• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Seberapa cintamu pada hidupmu seperti seberapa besar berharganya hadirmu buat orang lain? Tidak ada yang bisa mengukur seberapa besar eksistensi kita sebagai manusia dengan segala pengorbanan dan perjalanan hidup saat semua yang kita lakukan ternyata terasa sia-sia atau mungkin sesuatu yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya justru menjadi sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bayangkan jika saya, anda, atau kita tidak pernah dilahirkan di dunia, dan keberadaan kita tidak pernah ada? It's a Wonderful Life seperti judulnya adalah film yang syarat makna begitu dalam tentang betapa berharganya hidup saat tanpa sadar kita telah melewatkan berbagai hal kecil yang ternyata itu berdampak besar bagi orang lain.

Film arahan sutradara Frank Capra ini memang sejatinya tidak akan pernah hilang dimakan usia, meski tampilan hitam putih, cerita sederhana tentang kehidupan sebuah keluarga dan impian yang sebetulnya terkesan sangat klise. Tapi, apa yang disampaikan film ini sanggup mengubah cara pandangmu akan dirimu sendiri hingga melekat sampai ke relung hati yang terdalam. Film ini memang di dedikasikan untuk film Christmas Day dan di Amerika setiap menjelang hari natal film ini selalu ditayangkan di televisi setiap tahun. Film ini bercerita tentang seorang pria paruh baya yang tinggal di Bedford Falls bernama George Bailey (James Stewart) yang harus mengorbankan setiap impian dalam hidupnya hanya untuk menolong orang lain sampai pada akhirnya ia mencoba bunuh diri dengan menceburkan dirinya dalam sungai di malam natal, hingga membawa malaikat penjaga Clarence Odbody (Henry Travers) ikut campur tangan untuk menolongnya dan memperlihatkan keajaiban yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Film yang secara tak sadar adalah genre drama fantasy, ternyata pernah mendapatkan peraihan buruk di box office karena tingginya biaya produksi dan persaingan yang ketat pada saat film ini diluncurkan, tapi kemudian hari gegap gempita dan pengaruhnya di dunia sangatlah besar hingga membuat film ini akhirnya memperoleh 2x lipat penghasilan dari budget produksinya sebesar $3,180,000. Salah satunya film ini dianggap sebagai film paling kritis yang pernah ada, hingga mendapatkan 5 nominasi Oscar di Best Picture, Best Actor in a Leading Role (James Stewart), Best Director, Best Sound, Recording, dan Best Film Editing. Selain penghargaan bergengsi tersebut lainnya datang dari American Film Institute yang memasukkannya dalam salah satu 100 film terbaik Amerika yang pernah ada di peringkat 11.

Sehebat itukah film ini? Ya, saya tidak memungkiri bahwa film ini sensasional dan sangat inspiratif, meski mungkin film ini cukup membosankan dan ceritanya biasa saja ketika saya menontonnya pertama kali, apalagi film ini cukup menghamparkan beberapa kesan cerita yang melodramatis. Tapi, disisi lain film ini memiliki beberapa sentuhan seperti romantisme antara pertemuan Goerge dan kekasih hatinya Mary Hatch (Donna Reed) yang dibuat cukup menarik, juga bagaimana kita melihat kehidupan masa kecil Goerge hingga dewasa dari sekedar melihat besarnya impian yang dimiliki juga pengorbanan yang tidak sedikit membuat kita bersimpati pada kehidupan sang tokoh utamanya. Well, It's a Wonderful Life adalah sebuah film klasik yang wajib ditonton, bagaimana akhirnya film ini mampu membuatmu untuk selalu bersyukur dan tidak pernah menyesali apapun yang terjadi dalam hidupmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bayi memang cute dan menggemaskan, tingkah polahnya yang alami memang tidak bisa dibantahkan semua orang dewasa. Termasuk saya yang memiliki keponakan yang belum sampai 1 tahun, tangisannya, rengekannya, dan juga tertawanya yang membuat pola garis diantara kedua pipinya tidak bisa sedikitpun tidak membuat saya gemas dan ingin mencubit pipinya setiap hari. Sampai DreamWorks Animation membuat film bertema bayi unik berjudul The Boss Baby. Bagian menariknya tentu saja film ini bukan tentang bayi biasa, bayi ini menyebut dirinya Boss Baby (Alec Baldwin) yang lahir di sebuah pabrik pembuat bayi bernama Baby Corps. Mungkin seolah terinspirasi dari film "Storks" tentang pabrik pembuat bayi, namun menjadikan bayi di film ini sebagai bayi berotak dan bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan style ala Chief executive officer (CEO) dengan setelan jas rapi, jam tangan emas, dan briefcase, dan tentu saja gema suara berat yang disuarakan Alec Baldwin menambah kelucuan (keganjilan?) bayi di film ini.

Film ini diawali dengan cerita tentang seorang anak berumur 7 Tahun bernama Tim (Miles Bakshi) yang terpaksa harus berbagi hidup dengan Boss Baby setelah ayah dan ibu Tim memproklamirkan dirinya sebagai bagian dari keluarga sekaligus adik Tim yang baru. Tapi, Tim tidak suka akan kehadirannya karena telah mengambil sepenuhnya perhatian dan kasih sayang orang tuanya kepada bayi tersebut, bahkan Tim pun menyadari jika bayi tersebut bertingkah sangat aneh dan tak wajar dari bayi pada umumnya, hingga suatu malam Tim akhirnya memergoki dan terkejut bahwa Boss Baby bisa berbicara di telepon layaknya orang dewasa. Karena penyamarannya diketahui, Boss Baby pun mengakui bahwa ia sedang menjalani sebuah tugas dan misi rahasia dari perusahaan tempat ia bekerja.


Bayi memang mudah untuk meluluhkan hati seseorang, tapi mungkin beda konotasi tersebut jika berhubungan dengan sebuah film. Dan tentunya memproyeksikan tingkah jenaka dan manja bayi akan sangat berbeda jika mengetahui bahwasanya bayi dijadikan sebuah eksperimental dengan apa yang di imajinasikan orang-orang dewasa pada umumnya. Bayi berbicara? Bayi dewasa? Imajinasi ini memang tampak liar seketika jika keliaran tersebut terlampau melebihi ekspetasi. Dan sejujurnya The Boss Baby memang lucu, tapi ini menjadi komedi hyper-active tentang bayi yang dipertanyakan tentang masalah identitas moral dan daya intelektualnya yang terlalu abusive. Bolehlah jika bayi bisa berbicara ataupun berpikiran dewasa, namun apakah film ini menanggulangi batas-batas termasuk teknik komunikasi antara Tim dan Boss Baby terasa relevan? jawabnya, ini terlalu ngelantur.

Film ini mengidentifikasi tentang hidup dewasa dan bayi sebagai medianya, mungkin terdengar keren dan menarik. Dan Tim sebagai anak 7 tahun pun mengikuti arus kedewasaan sang bayi dewasa. Sayangnya tujuan-tujuan yang ingin dicapai film ini sangat lemah, kelucuan-kelucuan yang awalnya membuat saya bergelak tawa dengan berbagai tingkah polah hingga slapstick selaku kekonyolan anak-anak, namun semakin kesana saya semakin sadar bahwa hal ini mulai tergerus perlahan akan tingkah Boss Baby yang tidak lagi terdeskripsikan sebagai bayi 1 tahun. Pemaksaan identitas ini juga diikuti oleh pengembangan karakter Tim yang sulit untuk mengikuti kedewasaan seorang bayi antara realitasnya di atas keabsurdan dan ketidak masuk akalan yang sulit dilahap bersama-sama.


Masalah cerita pun tampak dari inkonsistensi dari komplikasi dan arah tujuan yang terbilang tidak konklusif. Ini bahkan menimbulkan cacat di ending ketika cerita tidak lagi secantik premis yang ditawarkan. Berjibaku dengan masalah yang dihadapi bayi saat posisi mereka terancam oleh puppy, argh! segila-gilanya sutradara atau penulis cerita ini jauh lebih tidak logis untuk memaksudkan glitch yang bagi orang dewasa bahkan yang telah melahirkan sekalipun dengan sadar tahu mana yang mereka pilih. Dan tendensi emosional dalam relasi yang bisa kita anggap kakak-adik melalui proses hubungan Tim dan Boss Baby telah terbungkam sejak film ini digelar, karena saat proses mencerna Boss Baby sebagai salah identitas sudah sulit untuk menangkap moment terbaik kala masing-masing bukan lagi terlihat sebagai karakter anak-anak dengan tingkah polosnya.

Tom McGrath selaku sutradara The Boss Baby menurut saya bukanlah sutradara yang buruk. "Madagascar: Escape 2 Africa", "Madagascar 3: Europe's Most Wanted" dan "Megamind" adalah animasi yang menurut saya masih terasa menghibur. Diadaptasi dari buku gambar karya Marla Frazee yang terdiri dari 32 halaman, hingga di perlebar dengan konversi naskah buatan Michael McCullers, mungkin otentitas kisah yang ditawarkan tidak lagi berkesinambungan dengan penambahan beberapa hal yang diolah sedemikian rupa sehingga kisah The Boss Baby malah terasa medioker. Hal yang dilakukan McGrath dan McCullens hanyalah sekedar landasan untuk menciptakan hingar bingar dan tingkah lucu bayi unik selama bayi di orientasikan tetap menjadi makhluk mungil dan menggemaskan. Meski pada akhirnya konsep yang mereka usung tetap tak ubahnya menjadi film dengan penuh kelesuan dan kemalasan para filmaker dalam membuat film yang lebih substansial.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Steven Spielberg adalah sutradara pertama yang paling saya kenal sebelum mengenal lebih banyak nama-nama sutradara besar lainnya dan merupakan salah satu terfavorit saya hingga sekarang. Tentu jika kamu mengenal beberapa buah karya tangannya yang menjadi legenda film dan sinematografi klasik, semisal Jaws, Indiana Jones, Saving Private Ryan, Schindler's List dan Jurassic Park. Mungkin terdengar begitu lawas, tapi dari sanalah awal cerita saya mengenal sutradara yang telah meraih 3 buah Oscar yang telah membukukan namanya sebagai sutradara terbaik di Hollywood. Hingga sekarang karya terbaiknya tetap mengalir deras tanpa membuatnya pudar dan menghilang, bahkan film terakhirnya yang lebih kental dengan political theme, Lincoln dan Bridge of Spies, tetap membuatnya diakui sebagai sutradara berkelas.

Dan kali ini Steven Spielberg sepertinya ingin kembali lagi merambah dunia penuh petualangan serunya dengan mengusung tema, family oriented. Itu bisa dilihat dari kembalinya kolaborasi Spielberg dengan penulis naskah sekaligus sahabat lamanya Melissa Mathison, yang telah membawa film ikonik besar di era 80-an, E.T. The Extra-Terrestrial. Tentu dengan teknik visual dan sinematografi cantik hasil debut kerjasama Spielberg bersama studio besar Walt Disney Pictures, ia kembali menghadirkan kisah hangat tentang arti sebuah persahabatan. The BFG (Big Friendly Giant) merupakan film yang diadaptasi dari salah satu buku novel karangan Roald Dahl (Charlie and the Chocolate Factory, Fantastic Mr. Fox, Matilda).

Suatu malam, Sophie (Ruby Barnhill) salah seorang anak perempuan yang tinggal di sebuah panti asuhan terjaga dari tidurnya dan sedang berkeliling dalam rumah pantinya. Malam itu tanpa sengaja ia melihat bayangan aneh bergerak dibalik kota sepi London, dari balik tirai jendela ia terkejut karena melihat sesosok makhluk raksasa memakai kerudung sedang berkeliaran di kota itu. Lalu tanpa sebab, makhluk raksasa itu menculik Sophie dan membawanya jauh dari kota, ketempat persembunyian makhluk raksasa tersebut tinggal. Disana tentu saja kecemasan Sophie muncul bahwa mungkin saja ia diculik untuk menjadi santapan makhluk raksasa tersebut.

Tapi, ternyata pria yang nantinya diberi nama BFG (Mark Rylance) adalah pria tua raksasa yang ramah dan baik hati. Ia mengatakan bahwa ia bukanlah seorang kanibal yang suka memangsa manusia, ia terpaksa menculik Sophie untuk tinggal bersama seumur hidupnya, agar Sophie tidak menyebarkan rahasia dirinya ke dunia manusia. Tentu mendengar hal tersebut tetap tak merubah niat Sophie untuk mencoba kabur dari sana. Tapi sayangnya rencana tersebut tidak berjalan semudah itu, karena disana juga ditinggali beberapa makhluk raksasa yang bahkan jauh lebih besar dari BFG, bahkan mereka lebih kejam, lebih jahat dan suka memakan manusia.

Tentu hal yang amat menjanjikan bahwa film yang digawangi sutradara brilliant sekaliber Oscar dan juga studio animasi Walt Disney, membuat The BFG layak untuk disejajarkan dalam film fantasi spektakular. Tapi enggan untuk berspekulasi tentang sesuatu yang tampaknya hebat, dengan semua kehebohan itu ternyata apa yang disajikan oleh The BFG hanya sebuah kesenangan yang hampir tampak kosong. The BFG memang punya sequence cerita yang menarik dan tak terduga. Apalagi disokong animasi warna cahaya berkelap-kelip dengan latar malam yang gelap yang menawan hati. Tentu kamu tak perlu ragu untuk setiap olahan animasi dari studio semacam Disney. Sayangnya setelah film ini berakhir ada sesuatu yang terasa hilang dan ketika saya bertanya pada diri saya soal film ini, "Apa yang membuat film ini menjadi istimewa?"

Tentunya aspek cerita tentang persahabatan antara anak kecil dan makhluk besar (atau anggaplah monster) dengan hubungannya yang begitu hangat dan sederhana tampak tak begitu menarik. Tapi, ditangan Spielberg dan naskah gubahan Melissa Mathison, cukup berhasil dalam menyuntikkan kisah warm and full of kindness. Terdapat adanya keterikatan dan hubungan unik yang terjadi antara Sophie dan BFG, seperti kisah persahabatan yang pernah ditulis naskahnya oleh Melissa (E.T. dan Ponyo). Apalagi terdapat sebuah intimiadasi dan bully dari karakter sebesar BFG oleh makhluk yang lebih besar dan lebih jahat. Dan itu memunculkan sebuah rasa iba dan simpatik bahwa ia pun harus merasakan penderitaan dan rasa takut, meski dia sendiri ditakuti oleh sosok manusia. Ada sebuah pesan moral bahwa yang baik selalu ditindas yang jahat, tapi kebaikan yang lain datang untuk melindungi kebaikan lainnya.

Kemudian kita pun tidak hanya disuguhi sebuah kisah tentang persahabatan dan petualangan. Tapi juga, dunia tak kasat mata dari sesuatu yang bukan benda yaitu, a dream. Mimpi digambarkan dalam bentuk sebuah bola cahaya yang terbang layaknya seekor kunang-kunang. Tapi, disinilah masalah timbul dari penceritaan yang tak mampu berjalan beriringan. Tumpukan sequence cerita BFG terasa kurang kuat dan pondasi yang ia bangun seiring film berjalan semakin tumpul. Meski kita akan dihamparkan begitu banyak visualisasi menjanjikan dari dunia sederhana milik BFG, tapi tak satupun yang ditampilkan terasa memorable dan berkesan.

Tapi, saya suka bagaimana nantinya perjalanan cerita di second sequence untuk mengakhiri kisah the BFG menjadi bagian penceritaan yang paling kuat dan menarik. Meski saya merasa bagian ini terlalu Spielberg paksa ikut ditempel dalam plot cerita tanpa membuat sebuah perpaduan warna cerita yang seimbang. Tapi kelihatannya konklusi ini cukup efektif mengubah alur cerita yang sedarinya tampak membosankan menjadi sedikit menghibur.

Well, The BFG akhirnya hanya sebuah film fantasi yang cukup menghibur untuk ditonton bersama keluarga dengan visualisasinya yang cantik dan memikat. Mungkin bukan sebuah karya besar dari Steven Spielberg dan Walt Disney. Tapi, tetap memberikan sebuah sentuhan moral yang mengandung kisah manis dan hangat tentang arti sebuah kebaikan persahabatan yang tak kenal batas. Film sederhana dan menghibur yang cocok sekali ditonton untuk segala usia.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates