• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Coba kamu pikir kalau film kayak 'Crazy Rich Asian' jadi sebrutal dan sesadis film-film thriller macem Don't Breathe, eh bukan hanya Don't Breathe saja tapi lebih gilanya lagi film ini bukan cuman teror hide and seek penuh keseriusan tapi juga diselimuti unsur komedi tolol didalamnya. Tapi, apa sih yang tidak bisa dilakukan di zaman sekarang mencampur unsur-unsur tersebut dan membuatnya menjadi nyata (baca: Really Crazy Rich!) oleh duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, dan ditulis naskahnya oleh Guy Busick dan Ryan Murphy. Sejujurnya saya nggak mengikuti beberapa film-film mereka kecuali dua sutradara ini pernah collab dalam film horor 'V/H/S'. Tapi, tentu saja film ini adalah sebuah kejutan menarik tahun ini.

Plot film ini seputar Grace (Samara Weaving) yang segera menggelar pernikahan dengan pria yang berasal dari keluarga kaya raya, Alex (Mark O'Brien). Hingar bingar dan kebahagiaan menyelimuti wajah berbinar Grace, bersamaan musik bethoveen melantun mengiringinya kepelaminan. Tapi, siapa sangka petuah menjadi malapetaka Grace ketika ia tidak menyadari kisah horor di rumah itu alias keluarga yang malah membuatnya harus menjadi korban dalam permainan keji, kotor dan kelewat jahat dari para anggota keluarga Alex disana.

Nuansa vintage dengan kesan golding mengisi hampir tiap sudut rumah, seolah terasa bernuansa elegant dan classic. Dalam rumah mewah itu kita akan dikenalkan begitu banyak karakter, terutama pada keluarga besar Alex tentu saja, dan sisanya adalah para 'pelayan'. Grace sebagai pusat cerita satu-satunya yang berusaha survive, berusaha bersembunyi, berlari dan yah mungkin kita akan hafal film-film bertajuk serupa. Tapi, saya pikir sang sutradara sadar jika ia terus membawa cerita linear yang basi akan membuat kisah hide and seek dapat gampang ditebak, jadi sekelibat kita mungkin akan mengira bahwa sampai akhir filmnya ya tentang kucing-kucingan di dalam rumah. Tapi, makin kesini kita makin merasa kalau setiap karakter yang ada bertindak unpredictable, mereka punya peran dalam merubah dinamika cerita. Dan inilah bagian menariknya, contohnya Daniel (Adam Brody) saudara Alex yang ternyata tindakannya diluar perkiraan kita.

Inilah yang membuat Ready or Not jadi sedikit istimewa, ini bukan tentang Grace semata, dibalik motif dan asal-usul keluarga Alex yang punya muatan sektarian. Ada sedikit humanitas dan kemasuk akalan yang hampir saja di awal cerita saya sering takut kalau nantinya para karakter sebanyak ini hanya bertindak mengikuti cerita dan berakhir menjadi tokoh kosong belaka. Bahkan bibi Helene (Nicky Guadagni) bukan pajangan seram mirip tokoh Disney, Ursula. Mereka semua hampir memiliki peran dan sifat bahkan tidak sedikit ada unsur tentang ikatan keluarga dan cinta. Satu sama lain pun punya karakteristik berbeda dan gampang diingat, dan yang paling bisa diingat adalah tingkah tolol dan kocak mereka. Komedinya dibuat cerdas nan tolol, unsur gory-nya yang serius pun lumayan membuat penonton di bioskop pun menunduk sangking ngilunya. Dan dua hal yang berseberangan ini sukses disajikan tanpa saling mendistorsi satu sama lain.

Tapi tentu saja, semua itu mungkin tak sempurna tanpa leading actress Samara Weaving, si Margot Robbie KW yang berperan sangat ciamik. Berperan sebagai Grace, sesosok wanita yang awalnya terlihat biasa, tak merasa aneh dan khawatir dengan keluarga barunya, kecuali rasa cemas normal dari tak diterimanya ia dikeluarga Alex yang berbeda latar dan status sosial, identitas barunya sebagai istri, dan tentu saja raut kebahagiaan yang memancar dari wajah khas wanita baru menikah. Lalu, dibalik 180 derajat ketika kenyataan melewati ekspetasinya. Wajahnya bercampur aduk dari kebingungan, kehancuran dan ketakutan setengah mati, bahkan di akhir pun saya meyukai transformasi aktingnya berubah-ubah mengikuti perjalanan satu malamnya yang penuh darah. Satu lagi, musik yang mengiringi pergerakan-pergerakan gambar Grace mendukung kegilaan suasana hatinya. (Dimana lagi ada wanita yang sedang merasakan kegilaan dihadapannya, malah disuguhi musik beat gitar listrik!)

Tapi, Ready or Not dipersiapkan bukan tanpa celah, ia punya kekurangan kecil tapi mencolok. Kita tahu bahwa ia punya sederet karakter unik yang berbeda yang sebetulnya punya ceritanya sendiri-sendiri. Namun sayang sangking menariknya mereka, diantaranya malah ada yang menggantung, beberapa coba diceritakan ditengah-tengah secara menarik tapi kemudian tak ada jawaban di akhir yang membuat kita sedikit melongo. Dan ini bukan satu orang, bahkan beberapa seolah punya latar belakang menarik, tapi malah jadi setumpuk script asal tempel untuk mengisi dialog mereka. Saya suka motifnya, meski saya rasa sektarian atau pemuja setan kayaknya sudah sering dipraktekan oleh para sineas masa kini, tapi Ready or Not adalah cicipan rasa yang lumayan baru untuk genre serupa, terutama bagian komedinya yang pintar memancing tawa ditengah deras kecemasan penonton melihat nasib Grace. Satu lagi, dialognya pun cukup badass, karena rasanya baru kali ini ada film horror-thrilling yang kontras dan kaya akan jumlah umpatan kasar.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


10 Tahun berlalu sejak pertama kali Michael Bay memperkenalkan Transformers pertamanya, 10 Tahun pula Transformers kerap mendapat cibiran karena kualitas filmnya yang buruk. Tapi, ada satu hal yang malah membuat saya rindu dengan filmnya yang berisik dan kacau setelah menonton film BumbleBee. Sesuatu yang sepertinya telah melekat dan menjadi nyawa tapi kemudian hilang, hal yang saya tunggu-tunggu pada klimaks dalam skala gila-gilaan dari visual effect-nya Bay. Aneh memang, tapi itulah yang dicari kala mencari hiburan tak berotak di film Transformers untuk sesaat melakukan relaksasi mata, ditangan sutradara yang berbeda tentu saja ada beberapa hal yang terasa berubah kala BumbleBee ditangan Travis Knight filmnya bukan lagi atau tidak sama lagi dengan yang saya rasakan sebelumnya.

Buruk? Tentu saya pastikan tidak ada yang buruk di film ini. Ditangan Travis dan penulis naskahnya Christina Hodson, Bumblebee berubah menjadi sajian film bernyawa dan memiliki "hati" didalamnya. Sebagai sebuah reboot, Bumblebee adalah perombakan besar-besaran, dalam artian dari segi narasi, plot cerita dan karakter yang terkesan lebih manusiawi. Cerita utamanya adalah hubungan persahabatan seorang gadis bernama Charlie Watson (Hailee Steinfeld) dengan Bumblebee. Masing-masing keduanya punya kerumitan masalah kehidupan, Charlie adalah gadis penyendiri dan pemurung yang belum bisa move on dari kematian ayahnya, sedangkan Bumblebee dalam situasi genting saat perang Cybertron berkecamuk dan atas perintah Optimus Prime, ia dengan terpaksa datang ke bumi dan bersembunyi dari kejaran Decepticons. Namun naas, sesaat ia tiba, Bumblebee disergap oleh para militer Amerika yang dikomandoi Agen Burns (John Cena) dan pula diserang oleh seorang Decepticon yang diam-diam membuntutinya sehingga ia mengalami kerusakan dan kehilangan ingatan. Dalam kemelut tersebut, dikemudian hari Charlie menemukan Bumblebee tengah menjadi mobil rongsokan dan membawanya kerumah, mengetahui bahwa ia seorang alien Charlie mencoba bersahabat dan melindungi Bee dari dunia luar yang mungkin mengancamnya.

Saya mengenal Travis Knight lewat karya film animasinya Kubo and the Two Strings. Dan sejujurnya saya kurang terlalu suka dengan film tersebut meski para kritikus memujinya bahkan rottentomatoes memberi tomat segar 98%. Dan ternyata sama seperti Bumblebee, ia memang film yang luar biasa tapi sebetulnya ia terlihat sedikit payah. Tentu, saya tak meragukan dinamika cerita, perasaan, emosi dan kecerdasaan Travis membangun keseluruhan cerita menjadi satu irama yang terkoneksi. Tapi, tentu seharusnya Bumblebee bukan sebuah film yang dipenuhi drama melankolis, ia tak seimbang dengan iramanya membangun drama dan aksi. Justru terperangkap karena terlalu ber"hati" dengan keinginan membangun skala emosi yang lebih besar, sehingga kehilangan kesenangan saat melihat Autobots dan Decepticon meledak-ledak dan berjumpalitan. Apa karena ekspetasi atau mungkin pengaruh film sebelumnya, yang pasti hiburan terbesar Transformers adalah kehancuran, ledakan dan kebisingan yang terasa sedikit sunyi di film ini. Meski hanya satu hal yang hilang yaitu tak ada kota yang hancur dalam skala besar, meski beberapa paruh saya tetap terhibur dengan sekuens-sekuensnya yang terbangun dengan berbagai momentum yang cukup rapi.

Terlepas dari itu semua, Bumblebee memang memberikan apa yang disebut kualitas. Cerita persahabatannya bagai film E.T. the Extra-Terrestrial, tidak kekanak-kanakan tapi juga dewasa dalam melingkupi persoalan kedewasaan, kerelaan dan intimasi hubungan keluarga. Sesuatu yang membuat kisah hidup Charlie jauh lebih relevan dan berkarakter ketimbang Sam Witwicky yang berisik dan overacting. Beberapa kali saya terharu, tergetar dan tersenyum dengan kisah keduanya. Ditubuh robotnya pun Bumblebee layaknya bocah polos yang tingkahnya memancing tawa, tapi juga membuat kita sensitif terhadap tuturnya yang manusiawi dan bernyawa. Hal terkeren dalam film ini pun tak luput dari villain yang hadir, stoknya mungkin terbatas pada tiga tokoh saja. Satu dari kalangan manusia bernama Burns diperankan oleh John Cena, salah satu akting terbaik dalam karirnya. Dan dua dari kalangan decepticon, Shatter dan Dropkick, villain berwatak jahat tapi juga tampil sebagai mesin berotak tanpa harus melabeli diri mereka sebagai megalomania yang terkubur oleh motif ambisi yang terbatas layaknya Megatron. Dengan tampilan yang berlatar generasi Y tahun 80-an, musik berlantun khas semacam Take On Me milik "Aha" menjadi ciri khas yang membuat Bumblebee menjadi sajian yang terasa khas dan menarik.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Batu keras pun akan terkikis perlahan oleh tetesan air, perumpaan yang kayaknya sangat cocok untuk menggambarkan film Phantom Thread ini. Kisah cinta yang terikat perbedaan umur, kelas sosial, profesi dan sifat menjadi tema masalah yang sedang digambarkan oleh Paul Thomas Anderson, sutradara yang membuat salah satu film favorit saya, There Will Be Blood (2007). Juga termasuk salah satu film yang membuat saya mulai mencintai akting Daniel Day-Lewis. Filmnya bercerita tentang Reynolds Woodcock (Daniel Day-Lewis) perancang busana terkenal dan berpengaruh di London, karyanya pun menjadi primadona tatkala banyak orang termasuk keluarga kaya raya dan terpandang bermimpi bisa memakai busana yang ia buat. Suatu hari ia berkunjung ke sebuah kafe dan bertemu dengan pramusaji muda, Alma (Vicky Krieps) yang kemudian membuat Woodcock jatuh hati dan kemudian mengajaknya berkencan. Berselang lama setelah itu, hubungan mereka semakin dekat, Alma dan Woodcock pun tinggal bersama di rumah saudarinya Cyril (Lesley Manville) yang juga membuka usaha batik, disana Alma menjadi pasangan sekaligus menjadi salah satu asisten yang membantu pekerjaan Woodcock.

Tapi, hubungan cinta mereka tidak bertahan lama, bahkan semakin hari semakin renggang, Woodcock mulai bersikap cuek terhadap Alma, dan hanya sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Sedangkan Alma yang membutuhkan perhatian dan cinta semakin menjadi hantu yang terabaikan. Demi mendapatkan kembali cinta dan perhatian dari pria yang membuat kehidupan Alma berubah, berbagai cara ia buat demi kembali di dekapan sang kekasih. Namun sifat Woodcock begitu keras kepala, penyendiri dan terkadang cerewet membuatnya menjadi pribadi yang sulit didekati, keras dan hanya sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Woodcock sendiri mulai menganggap Alma sebagai benalu di kehidupannya.

Film romantis selalu berdekatan dengan problematika emosi dan perasaan, terkadang pula memunculkan obsesi berlebihan. Alma bisa disebut sebagai pencemburu yang sesungguhnya terobsesi dengan Woodcock, di kehidupan Alma sendiri ia merasa hanya gadis biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Mungkin itu sebabnya, Alma mencintainya karena ia bersama dengan orang yang membuat hidupnya menjadi lebih berarti, bersinar dan spesial. Antara cinta dan obsesi, membuat saya sedikit kabur dengan motif Alma sendiri. Hampir sepanjang cerita, sedikit sekali dialog yang membuat saya sulit memahami dan kebingungan memahami hubungan keduanya. Sehingga kebanyakan saya hanya mampu menebak emosi dari tatapan sayu Alma dan wajah datar Woodcock. Tapi, disitulah sisi menariknya, menangkap pesan emosi subtil menjadi bagian misteri hubungan keduanya. PTA membuat cerita romantis ini menjadi semacam thrilling lembut yang jauh dari kata hangat. Bahkan banyak hal-hal tak terduga yang membuat hubungan Alma dan Woodcock terasa naik turun dengan cara yang ajib. Kegilaan hubungan mereka pun makin terasa intens tatkala Alma yang awalnya kalem dan bersahaja, menjadi tampak lebih terobsesi dan posesif pada Woodcock. Dan sikap Woodcock menjadi lebih frustasi dari biasanya.

Ditangan PTA, saya memang tidak meragukan kemampuannya dalam membuat film. Ditambah, ada aktor sekelas Daniel Day-Lewis, meski disayangkan melalui pengakuan Daniel sendiri film Phantom Thread menjadi akting terakhirnya dan akan menetapkan diri pensiun di dunia hiburan. Film ini mendapatkan penghargaan Oscar di Best Achievement in Costume Design, yang rasanya aneh kalau film yang memang inti temanya busana dan kostum tidak mampu minimal masuk dalam nominasi. Apalagi buat saya kostum buatan Mark Bridges ini memang keren dan menakjubkan, rasanya detail elegan dan estetika film ini semakin membuat nilai film ini semakin tinggi. Untuk bagian departemen akting, saya tidak meragukan akting sekelas Daniel, walau aktingnya di film ini bukan yang terbaik. Sementara Vicky Krieps mampu beradu akting bersama Daniel, sikapnya yang polos itu mampu sembunyi-sembunyi menampilkan sisi manipulatif yang tidak sedikit membuat saya tak mampu menebak isi hatinya. Mungkin saya sedikit agak lucu saat Lesley Manville mendapatkan nominasi Best Performance by an Actress in a Supporting Role, sementara aktingnya di film ini tidak terlalu menonjol dan tidak begitu dominan dalam inti cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dengan sebuah horror apocalypse tentang invasi alien terhadap bumi, film horror mainstream yang sedikit tampak seperti salah satu karya novelis terkenal Stephen King yang sudah diadaptasi kedalam film tahun 2008, The Mist. Film debut sutradara sekaligus penulis naskah John Krasinski, bersamaan dengan sang istri Emily Blunt, yang keduanya pun sama-sama merangkap sebagai tokoh utama juga sebagai keluarga pasutri tiga anak. Evelyn Abbott (Emily Blunt), Lee Abbott (John Krasinski), dan kedua anaknya Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe). Konsep ceritanya sama seperti "It Comes At Night" tentang keluarga suburbian ditengah hutan lebat, yang harus bertahan hidup dari ancaman mengerikan yang mengintai kapanpun dimanapun oleh sesosok makhluk yang buta namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Sesuai judulnya, film ini tentang sebuah hutan yang sedikitpun tidak boleh mengeluarkan suara keras. Sekilas untuk seorang Krasinski yang notabene baru menggeluti kursi sutradara tidak cukup kerepotan dalam membuat wahana menegangkan dan pintar memainkan narasinya. Sayangnya, cerita film yang digarapnya memiliki banyak kekurangan, cukup beralasan bahwa beberapa adegan dalam film tidak terlalu pintar dan memiliki banyak kecolongan logika. Singkatnya, Krasinski membuat konsep yang terencana dan pintar dalam memainkan latar, tetapi membuat setiap perilaku karakter dalam film ini mempunyai banyak kecerobohan dan kebodohan. Contohnya, saat Evelyn yang mengambil cucian basahnya dan tersangkut oleh paku di tangga.

Meski begitu naskah dan cerita yang juga dibantu oleh Bryan Woods dan Scott Beck, bukanlah point yang membuat A Quiet Place jatuh total. Film ini tentu saja digarap dengan sangat baik oleh Krasinski, melalui sinematografer Charlotte Bruus Christensen yang mampu menghanyutkan saya dengan ketenangan dalam gambar siluet yang indah. Dengan sigap pengambilan landscape ladang jagung, hutan dan kota mati yang sebetulnya tidak terlalu diperlihatkan secara detil sebagaimana cerita film ini pun tidak begitu panjang lebar soal sebab dan asal muasal secara lebih luas, namun dengan gaya bak film bisu mengantarkan ketegangan dan atmosfer yang tak pernah lepas kendali secara sinematis. Selain itu, hal yang membuat A Quiet Place mampu meraih score 95% di rottentomatoes bukan karena horror ataupun konsep ceritanya, tetapi bagaimana Krasinski tetap memasukan unsur soal keluarga begitu kuat dan emosional. Pesan cerita dalam balutan konflik keluarga, dari peran Lee seorang ayah yang menjaga keluarganya tetap utuh, Evelyn yang berjuang mati-matian sebagai ibu saat ia hendak melahirkan anak ditengah kemelut bahaya, dan kedua anaknya terutama Regan, gadis yang merasa bersalah atas masa lalu yang dilakukannya, yang juga menganggap orang tuanya tidak lagi mempedulikan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.

Meskipun saya merasa monster dalam film ini tidak terlalu terlihat mengerikan, apalagi monster yang tidak mampu melihat ini hanya terlihat beberapa kali sekelibat seperti bayangan. Tapi, horror yang mengandalkan jump scare dan atmosfer ini tetap konsisten menjaganya sampai akhir, dengan konklusi yang tidak sampai jatuh pada antiklimaks.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Di sebuah mansion besar dan mewah. Seorang gadis berambut keriting bernama Amanda (Olivia Cooke) masuk untuk menemui teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya, Lily (Anya Taylor-Joy). Meski keduanya berasal dan tumbuh bersama dan sama-sama pula dari golongan keluarga mapan, perihal sekian lama tidak bertemu mereka mengalami kesulitan berinteraksi dan memahami satu sama lain. Ditambah sekelumit masalah personal diantara keduanya, Amanda yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi kejiwaan karena telah membunuh kuda peliharaan ibunya, sedangkan Lily hidup bersama Mark (Paul Sparks), ayah tiri yang dibencinya. Setelah mencoba dan semakin akrab, Lily yang mengetahui sifat sosiopat dalam diri Amanda, meminta Amanda untuk membantunya melakukan rencana pembunuhan terhadap ayah tirinya tersebut.

Thoroughbreds adalah film yang berasal dari debut sutradara Cory Finley, film yang awalnya akan digarap sebagai drama panggung dan mengalami limbo pasca gagal ditayangkan selama 2 Tahun. Film yang mirip dengan "Heathers" karya Michael Lehmann bercerita soal dua gadis yang sangat bermasalah dan kehidupan yang sangat kacau. Lily adalah gadis yang merasa terus-menerus sengsara akibat dorongan dan tekanan dari ayah tiri yang seringkali memaksa Lily secara sepihak, terutama tuntutan masalah sekolah khusus pilihan Mark yang tidak ia suka. Amanda justru kebalikannya, Lily yang ditunjukkan lebih emosional dan pemarah, justru penuh dengan sikap tenang, aneh dan melihat ia bisa memanipulasi air matanya sendiri, membuatnya menjadi sosok psikopat yang creepy.

Tapi, Cory sanggup menuturkan dinamika hubungan diantara keduanya begitu intim dan realistis. Saya seperti sedang menyaksikan dua orang dengan karakter dan kepribadian berbeda. Tapi, keduanya melahirkan chemistry yang aneh tapi likeable, melihat mereka bercengkrama dan bertengkar seperti gadis pada umumnya, namun saat menonton tivi sambil mengkritik akting dalam film klasik atau sambil duduk-duduk di teras membicarakan soal rencana pembunuhan, Wow..! Adapula Tim, pria dewasa, naif dan eksentrik pula sebagai tokoh disfungsional, pria drugdealer yang ditemui dan dibayar untuk melakukan pembunuhan oleh Lily ini kerap hobi bermuluk dan bermimpi hidup sukses dan mapan dengan modal usaha ilegal yang ditekuninya. Tim diperankan Yelchin menjadi perjalanan akting terakhirnya.

Meski Cory punya unsur manipulatif, hingga saya terjebak dengan moralitas para pelaku tokohnya. Didorong juga motif kekanak-kanakkan dan aksi pembunuhan yang saya rasa tidak begitu cerdik tapi diangkat melalui permasalahan, komedi gelap dan satir moral kaum ningrat yang sangat menarik, sampai puncak ending film ini justru malah terasa antiklimaks. Ada sesuatu yang mengambang meski menyelipkan gabungan antara twist dan ambiguitas yang justru tidak dibangun dengan kokoh.


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Tepat 1 dekade setelah Marvel menerobos kesuksesan melalui MCU (Marvel Cinematic Universe) dengan mampu memboyong fanatisme masif dunia. Tentu saja ini bukan sekedar euforia semata, melainkan impian nyata dari segenap penonton yang dulu mungkin berangan-angan adanya crossover, termasuk saya ketika dulu masih berseragam abu-abu membayangkan akan adanya pertemuan antara Superman, Wonder Woman dan Batman dalam satu tim. Kesuksesan ini pun dibayar lunas ketika genap 10 Tahun Marvel terus-menerus membuktikan ketajaman mereka merangkul setiap film tanpa ada yang collapse. Dan puncaknya pasca Avengers: Infinity War, saya penasaran apa yang akan coba Marvel tawarkan, mengingat masih ada dua film lagi yaitu "Ant-Man and the Wasp" dan "Captain Marvel" sebelum nantinya kulminasi Avengers ke-4 tiba. Mengingat Avengers: Infinity War sendiri, saya seperti sedang menyaksikan major war atau klimaks cerita yang melibatkan antar-galaksi, ras alien dan dewa-dewa mitologi yang lebih melar. Dan ketika semuanya terjadi, kita pun bertanya apa / kemana peran Ant-Man dan setiap karakternya pada saat itu absent?

Dr. Hank Pym (Michael Douglas) dan anaknya Hope Van Dyne (Evangeline Lilly) mendapatkan misi baru untuk mencari Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer) istri Pym yang diduga masih hidup terjebak di Quantum Realm. Tentu saja pencarian mereka tidaklah mudah, pertama, mereka sedang diburu oleh FBI menyangkut konflik pasca film Captain America: Civil War. Kedua, musuh baru yang mampu menembus partikel padat, Ava aka Ghost (Hannah John-Kamen) yang mencoba mencuri teknologi milik Pym. Sedangkan sang tokoh utama, Scott Lang aka Ant-Man (Paul Rudd) pun sedang menjalani tahanan rumah, sehingga ia juga sedang terjebak dan mengalami hambatan untuk turut membantu misi mendesak tersebut.

Masih dengan sutradara yang sama, Peyton Reed beserta tim penulis naskah Chris McKenna, Erik Sommers, Paul Rudd, Andrew Barrer dan Gabriel Ferrari. Ant-Man and The Wasp memiliki warna yang hampir sama dengan film sebelumnya, ringan dan ceria dengan segala komedi pengobat lara di tiap menitnya. Hadir dalam sentuhan cerita soal keluarga juga tetek bengek menyoal new hi-tech hingga pengenalan lebih dalam dunia quantum realm yang pernah dimasuki Scott saat menyusut ke ukuran subatom. Eksplorasi dunia dilakukan oleh Marvel dari skala terkecil sampai skala terbesar semakin menembus dimensi yang tak terjamah akal dan kemampuan manusia, seperti ketakjuban kita tentang alam semesta dunia MCU di film Doctor Strange.

Film yang tampak sederhana ini mungkin di isi dengan dialog-dialog yang terdengar saintifik dengan istilah yang mungkin terdengar asing seperti subatom, quantum realm dsb. Tapi, filmnya tidak tampil begitu nge-jelimet dan memusingkan semacam "Interstellar" karya Christopher Nolan, tersirat pula dari wajah bengong dan ketidakpahaman Scott yang kerap kali terjebak dengan ocehan para jenius karakter membicarakan yang kadang kitapun hampir tidak paham. Komedi masih tetap mengguncang tawa, entah dalam keadaan normal atau keadaan kritis dan serius, bahkan sesekali mengandalkan kostum Ant-Man hingga repetisi lelucon ikonik Luis (Michael Peña) yang tetap banyol. Saya pun suka akan daya tarik baru tentang abstraksi visual, sajian porsi small-big swap events kostum Ant-Man yang tidak saja keren tapi dibuat lucu, debut The Wasp aka Hope dengan gaya rambut baru casual-nya, bersamaan kokohnya chemistry antara Scott aka Ant-Man dengan keterlibatannya dalam aksi yang lebih intens. Plus, Michelle Pfeiffer, pesona artis senior berusia 60 tahun yang tak kalah enchanting dan youthful, membuat saya terpikat untuk melihat lebih dinamika aksinya di film ini.


Selain itu, hadir pula Ava aka Ghost sebagai villain kedua wanita setelah Hela. Mungkin banyak yang mengecap buruk perihal karakter dan motifnya yang sentimentil, apalagi para pemuja Thanos, si big boss karismatik kerap dijadikan pembanding yang tak seimbang. Pemilihan tokoh yang kadangkala terbesit soal ability-nya melawan hukum fisika dan logika, namun saya mengamini Marvel membuatnya tanpa obsesi semata, melainkan masih mempergunakan efektifitas dan mencoba memainkan sisi kemanusiaan dan sentimen kehidupan tanpa memandang hitam-putih karakternya. Ada pula Dr. Bill Foster (Laurence Fishburne) rekan lama Hank Pym yang terlihat tak akur, dan selalu menganggap Hank Pym adalah rekan yang keras kepala dan egois. Trio Luis (Pena), Kurt (David Dastmalchian) dan Dave (T.I.) masih tetap tim yang tak ketinggalan untuk menambah adegan aksi dan humor menggelitik disetiap tempat. Dan tak lupa lupa keluarga Scott yang selalu tampak begitu erat dan harmonis, terutama little chemist dengan anaknya Cassie (Abby Ryder Fortson) yang semakin menggemaskan memadu kedekatan dengan ayah yang dicintainya.

Mencoba menetapkan genre family sebagai suntikan varian barunya, Ant-Man and The Wasp adalah wadah paling cocok untuk memperlihatkan secara subtil bahwa Marvel adalah studio yang tahu caranya menawarkan sesuatu tanpa terpengaruh euforia. Meski sekuel Ant-Man tidak terlalu istimewa, tapi sama seperti Thor: Ragnarok, cenderung memiliki cerita progresif dan terbuka, lelucon-lelucon segar, dan koloborasi kuat dua protagonisnya, hingga sentuhan manis soal keluarga begitu kental mengisi ruang-ruang cerita, meski kerap ada pula memandang sinis akan kebiasaan Marvel tentang konsep filmnya yang masih kurang berani dan kurang dark. Tapi, buat saya MCU sudah terkonsep dengan brilliant, cerdas dan berani, sehingga bukan mustahil jika MCU akan tetap mampu bersinar untuk 1 dekade lagi, jika mereka mau.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dulu saya sempat mengira bahwa film horror adalah salah satu out date genre yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Melihat bagaimana pola pikir masyarakat yang sudah begitu maju dan seolah mereka tidak lagi gampang ditakuti oleh apalagi hal berbau mistis. Mendapati cerita teman saya yang baru menonton film IT, alih-alih takut sepanjang film, teman saya yang sebetulnya terbilang super-duper penakut malah menganggap Pennywise adalah badut yang lebih banyak berbuat konyol ketimbang seram. Tapi, sungguh daya tarik horor tak ubahnya genre lain yang berkembang seiring semakin canggihnya teknologi CGI, ada yang menyebutnya horror anti-mainstream atau modern horror. Horror jalur baru inilah yang kerap menghasilkan horror berkualitas dengan hasil berbeda seperti "The Witch" dan "It Comes At Night." Nah, kebetulan digarap oleh studio yang sama, A24 kembali menelurkan film antimainstream lainnya berjudul Hereditary.

Hereditary punya formula yang sama dengan keduanya, yaitu horror psikologis nan mengganggu lewat sesuatu yang tak nampak tapi menciptakan rasa takut dan cemas luar biasa. Dinahkodai oleh debut sutradara Ari Aster yang juga merangkap penulis naskah, menjadikan film Hereditary yang cukup banyak menjadi perbincangan hangat ini sukses membuat saya hampir terlompat dari kursi bioskop oleh pengalaman teror dengan rasa berbeda yang bahkan tidak saya jumpai dari film The Conjuring sekalipun. Meski tidak relevan untuk membandingkan dengan film tersebut, tentu saja Hereditary memiliki satu tingkat lebih baik dari film garapan James Wan ini.

Bercerita tentang Annie (Toni Collette) yang berprofesi sebagai pembuat miniatur bangunan, bersama dengan keluarga kecilnya yang terdiri dari suaminya Steve (Gabriel Byrne) dan kedua anaknya masing-masing si sulung, Peter (Alex Wolff) dan bungsu, Charlie (Milly Shapiro). Pasca ibu Annie meninggal karena penyakit demensia dideritanya, keluarga Annie perlahan mulai mengalami berbagai kejadian aneh dan mengerikan, yang kemudian menuntun Annie dari ancaman yang diwariskan oleh keluarganya sendiri secara turun temurun.

Ada yang mengatakan Hereditary ini memiliki kesamaan cerita dengan film Indonesia, Pengabdi Setan. Meskipun dibilang sama, tapi film yang tampil di Sundance Film Festival Februari 2018 lalu memiliki banyak modal untuk dianggap sebagai film unik dan berbeda dari film horror biasanya. Mungkin plot cerita terbilang umum, tapi saya suka bagaimana Aster mengolah sedemikian rupa sehingga malah menghasilkan teka-teki dan sandiwara penuh konflik emosional. Katakanlah saya tadi bilang bahwa Hereditary hampir membuat saya terlompat dari kursi, mungkin terdengar hiperbolis tapi jujur Hereditary bukan film bermodal jump scare sana-sini dengan scoring berlebihan demi menaikkan atmosfer. Cukup sederhana, film yang bermain dengan tempo lambat ini, membakar perlahan-lahan agar penonton jadi tenggelam didalamnya, sehingga beberapa kejutan yang bisa dibilang begitu tipis dan tak terduga begitu efisien mencengkram bulu kuduk penonton.


Tapi, horror dan ketakutan bukan elemen utama yang membuat Hereditary gampang disukai, Aster pun tidak main-main mengolah setiap sisi baik sinematografi yang apik hingga pengenalan karakter yang kuat. Sinematografi dari Pawel Pogorzelski melengkapi teror lewat visualnya, banyak gambar hingga close up wajah dengan beragam ekspresi sanggup memicu ketegangan dan emosi. Sinematis yang tidak saja mengagumkan, tapi juga sanggup melekat di ingatan penonton dalam jangka waktu lama. Dari kualitas akting yang didominasi oleh empat orang, Toni Collette sebagai leading act berakting luar biasa, berlakon sebagai Annie, ibu rumah tangga yang depresif dengan penyakit mental yang diwariskan oleh keluarganya, performa yang ditampilkan dengan segala kegelisahan dan kegilaannya mampu membuat saya sesak tak terhingga. Milly Shapiro dan Alex Wolff sebagai young cast juga punya daya magis dalam cerita, Milly yang digambarkan sebagai anak kecil dengan tingkah lakunya yang weird abis, dan Wolff berakting diluar dugaan dengan sosok remaja tanggung yang hobi menghisap ganja bersama temannya, tapi beberapa kali sorot wajahnya terekam begitu intens menjiwai karakternya yang labil ditengah kegilaan melanda keluarganya, dan salah satu scene yang memorable adalah ketika Peter memukul wajahnya di meja sampai berdarah, dan adegan ini real dilakukannya. Dan terakhir Gabriel Byrne, sosok kalem dari bapak yang kerap menjadi penengah dikeluarga gila ini.


Tapi, bukan berarti Hereditary berakhir tanpa cela, kerap kali saya membaca kritikan soal ending yang dianggap chessy, bahkan ada yang bilang gini, "endingnya udah gitu aja?". Hal ini pula yang saya rasakan setelah ending credit scene berakhir, ada mood yang hilang bercampur ketidak efektifan Aster meramu hasil, meski saya rasa semua kepingan puzzle tersusun rapi dengan simbolisme soal kutukan dibuat dengan sangat baik. Tapi, klimaks selalu punya peran besar menggeser mood penonton meski film Hereditary sendiri punya power cerita efektif luar biasa. Meski begitu, sekali lagi A24 berhasil merangkul horror antimainstream-nya, membawa teror psikologis dan curse-movie ketingkat lebih tinggi, beautiful, unique, powerful, emotional and to be sure it's haunting.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kenapa wanita selalu jadi korban pelecehan dan pemerkosaan? Seringkali tuduhan yang menyebabkan pelaku (lelaki) memperkosa wanita karena akibat dan ulah wanita itu sendiri. Jika tubuh perempuan tersebut semakin terbuka dan menggoda maka otomotis status wanita tersebut semakin inferior dan impolite, bahkan digenerelisasi secara intelektual dan dianggap sumber biang keladi masalah. Jadi, sangat wajar jika wanita jauh lebih banyak mendapat perkosaan karena perilaku mereka sendiri. Jika seperti itu kemana posisi laki-laki untuk bisa menghargai wanita dan tubuh mereka bukan sebagai objektifikasi dan olok-olok semata?

Revenge berasal dari film Prancis yang di nahkodai oleh sutradara debutan Coralie Fargeat. Melalui film pertamanya Revenge bercerita tentang seorang wanita sosialita bernama Jen (Matilda Lutz) yang diajak berlibur oleh kekasihnya yang kaya Richard (Kevin Janssens), di sebuah lokasi rumah mewah terisolasi di tengah padang gurun tak bernama. Tentu saja Jen tidak sendirian, Richard yang seorang pemburu ternyata mengajak kedua temannya Stan (Vincent Colombe) dan Dimitri (Guillaume Bouchède) ikut tinggal bersama mereka tanpa sepengetahuan dirinya. Tentu saja hal yang tidak diinginkan Jen terjadi, ia mendapat tindak perkosaan bahkan pembunuhan oleh ketiga pria tersebut. Dianggap sudah mati, Jen yang ternyata masih hidup menuntut balas dendam atas perbuatan ketiganya.


Film Revenge terdengar klise, iya. Tapi, Revenge buka film tanpa konteks, meski genre rape-revenge sudah kesekian kali dibuat, bahkan hampir berbarengan dengan film serupa yang berasal dari Indonesia, Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak. Coralie yang merangkap sebagai penulis naskah punya motif kuat yang bersandar pada isu feminisme dan eksploitasi wanita, tapi tentu dengan pendekatan yang sangat maskulin. Film ini penuh dengan adegan brutal, gory, bloody dan mengekspos rentetan adegan sensual. Tentu film ini tentang konfrontasi antara 1 wanita dan 3 pria, mengajak kita peduli soal nasib Jen yang terperangkap tak berdaya tanpa kekuatan dan pelindung. Perkosaan seperti sebuah kisah teror realita tak terelakkan pada wanita menghadapi takdir dominasi dan patriarki pria.

Eksploitasi adalah permainan yang dibawa Carolie ke ranah cerita, saya mengerti kenapa kamera begitu ragam mengumbar hampir seluruh bagian fisik Jen yang kerap mengundang birahi dibabak awal cerita. Kemudian melalui gestur dan mimik canda-menggoda didepan 2 pria asing, Jen tampak berjoget gemulai tanpa bimbang karena ia tahu sang pacar Richard disana sama-sama menyaksikannya. Lalu ditengah kesempatan lahirlah pemerkosaan. Dan selalu dibalik pemerkosaan melahirkan pembunuhan. Coralie sengaja memfasilitasi tokoh utama Matilda Lutz untuk terus berpakaian minim, meski seringkali ia berpakaian terbuka bukan untuk menggoda, kadang situasi dan kondisi tak mendukung dirinya untuk tampil tertutup. Bahkan ketika Jen, Stan dan Dimitri berpapasan pertama kali, bukan keinginan Jen untuk memperlihatkan dirinya sedang memakai celana dalam, kan?



Meski Carolie memuat isu feminisme. Tapi, saya menyukai bagaimana Revenge mencoba mempropoganda dua sisi koin baik-buruk. Bahkan Jen bukan serta-merta tokoh yang purely, gadis baik-baik lalu mendadak jadi korban. Semua punya asal muasal, sebut saja Richard peselingkuh yang berstatus keluarga ternyata seorang yang kasar dan kejam, Stan, pengecut yang penuh nafsu yang juga berstatus keluarga, Dimitri, pria apatis, bodoh dan doyan planga-plongo dan Jen tokoh utama yang ternyata seorang pelakor. Dan kemudian kita ditanya siapa yang jadi pemicu masalah? Apakah karena Jen seorang pelakor lalu ia bisa dicap sebagai wanita penggoda sehingga wajar jika ia diperkosa, sedangkan Jen kemudian dianggap wanita disposable, slut dan brainless oleh ketiga pria ini. Bahkan beberapa ucapan ofensif menohok masuk ke telinga saya mendengarkan pria-pria ini merendahkan Jen, "Woman always put up a fight" dan "Even for your tiny little oyster brain, it shouldn't be too difficult to understand." Ah, sakit!

Coralie tidak terlalu banyak menggunakan dialog, ia menggantinya dengan bahasa visual, gestur serta mimik wajah. Semudah kita mengetahui bahasa tubuh dan gestur Jen yang menggoda setiap saat, tatapan mesum nan mengganggu Stan yang kadang digambarkan sebagai predator iguana, tingkah planga-plongo Dimitri yang mengesalkan, dan bajingan bernama Richard yang patut dibenci atas tindakannya yang picik. Dengan membeberkan informasi seminimal mungkin, keyakinan moralitas tiap individu terasa twisted. Bermotifkan balas dendam yang terasa dominan, dari perubahan drastis wanita lemah dengan celana dalam seksi sekejap berubah menjadi wanita badass, kejam dan anarkis tanpa dipertanyakan lagi. Tentu saja tanpa peduli bahwa Jen adalah pelakor sekalipun, kita ikut mendukung aksi balas dendam yang dilakukannya.


Selain cerita, visualisasi yang dihamparkan Carolie terasa memikat dan berani, film dengan hamparan tanah tandus terasa gritty, dipadu dengan warna pinky. Kemudian ditimpal dengan adegan penuh darah merah meluluh lantah kesetiap saat dan tempat seolah sedang banjir darah, bahkan Carolie mengaku selalu kehabisan darah palsu hanya untuk mengisi adegan berdarah yang tidak tertampung jumlahnya. Meski saya tahu ini bukan film Quentin Tarantino, tapi adegan gore yang ditampilkan Carolie terasa menyakitkan dan berdarah-darah, bahkan memaksa penonton yang sudah terbiasa dengan film serupa harus menahan rasa ngilu dan sakit, apalagi adegan Jen yang tergelepar di atas pohon kering dalam keadaan terbalik tak nyaman, sembari menahan sakit perut tertusuk berjam-jam dialiri darah segar sudah cukup membuat saya lemas. Ditambah lagi, Carolie berhasil membuat sebuah adegan saling berburu yang menegangkan dan intens, meski ada satu adegan dimana saya disuruh menyaksikan adegan berputar-putar di satu tempat, dan juga absurditas tato burung di perut Jen kadang menggelitik pita tawa saya, tapi film ini tetap sangat menegangkan (menghibur).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kanibalisme, sebuah kata yang cukup terdengar mengerikan di telinga awam. Lewat temanya saja kanibal seolah identik dengan kekejaman, kebrutalan dan pemberi rasa mual karena manusia normal mana yang mau melihat manusia memakan manusia lainnya ketika bagian tubuh dicabik dan dimutilasi sampai pada tingkat mengkonsumsi layaknya daging sapi dimakan mentah. Identitas itu cukup melebur secara klasik dalam dua film bertema serupa seperti "Cannibal Holocaust" yang kontroversi dan "The Silence of the Lambs" yang fenomenal. Raw aka Grave merupakan film berbahasa Prancis, debut sutradara Julia Ducournau yang kembali memberi tantangan pada penontonnya apa arti dari kanibalisme sebenarnya bukanlah soal tradisi suku primitif ataupun merupakan gejala penyakit psikopatik, melainkan gejala dalam sosial urban yang ternyata mampu melekat dalam kondisi manusia normal manusia yang bersifat 'natural'.

Justine (Garance Marillier) merupakan gadis remaja yang baru saja akan memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswa di kampus kedokteran hewan. Semua keluarga Justine berprofesi sebagai dokter hewan sekaligus penganut prinsip hidup vegetarian. Sebelumnya Justine harus mengikuti kegiatan ospek mahasiswa yang dilakukan oleh senior di kampusnya. Namun, melalui beberapa kejadian memaksanya melanggar prinsip keluarga dan terpaksa mengkonsumsi daging sebagai pantangannya. Lambat laun Justine menemui gejala aneh setelah ia tahu pertama kalinya rasa dari daging yang ia makan hingga membawanya menyadari akan dirinya adalah seorang kanibal yang kecanduan.



Mencampur kisah coming of age, Raw secara simpel menjelma sebagai horror (drama) tentang kehidupan gadis normal ditengah tekanan sosial dan pencarian jati dirinya sebagai remaja belasan tahun. Justine tampak sebagai gadis biasa, polos, pendiam (kuper) namun cerdas dalam bidang akademiknya. Justine pun begitu akrab dengan seorang pria gay yang baru ia kenal dan juga sekamar dengannya, Adrien (Rabah Nait Oufella) sebagai satu-satunya teman dekatnya yang baik dan ramah terhadapnya. Selain itu Justine pun memiliki seorang saudara kandung sekaligus seniornya sendiri bernama Alexia (Ella Rumpf), wanita berperawakan emo, kasar, egois dan suka seenaknya terhadap Justine.

Raw mengajak saya menikmati gelagat tumbuhnya kepribadian Justine sekaligus mengungkapkan fakta dirinya sebagai seorang kanibal yang tidak diketahui oleh dirinya sendiri. Antara dilema moral sebagai manusia dan hewan kanibal. Pergolakkannya dalam mencari jati diri sembari mengenal siapa dirinya, hingga menawarkan sedikit romansa pergolakan jiwa muda dalam kenaifannya mencari cinta kepada seorang homoseksual ataupun mudahnya ia diperalat oleh tindakan senioritas dan dominasi dari kakaknya sendiri.


Ducournau yang juga selaku penulis naskah film ini mempunyai sekelumit misi untuk memberi kesenangan demi kesenangan meski tempo mengalun lambat, melalui visualisasi yang cukup gory dan mengganggu, dari sekedar memakan rambut sampai mengubek-ubek anus sapi. Ducournau dengan rasa tak berdosa memaksa penonton gentar dengan teror visualnya, hingga film ini selesai tiada kata indah terucap untuk merangkai kisah yang begitu menjijikkan namun cantik, selain menahan lahap makanan yang hampir terkunyah masuk tenggorokan kembali dimuntahkan akibat hampir setiap adegan dipenuhi kegiatan-kegiatan menjijikkan dan mengganggu yang asalnya tidak semua berasal dari adegan kanibalisme. Sedangkan Ducournau sengaja mempropoganda penonton lewat visual tapi tidak lewat teror kanibal yang adegan tersebut bisa dihitung dengan jari dan tak segila yang dibayangkan.

Selain itu Raw menyelipkan isu remaja dalam pencarian identitas, saat para pemilik almamater ini begitu liar dalam kegiatan mereka diluar jam kegiatan kuliah dengan masih tercium aroma seks bebas, cinta monyet, senioritas dan alkohol disamping fakta yang tanpa kita sadari film ini masih dalam ruang lingkup kampus dan asrama. Di lain hal Ducournau menjelaskan hubungan antara Justine dan Alexia sebagai saudara kandung pun tampak absurd, kecenderungan antara perasaan benci-cinta itu justru merusak konflik relatable dalam perkembangan cerita sebagaimana kisahnya sendiri lebih banyak dibangun oleh hubungan keduanya, dan justru ketertarikan saya muncul pada hubungan semi-romantis antara Justine dan Adrien yang kadang menemui dilema.


Raw sebenarnya bukanlah film kanibal yang terasa menghantui dan memberi ruang teror mengerikan, hasil itu hanya tampak pada usaha keras Ducournau menonjolkan ke semuanya dari segi visual yang disturbed dan bukan pada pola kisah yang lebih berani dan menantang. Menampik batas-batas kewajaran dalam sinematis yang masih terlihat memikat dan cantik, Raw dikategorikan horror kanibal yang masih wajar dan tidak pada sampai tahap kontroversi, meski terdapat kasus pada Festival Film Gothenburg, Swedia. Raw setidaknya membuat 30 orang meninggalkan layar bioskop sebelum film selesai, sisanya dikondisikan pingsan dan muntah saat menontonnya.

Tapi, Raw masih bisa ditolerir, akting memikat artis muda Garance Marillier cukup memberi nuansa teror dalam keheningan yang sangat intens yang cukup dapat dinilai dari tatapan matanya yang tajam mengumbar nafsu buasnya, hingga tahap adegan vulgar dan gila yang berani ia lakukan. Selain itu melalui tema horror urban film ini menunjukkan identitas kanibalisme, karena Ducournau sendiri sedang menggambarkan eksistensi mereka yang bisa saja hidup ditengah masyarakat seperti yang pernah disampaikan melalui film "The Neon Demon", ataupun persamaan akan gelora hasrat para kanibal terhadap daging manusia sebagaimana keluarga vampir Cullen pada darah manusia. Obsesi, kecanduan, orientasi hingga sifat natural seorang kanibal yang kemudian ditampar oleh kesadaran berpikir manusia yang masih menggunakan hati nurani dan akal.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Perempuan cantik berkelahi dan membunuh memang bukan lagi tontonan baru, cukup tengok contoh paling fenomenal Black Mamba yang diperankan Uma Thurman di film Kill Bill vol 1 & 2. Adegan yang selalu dilakoni aktor laki-laki ini kemudian berubah haluan saat perempuan mengambil alih lebih banyak. Tahun 2017 pun turut diramaikan bukan saja melalui "Atomic Blonde" yang mampu membuat akting Charlize Theron sangat anggun sekaligus badass, Korea Selatan pun tidak mau kalah menampilkan perempuan-perempuan berparas girl band ini sama gilanya dengan si "blondie" yang berjudul The Villainess aka Ak-Nyeo.

Sook-hee (Kim Ok-bin) seorang wanita malang yang berusaha mengejar pembunuh ayahnya, kini harus berada dibawah naungan organisasi underground yang dipimpin oleh Kwon-Sook (Kim Seo-hyung). Dengan sebuah identitas baru dan kehidupan baru untuk menyamarkan dirinya sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran, Sok-hee yang berharap untuk mendapatkan kehidupan normal bersama anaknya Eun-Hye, tidak serta-merta membuat kehidupan Sook-Hee terlepas dari masalah ketika ia dihadapkan pada dua pria yang dicintainya Joong-sang (Shin Ha-kyun) sang mantan kekasih dan Hyun-soo (Bang Sung-Jun) pria yang baru dikenalnya.


Sebelum saya membahas bagaimana adegan bak-bik-buk dalam film ini yang tampil begitu panas dan brutal, saya ingin mempertegas lagi bagaimana sosok perempuan di film ini begitu eksklusif. Jung Byung-Gil sang sutradara memberi posisi eksklusif bagi sosok wanita yang justru berbeda dari Atomic Blonde dalam ruang lingkup cerita espionase yang lebih dalam tapi tidak menekan kepribadian dan emosi sang tokoh utama. The Villainess sebaliknya, membawa potensi cerita yang lebih sempit dengan mengedepankan sensitifitas tokoh utama, Byung-Gil memporsikan cerita lebih mendasar dan lebih personal.

Diluar tema yang tampak begitu deras akan aksi. The Villainess mungkin bisa saya sebut sebagai melodrama-action yang tak kunjung henti memperlihatkan ketar-ketir kehidupan Sook-hee. Jung Byung-Gil beserta penulis naskah Jung Byung-Sik membuat ceritanya kian memporsir kedekatan kita pada emosi dan perasaan Sook-hee. Kita ikut bersimpati sekaligus menyukainya. Ketika ia beraksi segila, selincah dan sebadass, tapi tak luput akan sisi feminim dan manusiawinya Sook-hee. Dia tampak kuat dan beringas ketika menghabisi lawan-lawannya tanpa ampun, tapi disisi lain diperlihatkan sisi wanita naif dan lemah saat ia dipertemukan dengan kehidupan percintaan dan tenggelam oleh perasaannya tersebut. Dengan setumpuk kehidupan cinta dan pertemuannya dengan dua orang pria yang dicintainya, tentu selipan unsur romansa pastinya saya temui disini, meski adegan tersebut tampil begitu klise dari yang paling menempel dalam otak saya saat Sook-hee berpayungan dengan Hyun-soo ditengah hujan atau hal-hal romantis klise lainnya sehingga sekelibat saya seperti sedang menyaksikan serial drama korea, tapi ini tidak melunturkan imej The Villainess sebagai film action, justru mempertegas hubungan emosional para tokohnya terkukuh lebih solid.


Disisi lain Byung-Gil mencoba mengekspansi kehadiran wanita jauh lebih berpengaruh dalam film ini, seperti halnya Kwon-Sook sebagai tokoh chief wanita yang tegas dan karismatik, hingga para wanita assassin lainnya selain Sook-hee turut menyumbangkan ototnya, hingga terasa wanita di film ini tampak seperti kunoichi (ninja wanita) yang ototnya lebih banyak terpakai daripada pria (selain para anggota kriminal tentunya). Hingga menyelipkan seputar kultur modern di Korea Selatan soal operasi plastik sebagai standarisasi kecantikan di Korea, meski hal ini hanya terselip melalui sepercik adegan tak penting, tapi cukup mewadahi sedikit sindiran Byung-Gil mengenai hal ini.

Sebagai elemen utama yang disajikan yaitu aksi, ternyata berperan besar dalam menawarkan sinematis yang variatif dan belum pernah saya saksikan sebelumnya. Selain polesan sinematografinya yang sangat apik, perpaduan warna palette yang selalu pas dalam menggambarkan setiap moment yang berbeda-beda. Tapi, yang perlu digaris bawahi adalah penggunaan teknik dan efek kamera yang sangat fantastis saat aksi mulai diputar. Beberapa momen aksi diambil dengan efek teknikal "first person" (istilah dalam game FPS yang mengambil langsung sudut pandang orang pertama) hingga efek "fisheye", memberikan pengalaman sinematis yang begitu melekat dan dinamis dengan mata saya sehingga aksi brutal layaknya The Raid dan Kill Bill ini seolah kita sendiri yang mengalaminya, tanpa harus membuat saya pusing dan bingung dengan gerakan kameranya yang sangat aktif dan liar.



Tapi, sayang The Villainess memiliki ending yang tidak begitu konklusif dan terkesan membingungkan. Entah apa karena saya sebagai penulis dan penonton  yang kurang peka atau memang Byung-Gil yang kurang menggali lebih dalam soal konflik cerita. Kontradiksi ini lahir dari hubungan Sook-hee dan Joong-sang, perpisahan dan pertemuan mereka tampak begitu ambigu, apalagi sosok Joong-sang yang memiliki rahasia yang sedari awal sudah saya tebak dan memang mencurigakan. Dan hal aneh ini mengganggu saya terutama *SPOILER: Saya tak mengerti kenapa Joong-sang tega memutuskan membunuh anak darah dagingnya sendiri Eun-Hye yang buat saya masih sangat lucu-lucunya, (ingat adegan anak buah Joong-sang menyandra Hyun-soo dan Eun-Hyo dirumah, kemudian Hyun-Soo mengatakan pada Joong-sang melalui handphone bahwa Eun-Hye adalah anak kandungnya, tapi sayang jawaban dari Joong-sang sengaja dibuat tidak terdengar), ini membuat saya makin tak paham, apakah Joong-sang tak mempercayai kata-kata Hyun-Soo atau memang murni Joong-sang ini goblok dan tak menyadari bahwa Eun-Hye adalah anaknya sendiri? Tapi sayangnya Joong-sang mengakui pernah jatuh cinta pada Sook-hee, mereka menikah dan saya rasa dia tidak gila dan saya rasa dia hanya sedikit goblok dalam bertindak. Dari sini saya kontradiksi dengan kepribadian dan masalah yang dialami Joong-sang, hanya karena alasan pernah membunuh ayahnya Sook-hee, ia kemudian memalsukan kematian,  menyengsarakan Sook-hee dan tega membunuh Eun-Hye? Ini terlalu dangkal untuk sebuah konklusi. Meski saya menyadari mungkin seharusnya Byung-Gil dan Byung-Sik mengambil lebih banyak waktu menceritakan lebih dalam profil Joong-sang, sehingga konklusi terasa lebih masuk akal dan beralasan. Tapi, sayang ini membuat cerita menjadi timpang dan membuatnya menjadi menyebalkan. *SPOILER END*. Selain itu saya pun tak memahami apapun kondisi yang terjadi di universe The Villainess, termasuk organisasi yang dipimpin Kwon-Sook yang notabene apakah mereka berasal dari organisasi dibawah naungan polisi atau memang mereka berasal dari sindikat kriminal elite semacam John Wick yang menugaskan Sook-hee dan para wanita (cantik) rekrutan ini membunuhi target tanpa harus mempertanyakan siapa mereka. Meski ini bukan pondasi yang ingin disampaikan, tapi ini juga menimbulkan tanda tanya besar di akhir, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya The Villainess 2, meski hal ini tak mungkin terjadi.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya cukup terkesan sekaligus terkejut bahwa salah satu film yang berasal dari adaptasi manga/anime karya Hiroaki Samura ini meraih cukup banyak respon positif dari review luar semacam rottentomatoes dengan perolehan 82% dan metacritic 69%. Dibalik itu semua memang ada nama besar yang pantas diperhitungkan, tiada lain sang sutradara Takashi Miike yang dikenal akan film-filmnya yang fenomenal yaitu "13 Assassins", "Ichi the Killer" dan "Audition". Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa tahun 2015 lalu ia gagal memperoleh kesuksesan kala membuat film "Yakuza Apocalypse" yang justru dianggap terlalu absurd dan memantik bahwa karya yang satu ini kurang digarap dengan serius, hingga "Blade of the Immortal" aka Mugen no Junin muncul sebagai "act of retribution" buat Miike.

Berkisah tentang seorang samurai  bernama Manji (Takuya Kimura) yang diberi kekuatan keabadian oleh nenek misterius yang mengaku sebagai Yaobikuni. Kekuatan yang didapat dari cacing darah tersebut membuatnya tak bisa mati meski ditebas dan ditusuk berkali-kali. Sebagai samurai penyendiri nama Manji mulai terkenal selain karena harga kepalanya sebagai buronan cukup tinggi. Hingga 50 tahun kemudian seorang gadis tak berdosa bernama Rin Asano (Hana Sugisaki) mengalami kepahitan saat anak dari pemimpin dojo ini harus melihat ayahnya dibunuh dan ibunya diculik dan diperkosa oleh para anggota Itto-ryu yang saat itu sedang mengambil alih dojo-dojo di wilayah tersebut, dipimpin oleh samurai berkemampuan tinggi Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi). Demi niatan membalas dendam, Rin yang mendapat kabar akan kemampuan hidup abadi Manji, menyewanya sebagai bodyguard dan membantunya menyelesaikan misi balas dendamnya.


Cukup terbayang jika siapapun yang berpikir bahwa "Blade of the Immortal" mirip dengan "Rurouni Kenshin", sepintas tidak salah tapi tidak juga benar. Justru Blade of the Immortal terasa jauh lebih spicy dan gory, melihat banyaknya darah muncrat berceceran, hingga kaki dan tangan yang tampak putus tertebas kian tak berhenti bertebaran di tiap saat. Selayaknya film Takashi Miike yang terdahulu memang kerap menggunakan darah dan sayatan mengerikan semacam film slasher miliknya Ichi the Killer dan Audition yang fenomenal, Blade of the Immortal adalah jaminan bahwa Miike layak dijuluki Quentin Tarantino versi negeri Sakura.

Sayangnya, bagian aksi yang terbilang tampak gila-gilaan dan brutal ini tampak terasa repetitif, meski adu pedang dan tusuk menusuk tubuh yang menancap di badan Manji kian memberi efek rasa nyeri dan ngilu sepanjang cerita, aksi non-stop ini malah kurang menggairahkan. Saya mungkin tidak berbicara soal koreografi keren nan apik seperti "The Raid"-nya Gareth Evans. Hanya saja aksi yang kian padat kurang memorable dan kurang menancap di benak saya setiap kali Manji mengayunkan pedangnya berhadapan dengan petarung-petarung tangguh yang bisa dibilang punya karismatiknya masing-masing. Karena berhadapan dengan linimasa cerita penuh adegan bak-bik-buk tanpa henti, tapi mengedepankan esensi aksi dan kegilaan, tapi tak satupun adegan terasa lebih mendebarkan yang justru dijejali dengan aksi medioker ketimbang epic moment.


Tapi, bagian terbaiknya datang dari script naskah yang menjanjikan. Selama ini kelemahan di tiap-tiap live action yang diadaptasi manga/anime berasal dari naskah yang kurang cerdik merangkum konflik, cerita dan karakter yang diadaptasi. Miike dan penulis naskah yang membantunya Tetsuya Oishi berhasil meramu kesemua hal tersebut dalam sinkronitas yang cantik, menjangkau padatnya alur cerita manga yang jumlahnya 30 volume dalam satu naskah yang brilliant. Hal-hal yang tampak klise seperti motif balas dendam, rasa cinta, perjuangan, kesetiaan, penyesalan dan masa lalu kelam terasa begitu hidup. Dan setumpuk karakterisasi tokoh yang dijejali dalam durasi 140 menit ini cukup solid dan tiap tokoh mendapat peran yang setimpal, meski ada beberapa yang masih kurang menonjol karena keterbatasan durasi dan waktu, tapi Miike masih mampu mempertahankan tiap tokoh untuk berkembang dan jelas tokoh sampingan yang berjibun mendapatkan injeksi seadanya tanpa harus kehilangan identitas.


Takuya Kimura sebagai leading actor cukup berperan baik dengan tatapan matannya yang tajam, meski dengan raut wajah tak ramah dan pelit senyum, tapi kian mengisyaratkan relevanitas latar belakangnya yang gelap. Berpasangan dengan Hana Sugisaki sebagai Rin dan Machi, meski tampak agak kaku saat beradu akting, tapi kerap setiap moment mampu membangun chemistry diantara mereka berdua, dan bahkan tak jarang gurauan dan sedikit kekonyolan malah menghidupkan timbal balik diantara keduanya, membangkitkan sedikit sensitifitas antar tokoh yang ada. Kazuki Kitamura pun tampil cukup menarik, berperan sebagai Sabato Kuroi memancing aura quirky dan sharp, meski perannya tidak terlalu kontras disini. Sota Fukushi yang berperan sebagai antagonis sentris, meski agak timpang, tapi perannya sebagai Anotsu yang berkarakter dingin dan karismatik tetap terangkat, ditambah hubungan misteriusnya dengan Makie Otono-Tachibana (Erika Toda) yang setia padanya, memberikan kompleksitas watak Anotsu sebagai titular karakter yang gila ambisi tapi tetap memiliki penekanan moralitas dan emosi manusiawi yang subtil.

Overall, Blade of the Immortal sangat menghibur, menegaskan sutradara Takashi Miike adalah sineas brilliant dari negeri Jepang yang patut diperhitungkan. Kelemahan dasar film ini hanya terletak pada formulasi utama yang coba ditonjolkan Miike pada bagian action sebagai dasar kekuatan justru jadi kelemahan, apalagi ditambah kebrutalan dan kegilaan yang tampaknya "Mo-brothers" atau "Gareth Evans" jauh lebih greget daripada ini. Tapi, lagi-lagi tanpa script dan transformasi yang sempurna, semua itu tidak akan ada apa-apanya. Sebagai film ke-100 Takashi Miike, ini adalah salah satu adaptasi manga terbaik diantaranya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Instagram seperti kita tahu adalah aplikasi sosial media yang sangat popular, yang bahkan tren tersebut hampir menggeser dua situs sosmed terkemuka yaitu facebook dan twitter. Instagram memang sudah lama menjamur ditengah masyarakat dunia, dan sekarang aplikasi ini makin hari semakin multifungsi, dari sekedar menjadi ajang narsisme, berfoto ria, hingga pamer gaya hidup, sampai-sampai aplikasi satu ini dipakai sebagai ajang mencari ketenaran instan dengan cara yang tak lazim, yang kemudian hal tersebut disebut sebagai "selebgram".

Ingrid Goes West merupakan komedi satir yang jelas-jelas menyindir gaya hidup sosial yang terbelenggu oleh teknologi gadget secara berlebihan, sangat jujur mengemukakan dampak negatif dari perkembangan sosiokultural yang spesifik menyerang psikologis para pelaku karena salah kaprah memanfaatkan teknologi tersebut. Ingrid Thorburn yang diperankan Aubrey Plaza adalah contoh ironi dari korban perbudakan teknologi yang sudah mengakar.


Film yang disutradarai oleh Matt Spicer, beserta penulis naskahnya David Bandon Smith memang mencoba menceritakan kisah "menyeramkan" dibalik perbudakkan teknologi dan aplikasi sosial media bernama instagram. Tidak serta merta menjadi thriller psikologis, tapi dibalut dengan komedi jenaka yang piawai diperankan oleh Aubrey Plaza yang mampu berakting norak dan gila. Ingrid kontan memang gila, semenjak penyerangan terhadap teman dunia maya-nya, Charlotte, ia harus mendekam di rumah sakit jiwa selama beberapa waktu. Keluar dari sana, Ingrid tidak serta merta sembuh dari penyakitnya, malah semakin menjadi-jadi saat ia mengenal salah satu "selebgram" terkenal bernama Taylor Sloane (Elizabeth Olsen), yang membuatnya teradiksi akan gaya hidup Taylor yang sangat sempurna. Tertarik untuk mengikuti jejaknya, Ingrid pindah ke California agar bisa bertemu dengan idolanya tersebut.


Taylor bak king of pop Michael Jackson buat Ingrid. Saya sendiri antara lucu, empati dan sedih, meski dibilang sakit jiwa pun, saya tetap merasa kasihan dengan pola pikir dan hidup Ingrid yang sama sekali tidak punya tujuan hidup, yang hanya tahu bahwa instagram sebagai satu-satunya cara ia bahagia dan keluar dari depresi, minder dan putus asanya selama ini. Lahir dari obsesi, Taylor yang "perfect" dimatanya, seluruh gaya hidup dari makan, tempat nongkrong, status dan segala macam yang diperlihatkan Taylor di instagramnya, mulai ditirunya. Bahkan penampilan dan warna rambutnya pun semakin hari semakin menyerupai Taylor.

Ibarat ironi dalam tawa. Spicer buat saya betul-betul pintar membentuk satir sosial, mengkritisi sehubungan sisi gelap dari teknologi dan pengaruhnya bagi psikologis kadang sulit dijamah dan mudah diabaikan. Selain media instagram yang buat orang sangat kekinian, tapi film ini mencoba mengungkapkan keprihatinan saat dunia nyata dan dunia maya bertukar posisi. Ingrid ibarat sisi keras dari korban penyalahgunaan instagram, yang jauh lebih dalam digambarkan sebagai tokoh dengan gangguan psikis dan depresi, tampak terlihat dari sikap bahagianya (sampai nangis) hanya karena melihat akun instagramnya di follow, bahkan kecenderungan adiktif ini malah menjadi obat (narkoba) bagi Ingrid dari beban masa lalunya selama ini. Taylor pun sama-sama penderita, adiksi karena sikap narsisme berlebihan, racun yang memperlihatkan sentimentil garis halus soal "korban" yang menukar kehidupan nyatanya untuk kehidupan palsunya di instagram.


Ingrid Goes West tidak mungkin berakhir bagus jika bukan buah kepiawaian penulis naskah Bandon Smith yang pintar meracik narasi observatif yang kadang tak sedikit mengkritisasi perilaku instagrammer melalui comparing cerita humanisme batman akan Bruce Wayne yang kadang betul-betul relatable. Selain itu komedi ringan pun cukup membantu, meski tidak terlampau lucu, salah satu yang membantu konsistensi cerita dan komedi adalah akting Aubrey Plaza yang memang sosok komedian wanita yang gencar bermain gila dan tidak waras, Elizabeth Olsen pun cukup mengimbangi chemistry memikat sebagai Taylor, dari sikapnya yang cukup ceria, cool dan berkepribadian sempurna, namun punya latar belakang hidup yang sebetulnya penuh kekurangan. O'Shea Jackson Jr. sebagai Dan Pinto, kekasih khayalan Ingrid, meski aktingnya sedikit biasa saja, anak dari rapper Ice Cube ini sepertinya mulai menjadi rising star hollywood, perannya yang cukup mirip ayahnya ini mulai menguasai bakat ayahnya sejak "Straight Outta Compton." Wyatt Russell sebagai suami dari Taylor yang menjadi tokoh cukup penting untuk membuka masa lalu dirinya dan Taylor. Dan, Nicky (Billy Magnussen) saudara Taylor yang dulunya pemabuk dan brengsek, troublemaker yang cukup memberi kekacauan bagi hidup Ingrid.

Well, Ingrid Goes West adalah sebuah film satir yang mengkritisi dampak dari penggunaan sosial media bernama instagram, ya bukan hanya instagram tapi menyeluruh. Sebuah film yang memenuhi pesan penting soal keterbelakangan sosial dan individu modern. Dikala sebagian orang terhanyut oleh arus globalisasi yang kian menyiratkan pentingnya privasi dan kesadaran moral dari sekedar berperilaku di dunia maya maupun nyata. Buat saya ini adalah gagasan bagus yang patut ditonton, bukan hanya komedinya yang sedikit gila, norak dan konyol, tapi pesan satir tentang krisis globalisasi yang memang sulit dibendung, dan Spicer mengungkapkannya dengan sangat cerdas.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Bagaimana jika sutradara indie macam Taika Waititi diberi proyek besar untuk menangani film blockbuster macam Thor: Ragnarok. Menyuntikkan unsur cerita, petualangan dan komedi macam "Hunt for the Wilder People" terus membuat semua petualangan sederhana itu dengan bumbu kosmik kental yang menceritakan soal dewa-dewa berkekuatan besar. Di industri Marvel saat ini rasanya kita tak meragukan lagi kemampuan studio besar ini menangani dan memilih tim kru untuk proyek-proyek superhero besar lainnya. Jika dibandingkan dua film Thor lainnya, ini seperti transformasi besar buat kisah solo si raja petir dari Asgard, Thor (Chris Hemsworth). Tentu saja melalui cita rasa berbeda, Thor: Ragnarok seperti film kulminasi epik yang menunjukkan jati diri sebenarnya dari film-film Marvel.

Thor harus terlibat dengan masa lalu kelam ayahnya Odin (Anthony Hopkins) yang dulu pernah mengurung kekuatan jahat bernama Hela (Cate Blanchett) sang 'queen of death' yang berencana menguasai Asgard dan dunia. Tapi, saat Thor mencoba menghentikannya, kekuatan Hela jauh melebihi diatasnya dan membuat senjata andalan Thor pun, palu Mjolnir hancur berkeping-keping. Disaat Asgard dikuasai kekuatan jahat, Thor yang melarikan diri terdampar di sebuah planet 'garbage' bernama Sakaar yang dikuasai oleh pemimpin gila bernama Grandmaster (Jeff Goldblum). Thor yang disekap dan ditangkap oleh seorang wanita Valkyrie (Tessa Thompson), ditengah keputusasaan saat Asgard terancam bahaya, Thor dipaksa menjadi petarung gladiator dan melawan rekan satu timnya di Avengers, Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo).


Sebelum Marvel menunjukkan pertarungan epik dengan Thanos di The Avengers: Infinity War, Thor: Ragnarok seakan ingin menunjukkan kapasitas villain sesungguhnya, semenjak kegagalan Ultron yang disangka kuat ternyata lembek, konyol dan memalukan. Kini hadir Hela, sebagai villain wanita pertama sekaligus terkuat dengan menunjukkan taringnya langsung menghancurkan senjata terkuat, Mjolnir. Tidak hanya villain kuat, intimidasi serta momok menakutkan yang berhasil mencuri perhatian lewat akting Cate Blanchett pun sangat menggembirakan, tak ada yang jauh lebih cocok memerankan akting Blanchett saat tatapannya yang kadang seksi pun menyimpan sorot mata tajam yang seakan membunuh.

Bukan Marvel jika tidak memiliki rentetan komedi, memajang Taika Waititi beserta penulis skenario Eric Pearson, Thor: Ragnarok memberi pesona Guardians of the Galaxy dengan cita rasa fantasy sci-fi '70-'80-an. Meski tahu bahwa filmnya bisa sedikit kelam karena berisi disaster dari kekacauan, kejatuhan, dan kehancuran Asgard. Filmnya ternyata lebih ringan dengan tingkah konyol para karakternya. Sehingga jika menginginkan film sedikit lebih serius dan emosional, maka jangan harap filmnya akan membawa gejolak perasaan lebih dalam atau setidaknya lebih menegangkan.


Tentu saya tidak menganggap komedi Thor: Ragnarok jelek, meski beberapa masih juga terasa garing, tapi tetap konsisten untuk menyedapkan pita tertawa saya bergema hingga film berakhir. Tapi, ini seperti 'trigger' yang menghilangkan nuansa atmosferik dan emosional. Meski saya sangat menyukai Waititi tidak menghancurkan penokohan Hela dengan sebuah trik kekonyolan dan terus membuat villain ini tetap sesuai dengan perwatakkannya yang serius, fully-evil dan hot. Tapi, moment by moment lenyap karena terlalu banyak banyolan yang dirasa sedikit mengganggu, membuat saya berpikir apa jadinya jika Thor: Ragnarok tidak memiliki komedi? Maka film ini sesuram jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Tapi, film ini tidak terlalu mengecewakan, Thor: Ragnarok adalah renovasi dan evolusi terbaik dari trilogi Thor disaat banyak yang mengatakan Thor adalah yang terburuk dari film solo superhero lainnya. Universe semakin luas, kemunculan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang sebentar, Loki (Tom Hiddleston) yang selalu identik dengan moralitas ambigu sebagai villain dan saudara Thor, Bruce Banner yang sepenuhnya dikuasai oleh si monster hijau, Hulk dengan tingkahnya yang childish dan polos tapi juga bisa sensitif. Thor, dengan gaya rambut barunya tampak lebih kece', dipotong oleh bukan orang biasa. Dan dua karakter baru yang cukup banyak menarik perhatian, Valkyrie, wanita yang suka mabuk tapi punya segudang rahasia dan latar belakang menarik, Korg (Taika Waititi), monster batu yang sangar tapi suara mirip robot Chappie, dan Grandmaster, pria berusia jutaan tahun yang punya watak aneh dan sangat gila.


Seperti yang saya bilang, Thor: Ragnarok adalah jati diri Marvel sebenarnya. Memanfaatkan semua formulasi yang sudah ada seperti komedi, tema futuristik, comic relief dan semua hal yang sudah tidak lagi menghebohkan, terbilang ini adalah masa kejayaan Marvel Cinematic Universe. Meski tak bisa dipungkiri seperti kurangnya suntikan emosi dan atmosferik yang kental, hingga terlalu bermain aman dalam cerita. Tapi tentu saja berharap The Avengers: Infinity War dan tahun-tahun kedepannya nanti Marvel tidak terjebak dalam situasi yang sama. Karena saya paham bahwa Marvel menyadari kekurangannya, menambalnya berkali-kali, hingga dapat dibuktikan Marvel hingga saat ini belum luput dari kegagalan.

Well, secara keseluruhan Thor: Ragnarok cukup memuaskan, tidak istimewa, tapi sangat menghibur. Setidaknya hal yang membuat saya memuji kesuksesan Waititi dan Pearson terletak pada referensinya, seperti penggunaan komedi yang interkoneksi dengan film Marvel sebelumnya, dan cara mereka memperlakukan para karakter baik jagoan, tokoh kacangan maupun villain dengan sangat baik dan relevan. Dan Hell Yea! mempercayai artis sekaliber Oscar, Cate Blanchett adalah pilihan yang tepat dan menjadi salah satu alasan menonton film yang satu ini, salah satu villain terbaik yang tidak kemenyek dan benar-benar "IMBA", bahkan membuat saya bertanya, apa yang bisa dilakukan film ini untuk mengalahkan dewi bernama Hela, jika dewa Thor sekalipun jadi benyek menghadapinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates