• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Kadangkala seorang filmaker/sutradara membuat film bertujuan untuk menyelipkan pesan atau isu penting yang mampu ditangkap dengan mudah oleh penontonnya. Dan yang paling krusial pesan tersebut harus mampu direspon baik melalui emosi dan logika penontonnya. Terutama apakah film tersebut mampu ditangkap secara visual melalui akal sehat. Bisa dibilang Guillermo del Toro yang selalu akrab dengan film visionernya yang unik dan selalu meleburkan inovasi dan imajinasinya melewati batas-batas sinematis tertentu. Tapi, sejujurnya ini bukan lagi kisah dark fantasy konvensional seperti karya-karya del Toro sebelumnya seperti The Devil's Backbone dan Pan's Labyrinth, melainkan sebuah langkah berani dan menantang tentang konsep mustahil tentang cinta seorang manusia, tapi del Toro menciptakannya.

Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah wanita penyendiri dan kesepian. Ia bekerja sebagai janitor di sebuah fasilitas penelitian rahasia milik pemerintah. Setting film ini diambil sekitar tahun 1962, saat perang dingin antara Amerika dan Rusia sedang berkecamuk. Elisa sendiri adalah seorang tunawicara, ia tidak bisa berbicara semenjak lahir. Dia memiliki dua teman dekat, pertama tetangganya, Giles (Richard Jenkins) pria tua (yang saya kira bapaknya) yang bekerja sebagai freelance artist yang juga hidup kesepian dan Zelda Fuller (Octavia Spencer) teman kerja Elisa yang sama-sama seorang janitor. Suatu hari Elisa dan Zelda mendapati seorang seekor monster amfibi "Amphibian Man" (Doug Jones) misterius yang baru dibawa oleh Richard Strickland (Michael Shannon) sebagai bahan eksperimen. Tapi, monster yang tampak seram dan berbahaya tersebut ternyata memiliki kemiripan layaknya manusia, dan membuat Elisa merasa tertarik dan jatuh cinta padanya.


Ada yang menyebutnya sebagai kisah fairy tale "Beauty and the Beast", tapi saya rasa konsepnya tidak sesederhana dan semanis itu, tapi jauh lebih dewasa dan kompleks yang sejalan dengan arti, "Siapapun berhak mendapatkan cinta". Dan bagian terdalamnya, cinta bukan soal fisik, tapi tentang respon emosional yang mungkin akan terdengar complicated, tapi del Toro menyampaikannya secara lugas dan cermat tentang apa itu cinta dan dibalik itu terdapat pesan isu orientasi seksual. Apalagi konsep soal impossibility's no matter of love in the world semakin terasa kuat bagaimana del Toro bermain soal cinta tanpa penggunaan bahasa verbal sedikitpun, selain dunia antara Elisa dan Amphibian Man yang jelas kontras berbeda, di dunia tanpa kata-kata hubungan mereka bagai terhubung oleh jembatan tak kasat mata.

Mungkin terasa sangat ganjil dan aneh, apa yang dibawa oleh del Toro dengan ambisinya yang absurd nan gila. Bahkan pesan moral soal cinta yang menghampiri Elisa, bukan serta merta dibuat berdasarkan rasa empati semata, justru dibuat dengan ikatan seksual. Mengingatkan saya dengan salah satu karya Aaron Moorhead dan Justin Benson, "Spring". Tapi, dalam film Spring atau Beauty and the Beast, keduanya masih memiliki bentuk/wujud manusia yang membuat kita masih bisa menerima konsekuensi atas emosi tersebut, lain halnya dengan Amphibian Man yang hanya mengambil sedikit sekali identitas/wujud manusia, tidak sama bahasa, alam dan rupa.


The Shape of Water buat saya bukanlah sebuah ke-absurdan, sebaliknya del Toro bersama Vanessa Taylor yang bergandengan menuliskan naskah justru memiliki cerita puitis dan jujur. Ada adegan ketika Elisa membayangkan dirinya bisa berbicara dan mengungkapkan perasaannya pada Amphibian Man sambil menari diatas panggung, mirip adegan di film "The Artist". Dibalik cerita yang gelap dan sentimentil yang kerap menciptakan suasana horror, ada aura keluguan dan kekakuan terpancar dari karakter Elisa yang diperankan dengan sangat luar biasa oleh Sally Hawkins, selain harus berakting bisu, ditambah adegan frontal dan berani ia lakoni tanpa sehelai benang-pun. Elisa adalah wanita pemberani di balik sifatnya yang lazim sekaligus unik, berbanding terbalik dengan Zelda, yang terbilang cerewet tapi caring. Richard Jenkins yang perannya pun cukup dominan, bermain peran dengan Sally terasa memiliki chemistry yang kuat, seolah mereka berdua tampak seperti ayah-anak karena memiliki sifat yang cenderung sama. Dan salah satu aktor favorit saya, Michael Shannon, sayang aktingnya kurang memikat di film ini, meski saya suka kemampuan Shannon betukar peran baik sebagai protagonis maupun antagonis di beberapa film sebelumnya. Entah kenapa, mungkin karena pendalaman tokoh Strickland yang stereotipikal, seharusnya pengenalan sampai kerumah tangganya bisa menjadi suntikan moral yang lebih dalam.


Tapi, diantara itu semua adalah kekuatan sinematis yang dibuat oleh Dan Laustsen, yang membawa The Shape of Water menjadi salah satu pemenang Oscar dalam Best Motion Picture of the Year, juga mengantongi 3 kategori lainnya. Melalui ciri khas del Toro, tone gelap dengan dominasi siluet, green dan teal, dan tak jarang membaurkan sedikit palet warna merah, tiap bingkai adegan dibuat begitu indah dan membekas, bahkan warna tersebut kerap menjadi simbolisasi yang mampu berbicara banyak yang kadang dijelaskan melalui dialog. del Toro menjelaskan bahwa film ini awalnya akan dibuat hitam-putih, tapi kemudian diputuskan untuk membuat film berwarna, warna hijau dominan mewakilkan soal masa depan (baca ini atau ini). Selain dari daya tarik visual hingga desain produksi yang memukau, gubahan musik dan scoring film ini pun mampu memberikan nuansa klasik dan elegan yang kadang pas dengan setiap adegan yang ada, sehingga The Shape of Water tidak saja menembus batas-batas imajinasi, daya pikatnya pun terhantar begitu dalam menghipnotis hampir ke seluruh indera.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Seorang anak bagi orang tua adalah hadiah terindah yang mereka dapatkan dalam hidup, terlebih jika dari sekian juta anak yang lahir ada satu yang mewarisi Gifted (bakat) istimewa yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata orang dewasa pada umumnya. Tapi, apakah mungkin pengaruh gifted itu dihasilkan oleh genetika? Mungkin pertanyaannya adalah apakah kecerdasan seorang Albert Einstein atau mungkin bakat melukis Leonardo da Vinci juga dihasilkan dari DNA orang tua dan keturunannya? Mungkin memang terdengar rancu jika mengatakan potensi intelektual manusia di faktori oleh bakat keturunannya. Meski begitu saya tidak terlalu memusingkan apakah genetika tersebut berpengaruh atau tidak, hanya saja film ini mencoba mengeksplor sosok gadis kecil yang lahir dan hidup memiliki bakat seperti orang tuanya.


Nama gadis tersebut adalah Mary Adler (Mckenna Grace) yang tinggal bersama ayah? (ternyata adalah pamannya sendiri) Frank Adler (Chris Evans). Sebagai anak kecil yang masih berumur 7 tahun, Mary memiliki bakat istimewa yang tidak dimiliki anak seusianya, yaitu kemampuan matematikanya yang rumit. Kemampuan kalkulasinya ini ternyata berasal dari bakat ibunya yang juga seorang matematikawan yang berpengaruh. Tapi, sayangnya disaat Mary lahir ibunya melakukan bunuh diri dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab hak asuh Mary kepada Frank. Tapi, suatu hari Evelyn Adler (Lindsay Duncan), nenek Mary dan ibu Frank datang mengunjungi mereka dan meminta hak asuh Mary sepenuhnya diberikan kepadanya. Tapi, Frank menolak dan akhirnya perebutan hak asuh Mary berlangsung ke ranah hukum.

"Good Will Hunting" meet "I am Sam". Film ini memang sama-sama mengingatkan saya dengan kedua film itu. Tapi, tentu saja gifted lebih mengedepankan isu eksploitasi anak dengan sistem otoriterisasi pendidikan orang tua. Pondasi ceritanya adalah hubungan Frank dan Mary. Frank yang notabene sudah mengasuh Mary sejak lahir, punya konsep tersendiri dalam mendidik dan mengasuh Mary. Tapi, pola asuhnya ditentang oleh sebagian besar orang-orang di lingkungannya dan menyarankan Frank menyekolahkan Mary di sekolah khusus. Tapi, Frank kekeuh mendidik Mary menjadi gadis biasa saja di lingkungan yang normal tanpa harus memaksa Mary untuk mengasah gifted-nya tersebut.


Mungkin kesannya kontradiktif, tapi itulah pesan yang ingin disampaikan Marc Webb. Anak adalah tanggung jawab yang besar yang melibatkan pendidikan dan moral didalamnya, tapi disisi lain pendidikan juga sepenuhnya berpengaruh pada kondisi internal anak itu sendiri. Frank dan Mary mungkin bukan ayah-anak, tapi disini mengalir chemistry kuat diantara mereka yang malah terhubung emosi dan perasaan yang kuat. Frank mungkin bukan tipikal orang tua yang terlihat hebat, kesan yang ditampilkan Chris Evans cenderung lebih cocok jadi pria keren dan playboy, tapi saya suka melihat mereka berdua tampil sebagai partnership. Bayangkan ini kolaborasi terkeren antara orang tua yang tampan dan badboy dengan anak yang super-jenius dan berbakat.

Film ini memang banyak melontarkan dialog-dialog sarkas, bahkan sosok Mary pun bukan sepenuhnya gadis lugu dan lembut. Mary adalah gadis nyinyir yang pandai bicara dan ngeles, tapi sisi sok dewasanya itu yang bikin saya sangat kepincut dengan karakteristik Mary. Frank pun begitu, ia mungkin tampak acuh tak acuh dengan keistimewaannya, bahkan Frank mencoba untuk tidak menspesialkan kehidupannya. Tapi, Frank sosok yang lembut dan penuh kasih sayang, bahkan membuat saya sedikit percaya dan mendukung motif Frank terhadap Mary. Disisi lain muncul Evelyn sebagai ratu penyihir, kemunculannya yang berusaha mengambil alih Mary menjadi sosok b*tch yang mengganggu di film ini. Tapi sayang konfrontasi antara Frank dan Evelyn terasa kurang dan terkesan tarik ulur.


Second act mulai terjadi konflik yang mulai mengacu pada courtroom. Mungkin hal ini lebih mudah dan efisien men-struggling masalah, dengan melontarkan berbagai kritikan, skeptisme dari masing-masing sudut pandang dan luapan penuh emosi penuh air mata, tapi menurut saya ini agak basi dijadikan sebagai media kulminasi dalam film. Hasilnya tidak lagi mengejutkan, diluar dugaan, kehangatan mulai pudar dan klimaks pun menjadi masalah besar sebagai bentuk kekecewaan. Sama halnya kehadiran  Bonnie Stevenson (Jenny Slate) pun sekedar pemanis dan tidak berguna di dalam cerita, kecuali Roberta Taylor (Octavia Spencer) tetangga baik hati yang kurang lebih ikut berkontribusi dalam masalah yang terjadi pada Mary dan Frank. Dari artikulasi yang Webb sampaikan pada sejengkal masalah menghadirkan konklusi yang menjengkelkan, hingga akhirnya film ini terasa kurang memuaskan untuk hadir lebih cantik dan emosional. Well, dari sedemikian hal yang disampaikan Gifted salah satu bagian terbaik dari film ini hanyalah chemistry kuat yang masing-masing ditonjolkan Mckenna Grace dan Chris Evans, sebagai bentuk hubungan orang tua dan anak, ini terasa spesial, solid dan sulit untuk dipisahkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates