• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dalam kurun waktu 2 dekade kita sudah mengenal 3 karakter Spider-Man modern yang diperankan oleh Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland. Ketiga-tiganya memiliki plot cerita yang hampir sama, entah kisah percintaan, pekerjaan, intelektual, tragedi paman Ben, dan segala yang sudah terasa familiar dengan karakter bernama Peter Parker. Nah, mungkin ide untuk membuat film Spider-Man out of the box dari kisah-kisah yang saya rasa lama-lama bakal jadi klise, tim studio Marvel beserta Sony Pictures berusaha untuk keluar dari kebiasaan lama. Maka tetap mengambil asal-usul adaptasi komiknya, Miles Morales (Shameik Moore) menjelma menjadi sosok the new Spider-Man. Tentu saja Spider-Man yang lebih muda dan segar, ayah dan ibu yang masih hidup, tanpa kisah cinta, dan berkulit hitam.

Miles Morales adalah remaja belasan tahun yang hidup bersama kedua orang tuanya. Miles memiliki seorang Ayah yang tidak ia sukai bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), seorang polisi yang keras dan kerap mengatur kehidupan pribadinya. Miles pun memiliki seorang paman yang ia cintai dan dekat dengannya, Uncle Aaron (Mahershala Ali) yang justru menjadi ayah keduanya. Miles sebetulnya hidup di kota yang sama dengan Peter Parker, dan mungkin diperkirakan 20 Tahun setelah kejadian-kejadian yang kita kenal sebelumnya, telah menikah dan hidup bahagia bersama Mary Jane. Beberapa plot cerita pastinya tidak akan saya jelaskan secara rinci, yang pasti disaat yang sama ketika Miles tergigit laba-laba misterius, seorang penjahat mencoba mengacaukan dimensi, sehingga beberapa Spider-Man di dimensi/universe lain tertarik ke dalam dunia tempat Miles tinggal, dan tugasnya sekarang adalah membawa pulang kembali para Spider-Man dan menyelamatkan kota dari kekacauan.

Melalui sebentuk animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film penuh kekacauan, kerumitan dan keanehan. Baik karakter, cerita maupun visual animasinya sendiri. Berbagai macam karakter Spider-Man bermunculan, actually dari Spider-Man berperut buncit dan paling menyedihan, Spider-Man Noir, Spider-Woman, dan Spider-Man paling aneh dan konyol mirip tokoh kartun Looney Tunes, Porky Pig. Segala hingar bingar cerita yang konyol, melewati batas imajinasi dan pikiran liarnya, sentuhan ini tentunya didapat dari naskah dan ide Phil Lord dan Rodney Rothman, terutama Lord yang notabene membuat Spider-Verse layaknya The Lego Movie. Dibelakangnya pula terdapat tiga sutradara serangkai yang memang sudah pernah menangani animasi lain Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman.

Untuk animasi visualnya sebetulnya sedikit non-konvensional, lihat saja efek ledakannya yang menyerupai gelembung sabun, beberapa desain karakternya yang nyeleneh dan kadang ambigu untuk dibawa ke realita kehidupan Miles. Tapi, tentu saja kita dapat memaklumi bahwa kita dapat beranggapan film ini serupa animasi The Lego Batman Movie (2017), jangan pernah bertanya tentang logika dan keabsurdannya, tapi kita menyadari bahwa ini adalah film animasi, dimana kebanyakan memang tak memerlukan pemahaman tersebut. Selama film masih membuat tertawa, menyentuh hati dan masih related dengan kejadian-kejadiannya, Spider-Verse memiliki hal tersebut. Dalam keseruan efek animasi yang tajam dan mengikat, yang paling saya suka adalah perpaduan animasi dan lagunya yang terasa klop, salah satunya lagu "Sunflower" yang dinyanyikan Post Malone dan Swae Lee terasa renyah berapa kalipun di putar dan dinyanyikan oleh Miles sendiri, bahkan saat filmnya selesai. Dan faktanya saya sudah sering mendengar lagu ini sebelum filmnya dirilis, bener-bener adem dan renyah didengar.

Dari segi cerita, selain humor khas Phil Lord, film ini tetap mengeksplorasi ruang perasaan dan hati dalam ceritanya yang penuh ironi. Berbarengan dengan pendekatan kisah familiar seperti romansa hubungan Peter dan Mary, sedikit cuplikan kereta Spider-Man 2-nya Sam Raimi yang paling memorable, berbagai pop-culture yang memperkaya dunia Spider-Man. Memang film ini tidak hanya menghibur, tapi memang benar-benar film tentang Spider-Verse yang kadang terasa seperti nostalgia. Berbagai villain pun muncul disini, dari Doctor Octopus, Scorpion, Green Goblin, dan Kingpin. meski tidak terlalu banyak dimunculkan karena memungkinkan membebani cerita. Mengatakan Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film terbaiknya Spider-Man? Melihat kekayaan dan motivasi film ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan cinta pada karakternya yang paling ikonik, tentu saja tanpa ragu saya mengatakan filmnya benar-benar keren, bernuansa, eksploratif, kaya, unik dan menyentuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kebanyakan film LGBT yang selalu saya tonton filmnya dibawa dengan penceritaan yang melulu penuh ironi dan terkesan serius. Love, Simon yang diambil dari kisah novel "Simon vs. Homo Sapiens" karya novelis Becky Albertalli punya ruang cerita yang lebih bittersweet dan tampil begitu hangat dan berwarna, bahkan bumbu komedi dengan gaya coming of age ini membuat film bertema isu LGBT betul-betul ringan. Disutradarai oleh Greg Berlanti, Love, Simon bercerita soal Simon Spier (Nick Robinson), remaja Gay dengan kehidupan normal dan bahagia, tapi menyimpan rahasia yang tak pernah ia curahkan kecuali kepada seorang pria misterius yang bernasib sama dengannya, blue. Sering berkontak melalui pesan surel Simon kemudian jatuh cinta dan mencoba mencari cara agar dapat bertemu dengan pria misterius berinisial "blue".

Saya tidak bisa berhenti tersenyum dan tersentuh. Berbicara soal pengakuan, semua persoalan dalam ruang lingkup keluarga, sahabat, sekolah bahkan cinta melebur menjadi satu cerita yang menarik. Love, Simon menjadi salah satu film penting bagaimana kita bisa mengartikan sebuah kata toleransi, dukungan, kebaikan dan keberanian yang pendekatan dan kemasannya begitu cantik, manusiawi dan powerful. I love this movie!
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kadangkala seorang filmaker/sutradara membuat film bertujuan untuk menyelipkan pesan atau isu penting yang mampu ditangkap dengan mudah oleh penontonnya. Dan yang paling krusial pesan tersebut harus mampu direspon baik melalui emosi dan logika penontonnya. Terutama apakah film tersebut mampu ditangkap secara visual melalui akal sehat. Bisa dibilang Guillermo del Toro yang selalu akrab dengan film visionernya yang unik dan selalu meleburkan inovasi dan imajinasinya melewati batas-batas sinematis tertentu. Tapi, sejujurnya ini bukan lagi kisah dark fantasy konvensional seperti karya-karya del Toro sebelumnya seperti The Devil's Backbone dan Pan's Labyrinth, melainkan sebuah langkah berani dan menantang tentang konsep mustahil tentang cinta seorang manusia, tapi del Toro menciptakannya.

Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah wanita penyendiri dan kesepian. Ia bekerja sebagai janitor di sebuah fasilitas penelitian rahasia milik pemerintah. Setting film ini diambil sekitar tahun 1962, saat perang dingin antara Amerika dan Rusia sedang berkecamuk. Elisa sendiri adalah seorang tunawicara, ia tidak bisa berbicara semenjak lahir. Dia memiliki dua teman dekat, pertama tetangganya, Giles (Richard Jenkins) pria tua (yang saya kira bapaknya) yang bekerja sebagai freelance artist yang juga hidup kesepian dan Zelda Fuller (Octavia Spencer) teman kerja Elisa yang sama-sama seorang janitor. Suatu hari Elisa dan Zelda mendapati seorang seekor monster amfibi "Amphibian Man" (Doug Jones) misterius yang baru dibawa oleh Richard Strickland (Michael Shannon) sebagai bahan eksperimen. Tapi, monster yang tampak seram dan berbahaya tersebut ternyata memiliki kemiripan layaknya manusia, dan membuat Elisa merasa tertarik dan jatuh cinta padanya.


Ada yang menyebutnya sebagai kisah fairy tale "Beauty and the Beast", tapi saya rasa konsepnya tidak sesederhana dan semanis itu, tapi jauh lebih dewasa dan kompleks yang sejalan dengan arti, "Siapapun berhak mendapatkan cinta". Dan bagian terdalamnya, cinta bukan soal fisik, tapi tentang respon emosional yang mungkin akan terdengar complicated, tapi del Toro menyampaikannya secara lugas dan cermat tentang apa itu cinta dan dibalik itu terdapat pesan isu orientasi seksual. Apalagi konsep soal impossibility's no matter of love in the world semakin terasa kuat bagaimana del Toro bermain soal cinta tanpa penggunaan bahasa verbal sedikitpun, selain dunia antara Elisa dan Amphibian Man yang jelas kontras berbeda, di dunia tanpa kata-kata hubungan mereka bagai terhubung oleh jembatan tak kasat mata.

Mungkin terasa sangat ganjil dan aneh, apa yang dibawa oleh del Toro dengan ambisinya yang absurd nan gila. Bahkan pesan moral soal cinta yang menghampiri Elisa, bukan serta merta dibuat berdasarkan rasa empati semata, justru dibuat dengan ikatan seksual. Mengingatkan saya dengan salah satu karya Aaron Moorhead dan Justin Benson, "Spring". Tapi, dalam film Spring atau Beauty and the Beast, keduanya masih memiliki bentuk/wujud manusia yang membuat kita masih bisa menerima konsekuensi atas emosi tersebut, lain halnya dengan Amphibian Man yang hanya mengambil sedikit sekali identitas/wujud manusia, tidak sama bahasa, alam dan rupa.


The Shape of Water buat saya bukanlah sebuah ke-absurdan, sebaliknya del Toro bersama Vanessa Taylor yang bergandengan menuliskan naskah justru memiliki cerita puitis dan jujur. Ada adegan ketika Elisa membayangkan dirinya bisa berbicara dan mengungkapkan perasaannya pada Amphibian Man sambil menari diatas panggung, mirip adegan di film "The Artist". Dibalik cerita yang gelap dan sentimentil yang kerap menciptakan suasana horror, ada aura keluguan dan kekakuan terpancar dari karakter Elisa yang diperankan dengan sangat luar biasa oleh Sally Hawkins, selain harus berakting bisu, ditambah adegan frontal dan berani ia lakoni tanpa sehelai benang-pun. Elisa adalah wanita pemberani di balik sifatnya yang lazim sekaligus unik, berbanding terbalik dengan Zelda, yang terbilang cerewet tapi caring. Richard Jenkins yang perannya pun cukup dominan, bermain peran dengan Sally terasa memiliki chemistry yang kuat, seolah mereka berdua tampak seperti ayah-anak karena memiliki sifat yang cenderung sama. Dan salah satu aktor favorit saya, Michael Shannon, sayang aktingnya kurang memikat di film ini, meski saya suka kemampuan Shannon betukar peran baik sebagai protagonis maupun antagonis di beberapa film sebelumnya. Entah kenapa, mungkin karena pendalaman tokoh Strickland yang stereotipikal, seharusnya pengenalan sampai kerumah tangganya bisa menjadi suntikan moral yang lebih dalam.


Tapi, diantara itu semua adalah kekuatan sinematis yang dibuat oleh Dan Laustsen, yang membawa The Shape of Water menjadi salah satu pemenang Oscar dalam Best Motion Picture of the Year, juga mengantongi 3 kategori lainnya. Melalui ciri khas del Toro, tone gelap dengan dominasi siluet, green dan teal, dan tak jarang membaurkan sedikit palet warna merah, tiap bingkai adegan dibuat begitu indah dan membekas, bahkan warna tersebut kerap menjadi simbolisasi yang mampu berbicara banyak yang kadang dijelaskan melalui dialog. del Toro menjelaskan bahwa film ini awalnya akan dibuat hitam-putih, tapi kemudian diputuskan untuk membuat film berwarna, warna hijau dominan mewakilkan soal masa depan (baca ini atau ini). Selain dari daya tarik visual hingga desain produksi yang memukau, gubahan musik dan scoring film ini pun mampu memberikan nuansa klasik dan elegan yang kadang pas dengan setiap adegan yang ada, sehingga The Shape of Water tidak saja menembus batas-batas imajinasi, daya pikatnya pun terhantar begitu dalam menghipnotis hampir ke seluruh indera.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sejak dulu saya selalu berangan bisa menuliskan atau setidaknya membuat sebuah film autobiografi kehidupan saya sendiri, hanya saja siapa yang mau mendengar cerita hidup saya yang sangat membosankan dan tidak terlalu penting. Tapi, kadang berbagai film seperti Boyhood, Edge of Seventeen, 20th Century Woman atau Paterson, kesederhanaan dan kekosongan yang kita lewati dalam hidup, jika kita mau melihat diri kita sendiri lewat sudut pandang orang ketiga ternyata hidup ini menyimpan sesuatu yang bermakna dan bernilai tinggi tanpa kita sadari. Itulah kenapa saya bisa begitu jatuh cinta dengan film yang tampil dengan kesederhanaannya sama seperti kisah semi-autobiografi dari debut penyutradaraan Greta Gerwig, Lady Bird yang related dengan kehidupannya sendiri.

Lady Bird atau nama tokoh utama bernama lengkap Christine "Lady Bird" McPherson (Saoirse Ronan) sebetulnya remaja SMA 17 tahunan yang serupa dengan gadis belia seusianya, punya banyak impian, struggling dan naif. Mengambil setting lokasi sama dengan tempat lahir Greta, Sacramento, California di tahun 2002, film ini menceritakan sekelumit kisah kehidupan keluarga, sekolah, sosial dan percintaan dari gadis yang bermimpi bisa kuliah di New York dan pergi meninggalkan kota tempat ia dibesarkan.


Sebetulnya kisah Lady Bird sekelibat tampak membosankan, bukan? Apalagi pernah teman saya yang melihat sebentar cuplikan trailer film ini pun jadi enggan menontonnya hanya karena trailernya tampak tak menarik dan terkesan generik. He was very wrong! Justru bagian menariknya adalah sang tokoh utama itu sendiri yang membuatnya menarik, nama "Lady Bird" (dengan tanda kutip) sama seperti tatanan warna rambut merahnya yang unik adalah hasil kreasinya sendiri, bahkan ia bersikeras menolak dipanggil dengan nama aslinya, "I gave it to myself. It’s given to me, by me". Selain itu Lady Bird adalah gadis yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian dan mencoba berbeda dari yang lain, tampak dari berbagai kekonyolan yang ia lakukan kadang membuat saya tersenyum simpul.

Lady Bird adalah gadis yang keras kepala, sangat vocal, naif dan selalu berusaha menjadi pusat perhatian orang lain disekitarnya. Interpretasi nama Lady Bird seperti mewakili ciri seekor burung yang bisa terbang tinggi bebas dan berkicau semaunya dimanapun ia berada dengan pesona yang coba ia tebarkan ke dunia. Dalam keluarganya, Lady Bird selalu bertengkar dengan ibunya Marion McPherson (Laurie Metcalf) yang sama-sama keras kepala dan bersikap otoriter terhadap hidupnya, bahkan masalah-masalah sepele hingga adu mulut pun membuat kericuhan kecil seperti kucing dan tikus, meski setelahnya mereka kembali akrab satu sama lain dan pertengkaran sebelumnya pun terlupakan. Berbanding terbalik dengan ibunya, ayahnya Larry McPherson (Tracy Letts) justru bersikap sangat lunak dan pasif meski Larry tetap bisa menjadi figur ayah yang baik dan memberikan support terhadap apa yang anaknya inginkan. Lady Bird pun memiliki kisah cinta, dari pacar pertamanya yang canggung Danny (Lucas Hedges) dan pacar keduanya Kyle (Timothée Chalamet), anak band yang berteman akrab dengan gadis populer dan modis disekolahnya, Jenna (Odeya Rush). Bertemu dengan problematika dari putus cinta dan pengalaman seks pertamanya memberikan dinamika kehidupan Lady Bird seiring pencarian jati dirinya sebagai seorang wanita.


Nama Greta Gerwig tentu saja sangat mengejutkan, Lady Bird sebagai debut penyutradaraannya mampu ditanggapi positif sebagian besar kritikus bahkan sanggup terpilih dalam 5 nominasi Oscar, salah satunya pada kategori tertinggi "Best Motion Picture of the Year", meski disayangkan Greta belum mampu menyabet satupun piala disana. Membawa kisah kehidupannya sendiri melalui film indie bergaya hipster, Lady Bird adalah film yang begitu realistis terutama kehidupan Lady Bird sangat mencerminkan kehidupan sehari-sehari. Selain itu Greta berhasil mendeskripsikan setiap konflik dan tokoh sampingan tidak terbuang sia-sia, semua tokoh mampu dihidupkan dan mengisi kehidupan sang tokoh utama. Naskah yang ditulis sendiri oleh Greta pun diisi dengan dialog-dialog yang tidak membosankan dan padat makna, sebagaimana Greta memang sudah terbiasa menulis naskah film semisal Mistress America dan Frances Ha.

Mendapuk Saoirse Ronan sebagai karakter sentris dan artis senior Laurie Metcalf, keduanya mampu merealisasikan relasi ibu-anak yang terasa natural, powerful, lucu, manis dan emosional, mungkin tidak heran jika keduanya pun bisa meraih nominasi di ajang piala Oscar kemarin. Dan tentu saja sentuhan sinematografi yang terhampar dari tiap sudut take-shot yang menawan dan perfect, meski pengambilan gambarnya hanya melalui sudut rumah, pertokoan, dan sekolah katolik tempat Lady Bird belajar tapi gaya sinematis ini mendukung susunan cerita yang menambah suasana terasa warm dan sweet. Seolah Greta bukan saja ingin menyampaikan semi-otobiografi dirinya, tapi melalui kota kelahirannya Sacramento, Greta ingin mewakilkan rasa rindu dan cinta dirinya oleh ikatan kuat masa lalu di kota yang pernah ia tinggali.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah sekian lama blog menganggur dan tidak menonton film, dikarenakan sampai hari ini mencari mood untuk menonton itu susah dan ke-sok sibukan saya di dunia nyata, hingga salah satunya saya terlena mengurus blog lain yang ternyata lumayan berhasil di monetisasi. Lalu, saya kepikiran dengan blog lemonvie yang tampaknya tak kunjung berkembang, bukan masalah soal (ngarep) monetisasi google adsense yang tak kunjung diterima, tapi hanya saja terlalu sayang bahwa blog yang sudah berumur 2 Tahun lebih ini akhirnya jadi terbengkalai karena kemalasan saya menulis. Padahal saya sudah membuang uang demi membuat domain khusus buat blog ini. Jadi, kebetulan karena dari kemarin saya penasaran dengan film-film Indonesia, lalu saya mencoba mencari referensi film Indonesia yang bagus, dan bertemulah saya dengan film berjudul Posesif yang dirilis tanggal 26 Oktober 2017 kemarin.

Seperti tampak dari judul dan poster yang manis dengan warna cerah yang menggambarkan kebahagiaan dua pasang remaja SMA Yudhis (Adipati Dolken) dan Lala (Putri Marino) yang sedang memadu romansa kehidupan cinta mudanya, saya mengira film yang disutradarai oleh Edwin ini bakal bercerita banyak soal romantisme klise murahan bergaya rom-com ala drama FTV. Tapi, diluar ekspetasi Posesif berubah menjadi film dengan taste berbeda, cerdik merangkai naskah yang memiliki limpahan gejolak emosional luar biasa untuk drama coming of age yang minimalis seperti ini, apalagi nuansa sekolah sederhananya membentuk kejenakaan dan kenaifan remaja yang justru disentil melalui penceritaan yang realistis dan berani oleh Edwin.

Lala adalah seorang gadis SMA sekaligus atlet lompat indah, bersama ayah sekaligus pelatihnya (Yayu A.W. Unru), Lala menjadi anak tunggal semata wayang yang menjadi tumpuan harapan keluarganya agar bisa menjadi atlet lompat indah profesional seperti mendiang ibunya yang telah tiada. Suatu hari Lala bertemu dan berkenalan dengan Yudhis, murid pindahan baru yang bersekolah ditempatnya. Karena saling tertarik dan jatuh cinta keduanya pun berpacaran, namun meski begitu hubungan mereka harus mengalami jungkir balik yang menyertai hubungan keluarga hingga masalah berat yang menguji komitmen dan masalah cinta diantara mereka.


Edwin sang sutradara memang bukan sutradara yang boleh dipandang sebelah mata, lewat karya film pendeknya berjudul Kara, Anak Sebatang Pohon yang berhasil menembus ajang Festival Film Cannes 2005 dalam sesi Director's Forthnight. Selain itu film pendek lainnya, Perempoean Yang Dikawini Andjing diputar di berbagai ajang festival internasional dan berhasil meraih berbagai pernghargaan dalam negeri. Jadi, bisa dikatakan Edwin ini memang bukan filmmaker konvensional, setelah Posesif pun akhirnya film karya terbarunya ini mendapatkan berbagai penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017 dalam kategori Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino) dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk (Yayu Unru).

Maka dari itu Posesif melalui naskah cerita Gina S. Noer (Rudy Habibie, Pinky Promise) terbilang luar biasa yang mampu menekan sisi gelap dari yang namanya berpacaran, alias sisi yang menimbulkan tindak kekerasan dalam love-relationship. Posesif mampu membuat judul terasa kuat dan lekat dalam cita rasa yang berbeda, kuat mengiringi bukan saja lewat hubungan dan masalah antara Yudhis dan Lala, tapi permasalahan yang saling berbenturan satu sama lain antara kehidupan sosial Lala maupun masalah antara keluarga yang juga saling menguatkan definisi soal Posesif itu sendiri, semacam bola billiard yang dipukul saling berbenturan satu sama lain menimbulkan kompleksitas dan keriuhan yang berarti. Menonton Posesif ini ibarat saya seperti merasa was-was saat menonton film "The Gift", yang mampu menimbulkan rasa tidak nyaman, ketakutan dan teror,  tentu saja yang berbeda adalah definisi bahaya itu sendiri datang dari orang yang paling dekat dan paling dicintai.


Edwin pandai meracik narasi, meski menenggelamkan saya ditengah-tengah cumbu, rayu dan gombal disetiap adegan dan dialog yang kadang terselip kelucuan, tapi tidak membuatnya menjadi chessy dan justru membuat chemistry kedua tokoh utamanya semakin kuat. Karena chemistry yang dibangun saya semakin lupa dan akhirnya tersadar, bahwa Edwin sebenarnya sedang membawa saya pada tahap realita kehidupan, tak ayal membangunkan saya dari mimpi-mimpi indah tentang cinta yang sesungguhnya racun dan tentu saja relatively violent, bahwa ia pun mampu membawa luka juga melukai tanpa sadar. Posesif membawa sebuah kisah yang relatable, mengundang pernyataan bahwa cinta itu bisa mendatangkan labilitas emosional dan psikologis. Dan kemudian ikatan kuat itu malah membuatnya semakin menjerat dan merantai. Ada kompleksitas yang hadir, obsesi serta kegilaan membuat perasaan saya menjadi campur aduk menonton film ini.

Tentu saja kekuatan itu mampu ditunjukkan melalui akting para pemeran utama dan pendukungnya, terutama Adipati dan Putri yang tampil memikat. Salah satunya Yudhis yang diperankan Adipati. Tokoh yang sempat membuat saya menyangka hanya sebagai protagonis sentris biasa, namun kemudian ia berubah menjadi antagonis berbahaya, dibalik sikapnya yang penyayang dan pengertian, namun ia over possessive, temperamental, hingga kadang bisa berperilaku kasar dan kejam. Lalu ada Putri Marino yang berperan sebagai Lala yang mampu mensinkronitaskan kehadiran Yudhis, seorang gadis biasa nan luar biasa yang mampu menarik perhatian hati saya, melalui setumpuk masalah kompleks dan penderitaan baik fisik dan psikis, tapi ia adalah wujud dari tough-girl, dari kesetiaan, ketulusan dan pengorbanannya meski dibalik itu pun ia sosok yang naif dan egois. Tapi, tak urung mengimbangi sosok Yudhis yang keduanya punya karakter kuat. Posesif mampu menunjukkan sebuah 'warning' dalam realitas kehidupan remaja atau dewasa sekalipun dalam tindak kekerasan gender dan selipan moral, dengan begitu banyaknya bombardir emosi dan sebuah 'breakthrough' film romantis yang juga tak luput untuk tetap tampil manis ini mampu meletupkan rasa berbeda dari genre romantis sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Ini adalah film tv series ketiga setelah Game of Thrones dan Breaking Bad yang saya akui segila keduanya, meski film yang diberi judul The Handmaid's Tale ini baru berjalan 1 season. Tapi, sejujurnya ini merupakan film horror yang sebetul-betulnya horror mengerikan. Ya film horror khusus buat perempuan sekaligus kental dengan selipan feminisme lewat gempuran kebobrokkan dunia syarat radikalisme agama. Hingga saat saya menikmati film yang memiliki 10 episode dengan durasi hampir 1 jam saya sudah banyak-banyak beristighfar sangking gilanya film ini!

The Handmaid's Tale adalah cerita fiksi yang berasal dari novel best-Seller karangan Margaret Atwood, seorang wanita asal Kanada yang pertama kali mempublikasikan bukunya di tahun 1985, kemudian diadaptasikan melalui program TV 'Hulu' di tahun 2017. Singkatnya The Handmaid's Tale berkisah tentang dunia distopia dimana negara adidaya dan liberal yaitu Amerika Serikat dikuasai oleh ekstrimis agama (mungkin pandangan kita di dunia nyata semacam gerakan ISIS), yang sekarang berubah nama menjadi 'Republic of Gilead'. Film ini dilatar belakangi isu kekacauan dunia akibat polusi udara oleh pabrik dan juga kerusakan alam yang mengakibatkan sebagian besar manusia mengalami kemandulan baik pria dan wanita, sehingga kekacuan tersebut dimanfaatkan oleh gerakan ekstrimis agama dengan mensabotase kekuasaan di negeri Paman Sam.


Kisahnya diawali dengan seorang wanita handmaid bernama Offred (Elisabeth Moss) (bukan nama asli, namanya diganti setelah ia menjadi handmaid yang diambil dari nama depan tuannya, Commander (istilah buat para pria kepala rumah tangga) bernama Fred (Joseph Fiennes) dan istrinya Serena Joy (Yvonne Strahovski)). Sebelum Offred menjadi handmaid, ia adalah wanita karir yang memiliki kehidupan normal bersama suaminya Luke (O-T Fagbenle) dan gadis kecilnya Hannah, ia terpaksa terpisah dengan keluarganya setelah berusaha kabur dari kejaran anggota sekte tersebut dan ditangkap. Offred yang tertangkap kemudian dipaksa untuk bekerja sebagai handmaid bagi keluarga kaya dan elite, Waterford (Fred dan Serena). Selain disana ia pun mengenal Rita (Amanda Brugel) pembantu rumah tangga dan Nick (Max Minghella) sopir khusus keluarga Waterford.

Sebelumnya wanita digolongkan oleh beberapa kelas berdasarkan tugas/peran yang tersimbol melalui warna pakaiannya, red (merah) menandakan the handmaid (pembantu/budak), green (hijau) menandakan istri-istri para commander, brown (coklat) pembantu rumah tangga yang sudah renta (menopause) biasanya mengurusi dapur dll, dan black (hitam) atau biasa dipanggil "bibi" mereka ibarat 'suster' yang mengatur tindak tanduk para handmaid. Wanita di film ini tidak lagi punya hak dan kebebasan mutlak, mereka dikekang oleh teokrasi kejam. Mereka tidak bisa lagi diizinkan memiliki aspirasi, opini, tidak diizinkan bekerja, tidak diizinkan keluar rumah selain untuk keperluan penting, hingga tidak diizinkan membaca atau menulis (alias tidak diizinkan memiliki pengetahuan sama sekali). Semua yang mereka lakukan dibatasi, hanya diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah dan melayani suami/tuan mereka. Sedangkan kaum laki-laki memiliki kekuatan/kewenangan penuh atas pekerjaan yang mana wanita tidak diizinkan melakukannya.


Yang paling miris mereka yang masih memiliki rahim subur ditangkap dan dipaksa menjadi handmaid hingga hampir dari mereka semua diperlakukan sebagai "alat" untuk berkembang biak (istilah kasarnya: jadi ternak manusia) bagi para majikan mereka yang tidak mampu menghasilkan keturunan alias mandul. Jika mereka tidak menurut atau melanggar aturan agama, mereka disiksa, sebagian di rajam (potong tangan/kaki) dan selebihnya dibunuh dan digantung di tembok-tembok jalanan. Selain dari itu, para pelaku homoseksual hingga yang dianggap pezina (wanita/pria) dihukum berat dan sebagian pula ada yang dihukum mati.

Sejenak ketika saya sedang menggambarkan betapa kejam dan mengerikannnya film ini, terutama bagi kaum wanita. Secara tidak langsung apa yang tersirat pada distopia masa depan film ini lumayan tersinkronisasi dengan apa yang sedang berkecamuk di masa kini. Ya, film ini seperti sedang menggambarkan ramalan buruk yang mungkin bisa terjadi di masa depan nanti. Mencolek beberapa negara seperti Iran dan juga gerakan taliban, hingga polusi dan pemanasan global yang kian hari merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia. Kegilaan inilah yang coba di serempetkan oleh Bruce Miller sebagai kreator film ini mencoba mengkritisi sekaligus memberi pemahaman terhadap gejala yang terjadi sekarang, sehingga The Handmaid's Tale yang diluncurkan tahun 2017 lalu begitu pas dengan isu yang terjadi sekarang ini.


The Handmaid's Tale sendiri adalah film yang betul-betul menggambarkan kebobrokkan, keputusasaan yang membuat saya menelan ludah berkali-kali, sempat mengalami emosi hingga tak jarang meneteskan air mata kala setiap episode berhasil menggilas perasaan saya. Plot dan cerita The Handmaid's Tale sebetulnya sangat simpel, berjalan dengan alur yang begitu lambat. Tapi, Miller berkali-kali berhasil membangun atmosfer tanpa membuatnya terasa membosankan,  permainan scoring yang menyeramkan, kadang juga beberapa musik popular diselipkan dibeberapa bagian untuk menghilangkan stress penonton (meski sama sekali tak berpengaruh).

Pendeskripsian tema cerita pun begitu menyengat, saya seperti sedang kembali ke masa lalu Amerika Serikat saat terjadinya perbudakkan kaum kulit hitam, tapi dengan gaya kota yang sudah termodernisasi. Dekorasi dan dress yang mereka pakai pun melengkapi tema yang disampaikan seolah peradaban maju dan modern kembali mundur dan tradisional, hingga bagaimana Miller menciptakan suasana teror yang kian menghinggap tiap detik dalam kesunyian. Juga bagaimana kota-kota dan pinggiran rumah berubah seperti kota suram meski cukup ramai orang berlalu lalang baik mereka handmaid yang hendak berbelanja atau tentara bersenjata yang sedang berkeliling menjaga kota, kehidupan statis, suram dan beberapa teknologi dan benda-benda yang sebagian dimusnahkan agar dapat menjalankan beberapa aturan-aturan tak masuk akal yang berasal dari alkitab yang mereka yakini berasal dari Tuhan.


The Handmaid's Tale mengganyang dua penghargaan Golden Globes dalam kategori "Best Television Series - Drama" dan "Best Performance by an Actress in a Television Series - Drama" untuk akting Elisabeth Moss. Film yang kemudian menggambarkan distopia ini pun tak elak mengkuatkan isu feminisme ke tengah-tengah cerita. Perjuangan yang digambarkan melalui penderitaan, ketegaran, dan putus asa para wanita selain tersirat jelas melalui apa yang dirasakan Offred selaku tokoh utama ditengah pusaran kegilaan ini menjadi isu yang menonjok keras. Berkali-kali pun sempat saya temukan dialog-dialog yang menyindir kultur dan sosial akan eksistensi dan keberdayaan wanita di tengah masyarakat.

The Handmaid's Tale adalah film yang wajib ditonton, memandang bahwa film ini mencoba mengkritisi dan membawa isu penting soal kehidupan modern seperti sekarang, tentang moral, hak asasi manusia hingga pemahaman-pemahaman sensitif terkait feminisme, kultur dan agama. Ini mungkin adalah film sakit dan gila, cukup yakin bahwa menonton film ini harus kuat mental, karena banyak sekali ironi dan tragedi yang dialami wanita-wanita di film ini baik fisik dan psikis mereka, dihadapkan pada tragedi holocaust, pembantaian, pemerkosaan dan tragedi moral yang tak sedikit membuat perasaan tak nyaman. Tapi selebihnya, jika kalian penyuka film-film 'hardcore' seperti Breaking Bad atau Game of Thrones, mungkin The Handmaid's Tale pilihan yang tepat, apalagi buat yang sedang menunggu lama GoT (seperti saya) yang masih harus menunggu tayang 2019 nanti, mudah-mudahan film ini bisa meredam rasa sakit hati Anda.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sebetulnya garapan dari sutradara Malcolm D. Lee ini terkesan usang untuk dipakai sebagai komedi alternatif yang kurang terasa orisinil, sebutlah dua film teranyar The Hangover, Bridesmaids dan ditahun yang sama "Rough Night" pun tak lebih sama dengan konsep film yang diberi judul "Girls Trip" ini. Terus apa yang membuat Girls Trip istimewa sehingga mampu meraup pendapatan box office diatas $100M sebagai film yang ditulis, disutradari, dan diperankan oleh hamppir semua keturunan Afrika-Amerika?

Girls Trip memang bukan sekedar komedi kurang waras yang senantiasa memberi kekacauan liar dan gila pada tingkat dewa dimana para wanita yang coba mewujudkan sebuah ledakan masa muda ditengah gempuran kehidupan yang semakin dewasa, terbilang sukses. Malcolm yang juga menangani sekuel ke-2 Babershop (Babershop: The Next Cut) tampaknya cukup mahir membawa jalinan cerita yang sentimental diantaranya, "komedi" dan "konflik". Kesuksesan ini bukan sekedar gempuran komedi tanpa garam yang eksplisit bersifat vulgar dan kasar. Tapi, bagaimana ia menyentil isu moral dan sosial dalam diagram publik figur yang sedang mengalami puncak karir, namun tersandung berbagai permasalahan serius termasuk skandal perselingkuhan yang mengancam karir, pernikahan dan juga persahabatan.

Pondasi ini diperkokoh dari keempat chemistry memikat dari Ryan (Regina Hall), Sasha (Queen Latifah), Lisa (Jada Pinkett Smith) dan Dina (Tiffany Haddish). Meski dalam film Ryan-lah pusat cerita. Tapi, dimana Sasha, Lisa dan Dina mampu tampil memberi gejolak berbeda dari setiap kepribadian yang unik dan berbeda, sehingga saya rasa pun tak ada yang namanya tempelan semata. Mereka berempat sahabat yang telah berteman sejak remaja hingga menginjak dunia dewasa (kerja). Persahabatan bagi mereka adalah segalanya, rumah bagi mereka, dimana "Flossy Posse" (sebutan khusus bagi geng mereka). Melakukan hal gila, liar dan berpesta sudah menjadi jati diri geng ini, hingga rutinitas dan kesibukkan mulai memudarkan hubungan mereka berempat.


Ryan menjadi seorang penulis terkenal yang tengah sukses bersinar, menikah dengan sahabat semasa kuliahnya, Stewart (Mike Colter). Sasha, jurnalis sukses yang memiliki blog pribadi, lalu beralih menulis kehidupan pribadi publik figur. Dina, yang paling heboh dan gila diantara mereka, dan terakhir single parent yang berusaha menjadi "ibu" dan "pengasuh" bagi kedua anaknya, Lisa. Masalah muncul saat Ryan memutuskan untuk mengajak geng-nya mengunjungi kota New Orleans untuk menghadiri acara tahunan Essence Festival, sembari menghidupkan kembali persahabatan mereka yang telah 5 tahun menghilang.

Bersama dua penulis naskah Kenya Barris dan Tracy Oliver, saya tak pernah meragukan bagian komedi dari Girls Trip, awalnya saya sempat ragu saat D. Lee tampak kesulitan memberi tawa kecuali perlahan mengenalkan kita pada watak dan latar belakang kehidupan empat wanita tersebut. Tapi, lambat laun meski tampak bersusah payah Girls Trip menemukan keasyikkannya, kegilaannya, dan keabsurdannya. Hampir sama dengan geng "Bad Moms", hanya saja perahu bertambah dari tiga menjadi empat. Seperti tingkah liar Dina, bertindak sesukanya dari menyemproti orang-orang dengan kencingnya, berkelahi dengan siapapun, sebagai yang paling agresif, tapi jujur. Lisa, meski dianggap paling seksi, tapi karena sikapnya sebagai ibu rumah tangga, norak dan tingkah konyolnya kadang sudah tingkat akut. Sasha yang paling peka dan sensitif dengan persahabatan, dan tentu saja Ryan, wanita yang kadang terlihat modis sebagai publik figur, namun sikapnya yang egois dan bermuka dua, kadang membuat saya sendiri geram dengan caranya yang tampak tak jujur dengan teman maupun dirinya sendiri, bahkan selalu risih dan curiga dengan teman paling dekatnya Sasha, meski akhirnya kita sendiri mengerti akan alasan yang ia perbuat sampai sejauh ini.

Meski hamparan cerita dan sekuens komedi tampak klise, tapi tujuan D. Lee tersampaikan dengan baik dengan bantuan komedi Rating 'R' hingga hamparan konflik pun terasa kompleks. Apalagi ia benar-benar membawa sensitifitas kehidupan selebritis yang memang tampak selalu jadi pusat perhatian, ironi yang memang selalu tampak nyata terlihat sehari-hari dari aib hingga skandal, terlepas kepopuleran mereka selalu jadi bahan berita, menyinggung pula profesi jurnalis yang kadang tak lepas dari musuh bebuyutan para publik figur, yang kadang dikatakan sebagai profesi tak berperasaan dan kejam.

Well, Girls Trip buat saya salah satu komedi terbaik tahun ini, sebagaimana ia begitu memberi kesenangan dan membuat saya tertawa non-stop. Efektif memberi lelucon sembari mengenal sensitifitas moral dalam kehidupan selebritis dan jurnalistik dengan cara yang fun and nasty. Semua itu mungkin takkan bagus tanpa chemistry memikat dari keempat wanita yang berusaha bertingkah segila, sekonyol dan seagresif mungkin, terutama tentu saja Tiffany Haddish yang menurut saya urat malunya sudah putus, kegilaan yang betul-betul norak tapi luar biasa lucu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Ditempat paling kecil, sunyi dan sempit sekalipun manusia akan temukan apa yang disebut kebahagiaan. The Red Turtle aka La tortue rouge mungkin semacam metafora kehidupan, selain memandang bahwa ada sebentuk life survival manusia ditengah keputusasaan dan kesepian. Selepas sang legenda Hayao Miyazaki pergi meninggalkan kursi sutradara, eks-partner studio Ghibli kemudian tertarik memanggil Michael Dudok de Wit untuk mengangkat animasi mereka ke layar lebar, menyukai salah satu film pendeknya berjudul Father and Daughter (2000). Akhirnya diputuskan de Wit mengarahkan film Ghibli pertama untuk versi non-Jepang bersama studio besar lainnya, Wild Bunch.

Bersamaan dengan hype besar film animasi, ditahun yang sama, nama The Red Turtle mungkin tidak terlalu menggema dibanding rivalnya yang sukses di box office Jepang tahun 2016. Tapi, disisi lain film ini sukses merangkak ke nominasi Oscar pada kategori "Best Animated Feature Film" mengalahkan karya Makoto Shinkai, yang lagi-lagi studio Ghibli harus berbangga hati meski lepas dari maestro-nya, karya mereka tetap diminati oleh para juri Oscar.

Mungkin jangan dulu membayangkan kisahnya mirip "Cast Away", Robert Zemeckis, memang kisahnya soal pria "tanpa nama" terdampar dan terisolasi disebuah pulau tropis tak berpenghuni, tapi ini bukan sebuah kisah survival berjuang bertahan hidup, melainkan tentang makna dibalik hidup, keluarga, cinta dan alam yang indah tempat manusia bernaung. Hingga takdir mempertemukan pria tersebut dengan seekor penyu merah, mengubah hidup pria itu untuk selamanya.


Film ini dibungkus dengan animasi sederhana dan apa adanya, tekstur warna dan sketsanya lebih mirip buku gambar. Tidak seperti animasi Ghibli biasanya, penuh dengan fantasi, imajinasi dan dunia tanpa batas dari realisasi penuh warna dan karakter yang sangat unik dan aneh. The Red Turtle tampil minimalis, hanya potret pria dewasa normal dengan baju putih lusuh dipakainya, sesekali semacam anjing laut, kepiting bayi, burung, hingga dipastikan penyu yang hidup di pulau tersebut hanyalah comic relief tanpa embel-embel sihir dsb. Tapi, tentu saja sentuhan animasinya tetap luar biasa, menangkap setiap moment seperti sunset, langit bintang, dan berbagai animasi yang terkesan natural begitu tertangkap mata kita. Dan sesekali juga lewat mimpi dan delusi si "pria" yang kalut karena kesepian pun semakin memberi dinamika animasi yang dilihat dalam secarik kertas tampak statis tapi surprisingly ini panorama indah dan luar biasa cantik.

Filmnya tanpa dialog, entah karena ekspresi dari de Wit yang notabene pembuat film pendek, hanya terdengar sayup-sayup sekedar panggilan, "heiii". Tapi, sentuhan tersebut menambah penyampaian film yang tampak lebih membumi, tanpa harus berjibaku membentuk dan mengenal tokoh dengan dialog yang cerewet ataupun corak cerita yang rumit. Bersamaan dengan Pascale Ferran membantunya menulis naskah, The Red Turtle menyampaikan kesubtilan soal kehidupan, keluarga, dan cinta, hingga hal-hal membawa secarik kisah fantasi dan soft fable. Mengurai fase kehidupan panjang sampai masa tua, seolah konteks masalah yang dihadapi sang "pria" dalam kebuntuan, kesepian dan kesulitan di awal, hilang sekejap tumbuh mengenal cinta dan keluarga menjadi solusi dan harapan. Entah kamu ada diperbatasan hidup paling rumit dan sukar sekalipun, hingga datang masa-masa paling putus asa, ini seolah gambaran realita dalam metafora soal kehidupan. Bahkan sketsa Tsunami yang menerjang pulau pun seakan menggambarkan realita peristiwa tak diinginkan dalam hidup.

Filmnya indah dan luar biasa, hingga di penghujung akhirpun secara sentimental membuat kita sadar, ada sesuatu yang menghilang saat orang-orang yang kita cintai menghilang dan pergi begitu saja, Menggambarkan betapa hidup adalah proses yang sama, "lahir", "hidup", "mencari", "tua" dan "mati". Menyiratkan pasang surut hidup seperti bagaimana sang pria pertama kali hidup kesepian dan melarat ditengah pulau, berubah sebagaimana sosok wanita yang ia cintai merubah segalanya. Filmnya sederhana, tapi tetap menyampaikan materinya begitu kuat dan menyentuh sebagaimana film-film Ghibli, meski terdapat banyak metafora yang kurang lebih sulit dicerna karena filmnya pun tidak dibentuk dengan istimewa, tapi ini murni bahwa, "Keajaiban adalah realita kehidupan dan proses mencari makna hidup yang bisa dicari seorang manusia dibawah batu sekalipun."
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bertahan hidup seperti salah satu permainan "The Hunger Games", membunuh atau dibunuh, dalam film berjudul Battle Royale ini tampak mereka hanya remaja sekolah biasa dan tak berdosa. Saat kita mempertanyakan kemana batas moral ketika masa depan mereka harus diperlakukan sekejam ini. Tidak, semenjak narator menjelaskan situasi Jepang yang sudah bobrok soal isu etika dan moral para murid yang memboikot sekolahnya dan melakukan pemberontakkan lewat kekerasan baik kepada guru dan orang tua, ini murni sebuah distopia. Proyeksi kemunduran dan cacat pendidikan di negara Jepang yang terkenal disiplin, kemudian berubah menjadi sungai darah yang mengerikan. Saya hanya tak melihat solusi yang lebih baik ketimbang memilih pembunuhan berdarah semacam ini apalagi dilakukan oleh pemerintah itu sendiri. Tapi, memang melihat latar belakang film ini terasa kurang detil, menyampaikan situasi hanya lewat narasi, yang berarti kita menimbang-nimbang sendiri kenapa instrumen Battle Royale ini dipakai.


Belakangan Battle Royale sempat mendapat larangan dari pihak pemerintahan Jepang saat film ini akan dirilis baik versi film maupun novelnya. Terlibat film ini sangat kontroversial karena melibatkan penghakiman orang tua kepada anak-anak mereka. Tapi, rasanya film ini tetap mampu diedarkan ke khalayak masyarakat dan mereka berbondong-bondong masuk ke bioskop untuk menonton penayangan film ini. Cerita Battle Royale dilatar belakangi satu kelas murid kelas 9 di sebuah sekolah, yang terdiri dari 40 murid yang ikut sebuah wisata liburan. Namun wisata tersebut hanya kedok agar mereka dijebak dan ditawan ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni, salah seorang yang mereka kenal sebagai mantan wali kelas mereka Kitano (Takeshi Kitano) menampakkan diri dan mengaku bahwa dia yang membawa semua mantan muridnya ke program revolusioner Battle Royale, permainan yang mengizinkan semua murid untuk saling bunuh selama tiga hari, hingga menyisakan satu orang yang bertahan hidup.



Film ini akan memperkenalkan kita dengan Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) dan Noriko Nakagawa (Aki Maeda) sebagai fokus utama, diselingi perkembangan karakter lainnya. Film yang bahkan menjadi salah satu favorit sutradara berkelas Quentin Tarantino ini, memang menyajikan dinamika sosial yang bekerja secara dinamis, kita tidak akan menemukan keseluruhan karakter menyerupai karakter lainnya. Mereka punya pola sendiri-sendiri dalam menyikapi Battle Royale, ada yang memang tampak putus asa, depresi, dan menjadi gila, tapi ada juga yang menyikapinya dengan santai bahkan berusaha untuk tidak terjebak dalam dilema keputusasaan dalam game tersebut, hingga terasa relevan melihat beberapa dari mereka membentuk koalisi mereka sendiri agar terlindung dari ancaman dan lainnya bertahan hidup secara individual. Dan dua orang yang paling menyita perhatian, Shogo Kawada (Taro Yamamoto) dengan bandana dan gaya nyentriknya, dan Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) tampang preman cool dan creepy mirip berandalan di film "Crows Zero", keduanya dianggap sebagai penyeimbang permainan.

Kegilaan di film ini seolah menunjukkan sifat asli manusia, entah beberapa gadis mencoba bertahan hidup selain harus berusaha menjaga diri mereka dari santapan nafsu laki-laki, juga latar belakang sadistik salah satu karakter wanita sosiopat yang sepertinya tidak terlalu memikirkan nyawa yang lainnya. Dan juga beberapa kelompok cerdas dan NERD yang berusaha mencari jalan keluar dengan cara mereka sendiri. Banyak hal yang saya temukan terlibat banyaknya adegan brutal dan berdarah terjadi di film ini, tapi Kinji Fukasaku selaku sutradara terampil mengemas novel Koushun Takami, dibantu penulis naskahnya Kenta Fukasaku dengan sangat baik. Egoisme, kepercayaan, dan loyalitas sepertinya jadi segmen utama dalam film ini, terutama beberapa kali mentengahkan kisah percintaan remaja yang tidak sedikit aksi mengorbankan nyawa mereka didepan kekasihnya. Konyol? Tidak juga, justru ini tampak relatable mengingat mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan dalam satu kelas yang sama.


Kekurangan film ini hanya bermasalah pada akting para cast-nya, meski tampak berusaha tampil totalitas, tapi beberapa kali tersangkut masalah gestur dan mimik yang kurang meyakinkan dan kaku, entah apa karena faktor usia mereka yang masih hijau untuk berakting atau karena kesulitan menyaring aktor dan artis yang lebih baik, karena lebih dari 800 aktor dan artis mengikuti audisi untuk bermain sebagai murid yang berjumlah 40 orang. Lebih dari itu Battle Royale sangat luar biasa, jauh lebih baik dibandingkan "The Hunger Games" yang terlalu fokus pada masalah politik dan lemah dalam sekuens aksinya. Bahkan bisa dibilang ini kesekian kalinya setelah beberapa tahun saya kembali menonton film ini untuk menonton versi director's cut-nya, dan ternyata efek kenikmatannya masih terasa segar untuk ditonton kembali.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sulit menghamparkan lelucon demi lelucon kala kita diajak berbicara tentang kesedihan. Boleh jadi film yang menceritakan soal penyakit mematikan, akan terasa overdramatic. The Big Sick memang terdengar seperti film yang hanya berisikan kesedihan dan duka air mata, tapi justru film ini adalah percikan kompleks dan emosional dalam mengikuti kisah perjalanan cinta komedian sekaligus aktor yang sering terlihat sebagai tokoh sidekick, Kumail Nanjiani bersama sang istri Emily diperankan Zoe Kazan harus menghadapi dilema kisah cinta saat mereka menghadapi perbedaan budaya, agama, dan ras diantara keluarga, hingga kemunculan penyakit yang diderita Emily semakin membuat hubungan mereka semakin terpisah jauh.

Kumail Najiani, mungkin bukan aktor komedian besar dan menarik, terlebih aktingnya yang hanya sedikit mencuri peran sebagai pegawai kantor pos, satpam sekolah, tukang kabel, ataupun tukang pijat mesum sekalipun. Sungguh dia aktor yang sangat tidak penting, tapi Michael Showalter "Hello, My Name is Doris" (2016) selaku sutradara mencoba menerangkan siapa aktor yang selalu muncul sebentar tapi seringkali mencuri atensi. The Big Sick mungkin menjadi film pertama Kumail menjadi karakter sentris sekaligus berakting sebagai dirinya sendiri. Ditulis oleh Kumail sendiri juga istrinya Emily V. Gordon, film ini ternyata tidak sesumbar soal hubungan cinta dan beberapa permasalahan menyangkut penyakit misterius yang menimpa Emily ataupun persinggungan yang terjadi antara keluarga mereka berdua, melainkan sebuah dilema isu yang konteksnya terasa tajam menyampaikan perbedaan kontras yang berseberangan diantara tabrakkan kultur yang ada.


Mungkin memang terkesan generik untuk mengungkapkan bagaimana hubungan cinta Kumail dan Emily ini berawal hingga akhirnya terjadi asmara cinta besar diantara mereka. Dari sebuah pertemuan tak sengaja saat Kumail manggung sebagai stand-up comedian, kemudian terdengar teriakan tiba-tiba Emily yang menyela lelucon Kumail dipertengahan. Hubungan yang bisa dibilang spontan tersebut menjadi timbal balik awal kisah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Tapi, cukup mengesankan bahwa ini masih terasa kisah cinta yang manis, chemistry yang dibangun antara Kumail dan Kazan menghantarkan hubungan yang hangat dan kuat, apalagi saya seolah melihat sosok Emily versi asli pada Kazan, ceria dan energik, meski kadang sikap egosentris diantara keduanya menyebabkan konflik dari setumpuk masalah kebohongan dan ketidakterbukaan Kumail pada Emily. Lalu separuh cerita, diambil alih oleh ayah dan ibu Emily, Beth (Holly Hunter) dan (Ray Romano) pada saat Emily kemudian jatuh koma karena penyakitnya, namun disini pun terbantu karena tanpa diduga mereka berdua pun cukup asyik memadu gesekan keterikatan dengan Kumail, dari benci dan cinta, hingga turut melampiaskan isi hati, kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan yang sama saat orang yang mereka cintai terbujur diam dalam koma berhari-hari menghadapi penyakit misterius dan berbahaya.



Dibalik itu juga saya sangat suka cara naskah buatan pasangan suami-istri ini memberikan sentuhan humor hingga mampu membaurkannya bersama emosi, bahkan stereotip terhadap ras dan agama pun disentil melalui keluarga Kumail yang notabene muslim mencoba mencerminkan umat tersebut dalam kebaikan, kelembutan dan juga selera humor yang bagus. Meski seorang Kumail sendiri bukan perspektif religius yang hebat, bahkan ia diterpa kebimbangan kepercayaan, sebagai seorang karakter dibalik wajah menjengkelkan dan flat-face-nya, meski ia melekat sebagai tokoh komikal, tapi naskah cerita juga mencerminkan siapa dirinya tanpa menutup Kumail menjadi orang lain, ia menjadi dirinya sendiri secara natural bahkan sikapnya realistis, care, luwes, sabar dan netral. Bahkan acapkali bercak air mata yang terpantul dari pipinya seolah ia sedang mengenang kembali masa-masa koma Emily yang pernah terbaring 5 tahun lalu. Dari sini pun cukup meyakinkan bahwa dari bingkaian foto masa kecil yang acapkali terpersentasikan melalui cerita, mencerminkan sedikit realita singkat kehidupan Kumail sesungguhnya, dari seorang komedian stand-up biasa, sopir uber, hingga masalah hubungan antara ibunya Sharmeen (Zenobia Shroff), ayahnya Azmat (Anupam Kher), dan saudaranya Naveed (Adeel Akhtar) akibat perbedaan prinsip antara kebebasan dirinya dan kultur keluarga.


Sulit menyebutkan kekurangan yang ada di The Big Sick, dan Amazon harus bersenang hati saat menggelontorkan dana $12 juta dolar untuk mendistribusikan film ini, setelah menjadi salah satu film dengan transaksi terbesar dalam sejarah Sundance Film Festival. Berangkat dari itu, film The Big Sick memang film melodrama yang menyentuh dan breathtaking, tapi satir komedi gelap yang setiap saat terlontar dari mulut para aktornya kadang membawa suasana hangat dan lucu, membuat semuanya melebur menjadi satu dengan emosi penonton. Funny and melancholic, semua pesan cinta dari Kumail dan Emily bagaimana mereka hidup dalam perbedaan, menyentil masalah keluarga, hingga isu ras dan agama yang kadang terdengar tajam seperti teriakan salah satu penonton, "Go back to ISIS." saat Kumail melontarkan lelucon komikanya, kemudian cara mereka melewati hari-hari paling menakutkan dan hopeless, diiringi gejolak emosi yang naik turun seolah inilah salah satu perjuangan nyata dari definisi cinta sesungguhnya. The Big Sick adalah tawaran rom-com luar biasa menarik untuk ditonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Seberapa cintamu pada hidupmu seperti seberapa besar berharganya hadirmu buat orang lain? Tidak ada yang bisa mengukur seberapa besar eksistensi kita sebagai manusia dengan segala pengorbanan dan perjalanan hidup saat semua yang kita lakukan ternyata terasa sia-sia atau mungkin sesuatu yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya justru menjadi sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bayangkan jika saya, anda, atau kita tidak pernah dilahirkan di dunia, dan keberadaan kita tidak pernah ada? It's a Wonderful Life seperti judulnya adalah film yang syarat makna begitu dalam tentang betapa berharganya hidup saat tanpa sadar kita telah melewatkan berbagai hal kecil yang ternyata itu berdampak besar bagi orang lain.

Film arahan sutradara Frank Capra ini memang sejatinya tidak akan pernah hilang dimakan usia, meski tampilan hitam putih, cerita sederhana tentang kehidupan sebuah keluarga dan impian yang sebetulnya terkesan sangat klise. Tapi, apa yang disampaikan film ini sanggup mengubah cara pandangmu akan dirimu sendiri hingga melekat sampai ke relung hati yang terdalam. Film ini memang di dedikasikan untuk film Christmas Day dan di Amerika setiap menjelang hari natal film ini selalu ditayangkan di televisi setiap tahun. Film ini bercerita tentang seorang pria paruh baya yang tinggal di Bedford Falls bernama George Bailey (James Stewart) yang harus mengorbankan setiap impian dalam hidupnya hanya untuk menolong orang lain sampai pada akhirnya ia mencoba bunuh diri dengan menceburkan dirinya dalam sungai di malam natal, hingga membawa malaikat penjaga Clarence Odbody (Henry Travers) ikut campur tangan untuk menolongnya dan memperlihatkan keajaiban yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Film yang secara tak sadar adalah genre drama fantasy, ternyata pernah mendapatkan peraihan buruk di box office karena tingginya biaya produksi dan persaingan yang ketat pada saat film ini diluncurkan, tapi kemudian hari gegap gempita dan pengaruhnya di dunia sangatlah besar hingga membuat film ini akhirnya memperoleh 2x lipat penghasilan dari budget produksinya sebesar $3,180,000. Salah satunya film ini dianggap sebagai film paling kritis yang pernah ada, hingga mendapatkan 5 nominasi Oscar di Best Picture, Best Actor in a Leading Role (James Stewart), Best Director, Best Sound, Recording, dan Best Film Editing. Selain penghargaan bergengsi tersebut lainnya datang dari American Film Institute yang memasukkannya dalam salah satu 100 film terbaik Amerika yang pernah ada di peringkat 11.

Sehebat itukah film ini? Ya, saya tidak memungkiri bahwa film ini sensasional dan sangat inspiratif, meski mungkin film ini cukup membosankan dan ceritanya biasa saja ketika saya menontonnya pertama kali, apalagi film ini cukup menghamparkan beberapa kesan cerita yang melodramatis. Tapi, disisi lain film ini memiliki beberapa sentuhan seperti romantisme antara pertemuan Goerge dan kekasih hatinya Mary Hatch (Donna Reed) yang dibuat cukup menarik, juga bagaimana kita melihat kehidupan masa kecil Goerge hingga dewasa dari sekedar melihat besarnya impian yang dimiliki juga pengorbanan yang tidak sedikit membuat kita bersimpati pada kehidupan sang tokoh utamanya. Well, It's a Wonderful Life adalah sebuah film klasik yang wajib ditonton, bagaimana akhirnya film ini mampu membuatmu untuk selalu bersyukur dan tidak pernah menyesali apapun yang terjadi dalam hidupmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Awalnya Mud terlihat sangat mirip dengan kedua film arahan sutradara Coen Brothers, antara "No Country for Old Men" dan "True Grit", dengan atmosfer kental yang terasa gritty, mysterious and thrilling. Jeff Nichols selaku sutradara yang pernah menggelarkan film misteri berjudul "Take Shelter" yang mengacak-acak pikiran saya lewat keraguan antara kenyataan dan delusi. Mud hampir sepenuhnya sama, hanya saja genre yang saya sebutkan diatas dicampur adukkan melalui pengkisahan ala drama coming of age sederhana dengan pengembangan cerita yang lebih adult dan faded.

Mud sesungguhnya sederhana dan film ini tentu saja bukan tipikal film yang dipenuhi adegan berdarah ataupun action yang dipenuhi baku hantam antar pria koboi, tampil dengan elemen misterinya yang intens film ini mengajak kita mengenal dua bocah belasan tahun bernama Ellis (Tye Sheridan) dan Neckbone (Jacob Lofland) yang sedang menyusuri sungai Mississipi karena tertarik melihat sebuah perahu boat tua yang tergantung di atas pohon di sebuah pulau tak berpenghuni. Tapi, mereka tak menyangka bahwa di sana mereka bertemu dengan seorang buronan bernama Mud (Matthew McConaughey) yang sedang bersembunyi dipulau dengan wajah kumal, kemeja putih kotor, sambil tersenyum hangat Mud meminta bantuan mereka dan mengajaknya bekerja sama.

Mud ternyata film yang kental menceritakan soal cinta dan hakikatnya dalam kehidupan muda dan dewasa seorang manusia, tapi bukan berarti Nichols fokus menjadikannya romansa penuh melodrama layaknya film Nicholas Sparks. Film ini jauh lebih dewasa dalam menuturkan kisah cinta yang terpisah jarak antara Mud dan kekasihnya Juniper (Reese Witherspoon). Melibatkan Ellis yang diperankan Tye Sheridan sebagai sudut pandang dan tokoh utama, Mud menjelma menjadi sketsa tokoh yang memiliki segudang problematika kehidupan yang terbilang sangat kompleks. Sembari Ellis mengenali hubungan Mud dan Juniper, ia pun kerap mencari dan memaknai arti cinta itu sendiri sambil menatap hubungan retak kedua orang tuanya yang membuatnya struggling.



Mud buat saya adalah pesona film yang berbeda dari kebanyakan film regular, Nichols lewat nuansanya yang terbilang kusam, tapi maknanya jauh lebih warm dan heartbreaking dalam menyerempetkan segala empati dan sentimentil kita pada emosi para tokoh. Apalagi misteri film ini disebarkan melalui pengaruh karismatik Matthew McConaughey sebagai pria misterius, abstrak dan penuh kejutan. Dan juga Sheridan sebagai messenger dan penghubung antara dua tokoh dewasa ini mengalami goncangan emosi kala ia terus mempertanyakan eksistensi cinta yang selalu datang ke dalam hidupnya, antara sifat anak kecil yang jujur dan simpatik namun juga naif kala ia terbawa oleh permasalahan besar dan rumit orang dewasa. Bahkan sesekali saya sebagai penonton turut terguncang kala ikut-ikutan naif melihat cinta itu diperlihatkan sangat manis dan indah, lalu Nichols mengobok-oboknya dengan sinis dan pahit perihal cinta sesungguhnya begitu menyakitkan dan palsu di belakangnya, hingga hal tersebut terjadi berulang kali membuat saya terombang-ambing hingga muncul pertanyaan dari alam bawah sadar saya, "What love is matter?"


Meski Jeff Nichols terbilang bukan big director semacam Steven Spielberg ataupun Christopher Nolan. Melihat Mud juga bukan film yang terasa ambisius, tapi secara komposisi Mud adalah film besar yang punya substansi cerita yang kokoh dan kuat. Pergolakkan emosi kita saat menemui berbagai segmentasi konflik kala cerita terus menggedor emosi hingga membolak-balikkan saya pada rangkaian kisah yang sentimentil. Ditunjang kehebatan Matthew meski bisa dibilang ia bukan tokoh sentral, pesonanya muncul dalam kemisteriusan dan kehangatan yang terpancar dari lusuhnya tokoh yang ia perankan. Dan film ini menjadi awal mula Matthew mulai banyak berakting di film-film besar setelahnya, meski sebelumnya ia adalah aktor yang sering bermain di film rom-com murahan yang hobi membuka baju, tapi akhirnya saya juga secara pribadi menyukai aktingnya di "Dallas Buyers Club" dan "Interstellar". Juga buat Witherspoon, mbak cantik yang aduhai ini punya pesona dan akting yang sebetulnya tidak banyak tapi beberapa kali hampir membuat emosi saya tercampur aduk kala memerhatikan setiap emosi yang keluar dari dirinya membuat saya percaya tak percaya akan perasaan tak jujur dalam hatinya.

Well, Mud memang terbukti adalah film yang sangat menawan, mencoba bercerita secara dalam dan substansial melalui tokoh dan ceritanya yang cukup mengejutkan. Dipuji dan disambut hangat oleh para kritikus memang tidak bisa dipungkiri, Mud adalah karya terbaik Jeff Nichols sejauh ini sepanjang saya menonton filmnya Take Shelter maupun "Midnight Special".
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Pengaruh globalisasi zaman cukup banyak berperan penting dalam pembentukkan karakter dan sifat manusia. Itu terlihat bagaimana setiap generasi terbentuk mengikuti ciri yang sesuai dengan norma dan kultur yang ada saat ia lahir, tumbuh dan hidup. Mungkin tak perlu jauh-jauh saat saya yang lahir di generasi "Y" pasti mempunyai perbedaan pendapat dan pola pikir berbeda dari segelintir orang tua yang telah hidup setengah abad. Dan Mike Mills (sutradara dan screenwriter film ini) sebagai pelaku utama yang lahir dan tumbuh di era struggle 3 generasi wanita mencoba menyampaikan sebuah kisah semi-autobiografi miliknya melalui sebuah surat cinta kepada ibunya sekaligus surat cinta untuk semua wanita yang lahir di 20th Century Women seluruh dunia.

Berlatar tahun 1979 di Santa Barbara, California, Dorothea Fields (Annette Bening) adalah seorang single mother yang khawatir tidak mampu untuk mendidik dan membesarkan sendirian anak laki-lakinya Jamie (Lucas Jade Zumann) yang kala itu menginjak umur 15 Tahun. Maka dari itu Dorothea meminta bantuan Abigail 'Abbie' Porter (Greta Gerwig) wanita yang tinggal bersamanya dan Julie (Elle Fanning) teman dekat Jamie sejak kecil, untuk menjaga dan membantu membesarkan dirinya hingga Jamie dewasa.


Dorothea sendiri adalah perwujudan dari ibu kandung Mills, lahir di era yang berbeda, tentu saja menginjak usia 55 tahun Dorothea harus menghadapi berbagai macam perubahan termasuk segala hal yang hadir dalam hidup anaknya. Musik punk, pop-culture, skateboard, hingga permainan skip challenge tak bermanfaat membuat semua hal asing dan aneh membuatnya khawatir dengan perkembangan anaknya tersebut. Tapi tentu saja Dorothea bukanlah tipikal ibu protektitf atau pemanja, sikap luwes dan supel selalu ia tampilkan meski berbagai pertentangan dengan anaknya selalu muncul ke permukaan. Abbie dan Julie pun sama-sama tokoh wanita yang hidup di generasi yang beda pula. Mereka berdua adalah sosok yang likable dan hadirnya mereka dalam hidup Jamie menghadirkan dinamika perspektif yang kuat dan masing-masing sudut pandang dari ketiganya mengeluarkan chemistry pada tingkatan berbeda dengan Jamie. "Whatever you think your life is going to be like, just know, it's not gonna be anything like that. "


Sebagai sebuah coming-of-age dengan bumbu nostalgia dan sejarah hidup sang penulis, film ini memang ingin menunjukkan identitas Mills dan hubungan eratnya bersama wanita-wanita yang pernah mengelilingi dunianya. Seperti 20th Century Women menggambarkan sudut pandang ibunya, dan Beginners (2011) mengambil sudut pandang dari ayahnya. Kesenangan itulah yang coba Mills sampaikan kepada penonton bahwa masa kecil hidupnya cukup menyenangkan dengan bertemunya berbagai sosok inspiratif dalam hidupnya. Konteks yang disampaikan 20th Century Women ini mempunyai gagasan cerita yang masing-masing menonjolkan setiap tokoh dan detil perspektif berbeda dari ketiganya, diikuti Jamie (Mills) sebagai observer.


Saya sangat menyukai bagaimana Mills menggambarkan chemistry pada masing-masing tokoh, mereka punya opini, pendapat, dan pengaruh kuat meski mereka terdiri dari berbagai frekuensi amplitudo yang berbeda. Mereka masing-masing mencirikan diri mereka sendiri dengan sangat shiny and personally, diikuti ruang lingkup permasalahan, latar belakang serta bagaimana cara mereka berbaur dan berkomunikasi, itu sudah cukup membuat semua karakter di film ini gampang dicintai.

Annette Benning sebagai lead mampu menunjukkan karakter kuat meski mature dan depresif yang terlihat dari kelesuan wajah dan hobi merokoknya, tapi cukup mudah disukai bahwa ia wanita yang mencoba hidup tegar menyadari bahwa ia tahu konsekuensi dirinya saat berada ditengah-tengah pergolakan zaman yang terus-menerus menggerus norma dan moral yang tak seperti ia rasakan dulu. Elle Fanning sebagai moral sensitive gemar memainkan aura sensualitas remaja entah dengan rambut berantakan, kaos longgar dan transparan, hingga masalah seksualitas dan pergaulan hidup yang bebas, tapi cukup punya keintiman personal dengan Jamie tanpa banyak kecanggungan yang berarti, meski saya secara pribadi kurang suka akan peran Elle disini. Greta Gerwig sebagai fotografer nyentrik dengan rambut merah pun mampu tampil unik dengan segala kecemasan dan kegalauan hidup yang ada pada dirinya, memberi kesan feminis garis keras yang ceria namun punya pandangan hidup dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat. Dan, terakhir William (Billy Crudup), pria dengan kontribusi paling kecil, tapi cukup berhasil mentengahi kehidupan para wanita ini tanpa harus mengganggu lebih banyak cerita.


Kemasan 20th Century Women pun tampil cantik dengan berbaurnya kilauan warna mencolok, mengeluarkan semua pernak-pernik keindahan dekorasi dan tata busana yang ada sehingga terpancar keindahan unik tersendiri dan a simply power of enchanted austerity, hingga beberapa potongan foto dan video klasik, hingga memadukan berbagai event moment pada balutan cerita, spontan ini sebuah gaya senimatis unik semacam "(500) Days of Summers". Dan juga berbagai mixing musik berbeda latar dan generasi mewakili setiap pergerakan dan bentrokan kultur yang ada, Dorothea yang sering memainkan musik klasik seperti, "As Time Goes By Lyrics by Rudy Vallee" dan jenis musik punk-rock band "Art Fag" dan "Black Flag" mengikuti trend Abbie dan Jamie.

Overall, ini secara pribadi memang film favorit saya, sebuah coming-of-age dengan perpaduan cerita sederhana dan sinematografi yang sangat memikat mata. Performa akting hingga berbagai pernak-pernik seputar isu feminisme, sosial, pergaulan bebas, hingga pengaruh bentrokan budaya dengan subtle diangkat menjadi sangat kaya dan luar biasa. Ini adalah sebuah film yang buat saya sulit untuk dilupakan, surat cinta sederhana untuk mewakili hati para wanita, Dorothea untuk generasi tua (old), Abbie untuk generasi dewasa (adult), dan Julie untuk generasi remaja (teen).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates