• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Ini adalah film tv series ketiga setelah Game of Thrones dan Breaking Bad yang saya akui segila keduanya, meski film yang diberi judul The Handmaid's Tale ini baru berjalan 1 season. Tapi, sejujurnya ini merupakan film horror yang sebetul-betulnya horror mengerikan. Ya film horror khusus buat perempuan sekaligus kental dengan selipan feminisme lewat gempuran kebobrokkan dunia syarat radikalisme agama. Hingga saat saya menikmati film yang memiliki 10 episode dengan durasi hampir 1 jam saya sudah banyak-banyak beristighfar sangking gilanya film ini!

The Handmaid's Tale adalah cerita fiksi yang berasal dari novel best-Seller karangan Margaret Atwood, seorang wanita asal Kanada yang pertama kali mempublikasikan bukunya di tahun 1985, kemudian diadaptasikan melalui program TV 'Hulu' di tahun 2017. Singkatnya The Handmaid's Tale berkisah tentang dunia distopia dimana negara adidaya dan liberal yaitu Amerika Serikat dikuasai oleh ekstrimis agama (mungkin pandangan kita di dunia nyata semacam gerakan ISIS), yang sekarang berubah nama menjadi 'Republic of Gilead'. Film ini dilatar belakangi isu kekacauan dunia akibat polusi udara oleh pabrik dan juga kerusakan alam yang mengakibatkan sebagian besar manusia mengalami kemandulan baik pria dan wanita, sehingga kekacuan tersebut dimanfaatkan oleh gerakan ekstrimis agama dengan mensabotase kekuasaan di negeri Paman Sam.


Kisahnya diawali dengan seorang wanita handmaid bernama Offred (Elisabeth Moss) (bukan nama asli, namanya diganti setelah ia menjadi handmaid yang diambil dari nama depan tuannya, Commander (istilah buat para pria kepala rumah tangga) bernama Fred (Joseph Fiennes) dan istrinya Serena Joy (Yvonne Strahovski)). Sebelum Offred menjadi handmaid, ia adalah wanita karir yang memiliki kehidupan normal bersama suaminya Luke (O-T Fagbenle) dan gadis kecilnya Hannah, ia terpaksa terpisah dengan keluarganya setelah berusaha kabur dari kejaran anggota sekte tersebut dan ditangkap. Offred yang tertangkap kemudian dipaksa untuk bekerja sebagai handmaid bagi keluarga kaya dan elite, Waterford (Fred dan Serena). Selain disana ia pun mengenal Rita (Amanda Brugel) pembantu rumah tangga dan Nick (Max Minghella) sopir khusus keluarga Waterford.

Sebelumnya wanita digolongkan oleh beberapa kelas berdasarkan tugas/peran yang tersimbol melalui warna pakaiannya, red (merah) menandakan the handmaid (pembantu/budak), green (hijau) menandakan istri-istri para commander, brown (coklat) pembantu rumah tangga yang sudah renta (menopause) biasanya mengurusi dapur dll, dan black (hitam) atau biasa dipanggil "bibi" mereka ibarat 'suster' yang mengatur tindak tanduk para handmaid. Wanita di film ini tidak lagi punya hak dan kebebasan mutlak, mereka dikekang oleh teokrasi kejam. Mereka tidak bisa lagi diizinkan memiliki aspirasi, opini, tidak diizinkan bekerja, tidak diizinkan keluar rumah selain untuk keperluan penting, hingga tidak diizinkan membaca atau menulis (alias tidak diizinkan memiliki pengetahuan sama sekali). Semua yang mereka lakukan dibatasi, hanya diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah dan melayani suami/tuan mereka. Sedangkan kaum laki-laki memiliki kekuatan/kewenangan penuh atas pekerjaan yang mana wanita tidak diizinkan melakukannya.


Yang paling miris mereka yang masih memiliki rahim subur ditangkap dan dipaksa menjadi handmaid hingga hampir dari mereka semua diperlakukan sebagai "alat" untuk berkembang biak (istilah kasarnya: jadi ternak manusia) bagi para majikan mereka yang tidak mampu menghasilkan keturunan alias mandul. Jika mereka tidak menurut atau melanggar aturan agama, mereka disiksa, sebagian di rajam (potong tangan/kaki) dan selebihnya dibunuh dan digantung di tembok-tembok jalanan. Selain dari itu, para pelaku homoseksual hingga yang dianggap pezina (wanita/pria) dihukum berat dan sebagian pula ada yang dihukum mati.

Sejenak ketika saya sedang menggambarkan betapa kejam dan mengerikannnya film ini, terutama bagi kaum wanita. Secara tidak langsung apa yang tersirat pada distopia masa depan film ini lumayan tersinkronisasi dengan apa yang sedang berkecamuk di masa kini. Ya, film ini seperti sedang menggambarkan ramalan buruk yang mungkin bisa terjadi di masa depan nanti. Mencolek beberapa negara seperti Iran dan juga gerakan taliban, hingga polusi dan pemanasan global yang kian hari merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia. Kegilaan inilah yang coba di serempetkan oleh Bruce Miller sebagai kreator film ini mencoba mengkritisi sekaligus memberi pemahaman terhadap gejala yang terjadi sekarang, sehingga The Handmaid's Tale yang diluncurkan tahun 2017 lalu begitu pas dengan isu yang terjadi sekarang ini.


The Handmaid's Tale sendiri adalah film yang betul-betul menggambarkan kebobrokkan, keputusasaan yang membuat saya menelan ludah berkali-kali, sempat mengalami emosi hingga tak jarang meneteskan air mata kala setiap episode berhasil menggilas perasaan saya. Plot dan cerita The Handmaid's Tale sebetulnya sangat simpel, berjalan dengan alur yang begitu lambat. Tapi, Miller berkali-kali berhasil membangun atmosfer tanpa membuatnya terasa membosankan,  permainan scoring yang menyeramkan, kadang juga beberapa musik popular diselipkan dibeberapa bagian untuk menghilangkan stress penonton (meski sama sekali tak berpengaruh).

Pendeskripsian tema cerita pun begitu menyengat, saya seperti sedang kembali ke masa lalu Amerika Serikat saat terjadinya perbudakkan kaum kulit hitam, tapi dengan gaya kota yang sudah termodernisasi. Dekorasi dan dress yang mereka pakai pun melengkapi tema yang disampaikan seolah peradaban maju dan modern kembali mundur dan tradisional, hingga bagaimana Miller menciptakan suasana teror yang kian menghinggap tiap detik dalam kesunyian. Juga bagaimana kota-kota dan pinggiran rumah berubah seperti kota suram meski cukup ramai orang berlalu lalang baik mereka handmaid yang hendak berbelanja atau tentara bersenjata yang sedang berkeliling menjaga kota, kehidupan statis, suram dan beberapa teknologi dan benda-benda yang sebagian dimusnahkan agar dapat menjalankan beberapa aturan-aturan tak masuk akal yang berasal dari alkitab yang mereka yakini berasal dari Tuhan.


The Handmaid's Tale mengganyang dua penghargaan Golden Globes dalam kategori "Best Television Series - Drama" dan "Best Performance by an Actress in a Television Series - Drama" untuk akting Elisabeth Moss. Film yang kemudian menggambarkan distopia ini pun tak elak mengkuatkan isu feminisme ke tengah-tengah cerita. Perjuangan yang digambarkan melalui penderitaan, ketegaran, dan putus asa para wanita selain tersirat jelas melalui apa yang dirasakan Offred selaku tokoh utama ditengah pusaran kegilaan ini menjadi isu yang menonjok keras. Berkali-kali pun sempat saya temukan dialog-dialog yang menyindir kultur dan sosial akan eksistensi dan keberdayaan wanita di tengah masyarakat.

The Handmaid's Tale adalah film yang wajib ditonton, memandang bahwa film ini mencoba mengkritisi dan membawa isu penting soal kehidupan modern seperti sekarang, tentang moral, hak asasi manusia hingga pemahaman-pemahaman sensitif terkait feminisme, kultur dan agama. Ini mungkin adalah film sakit dan gila, cukup yakin bahwa menonton film ini harus kuat mental, karena banyak sekali ironi dan tragedi yang dialami wanita-wanita di film ini baik fisik dan psikis mereka, dihadapkan pada tragedi holocaust, pembantaian, pemerkosaan dan tragedi moral yang tak sedikit membuat perasaan tak nyaman. Tapi selebihnya, jika kalian penyuka film-film 'hardcore' seperti Breaking Bad atau Game of Thrones, mungkin The Handmaid's Tale pilihan yang tepat, apalagi buat yang sedang menunggu lama GoT (seperti saya) yang masih harus menunggu tayang 2019 nanti, mudah-mudahan film ini bisa meredam rasa sakit hati Anda.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya pernah baca di salah satu website bustle bahwa Game of Thrones telah membawa feminisme ke dalam film ini. Bahkan ketika sebelum menuju titik kulminasi pada Season 8 nanti telah membuktikan eksistensi wanita tidak lagi menjadi karakter sampingan, pendamping, maupun sebagai love interest bagi pria. Siapa sekarang yang menduduki Iron Throne dan menguasai 8 kerajaan di Westeros? Siapa juga yang sekarang menduduki takhta sementara The North of Winterfell menggantikan Jon Snow? Siapa yang sanggup membunuh seluruh anggota Walder Frey sendirian? Dan siapa yang sekarang queen claimer yang membawa 3 ekor naga beserta mampu membuat prajurit Unsullied dan Dothraki yang terkenal liar tunduk dan patuh? Dan siapa satu-satunya yang berhasil mengalahkan Hound? Di Game of Thrones wanita tidak bisa lagi di remehkan dan perbedaan gender tidak lagi dipermasalahkan. Diantara gejolak kekerasan, kekejaman, dan penipuan disana-sini saya tak percaya wanita dalam film ini membentuk kepribadian yang maskulin hingga yang ekstrim sekalipun. Nah disini saya mencoba membuat daftar wanita mana saja yang memperoleh kandidat terbaik di Game of Thrones Season 7. Simak list berikut dibawah ini (Hati-hati mengandung Spoiler berat!):

Silahkan klik link berikut jika ingin melihat
8 Karakter Terbaik Pria di Game of Thrones (Season 7).


6# Lyanna Mormont

Hal yang sangat disayangkan dari Game of Thrones adalah telatnya kemunculan Lyanna Mormont yang baru hadir di season 6. Saya tidak menyangka dibalik tubuh gadis kecilnya tersimpan aura singa jantan didalam dirinya. Garang dan tegas mencerminkan sikap pemimpin wanita yang pantas bagi klan Mormont. Salah satu kandidat terbaik untuk jadi calon karakter wanita favorit, meski sedikit akting dan peran tapi eksklusif dan efektif. Salah satu karakter favorit dengan kemunculan paling sedikit di Game of Thrones.


5# Olenna Tyrell

Diam dalam kata-kata yang terucap bijaksana dan tak terbantahkan, tersimpan dendam kesumat yang akhirnya mengungkap jati diri siapa yang meracuni Joffrey Lannister sebenarnya. Olenna Tyrell memang bukan karakter yang menonjol dan terkesan pasif, tapi perannya selalu membuat was-was musuhnya termasuk Cersei. Yang membuat Olenna menarik bukan karena dia cantik, melainkan sangat disegani baik pihak keluarga, sekutu maupun musuhnya, hingga di season 7 pun sentak membuat Jaime tertipu secara tak langsung oleh Olenna karena mengira ia tak pantas dibunuh secara kejam, melainkan caranya mati justru dibuat sangat keren dan lembut untuk para karakter yang pernah mati di Game of Thrones.


4# Arya Stark

Dalam adegan pembuka season 7 aksi Arya Stark langsung memukau saya. Teringat dengan konsep Joker di film The Dark Knight yang ternyata muncul dengan kejutan penyamaran yang sempurna. Arya Stark bukan lagi gadis kecil normal yang suka bermain pedang-pedangan kayu di season pertama. Sejak awal motifnya kuat untuk jadi ksatria wanita, meski ayahnya Ned Stark selalu melarangnya. Hingga akhirnya kemampuannya yang unik dan juga mematikan, Faceless Men membuatnya lebih dari seorang ksatria. Sebut saja ia Assassin berdarah dingin yang tatapan matanya semakin mematikan seiring banyaknya jumlah korban (target lists) yang ia bunuh untuk balas dendam. Dan terakhir, meski berlatih pedang biasa dengan Brienne of Tarth yang kemarin berhasil mengalahkan Hound, Arya bisa melumpuhkan berkali-kali permainan pedang Brienne.


3# Cersei Lannister

Di season 6 sebelumnya, Cersei sudah dianggap seorang nenek sihir karena telah mengebom the Great Sept. Sebegitu menakutkan, licik dan jahatnya demi niatnya untuk balas dendam. Satu batu dua burung kena, musuhnya dibabat habis sekaligus disatu tempat. Tapi sayangnya di season 6 itu tak berlaku saat Cersei berhasil menduduki takhta tertinggi Iron Thrones. Rasa kagum saya terhadap wanita paling jahat di Game of Thrones ini rasanya seperti sengaja disimpan dalam lemari dan belum siap untuk dipakai. Mungkin karena season 7 masih berfokus membentuk aliansi dan kecemasan oleh para White Walker yang semakin dekat. Aksi dan kekejian Cersei terasa kurang, ditambah sifatnya yang termakan ego dan kebencian, akhirnya tanpa harap lebih dia ditinggalkan sendiri oleh saudara sekaligus kekasih Incest-nya yang selama ini mendukungnya, Jaime.


2# Daenerys Targaryen

Kita sudah tahu suka duka (kebanyakan duka) sang ibu naga ini hidup dalam kekejaman dunia Game of Thrones. Ya, tak perlu dijelaskan apa-apa yang telah dilaluinya, namun membentuk squad terkuat yang pernah saya lihat bahkan lebih kuat dari aliansi Cersei di King's Landing maupun Jon Snow di North of Winterfell. Danaerys adalah wanita paling menakutkan untuk saat ini, keberanian, watak keras, ketegasan dan harga dirinya membentuk kepantasannya sebagai pemimpin meskipun wanita. Kehebatan dan keberaniannya terlihat dari dua kali penyerangannya ke pasukan Jaime yang baru saja habis menyerang House Tyrell dan menyelamatkan kelompok Jon Snow di padang salju. Tapi, sayang Danaerys harus berada di posisi ke-2, karena telah sangking matang dan cantiknya ia sebagai queen claimer, tidak ada lagi bahan yang menarik untuk diceritakan di season 7, selain menegaskan bertambahnya jumlah pria yang mulai jatuh cinta kepadanya.

1# Sansa Stark

Sansa Stark? Ya, saya pangling hingga terkejut bukan kepalang setelah menyaksikan season 7 berakhir dengan kematian Littlefinger. Tak peduli betapa lugu, polos dan lemahnya Sansa sebelum saya benar-benar menyaksikan spontanitas perubahan karakter dan kepribadian Sansa di akhir episode. Saya tak mengira selama diperdaya, dimanipulasi hingga dipermainkan dalam kekejaman cerita Game of Thrones sampai-sampai berakhir diperkosa Ramsay Bolton. Nyatanya kerasnya hidup yang dijalani Sansa membuatnya menjadi wanita paling menakjubkan di Game of Thrones Season 7. Dialah karakter wanita yang paling menawan di season ini, paling tegar, paling dingin, paling hati-hati, paling kuat, hingga kedewasaannya merubah total sikap hingga intelektualnya mengalahkan poker face paling licik dan paling manipulatif di Game of Thrones. Jon Snow, ingat! Jangan remehkan dia lagi!


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


TV Series sejuta umat, Game of Thrones hanya tinggal menyisakan satu season lagi. Tahun depan melalui enam episode terakhir kita akan bertemu dengan pergulatan perang paling epic seantero Westeros, entah akhir seperti apa yang akan terjadi menimpa umat manusia beserta ketiga pemimpin mereka terdiri dari Jon Snow, Daenerys Thargarean, dan Cersei Lannister akan berhasil mempertahankan wilayah mereka dari gempuran mayat hidup White Walker, atau mungkin sebaliknya? Dan jika berhasil, bagaimana akhir konflik diantara mereka dalam memperebutkan takhta di King's Landing, siapa yang akhirnya menduduki posisi tertinggi tersebut setelah pengkhianatan, pengorbanan, rasa sakit, hingga perjuangan penuh darah dan derita telah dilewati setiap karakter yang ada di film ini.

Pada Season 7 dalam 7 episode adalah bagian terpenting yang menurut saya tahap proses menuju puncak akhir. Tak bisa dipungkiri setiap season Game of Thrones selalu saja ada karakter tak terduga mati atau terbunuh, dan juga tanpa diduga salah satu diantara mereka malah menjadi sekutu. Melalui proses cerita saya akhirnya membuat daftar 8 karakter terbaik versi Pria setelah season 7 berakhir, karakter tersebut khusus hanya pada karakter di season ini. Siapa saja mereka? Yang pasti mereka dipilih berdasarkan dampak besar bagi perubahan cerita, karakter yang paling berkembang, paling mencolok dan tentu saja mereka yang akhirnya menjadi karakter terbaik di season ini. Untuk versi wanita terbaik mungkin nanti menyusul setelah postingan artikel ini diterbitkan. List diurutkan berdasarkan dari paling rendah ke paling tinggi. (Hati-hati artikel ini mengandung spoiler!)

Silahkan klik link berikut jika ingin melihat
6 Karakter Terbaik Wanita di Game of Thrones (Season 7)

#8 Theon Greyjoy

Tidak menyangka kalau Theon menduduki posisi ini? Ya, kita tahu dia pengecut dan seorang pengkhianat busuk yang telah membuat klan Stark hancur. Bahkan di season ini ia masih plin-plan, meski sisi baiknya tetap muncul pada season lalu setelah menolong Sansa keluar dari neraka Ramsay Bolton, namun tetap pengecut di season ini melarikan diri saat saudarinya Yara Greyjoy ditawan oleh pamannya Euron dalam penyerangan brutal di tengah laut. Tapi, pengecualian memang untuk satu ini ketika kita mengerti kepecundangannya memang dilandaskan trauma berat paska pengkebirian kejam Ramsay. Perubahan mencoloknya terasa di akhir episode, saat ia berhasil menjatuhkan salah satu anak buah Yara yang mencoba kabur dan berkhianat, lalu kemudian menjadi tangguh untuk mencoba menyelamatkan saudarinya yang telah ditawan di King's Landing. Please! Jangan plin-plan lagi!


#7 Euron Greyjoy

Orang gila yang tidak beres perilakunya membunuh, menyiksa dan memukuli keluarganya sendiri demi ambisi kekuasaan. Saya kira Euron salah satu tokoh antagonis pria pengganti Ramsay Bolton. Kelicikkan, kebusukkan dan kegilaan, Euron adalah salah satu karakter yang saya benci setiap kemunculannya di Season ini. Tapi perannya cukup penting dan berani dalam berhadapan dengan Cersei bahkan mencoba melamarnya secara langsung, meski akhirnya ditolak mentah-mentah.


#6 Jorah Mormont

Siapa yang tidak tersenyum saat Jorah Mormont akhirnya sembuh dan lepas dari penyakit terkutuk yang dideritanya selama ini. Berjuang dan berharap dalam hidup dan mati, namun akhirnya ia berhasil menepati janjinya kepada Daenerys dan kembali padanya. Cinta, dedikasi, keberanian dan terutama kesetiaan yang lebih tulus dari siapapun, bahkan saya berharap ia tidak mati hingga season terakhir.


#5 Petyr Baelish

Salah satu karakter bermuka dua dan munafik ini akhirnya berakhir di season ini. Saya berikan Petyr Baelish kehormatan sebagai kandidat terbaik karena prestasinya menghasut, menghancurkan dan memanipulasi orang-orang disekitarnya demi ambisi terselebung dan kontradiksi, meski yang kita tahu cintanya yang tak terbalas pada Catelyn hingga Sansa menuai kontroversi. Saya tahu dia punya niat busuk dan suka mengadu domba, namun kematiannya di Season ini memang cukup mengejutkan dan tidak pernah disangka membuat saya sedikit kehilangan.


#4 The Hound

Jahat dan bermuka seram. The Hound aka Sandor Clegane yang awalnya kejam, jahat dan tidak berperikemanusiaan ini lambat laun berubah kepribadian seiring perkembangan alur cerita. Akhir-akhir ini The Hound menjadi tokoh paling berpengaruh di Game of Thrones, selain terkenal kuat dan mengerikan, saya tidak percaya berkali-kali berkontemplasi dengan hidup, kematian, dan kekejaman didepan matanya sendiri membuat The Hound yang dulunya berhati keras dan busuk menjadi tokoh yang memiliki empati paling besar dalam menyikapi nyawa seseorang, meski sarkasme dan kalimat kotornya masih terdengar dari mulutnya.


#3 Tyrion Lannister

Tokoh favorit yang fans-nya paling banyak di Game of Thrones. Tyrion Lannister adalah karakter yang dianggap unik karena meski kerdil hatinya besar, cerdas dan bijaksana. Kekuatannya yang berasal dari otak dan cakap dalam berpolitik dan bernegosiasi mampu membuatnya tetap hidup bahkan menjadi Hand Queen Daenerys yang dipercaya. Bukan hanya itu, hinaan dan dianggap sebagai manusia terbuang diklannya sendiri tidak membuatnya patah arang, bahkan semakin menegaskan karakternya yang rela berkorban nyawa berkali-kali inilah yang membuatnya menjadi karakter paling dicintai. Tapi, sayang alasan saya menaruh Tyrion di urutan ketiga, karena akhirnya di season ini ia terlihat rapuh dan tak berdaya, dua kali strateginya hancur lebur bersamaan dengan dedikasinya di season ini. Tapi meski begitu itu ia tetap menjadi karakter favorit di film ini.


#2 Samwell Tarly

Awalnya saya menganggap karakter gemuk dan lembek ini suatu saat akan mati mengenaskan sangking lemahnya, apalagi betapa beruntungnya ia mendapatkan Gilly, membuat saya berpikir apa pentingnya tokoh yang satu ini. Tapi siapa sangka perannya ternyata begitu besar merubah alur cerita bahkan salah satu apresiasi saya terhadap karakter ini karena berhasil menyembuhkan Ser Jorah dari kematian. Karakter ini berubah menjadi kutu buku yang menarik, cerdas, lembut dan baik hati. Karakter yang memegang kunci terbesar untuk kemenangan Utara Winterfell dalam perang badai musim dingin yang akan datang sebentar lagi.


#1 Jon Snow

Bukan berarti karena Jon Snow seolah tokoh sentris dalam film ini maka saya posisikan ia di peringkat nomor 1, tidak, melainkan banyak sekali alasan kenapa ia menjadi tokoh terbaik di season ke-7 ini. Alasannya adalah karena ia adalah karakter yang tidak plin-plan, tegas, dan memiliki semangat, kekuatan serta keberanian yang berimbang. Kepemimpinannya dalam menyatukan klan yang terpecah-belah menjadi satu alasan ia kandidat tertinggi yang pantas meraih Iron Throne. Tapi, kelemahannya yang terlalu lurus menjadi salah satu faktor terlemah, ditegaskan kembali saat kejujuran dan kelurusannya menjadi kekuatan terbesar dalam dirinya yang tidak dimiliki karakter manapun di Game of Thrones. Dan seolah ia kembali mencerminkan karakter lama yang telah lama mati, ayahnya sendiri Ned Stark. Selain terungkapnya misteri terbesar asal-usul Jon Snow yang selama ini membuat para fans penasaran.




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates