• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Red Sparrow adalah film thrilling-sexy spy yang tidak menjanjikan. Film yang disutradarai Francis Lawrence, kolaborasi ulang bersama Jennifer Lawrence yang sebelumnya berada di tiga film terakhir The Hunger Games, merupakan adaptasi novel karangan Jason Matthews berjudul sama. Jason sendiri adalah salah satu tokoh penulis sekaligus mantan agen mata-mata CIA. Jadi, bisa dibilang Red Sparrow punya potensi dan daya tarik sebagai sebuah film bertema spionase yang menantang untuk diikuti dengan mengambil referensi khusus dari status profesi sang penulis pribadi. Meski hanya kisah cerita fiksi, film ini merupakan gagasan menarik yang mengingatkan saya dengan beberapa film spionase populer lainnya, seperti Atomic Blonde atau kurang lebih lebih serupa dengan The Girl with the Dragon Tattoo. Background cerita underground yang kelam dan nakal.

Red Sparrow berusaha untuk seperti itu, bumbu-bumbu soal perang dingin, unsur seks, kompleksitas agen ganda, kesetiaan dan politik adalah bumbu yang terdengar wah ketika teaser trailer-nya pun sangat menggoda. Tapi begitu kita menarik keluar cerita yang durasinya keterlaluan, semakin kompleks cerita berbicara saya mulai merasa ada yang kurang beres dan semakin lama memang tidak beres, saya melihat banyaknya lubang-lubang yang tidak tertambal dan ceita melompat-lompat. Intrik dan alur cerita Red Sparrow semakin kemari semakin amburadul dan kacau. Seakan berniat untuk lebih nakal, brutal dan kompleks, obsesi untuk mempertontonkan cerita yang berat, kelam nan gila malah terjerembab menjadi pasang-surut, cacatnya lagi duo Lawrence ini berupaya memperlihatkan adegan demi adegan pencabulan kepada sang tokoh utama yang terasa mati dan cekak. Red Sparrow malah terasa seperti film semi pornografi. Apalagi adegan disaat Dominika Egorova (Jennifer Lawrence) yang awalnya seorang balerina, menjalani sesi latihan perdananya agar direkrut sebagai mata-mata di kamp rahasia milik pemerintahan Rusia, adalah puncak kebodohannya. Sekolah secret spy milik pemerintahan Rusia ini punya metode menyuruh para muridnya untuk saling bersetubuh, memperbolehkan memperkosa, diperkosa, dilecehkan dan aturan-aturan amoral yang terbilang absurd. Ditambah penokohannya dangkal dan konfliknya tidak emosional, Dominika hanya tokoh utama sentimentil yang kurang berperasaan, membingungkan dan karakternya kurang membuat saya terikat akan kepribadiannya yang setengah-setengah. Sentuhan manis di akhir yang sangat manipulatif bagai konklusi paling masuk akal pun tidak berdampak apa-apa, melainkan saya hanya berkata "oh, begitu ya..." dalam hati sangking filmnya tidak lagi menarik.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dulu saya sempat mengira bahwa film horror adalah salah satu out date genre yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Melihat bagaimana pola pikir masyarakat yang sudah begitu maju dan seolah mereka tidak lagi gampang ditakuti oleh apalagi hal berbau mistis. Mendapati cerita teman saya yang baru menonton film IT, alih-alih takut sepanjang film, teman saya yang sebetulnya terbilang super-duper penakut malah menganggap Pennywise adalah badut yang lebih banyak berbuat konyol ketimbang seram. Tapi, sungguh daya tarik horor tak ubahnya genre lain yang berkembang seiring semakin canggihnya teknologi CGI, ada yang menyebutnya horror anti-mainstream atau modern horror. Horror jalur baru inilah yang kerap menghasilkan horror berkualitas dengan hasil berbeda seperti "The Witch" dan "It Comes At Night." Nah, kebetulan digarap oleh studio yang sama, A24 kembali menelurkan film antimainstream lainnya berjudul Hereditary.

Hereditary punya formula yang sama dengan keduanya, yaitu horror psikologis nan mengganggu lewat sesuatu yang tak nampak tapi menciptakan rasa takut dan cemas luar biasa. Dinahkodai oleh debut sutradara Ari Aster yang juga merangkap penulis naskah, menjadikan film Hereditary yang cukup banyak menjadi perbincangan hangat ini sukses membuat saya hampir terlompat dari kursi bioskop oleh pengalaman teror dengan rasa berbeda yang bahkan tidak saya jumpai dari film The Conjuring sekalipun. Meski tidak relevan untuk membandingkan dengan film tersebut, tentu saja Hereditary memiliki satu tingkat lebih baik dari film garapan James Wan ini.

Bercerita tentang Annie (Toni Collette) yang berprofesi sebagai pembuat miniatur bangunan, bersama dengan keluarga kecilnya yang terdiri dari suaminya Steve (Gabriel Byrne) dan kedua anaknya masing-masing si sulung, Peter (Alex Wolff) dan bungsu, Charlie (Milly Shapiro). Pasca ibu Annie meninggal karena penyakit demensia dideritanya, keluarga Annie perlahan mulai mengalami berbagai kejadian aneh dan mengerikan, yang kemudian menuntun Annie dari ancaman yang diwariskan oleh keluarganya sendiri secara turun temurun.

Ada yang mengatakan Hereditary ini memiliki kesamaan cerita dengan film Indonesia, Pengabdi Setan. Meskipun dibilang sama, tapi film yang tampil di Sundance Film Festival Februari 2018 lalu memiliki banyak modal untuk dianggap sebagai film unik dan berbeda dari film horror biasanya. Mungkin plot cerita terbilang umum, tapi saya suka bagaimana Aster mengolah sedemikian rupa sehingga malah menghasilkan teka-teki dan sandiwara penuh konflik emosional. Katakanlah saya tadi bilang bahwa Hereditary hampir membuat saya terlompat dari kursi, mungkin terdengar hiperbolis tapi jujur Hereditary bukan film bermodal jump scare sana-sini dengan scoring berlebihan demi menaikkan atmosfer. Cukup sederhana, film yang bermain dengan tempo lambat ini, membakar perlahan-lahan agar penonton jadi tenggelam didalamnya, sehingga beberapa kejutan yang bisa dibilang begitu tipis dan tak terduga begitu efisien mencengkram bulu kuduk penonton.


Tapi, horror dan ketakutan bukan elemen utama yang membuat Hereditary gampang disukai, Aster pun tidak main-main mengolah setiap sisi baik sinematografi yang apik hingga pengenalan karakter yang kuat. Sinematografi dari Pawel Pogorzelski melengkapi teror lewat visualnya, banyak gambar hingga close up wajah dengan beragam ekspresi sanggup memicu ketegangan dan emosi. Sinematis yang tidak saja mengagumkan, tapi juga sanggup melekat di ingatan penonton dalam jangka waktu lama. Dari kualitas akting yang didominasi oleh empat orang, Toni Collette sebagai leading act berakting luar biasa, berlakon sebagai Annie, ibu rumah tangga yang depresif dengan penyakit mental yang diwariskan oleh keluarganya, performa yang ditampilkan dengan segala kegelisahan dan kegilaannya mampu membuat saya sesak tak terhingga. Milly Shapiro dan Alex Wolff sebagai young cast juga punya daya magis dalam cerita, Milly yang digambarkan sebagai anak kecil dengan tingkah lakunya yang weird abis, dan Wolff berakting diluar dugaan dengan sosok remaja tanggung yang hobi menghisap ganja bersama temannya, tapi beberapa kali sorot wajahnya terekam begitu intens menjiwai karakternya yang labil ditengah kegilaan melanda keluarganya, dan salah satu scene yang memorable adalah ketika Peter memukul wajahnya di meja sampai berdarah, dan adegan ini real dilakukannya. Dan terakhir Gabriel Byrne, sosok kalem dari bapak yang kerap menjadi penengah dikeluarga gila ini.


Tapi, bukan berarti Hereditary berakhir tanpa cela, kerap kali saya membaca kritikan soal ending yang dianggap chessy, bahkan ada yang bilang gini, "endingnya udah gitu aja?". Hal ini pula yang saya rasakan setelah ending credit scene berakhir, ada mood yang hilang bercampur ketidak efektifan Aster meramu hasil, meski saya rasa semua kepingan puzzle tersusun rapi dengan simbolisme soal kutukan dibuat dengan sangat baik. Tapi, klimaks selalu punya peran besar menggeser mood penonton meski film Hereditary sendiri punya power cerita efektif luar biasa. Meski begitu, sekali lagi A24 berhasil merangkul horror antimainstream-nya, membawa teror psikologis dan curse-movie ketingkat lebih tinggi, beautiful, unique, powerful, emotional and to be sure it's haunting.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya jadi teringat dengan salah satu horror indie-classic The Blair Witch Project yang terkenal karena menyampaikan materi horror-nya dengan cara tak biasa melalui kekuatan atmosfer mencekam tanpa harus bersusah payah menakuti penonton dengan jump scare atau penampakan mengerikan seperti halnya hantu, iblis, vampir ataupun zombie sekalipun. Sama halnya dengan It Comes At Night, "It" yang dimaksud dalam judulnya memiliki makna jamak dan tidak bisa dikategorikan sebagai entitas makhluk atau mungkin bisa dikatakan demikian, sebagaimana hal-hal seram yang terjadi dalam film ini justru datang dari sesuatu yang disebut kondisi dan keadaan yang memaksa manusia harus berjibaku untuk bertahan hidup. Psikologis manusia yang dilanda ketakutan ekstrim inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Trey Edward Shults sebagai horror-thriller psychological yang mendebarkan jantung.

Premis filmnya meyakinkan, sebuah zaman pasca-kiamat dimana penyakit menular dan mematikan melanda dunia, tapi tentu saja Shults membuatnya menjadi minimalis, sama seperti 10 Cloverfield Land, set dunia yang diperlihatkan justru hanya dari sepetak keluarga yang hidup terisolasi dalam rumah di tengah hutan, diantaranya Paul (Joel Edgerton), istrinya Sarah (Carmen Ejogo) dan anaknya Travis (Kelvin Harrison Jr.). Sehingga hal-hal di film ini sengaja ditutup-tutupi dan detil isu dalam kiamat pun takkan pernah terjelaskan secara lebih rinci, meski begitu apa yang disampaikan Shults tetap meyakinkan, kekuatan cerita yang dihamparkan secara menakjubkan memberi atmosfer mencekam kala teror tersebut datang dari ancaman dibalik gelapnya hutan, penyakit menular, hingga dilema moral kala manusia berhadapan dengan keputusasaan dan ketakutan. Hingga Paul dan keluarganya didatangi oleh seorang pria misterius dan mencurigakan yang mengaku datang ketempatnya hanya untuk mencari air bersih demi menunjang kehidupan anak dan istrinya yang tinggal beberapa kilometer dari tempat Paul tinggal.


Moment film ditangkap melalui atmosfer kala mengelilingi tiap bilik kayu rumah Paul yang gelap gulita saat malam datang dengan penerangan seadanya, hingga menyusuri hutan gelap yang mendapati aura mencekam didalamnya. Tapi, tentu saja kita takkan menemukan apa-apa kecuali film ini terdapat keragu-raguan, kecemasan, hingga timbul depresi dan delusi dalam paranoia yang berlebihan. Mungkin film ini berakhir dengan kontradiksi yang menimbulkan pertanyaan dan perdebatan kala konklusi berakhir tidak terjawabkan. Tapi, mungkin inilah yang ingin disampaikan Shults, keraguan, ketakutan disertai teka-teki membingungkan menjadi inti bagaimana manusia normal mampu berubah akibat efek psikologis yang membutakan hati nurani, saat rasa takut menjadi bagian paling menyeramkan dalam diri manusia.

Ya, beberapa point penting memang tidak terjawab secara memuaskan, meski ditutup dengan akhir yang menakjubkan, tragis dan betul-betul gila. Hingga akhirnya "It" hanya sebatas sesuatu yang mengganjal dihati tanpa tahu apa makna dibalik perisitiwa dari segelintir keanehan yang terjadi di rumah Paul, kecuali kita memaksakan sendiri konotosi dibalik hal tersebut secara implisit antara aneh dan mengganggu, terlebih delusi dari mimpi-mimpi surealis yang terjadi pada Travis membuat hal-hal yang nampak terjadi menjadi semakin membingungkan dan sepenuhnya abstrak. Tapi, tentu saja jangan pernah terjebak oleh rekayasa cerita Shults, kita takkan pernah tahu siapa yang sesungguhnya jahat di film ini, apakah sesungguhnya hantu sang kakek menjadi asal muasal penyebab atau mungkin ada hal lain yang menjadi indikasinya. Ya, It Comes At Night adalah film horror yang membingungkan hingga saat ini.



SPOILER ALERT!
Ini hanya teori dan opini pribadi yang liar untuk sedikit menjelaskan setumpuk pertanyaan dalam film ini. Tahu kenapa Shults mengawali kisahnya dengan pembunuhan yang dilakukan Paul dan keluarganya terhadap kakek Bud? Dalam kondisi penyakit yang dideritanya, saya rasa Bud menjadi hantu penasaran. Memang hantu Bud tidak dijelaskan secara eksplisit, melalui gangguan atau penampakan secara langsung. Namun justru datang melalui mimpi-mimpi buruk yang dialami Travis. Memang ambigu, tapi bukankah wujud hantu tidak sepenuhnya meneror melalui poltergeist atau teror hantu konvensional semacam itu. Apalagi melihat bahwa Travis secara pribadi merasa kehilangan saat melihat kakeknya ditembak dan dibakar didepan matanya sendiri. Membuat Travis seolah memberi pesan kepada cucu terdekatnya tersebut sebagai pesan yang mengerikan.

Coba ingat dan pikir, siapa yg membuat anjing Stanley berlari menuju hutan, lalu pas dikejar oleh Travis tiba gonggongan beserta anjingnya ikut menghilang, dan suatu malam setelahnya, Travis terbangun (aneh tiba-tiba ia terbangun diwaktu tersebut dan ngelonyor turun ke bawah meski telah dibahas kalau ia memiliki penyakit susah tidur, yang tidak lain karena mimpi buruknya selama ini, menemui Kim? Saya rasa itu konyol) dan secara mengejutkan tiba-tiba menemukan anak Will, Andrew, tertidur (terkapar) di luar ruangan (Ingat? Ruangan Bud!), dan pintu merah terbuka dari dalam dan setelahnya Travis mendengar suara aneh seperti ada seseorang dan kemudian secara mengejutkan Stanley terkapar belumuran darah. Dan saat ditanya mengenai soal kenapa Andrew bisa keluar dan tertidur ditengah ruangan Bud, dan ia mengatakan lupa apa yg telah terjadi pada dirinya. Bukankah sudah jelas, Andrew tidak punya penyakit tidur berjalan, dan ia tidak ingat apa yg terjadi dengannya.

Mengenai penyakit menulari Travis? Saya rasa kita bisa menafsirkan sendiri-sendiri. Apakah hantu tersebut bisa secara langsung menulari penyakit tersebut atau tidak. Toh, saya juga berpikir begini, Shults memang berencana tidak membuat hantu terlihat nyata, meski hantu dijelaskan melalui mimpi buruk, karena tujuannya disini adalah teror psikologis manusia dengan bumbu teka-teki dan moral dalam wabah penyakit yang tak terjelaskan, ini seperti siratan makna lukisan Triumph of the Death di kamar Travis, dan bukan soal jelmaan hantu Bud. Meski pesannya disampaikan secara subtil, teori saya mengatakan film ini adalah film hantu yang sengaja tidak menjelaskan bahwa ini adalah film hantu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Tidak semua orang percaya hantu, makhluk metafisik yang tak kasat mata ini dianggap hanya sebatas imajinasi manusia dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi, tidak barang tentu untuk seorang penganut agama atau segelintir paranormal yang yakin akan eksistensi dunia yang berseberangan dengan dunia nyata melalui tanda-tanda, komunikasi roh ataupun sekelibat penampakkan sosok misterius yang tiba-tiba muncul dibalik kegelapan. Saya rasa jika menilik hal tersebut memang akan membawa rasa ambigu dan menimbulkan tanda tanya perihal apakah makhluk yang biasa dianggap inkarnasi kematian manusia menuju hantu itu benar-benar ada, atau hanya akibat efek psikologis manusia semata.

Personal Shopper adalah film yang mengkaburkan batas antara realitas dan ilusi yang membuat kita bertanya apakah hantu itu nyata atau tidak. Maureen (Kristen Stewart) wanita yang bekerja sebagai asisten belanja pribadi seorang selebritis besar mencoba pergi ke Paris untuk mendatangi bekas rumah saudara kandungnya Lewis yang meninggal akibat serangan jantung. Dahulu Maureen dan Lewis sempat berjanji jika salah satu dari mereka meninggal, maka satu diantara mereka harus berusaha untuk mencoba membuat kontak dan komunikasi, menilik keyakinan besar saudaranya terhadap hal-hal bersifat spiritualitas dan percaya akan entitas roh kehidupan setelah mati. Namun, beberapa hari setelah Maureen mengunjungi bekas rumah saudaranya itu dan mendapatkan tanda-tanda gaib disana, ia terkejut dan heran oleh pesan misterius yang dikirim melalui chat handphone dari seseorang yang tidak diketahui siapa dan apa motifnya.


Oliver Assayas adalah sutradara yang saya kenal lebih dulu dengan salah satu karyanya "Clouds of Sils Maria" (2015). Kesamaan antara dua film besutannya ini bercerita tentang tokoh sampingan dalam kehidupan selebritis besar antara glamoritas dan popularitas yang bergesekkan dengan kehidupan psikologis dan juga permasalahan yang terjadi didalamnya. Dan kesamaan kedua, peran Kristen Stewart sebagai asisten khusus selebritis di kedua perannya tersebut. Film ini sebelumnya mendapatkan penilaian kontradiksi saat pertama kali ditayangkan di Cannes International Film Festival ketika para kritikus mencemooh film ini, meski separuhnya lagi memuji dengan sambutan hangat hingga akhirnya para juri resmi dari kompetisi tersebut memutuskan Assayas berhak memenangkan gelar sutradara terbaik tahun ini.

Sebetulnya film ini punya banyak hal menarik perihal garapan Assayas memiliki sentuhan mistis dan horror didalamnya. Saya suka tone film ini tampak begitu gelap, misterius dan dingin, namun terasa artistik dan indah melalui nuansa yang tampak berkilauan dari sisi pinggir pusat kemewahan dunia popularitas. Ciri khas Assayas masih terasa kental melalui tempo yang mengalun lambat dan tenang, hanya saja mengagumkan dalam permainan gerak gambar, scoring, hingga dentuman eksekusi suara yang seksama menciptakan aura mencekam dalam visualiasasi dan ketukan suara langkah sepatu Maureen ketika berkeliling sudut rumah tua tanpa penerangan dalam keheningan. Hingga membawa saya dalam rasa takut Maureen dalam pikiran cemas, gemetar dan terintimidasi oleh sesuatu yang mengintainya dibalik selimut kegelapan.


Saya sebetulnya sedikit mengerti apa yang sedang Assayas maksud dalam film ini dan juga alasan sebagian kritikus menilai buruk film ini. Personal Shopper bertujuan untuk memberikan skeptisme kepada publik tentang terror yang mengintai, membuat kebingungan serta mempertanyakan realitas sekental mungkin. Maureen sesungguhnya tokoh yang terbilang dalam misi mengungkapkan misteri selagi ia pun dilanda duka kesedihan akan kehilangan orang tersayangnya, selain mengenal Mauree yang serta mengalami krisis identitas, kehilangan tujuan dan terhinggap dalam depresi kesendirian. Menukil dalam psychological thriller film ini menghamparkan dilema juga delusi dalam hal yang setipis mungkin menipu penontonnya dalam balutan thrilling horror yang mind-blowing. Sehingga kita percaya apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita dengar, dan semua itu distimulasi melalui insiden dan tragedi pembunuhan yang nyatanya menggoyahkan penontonnya soal teror hantu atau sesungguhnya pelaku manusia yang nyata. Dan problem tersebut berlanjut di akhir cerita yang menegaskan bahwa semua yang dialami Maureen seorang diri itu nyata atau delusi dalam ketakutan dirinya.


Tatkala mempertanyakan plot dan cerita yang membingungkan, saya jauh lebih terpikat oleh akting Kristen Stewart. Aura negatif dalam mimik wajah penuh derita dan pesimistis seolah hidupnya terenggut oleh kematian sang kakak, tapi keberanian untuk topless, pancaran kecantikkan dalam wajah kusut dan kusam namun indah, membuat saya terdorong untuk mengetahui lebih dalam latar belakang dan kepribadian kosongnya. Scene masturbasi adalah scene terbaik, hal yang sempat saya bayangkan semenit sebelum ia benar-benar siap berganti busana dengan memakai gaun mewah, mahal dan seksi pribadi milik boss-nya, rasa takut, gelisah sekaligus kenakalan yang ia buat seketika mengejutkan sekaligus menggoda bahwa tak terbayang hal yang baru semenit saya pikirkan ternyata benar-benar dia lakukan. Bukan berpikir mesum, tapi nyatanya refleksi psikis yang memang dipersentasikan dalam film dibentuk secara alami tanpa kepura-puraan, tanpa berpikir untuk mencoba bersimpati tapi secara keseluruhan mengerti jalan pikiran wanita ini tanpa harus membuat kita jadi sok tahu lebih dalam.

Well, mendalami kesimpulan atas cerita film ini saya condong percaya bahwa hantu dalam film ini betul-betul nyata dan ada. Tidak peduli Assayas membolak-balikkan pikiran saya soal ambiguitas dalam pikiran depresi dan delusi, karena beberapa point dalam film meyakinkan bahwa hantu dalam film ini memang eksis karena siapa yang menjatuhkan gelas dan siapa yang melintas melewati lift dan pintu geser otomatis tanpa terlihat mata, dan semua itu terjadi saat Maureen tidak hadir dan melihat disana. Tapi semua tergantung persepsi masing-masing, saat Hilma Af Klint, pelukis abstrak pertama di dunia yang memperkenalkan lukisan tak berbentuk, namun visualisasi tersebut nyata untuk dapat dilihat dan dirasakan sebagai seorang yang percaya akan energi spiritual dan hal gaib, meski semua tampak abu-abu jika memang Assayas mencoba memberi rasa keragu-raguan di akhir cerita, saya pikir tujuannya harus gagal karena delusi ataupun hantu, keduanya memang abstrak untuk dibicarakan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



"Did she? Didn't she? Who was to blame?" sebuah kata yang dipakai saat film ini dimulai ternyata menjadi konklusi di akhir cerita. My Cousin Rachel adalah sebuah film karya Roger Michell ("Notting Hill", "Le Week-End", "Venus") yang di remake ulang melalui film klasik berjudul sama tahun 1952 yang dimainkan oleh Olivia de Havilland dan Richard Burton, dan juga adaptasi asli novel karya Daphne du Maurier di tahun 1951. Film ini dasarnya adalah sebuah film romantis berbalut misteri yang mengelilingi identitas penuh teka-teki seorang wanita janda bernama Rachel Ashley (Rachel Weisz) yang baru saja kehilangan seorang suaminya, Ambrose. Philip (Sam Claflin) anak baptis sekaligus sepupu Ambrose yang telah membesarkan dan menganggapnya sebagai ayahnya sendiri, tidak mempercayai kematian Ambrose bukan karena penyakit tumor kepala seperti yang di klaim oleh penasehat dan pengacara Ambrose, Mr. Rainaldi (Pierfrancesco Favino) dan yakin bahwa Rachel sendirilah penyebab kematian ayah baptisnya tersebut.


Film ini datang dari rasa kebencian yang berubah tumbuh menjadi obsesi cinta yang membutakan. Philip sama sekali belum bertemu secara langsung dengan Rachel. Tinggal bersama wali hakim Nick Kendall (Iain Glen) dan anak perempuannya Louise Kendall (Holliday Grainger) sebelum Philip akhirnya mendapatkan harta warisan dan kendali penuh atas perkebunan yang dimiliki Ambrose, Rachel yang menghilang lalu tiba-tiba datang mengunjungi Philip. Disaat pertemuan pertama mereka tentu saja Philip dipenuhi rasa benci serta ingin menuntut balas dendam atas kematian Ambrose, namun niatnya seketika berubah saat melihat Rachel untuk pertama kalinya yang ia kira adalah wanita gendut, tua dan jelek yang hanya punya niat jahat untuk menguras harta Ambrose. Rachel yang tersenyum ramah dan lembut, hingga membuat wajah sendu disertai getaran rasa gugup memegang cangkir teh ditangannya. Pertemuan mereka di awal penuh kecanggungan, membuat segala kebencian Philip di awal sirna melihat kecantikan dan pesona Rachel yang akhirnya membuat Philip jatuh cinta dan terobsesi dengan sepupunya tersebut.



Wanita adalah konotasi yang diciptakan melalui penggambaran kecantikan dan pesona yang menghipnotis. Bisa dibilang Philip adalah pria yang digambarkan memiliki kelemahan seperti yang pernah ia ucapkan, ketika hasrat cinta dan obsesi meracuni kesadaran dan tujuan awal yang ia miliki. Melalui sepetak romantisme yang penuh skeptisme, Rachel adalah wanita yang dibentuk melalui ambiguitas karakter yang terkombinasi hampir sempurna. Mulut manis dan getar-getir optimisme disertai kerapuhan yang dipancarkan melalui akting Rachel Weisz sangat menakjubkan, ia punya nyawa untuk mencampur adukkan tipikal wanita yang sepenuhnya mencurigakan tapi disisi lain membawa sentimen keragu-raguan akan daya tariknya yang sangat istimewa tentang kesubtilan gestur dan mimik wajah yang mendayu-dayu seakan ia memang wanita yang terpresentasikan sebagai wanita yang baik-baik tanpa punya maksud dan motif tertentu.


Sesungguhnya penyajian film ini cukup meyakinkan melalui pencampuran romansa dari penyutradaraan yang indah dibungkus melalui atmosfer yang gelap dan misterius. Sihir dalam film ini tentu saja semua berasal dari kepiawaian akting para pemainnya, terutama Rachel Weisz yang berhasil memikat sepanjang film, apalagi tatapan mata serta senyumnya yang begitu kuat memancarkan kecantikan dan keanggunan layaknya wanita normal dan biasa berhasil menipu dan memanipulasi otak saya untuk percaya sepenuhnya padanya, seperti yang pernah saya rasakan melalui akting Rosamund Pike di film "Gone Girl". Dari sebentuk visualisasi vintage klasik dan juga senimatis yang mencoba menggambarkan keindahan landscape dan set dekor dibuat cukup elegant. Hanya saja Michell gagal memberi pesan kontradiktif yang akan membuat saya kurang merasa mind-blowing di akhir cerita, setiap jawaban dan clue yang serentet coba diungkap satu-persatu telah mempermudah penonton untuk menyimpulkan kebenaran sesungguhnya, meski Michell sendiri merasa apa yang ia coba terangkan mengenai persepsi multi-tafsir pikiran tidak berhasil dilampaui hingga finish.

Ditambah lagi film ini enggan menyentuh ranah yang konteks seksualnya lebih abusive, meski film ini menyajikan sebentuk hubungan cinta antar sepupu yang terbilang manipulatif, kontradiktif, dan obsesif, tapi peluang Michell mempersentasikan hal yang lebih berbau "busuk" dan suffering dari sekedar penekanan unsur romansa yang terbilang tarik ulur terasa kurang bergairah, hingga timbal balik di akhir film ini pun tidak lagi sesuai dengan apa yang diharapkan menjadi dark romantic dalam motif yang lebih provokatif serta kotor. Saya rasa Michell masih terlalu takut untuk menggenggam narasi dan penyutradaraan yang lebih memuaskan secara obsesi yang lebih mendorongnya lebih dalam, demi menghasilkan penokohan yang abu-abu justru terjerembab pada narasi yang ikut menjadi abu-abu yang tidak lagi menyulap hasilnya menjadi kontradiksi yang sesuai dengan ending yang memuaskan di akhir cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates