• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Kita sering dengar orang-orang yang menikah itu ngga selamanya bahagia, ada yang cerai dalam hitungan tahun atau mungkin bisa jadi seumur jagung, padahal pada masa pacaran itu tampaknya indah, peluk-mesra, bahagia apalagi beberapa dari mereka mungkin sudah menjalin hubungan begitu lama. Menjalin kisah hidup bersama orang lain (berumah tangga) itu faktanya ngga seromantis itu. Ibarat pernikahan itu urusannya orang dewasa, jika belum siap secara emosional, maka lebih baik introspeksi diri dulu sampai keduanya lebih dewasa, membuang ego masing-masing, saling pengertian, mengatur emosi, meskipun secara materi dan cinta mungkin sudah bukan masalah lagi. Oke, saya ga sedang memberi nasehat buat figur-figur jomblo, pacaran, PDKT ataupun yang baru sudah menikah. Tapi, inilah pesan dasar yang ingin disampaikan dalam film berjudul Twivortiare yang diadaptasi melalui novel karangan Ika Natassha berjudul sama.

Saya sebetulnya tidak mengekspetasikan apa-apa terhadap film ini, tapi setelah menontonnya, this turns out to be a romantic movie that doesn't really sell the cliché love fantasy experience. Disutradarai oleh Benni Setiawan dan ditulis naskah oleh Alim Sudio, Twivortiare menceritakan kisah metropop dua insan yang dipertemukan tidak sengaja dalam sebuah acara pesta. Beno (Reza Rahardian) adalah seorang dokter rumah sakit yang akan segera bercerai dengan istrinya Alex (Raihaanun) yang berprofesi sebagai banker. Dan dikisahkan mereka berdua hanya menikah selama 2 Tahun, bercerai, lalu mencoba menikah kembali untuk kedua kalinya. Menikah kembali?! ya kamu ga salah dengar, menikahi orang yang sama, dan saya rasa buat mereka menikah itu kok gampang banget ya. 😂 Tapi, begitulah, memang keduanya punya status sosial (orang tajir), timbulnya masalah sudah pasti bukan berasal dari materi, apalagi soal tampang dan fisik keduanya sudah oke. Yang jadi perhatian adalah sampai batas mana kemampuan mereka beradaptasi satu sama lain.

Berasal dari sebuah novel fiksi dari serangkaian cuitan rekayasa di twitter, yang saya suka dari film ini adalah pesan yang disampaikan sangat kuat. Beno dan Alex ini ibarat dua orang yang mewakili segelintir mereka tentang susahnya berjuang demi suatu hubungan yang layak, saya memahami keduanya dengan sangat detil dari masalah, latar belakang dan sifat yang kadang ego mereka yang sangat tinggi. Diawali dengan pertengkaran berujung perceraian, lalu sendirian, kesepian tapi karena hate-but-love mereka remarry. Beno adalah tipe orang yang sebetulnya a good person dan workaholic, sedangkan Alex pun kurang lebih punya sifat yang sama, tapi yang membuat mereka berbeda pun banyak, mereka kadang sering bertengkar hanya karena masalah sepele, seperti Alex yang sering terlambat dan lupa, selalu gampang emosional, berucap cerai berulang kali, dan kabur dari rumah pergi ke apartemennya, Beno pun seperti itu, terlampau sibuk dengan pekerjaannya, kurang punya quality time, yang kadang suka berucap ketus dan kurang berkomunikasi dengan Alex.

Pernikahan pertama memang tidak terlalu kentara diceritakan pada babak awal yang muncul secara singkat yang nantinya akan jadi perpanjangan dari pernikahan kedua mereka, lalu melompat langsung ke babak kedua paska perceraian, dan babak ketiga pernikahan ulang yang paling mendominasi alur cerita. Di babak kedua, kita melihat proses dimana keduanya telah berpisah menyimpan benci tapi saling rindu, pada tahap ini entah kenapa proses kisahnya agak membosankan, saya memahami orang jatuh cinta, ketika berpisah pasti sulit untuk move on, tapi bagaimana caranya, atau dalam situasi apa yang membuat mereka kok bisa ingin bersatu kembali setelah beberapa tahun berpisah, saya berpikir mungkin ya ini karena masalah kuatnya cinta diantara mereka, tapi ini bagai memaksa cinta yang sudah redup dipaksa kembali bersinar. Ditambah penyuntingannya amat sangat berantakan dan kasar, dimana Benni berusaha mencampur momen masa lalu, sehingga kita bisa melihat sekelibat seberapa besar hubungan mereka di masa itu, tapi ini terlalu kacau untuk dipahami dan akhirnya menggagalkan saya pada tahap alasan kuat mengapa mereka mencoba lagi. Saya tahu ada momen dimana Beno yang ingin memulai hubungan itu kembali, alasan yang sama pun timbul dari benak Alex yang notabene paling memperlihatkan rasa paling menyesalnya ia pernah membiarkan Beno menyentuh tangannya dan berkenalan dengannya. Tapi, Saya tidak tahu apa sangking bucin-nya mereka, jadi mau tak mau mereka menikah lagi segampang itu hanya karena alasan cinta? Hey, dude, mereka sudah resmi berpisah, bahkan untuk menikah lagi disaat melihat mereka bertengkar, membenci seperti kucing-anjing, saya butuh alasan yang lebih kuat dari sekedar "cinta".

Bahkan ada situasi dimana muncul Denny, orang ketiga yang kerap menaruh bunga diatas meja Alex, mencintanya sebagaimana ia ingin segera melamar dirinya. Tapi, sekali lagi entah mengapa, kemunculannya hanya sebegitu doank, ia muncul, mendekati, melamar, lalu menghilang. Ia bagaikan sesuatu yang muncul dengan balutan konflik baru tapi terlalu tanggung, dia sama sekali tidak memberi impact dan akhirnya tiada konflik apapun kecuali sedikit obrolan didalam mobil sebagai konklusinya, Denny jadi sekedar Denny di kehidupan Alex, dan bukan sebuah perspektif baru Alex buat emosinya. Malah satu-satunya yang sedikit mempengaruhi adalah temannya Wina (Anggika Bolsterli) yang selalu menjadi teman (BFF) curhat Alex selama ini. Saya tahu dia cuman teman curhat yang sangat scooby-doo, tapi malah ia yang paling konsisten dalam membangunkan Alex untuk memahami dirinya sendiri.

Sekali lagi cinta, cinta yang membuat mereka lagi-lagi bersama. Tapi, situasi tetap saja tidak berubah, mereka masih mempertengkarkan hal yang sama, sifat yang sama, ego yang sama, dan pernikahan yang ujung-ujungnya tidak ada perubahan sama sekali. Babak ketiga adalah yang paling menarik, tahap ini saya melihat potensi dari naskah Alim Sudio, karena dari setiap dialog antara Beno dan Alex begitu hidup dan terasa lebih ada ruang buat mereka membentuk chemistry. Saya melihat setiap usaha dari cara mereka untuk saling melengkapi dan mencoba bertahan dalam ruang paling menyakitkan terasa emosional, ada keluarga, teman dan orang-orang yang membantu mereka, tapi tentu saja yang bisa menolong mereka adalah diri mereka sendiri. bahkan tidak sedikit gangguan-gangguan lain dari luar atmosfer hubungan mereka, termasuk Adrian, seseorang yang kemunculannya cukup mendendang goyangkan hati dan pikiran Alex. Pria menarik, karismatik, dan yang paling saya suka aktingnya disini, sehingga saya pikir Adrian akan menjadi sesuatu yang berbeda, tapi sekali lagi, ia hadir hanya sekedar hadir dalam ruang hidup Alex, yang lagi-lagi tidak berdampak apa-apa sama seperti Denny, lempem.

Twivortiare, sebetulnya mencoba menarik semua potensi didalamnya, film yang selama 3 Tahun digarap ini, tapi berakhir kurang maksimal, ia bahkan punya komedi, tidak sampai konyol namun tetap lucu untuk menghangatkan suasana yang kadang berada dalam situasi sulit dan semerawut (walau kadang ada beberapa cringe). Disisi lain pun terkait karakter dan cerita yang sedikit banyak sudah saya sampaikan, beberapa terasa generik dan serba tanggung, seolah film ini ragu untuk mengeksekusi berbagai hal yang jikalau ia berani mengambil resiko, pasti akan terasa lebih berbeda. Satu-satunya kesan yang saya dapat adalah chemistry Reza dan Raihaanun, ia punya ikatan emosional dari caranya mereka bertengkar, tapi seolah cinta mereka memang tidak terasa bohongan, cara mereka menatap satu sama lain, cara mereka bertahan dalam keegoisan dan sifat kekanak-kanakkan, dan bahkan saya bisa mempercayai bahwa tidak ada yang benar dan salah, mereka hanya kurang saling memahami, menyebalkan tapi dapat dimaklumi dan tentu saja saya jadi sadar memahami pasangan itu tidak semudah yang dikatakan. Pesan moral yang disampaikan soal pernikahan dan hidup berumah tangga itu tersampaikan dengan sangat sempurna. Saya pikir, tidak ada cerita yang sekuat itu menyampaikan isu soal ini, dimana semua terasa relatable untuk dipelajari jika ia pun memuat cerita yang seharusnya lebih baik dari ini.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Sebagai penikmat gamenya, film Dreadout adalah film yang mengecewakan. Ditangan Kimo Stamboel sutradara yang sudah lama dikenal berduet dengan Timo Tjahjanto, mencoba untuk menyamai kesuksesan rekannya yang kemarin menyuguhkan action-thriller The Night Comes for Us. Sebetulnya jika saya sedikit meraba-raba film Kimo yang dulu, saya memang belum terlalu suka dengan gaya penyutradaraannya. Setup dalam penyampaian dan cerita Kimo sejak dulu terasa kurang dan amburadul. Tengoklah Headshot yang sebetulnya action scene tak perlu saya ragukan namun begitu melihat cerita amat berantakan yang ternyata ini pun tetap saja menular pada film Dreadout.

Keluar dari plot asli gamenya, dengan latar lebih sempit yang awalnya sebuah kota mati dirubah menjadi apartemen tua dan tertinggal. Kimo sebetulnya tetap setia dengan berbagai element khas Dreadout, terutama flash kamera ajaib dari handphone yang dipakai sang tokoh utama Linda (Caitlin Halderman) sebagai senjata mematikan pengusir setan. Bercerita gang remaja SMA yang mencoba mencari latar video live horror yang dipakai untuk mendapat follower di sebuah aplikasi sosial media. Mendapatkan sebuah ide untuk mengambil latar sebuah gedung tua yang dikenal angker namun memiliki akses terbatas dan terlarang, Linda yang diketahui mengenal penjaga gedung tersebut meminta bantuannya untuk mendapatkan izin untuk bisa masuk kesana. Tapi, seketika kesenangan mereka menjadi malapetaka saat sebuah portal misterius menyeret mereka masuk ke dunia lain yang mengerikan.

Okelah jika mengatakan bahwa penceritaan Dreadout terkesan amburadul meski saya sendiri pun tidak ambil pusing ketika plot ceritanya pun diluar kisah aslinya. Mengadaptasi game memang kerap mengecewakan walau kali ini mencoba membuktikannya lewat film lokal, Dreadout pun tetap saja menjadi sekumpulan adaptasi game gagal lainnya. Garapan Kimo bisa dibilang sangat serius dan ambisius, teknik CGI dan pengambilan gambar pun bisa dibilang oke punya. Melihat setan terbang berbaju kebaya merah sebagai musuh utama mampu meneror dengan wajah bengisnya, adegan demi adegan yang terasa penuh kekacauan dan sentuhan aksi khas Mo Brothers. Tapi, sekali lagi, Kimo adalah ahli pembuat kekacauan, sangking kacaunya cerita yang ia buat pun terasa ikut kacau balau.

Adegan-adegannya terasa buruk dan clumsy, hingga terkadang bukannya menjerit ketakutan justru yang hadir lebih banyak jerit tawa. Sedari awal pun saya sering melihat adegan-adegan yang tidak penting, walau saya mengerti Kimo melakukannya agar dapat membangun watak dan karakter yang berbeda pada tiap tokoh. Alih-alih bagus, justru para pemerannya seringkali bertingkah konyol dan menggelikan, hanya karena Kimo berusaha menampilkan subjek karakter yang berbeda-beda, dan tentu saja berbeda-beda dalam menampilkan kekonyolannya. Ceritanya pun terkesan mondar-mandir, repetitif, sampai kadang sulit membayangkan bahwa apakah Kimo sedang membuat film komedi atau horror, karena sedikitpun tak ada kesan horror yang didapat walau Kimo berani meniadakan jump scare agar filmnya murni menggarap horror atmosfer yang berkualitas. Menghadirkan ciri khas Dreadout dengan kamera flash sebagai senjata Linda pun sedari awal terlihat penuh resiko, perlawanan dari serangan hantu menggunakan teknik unik ini ternyata memang merugikan, apalagi ketika Kimo gagal memberi sentuhan ciri khas game ke dalam film malah membuat filmnya kontan, tambah aneh. Dari segi narasi pun dialog-dialognya terkesan kasar, rancu, hingga saya sempat kebingungan tentang apa yang sedang mereka katakan dan lakukan karena beberapa dialog saling berebutan bagai kucing saya dirumah ribut mengeong menunggu diberi makan, meminimalisir dialog dengan sekedar memanfaatkan umpatan 'sunda' dan kalimat pendek penuh teriakan histeris.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah sekian lama blog menganggur dan tidak menonton film, dikarenakan sampai hari ini mencari mood untuk menonton itu susah dan ke-sok sibukan saya di dunia nyata, hingga salah satunya saya terlena mengurus blog lain yang ternyata lumayan berhasil di monetisasi. Lalu, saya kepikiran dengan blog lemonvie yang tampaknya tak kunjung berkembang, bukan masalah soal (ngarep) monetisasi google adsense yang tak kunjung diterima, tapi hanya saja terlalu sayang bahwa blog yang sudah berumur 2 Tahun lebih ini akhirnya jadi terbengkalai karena kemalasan saya menulis. Padahal saya sudah membuang uang demi membuat domain khusus buat blog ini. Jadi, kebetulan karena dari kemarin saya penasaran dengan film-film Indonesia, lalu saya mencoba mencari referensi film Indonesia yang bagus, dan bertemulah saya dengan film berjudul Posesif yang dirilis tanggal 26 Oktober 2017 kemarin.

Seperti tampak dari judul dan poster yang manis dengan warna cerah yang menggambarkan kebahagiaan dua pasang remaja SMA Yudhis (Adipati Dolken) dan Lala (Putri Marino) yang sedang memadu romansa kehidupan cinta mudanya, saya mengira film yang disutradarai oleh Edwin ini bakal bercerita banyak soal romantisme klise murahan bergaya rom-com ala drama FTV. Tapi, diluar ekspetasi Posesif berubah menjadi film dengan taste berbeda, cerdik merangkai naskah yang memiliki limpahan gejolak emosional luar biasa untuk drama coming of age yang minimalis seperti ini, apalagi nuansa sekolah sederhananya membentuk kejenakaan dan kenaifan remaja yang justru disentil melalui penceritaan yang realistis dan berani oleh Edwin.

Lala adalah seorang gadis SMA sekaligus atlet lompat indah, bersama ayah sekaligus pelatihnya (Yayu A.W. Unru), Lala menjadi anak tunggal semata wayang yang menjadi tumpuan harapan keluarganya agar bisa menjadi atlet lompat indah profesional seperti mendiang ibunya yang telah tiada. Suatu hari Lala bertemu dan berkenalan dengan Yudhis, murid pindahan baru yang bersekolah ditempatnya. Karena saling tertarik dan jatuh cinta keduanya pun berpacaran, namun meski begitu hubungan mereka harus mengalami jungkir balik yang menyertai hubungan keluarga hingga masalah berat yang menguji komitmen dan masalah cinta diantara mereka.


Edwin sang sutradara memang bukan sutradara yang boleh dipandang sebelah mata, lewat karya film pendeknya berjudul Kara, Anak Sebatang Pohon yang berhasil menembus ajang Festival Film Cannes 2005 dalam sesi Director's Forthnight. Selain itu film pendek lainnya, Perempoean Yang Dikawini Andjing diputar di berbagai ajang festival internasional dan berhasil meraih berbagai pernghargaan dalam negeri. Jadi, bisa dikatakan Edwin ini memang bukan filmmaker konvensional, setelah Posesif pun akhirnya film karya terbarunya ini mendapatkan berbagai penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017 dalam kategori Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino) dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk (Yayu Unru).

Maka dari itu Posesif melalui naskah cerita Gina S. Noer (Rudy Habibie, Pinky Promise) terbilang luar biasa yang mampu menekan sisi gelap dari yang namanya berpacaran, alias sisi yang menimbulkan tindak kekerasan dalam love-relationship. Posesif mampu membuat judul terasa kuat dan lekat dalam cita rasa yang berbeda, kuat mengiringi bukan saja lewat hubungan dan masalah antara Yudhis dan Lala, tapi permasalahan yang saling berbenturan satu sama lain antara kehidupan sosial Lala maupun masalah antara keluarga yang juga saling menguatkan definisi soal Posesif itu sendiri, semacam bola billiard yang dipukul saling berbenturan satu sama lain menimbulkan kompleksitas dan keriuhan yang berarti. Menonton Posesif ini ibarat saya seperti merasa was-was saat menonton film "The Gift", yang mampu menimbulkan rasa tidak nyaman, ketakutan dan teror,  tentu saja yang berbeda adalah definisi bahaya itu sendiri datang dari orang yang paling dekat dan paling dicintai.


Edwin pandai meracik narasi, meski menenggelamkan saya ditengah-tengah cumbu, rayu dan gombal disetiap adegan dan dialog yang kadang terselip kelucuan, tapi tidak membuatnya menjadi chessy dan justru membuat chemistry kedua tokoh utamanya semakin kuat. Karena chemistry yang dibangun saya semakin lupa dan akhirnya tersadar, bahwa Edwin sebenarnya sedang membawa saya pada tahap realita kehidupan, tak ayal membangunkan saya dari mimpi-mimpi indah tentang cinta yang sesungguhnya racun dan tentu saja relatively violent, bahwa ia pun mampu membawa luka juga melukai tanpa sadar. Posesif membawa sebuah kisah yang relatable, mengundang pernyataan bahwa cinta itu bisa mendatangkan labilitas emosional dan psikologis. Dan kemudian ikatan kuat itu malah membuatnya semakin menjerat dan merantai. Ada kompleksitas yang hadir, obsesi serta kegilaan membuat perasaan saya menjadi campur aduk menonton film ini.

Tentu saja kekuatan itu mampu ditunjukkan melalui akting para pemeran utama dan pendukungnya, terutama Adipati dan Putri yang tampil memikat. Salah satunya Yudhis yang diperankan Adipati. Tokoh yang sempat membuat saya menyangka hanya sebagai protagonis sentris biasa, namun kemudian ia berubah menjadi antagonis berbahaya, dibalik sikapnya yang penyayang dan pengertian, namun ia over possessive, temperamental, hingga kadang bisa berperilaku kasar dan kejam. Lalu ada Putri Marino yang berperan sebagai Lala yang mampu mensinkronitaskan kehadiran Yudhis, seorang gadis biasa nan luar biasa yang mampu menarik perhatian hati saya, melalui setumpuk masalah kompleks dan penderitaan baik fisik dan psikis, tapi ia adalah wujud dari tough-girl, dari kesetiaan, ketulusan dan pengorbanannya meski dibalik itu pun ia sosok yang naif dan egois. Tapi, tak urung mengimbangi sosok Yudhis yang keduanya punya karakter kuat. Posesif mampu menunjukkan sebuah 'warning' dalam realitas kehidupan remaja atau dewasa sekalipun dalam tindak kekerasan gender dan selipan moral, dengan begitu banyaknya bombardir emosi dan sebuah 'breakthrough' film romantis yang juga tak luput untuk tetap tampil manis ini mampu meletupkan rasa berbeda dari genre romantis sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mungkin memang wajar jika film berjudul Siti garapan sutradara Eddie Cahyono ini bukanlah film yang terkenal dan asing ditelinga, bahkan sejak penayangannya 2014 lalu Siti tidak langsung beredar dalam bioskop-bioskop umum di Indonesia, justru Siti pertama kali ditayangkan di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014. Meski terbilang film indie, tapi Siti telah memenangkan beberapa penghargaan di dalam bahkan di luar negeri, salah satunya sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015 lalu. So, seperti apakah film yang dibuat dalam format hitam-putih, rasio gambar 1.33 : 1 dan juga pemakaian dialog bahasa jawa yang kental? Mari kita simak ulasannya berikut.

Sesuai judulnya, film ini akan mengedepankan sekelumit kehidupan seorang wanita bernama Siti (Sekar Sari) yang tinggal di pinggir pantai Parangtritis. Siti hidup bersama dengan mertuanya Darmi (Titi Dibyo), anaknya Bagas (Bintang Timur Widodo) dan suaminya Bagus (Ibnu Widodo). Semenjak tempat karaoke dimana Siti bekerja dan mencari nafkah harus ditutup paksa oleh petugas kepolisian, Siti terpaksa harus mencari kembali pekerjaan lain lantaran semenjak suaminya terbaring lumpuh dan sakit, Siti lah satu-satunya tulang punggung keluarganya tidak hanya untuk menghidupi keluarganya tapi juga ia harus melunasi hutang suaminya yang masih menunggak.

Jika membaca sinopsis diatas sesungguhnya Siti memang bukan tipikal film yang menyenangkan untuk ditonton, Siti menjabarkan cerita yang sangat sederhana, menyinggung sisi masyarakat kelas bawah dengan segala realita kehidupan yang cukup familiar, Mencoba berbagi tawa dan senyum akan sebuah keluarga tapi juga tercampur oleh sebuah duka dan rasa derita yang begitu dalam tentang mencari makna hidup. Diparuh awal kita diperkenalkan latar belakang kehidupan Siti dan keluarganya yang tinggal disebuah rumah gubuk tua, dari sekedar mengurus anak semata wayangnya Bagas yang tidak mau pergi ke sekolah, ibu mertua baik yang selalu membantu mengurus rumah, hingga merawat suaminya yang enggan berbicara sepatah katapun dengannya.

Film ini awalnya memang cukup melelahkan dan membosankan, Eddie menuntun kita menelusuri setiap problematika familiar yang sebetulnya gampang untuk diterka, apalagi dengan penerapan cerita yang terlalu panjang lebar dan take long shot, sedikit percakapan, sedikit scoring, dari cuma sekedar obrolan-obrolan biasa, candaan, hingga nasihat-nasihat kecil. Melalui potret kecil dari wanita yang mencoba terus tersenyum saat ia berhadapan dengan penderitaan dan keterpurukan yang berusaha ia tutup-tutupi. Tapi, film ini memang cukup berhasil menggambarkan seorang wanita yang layaknya sudah jatuh tertimpa tangga, namun tetap berusaha mencoba bangkit kembali.

Kemudian saat pertengahan film, Eddie mulai membuka satu tabir yang membolak-balikkan gambaran seorang Siti yang sejak awal digambarkan seperti sebuah kertas putih. Dari riasan dan pakaian, seolah sosok Siti yang telah tertanam di awal menghilang digantikan oleh sosok lain yang lebih gelap. Sederhana tapi cukup meyakinkan bahwa peran Sekar Sari berhasil memberi nyawa pada Siti, ia berhasil menghidupkan realitas kehidupan hanya dari sikap, dialog, dan pergerakkan hidupnya yang tampak apa adanya, bahkan saat adanya scene Siti yang berada dalam kamar mandi yang cukup menohok.

Menjadi cerminan sosial dan moral ketika film ini sedikit menyentil hati  nurani saat semua itu dilakukan karena keterpaksaan kondisi dan keadaan. Tapi, Siti hanya mencoba memberikan kita rasa peduli dan sebuah sindiran hidupnya yang tajam, tanpa menghadirkan emosi batin yang lebih kuat. Siti terlalu monoton dalam bercerita, apalagi saya kurang melihat pergolakkan batin yang kurang natural dan kurang saya terima, apalagi pertengkaran kekanak-kanakkan antara Siti dan suaminya Bagus yang enggan berbicara. Apalagi soal Bagas yang mengadu pada Siti soal hantu di sekolah, terasa absurd dan hanya mengarang-ngarang saja.

Well, film Siti memang bisa menjadi sebuah sindiran kecil tentang tragedi moral dari sosok wanita yang menapaki jejak hidupnya yang gelap. Ada sentilan moril antara hidup susah dan terhimpit oleh paksaan kondisi, meski ia tetap menghadirkan rasa cinta, rasa peduli, kesetiaan, pengorbanan dan juga rasa benci dari caranya film ini berbicara dengan sangat jujur. Tapi, sayangnya Eddie memang tidak memainkan ceritanya lebih emosional, justru ia menampilkan karakternya secara lebih subjektif. So, Siti mungkin bukanlah film yang gampang diterima secara publik, hadir dengan cerita yang terlampau puitis, tapi ia memperlihatkan potret hidup manusia yang sebetulnya bersembunyi di sekitar kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dari perkembangan film Indonesia yang bisa dirasakan sekarang ini, maka seorang 'Stand Up Comedy' sekaligus merangkap sebagai sutradara, Raditya Dika, juga tak ingin ketinggalan dalam mengembangkan ide film yang lebih baru dan tentunya lebih 'fresh', agar para penonton di Indonesia tidak bosan untuk bisa mencicipi lebih banyak variasi film yang ada. Dari film-filmnya yang dulunya hanya berkutat tentang tema komedi 'Patah Hati', seperti film terakhirnya, Koala Kumal. Dengan alih-alih sebuah eksperimen, ia mencoba mengeluarkan sebuah ide yang belum pernah ia lakukan, sebuah tema comedy-thriller berjudul Hangout.

Membawa beberapa artis dan aktor, baik mereka yang sudah senior maupun yang masih junior. Seperti Mathias Muchus, Surya Saputra, Titi Kamal, Gading Marten, Prilly Latuconsina, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak, Soleh Solihun, dan Raditya Dika sendiri. Bisa dilihat di trailernya, antara kekonyolan, keseruan, dialog-dialog absurd dan juga beberapa adegan horor seperti adegan Mathias Muchus yang mati keracunan. Tentu ini sebuah penawaran dari Raditya Dika yang tak boleh dilewatkan begitu saja. jadi, sebelum saya menonton film ini saya sudah menyiapkan ekspetasi saya, mau se-klise dan sekonyol apapun cerita yang ada, yang terpenting adalah seberapa banyak Saya bisa tertawa terkentut-kentut dengan apa yang sudah disiapkan oleh film ini.

Dengan menggunakan lakon dan nama asli mereka, Raditya Dika merupakan seorang aktor film laga, mendapatkan sebuah undangan HANGOUT misterius dari seseorang yang tidak dikenal. Undangan tersebut berisi tawaran kunjungan ke sebuah rumah di pulau pribadi. Ketika sampai disana, ternyata Raditya Dika tidak sendirian, beberapa public figure seperti Mathias Muchus, Surya Saputra, Titi Kamal, Gading Marten, Prilly Latuconsina, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak dan Soleh Solihun turut mendapat undangan yang sama. Saat mendatangi pulau tersebut ternyata rumah tersebut kosong, hingga malam menjelang, mereka menemukan makanan dingin yang sudah disiapkan di meja. Tanpa menyadari bahaya membuat Mathias Muchus teracuni dan mati seketika oleh makanan itu. Ketakutan setengah mati dengan apa yang terjadi, kedelapan dari mereka baru tersadar bahwa mereka dijebak di pulau untuk dibunuh satu-persatu.

Bagaikan mencicipi buah asam yang masih mentah, Hangout seperti film yang disajikan setengah jadi. Permasalahan yang sering terjadi pada film-film Indonesia, ketika alur cerita tidak masuk akal dan kurang logis. Apa yang ada dalam film Hangout seperti dipaksa terjadi, apalagi bagaimana mungkin mereka terisolasi di pulau kecil tersebut tanpa berbuat apa-apa, contohnya apa mereka tidak memanfaatkan ponsel dan sinyal yang ada? Atau Saat Raditya dkk di malam harinya mencoba keluar dari pulau, tapi menjelang siang, mereka seolah lupa dengan rencana itu? Seharusnya ketakutan dan keanehan dipulau itu sudah cukup memberi alasan kuat bagi mereka untuk pergi dari situ. Hal kecil yang begitu dilupakan Raditya, ternyata berdampak pada alur cerita yang 'Unreasonable'. Masalah lain juga terjadi pada bagian akhir twist yang sebetulnya cukup unpredictable, tapi harus terperosok jatuh saat motif utama Hangout yang kelewat simple, tampak tak masuk akal, dan absurd.

Meski begitu, tidak mungkin penggemar setia Raditya Dika, rela antri tiket demi menonton film Hangout jika komedinya tidak lucu. Tentu, karena base seorang Stand Up komedian dan penulis cerita yang handal, membuat orang suka dengan komedi yang dibawakan Dika, terutama karena konyol, lucu dan satire. Disini kita bahkan menemukan beberapa public figure asli beserta sindiran-sindiran komedinya yang cukup sensitif dan memancing tawa.

Hal pertama datang dari Raditya sendiri yang juga menyindir soal dilema percintaan, akting, dan film-film lawasnya, seolah film ini pun dibuat dengan alasan untuk pengembangan ide yang lebih baik dari dirinya. Prilly dan Titi Kamal juga mendapat hal serupa, yang juga tak jarang menyindir soal film-film mereka yang dulu pernah membuat mereka populer, seperti GGS dan AADC. Gading Marten, sindiran tentang artis yang terkenal karena popularitas anggota keluarganya. Dinda Kanya, cewek paling jorok yang suka menggaruk-garuk ketiaknya, sindiran tentang seorang public figure yang selalu tampak sempurna didepan kamera. Bayu Skak, youtuber somplak, yang selalu up to date menceritakan selak beluk kehidupannya ke internet. Mathias Muchus, sebagai aktor senior diantara mereka. Surya Saputra, yang paling penakut yang tiba-tiba gila dan ga jelas aktingnya. Dan terakhir, Soleh Solihun, yang menurut Saya dengan dialog-dialog jerk dan konyolnya, paling sukses memberi kebodohan dan keabsurdan, ketika ia juga sama-sama membuat saya mules tertawa di Shy Shy Cat.

Setiap aktor dan artis sebetulnya kebagian adegan untuk melucu dan konyol dengan cara mereka masing-masing. Sayangnya, untuk membuat tertawa, Raditya tidak membuat konsistensi yang kurang terkonsep dengan baik. Komedinya meluncur bagaikan lawakan yang beberapa kali tepat sasaran dan sisanya kurang menggigit. Ditambah, dialog-dialog yang kadang jauh lebih cocok untuk dijadikan joke panggung stand up comedy. Membuat Saya kadang tertawa lepas, lalu nyengir, kemudian hening.

Hangout adalah jenis komedi satir dengan kandungan joke-joke kotor dan jorok yang banyak menyinggung masalah pendidikan dan latar belakang pertelevisian lokal dan public figure yang kita miliki. Tapi, daripada itu Hangout bukanlah sebuah comedy-trhiller yang betul-betul terasa sedap. Jika hanya bermodalkan komedi yang lucu, ini bukanlah film yang sepenuhnya menghibur. Cerita yang kurang logis dan tidak terkonsep sudah menjadi modal untuk tidak berharap lebih. Tapi, jika memang mencari hiburan kocak tak berakal, Hangout bisa jadi pilihan. Karena ini masih film Raditya Dika yang merupakan sebuah eksperimen coba-coba, berani dan baru yang cukup mendapat apresiasi.
Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments


Tak bisa dipungkuri bahwa genre action-thriller dengan elemen martial arts brutal telah merubah image perfilman Indonesia dan juga lompatan besar bagi mimpi Indonesia untuk sampai bisa dilirik dunia, semenjak Gareth Evans memotori dua karya besarnya, The Raid: Redemption dan Berandal. Sesaat setelah ditinggal pergi oleh sang sutradara berkebangsaan Wales tersebut, kemudian The Mo Brothers, Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto terinspirasi untuk membuat film yang sama dan menaruh kembali Iko Uwais yang sedang naik daun sebagai lakon utamanya. Headshot merupakan sebuah upaya yang cukup berhasil memberikan kembali esensi ketegangan dan adegan kekerasan tingkat tinggi dari seni bela diri yang dimiliki oleh tanah air ke ranah Internasional.

Seorang pria tak dikenal sebut saja Ishmael (Iko Uwais) terkapar di sebuah pantai, ditolong oleh seorang wanita cantik bernama Ailin (Chelsea Islan) yang merupakan seorang dokter. Setelah siuman Ishmael mengalami amnesia sehingga ia tak tahu siapa dan apa yang telah terjadi padanya. Hingga ternyata Ishmael harus berurusan dengan salah seorang boss gangster berbahaya bernama Lee (Sunny Pang) yang mengancam nyawa Ishmael dan juga Ailin.

Film yang dibawa ke 'Toronto International Film Festival' (TIFF) ini memang cukup berhasil membuat saya berdecak kagum dengan kepiawaian duo mo-brothers menggarap koreografi silat ekstrim ini setingkat dengan yang dimiliki oleh Gareth Evans. Pasalnya, dari bantingan, bacokan, tusukan, peluru-peluru tertembus tubuh dan kepala, tulang-tulang yang patah, dan daging robek dalam skala gila-gilaan dan sama-sama membuat yang menonton pun mendapatkan efek ngilu dan kesakitan. Memang Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto sudah piawai membawa sesuatu yang bersifat gore dan bloody dengan kedua film terdahulunya yang punya tingkat kekerasan ekstrim (Killers dan Rumah Dara (Macabre)).

Dengan gerak-gerik kamera yang mengikuti setiap gerakan dan koreografi aksi Iko Uwais dan juga aktor lainnya, seperti juga untuk bagian teknis dan juga berbagai adegan-adegan baku hantam di setiap tempat berbeda mengingatkan saya dengan adegan game fighting yang sering kita mainkan dalam sebuah console game, dari lokasi sebuah sel penjara, dalam bus, dalam bangsal, kantor polisi dan dipinggir pantai memang cukup bangsat dan jempolan walau memang buat saya pribadi tidak semuanya benar-benar melekat seperti adegan Berandal di lapangan penjara berlumpur. Tapi, Mo Brothers agak membedakan beberapa koreografer baku hantamnya dengan menyelipkan aksi komedi yang sebelumnya tidak dibawakan oleh Gareth Evans. Cukup menarik.

Tapi sungguh disayangkan film yang beberapa dialognya sering terdengar kata 'ANJING' ini lemah dibagian cerita. Mo Brothers sesungguhnya ingin membumbui kisah romansa antara Ishmael dan Ailin. Justru apa yang didapat adanya ketidak klopan antara kisah cinta Ishmael dan juga aksi baku hantam Headshot. Bahkan hubungan antara mereka terlihat maksa dan terkesan malah mirip drama sinetron dengan dialog chessy-nya, ketimbang cerita yang terasa intim dan lebih emosional. Jejak-jejak drama sinetron Indonesia ini rupanya masih tidak bisa dilepaskan oleh Indonesia kala atmosfer ketegangan Headshot pun harus kacau dengan beberapa adegan tersebut.

Tidak jarang bahwa Headshot juga terlihat keteteran dalam bercerita ketika ia pintar dan kuat di awal tapi kemudian terlihat amburadul di belakang. Apalagi sequence aksi dalam adegan baku hantam Headshot juga tampak aneh dan alurnya terkesan maksa. Terlihat juga ketika aksi Iko Uwais ini melompat dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cara berceritanya yang tampak abnormal. Apalagi disini kita harus kembali lagi dengan selingan drama sinetron yang terasa ga klop yang kembali lagi merusak suasana dan jalan cerita. Apalagi misteri-misteri yang dibangun di awal sedikit demi sedikit terasa hilang ketika kita tak lagi bertanya apa, kenapa dan siapa, setelah film ini selesai, apalagi dengan kejutan di akhir yang membuat saya bingung dengan konklusi tak nyambung dan ending yang ikut-ikutan maksa untuk ada.

Tapi, dibalik itu semua untuk para casting yang ikut bermain di film ini juga tak begitu mengecewakan, walau amat disayangkan, my lovely favorite actress from Indonesia, si cantik keturunan Prancis, Julia Estelle. Ga segarang dan se-badass seperti perannya di Berandal sebagai Hammer Girl. Dan juga dua pemeran utamanya Iko Uwais yang harus lebih banyak belajar akting dengan mimik wajahnya yang masih terlihat kaku dan Chelsea Islan sendiri yang memang cantik tapi perannya sebagai Ailin juga terasa sama-sama kaku. Disini saya cukup menyukai akting Sunny Pang sebagai Mr. Lee, boss yang terlihat berkarisma, pintar dan jahat (Saya juga tak menyangka bahwa Lee disini ternyata boss yang jago beladiri), membuat saya merasa pantas bahwa dirinya adalah boss yang lebih jahat dan lebih berakal dari Tama (Ray Sahetapy), walau saya tak suka logat campur-campurnya antara Inggris dan Indonesia. Dan juga beberapa aktor lainnya yang terlihat ikonik dengan kemampuan dan senjata beragam yang mereka miliki seperti David Hendrawan, Zack Lee, dan juga Very Tri Yulisman (Mantan Baseball Bat Man).

Mungkin memang Mo Brothers mencoba sebuah terobosan pada film Headshot dengan berbagai macam konflik dan misteri yang terasa kompleks, meski dirasa menjadi tumpul karena beberapa adegan dan jalinan cerita yang terkesan maksa, dengan kisah drama romantis yang terlihat lebay. Tapi, mungkin Headshot bisa menjadi alternatif bagi yang memang menyukai martial arts semacam The Raid. Karena, untuk koreografi dan baku hantamnya sendiri masih banyak eksplorasi dan hal baru yang masih terus terasa nonjok dan brutal. Dan tentunya untuk teknis dan visual film ini terasa lebih baik, jika boleh saya katakan di atas The Raid Pertama walau masih kalah jauh dibanding Berandal yang punya arthouse yang sinematis.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates