• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Jika dipikir-pikir Aquman tak ayal seperti film action fantasy konvensional yang terikat dengan kisahnya yang standard dengen element visual bawah laut yang megah layaknya Percy Jackson. Disutradarai oleh James Wan yang lebih dikenal menangani film-film horror semacam Saw dan The Conjuring, lalu merambah ke action theme yang telah mensukseskan salah satu franchise besar Furious 7. Kini DC Comics mempercayai Wan untuk menangani salah satu karakternya yang populer, Aquaman aka Arthur (Jason Momoa). Meski saya sebut Aquaman ini film dengan kisah standard dan konvensional, tapi bukan juga deretan film buruk DC dalam universe yang coba dibangun. Ia memang menyajikan spirit petualangan penuh aksi memukau dan visual dunia bawah laut dan kota atlantis yang megah.

Diawali dengan kisah pertemuan orang tua Arthur, ibunya Atlanna (Nicole Kidman) seorang putri Atlantis yang berusaha kabur dari pernikahan orang tuanya dan Tom Curry (Temuera Morrison) penjaga mercusuar yang tak sengaja melihatnya dan mencoba menolongnya di tepi pantai. Pertemuan mereka menjadi benih cinta dan melahirkan seorang anak bernama Arthur. Ketika dewasa Arthur hanya tinggal bersama ayahnya saat ibunya Atlanna harus kembali ke Atlantis saat ia kecil dan tak pernah melihatnya lagi. Di lain pihak, Atlantis kini dikuasai oleh adik tiri Arthur (ibu yang sama tapi ayah berbeda) bernama King Orm (Patrick Wilson) yang berniat melawan manusia dipermukaan karena dianggap sebagai sebuah ancaman bagi dunia bawah laut. Mera (Amber Heard), anak dari King Nereus (Dolph Lundgren) sekutu sekaligus tunangan King Orm berupaya mencegah niat buruk Orm dengan membujuk Arthur merebut kembali tahta Atlantis dari tangannya. Agar upaya Arthur dan Mera berhasil mereka harus mencari trisula Atlan yang digunakan raja pertama Atlantis agar ia bisa menantang Orm dan merebut takhta.

Beberapa tahun terakhir mungkin beberapa orang kompak bahwa salah satu film DC Comics yang selamat dari banjir kritikan pedas adalah Wonder Woman. Film Wonder Woman memang tipikal film dengan cerita yang sebetulnya sangat sederhana, tapi saya menyukai filmnya karena punya spirit feminisme dan kemanusiaan yang kuat dalam balutan kisah mitologi. Dan menyangkut beberapa element termasuk komedi dan naskah pun cukup berhasil. James Wan dipercayai merangkul Aquaman sepertinya ingin membawa film dengan tampilan keren dengan atraksi visual dan aksi. Dan bukan cuman itu, Wan beserta tim penulis naskah David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall menyuntikkan setiap element agar filmnya tidak hanya renyah dimata tetapi renyah pula dihati. Wan mencoba memasukkan semuanya kedalam film seperti tak luput membawa isu lingkungan alam dan pula sentuhan emosional tentang cinta dan keluarga. Tapi, dalam eksekusi hanya sedikit yang bisa terasa, selebihnya hanya cerita linear dan biasa tentang petualangan mencari trisula, perebutan takhta kekuasaan layaknya Black Phanter, klimaks perang layaknya LOTR versi bawah laut dan berbagai suntikan aksi dan cerita yang sebetulnya jika ditilik tampak familiar. Dan kesan familiar inilah yang mungkin menyebabkan kisahnya sendiri terjebak oleh naskah yang enggan keluar dari kebiasaan.

Ada hal yang saya suka dan tidak suka di film ini. Terutama imbas villain yang lagi-lagi seperti kebanyakan villain superhero lainnya, yaitu sifat megalomania yang tidak memiliki kompleksitas dan kurang berkesan. Komedinya pun terasa hit & miss, dan beberapa malah terdengar seperti dialog biasa. Hal-hal yang saya suka tentu masih ada, ditangan Wan aksinya tetap memancing adrenalin, bumbu Furious 7 masih terasa melekat dengan aksi yang kebanyakan memang penuh chase scences, pertama adegan yang sudah ditampilkan dalam trailernya yang berdurasi panjang (promosi trailer yang terlalu berlebihan dan sia-sia) dan kedua kejar-kejaran dengan The Trench, salah satu best scene menurut saya. Aksi dan visual berpadu dalam gaya sinematik khas film action fantasy yang menyenangkan. Tapi, memang meski bermain di ranah visual, terkadang Wan kurang menyajikannya secara lebih berwarna dan indah, beberapa tone kadang malah terasa gelap, kaku dan kurang bernuansa dimana sebenarnya banyak yang bisa di eksplorasi dalam tatanan visual laut dan kota Atlantis yang seringkali diceritakan sebagai kota legenda paling indah. Hal yang cukup saya suka adalah kostumnya, beberapa kostum berat dan nyeleneh tapi membuat filmnya tampil agak berbeda, seperti kostum yang dipakai oleh para tentara Atlantis yang kesannya mirip kostum di game Halo, pakaian ketat dan blinking dipakai Mera dan Arthur yang awalnya kelihatan aneh tapi saya pikir kostumnya bagus dan tidak terlalu berlebihan. Dan ada Willem Dafoe disini berperan sebagai penasehat raja Atlantis yang loyal bernama Vulko, entah kenapa di film ini dandanannya tidak segarang film-film lainnya dan tampak lucu dengan gaya rambutnya yang klimis itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Wah! ga nyangka sudah lama sekali saya tidak membuat artikel dan review film setelah 3 bulan rehat, padahal maunya cuman sebentar aja tapi rupanya semakin lama saya istirahat malah membuat saya semakin berat dan malas menulis blog lagi. Dan akhirnya blog ini nganggur selama 3 bulan lebih. Tapi at last, saya niatkan diri kembali membuat artikel blog film lagi meski nantinya tulisan ga sebagus dulu karena sudah lama tidak melatih menulis. Nah, sementara ini saya bukan mau curhat tentang masalah itu dan lupakan sejenak, tapi disini saya mencoba membuka kembali review film yang sudah lama terbengkalai dan tak terurus hingga akhirnya ada satu review film yang mungkin cukup menarik dan membuat saya tertarik kembali untuk memberikan ulasan terhadap film, ya film apalagi selain film yang pasti membuat interest bagi penduduk laki-laki terutama saya, haha... ya, tidak lain adalah Wonder Woman yang diperankan oleh seorang artis cantik dan mantan model dari Israel, Gal Gadot.

Melihat track record DCEU (DC Extended Universe) yang sering gagal melampaui ekspetasi dan rasa puas fans dan penonton hingga berujung kegagalan BvS dan Suicide Squad pada masa itu, kecuali The Dark Knight trilogi nya Nolan. Akhirnya kebuntuan proyek DC dibayar lunas dan diselamatkan oleh figur wanita. Tidak tanggung-tanggung bahwa yang menyelamatkannya bukan cuman satu wanita tapi dua, pertama dibalik layar, sang sutradara Patty Jenkins dan didepan layar, sang pemeran utama Gal Gadot. Entah apa yang dipikirkan oleh DC sehingga mau mendapuk Jenkins yang notabene lebih mengarah pada genre ciri khas-nya yaitu drama seperti "Monster" dan menangani beberapa episode drama TV Series. Tapi, nyatanya keberuntungan berpihak pada film ini setelah 141 menit saya akui tak ada rasa bosan dan saya pun sangat terhibur dengan cerita solid dengan beberapa bumbu komedi di dalamnya.

Ya, meski kesolidan cerita Wonder Woman sendiri cukup tersandung oleh beberapa mekanisme cerita yang terbilang biasa saja, ditambah ketidakmampuan Patty menangani masalah teknis yang cukup serius kurang membangun ketegangan dan daya tarik efek visual dan CGI dengan lebih seru dan menantang layaknya Zack Synder atau Michael Bay. Tapi, justru sebaliknya apa yang tidak bisa dibangun oleh mereka berdua bisa ditangani dengan cara yang jauh lebih baik oleh Jenkins yang mampu mengeluarkan seluruh daya tarik seorang Gal Gadot yang terbungkus menjadi seorang wanita feminis tapi perkasa sang 'princess of the Amazons', Wonder Woman aka Diana dari keseluruhan eksistensinya yang tidak sekedar menjual tubuh sensual dan kecantikan. Dengan tema yang sudah pasti bisa berujung pada cerita maskulin ini mampu di pukul sama rata bagaimana seorang wanita mampu eksis ditengah-tengah dunia keras dan kejamnya pria.

Ketangguhan seorang Diana terpancar karena aura meyakinkan dari seorang Gal Gadot yang buat saya pribadi dia betul-betul pantas memerankannya. Disini Jenkins meyakinkan bahwa superhero bukan sekedar kuat atau mampu mengalahkan musuh atau orang jahat sekali pukul, tapi bagaimana cerita mengalir menggunakan hati dan emosi seorang Diana, cerita bergulir dari ketangguhan dan keberanian yang dimiliki seorang Wonder Woman sejatinya adalah orang yang tidak memahami dunia luar, eksis dalam keterasingan dan buta akan dunia, tapi mampu mempengaruhi dengan cara yang sangat aneh namun beautifully enchanting. Dengan latar perang dunia II, beralaskan dunia penuh penderitaan dan kekelaman Wonder Woman bukan cuman memproses dirinya menjadi lebih kuat secara fisik dengan daya tahan tubuh bak Superwoman yang bahkan dijuluki dengan julukan seram "godkiller", tapi juga kuat secara personal emotion yang dipadukan keberanian, kepercayaan dan kelembutan dalam dirinya.

Another charming, selain dari daya tarik kecantikan dan pesona Gal Gadot tidak lupa bahwa setiap superhero selalu didampingi oleh love interest-nya sendiri yang diperankan oleh cukup apik dan sama-sama mempesona yang selalu berada disamping Diana, Chris Pine aka Steve Trevor. Meski tampang Chris Pine yang lebih cocok sebagai playboy urakan nan tampan, aktingnya disini terasa canggung dan konyol. Harus saya akui sendiri sebelum awalnya menonton film ini duet antara Gadot dan Pine terasa menjanggal antara chemistry mereka satu sama lain, hingga akhirnya ekspetasi itu terpatahkan dengan sendirinya. Mereka ternyata lebih dari sekedar hubungan romantis nan klise, mereka muncul bagaikan dua tonggak berdirinya cerita Wonder Woman. Dari sekedar pertemuan dan peristiwa tak sengaja, lalu awkward moment, percakapan lucu dan nakal, hingga bentrokan kepercayaan yang bersifat dogmatis antara mereka berdua.

Well, setiap adegan dan cerita mungkin terasa biasa saja bahkan nuansanya mungkin sudah predictable bagi beberapa penonton (bahkan villain sendiri terbilang nothing special). Dengan asal muasal cerita yang berasal dari karangan Zack Synder sendiri beserta dua partnernya Allan Heinberg dan Jason Fuchs, tentu saja saya masih tetap kurang menyukai apa yang dihasilkan oleh cerita ciri khas miliknya itu, sehingga Patty Jenkins sendiri yang awam dengan film semacam ini saya sangat memberikan pujian setinggi langit pada dirinya dengan kemampuannya menangani dan menterjemahkan cerita standard Synder menjadi cerita yang solid dan penuh dengan moralitas kemanusiaan. Dan juga meski diperankan oleh seorang wanita sebagai figur utama cerita tapi film ini bukan tentang feminisme atau semacamnya, tapi menyikapi stereotipe mungkin masih menjadi udara segar bahwa gender wanita bisa jauh lebih hebat dan jauh lebih memikat dari superhero pria pada umumnya, dan Wonder Woman mengobati luka hati fanboys DC dan audience lainnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jika ditanya tentang film superhero yang paling ditunggu selain Batman vs Superman di tahun 2016, tentu nama Suicide Squad arahan sutradara David Ayer (End of Watch, Fury) menjadi yang paling bikin penasaran. Dengan berbagai promosi trailer film yang begitu antusias dengan temanya yang eksentrik, darkly, theme song asyik yang berbeda-beda dipenuhi oleh para bad guys sebagai menu utama, terutama eksistensi the new Joker yang diperankan Jared Leto tentu membuat semua orang tak sabar dengan salah satu film DC Comics ini.

Singkat cerita Suicide Squad masih dalam dunia dan kota yang sama yang ditinggali Superman dan Batman-nya Zack Synder, Gotham City. Pembentukan tim Suicide Squad ini didasari oleh ketakutan pemerintah dimana kekuatan meta human semacam Superman tidak bisa dikontrol dan bisa terjadi malapetaka jika suatu hari nanti orang seperti superman membelot ke arah kejahatan dan menjadi musuh dunia. Dipimpin oleh agen pemerintah bernama Amanda Waller (Viola Davis), Waller merekrut penjahat-penjahat paling berbahaya yang pernah ditangkap oleh para superhero, Justice League. Menggunakan jasa dan kekuatan mereka untuk melindungi dunia dan pemerintahan dari ancaman-ancaman besar yang akan datang.

Lagi-lagi DC Comics beserta karakter-karakter komik kesayangannya harus kembali menuai kegagalan dalam mengadaptasi cerita dan tokoh-tokoh semenarik ini. Saya bukan menilai Suicide Squad dari segi komersil, untuk pendapatan film ini di Amerika mencapai $325,021,779 dari budget awal $175,000,000 (Estimasi). Kekurangan film ini memang terasa ketika David Ayer tak mampu mengemudikan cerita film ini dengan lebih baik. Awalnya memang tampak bagus dan menarik ketika Ayer dengan gampangnya mengenalkan setiap karakter secara menarik dan gampang disukai. Tapi, kemudian ia tampak kepayahan bagaimana mengatur setiap cerita dan adegan yang terasa mondar-mandir.

Bagian terburuknya adalah naskah cerita yang terasa dangkal dan hanya sebuah film antihero yang ceritanya terasa sangat klise yang terdiri beberapa segmen familiar. Contohnya seperti bagaimana nantinya terdapat baku hantam di kota Gotham yang dikuasai supervillain dengan banyaknya kacung monster yang gampang dikalahkan. Lalu, diakhiri dengan ending yang juga klise dan betul-betul buruk, bagaimana nantinya para antihero ini mengalahkan monster dan kudu menghancurkan tower-power sama seperti biasa. Dan saya juga menyayangkan aksi pertempuran para antihero ini pun tak ada yang terasa mengikat, justru yang terjadi adalah baku hantam yang terasa standard dan biasa saja. Bahkan masih sedikit eyecatching saat Synder masih membuat sebuah gebrakan seru dari pertempuran di Man of Steel dan Batman vs Superman.

Mengabaikan cerita utama yang terasa dangkal. Suicide Squad menghadirkan selipan cerita para antihero beserta latar berlakang mereka dengan cukup menarik. Dan yang paling menyita perhatian adalah kisah cinta antara Harley Quinn (Margot Robbie) dan The Joker (Jared Leto). Hubungan kasmaran yang terkesan gila, absurd, dan aneh ini cukup menjadi nilai tambah dari film ini. Kita akan melihat betapa tergila-gilanya Harley Quinn dengan The Joker, sampai-sampai orang sesinting dan psikopat seperti Joker bisa luluh hatinya. Dan juga beberapa segmen kisah Deadshot (Will Smith) beserta kehidupan normalnya dan juga kisah-kisah antihero lainnya.

Sebetulnya saya suka bagaimana Ayer masih menggabungkan sisi humanisme dan keinginan para penjahat kelas kakap ini untuk hidup normal dan jauh dari anggapan-anggapan masyarakat bahwa mereka juga tetap manusia dan bukanlah sampah. Dan cukup mengesankan bahwa ada sedikit sentilan tentang moralitas bagaimana bad guys ini cuma dijadikan benda tak berharga yang hanya dijadikan tameng pemerintahan. Jika mati maka nyawa mereka tidaklah berharga. Menilik bahwa yang sebetulnya bersifat jahat dan pengacau adalah para pemerintahan itu sendiri. Bahkan saya merasa para anggota Suicide Squad ini tidak benar-benar digambarkan sebagai orang-orang jahat berhati bengis, justru yang saya rasakan mereka cuma sekumpulan sosiopat yang dikucilkan dalam masyarakat.

Memang hal yang teramat disayangkan sebetulnya. Jika melihat bagaimana akting para pemain di Suicide Squad ini benar-benar totalitas dan maksimal. Tak ada satupun karakter yang tidak saya sukai disini. Yang pertama menarik perhatian adalah akting Margot Robbie dan Jared Leto. Dua orang inilah yang membuat saya dan sebagian orang lainnya ingin menyaksikan film ini. Margot Robbie berhasil menciptakan karakter sama gilanya dengan Jared Leto sebagai sepasang kekasih. Saya juga sependapat bagaimana cocoknya Margot Robbie berperan sebagai Harley Quinn, meski gila dan banyak oceh tapi saya yakin tidak sedikit pria dimanjakan dengan keseksian, kecantikan dan juga kegilaan yang diperlihatkannya. Dan juga Jared Leto sebagai the new Joker akting totalnya disini hampir membuat saya menyandingkannya dengan Jokernya Heather Ledger. Termasuk ketawanya yang aneh dan disturbing. Tapi, sayangnya apa yang kita inginkan harus dikubur hidup-hidup, nyatanya peran gilanya tidak dieksplorasi lebih dalam. Disini The Joker malah tak ada sangkut pautnya dengan cerita inti, yang ada tujuannya hadir disini hanya untuk menyelamatkan love interestnya yang disekap oleh pemerintah.

Untuk aktor lain seperti Will Smith (Floyd Lawton aka Deadshot), sebagai ahli penembak jitu beserta latar belakang kehidupan normalnya bersama putri tercintanya. Adewale Akinnuoye-Agbaje (Waylon Jones aka Killer Croc), sebagai monster seram dan kuat yang belakangan terlihat diam dan jarang bicara. Jai Courtney (George Harkness aka Boomerang), sebagai perampok bank yang bertingkah gila dan aneh. Jay Hernandez (Chato Santana aka Diablo), sebagai mantan anggota gangster yang sudah tobat yang dapat mengeluarkan api dari tubuhnya. Cara Delevingne (Enchantress), sebagai wanita penyihir yang punya kisah asmara dengan tentara yang memimpin regu Suicide Squad, Rick Flagg (Joel Kinnaman). Katana (Karen Fukuhara), wanita jepang yang membawa samurai sebagai kaki tangan Rick Flagg, yang juga jarang bicara. Dan terakhir, Viola Davis (Amanda Waller), sebagai boss Suicide Squad yang bertangan dingin dan juga licik.

Jika memandang Suicide Squad sebagai film antihero yang keren, sekeren ekspetasi saya dengan promo-promo besar trailer dan gambar-gambarnya, saya rasa sekali lagi DC Comics kembali menuai kegagalan. Sebanyak saya menonton film-film DC Comics yang melekat dengan tema gelap dan suramnya, harus diakui dari kacamata pengamatan saya, DC Comics yang berlomba-lomba dengan Marvel sebagai rivalnya harus kembali jatuh. Meski pamor dan eksistensi keduanya sama-sama kuat dan bepengaruh sebagai studio komik terbesar di Amerika, untuk beberapa kualitas film belakangan ini saya tidak terlalu memuji hasil dari DC Comics. Mungkin hal menarik buat saya dari Suicide Squad sendiri adalah beberapa soundtrack yang beberapa bulan terakhir ini cukup diminati dan disukai, seperti lagu yang saya sukai dengan judul 'Sucker For Pain', 'Purple Lamborghini', dan 'heathens'.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates