• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Coba kamu pikir kalau film kayak 'Crazy Rich Asian' jadi sebrutal dan sesadis film-film thriller macem Don't Breathe, eh bukan hanya Don't Breathe saja tapi lebih gilanya lagi film ini bukan cuman teror hide and seek penuh keseriusan tapi juga diselimuti unsur komedi tolol didalamnya. Tapi, apa sih yang tidak bisa dilakukan di zaman sekarang mencampur unsur-unsur tersebut dan membuatnya menjadi nyata (baca: Really Crazy Rich!) oleh duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, dan ditulis naskahnya oleh Guy Busick dan Ryan Murphy. Sejujurnya saya nggak mengikuti beberapa film-film mereka kecuali dua sutradara ini pernah collab dalam film horor 'V/H/S'. Tapi, tentu saja film ini adalah sebuah kejutan menarik tahun ini.

Plot film ini seputar Grace (Samara Weaving) yang segera menggelar pernikahan dengan pria yang berasal dari keluarga kaya raya, Alex (Mark O'Brien). Hingar bingar dan kebahagiaan menyelimuti wajah berbinar Grace, bersamaan musik bethoveen melantun mengiringinya kepelaminan. Tapi, siapa sangka petuah menjadi malapetaka Grace ketika ia tidak menyadari kisah horor di rumah itu alias keluarga yang malah membuatnya harus menjadi korban dalam permainan keji, kotor dan kelewat jahat dari para anggota keluarga Alex disana.

Nuansa vintage dengan kesan golding mengisi hampir tiap sudut rumah, seolah terasa bernuansa elegant dan classic. Dalam rumah mewah itu kita akan dikenalkan begitu banyak karakter, terutama pada keluarga besar Alex tentu saja, dan sisanya adalah para 'pelayan'. Grace sebagai pusat cerita satu-satunya yang berusaha survive, berusaha bersembunyi, berlari dan yah mungkin kita akan hafal film-film bertajuk serupa. Tapi, saya pikir sang sutradara sadar jika ia terus membawa cerita linear yang basi akan membuat kisah hide and seek dapat gampang ditebak, jadi sekelibat kita mungkin akan mengira bahwa sampai akhir filmnya ya tentang kucing-kucingan di dalam rumah. Tapi, makin kesini kita makin merasa kalau setiap karakter yang ada bertindak unpredictable, mereka punya peran dalam merubah dinamika cerita. Dan inilah bagian menariknya, contohnya Daniel (Adam Brody) saudara Alex yang ternyata tindakannya diluar perkiraan kita.

Inilah yang membuat Ready or Not jadi sedikit istimewa, ini bukan tentang Grace semata, dibalik motif dan asal-usul keluarga Alex yang punya muatan sektarian. Ada sedikit humanitas dan kemasuk akalan yang hampir saja di awal cerita saya sering takut kalau nantinya para karakter sebanyak ini hanya bertindak mengikuti cerita dan berakhir menjadi tokoh kosong belaka. Bahkan bibi Helene (Nicky Guadagni) bukan pajangan seram mirip tokoh Disney, Ursula. Mereka semua hampir memiliki peran dan sifat bahkan tidak sedikit ada unsur tentang ikatan keluarga dan cinta. Satu sama lain pun punya karakteristik berbeda dan gampang diingat, dan yang paling bisa diingat adalah tingkah tolol dan kocak mereka. Komedinya dibuat cerdas nan tolol, unsur gory-nya yang serius pun lumayan membuat penonton di bioskop pun menunduk sangking ngilunya. Dan dua hal yang berseberangan ini sukses disajikan tanpa saling mendistorsi satu sama lain.

Tapi tentu saja, semua itu mungkin tak sempurna tanpa leading actress Samara Weaving, si Margot Robbie KW yang berperan sangat ciamik. Berperan sebagai Grace, sesosok wanita yang awalnya terlihat biasa, tak merasa aneh dan khawatir dengan keluarga barunya, kecuali rasa cemas normal dari tak diterimanya ia dikeluarga Alex yang berbeda latar dan status sosial, identitas barunya sebagai istri, dan tentu saja raut kebahagiaan yang memancar dari wajah khas wanita baru menikah. Lalu, dibalik 180 derajat ketika kenyataan melewati ekspetasinya. Wajahnya bercampur aduk dari kebingungan, kehancuran dan ketakutan setengah mati, bahkan di akhir pun saya meyukai transformasi aktingnya berubah-ubah mengikuti perjalanan satu malamnya yang penuh darah. Satu lagi, musik yang mengiringi pergerakan-pergerakan gambar Grace mendukung kegilaan suasana hatinya. (Dimana lagi ada wanita yang sedang merasakan kegilaan dihadapannya, malah disuguhi musik beat gitar listrik!)

Tapi, Ready or Not dipersiapkan bukan tanpa celah, ia punya kekurangan kecil tapi mencolok. Kita tahu bahwa ia punya sederet karakter unik yang berbeda yang sebetulnya punya ceritanya sendiri-sendiri. Namun sayang sangking menariknya mereka, diantaranya malah ada yang menggantung, beberapa coba diceritakan ditengah-tengah secara menarik tapi kemudian tak ada jawaban di akhir yang membuat kita sedikit melongo. Dan ini bukan satu orang, bahkan beberapa seolah punya latar belakang menarik, tapi malah jadi setumpuk script asal tempel untuk mengisi dialog mereka. Saya suka motifnya, meski saya rasa sektarian atau pemuja setan kayaknya sudah sering dipraktekan oleh para sineas masa kini, tapi Ready or Not adalah cicipan rasa yang lumayan baru untuk genre serupa, terutama bagian komedinya yang pintar memancing tawa ditengah deras kecemasan penonton melihat nasib Grace. Satu lagi, dialognya pun cukup badass, karena rasanya baru kali ini ada film horror-thrilling yang kontras dan kaya akan jumlah umpatan kasar.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


10 Tahun berlalu sejak pertama kali Michael Bay memperkenalkan Transformers pertamanya, 10 Tahun pula Transformers kerap mendapat cibiran karena kualitas filmnya yang buruk. Tapi, ada satu hal yang malah membuat saya rindu dengan filmnya yang berisik dan kacau setelah menonton film BumbleBee. Sesuatu yang sepertinya telah melekat dan menjadi nyawa tapi kemudian hilang, hal yang saya tunggu-tunggu pada klimaks dalam skala gila-gilaan dari visual effect-nya Bay. Aneh memang, tapi itulah yang dicari kala mencari hiburan tak berotak di film Transformers untuk sesaat melakukan relaksasi mata, ditangan sutradara yang berbeda tentu saja ada beberapa hal yang terasa berubah kala BumbleBee ditangan Travis Knight filmnya bukan lagi atau tidak sama lagi dengan yang saya rasakan sebelumnya.

Buruk? Tentu saya pastikan tidak ada yang buruk di film ini. Ditangan Travis dan penulis naskahnya Christina Hodson, Bumblebee berubah menjadi sajian film bernyawa dan memiliki "hati" didalamnya. Sebagai sebuah reboot, Bumblebee adalah perombakan besar-besaran, dalam artian dari segi narasi, plot cerita dan karakter yang terkesan lebih manusiawi. Cerita utamanya adalah hubungan persahabatan seorang gadis bernama Charlie Watson (Hailee Steinfeld) dengan Bumblebee. Masing-masing keduanya punya kerumitan masalah kehidupan, Charlie adalah gadis penyendiri dan pemurung yang belum bisa move on dari kematian ayahnya, sedangkan Bumblebee dalam situasi genting saat perang Cybertron berkecamuk dan atas perintah Optimus Prime, ia dengan terpaksa datang ke bumi dan bersembunyi dari kejaran Decepticons. Namun naas, sesaat ia tiba, Bumblebee disergap oleh para militer Amerika yang dikomandoi Agen Burns (John Cena) dan pula diserang oleh seorang Decepticon yang diam-diam membuntutinya sehingga ia mengalami kerusakan dan kehilangan ingatan. Dalam kemelut tersebut, dikemudian hari Charlie menemukan Bumblebee tengah menjadi mobil rongsokan dan membawanya kerumah, mengetahui bahwa ia seorang alien Charlie mencoba bersahabat dan melindungi Bee dari dunia luar yang mungkin mengancamnya.

Saya mengenal Travis Knight lewat karya film animasinya Kubo and the Two Strings. Dan sejujurnya saya kurang terlalu suka dengan film tersebut meski para kritikus memujinya bahkan rottentomatoes memberi tomat segar 98%. Dan ternyata sama seperti Bumblebee, ia memang film yang luar biasa tapi sebetulnya ia terlihat sedikit payah. Tentu, saya tak meragukan dinamika cerita, perasaan, emosi dan kecerdasaan Travis membangun keseluruhan cerita menjadi satu irama yang terkoneksi. Tapi, tentu seharusnya Bumblebee bukan sebuah film yang dipenuhi drama melankolis, ia tak seimbang dengan iramanya membangun drama dan aksi. Justru terperangkap karena terlalu ber"hati" dengan keinginan membangun skala emosi yang lebih besar, sehingga kehilangan kesenangan saat melihat Autobots dan Decepticon meledak-ledak dan berjumpalitan. Apa karena ekspetasi atau mungkin pengaruh film sebelumnya, yang pasti hiburan terbesar Transformers adalah kehancuran, ledakan dan kebisingan yang terasa sedikit sunyi di film ini. Meski hanya satu hal yang hilang yaitu tak ada kota yang hancur dalam skala besar, meski beberapa paruh saya tetap terhibur dengan sekuens-sekuensnya yang terbangun dengan berbagai momentum yang cukup rapi.

Terlepas dari itu semua, Bumblebee memang memberikan apa yang disebut kualitas. Cerita persahabatannya bagai film E.T. the Extra-Terrestrial, tidak kekanak-kanakan tapi juga dewasa dalam melingkupi persoalan kedewasaan, kerelaan dan intimasi hubungan keluarga. Sesuatu yang membuat kisah hidup Charlie jauh lebih relevan dan berkarakter ketimbang Sam Witwicky yang berisik dan overacting. Beberapa kali saya terharu, tergetar dan tersenyum dengan kisah keduanya. Ditubuh robotnya pun Bumblebee layaknya bocah polos yang tingkahnya memancing tawa, tapi juga membuat kita sensitif terhadap tuturnya yang manusiawi dan bernyawa. Hal terkeren dalam film ini pun tak luput dari villain yang hadir, stoknya mungkin terbatas pada tiga tokoh saja. Satu dari kalangan manusia bernama Burns diperankan oleh John Cena, salah satu akting terbaik dalam karirnya. Dan dua dari kalangan decepticon, Shatter dan Dropkick, villain berwatak jahat tapi juga tampil sebagai mesin berotak tanpa harus melabeli diri mereka sebagai megalomania yang terkubur oleh motif ambisi yang terbatas layaknya Megatron. Dengan tampilan yang berlatar generasi Y tahun 80-an, musik berlantun khas semacam Take On Me milik "Aha" menjadi ciri khas yang membuat Bumblebee menjadi sajian yang terasa khas dan menarik.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Batu keras pun akan terkikis perlahan oleh tetesan air, perumpaan yang kayaknya sangat cocok untuk menggambarkan film Phantom Thread ini. Kisah cinta yang terikat perbedaan umur, kelas sosial, profesi dan sifat menjadi tema masalah yang sedang digambarkan oleh Paul Thomas Anderson, sutradara yang membuat salah satu film favorit saya, There Will Be Blood (2007). Juga termasuk salah satu film yang membuat saya mulai mencintai akting Daniel Day-Lewis. Filmnya bercerita tentang Reynolds Woodcock (Daniel Day-Lewis) perancang busana terkenal dan berpengaruh di London, karyanya pun menjadi primadona tatkala banyak orang termasuk keluarga kaya raya dan terpandang bermimpi bisa memakai busana yang ia buat. Suatu hari ia berkunjung ke sebuah kafe dan bertemu dengan pramusaji muda, Alma (Vicky Krieps) yang kemudian membuat Woodcock jatuh hati dan kemudian mengajaknya berkencan. Berselang lama setelah itu, hubungan mereka semakin dekat, Alma dan Woodcock pun tinggal bersama di rumah saudarinya Cyril (Lesley Manville) yang juga membuka usaha batik, disana Alma menjadi pasangan sekaligus menjadi salah satu asisten yang membantu pekerjaan Woodcock.

Tapi, hubungan cinta mereka tidak bertahan lama, bahkan semakin hari semakin renggang, Woodcock mulai bersikap cuek terhadap Alma, dan hanya sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Sedangkan Alma yang membutuhkan perhatian dan cinta semakin menjadi hantu yang terabaikan. Demi mendapatkan kembali cinta dan perhatian dari pria yang membuat kehidupan Alma berubah, berbagai cara ia buat demi kembali di dekapan sang kekasih. Namun sifat Woodcock begitu keras kepala, penyendiri dan terkadang cerewet membuatnya menjadi pribadi yang sulit didekati, keras dan hanya sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Woodcock sendiri mulai menganggap Alma sebagai benalu di kehidupannya.

Film romantis selalu berdekatan dengan problematika emosi dan perasaan, terkadang pula memunculkan obsesi berlebihan. Alma bisa disebut sebagai pencemburu yang sesungguhnya terobsesi dengan Woodcock, di kehidupan Alma sendiri ia merasa hanya gadis biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Mungkin itu sebabnya, Alma mencintainya karena ia bersama dengan orang yang membuat hidupnya menjadi lebih berarti, bersinar dan spesial. Antara cinta dan obsesi, membuat saya sedikit kabur dengan motif Alma sendiri. Hampir sepanjang cerita, sedikit sekali dialog yang membuat saya sulit memahami dan kebingungan memahami hubungan keduanya. Sehingga kebanyakan saya hanya mampu menebak emosi dari tatapan sayu Alma dan wajah datar Woodcock. Tapi, disitulah sisi menariknya, menangkap pesan emosi subtil menjadi bagian misteri hubungan keduanya. PTA membuat cerita romantis ini menjadi semacam thrilling lembut yang jauh dari kata hangat. Bahkan banyak hal-hal tak terduga yang membuat hubungan Alma dan Woodcock terasa naik turun dengan cara yang ajib. Kegilaan hubungan mereka pun makin terasa intens tatkala Alma yang awalnya kalem dan bersahaja, menjadi tampak lebih terobsesi dan posesif pada Woodcock. Dan sikap Woodcock menjadi lebih frustasi dari biasanya.

Ditangan PTA, saya memang tidak meragukan kemampuannya dalam membuat film. Ditambah, ada aktor sekelas Daniel Day-Lewis, meski disayangkan melalui pengakuan Daniel sendiri film Phantom Thread menjadi akting terakhirnya dan akan menetapkan diri pensiun di dunia hiburan. Film ini mendapatkan penghargaan Oscar di Best Achievement in Costume Design, yang rasanya aneh kalau film yang memang inti temanya busana dan kostum tidak mampu minimal masuk dalam nominasi. Apalagi buat saya kostum buatan Mark Bridges ini memang keren dan menakjubkan, rasanya detail elegan dan estetika film ini semakin membuat nilai film ini semakin tinggi. Untuk bagian departemen akting, saya tidak meragukan akting sekelas Daniel, walau aktingnya di film ini bukan yang terbaik. Sementara Vicky Krieps mampu beradu akting bersama Daniel, sikapnya yang polos itu mampu sembunyi-sembunyi menampilkan sisi manipulatif yang tidak sedikit membuat saya tak mampu menebak isi hatinya. Mungkin saya sedikit agak lucu saat Lesley Manville mendapatkan nominasi Best Performance by an Actress in a Supporting Role, sementara aktingnya di film ini tidak terlalu menonjol dan tidak begitu dominan dalam inti cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dengan sebuah horror apocalypse tentang invasi alien terhadap bumi, film horror mainstream yang sedikit tampak seperti salah satu karya novelis terkenal Stephen King yang sudah diadaptasi kedalam film tahun 2008, The Mist. Film debut sutradara sekaligus penulis naskah John Krasinski, bersamaan dengan sang istri Emily Blunt, yang keduanya pun sama-sama merangkap sebagai tokoh utama juga sebagai keluarga pasutri tiga anak. Evelyn Abbott (Emily Blunt), Lee Abbott (John Krasinski), dan kedua anaknya Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe). Konsep ceritanya sama seperti "It Comes At Night" tentang keluarga suburbian ditengah hutan lebat, yang harus bertahan hidup dari ancaman mengerikan yang mengintai kapanpun dimanapun oleh sesosok makhluk yang buta namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Sesuai judulnya, film ini tentang sebuah hutan yang sedikitpun tidak boleh mengeluarkan suara keras. Sekilas untuk seorang Krasinski yang notabene baru menggeluti kursi sutradara tidak cukup kerepotan dalam membuat wahana menegangkan dan pintar memainkan narasinya. Sayangnya, cerita film yang digarapnya memiliki banyak kekurangan, cukup beralasan bahwa beberapa adegan dalam film tidak terlalu pintar dan memiliki banyak kecolongan logika. Singkatnya, Krasinski membuat konsep yang terencana dan pintar dalam memainkan latar, tetapi membuat setiap perilaku karakter dalam film ini mempunyai banyak kecerobohan dan kebodohan. Contohnya, saat Evelyn yang mengambil cucian basahnya dan tersangkut oleh paku di tangga.

Meski begitu naskah dan cerita yang juga dibantu oleh Bryan Woods dan Scott Beck, bukanlah point yang membuat A Quiet Place jatuh total. Film ini tentu saja digarap dengan sangat baik oleh Krasinski, melalui sinematografer Charlotte Bruus Christensen yang mampu menghanyutkan saya dengan ketenangan dalam gambar siluet yang indah. Dengan sigap pengambilan landscape ladang jagung, hutan dan kota mati yang sebetulnya tidak terlalu diperlihatkan secara detil sebagaimana cerita film ini pun tidak begitu panjang lebar soal sebab dan asal muasal secara lebih luas, namun dengan gaya bak film bisu mengantarkan ketegangan dan atmosfer yang tak pernah lepas kendali secara sinematis. Selain itu, hal yang membuat A Quiet Place mampu meraih score 95% di rottentomatoes bukan karena horror ataupun konsep ceritanya, tetapi bagaimana Krasinski tetap memasukan unsur soal keluarga begitu kuat dan emosional. Pesan cerita dalam balutan konflik keluarga, dari peran Lee seorang ayah yang menjaga keluarganya tetap utuh, Evelyn yang berjuang mati-matian sebagai ibu saat ia hendak melahirkan anak ditengah kemelut bahaya, dan kedua anaknya terutama Regan, gadis yang merasa bersalah atas masa lalu yang dilakukannya, yang juga menganggap orang tuanya tidak lagi mempedulikan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.

Meskipun saya merasa monster dalam film ini tidak terlalu terlihat mengerikan, apalagi monster yang tidak mampu melihat ini hanya terlihat beberapa kali sekelibat seperti bayangan. Tapi, horror yang mengandalkan jump scare dan atmosfer ini tetap konsisten menjaganya sampai akhir, dengan konklusi yang tidak sampai jatuh pada antiklimaks.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Di sebuah mansion besar dan mewah. Seorang gadis berambut keriting bernama Amanda (Olivia Cooke) masuk untuk menemui teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya, Lily (Anya Taylor-Joy). Meski keduanya berasal dan tumbuh bersama dan sama-sama pula dari golongan keluarga mapan, perihal sekian lama tidak bertemu mereka mengalami kesulitan berinteraksi dan memahami satu sama lain. Ditambah sekelumit masalah personal diantara keduanya, Amanda yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi kejiwaan karena telah membunuh kuda peliharaan ibunya, sedangkan Lily hidup bersama Mark (Paul Sparks), ayah tiri yang dibencinya. Setelah mencoba dan semakin akrab, Lily yang mengetahui sifat sosiopat dalam diri Amanda, meminta Amanda untuk membantunya melakukan rencana pembunuhan terhadap ayah tirinya tersebut.

Thoroughbreds adalah film yang berasal dari debut sutradara Cory Finley, film yang awalnya akan digarap sebagai drama panggung dan mengalami limbo pasca gagal ditayangkan selama 2 Tahun. Film yang mirip dengan "Heathers" karya Michael Lehmann bercerita soal dua gadis yang sangat bermasalah dan kehidupan yang sangat kacau. Lily adalah gadis yang merasa terus-menerus sengsara akibat dorongan dan tekanan dari ayah tiri yang seringkali memaksa Lily secara sepihak, terutama tuntutan masalah sekolah khusus pilihan Mark yang tidak ia suka. Amanda justru kebalikannya, Lily yang ditunjukkan lebih emosional dan pemarah, justru penuh dengan sikap tenang, aneh dan melihat ia bisa memanipulasi air matanya sendiri, membuatnya menjadi sosok psikopat yang creepy.

Tapi, Cory sanggup menuturkan dinamika hubungan diantara keduanya begitu intim dan realistis. Saya seperti sedang menyaksikan dua orang dengan karakter dan kepribadian berbeda. Tapi, keduanya melahirkan chemistry yang aneh tapi likeable, melihat mereka bercengkrama dan bertengkar seperti gadis pada umumnya, namun saat menonton tivi sambil mengkritik akting dalam film klasik atau sambil duduk-duduk di teras membicarakan soal rencana pembunuhan, Wow..! Adapula Tim, pria dewasa, naif dan eksentrik pula sebagai tokoh disfungsional, pria drugdealer yang ditemui dan dibayar untuk melakukan pembunuhan oleh Lily ini kerap hobi bermuluk dan bermimpi hidup sukses dan mapan dengan modal usaha ilegal yang ditekuninya. Tim diperankan Yelchin menjadi perjalanan akting terakhirnya.

Meski Cory punya unsur manipulatif, hingga saya terjebak dengan moralitas para pelaku tokohnya. Didorong juga motif kekanak-kanakkan dan aksi pembunuhan yang saya rasa tidak begitu cerdik tapi diangkat melalui permasalahan, komedi gelap dan satir moral kaum ningrat yang sangat menarik, sampai puncak ending film ini justru malah terasa antiklimaks. Ada sesuatu yang mengambang meski menyelipkan gabungan antara twist dan ambiguitas yang justru tidak dibangun dengan kokoh.


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates