• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Saya jadi teringat dengan salah satu horror indie-classic The Blair Witch Project yang terkenal karena menyampaikan materi horror-nya dengan cara tak biasa melalui kekuatan atmosfer mencekam tanpa harus bersusah payah menakuti penonton dengan jump scare atau penampakan mengerikan seperti halnya hantu, iblis, vampir ataupun zombie sekalipun. Sama halnya dengan It Comes At Night, "It" yang dimaksud dalam judulnya memiliki makna jamak dan tidak bisa dikategorikan sebagai entitas makhluk atau mungkin bisa dikatakan demikian, sebagaimana hal-hal seram yang terjadi dalam film ini justru datang dari sesuatu yang disebut kondisi dan keadaan yang memaksa manusia harus berjibaku untuk bertahan hidup. Psikologis manusia yang dilanda ketakutan ekstrim inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Trey Edward Shults sebagai horror-thriller psychological yang mendebarkan jantung.

Premis filmnya meyakinkan, sebuah zaman pasca-kiamat dimana penyakit menular dan mematikan melanda dunia, tapi tentu saja Shults membuatnya menjadi minimalis, sama seperti 10 Cloverfield Land, set dunia yang diperlihatkan justru hanya dari sepetak keluarga yang hidup terisolasi dalam rumah di tengah hutan, diantaranya Paul (Joel Edgerton), istrinya Sarah (Carmen Ejogo) dan anaknya Travis (Kelvin Harrison Jr.). Sehingga hal-hal di film ini sengaja ditutup-tutupi dan detil isu dalam kiamat pun takkan pernah terjelaskan secara lebih rinci, meski begitu apa yang disampaikan Shults tetap meyakinkan, kekuatan cerita yang dihamparkan secara menakjubkan memberi atmosfer mencekam kala teror tersebut datang dari ancaman dibalik gelapnya hutan, penyakit menular, hingga dilema moral kala manusia berhadapan dengan keputusasaan dan ketakutan. Hingga Paul dan keluarganya didatangi oleh seorang pria misterius dan mencurigakan yang mengaku datang ketempatnya hanya untuk mencari air bersih demi menunjang kehidupan anak dan istrinya yang tinggal beberapa kilometer dari tempat Paul tinggal.


Moment film ditangkap melalui atmosfer kala mengelilingi tiap bilik kayu rumah Paul yang gelap gulita saat malam datang dengan penerangan seadanya, hingga menyusuri hutan gelap yang mendapati aura mencekam didalamnya. Tapi, tentu saja kita takkan menemukan apa-apa kecuali film ini terdapat keragu-raguan, kecemasan, hingga timbul depresi dan delusi dalam paranoia yang berlebihan. Mungkin film ini berakhir dengan kontradiksi yang menimbulkan pertanyaan dan perdebatan kala konklusi berakhir tidak terjawabkan. Tapi, mungkin inilah yang ingin disampaikan Shults, keraguan, ketakutan disertai teka-teki membingungkan menjadi inti bagaimana manusia normal mampu berubah akibat efek psikologis yang membutakan hati nurani, saat rasa takut menjadi bagian paling menyeramkan dalam diri manusia.

Ya, beberapa point penting memang tidak terjawab secara memuaskan, meski ditutup dengan akhir yang menakjubkan, tragis dan betul-betul gila. Hingga akhirnya "It" hanya sebatas sesuatu yang mengganjal dihati tanpa tahu apa makna dibalik perisitiwa dari segelintir keanehan yang terjadi di rumah Paul, kecuali kita memaksakan sendiri konotosi dibalik hal tersebut secara implisit antara aneh dan mengganggu, terlebih delusi dari mimpi-mimpi surealis yang terjadi pada Travis membuat hal-hal yang nampak terjadi menjadi semakin membingungkan dan sepenuhnya abstrak. Tapi, tentu saja jangan pernah terjebak oleh rekayasa cerita Shults, kita takkan pernah tahu siapa yang sesungguhnya jahat di film ini, apakah sesungguhnya hantu sang kakek menjadi asal muasal penyebab atau mungkin ada hal lain yang menjadi indikasinya. Ya, It Comes At Night adalah film horror yang membingungkan hingga saat ini.



SPOILER ALERT!
Ini hanya teori dan opini pribadi yang liar untuk sedikit menjelaskan setumpuk pertanyaan dalam film ini. Tahu kenapa Shults mengawali kisahnya dengan pembunuhan yang dilakukan Paul dan keluarganya terhadap kakek Bud? Dalam kondisi penyakit yang dideritanya, saya rasa Bud menjadi hantu penasaran. Memang hantu Bud tidak dijelaskan secara eksplisit, melalui gangguan atau penampakan secara langsung. Namun justru datang melalui mimpi-mimpi buruk yang dialami Travis. Memang ambigu, tapi bukankah wujud hantu tidak sepenuhnya meneror melalui poltergeist atau teror hantu konvensional semacam itu. Apalagi melihat bahwa Travis secara pribadi merasa kehilangan saat melihat kakeknya ditembak dan dibakar didepan matanya sendiri. Membuat Travis seolah memberi pesan kepada cucu terdekatnya tersebut sebagai pesan yang mengerikan.

Coba ingat dan pikir, siapa yg membuat anjing Stanley berlari menuju hutan, lalu pas dikejar oleh Travis tiba gonggongan beserta anjingnya ikut menghilang, dan suatu malam setelahnya, Travis terbangun (aneh tiba-tiba ia terbangun diwaktu tersebut dan ngelonyor turun ke bawah meski telah dibahas kalau ia memiliki penyakit susah tidur, yang tidak lain karena mimpi buruknya selama ini, menemui Kim? Saya rasa itu konyol) dan secara mengejutkan tiba-tiba menemukan anak Will, Andrew, tertidur (terkapar) di luar ruangan (Ingat? Ruangan Bud!), dan pintu merah terbuka dari dalam dan setelahnya Travis mendengar suara aneh seperti ada seseorang dan kemudian secara mengejutkan Stanley terkapar belumuran darah. Dan saat ditanya mengenai soal kenapa Andrew bisa keluar dan tertidur ditengah ruangan Bud, dan ia mengatakan lupa apa yg telah terjadi pada dirinya. Bukankah sudah jelas, Andrew tidak punya penyakit tidur berjalan, dan ia tidak ingat apa yg terjadi dengannya.

Mengenai penyakit menulari Travis? Saya rasa kita bisa menafsirkan sendiri-sendiri. Apakah hantu tersebut bisa secara langsung menulari penyakit tersebut atau tidak. Toh, saya juga berpikir begini, Shults memang berencana tidak membuat hantu terlihat nyata, meski hantu dijelaskan melalui mimpi buruk, karena tujuannya disini adalah teror psikologis manusia dengan bumbu teka-teki dan moral dalam wabah penyakit yang tak terjelaskan, ini seperti siratan makna lukisan Triumph of the Death di kamar Travis, dan bukan soal jelmaan hantu Bud. Meski pesannya disampaikan secara subtil, teori saya mengatakan film ini adalah film hantu yang sengaja tidak menjelaskan bahwa ini adalah film hantu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Dikisahkan seorang anak bernama Alton (Jaeden Lieberher) memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki manusia pada umumnya. Bersama ayahnya Roy (Michael Shannon) dan sahabat lamanya Lucas (Joel Edgerton) berusaha bersembunyi dan lari, demi melindungi putranya dari orang-orang pemerintahan dan sekte yang berniat merebut kekuatannya.

REVIEW:
Ini adalah film kolaborasi ketiga antara Jeff Nichols dan Michael Shannon. Setelah sebelumnya Shannon telah membintangi dua film terdahulunya (Shotgun Stories dan Take Shelter). Kali ini Jeff menghadirkan sebuah film bertema sci-fi dengan menjadikan topik cerita seorang anak berkemampuan luar biasa. Ia disini mencoba membangun sebuah hubungan antara seorang ayah dan seorang putranya yang sangat-sangat berbeda dari kebanyakann orang.

Entah mengapa Saya merasa ada sebuah kesamaan antara Midnight Special dan Take Shelter. Jika berbicara aktor, ya tentu saja ada Shannon yang memang dia menjadi aktor pada kedua film itu. Tapi, ada elemen-elemen yang sama ketika Saya menyaksikan kedua film ini. Dimana elemen tersebut menyangkut sebuah karakterisasi tokoh yang terlihat normal tapi di dalamnya memiliki sebuah misteri yang aneh, dimana sebetulnya ia menjadi salah satu orang dalam sebuah keluarga yang normal. Kemudian ia tampak menjadi cerita drama yang eksistensinya menjadi lebih kelam dan akhirnya menjadi konklusi akhir cerita yang ditunggu-tunggu penonton tentang jawaban akhirnya.

Mengingat ceritanya yang tampil menjadi misterius, Jeff sepertinya tidak melupakan sebuah hubungan antara ayah dan anak yang menjadi salah satu pondasi cerita ini. Meskipun ia tampil tidak begitu hangat dan emosional. Tapi, ia mampu menampilkan chemistry baik Alton, Roy, maupun bersama Lucas. Dan juga nantinya ada Sarah (Kirsten Dunst) selaku ibunya Alton yang juga ikut serta melindungi putra tunggalnya tersebut.

Meski bisa dibilang untuk segi cerita sendiri karya Jeff mungkin tak perlu diragukan lagi. Untuk film satu inipun ia masih bisa menghiburmu dengan elemen cerita sci-fi meski ia tak begitu banyak mengumbar atau menawarkan visual effect seperti tema sci-fi pada umumnya, tapi ia akan membawamu kepada petualangan cerita yang menarik yang akan terus berupaya membawamu pada klimaks cerita. Walau Saya sendiri berharap pada petualangan yang lebih seru lagi dari yang bisa disajikan Jeff.

OVERALL, satu hal yang bisa saya nikmati dan enjoy pada film Midnight Special ini adalah petualangan serta upaya orang tua yang berusaha melindungi anaknya dari tangan orang-orang berkuasa. Melindungi orang yang disayangi karena kemampuan luar biasanya dari tangan orang yang mungkin saja berniat jahat. Meski Saya pribadi mengatakan ia bukanlah karya Jeff Nichols yang Special, namun Midnight Special mampu menceritakan kisahnya sendiri dengan sangat baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates