• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Kadangkala seorang filmaker/sutradara membuat film bertujuan untuk menyelipkan pesan atau isu penting yang mampu ditangkap dengan mudah oleh penontonnya. Dan yang paling krusial pesan tersebut harus mampu direspon baik melalui emosi dan logika penontonnya. Terutama apakah film tersebut mampu ditangkap secara visual melalui akal sehat. Bisa dibilang Guillermo del Toro yang selalu akrab dengan film visionernya yang unik dan selalu meleburkan inovasi dan imajinasinya melewati batas-batas sinematis tertentu. Tapi, sejujurnya ini bukan lagi kisah dark fantasy konvensional seperti karya-karya del Toro sebelumnya seperti The Devil's Backbone dan Pan's Labyrinth, melainkan sebuah langkah berani dan menantang tentang konsep mustahil tentang cinta seorang manusia, tapi del Toro menciptakannya.

Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah wanita penyendiri dan kesepian. Ia bekerja sebagai janitor di sebuah fasilitas penelitian rahasia milik pemerintah. Setting film ini diambil sekitar tahun 1962, saat perang dingin antara Amerika dan Rusia sedang berkecamuk. Elisa sendiri adalah seorang tunawicara, ia tidak bisa berbicara semenjak lahir. Dia memiliki dua teman dekat, pertama tetangganya, Giles (Richard Jenkins) pria tua (yang saya kira bapaknya) yang bekerja sebagai freelance artist yang juga hidup kesepian dan Zelda Fuller (Octavia Spencer) teman kerja Elisa yang sama-sama seorang janitor. Suatu hari Elisa dan Zelda mendapati seorang seekor monster amfibi "Amphibian Man" (Doug Jones) misterius yang baru dibawa oleh Richard Strickland (Michael Shannon) sebagai bahan eksperimen. Tapi, monster yang tampak seram dan berbahaya tersebut ternyata memiliki kemiripan layaknya manusia, dan membuat Elisa merasa tertarik dan jatuh cinta padanya.


Ada yang menyebutnya sebagai kisah fairy tale "Beauty and the Beast", tapi saya rasa konsepnya tidak sesederhana dan semanis itu, tapi jauh lebih dewasa dan kompleks yang sejalan dengan arti, "Siapapun berhak mendapatkan cinta". Dan bagian terdalamnya, cinta bukan soal fisik, tapi tentang respon emosional yang mungkin akan terdengar complicated, tapi del Toro menyampaikannya secara lugas dan cermat tentang apa itu cinta dan dibalik itu terdapat pesan isu orientasi seksual. Apalagi konsep soal impossibility's no matter of love in the world semakin terasa kuat bagaimana del Toro bermain soal cinta tanpa penggunaan bahasa verbal sedikitpun, selain dunia antara Elisa dan Amphibian Man yang jelas kontras berbeda, di dunia tanpa kata-kata hubungan mereka bagai terhubung oleh jembatan tak kasat mata.

Mungkin terasa sangat ganjil dan aneh, apa yang dibawa oleh del Toro dengan ambisinya yang absurd nan gila. Bahkan pesan moral soal cinta yang menghampiri Elisa, bukan serta merta dibuat berdasarkan rasa empati semata, justru dibuat dengan ikatan seksual. Mengingatkan saya dengan salah satu karya Aaron Moorhead dan Justin Benson, "Spring". Tapi, dalam film Spring atau Beauty and the Beast, keduanya masih memiliki bentuk/wujud manusia yang membuat kita masih bisa menerima konsekuensi atas emosi tersebut, lain halnya dengan Amphibian Man yang hanya mengambil sedikit sekali identitas/wujud manusia, tidak sama bahasa, alam dan rupa.


The Shape of Water buat saya bukanlah sebuah ke-absurdan, sebaliknya del Toro bersama Vanessa Taylor yang bergandengan menuliskan naskah justru memiliki cerita puitis dan jujur. Ada adegan ketika Elisa membayangkan dirinya bisa berbicara dan mengungkapkan perasaannya pada Amphibian Man sambil menari diatas panggung, mirip adegan di film "The Artist". Dibalik cerita yang gelap dan sentimentil yang kerap menciptakan suasana horror, ada aura keluguan dan kekakuan terpancar dari karakter Elisa yang diperankan dengan sangat luar biasa oleh Sally Hawkins, selain harus berakting bisu, ditambah adegan frontal dan berani ia lakoni tanpa sehelai benang-pun. Elisa adalah wanita pemberani di balik sifatnya yang lazim sekaligus unik, berbanding terbalik dengan Zelda, yang terbilang cerewet tapi caring. Richard Jenkins yang perannya pun cukup dominan, bermain peran dengan Sally terasa memiliki chemistry yang kuat, seolah mereka berdua tampak seperti ayah-anak karena memiliki sifat yang cenderung sama. Dan salah satu aktor favorit saya, Michael Shannon, sayang aktingnya kurang memikat di film ini, meski saya suka kemampuan Shannon betukar peran baik sebagai protagonis maupun antagonis di beberapa film sebelumnya. Entah kenapa, mungkin karena pendalaman tokoh Strickland yang stereotipikal, seharusnya pengenalan sampai kerumah tangganya bisa menjadi suntikan moral yang lebih dalam.


Tapi, diantara itu semua adalah kekuatan sinematis yang dibuat oleh Dan Laustsen, yang membawa The Shape of Water menjadi salah satu pemenang Oscar dalam Best Motion Picture of the Year, juga mengantongi 3 kategori lainnya. Melalui ciri khas del Toro, tone gelap dengan dominasi siluet, green dan teal, dan tak jarang membaurkan sedikit palet warna merah, tiap bingkai adegan dibuat begitu indah dan membekas, bahkan warna tersebut kerap menjadi simbolisasi yang mampu berbicara banyak yang kadang dijelaskan melalui dialog. del Toro menjelaskan bahwa film ini awalnya akan dibuat hitam-putih, tapi kemudian diputuskan untuk membuat film berwarna, warna hijau dominan mewakilkan soal masa depan (baca ini atau ini). Selain dari daya tarik visual hingga desain produksi yang memukau, gubahan musik dan scoring film ini pun mampu memberikan nuansa klasik dan elegan yang kadang pas dengan setiap adegan yang ada, sehingga The Shape of Water tidak saja menembus batas-batas imajinasi, daya pikatnya pun terhantar begitu dalam menghipnotis hampir ke seluruh indera.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Awalnya Mud terlihat sangat mirip dengan kedua film arahan sutradara Coen Brothers, antara "No Country for Old Men" dan "True Grit", dengan atmosfer kental yang terasa gritty, mysterious and thrilling. Jeff Nichols selaku sutradara yang pernah menggelarkan film misteri berjudul "Take Shelter" yang mengacak-acak pikiran saya lewat keraguan antara kenyataan dan delusi. Mud hampir sepenuhnya sama, hanya saja genre yang saya sebutkan diatas dicampur adukkan melalui pengkisahan ala drama coming of age sederhana dengan pengembangan cerita yang lebih adult dan faded.

Mud sesungguhnya sederhana dan film ini tentu saja bukan tipikal film yang dipenuhi adegan berdarah ataupun action yang dipenuhi baku hantam antar pria koboi, tampil dengan elemen misterinya yang intens film ini mengajak kita mengenal dua bocah belasan tahun bernama Ellis (Tye Sheridan) dan Neckbone (Jacob Lofland) yang sedang menyusuri sungai Mississipi karena tertarik melihat sebuah perahu boat tua yang tergantung di atas pohon di sebuah pulau tak berpenghuni. Tapi, mereka tak menyangka bahwa di sana mereka bertemu dengan seorang buronan bernama Mud (Matthew McConaughey) yang sedang bersembunyi dipulau dengan wajah kumal, kemeja putih kotor, sambil tersenyum hangat Mud meminta bantuan mereka dan mengajaknya bekerja sama.

Mud ternyata film yang kental menceritakan soal cinta dan hakikatnya dalam kehidupan muda dan dewasa seorang manusia, tapi bukan berarti Nichols fokus menjadikannya romansa penuh melodrama layaknya film Nicholas Sparks. Film ini jauh lebih dewasa dalam menuturkan kisah cinta yang terpisah jarak antara Mud dan kekasihnya Juniper (Reese Witherspoon). Melibatkan Ellis yang diperankan Tye Sheridan sebagai sudut pandang dan tokoh utama, Mud menjelma menjadi sketsa tokoh yang memiliki segudang problematika kehidupan yang terbilang sangat kompleks. Sembari Ellis mengenali hubungan Mud dan Juniper, ia pun kerap mencari dan memaknai arti cinta itu sendiri sambil menatap hubungan retak kedua orang tuanya yang membuatnya struggling.



Mud buat saya adalah pesona film yang berbeda dari kebanyakan film regular, Nichols lewat nuansanya yang terbilang kusam, tapi maknanya jauh lebih warm dan heartbreaking dalam menyerempetkan segala empati dan sentimentil kita pada emosi para tokoh. Apalagi misteri film ini disebarkan melalui pengaruh karismatik Matthew McConaughey sebagai pria misterius, abstrak dan penuh kejutan. Dan juga Sheridan sebagai messenger dan penghubung antara dua tokoh dewasa ini mengalami goncangan emosi kala ia terus mempertanyakan eksistensi cinta yang selalu datang ke dalam hidupnya, antara sifat anak kecil yang jujur dan simpatik namun juga naif kala ia terbawa oleh permasalahan besar dan rumit orang dewasa. Bahkan sesekali saya sebagai penonton turut terguncang kala ikut-ikutan naif melihat cinta itu diperlihatkan sangat manis dan indah, lalu Nichols mengobok-oboknya dengan sinis dan pahit perihal cinta sesungguhnya begitu menyakitkan dan palsu di belakangnya, hingga hal tersebut terjadi berulang kali membuat saya terombang-ambing hingga muncul pertanyaan dari alam bawah sadar saya, "What love is matter?"


Meski Jeff Nichols terbilang bukan big director semacam Steven Spielberg ataupun Christopher Nolan. Melihat Mud juga bukan film yang terasa ambisius, tapi secara komposisi Mud adalah film besar yang punya substansi cerita yang kokoh dan kuat. Pergolakkan emosi kita saat menemui berbagai segmentasi konflik kala cerita terus menggedor emosi hingga membolak-balikkan saya pada rangkaian kisah yang sentimentil. Ditunjang kehebatan Matthew meski bisa dibilang ia bukan tokoh sentral, pesonanya muncul dalam kemisteriusan dan kehangatan yang terpancar dari lusuhnya tokoh yang ia perankan. Dan film ini menjadi awal mula Matthew mulai banyak berakting di film-film besar setelahnya, meski sebelumnya ia adalah aktor yang sering bermain di film rom-com murahan yang hobi membuka baju, tapi akhirnya saya juga secara pribadi menyukai aktingnya di "Dallas Buyers Club" dan "Interstellar". Juga buat Witherspoon, mbak cantik yang aduhai ini punya pesona dan akting yang sebetulnya tidak banyak tapi beberapa kali hampir membuat emosi saya tercampur aduk kala memerhatikan setiap emosi yang keluar dari dirinya membuat saya percaya tak percaya akan perasaan tak jujur dalam hatinya.

Well, Mud memang terbukti adalah film yang sangat menawan, mencoba bercerita secara dalam dan substansial melalui tokoh dan ceritanya yang cukup mengejutkan. Dipuji dan disambut hangat oleh para kritikus memang tidak bisa dipungkiri, Mud adalah karya terbaik Jeff Nichols sejauh ini sepanjang saya menonton filmnya Take Shelter maupun "Midnight Special".
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengungkapkan rasa sedih dan rasa luka di hatinya. Secara umum orang akan beranggapan bahwa kesedihan bisa diungkapkan hanya dengan air mata, tapi mungkin juga tidak. Pengungkapan rasa sedih dan terluka juga bisa diungkapkan melalui kata-kata maupun tulisan. Seperti apa yang ditunjukkan Nocturnal Animals di film ini, antara percampuran drama melodramatis dan psikologi thriller. Mungkin saya akan sedikit membeberkan *SPOILER* untuk mengetahui usaha apa yang coba diungkapkan sutradara Tom Ford yang kisahnya sendiri diadaptasi dari novel karya Austin Wright berjudul "Tony and Susan". Jadi, jika tidak ingin mendapatkan bocoran film ini sebaiknya tidak melanjutkan membaca ulasan saya kali ini.

Jika menyerempet tentang kesedihan, Nocturnal Animals mengeksplisitkan secara tragis dan esktrim yang dikemudikan dengan cara penceritaan non-linier dan kompleks. Jika, saya menyebutnya kompleks sebetulnya film ini cukup sederhana, hanya saja film ini menceritakan dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, Susan Morrow (Amy Adams) seorang wanita kaya dengan kelas sosial yang tinggi sebagai pecinta karya seni yang memiliki sebuah art gallery, suatu hari Susan dikirimi sebuah manuscript novel berjudul "Nocturnal Animals" oleh mantan suaminya Edward Sheffield yang dulu ia tinggalkan kurang lebih 20 tahun lalu dan meminta dirinya kembali membaca karya suaminya tersebut. Kedua, Tony Hastings (Jake Gyllenhaal), pria yang diceritakan dalam novel fiksi Edward yang dideskripsikan sebagai dirinya sendiri, yaitu pria yang berencana melakukan liburan bersama istrinya Laura Hastings (Isla Fisher) dan anak perempuannya India Hastings (Ellie Bamber) mengalami kejadian tragis ditengah jalan yaitu pemerkosaan serta pembunuhan anak dan istrinya oleh sekomplotan orang tak dikenal yang dipimpin oleh pria yang dikenal dengan nama Ray Marcus (Aaron Taylor-Johnson).

Apa yang saya tangkap dalam film ini memang memberikan saya cukup multitafsir setelah menontonnya, karena melihat apa yang dilakukan oleh Edward mengirimkan novel tersebut kepada mantan istrinya sendiri cukup memberikan ambiguitas, apalagi setelah di akhir film ini pun sepertinya memang sengaja membuat penontonnya bertanya-tanya dan tidak memberikan penjelasan yang jelas (Apakah ia melakukannya untuk rujuk, teror, atau sebuah tujuan tersembunyi). Kecuali hal yang paling umum untuk disimpulkan memang tujuan Edward yang kita rasakan dan tangkap dari caranya menceritakan isi novelnya tersebut untuk mengungkapkan kepada mantan istrinya tentang kesedihan, kehilangan, penderitaan dan kelemahan yang digambarkan dari karakter Tony yang terjadi juga pada dirinya sendiri.

Juga bagaimana respon Susan yang sesekali membaca novel tersebut semakin tenggelam, membuat kondisi pikiran dan psikisnya terganggu lalu membuatnya kembali terbayang masa lalu kelamnya bersama Edward. Yang sedikit demi sedikit tabir kehidupan gelap dan buruk yang Susan alami semakin terang, berhasil membolak-balikkan pikiran dan simpatik penonton dan membuat serpihan dari rasa sakit dan kepahitan yang dalam baik yang dialami oleh Edward maupun Tony semakin membuat penonton merasakan ambigu.

Dua serpihan cerita yang dibagi dua ini memang terasa pakem dikedua sisinya, baik cerita Susan bersamaan kisah masa lalu dan juga kehidupannya sekarang. Dan juga cerita tragis yang dialami oleh Tony sebagai kisah "story in a story" sebagai sebuah kisah eksplorasif yang memilukan. Yang keduanya sama-sama mampu saling berkaitan satu sama lain yang membuat kehidupan Edward aka Tony sama-sama memberikan penderitaan yang hampir sama. Bahkan dari sisi kekejamannya pun hampir sama yang satu sisi dilakukan secara halus dan satu sisi dilakukan secara ekstrim, membuat akting Jake Gyllenhaal pun terasa sangat menyedihkan, lemah dan rapuh.

Untuk beberapa aspek yang ditonjolkan oleh Tom Ford dalam film ini pun cukup saya puji, baik untuk akting pemerannya, tata visual, tata busana dan juga tata rias. Darkly toned dan tata rias make up sudah cukup memberi kesan kelam cukup mencuri perhatian, dengan beberapa penyorotan lukisan-lukisan dan beberapa objek seni surealis bahkan telanjang, dan juga aktor dan artis yang berakting sangat luar biasa, apalagi tokoh tak disangka-sangka Bobby Andes (Michael Shannon) yang berperan sebagai polisi detektif yang membantu Tony menangkap pembunuh istri dan anaknya pun cukup memberi atensi sebagai polisi jujur dan badass yang berusaha memperjuangkan keadilan ditengah carut marutnya peristiwa dan permasalahan yang terjadi secara internal maupun ekstenal. Dan juga Aaron Taylor-Johnson yang aktingnya "out of the box", semacam kriminal sakit jiwa yang aktingnya disini seperti as*hole-man.

Well, film ini sebetulnya memiliki begitu banyak bagian yang sangat bagus dan sangat ok sebagai film drama thriller yang membuat kita terseret dalam kesedihan dan rasa sakit yang dialami oleh dua tokoh yang mengalami hal yang hampir sama yang ceritanya bergerak secara non-linier. Walau memang saya sedikit menyayangkan konklusi akhir yang memang tidak banyak membantu pakem cerita yang kuat diawal menjadi terasa mengambang dan kurang eksploitatif. Tapi, saya cukup terhibur apalagi jajaran cast dalam film ini pun sudah memberikan perannya secara maksimal, apalagi adegan pembukaan yang memang cukup memberi elemen ketegangan dan teror sekaligus intimidasi psikologis ini sudah cukup membawa saya pada tingkat cerita tragedi yang mengerikan, menyayat hati sekaligus compelling.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dikisahkan seorang anak bernama Alton (Jaeden Lieberher) memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki manusia pada umumnya. Bersama ayahnya Roy (Michael Shannon) dan sahabat lamanya Lucas (Joel Edgerton) berusaha bersembunyi dan lari, demi melindungi putranya dari orang-orang pemerintahan dan sekte yang berniat merebut kekuatannya.

REVIEW:
Ini adalah film kolaborasi ketiga antara Jeff Nichols dan Michael Shannon. Setelah sebelumnya Shannon telah membintangi dua film terdahulunya (Shotgun Stories dan Take Shelter). Kali ini Jeff menghadirkan sebuah film bertema sci-fi dengan menjadikan topik cerita seorang anak berkemampuan luar biasa. Ia disini mencoba membangun sebuah hubungan antara seorang ayah dan seorang putranya yang sangat-sangat berbeda dari kebanyakann orang.

Entah mengapa Saya merasa ada sebuah kesamaan antara Midnight Special dan Take Shelter. Jika berbicara aktor, ya tentu saja ada Shannon yang memang dia menjadi aktor pada kedua film itu. Tapi, ada elemen-elemen yang sama ketika Saya menyaksikan kedua film ini. Dimana elemen tersebut menyangkut sebuah karakterisasi tokoh yang terlihat normal tapi di dalamnya memiliki sebuah misteri yang aneh, dimana sebetulnya ia menjadi salah satu orang dalam sebuah keluarga yang normal. Kemudian ia tampak menjadi cerita drama yang eksistensinya menjadi lebih kelam dan akhirnya menjadi konklusi akhir cerita yang ditunggu-tunggu penonton tentang jawaban akhirnya.

Mengingat ceritanya yang tampil menjadi misterius, Jeff sepertinya tidak melupakan sebuah hubungan antara ayah dan anak yang menjadi salah satu pondasi cerita ini. Meskipun ia tampil tidak begitu hangat dan emosional. Tapi, ia mampu menampilkan chemistry baik Alton, Roy, maupun bersama Lucas. Dan juga nantinya ada Sarah (Kirsten Dunst) selaku ibunya Alton yang juga ikut serta melindungi putra tunggalnya tersebut.

Meski bisa dibilang untuk segi cerita sendiri karya Jeff mungkin tak perlu diragukan lagi. Untuk film satu inipun ia masih bisa menghiburmu dengan elemen cerita sci-fi meski ia tak begitu banyak mengumbar atau menawarkan visual effect seperti tema sci-fi pada umumnya, tapi ia akan membawamu kepada petualangan cerita yang menarik yang akan terus berupaya membawamu pada klimaks cerita. Walau Saya sendiri berharap pada petualangan yang lebih seru lagi dari yang bisa disajikan Jeff.

OVERALL, satu hal yang bisa saya nikmati dan enjoy pada film Midnight Special ini adalah petualangan serta upaya orang tua yang berusaha melindungi anaknya dari tangan orang-orang berkuasa. Melindungi orang yang disayangi karena kemampuan luar biasanya dari tangan orang yang mungkin saja berniat jahat. Meski Saya pribadi mengatakan ia bukanlah karya Jeff Nichols yang Special, namun Midnight Special mampu menceritakan kisahnya sendiri dengan sangat baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Clark Kent/Kal-El (Henry Cavill) adalah wartawan muda yang merasa terasing oleh kekuatan di luar imajinasi siapapun. beralih ke Bumi beberapa tahun yang lalu dari planet Krypton, pikiran Clark tumbuh dengan norma-norma yang diajarkan orang tua angkatnya, Martha dan Jonathan Kent. Ia kemudian menyadari adanya kemampuan super dalam dirinya. Saat bumi berada dalam keadaan bahaya, Clark tak hanya dituntut menjadi pahlawan tetapi juga bisa menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

REVIEW :
Memasang ekspetasi terlalu tinggi buat film ini memang sangat wajar, apabila film ini dijalankan oleh pemegang cerita sekaliber Nolan. Tapi, disayangkan sekali bahwa ekspetasi tinggi tersebut berbuah pada kekecewaan yang berarti. Ini bukan karena filmnya yang jelek, hanya saja disayangkan beberapa faktor yang membuat film ini kurang terasa seperti gambaran trailernya yang mempunyai esensi tinggi di dalamnya. Memang, ketika kita melihat bahwa inilah Superman yang harus dibuat dengan cara semanusiawi mungkin dan sekelam mungkin, tetapi sayangnya sisi emosional yang seharusnya kita inginkan sebanyak mungkin dalam ledakkan film seperti Batman triloginya Nolan ataupun hubungan kisah kehidupan Clark Kent sendiri dengan kehidupan keluarga ataupun sosial yang ada di film ini tidak terasa sama sekali. Yang kita lihat hanyalah kisah yang yang terasa di panjang-panjangkan pada awal film dan juga sedikit ke absurd-an cerita.

Entah siapa yang salah dalam penggarapan, apa kita harus menyalahkan Synder sebagai sutradara yang yang pemegang penuh naskah atau Nolan plus David S. Goyer yang tak bisa menciptakan Superman yang lebih berbobot seperti yang kita lihat pada penggarapan Batman trilogi? Yup, Yang pasti Man Of Steel adalah sebuah karya yang tak sempurna tetapi bukan juga film yang benar-benar jatuh sehingga harus masuk kotak sampah. Saya masih menganggap atau masih bisa saya katakan film ini jauh lebih matang dan lebih baik dari Superman-superman yang pernah dibuat sebelumnya. Pemilihan Henry Cavill sebagai Superman adalah pemilihan yang cukup tepat dengan Superman yang tidak terlalu meninggikan intensitas ketampanan, tetapi lebih kepada karisma dan kekuatan si Superman yang manusiawi yang lebih bisa dilahirkan oleh si Cavill. Michael Shannon pun begitu berarti di film ini, sebagai sosok musuh tangguh Superman ia bisa menjadikan dirinya pantas sebagai Jendral Zod dengan sosok yang angkuh dan kejam. Yang Saya suka dari Man Of Steel pun setidaknya penceritaan karakter yang lebih detil dari sosok manusia super ini, seperti penjelasan arti dari S di kostumnya dari bahasa Krypton yaitu "hope (harapan)", dan juga penceritaannya awal dari kehancuran Krypton yang membuat Kal-El/Clark Kent di kirim ke bumi sampai ia tumbuh dewasa.

Saya tak begitu benci atau mencap film ini jelek, hanya saja ekseusi yang kurang renyah pada penceritaannya. Sosok Lois Lane sebagai kekasih Superhero pun sepertinya tidak begitu menyita perhatian dan perannya di film inipun begitu minim, bahkan bisa Saya katakan seperti sebuah figuran yang hanya muncul untuk menjalankan sebuah roda cerita, tak lebih dari itu. Untungnya, kekecewaan film ini dengan begitu banyaknya lobang di kisahnya, tetap memiliki Positive Value, misalnya adegan klimaks ketika Superman bertempur dengan seluruh tentara Krypton yang menyerang bumi dibawah pimpinan Zod yang jauh lebih melindungi manusia ketimbang kaumnya sendiri. Kota dan gedung-gedung yang runtuh, para warga yang berlarian, dan seperti yang Saya ceritakan tadi yaitu adegan pertempuran antara manusia super dengan kecepatan tinggi layaknya Anime/kartun Jepang Dragon Ball menjadi nilai lebih tersendiri.

Overall, meski menilik kadar cerita dan sisi emosional yang tidak memuaskan, tetapi setidaknya Nolan-Synder sudah berhasil menciptakan kisah Man Of Steel dengan gayanya sendiri yang lebih manusiawi dan lebih dark. Pemilihan cast pada Cavill dan Shannon menjadi sangat berarti untuk merubah image Superman yang lama menjadi lebih hidup dan lebih modern saat ini. Saya kira film ini tetap layak tonton dengan mengabaikan ekspetasi terlalu tinggi dan tetap memilih menonton film ini sebagai hiburan semata.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates