• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sejak dulu saya selalu berangan bisa menuliskan atau setidaknya membuat sebuah film autobiografi kehidupan saya sendiri, hanya saja siapa yang mau mendengar cerita hidup saya yang sangat membosankan dan tidak terlalu penting. Tapi, kadang berbagai film seperti Boyhood, Edge of Seventeen, 20th Century Woman atau Paterson, kesederhanaan dan kekosongan yang kita lewati dalam hidup, jika kita mau melihat diri kita sendiri lewat sudut pandang orang ketiga ternyata hidup ini menyimpan sesuatu yang bermakna dan bernilai tinggi tanpa kita sadari. Itulah kenapa saya bisa begitu jatuh cinta dengan film yang tampil dengan kesederhanaannya sama seperti kisah semi-autobiografi dari debut penyutradaraan Greta Gerwig, Lady Bird yang related dengan kehidupannya sendiri.

Lady Bird atau nama tokoh utama bernama lengkap Christine "Lady Bird" McPherson (Saoirse Ronan) sebetulnya remaja SMA 17 tahunan yang serupa dengan gadis belia seusianya, punya banyak impian, struggling dan naif. Mengambil setting lokasi sama dengan tempat lahir Greta, Sacramento, California di tahun 2002, film ini menceritakan sekelumit kisah kehidupan keluarga, sekolah, sosial dan percintaan dari gadis yang bermimpi bisa kuliah di New York dan pergi meninggalkan kota tempat ia dibesarkan.


Sebetulnya kisah Lady Bird sekelibat tampak membosankan, bukan? Apalagi pernah teman saya yang melihat sebentar cuplikan trailer film ini pun jadi enggan menontonnya hanya karena trailernya tampak tak menarik dan terkesan generik. He was very wrong! Justru bagian menariknya adalah sang tokoh utama itu sendiri yang membuatnya menarik, nama "Lady Bird" (dengan tanda kutip) sama seperti tatanan warna rambut merahnya yang unik adalah hasil kreasinya sendiri, bahkan ia bersikeras menolak dipanggil dengan nama aslinya, "I gave it to myself. It’s given to me, by me". Selain itu Lady Bird adalah gadis yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian dan mencoba berbeda dari yang lain, tampak dari berbagai kekonyolan yang ia lakukan kadang membuat saya tersenyum simpul.

Lady Bird adalah gadis yang keras kepala, sangat vocal, naif dan selalu berusaha menjadi pusat perhatian orang lain disekitarnya. Interpretasi nama Lady Bird seperti mewakili ciri seekor burung yang bisa terbang tinggi bebas dan berkicau semaunya dimanapun ia berada dengan pesona yang coba ia tebarkan ke dunia. Dalam keluarganya, Lady Bird selalu bertengkar dengan ibunya Marion McPherson (Laurie Metcalf) yang sama-sama keras kepala dan bersikap otoriter terhadap hidupnya, bahkan masalah-masalah sepele hingga adu mulut pun membuat kericuhan kecil seperti kucing dan tikus, meski setelahnya mereka kembali akrab satu sama lain dan pertengkaran sebelumnya pun terlupakan. Berbanding terbalik dengan ibunya, ayahnya Larry McPherson (Tracy Letts) justru bersikap sangat lunak dan pasif meski Larry tetap bisa menjadi figur ayah yang baik dan memberikan support terhadap apa yang anaknya inginkan. Lady Bird pun memiliki kisah cinta, dari pacar pertamanya yang canggung Danny (Lucas Hedges) dan pacar keduanya Kyle (Timothée Chalamet), anak band yang berteman akrab dengan gadis populer dan modis disekolahnya, Jenna (Odeya Rush). Bertemu dengan problematika dari putus cinta dan pengalaman seks pertamanya memberikan dinamika kehidupan Lady Bird seiring pencarian jati dirinya sebagai seorang wanita.


Nama Greta Gerwig tentu saja sangat mengejutkan, Lady Bird sebagai debut penyutradaraannya mampu ditanggapi positif sebagian besar kritikus bahkan sanggup terpilih dalam 5 nominasi Oscar, salah satunya pada kategori tertinggi "Best Motion Picture of the Year", meski disayangkan Greta belum mampu menyabet satupun piala disana. Membawa kisah kehidupannya sendiri melalui film indie bergaya hipster, Lady Bird adalah film yang begitu realistis terutama kehidupan Lady Bird sangat mencerminkan kehidupan sehari-sehari. Selain itu Greta berhasil mendeskripsikan setiap konflik dan tokoh sampingan tidak terbuang sia-sia, semua tokoh mampu dihidupkan dan mengisi kehidupan sang tokoh utama. Naskah yang ditulis sendiri oleh Greta pun diisi dengan dialog-dialog yang tidak membosankan dan padat makna, sebagaimana Greta memang sudah terbiasa menulis naskah film semisal Mistress America dan Frances Ha.

Mendapuk Saoirse Ronan sebagai karakter sentris dan artis senior Laurie Metcalf, keduanya mampu merealisasikan relasi ibu-anak yang terasa natural, powerful, lucu, manis dan emosional, mungkin tidak heran jika keduanya pun bisa meraih nominasi di ajang piala Oscar kemarin. Dan tentu saja sentuhan sinematografi yang terhampar dari tiap sudut take-shot yang menawan dan perfect, meski pengambilan gambarnya hanya melalui sudut rumah, pertokoan, dan sekolah katolik tempat Lady Bird belajar tapi gaya sinematis ini mendukung susunan cerita yang menambah suasana terasa warm dan sweet. Seolah Greta bukan saja ingin menyampaikan semi-otobiografi dirinya, tapi melalui kota kelahirannya Sacramento, Greta ingin mewakilkan rasa rindu dan cinta dirinya oleh ikatan kuat masa lalu di kota yang pernah ia tinggali.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Entah apa yang membuat film drama berjudul Manchester by the Sea ini menjadi salah satu film drama paling fenomenal tahun lalu, sehingga banyak sekali orang bahkan kritikus memuji-muji film karya Kenneth Lonergan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah menjadi salah satu film terbaik tahun 2016. Mungkin memang Lonergan bukan sutradara yang punya sederet daftar filmography, but anyway, setelah menonton film ini saya pun tersadar dan akhirnya pun sama-sama mengakui Manchaster by the Sea sebagai salah satu drama terbaik dan juga drama melancholic yang penuh dengan letupan emosi luar biasa yang membuat saya sendiri merasakan kepahitan dan penderitaan atas tragedi yang pernah terjadi di masa lalu.

Tapi sebetulnya yang menjadi sorotan dan kehebatan film ini bukanlah dari cerita ataupun film itu sendiri, melainkan kehebatan dan performa akting luar biasa dari adik kandung Ben Affleck, Casey Affleck yang menjadi salah satu kunci sukses film ini menjadi sebuah film depresif dan menghanyutkan, yang benar-benar mengunci perhatian saya pada kemampuan akting Casey yang betul-betul diluar dugaan, yang sudah tidak bisa dibandingkan lagi dengan kakaknya, Ben di film Argo sekalipun. Meskipun film ini rencananya akan diperankan oleh Matt Damon juga sebagai sutradara dan penulis naskah, tapi karena terkendala Matt Damon yang lebih dulu ikut bermain di film The Martian, akhirnya memilih Casey sebagai pengganti Matt betul-betul menjadi pilihan yang paling tepat.

Sejak awal film ini saya sudah dihanyutkan oleh tatapan dingin dan kosong dari Casey Affleck yang berperan sebagai seorang tukang ledeng bernama Lee Chandler, antara sifatnya yang terkesan dingin, kaku, pendiam tapi tiba-tiba emosional dan kasar. Membuat saya sedari awal sudah dijejali ketegangan psikologis yang terus menghantui dan mengganggu hanya dengan melihat kesan aneh dan tatapan tajam mata Casey Affleck. Sejujurnya, akting Casey disini cukup sederhana, ia hampir jarang berbicara dan berdialog, mungkin hanya sepatah dua patah kata saja, bahkan kalau mau dikata adegan kasar dan dialog-dialognya biasa saja, tapi yang betul-betul dinilai disini adalah kelas aktingnya yang luar biasa, Casey cukup berbicara dengan gestur dan mimik wajahnya, bahkan kecanggungan beberapa kerabat dan orang-orang yang berbicara dengannya, membuat saya merasakan aura psikologis yang depresif dan aneh.

Selain itu untuk segi cerita film ini, mungkin saya sedikit tertipu dengan poster film ini yang sengaja memasang Affleck dan Michelle Williams sebagai ex-wife, Randi Chandler yang terlihat sedang berbicara di pinggir pantai, ya mungkin tidak sepenuhnya bohong, jika melihat konflik utama film ini sebetulnya datang dari masa lalu mereka, karena hampir separuh film ini akan menceritakan tentang hubungan dan kedekatan antara Lee dan anak asuhnya, Patrick (Lucas Hedges), anak dari kakak kandung Lee, Joe Chandler (Kyle Chandler) yang baru saja meninggal karena penyakit langka yang berwasiat padanya untuk menjadi wali anaknya jika dia mati. Manchester by the Sea ini adalah sebuah film yang menceritakan sekelumit komplikasi masalah hidup yang dihadapi Lee, yang membebankan dirinya pada bercampurnya masalah hidup yang ia jalani sekarang dan juga beban masa lalu yang membuatnya kembali mengenang masa lalu yang telah membuat kehidupannya berubah drastis.

Dengan cerita flashback dan alur maju-mundur, dari kehidupan Lee sekarang dan kehidupannya di masa lalu bersama Randi dan anak-anaknya. Yang saya suka disini adalah bagaimana setiap problematika yang dihadapi oleh Lee mampu dicampur adukkan dengan setiap emosi yang ada, tidak hanya tentang sebuah kemurungan, kesedihan, amarah, dan penyesalan yang dalam dari diri seorang Lee. Tapi juga kesedihan dan rasa kehilangan orang-orang yang berharga baik dari persepektif Patrick yang baru saja kehilangan seorang ayah yang disayanginya maupun konflik-konflik yang terjalin dari orang-orang yang terkait dalam kehidupan dan masa lalu Lee.

Terasa bagaikan sebuah pukulan kuat, materi tentang drama melankolis dan begitu dingin sangat menyayat hati dan emosi. Semua terjaga kuat, bahkan saat Lonergan beberapa kali menyelipkan unsur mischief dan farce yang sedikit memberi senyuman dari tingkah Lee dan Patrick, tetap jika melihat aura yang sudah dimainkan Casey film ini kembali terasa dingin dan kelam. Ya, film ini memang tidak bisa melepaskan kekaguman saya tentang performa akting Casey disini yang telah membangun film ini dari awal hingga akhir dengan sangat baik, dengan mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Actor in a leading role, meski dikecam oleh beberapa pihak karena masalah pelecehan seksual, yang membuat posisinya mendapatkan piala terancam. Tapi, saya tetap tidak bisa mengabaikan akting berkelasnya, jika memisahkan masalah moral yang terjadi di kehidupan nyata sang adik Ben Affleck ini dengan seni akting.

Well, Manchester by the Sea adalah sebuah film yang terasa dingin, panas dan hangat bersamaan dengan tragedi masa lalu yang kembali hadir dalam persoalan di masa sekarang yang membebani sekaligus mengguncang batin dan emosi secara campur aduk, yang diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Casey Affleck, dan juga beberapa aktor dan artis lain yang cukup bermain solid seperti Lucas Hedges dan Michelle Williams yang juga sama-sama mendapatkan nominasi Oscar dipagelaran tahun 2017. Juga music scoring melirih dari permainan solo biola yang musiknya ditangani oleh Lesley Barber cukup memberikan sebuah letupan ironi cerita yang membantunya menjadi drama melirih.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates