jauh mementingkan naskah yang terlalu rapi tapi minim "ledakkan". Sejalan dengan alur dan langkah seorang Cole dalam keseriusannya menggarap naskah cerita dan film, sembari menikmati berbagai proses pra-produksi, syuting, editing hingga tahap post-produksi sebuah film klasik, mengingatkan saya dengan isi film "The Aviator" karya Martin Scorsese. Kejemuan datang karena keintiman dan kehangatan tidak hadir dalam asmara kehidupan Cole, juga bagaimana hubungan dirinya bersama Buckley hanya terlihat sebatas partner kerja, yang justru Scherfig menghadirkannya setelah di bagian act ketiga, berupaya menjadikanya sebagai bagian dari kejutan hingga efek tearjerking yang sama seperti yang dilakukannya pada film One Day. Efektif? iya! gelombang emosi akhirnya bisa saya rasakan di klimaks setelah 1 jam lebih saya terseok-seok dalam cerita yang penuh kehampaan.


Bahkan efek situasi perang dan The Blitz pun tidak dimaksimalkan, cenderung beberapa kali terjadi bombardir lokasi di dekat Cole pun kurang menggelegarkan rasa takut, meski beberapa kali sequens menampilkan mayat bergelimpangan dan bangunan porak-poranda, cenderung fokus cerita yang kian berganti arah sulit menemukan korelasi situasi yang mengarah pada ketegangan, hingga atmosfer The Blitz pun cenderung tidak lagi tampak mengerikan. Well, sebagai bentuk propoganda di dalam propoganda, film Their Finest secara tangguh menggambarkan betapa pengaruh wanita dalam pekerjaan begitu besar. Ini tersirat dari ketekunan dan juga keahlian seorang Cole yang akhirnya beberapa orang mau mengakui kemampuannya. Ini adalah sebuah kisah adaptasi novel British yang betul-betul mencoba mengangkat harga diri wanita dalam standar etos kerja, juga bisa menjadi kisah inspiratif yang cukup berpengaruh khususnya bagi kalian para wanita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mengambil salah satu jelmaan creature King Kong raksasa yang sudah sering di remake berulang-ulang dari versi aslinya di tahun 1933. Jauh dari cerita yang diusung oleh Peter Jackson mengenai romansa seorang King Kong yang di bawa ke kota New York hingga jatuh cinta kepada seorang gadis (manusia) jelita. Kong: Skull Island yang diadaptasi dari cerita John Gatins dan disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts (The Kings of Summer) justru film yang lebih mirip dengan "Journey 2: the Mysterious Island" dan "Godzilla" (2014). Mengekstraksi sebuah masterpiece movie sebesar "Apocalypse Now" sekaligus menjadikannya homage melalui posternya yang iconic, saya menyadari pesan singkat film ini sama-sama ingin menunjukkan eksistensi seorang hidden god monster yang pernah diperankan oleh Marlon Brando namun dengan wujud monster sesungguhnya. Selain itu tema dan indikator melalui latar waktu dan tempat di era perang Vietnam pada tahun 1973 ini juga memiliki kesamaan. Membuat apa yang disajikan oleh Kong: Skull Island punya experience unik yang mencoba me-mixing film lainnya yang dari kebanyakan film monster yang pernah ada.


Seorang ahli geologi Bill Randa (John Goodman) mencoba melakukan ekspedisi dan eksplorasi ke sebuah pulau tengkorak misterius yang baru saja ditemukan guna memecahkan misteri sekaligus melakukan pemetaan lokasi yang ada di dalam pulau tersebut. Dikawal oleh regu tentara yang dipimpin oleh kolonel Preston Packard (Samuel L. Jackson) serta seorang tracker handal yang disewa Randa, James Conrad (Tom Hiddleston) dan fotografer anti-perang Mason Weaver (Brie Larson). Perjalanan berbahaya berselimut wahana mengerikan ini memang cukup menjadi sajian teror monster yang memborbardir. Secara keseluruhan kenikmatan yang dirasakan sepanjang film adalah baku hantam para manusia (lemah) yang harus terus-menerus bertahan hidup di tengah bahaya yang tidak kenal ampun bahkan tidak diduga. Itu terbukti dari sejak pertama kali sebelum para kru Randa menapaki daratan pulau tersebut mendadak mendapati serangan brutal dari si raja King Kong. Membuat mereka tercerai-berai dan memaksa mereka terbagi atas beberapa kelompok.



Sayangnya selepas dari itu semua plot yang dihadirkan oleh bermacam-macam screenwriter dari Dan Gilroy (Nightcrawler), Derek Connolly (Jurassic World), dan Max Borenstein (Godzilla) terasa dangkal. Dibalik visual yang colorful yang mampu menciptakan pulau yang sesungguhnya hutan dan sungai dari set lokasi Kualoa Ranch, Hawaii yang dulunya pernah dipakai syuting Jurassic World (2015), semua seolah seperti orang yang sok berani terjun ke kandang macan lalu sedetik kemudian melompat lagi keluar karena ketakutan. Bahkan karakterisasi dari setiap tokoh yang ada pun seolah kehilangan tujuan dan saat pamer keahlian di awal tidak lagi menarik perhatian, berganti keinginan besar untuk kabur dan meloloskan diri sesegera mungkin dari tempat penuh mara bahaya tersebut. Kecuali satu, motif kolonel Packard yang mencuat aksi loyalitas sebagai leader dan keinginan untuk menuntut balas menggerakkan seseorang untuk beraksi nekad namun juga mengakibatkan orang lain ikut terseret ke dalam lubang kematian membuat konflik terasa sedikit lebih hidup.


Kong: Skull Island adalah sebuah gegap gempita tentang visual colorful dengan sajian survival action penuh adegan bombastis yang cukup memukau mata, dari sekedar permainan pedang katana yang tampak konyol ataupun kehadiran berbagai sosok creature yang stranger. Meski hadir dengan penokohan yang minim, yang artinya aktor semacam Tom Hiddleston maupun Brie Larson tak ayal hanya menjadi leading role biasa yang lebih banyak berkontribusi dalam beberapa adegan aksi tapi kosong dalam cerita, meskipun kehadiran semacam Hank Marlow (John C. Reilly) di tengah-tengah kisah pun tidak merubah kondisi apapun, justru menyesakki populasi karakter yang ada. Tapi, film ini sudah cukup mengeksplorasi banyak keasyikan dan kebrutalan selain dari eksistensi sang kera raksasa yang sebegitu menyenangkannya untuk ditonton. Sedikit spoiler? post credit dalam film ini sangat menarik untuk disimak, mungkin ini sinyal akan adanya universe monster yang lebih besar dari sekedar Godzilla maupun King Kong yang berdiri sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates