• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



10 Tahun berlalu sejak pertama kali Michael Bay memperkenalkan Transformers pertamanya, 10 Tahun pula Transformers kerap mendapat cibiran karena kualitas filmnya yang buruk. Tapi, ada satu hal yang malah membuat saya rindu dengan filmnya yang berisik dan kacau setelah menonton film BumbleBee. Sesuatu yang sepertinya telah melekat dan menjadi nyawa tapi kemudian hilang, hal yang saya tunggu-tunggu pada klimaks dalam skala gila-gilaan dari visual effect-nya Bay. Aneh memang, tapi itulah yang dicari kala mencari hiburan tak berotak di film Transformers untuk sesaat melakukan relaksasi mata, ditangan sutradara yang berbeda tentu saja ada beberapa hal yang terasa berubah kala BumbleBee ditangan Travis Knight filmnya bukan lagi atau tidak sama lagi dengan yang saya rasakan sebelumnya.

Buruk? Tentu saya pastikan tidak ada yang buruk di film ini. Ditangan Travis dan penulis naskahnya Christina Hodson, Bumblebee berubah menjadi sajian film bernyawa dan memiliki "hati" didalamnya. Sebagai sebuah reboot, Bumblebee adalah perombakan besar-besaran, dalam artian dari segi narasi, plot cerita dan karakter yang terkesan lebih manusiawi. Cerita utamanya adalah hubungan persahabatan seorang gadis bernama Charlie Watson (Hailee Steinfeld) dengan Bumblebee. Masing-masing keduanya punya kerumitan masalah kehidupan, Charlie adalah gadis penyendiri dan pemurung yang belum bisa move on dari kematian ayahnya, sedangkan Bumblebee dalam situasi genting saat perang Cybertron berkecamuk dan atas perintah Optimus Prime, ia dengan terpaksa datang ke bumi dan bersembunyi dari kejaran Decepticons. Namun naas, sesaat ia tiba, Bumblebee disergap oleh para militer Amerika yang dikomandoi Agen Burns (John Cena) dan pula diserang oleh seorang Decepticon yang diam-diam membuntutinya sehingga ia mengalami kerusakan dan kehilangan ingatan. Dalam kemelut tersebut, dikemudian hari Charlie menemukan Bumblebee tengah menjadi mobil rongsokan dan membawanya kerumah, mengetahui bahwa ia seorang alien Charlie mencoba bersahabat dan melindungi Bee dari dunia luar yang mungkin mengancamnya.

Saya mengenal Travis Knight lewat karya film animasinya Kubo and the Two Strings. Dan sejujurnya saya kurang terlalu suka dengan film tersebut meski para kritikus memujinya bahkan rottentomatoes memberi tomat segar 98%. Dan ternyata sama seperti Bumblebee, ia memang film yang luar biasa tapi sebetulnya ia terlihat sedikit payah. Tentu, saya tak meragukan dinamika cerita, perasaan, emosi dan kecerdasaan Travis membangun keseluruhan cerita menjadi satu irama yang terkoneksi. Tapi, tentu seharusnya Bumblebee bukan sebuah film yang dipenuhi drama melankolis, ia tak seimbang dengan iramanya membangun drama dan aksi. Justru terperangkap karena terlalu ber"hati" dengan keinginan membangun skala emosi yang lebih besar, sehingga kehilangan kesenangan saat melihat Autobots dan Decepticon meledak-ledak dan berjumpalitan. Apa karena ekspetasi atau mungkin pengaruh film sebelumnya, yang pasti hiburan terbesar Transformers adalah kehancuran, ledakan dan kebisingan yang terasa sedikit sunyi di film ini. Meski hanya satu hal yang hilang yaitu tak ada kota yang hancur dalam skala besar, meski beberapa paruh saya tetap terhibur dengan sekuens-sekuensnya yang terbangun dengan berbagai momentum yang cukup rapi.

Terlepas dari itu semua, Bumblebee memang memberikan apa yang disebut kualitas. Cerita persahabatannya bagai film E.T. the Extra-Terrestrial, tidak kekanak-kanakan tapi juga dewasa dalam melingkupi persoalan kedewasaan, kerelaan dan intimasi hubungan keluarga. Sesuatu yang membuat kisah hidup Charlie jauh lebih relevan dan berkarakter ketimbang Sam Witwicky yang berisik dan overacting. Beberapa kali saya terharu, tergetar dan tersenyum dengan kisah keduanya. Ditubuh robotnya pun Bumblebee layaknya bocah polos yang tingkahnya memancing tawa, tapi juga membuat kita sensitif terhadap tuturnya yang manusiawi dan bernyawa. Hal terkeren dalam film ini pun tak luput dari villain yang hadir, stoknya mungkin terbatas pada tiga tokoh saja. Satu dari kalangan manusia bernama Burns diperankan oleh John Cena, salah satu akting terbaik dalam karirnya. Dan dua dari kalangan decepticon, Shatter dan Dropkick, villain berwatak jahat tapi juga tampil sebagai mesin berotak tanpa harus melabeli diri mereka sebagai megalomania yang terkubur oleh motif ambisi yang terbatas layaknya Megatron. Dengan tampilan yang berlatar generasi Y tahun 80-an, musik berlantun khas semacam Take On Me milik "Aha" menjadi ciri khas yang membuat Bumblebee menjadi sajian yang terasa khas dan menarik.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Dalam kurun waktu 2 dekade kita sudah mengenal 3 karakter Spider-Man modern yang diperankan oleh Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland. Ketiga-tiganya memiliki plot cerita yang hampir sama, entah kisah percintaan, pekerjaan, intelektual, tragedi paman Ben, dan segala yang sudah terasa familiar dengan karakter bernama Peter Parker. Nah, mungkin ide untuk membuat film Spider-Man out of the box dari kisah-kisah yang saya rasa lama-lama bakal jadi klise, tim studio Marvel beserta Sony Pictures berusaha untuk keluar dari kebiasaan lama. Maka tetap mengambil asal-usul adaptasi komiknya, Miles Morales (Shameik Moore) menjelma menjadi sosok the new Spider-Man. Tentu saja Spider-Man yang lebih muda dan segar, ayah dan ibu yang masih hidup, tanpa kisah cinta, dan berkulit hitam.

Miles Morales adalah remaja belasan tahun yang hidup bersama kedua orang tuanya. Miles memiliki seorang Ayah yang tidak ia sukai bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), seorang polisi yang keras dan kerap mengatur kehidupan pribadinya. Miles pun memiliki seorang paman yang ia cintai dan dekat dengannya, Uncle Aaron (Mahershala Ali) yang justru menjadi ayah keduanya. Miles sebetulnya hidup di kota yang sama dengan Peter Parker, dan mungkin diperkirakan 20 Tahun setelah kejadian-kejadian yang kita kenal sebelumnya, telah menikah dan hidup bahagia bersama Mary Jane. Beberapa plot cerita pastinya tidak akan saya jelaskan secara rinci, yang pasti disaat yang sama ketika Miles tergigit laba-laba misterius, seorang penjahat mencoba mengacaukan dimensi, sehingga beberapa Spider-Man di dimensi/universe lain tertarik ke dalam dunia tempat Miles tinggal, dan tugasnya sekarang adalah membawa pulang kembali para Spider-Man dan menyelamatkan kota dari kekacauan.

Melalui sebentuk animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film penuh kekacauan, kerumitan dan keanehan. Baik karakter, cerita maupun visual animasinya sendiri. Berbagai macam karakter Spider-Man bermunculan, actually dari Spider-Man berperut buncit dan paling menyedihan, Spider-Man Noir, Spider-Woman, dan Spider-Man paling aneh dan konyol mirip tokoh kartun Looney Tunes, Porky Pig. Segala hingar bingar cerita yang konyol, melewati batas imajinasi dan pikiran liarnya, sentuhan ini tentunya didapat dari naskah dan ide Phil Lord dan Rodney Rothman, terutama Lord yang notabene membuat Spider-Verse layaknya The Lego Movie. Dibelakangnya pula terdapat tiga sutradara serangkai yang memang sudah pernah menangani animasi lain Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman.

Untuk animasi visualnya sebetulnya sedikit non-konvensional, lihat saja efek ledakannya yang menyerupai gelembung sabun, beberapa desain karakternya yang nyeleneh dan kadang ambigu untuk dibawa ke realita kehidupan Miles. Tapi, tentu saja kita dapat memaklumi bahwa kita dapat beranggapan film ini serupa animasi The Lego Batman Movie (2017), jangan pernah bertanya tentang logika dan keabsurdannya, tapi kita menyadari bahwa ini adalah film animasi, dimana kebanyakan memang tak memerlukan pemahaman tersebut. Selama film masih membuat tertawa, menyentuh hati dan masih related dengan kejadian-kejadiannya, Spider-Verse memiliki hal tersebut. Dalam keseruan efek animasi yang tajam dan mengikat, yang paling saya suka adalah perpaduan animasi dan lagunya yang terasa klop, salah satunya lagu "Sunflower" yang dinyanyikan Post Malone dan Swae Lee terasa renyah berapa kalipun di putar dan dinyanyikan oleh Miles sendiri, bahkan saat filmnya selesai. Dan faktanya saya sudah sering mendengar lagu ini sebelum filmnya dirilis, bener-bener adem dan renyah didengar.

Dari segi cerita, selain humor khas Phil Lord, film ini tetap mengeksplorasi ruang perasaan dan hati dalam ceritanya yang penuh ironi. Berbarengan dengan pendekatan kisah familiar seperti romansa hubungan Peter dan Mary, sedikit cuplikan kereta Spider-Man 2-nya Sam Raimi yang paling memorable, berbagai pop-culture yang memperkaya dunia Spider-Man. Memang film ini tidak hanya menghibur, tapi memang benar-benar film tentang Spider-Verse yang kadang terasa seperti nostalgia. Berbagai villain pun muncul disini, dari Doctor Octopus, Scorpion, Green Goblin, dan Kingpin. meski tidak terlalu banyak dimunculkan karena memungkinkan membebani cerita. Mengatakan Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film terbaiknya Spider-Man? Melihat kekayaan dan motivasi film ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan cinta pada karakternya yang paling ikonik, tentu saja tanpa ragu saya mengatakan filmnya benar-benar keren, bernuansa, eksploratif, kaya, unik dan menyentuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jika dipikir-pikir Aquman tak ayal seperti film action fantasy konvensional yang terikat dengan kisahnya yang standard dengen element visual bawah laut yang megah layaknya Percy Jackson. Disutradarai oleh James Wan yang lebih dikenal menangani film-film horror semacam Saw dan The Conjuring, lalu merambah ke action theme yang telah mensukseskan salah satu franchise besar Furious 7. Kini DC Comics mempercayai Wan untuk menangani salah satu karakternya yang populer, Aquaman aka Arthur (Jason Momoa). Meski saya sebut Aquaman ini film dengan kisah standard dan konvensional, tapi bukan juga deretan film buruk DC dalam universe yang coba dibangun. Ia memang menyajikan spirit petualangan penuh aksi memukau dan visual dunia bawah laut dan kota atlantis yang megah.

Diawali dengan kisah pertemuan orang tua Arthur, ibunya Atlanna (Nicole Kidman) seorang putri Atlantis yang berusaha kabur dari pernikahan orang tuanya dan Tom Curry (Temuera Morrison) penjaga mercusuar yang tak sengaja melihatnya dan mencoba menolongnya di tepi pantai. Pertemuan mereka menjadi benih cinta dan melahirkan seorang anak bernama Arthur. Ketika dewasa Arthur hanya tinggal bersama ayahnya saat ibunya Atlanna harus kembali ke Atlantis saat ia kecil dan tak pernah melihatnya lagi. Di lain pihak, Atlantis kini dikuasai oleh adik tiri Arthur (ibu yang sama tapi ayah berbeda) bernama King Orm (Patrick Wilson) yang berniat melawan manusia dipermukaan karena dianggap sebagai sebuah ancaman bagi dunia bawah laut. Mera (Amber Heard), anak dari King Nereus (Dolph Lundgren) sekutu sekaligus tunangan King Orm berupaya mencegah niat buruk Orm dengan membujuk Arthur merebut kembali tahta Atlantis dari tangannya. Agar upaya Arthur dan Mera berhasil mereka harus mencari trisula Atlan yang digunakan raja pertama Atlantis agar ia bisa menantang Orm dan merebut takhta.

Beberapa tahun terakhir mungkin beberapa orang kompak bahwa salah satu film DC Comics yang selamat dari banjir kritikan pedas adalah Wonder Woman. Film Wonder Woman memang tipikal film dengan cerita yang sebetulnya sangat sederhana, tapi saya menyukai filmnya karena punya spirit feminisme dan kemanusiaan yang kuat dalam balutan kisah mitologi. Dan menyangkut beberapa element termasuk komedi dan naskah pun cukup berhasil. James Wan dipercayai merangkul Aquaman sepertinya ingin membawa film dengan tampilan keren dengan atraksi visual dan aksi. Dan bukan cuman itu, Wan beserta tim penulis naskah David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall menyuntikkan setiap element agar filmnya tidak hanya renyah dimata tetapi renyah pula dihati. Wan mencoba memasukkan semuanya kedalam film seperti tak luput membawa isu lingkungan alam dan pula sentuhan emosional tentang cinta dan keluarga. Tapi, dalam eksekusi hanya sedikit yang bisa terasa, selebihnya hanya cerita linear dan biasa tentang petualangan mencari trisula, perebutan takhta kekuasaan layaknya Black Phanter, klimaks perang layaknya LOTR versi bawah laut dan berbagai suntikan aksi dan cerita yang sebetulnya jika ditilik tampak familiar. Dan kesan familiar inilah yang mungkin menyebabkan kisahnya sendiri terjebak oleh naskah yang enggan keluar dari kebiasaan.

Ada hal yang saya suka dan tidak suka di film ini. Terutama imbas villain yang lagi-lagi seperti kebanyakan villain superhero lainnya, yaitu sifat megalomania yang tidak memiliki kompleksitas dan kurang berkesan. Komedinya pun terasa hit & miss, dan beberapa malah terdengar seperti dialog biasa. Hal-hal yang saya suka tentu masih ada, ditangan Wan aksinya tetap memancing adrenalin, bumbu Furious 7 masih terasa melekat dengan aksi yang kebanyakan memang penuh chase scences, pertama adegan yang sudah ditampilkan dalam trailernya yang berdurasi panjang (promosi trailer yang terlalu berlebihan dan sia-sia) dan kedua kejar-kejaran dengan The Trench, salah satu best scene menurut saya. Aksi dan visual berpadu dalam gaya sinematik khas film action fantasy yang menyenangkan. Tapi, memang meski bermain di ranah visual, terkadang Wan kurang menyajikannya secara lebih berwarna dan indah, beberapa tone kadang malah terasa gelap, kaku dan kurang bernuansa dimana sebenarnya banyak yang bisa di eksplorasi dalam tatanan visual laut dan kota Atlantis yang seringkali diceritakan sebagai kota legenda paling indah. Hal yang cukup saya suka adalah kostumnya, beberapa kostum berat dan nyeleneh tapi membuat filmnya tampil agak berbeda, seperti kostum yang dipakai oleh para tentara Atlantis yang kesannya mirip kostum di game Halo, pakaian ketat dan blinking dipakai Mera dan Arthur yang awalnya kelihatan aneh tapi saya pikir kostumnya bagus dan tidak terlalu berlebihan. Dan ada Willem Dafoe disini berperan sebagai penasehat raja Atlantis yang loyal bernama Vulko, entah kenapa di film ini dandanannya tidak segarang film-film lainnya dan tampak lucu dengan gaya rambutnya yang klimis itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Red Sparrow adalah film thrilling-sexy spy yang tidak menjanjikan. Film yang disutradarai Francis Lawrence, kolaborasi ulang bersama Jennifer Lawrence yang sebelumnya berada di tiga film terakhir The Hunger Games, merupakan adaptasi novel karangan Jason Matthews berjudul sama. Jason sendiri adalah salah satu tokoh penulis sekaligus mantan agen mata-mata CIA. Jadi, bisa dibilang Red Sparrow punya potensi dan daya tarik sebagai sebuah film bertema spionase yang menantang untuk diikuti dengan mengambil referensi khusus dari status profesi sang penulis pribadi. Meski hanya kisah cerita fiksi, film ini merupakan gagasan menarik yang mengingatkan saya dengan beberapa film spionase populer lainnya, seperti Atomic Blonde atau kurang lebih lebih serupa dengan The Girl with the Dragon Tattoo. Background cerita underground yang kelam dan nakal.

Red Sparrow berusaha untuk seperti itu, bumbu-bumbu soal perang dingin, unsur seks, kompleksitas agen ganda, kesetiaan dan politik adalah bumbu yang terdengar wah ketika teaser trailer-nya pun sangat menggoda. Tapi begitu kita menarik keluar cerita yang durasinya keterlaluan, semakin kompleks cerita berbicara saya mulai merasa ada yang kurang beres dan semakin lama memang tidak beres, saya melihat banyaknya lubang-lubang yang tidak tertambal dan ceita melompat-lompat. Intrik dan alur cerita Red Sparrow semakin kemari semakin amburadul dan kacau. Seakan berniat untuk lebih nakal, brutal dan kompleks, obsesi untuk mempertontonkan cerita yang berat, kelam nan gila malah terjerembab menjadi pasang-surut, cacatnya lagi duo Lawrence ini berupaya memperlihatkan adegan demi adegan pencabulan kepada sang tokoh utama yang terasa mati dan cekak. Red Sparrow malah terasa seperti film semi pornografi. Apalagi adegan disaat Dominika Egorova (Jennifer Lawrence) yang awalnya seorang balerina, menjalani sesi latihan perdananya agar direkrut sebagai mata-mata di kamp rahasia milik pemerintahan Rusia, adalah puncak kebodohannya. Sekolah secret spy milik pemerintahan Rusia ini punya metode menyuruh para muridnya untuk saling bersetubuh, memperbolehkan memperkosa, diperkosa, dilecehkan dan aturan-aturan amoral yang terbilang absurd. Ditambah penokohannya dangkal dan konfliknya tidak emosional, Dominika hanya tokoh utama sentimentil yang kurang berperasaan, membingungkan dan karakternya kurang membuat saya terikat akan kepribadiannya yang setengah-setengah. Sentuhan manis di akhir yang sangat manipulatif bagai konklusi paling masuk akal pun tidak berdampak apa-apa, melainkan saya hanya berkata "oh, begitu ya..." dalam hati sangking filmnya tidak lagi menarik.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dengan sebuah horror apocalypse tentang invasi alien terhadap bumi, film horror mainstream yang sedikit tampak seperti salah satu karya novelis terkenal Stephen King yang sudah diadaptasi kedalam film tahun 2008, The Mist. Film debut sutradara sekaligus penulis naskah John Krasinski, bersamaan dengan sang istri Emily Blunt, yang keduanya pun sama-sama merangkap sebagai tokoh utama juga sebagai keluarga pasutri tiga anak. Evelyn Abbott (Emily Blunt), Lee Abbott (John Krasinski), dan kedua anaknya Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe). Konsep ceritanya sama seperti "It Comes At Night" tentang keluarga suburbian ditengah hutan lebat, yang harus bertahan hidup dari ancaman mengerikan yang mengintai kapanpun dimanapun oleh sesosok makhluk yang buta namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Sesuai judulnya, film ini tentang sebuah hutan yang sedikitpun tidak boleh mengeluarkan suara keras. Sekilas untuk seorang Krasinski yang notabene baru menggeluti kursi sutradara tidak cukup kerepotan dalam membuat wahana menegangkan dan pintar memainkan narasinya. Sayangnya, cerita film yang digarapnya memiliki banyak kekurangan, cukup beralasan bahwa beberapa adegan dalam film tidak terlalu pintar dan memiliki banyak kecolongan logika. Singkatnya, Krasinski membuat konsep yang terencana dan pintar dalam memainkan latar, tetapi membuat setiap perilaku karakter dalam film ini mempunyai banyak kecerobohan dan kebodohan. Contohnya, saat Evelyn yang mengambil cucian basahnya dan tersangkut oleh paku di tangga.

Meski begitu naskah dan cerita yang juga dibantu oleh Bryan Woods dan Scott Beck, bukanlah point yang membuat A Quiet Place jatuh total. Film ini tentu saja digarap dengan sangat baik oleh Krasinski, melalui sinematografer Charlotte Bruus Christensen yang mampu menghanyutkan saya dengan ketenangan dalam gambar siluet yang indah. Dengan sigap pengambilan landscape ladang jagung, hutan dan kota mati yang sebetulnya tidak terlalu diperlihatkan secara detil sebagaimana cerita film ini pun tidak begitu panjang lebar soal sebab dan asal muasal secara lebih luas, namun dengan gaya bak film bisu mengantarkan ketegangan dan atmosfer yang tak pernah lepas kendali secara sinematis. Selain itu, hal yang membuat A Quiet Place mampu meraih score 95% di rottentomatoes bukan karena horror ataupun konsep ceritanya, tetapi bagaimana Krasinski tetap memasukan unsur soal keluarga begitu kuat dan emosional. Pesan cerita dalam balutan konflik keluarga, dari peran Lee seorang ayah yang menjaga keluarganya tetap utuh, Evelyn yang berjuang mati-matian sebagai ibu saat ia hendak melahirkan anak ditengah kemelut bahaya, dan kedua anaknya terutama Regan, gadis yang merasa bersalah atas masa lalu yang dilakukannya, yang juga menganggap orang tuanya tidak lagi mempedulikan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.

Meskipun saya merasa monster dalam film ini tidak terlalu terlihat mengerikan, apalagi monster yang tidak mampu melihat ini hanya terlihat beberapa kali sekelibat seperti bayangan. Tapi, horror yang mengandalkan jump scare dan atmosfer ini tetap konsisten menjaganya sampai akhir, dengan konklusi yang tidak sampai jatuh pada antiklimaks.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates