• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dari perkembangan film Indonesia yang bisa dirasakan sekarang ini, maka seorang 'Stand Up Comedy' sekaligus merangkap sebagai sutradara, Raditya Dika, juga tak ingin ketinggalan dalam mengembangkan ide film yang lebih baru dan tentunya lebih 'fresh', agar para penonton di Indonesia tidak bosan untuk bisa mencicipi lebih banyak variasi film yang ada. Dari film-filmnya yang dulunya hanya berkutat tentang tema komedi 'Patah Hati', seperti film terakhirnya, Koala Kumal. Dengan alih-alih sebuah eksperimen, ia mencoba mengeluarkan sebuah ide yang belum pernah ia lakukan, sebuah tema comedy-thriller berjudul Hangout.

Membawa beberapa artis dan aktor, baik mereka yang sudah senior maupun yang masih junior. Seperti Mathias Muchus, Surya Saputra, Titi Kamal, Gading Marten, Prilly Latuconsina, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak, Soleh Solihun, dan Raditya Dika sendiri. Bisa dilihat di trailernya, antara kekonyolan, keseruan, dialog-dialog absurd dan juga beberapa adegan horor seperti adegan Mathias Muchus yang mati keracunan. Tentu ini sebuah penawaran dari Raditya Dika yang tak boleh dilewatkan begitu saja. jadi, sebelum saya menonton film ini saya sudah menyiapkan ekspetasi saya, mau se-klise dan sekonyol apapun cerita yang ada, yang terpenting adalah seberapa banyak Saya bisa tertawa terkentut-kentut dengan apa yang sudah disiapkan oleh film ini.

Dengan menggunakan lakon dan nama asli mereka, Raditya Dika merupakan seorang aktor film laga, mendapatkan sebuah undangan HANGOUT misterius dari seseorang yang tidak dikenal. Undangan tersebut berisi tawaran kunjungan ke sebuah rumah di pulau pribadi. Ketika sampai disana, ternyata Raditya Dika tidak sendirian, beberapa public figure seperti Mathias Muchus, Surya Saputra, Titi Kamal, Gading Marten, Prilly Latuconsina, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak dan Soleh Solihun turut mendapat undangan yang sama. Saat mendatangi pulau tersebut ternyata rumah tersebut kosong, hingga malam menjelang, mereka menemukan makanan dingin yang sudah disiapkan di meja. Tanpa menyadari bahaya membuat Mathias Muchus teracuni dan mati seketika oleh makanan itu. Ketakutan setengah mati dengan apa yang terjadi, kedelapan dari mereka baru tersadar bahwa mereka dijebak di pulau untuk dibunuh satu-persatu.

Bagaikan mencicipi buah asam yang masih mentah, Hangout seperti film yang disajikan setengah jadi. Permasalahan yang sering terjadi pada film-film Indonesia, ketika alur cerita tidak masuk akal dan kurang logis. Apa yang ada dalam film Hangout seperti dipaksa terjadi, apalagi bagaimana mungkin mereka terisolasi di pulau kecil tersebut tanpa berbuat apa-apa, contohnya apa mereka tidak memanfaatkan ponsel dan sinyal yang ada? Atau Saat Raditya dkk di malam harinya mencoba keluar dari pulau, tapi menjelang siang, mereka seolah lupa dengan rencana itu? Seharusnya ketakutan dan keanehan dipulau itu sudah cukup memberi alasan kuat bagi mereka untuk pergi dari situ. Hal kecil yang begitu dilupakan Raditya, ternyata berdampak pada alur cerita yang 'Unreasonable'. Masalah lain juga terjadi pada bagian akhir twist yang sebetulnya cukup unpredictable, tapi harus terperosok jatuh saat motif utama Hangout yang kelewat simple, tampak tak masuk akal, dan absurd.

Meski begitu, tidak mungkin penggemar setia Raditya Dika, rela antri tiket demi menonton film Hangout jika komedinya tidak lucu. Tentu, karena base seorang Stand Up komedian dan penulis cerita yang handal, membuat orang suka dengan komedi yang dibawakan Dika, terutama karena konyol, lucu dan satire. Disini kita bahkan menemukan beberapa public figure asli beserta sindiran-sindiran komedinya yang cukup sensitif dan memancing tawa.

Hal pertama datang dari Raditya sendiri yang juga menyindir soal dilema percintaan, akting, dan film-film lawasnya, seolah film ini pun dibuat dengan alasan untuk pengembangan ide yang lebih baik dari dirinya. Prilly dan Titi Kamal juga mendapat hal serupa, yang juga tak jarang menyindir soal film-film mereka yang dulu pernah membuat mereka populer, seperti GGS dan AADC. Gading Marten, sindiran tentang artis yang terkenal karena popularitas anggota keluarganya. Dinda Kanya, cewek paling jorok yang suka menggaruk-garuk ketiaknya, sindiran tentang seorang public figure yang selalu tampak sempurna didepan kamera. Bayu Skak, youtuber somplak, yang selalu up to date menceritakan selak beluk kehidupannya ke internet. Mathias Muchus, sebagai aktor senior diantara mereka. Surya Saputra, yang paling penakut yang tiba-tiba gila dan ga jelas aktingnya. Dan terakhir, Soleh Solihun, yang menurut Saya dengan dialog-dialog jerk dan konyolnya, paling sukses memberi kebodohan dan keabsurdan, ketika ia juga sama-sama membuat saya mules tertawa di Shy Shy Cat.

Setiap aktor dan artis sebetulnya kebagian adegan untuk melucu dan konyol dengan cara mereka masing-masing. Sayangnya, untuk membuat tertawa, Raditya tidak membuat konsistensi yang kurang terkonsep dengan baik. Komedinya meluncur bagaikan lawakan yang beberapa kali tepat sasaran dan sisanya kurang menggigit. Ditambah, dialog-dialog yang kadang jauh lebih cocok untuk dijadikan joke panggung stand up comedy. Membuat Saya kadang tertawa lepas, lalu nyengir, kemudian hening.

Hangout adalah jenis komedi satir dengan kandungan joke-joke kotor dan jorok yang banyak menyinggung masalah pendidikan dan latar belakang pertelevisian lokal dan public figure yang kita miliki. Tapi, daripada itu Hangout bukanlah sebuah comedy-trhiller yang betul-betul terasa sedap. Jika hanya bermodalkan komedi yang lucu, ini bukanlah film yang sepenuhnya menghibur. Cerita yang kurang logis dan tidak terkonsep sudah menjadi modal untuk tidak berharap lebih. Tapi, jika memang mencari hiburan kocak tak berakal, Hangout bisa jadi pilihan. Karena ini masih film Raditya Dika yang merupakan sebuah eksperimen coba-coba, berani dan baru yang cukup mendapat apresiasi.
Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments


Saya mungkin bukanlah penyuka film-film Indonesia. Terlebih karena Saya tidak pernah mengikuti perkembangan film Indonesia. Walau pernah, itu cuma sedikit, kebetulan terakhir temen-temen Saya yang doyan filmnya Raditya Dika, judulnya Koala Kumal, cukup menyita perhatian Saya dan humornya memang sangat efektif membangkitkan pita tertawa saya sepanjang menonton film itu. Dengan modal ingin tahu lebih banyak lagi, jadi Saya mulai melakukan PDKT terhadap film Indonesia. Sejauh apa sih film Indonesia sekarang? Apakah masih seperti dulu atau sudah lebih baik? Dan pertanyaan-pertanyaan dikepala saya terus mengalir dan membuat rasa penasaran saya makin melunjak. Nah, mungkin film Shy Shy Cat (Malu Malu Kucing) karya Monty Tiwa menjadi referensi pertama Saya dalam menjelajah film Indonesia, terutama bagian komedinya. Dan alhasil, hmmm.... This is mediocre and cliche, but it's full of fun!

Mira (Nirina Zubir) adalah wanita kampung yang telah sukses menapaki karir di ibukota Jakarta sebagai pegawai perbankan. Di umurnya yang telah mencapai 30 Tahun, abahnya (Budi Dalton) yang seorang jawara silat dikampungnya menagih janji anaknya sewaktu kecil jika tepat pada umurnya tersebut tersebut ia bersedia dijodohkan dengan Otoy (Fedi Nuril), salah seorang anak kampung didesanya. Tapi sayangnya Mira sangat membenci Otoy karena perilakunya yang aneh dan dianggap cabul sewaktu kecil. Agar perjodohan antara Mira dan Otoy gagal, ia meminta kedua sahabat sehidup sematinya, Umi (Tika Bravani) dan Jessy (Acha Septriasa) untuk ikut bersamanya pulang kampung dan membantunya membatalkan acara perjodohannya. Tapi, siapa sangka ketika mereka sudah sampai, suasana kampung yang dulunya sangat tertinggal dan terbelakang mendadak telah berubah total. Bahkan Otoy yang dikiranya jelek dan cabul, telah berubah menjadi pria tampan, cerdas dan sholeh yang justru membuat terpikat kedua teman Mira. Disinilah akhirnya persahabatan mereka bertiga diuji.

Sebelum menonton ini saya memang tak memasang ekspetasi terlalu tinggi. Hanya satu saja yang saya harapkan, setidaknya film ini bisa sedikit saja menghibur saya sampai akhir. Dan sedikit diatas ekspetasi Shy Shy Cat menjelma menjadi sajian komedi remaja yang sangat kocak. Memang terlihat klise, contohnya seperti dari pria yang dulunya jelek dan bodoh berubah menjadi tampan dan cerdas, tiga orang perempuan berebutan satu laki-laki itu, dan semua yang saya saksikan very very cliches. But, really... I don't care. Disini malah saya benar-benar mengabaikan semua keklisean film yang mirip drama FTV dan malah saya menikmati alur cerita dari awal hingga akhir.

Setiap moment memberi gelak tawa dan kekonyolan yang efektif. Dengan beberapa dialog sunda yang sembarang dan campur aduk, walau memang ada beberapa bagian yang agak memaksa penonton untuk tertawa dan terlebih lagi norak, tapi kemudian kekonyolan-kekonyolan berikutnya berhasil menutupi bagian lainnya. Disini kita punya Nirina Zubir, Tika Bravani, dan Acha Septriasa sebagai tonggak film ini. Mereka bertiga mengingatkan saya pada tiga wanita di Bad Moms. Nirina sebagai wanita karir sukses, Tika sebagai wanita yang punya penyakit gampang depresi, dan Acha sebagai yang diluar perkiraan saya.

Acha, oh... Acha, artis yang saya kira selalu jadi ratu drama di layar lebar ini ga nyangka lebih mahir ngelawak ketimbang dua temannya tadi. Dialah yang paling menyita perhatian saya dari awal dia nongol di scene pertamanya saat ia berperan sebagai pemeran hantu esek-esek. Dengan dandanan nakal ala Nikita Mirzani, Acha yang paling menebar pesona bukan karena tubuh seksi dan wajah cantiknya, tapi gelagat konyolnya yang luwes dan apa adanya paling membuat saya mules sampai melompat dari kursi bioskop. Dan dibantu oleh Soleh Solihun yang juga kerap melontarkan dialog absurd dan kocak, menambah parahnya komedi dalam film ini.

Tidak banyak sih yang bisa diharapkan dalam cerita film ini sendiri. Seperti saya bilang dari awal, ia terlalu klise dan dibawah ekspetasi. Jika saja bahan ceritanya lebih dirapihkan dan ditata lebih baik. Tapi, dibalik itu masih ada beberapa selipan dan isu yang masih mampu menjadi bumbu cerita film ini. Seperti isu untuk memajukan pedesaan atau perkampungan di Indonesia yang masih jauh dari teknologi, dan juga isu sosial lainnya yang menyentil sedikit norma agama dan juga pola pikir masyarakat perkotaan. Walau kadang memang agak diluar konteks, tapi sepertinya film ini tidak hanya ingin menghibur kita saja, tapi juga ingin memuat sebuah pesan makna. Yang membuat film ini tidak sekedar film, tapi juga diingat oleh penontonnya sendiri. Memang bukan cara yang buruk.

Dibawah kemudi Monty Tiwa. Jujur saya benar-benar awam soal film Indonesia dan tak banyak referensi yang saya dapat untuk lebih mendetilkan cerita film ini, bahkan sosok Monty Tiwa sendiri masih terasa asing. Tapi, hal yang sudah saya tahu sepertinya Monty Tiwa cukup cerdas memberi komedinya yang memang terkesan norak, gokil, dan ancur banget. Dan Acha yang diluar dugaan adalah faktor terbesar kenapa kalian harus menonton film ini. Dan tentang jawaban saya diatas tentang apakah film Indonesia lebih baik? Jika dibilang lebih baik, mungkin kata terbaik adalah Indonesia perlu belajar lebih banyak lagi dalam membenahi setiap kekurangan yang ada, terlebih melihat bagaimana harga diri film Indonesia dimata dunia tidak lagi dipandang sebelah mata. Jadi, saya bukan sok mengajarkan tapi hanya sekedar berharap bahwa perfilman Indonesia bisa lebih kaya dan lebih kreatif.

Ya, walau rada ngga nyambung dengan ulasan film ini, tapi karena ini pertama kali buat saya mengulas film Indonesia. Dan mungkin ini juga kata-kata yang tepat buat saya mengatakannya, karena buat saya film Shy Shy Cat sendiri cukup menghibur. Tak perlu bernada sinis dengan film Indonesia, toh kembalikan pada persepsi masing-masing. Saya juga dulu sinis, tapi sekarang layaknya orang yang ingin lebih tahu dan ingin lebih menyadari. Mungkin dengan menulis ini sedikitnya bisa menginspirasi dan memajukan perfilman Indonesia. Karena tanpa sebuah kritikan dan pujian yang tepat kita takkan pernah tahu kekurangan film kita sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates