• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Membuat lelucon berisi hal-hal gila dan rusuh masih bisa diterima jika masih dalam koridor komedi yang relevan, lucu dan menghibur. Lain jikalau lelucon sudah terlalu eksplisit dan jorok untuk terus dijejali melalui "telinga" dan "mata" kita dengan sesuatu berbau vulgar dan mesum, apalagi ini sudah seringkali diucapkan oleh wanita-wanita cantik di film berjudul Rough Night. Mengingatkan saya dengan film "Dirty Grandpa" yang sudah merusak image aktor besar Robert de Niro, dan ini sama halnya dengan film tersebut yang mana jika saya bisa menuntut Lucia Aniello sebagai debut sutradara (yang juga seorang wanita), menghancurkan reputasi bintang besar seperti Scarlett Johansson, mungkin satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menyarankan Anda untuk tak pernah menonton film ini jika Anda masih ingin menyelamatkan akal sehat Anda.

Sebutlah film ini mengawinkan "The Hangover" dan "Bridesmaids". Kisahnya soal Jess (Scarlett Johansson), seorang wanita yang sedang mencalonkan dirinya sebagai senator dan juga bersiap untuk melakukan pernikahan dengan kekasihnya Peter (Paul W. Downs). Sebelum hal itu terjadi, Jess bersama teman-teman satu sekolahnya dulu, Alice (Jillian Bell), Blair (Zoë Kravitz), Frankie (Ilana Glazer) dan juga teman kuliah Jess, Pippa/Kiwi (Kate McKinnon), selain demi merayakan reuni 10 Tahun mereka pun mengadakan pesta lajang sembari berlibur di kota Miami. Namun petaka terjadi saat seorang penari striptis yang mereka sewa mati akibat insiden yang tidak sengaja mereka lakukan, dalam keadaan takut dan panik mereka berusaha menutupi kejadian tersebut dan mencoba keluar dari masalah.


Tidak perlu waktu lama Rough Night membuat saya illfeel, setelah melihat sosok pria dengan kumis palsu, berbaju renang hijau menjijikkan, sekilas tampak memparodikan sosok Borat. Hingga tiba-tiba seorang wanita mabuk salah memasuki kamar tidur mencoba buang air didepan Jess dan teman-temannya. Ya, bersama dengan co-writer Paul W. Downs sekaligus merupakan kekasih Aniello sendiri, bisa dipahami mereka menginginkan komedi gila, eksplosif, dan konyol melewati batas-batas imajinasi yang bisa dipikirkan manusia. Dan alhasil ini lebih dari sebutan gila, ini terlalu kasar dan cacat untuk dijadikan sebuah parodi yang menghibur. Bahkan naskah Downs pun sama-sama tidak memiliki substansi yang kokoh untuk menceritakan lebih detil 5 kepribadian wanita yang berbeda karakteristik dan profesi ini. Mereka tidak memiliki nyawa, bahkan saat mencoba beralih konflik personal yang lebih dalam itu sudah hilang ditelan oleh kebisingan, kenorakkan, dan kemesuman yang dilakukan para wanita ini, yang boleh dibilang tak ada yang namanya improvisasi karakter, seolah mereka melakukan apa yang naskah tulis dan tugaskan. Selama mereka dibuat gila dan tak berakal, sehingga apa-apa termasuk menghisap kokain, hal-hal cabul dengan iringan musik dengan lirik serupa pornonya, termasuk begitu banyaknya aksesoris toy s*x dan alat peraganya yang bertaburan secara tiba-tiba didalam film, saya rasa jika masih ada akal, pikiran jorok tidak akan terlintas saat menonton film ini.


Tidak ada yang bisa saya harapkan dalam film ini, terutama karakter dominan antara Alice dan Jess sebagai sahabat yang paling dekat tidak menampilkan chemistry yang memikat, diganti dengan tingkah horny Alice yang berlebihan. Itu pun datang kepada Blair dan Frankie yang berakhir dengan orientasi seksual yang aneh, bahkan usaha besar yang sudah dilakukan oleh Kiwi dengan ke-absurdan dan kata-kata aneh terkesan flat dan garing. Bahkan sosok Demi Moore yang berakting sebagai Lea, tetangga pasangan nakal bersama Pietro (Ty Burrell), tidak sepenting yang saya kira. Tingkah bodoh hingga pemaksaan twist di pertengahan cerita menambah ketidaklogisan, dan berbagai plot hole dari kekacauan tidak dipergunakan untuk memperkuat karakterisasi dan konflik yang ada, melainkan hanya berfokus pada kegilaan berujung malapetaka cerita yang luar biasa buruknya. Dan cuplikan pendek credit scene di akhir, sekuel Rough Night, maybe? Trigger yang tampil cukup keren untuk memberi rasa penasaran, tapi, jika harus melanjutkan komedi neraka seperti ini lagi, kurasa tidak usah.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jika kamu pernah pergi menaiki kereta api yang menempuh perjalanan jauh, ada dua hal yang akan kamu lakukan saat mulai merasa bosan, pertama: tidur kedua: nikmati saja pemandangan indah disekitarmu meskipun itu hanya terdiri pepohonan dan juga rerumahan disekitar. Mungkin kiasan tersebut terlalu berlebihan untuk menggambarkan film Brimstone, tapi itulah yang paling cocok mendeskripsikan film berdurasi 2 jam 28 menit dengan siksaan dan keburukan naskah dari debut penyutradaraan Martin Koolhoven. Film ini menggunakan alur maju-mundur yang terbagi dengan empat chapter (Revelation-Exodus-Genesis-Retribution). Merembes tema soal sekte penyesatan dan penyelewangan alkitab dan ayat-ayat suci Tuhan. Brimstone adalah sebentuk penodaan dalam ajaran, mungkin ambil contoh tv series "Orphan Black", kurang lebih didalamnya terdapat ajaran yang sama.


Tapi, bukan itu tujuan film ini dibuat, Brimstone adalah jiwa Koolhoven dalam melukiskan teror tradisional yang mengambil latar western. Kuda, koboi dan prostitusi adalah muatan Koolhoven menciptakan nuansa liar dan gila, tapi didalamnya juga muncul teror yang lebih gila bernama The Reverend (Guy Pearce). Di chapter 1 (Revelation), menceritakan gadis muda bisu bernama Liz (Dakota Fanning), bersama suaminya Eli (William Houston), dan kedua anaknya Sam (Ivy George) dan Matthew (Jack Hollington). kemunculan The Reverend sendiri penuh misteri, dari nasihat-nasihat rohaniah dan juga nubuatnya tentang nabi palsu ia menebar teror dan ancaman kepada Liz. Chapter 2 (Exodus), menceritakan pula gadis muda lainnya bernama Joanna (Emilia Jones), ia gadis asing yang tiba-tiba tinggal di sebuah rumah bordir milik Frank (Paul Anderson) untuk dijadikan seorang pelacur. Terakhir Chapter 3 dan 4 adalah jawaban dari kedua cerita tadi.


Menghubungkan korelasi cerita film inilah yang membuat saya bingung, meski telah dijawab dengan akhir yang bertubi-tubi hanya saja saya tetap tidak nyambung dengan maksud Koolhoven menceritakan kisahnya dengan acak, kecuali menstimulasi otak saya mempertanyai setiap hal yang terjadi, meski efektif mengejutkan tapi lemah menarasikan. Lemahnya narasi diikuti motif terselubung The Reverend dan buruknya akting Guy Pearce. Mungkin di Revelation act, The Reverend begitu mempesona atas kemunculannya yang pro-kontra, tapi begitu saya menyelesaikan tahap demi tahap cerita, saya menemukan tumpukkan rasa jijik melihat antagonis ini. Terlebih ketika tahu bahwa ia adalah pria pengecut, maniak, dan incest yang senang menganiaya wanita dan anak kecil dengan cambuknya, berbuat asusila dengan darah dagingnya, menusuk dari belakang, dan membunuh anak kecil tak bersalah. Apa yang membuat saya tertarik dengan tokoh yang dominan memberi atmosfer di film ini menjadi suram, kecuali membuat saya malah bersimpati dengan pria psikopat lainnya semacam Joker ataupun Dr. Hannibal yang jauh lebih berwibawa.


Dan hal itupun disempurnakan dengan betapa buruknya akting Guy Pearce di depan kamera, oh inikah yang membuatnya jarang mendapatkan peran di film besar setelah film "Memento". Membuat sakit mata melihat perilakunya yang menyimpang, terlebih melihat tingkahnya dengan jenggot mirip Abraham Lincoln dan luka wajah mirip Scarface yang terus menguntit Joanna dan Liz, ditengah kerumunan gadis-gadis prostitusi cantik yang bisa ia sewa. Ah, mungkin karena dia masih memegang teguh ajarannya yang menyimpang. Dan ini masih menjadi malapetaka saat melihat Samuel (Kit Harington) yang tampak mampu menjadi pahlawan kesiangan tapi kemudian berakhir menjadi tokoh meh. Anna (Carice van Houten) yang sama-sama menjadi duet Game of Thrones dengan Kit pun acapkali menjadi tokoh ketiga wanita kesepian yang menjadi teman seperjuangan Liz dan Joanna dalam menempuh penderitaan.

Well, ini adalah sebuah film horror rasa western dengan antagonis paling menjijikkan dan akting paling gagal meraih simpati bagi saya. Mengikuti narasi yang juga sama gagalnya, sisi baiknya Dakota Fanning adalah penyelamat di tengah kehancuran film ini, dengan akting tanpa dialog verbal, gadis muda ini lebih banyak meraih atensi dengan kecakapannya dalam berakting penuh rasa. Hal yang sama saya rasakan dengan akting adiknya, Elle Fanning di film "The Neon Demon." Dan film ini pun saya nobatkan tidak perlu ditonton karena hanya menghabiskan waktumu selama hampir 2 jam lebih, bahkan endingnya pun adalah sebentuk keabsurdan Koolhoven dalam bercerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Ingin meraih kesuksesan besar seperti film pertamanya The Blair Witch Project, dalam hal menakut-nakuti penontonnya lewat media atmosfer, sutradara yang karyanya dikenal lewat film "V/H/S", "V/H/S/2", "The Guest", Adam Wingard bersama penulis naskah setianya, Simon Barrett, ingin membuat formula found-footage (mockumentary) tentang penyihir jahat penghuni hutan bernama Blair dengan lebih modern. Dengan menaikkan budget film yang awalnya dibawah nominal standard pembuatan film $60,000, menjadi $5,000,000. Dengan trik gambar video yang lebih berkualitas dan lebih tajam, apalagi ditunjuang peralatan canggih seperti drone tentu momen-momen creepy yang lebih jelas akan lebih menambah kengerian atmosfer yang tertangkap.

Menyambung film pertamanya dari ketiga orang yang hilang di dalam hutan Burkittsville, Maryland. 20 Tahun semenjak kejadian tersebut, James Donahue (James Allen McCune) menyaksikan sebuah unggahan footage video yang ia yakini menampakkan wajah kakaknya yang selama ini hilang, Heather. Untuk mengetahui darimana asal video itu didapat, James beserta teman-temannya Lisa Arlington (Callie Hernandez), Ashley (Corbin Reid) dan Peter (Brandon Scott), melakukan sebuah perjalanan menemui orang yang telah menemui video tersebut, Lane (Wes Robinson) dan Talia (Valorie Curry). Selain itu juga James ingin mengungkapkan dan menyelidiki kembali hilangnya Heather dalam sebuah rumah misterius di dalam hutan sebagai rekaman terakhir yang mereka temukan.

Dengan cerita urban legend yang melekat dalam film pertamanya, bukan berarti Blair Witch akan terasa creepy dengan film buatan kakaknya. Film buatan adiknya ini justru tidak bisa mendongkrak materi dasar dan atmosfer yang jauh dari kesan bagus. Justru upaya yang dihadirkan Wingard adalah membuat Blair Witch versi orisinil miliknya sendiri, alih-alih menakutkan, justru Saya dihadapkan dengan berbagai horor absurditas dan kebodohan-kebodohan yang dilakukan para pemainnya. Terlihat jelas bahwa Wingard tidak tahu caranya menggunakan materi-materi dasar film pertamanya, memakai secara sembarangan simbolik ranting berbentuk manusia, yang dulunya terasa tampak mengerikan, justru di film ini kemunculan-kemunculan seperti tumpukan batu dan suara-suara aneh diluar hutan terasa dibuat-dibuat dan tampak sekedar menjadi lelucon bodoh yang tidak karuan.

Ditambah konflik dan emosi yang dihadirkan dalam bentuk kepanikan, kecemasan dan rasa putus asa, sepenuhnya hanya dipenuhi teriakan-teriakan pemainnya, rasa marah dan kebodohan. Apalagi sosok Peter yang tempramen malah memperburuk suasana, ditambah yang dilakukan Lane dan Talia sungguh tidak jelas motif mereka apa, ketakutan dalam hutan, lari-lari, kemudian tiba-tiba menyerang James dan teman-temannya. Dan ditambah kesan putus asa dan "lost in the woods" pun tampak tidak natural, naskah cerita Barrett pun laksana cerita yang penuh dengan konflik perpecahan antar karakternya yang betul-betul berantakkan dan tidak natural.

Selain itu horror yang ditampilkan oleh Wingard bukanlah horror yang cerdas dalam membangun atmosfer meski ditimpali sebuah twist, tipikal film ini justru dipenuhi dengan adegan horror klise dan sang witch justru hadir lebih overrun dan lebih pamer. Tidak tampil dengan cara mengutuk justru ia menampilkan serangan demi serangan sihir pada James dkk, dari kejadian pohon-pohon rubuh, tenda-tenda yang tiba-tiba meroket ke langit, hingga kejadian aneh yang tak terjelaskan tentang kondisi gelap di hutan yang tak kunjung siang dan adegan klimaks James dan Lisa yang lari terbirit-birit dalam rumah reot karena ketakutan oleh penyihir yang mengejar-ngejar mereka. Meski memang bagi saya film ini masih cukup menakutkan, tapi bukan berarti ada sesuatu yang lebih fresh dihadirkan oleh Wingard di film ini. Bahkan di akhir film ini pun, tetap tidak bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaan ambigu Saya di film pertamanya.

Well, dengan dukungan teknis yang lebih bagus bukan berarti apa yang dihasilkan oleh Blair Witch sejalan dengan ide sang sutradara dan penulis naskah, berangkat dari kesuksesan The Blair Witch Project. Film ini tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik untuk menebar rasa takut dan was-was dibalik teror urban legend sang penyihir jahat penghuni hutan. Saya pun semakin memahami akan daya tarik The Blair Witch Project sebagai horror found footage yang ceritanya sederhana, jujur dan natural, tapi sanggup membaurkan kisah lost in the woods dengan teror kutukan hutannya. Ya, film ini memang tidak bisa sampai seperti itu, tapi sebetulnya film ini cukup menakutkan untuk mereka yang mencari horor klise semacam ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Suatu malam sebelum ujian sekolah, seorang remaja berencana mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 21 dengan dua sahabatnya. Namun, di malam itu terjadi hal-hal yang tidak terduga dan tidak mungkin dia lupakan selama hidupnya.

Saya tidak menyarankan 21 And Over menjadi tontonan yang layak untuk Anda tonton. Ini bukan karena filmnya yang kurang lucu ataupun membosankan tetapi kelucuan yang terlalu berlebihan dan terkesan vulgar menjadi titik terburuk film ini. John Lucas dan Scott Moore semakin memperjelas bahwa (The Hangover) adalah karya terbaik mereka dan jelas menjadi ide terbaru bagi tontonan komedi pintar dan menggairahkan saat ini, sayangnya hal itu tak terbawa juga kepada film-film lucu mereka setelah The Hangover. Lihat saja pada (The Hangover Part 2), meski masih terasa sentuhan kelucuan dan sinematografi, tetapi tidak memiliki ide baru dalam naskah ceritanya dan terkesan hanya mencontek ide pertamanya.

Sekarang kita bawa hal ini di 21 And Over. John-Moore sebetulnya terinspirasi kembali untuk menjadikan The Hangover dalam bentuk berbeda dalam tokoh, cerita dan temanya. Tetapi untuk terakhir kalinya film ini tetap tidak memiliki unsur yang baru dan terkesan masih meniru The Hangover. Dalam kelucuannya pun terasa berlebihan tatkala kelucuan itu justru terkesan menjijikkan, vulgar dan acapkali membuat Saya merasa muntah dan ogah melihatnya. Apalagi dengan terlalu banyaknya adegan nudity yang terlalu terekspos sepanjang film dan tanpa malu-malunya setiap pemeran (terutama pria) melakukan hal tersebut.

Lalu tingkah si Miller yang dianggap terlalu bandel dan beberapa hal akan tingkahnya pun akan membuat kita merasa kesal dan akan mencap bahwa ia bukan tokoh utama panutan yang membuat geram dan jengkel. Dan hal-hal janggal yang terasa agak aneh pun terjadi pada tokoh Nicole yang terlalu aneh dan janggal disetiap kemunculan dan pertemuannya dengan tiga remaja tersebut. Bukan hanya itu hal yang terlihat absurd dan aneh, terlalu banyak hal yang acapkali adegan film ini tidak bisa diterima penalaran.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates