• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dalam kurun waktu 2 dekade kita sudah mengenal 3 karakter Spider-Man modern yang diperankan oleh Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland. Ketiga-tiganya memiliki plot cerita yang hampir sama, entah kisah percintaan, pekerjaan, intelektual, tragedi paman Ben, dan segala yang sudah terasa familiar dengan karakter bernama Peter Parker. Nah, mungkin ide untuk membuat film Spider-Man out of the box dari kisah-kisah yang saya rasa lama-lama bakal jadi klise, tim studio Marvel beserta Sony Pictures berusaha untuk keluar dari kebiasaan lama. Maka tetap mengambil asal-usul adaptasi komiknya, Miles Morales (Shameik Moore) menjelma menjadi sosok the new Spider-Man. Tentu saja Spider-Man yang lebih muda dan segar, ayah dan ibu yang masih hidup, tanpa kisah cinta, dan berkulit hitam.

Miles Morales adalah remaja belasan tahun yang hidup bersama kedua orang tuanya. Miles memiliki seorang Ayah yang tidak ia sukai bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), seorang polisi yang keras dan kerap mengatur kehidupan pribadinya. Miles pun memiliki seorang paman yang ia cintai dan dekat dengannya, Uncle Aaron (Mahershala Ali) yang justru menjadi ayah keduanya. Miles sebetulnya hidup di kota yang sama dengan Peter Parker, dan mungkin diperkirakan 20 Tahun setelah kejadian-kejadian yang kita kenal sebelumnya, telah menikah dan hidup bahagia bersama Mary Jane. Beberapa plot cerita pastinya tidak akan saya jelaskan secara rinci, yang pasti disaat yang sama ketika Miles tergigit laba-laba misterius, seorang penjahat mencoba mengacaukan dimensi, sehingga beberapa Spider-Man di dimensi/universe lain tertarik ke dalam dunia tempat Miles tinggal, dan tugasnya sekarang adalah membawa pulang kembali para Spider-Man dan menyelamatkan kota dari kekacauan.

Melalui sebentuk animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film penuh kekacauan, kerumitan dan keanehan. Baik karakter, cerita maupun visual animasinya sendiri. Berbagai macam karakter Spider-Man bermunculan, actually dari Spider-Man berperut buncit dan paling menyedihan, Spider-Man Noir, Spider-Woman, dan Spider-Man paling aneh dan konyol mirip tokoh kartun Looney Tunes, Porky Pig. Segala hingar bingar cerita yang konyol, melewati batas imajinasi dan pikiran liarnya, sentuhan ini tentunya didapat dari naskah dan ide Phil Lord dan Rodney Rothman, terutama Lord yang notabene membuat Spider-Verse layaknya The Lego Movie. Dibelakangnya pula terdapat tiga sutradara serangkai yang memang sudah pernah menangani animasi lain Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman.

Untuk animasi visualnya sebetulnya sedikit non-konvensional, lihat saja efek ledakannya yang menyerupai gelembung sabun, beberapa desain karakternya yang nyeleneh dan kadang ambigu untuk dibawa ke realita kehidupan Miles. Tapi, tentu saja kita dapat memaklumi bahwa kita dapat beranggapan film ini serupa animasi The Lego Batman Movie (2017), jangan pernah bertanya tentang logika dan keabsurdannya, tapi kita menyadari bahwa ini adalah film animasi, dimana kebanyakan memang tak memerlukan pemahaman tersebut. Selama film masih membuat tertawa, menyentuh hati dan masih related dengan kejadian-kejadiannya, Spider-Verse memiliki hal tersebut. Dalam keseruan efek animasi yang tajam dan mengikat, yang paling saya suka adalah perpaduan animasi dan lagunya yang terasa klop, salah satunya lagu "Sunflower" yang dinyanyikan Post Malone dan Swae Lee terasa renyah berapa kalipun di putar dan dinyanyikan oleh Miles sendiri, bahkan saat filmnya selesai. Dan faktanya saya sudah sering mendengar lagu ini sebelum filmnya dirilis, bener-bener adem dan renyah didengar.

Dari segi cerita, selain humor khas Phil Lord, film ini tetap mengeksplorasi ruang perasaan dan hati dalam ceritanya yang penuh ironi. Berbarengan dengan pendekatan kisah familiar seperti romansa hubungan Peter dan Mary, sedikit cuplikan kereta Spider-Man 2-nya Sam Raimi yang paling memorable, berbagai pop-culture yang memperkaya dunia Spider-Man. Memang film ini tidak hanya menghibur, tapi memang benar-benar film tentang Spider-Verse yang kadang terasa seperti nostalgia. Berbagai villain pun muncul disini, dari Doctor Octopus, Scorpion, Green Goblin, dan Kingpin. meski tidak terlalu banyak dimunculkan karena memungkinkan membebani cerita. Mengatakan Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film terbaiknya Spider-Man? Melihat kekayaan dan motivasi film ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan cinta pada karakternya yang paling ikonik, tentu saja tanpa ragu saya mengatakan filmnya benar-benar keren, bernuansa, eksploratif, kaya, unik dan menyentuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bagaimana jika sutradara indie macam Taika Waititi diberi proyek besar untuk menangani film blockbuster macam Thor: Ragnarok. Menyuntikkan unsur cerita, petualangan dan komedi macam "Hunt for the Wilder People" terus membuat semua petualangan sederhana itu dengan bumbu kosmik kental yang menceritakan soal dewa-dewa berkekuatan besar. Di industri Marvel saat ini rasanya kita tak meragukan lagi kemampuan studio besar ini menangani dan memilih tim kru untuk proyek-proyek superhero besar lainnya. Jika dibandingkan dua film Thor lainnya, ini seperti transformasi besar buat kisah solo si raja petir dari Asgard, Thor (Chris Hemsworth). Tentu saja melalui cita rasa berbeda, Thor: Ragnarok seperti film kulminasi epik yang menunjukkan jati diri sebenarnya dari film-film Marvel.

Thor harus terlibat dengan masa lalu kelam ayahnya Odin (Anthony Hopkins) yang dulu pernah mengurung kekuatan jahat bernama Hela (Cate Blanchett) sang 'queen of death' yang berencana menguasai Asgard dan dunia. Tapi, saat Thor mencoba menghentikannya, kekuatan Hela jauh melebihi diatasnya dan membuat senjata andalan Thor pun, palu Mjolnir hancur berkeping-keping. Disaat Asgard dikuasai kekuatan jahat, Thor yang melarikan diri terdampar di sebuah planet 'garbage' bernama Sakaar yang dikuasai oleh pemimpin gila bernama Grandmaster (Jeff Goldblum). Thor yang disekap dan ditangkap oleh seorang wanita Valkyrie (Tessa Thompson), ditengah keputusasaan saat Asgard terancam bahaya, Thor dipaksa menjadi petarung gladiator dan melawan rekan satu timnya di Avengers, Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo).


Sebelum Marvel menunjukkan pertarungan epik dengan Thanos di The Avengers: Infinity War, Thor: Ragnarok seakan ingin menunjukkan kapasitas villain sesungguhnya, semenjak kegagalan Ultron yang disangka kuat ternyata lembek, konyol dan memalukan. Kini hadir Hela, sebagai villain wanita pertama sekaligus terkuat dengan menunjukkan taringnya langsung menghancurkan senjata terkuat, Mjolnir. Tidak hanya villain kuat, intimidasi serta momok menakutkan yang berhasil mencuri perhatian lewat akting Cate Blanchett pun sangat menggembirakan, tak ada yang jauh lebih cocok memerankan akting Blanchett saat tatapannya yang kadang seksi pun menyimpan sorot mata tajam yang seakan membunuh.

Bukan Marvel jika tidak memiliki rentetan komedi, memajang Taika Waititi beserta penulis skenario Eric Pearson, Thor: Ragnarok memberi pesona Guardians of the Galaxy dengan cita rasa fantasy sci-fi '70-'80-an. Meski tahu bahwa filmnya bisa sedikit kelam karena berisi disaster dari kekacauan, kejatuhan, dan kehancuran Asgard. Filmnya ternyata lebih ringan dengan tingkah konyol para karakternya. Sehingga jika menginginkan film sedikit lebih serius dan emosional, maka jangan harap filmnya akan membawa gejolak perasaan lebih dalam atau setidaknya lebih menegangkan.


Tentu saya tidak menganggap komedi Thor: Ragnarok jelek, meski beberapa masih juga terasa garing, tapi tetap konsisten untuk menyedapkan pita tertawa saya bergema hingga film berakhir. Tapi, ini seperti 'trigger' yang menghilangkan nuansa atmosferik dan emosional. Meski saya sangat menyukai Waititi tidak menghancurkan penokohan Hela dengan sebuah trik kekonyolan dan terus membuat villain ini tetap sesuai dengan perwatakkannya yang serius, fully-evil dan hot. Tapi, moment by moment lenyap karena terlalu banyak banyolan yang dirasa sedikit mengganggu, membuat saya berpikir apa jadinya jika Thor: Ragnarok tidak memiliki komedi? Maka film ini sesuram jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Tapi, film ini tidak terlalu mengecewakan, Thor: Ragnarok adalah renovasi dan evolusi terbaik dari trilogi Thor disaat banyak yang mengatakan Thor adalah yang terburuk dari film solo superhero lainnya. Universe semakin luas, kemunculan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang sebentar, Loki (Tom Hiddleston) yang selalu identik dengan moralitas ambigu sebagai villain dan saudara Thor, Bruce Banner yang sepenuhnya dikuasai oleh si monster hijau, Hulk dengan tingkahnya yang childish dan polos tapi juga bisa sensitif. Thor, dengan gaya rambut barunya tampak lebih kece', dipotong oleh bukan orang biasa. Dan dua karakter baru yang cukup banyak menarik perhatian, Valkyrie, wanita yang suka mabuk tapi punya segudang rahasia dan latar belakang menarik, Korg (Taika Waititi), monster batu yang sangar tapi suara mirip robot Chappie, dan Grandmaster, pria berusia jutaan tahun yang punya watak aneh dan sangat gila.


Seperti yang saya bilang, Thor: Ragnarok adalah jati diri Marvel sebenarnya. Memanfaatkan semua formulasi yang sudah ada seperti komedi, tema futuristik, comic relief dan semua hal yang sudah tidak lagi menghebohkan, terbilang ini adalah masa kejayaan Marvel Cinematic Universe. Meski tak bisa dipungkiri seperti kurangnya suntikan emosi dan atmosferik yang kental, hingga terlalu bermain aman dalam cerita. Tapi tentu saja berharap The Avengers: Infinity War dan tahun-tahun kedepannya nanti Marvel tidak terjebak dalam situasi yang sama. Karena saya paham bahwa Marvel menyadari kekurangannya, menambalnya berkali-kali, hingga dapat dibuktikan Marvel hingga saat ini belum luput dari kegagalan.

Well, secara keseluruhan Thor: Ragnarok cukup memuaskan, tidak istimewa, tapi sangat menghibur. Setidaknya hal yang membuat saya memuji kesuksesan Waititi dan Pearson terletak pada referensinya, seperti penggunaan komedi yang interkoneksi dengan film Marvel sebelumnya, dan cara mereka memperlakukan para karakter baik jagoan, tokoh kacangan maupun villain dengan sangat baik dan relevan. Dan Hell Yea! mempercayai artis sekaliber Oscar, Cate Blanchett adalah pilihan yang tepat dan menjadi salah satu alasan menonton film yang satu ini, salah satu villain terbaik yang tidak kemenyek dan benar-benar "IMBA", bahkan membuat saya bertanya, apa yang bisa dilakukan film ini untuk mengalahkan dewi bernama Hela, jika dewa Thor sekalipun jadi benyek menghadapinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Diawali dengan pencurian sebuah naskah oleh seorang mantan murid bernama Kaecilius (Mads Mikkelsen) dari tangan sang guru The Ancient One (Tilda Swinton) dan sebuah aksi kejar-kejaran yang akhirnya membuat Kaecilius berhasil melarikan diri. Lalu dilain tempat, Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) merupakan dokter ahli syaraf yang dikenal sebagai seorang dokter yang sangat cerdas namun memiliki sifat arogan dan sombong. Meskipun begitu ia memiliki seorang perawat yang ia suka bernama Christine Palmer (Rachel McAdams) yang sangat dekat dengannya. Hingga suatu malam hal menakutkan yang tak ia sangka pun terjadi. Strange mengalami sebuah insiden kecelakaan mobil yang membuat kondisi tangannya hancur dan tak berfungsi sempurna. Kondisi ini pula yang akhirnya menghancurkan satu-satunya karir yang ia miliki.

Ditengah keputusasaan dan depresi, ia akhirnya mendapatkan sebuah informasi dari seseorang yang mampu menyembuhkan tangannya. Dari informasi itulah ia kemudian pergi ke Kamar-Taj dan bertemu dengan The Ancient One, yang diketahui sebagai orang yang dapat mengobati Strange. Meski awalnya ia tak percaya dengan metode pengobatan yang dikatakan oleh The Ancient One, tapi akhirnya ia menemukan suatu hal lebih luar biasa yang membuatnya lebih tertarik ketimbang metode pengobatan itu sendiri.

Karena melihat kecerdasan dan potensi bakat Strange, akhirnya ia diterima oleh The Ancient One sebagai murid. Disana ia dilatih menjadi seorang Sorcerer dan juga diperkenalkan dengan hal-hal mistik seperti ilmu sihir, kekuatan energi, dimensi lain, dan hal-hal lainnya. Hingga akhirnya ia harus menghadapi ancaman dari sang mantan murid The Ancient One, Kaecilius yang memiliki keinginan membangkitkan sebuah kekuatan Maha jahat.

REVIEW:
Melihat Marvel dengan banyaknya proyek film besar yang ia buat, dimana sebelumnya dua film ambisiusnya ditahun ini seperti (X-Men:Apocalypse) dan (Captain America: Civil War) yang telah meraih kesuksesan besar dimata penonton dan para fans. Kali ini Marvel Studio kembali memberikan kejutan luar biasa dari Doctor Strange.

Doctor Strange mengawali sebuah pengalaman menonton superhero dengan teknis paling rumit dan visual spektakular yang pernah ada. Ketika Scott Derrickson bisa terus-menerus memberikan pengalaman visual kece, rapi, dan sangat rumit ini. Ia menjaga penonton untuk tetap terperangah menyaksikan visual ala Inception-nya Scott Derrickson ini. Jika kamu pernah menyaksikan Inception-nya Christopher Nolan maka ia juga akan menampilkan visual yang sama bahkan lebih dari itu seperti manipulasi ruang dimensi dan waktu yang ditambah dengan elemen fantasi dan magic di film ini, membuatnya terasa sangat Brilliant!
 
Dibalik itu juga Scott mampu mempersentasikan kekuatan dan superpowernya Doctor Strange yang mana ability yang dimilikinya saja sudah sama rumitnya dengan visual teknis yang ia suguhkan. Dimana bukan cuma sekedar kekuatan sihir semata tapi ia menunjukkan semua asal teori dan kekuatan itu berasal seperti kekuatan memanipulasi dimensi lain, kekuatan energi, kekuatan metafisik seperti roh, dan manipulasi waktu. Dan ia mampu mencampur semua elemen itu menjadi satu dan tersusun rapih.

Dibagian karakternya sendiri, Benedict Cumberbatch telah berhasil menggambarkan sosoknya sebagai Doctor Strange yang tidak hanya cerdas namun ia juga memiliki sifat buruk seperti kesombongannya, ego yang tinggi dan sifat arogannya. Ia mampu menampilkan sosok dokter depresi pasca yang dialaminya dengan penuh emosional kemudian mengalami sebuah perjalanan spiritual yang akhirnya menemukan jati diri yang dikembangkan dengan sangat bagus. Selain itu juga ada nama-nama aktor dan artis besar lain yang telah mendukung cerita seperti Rachel McAdams, Mads Mikkelsen, Tildan Swinton, dan Chiwetel Ejiyofor.

Scott tidak hanya mampu menampilkan efek visual yang megah. Ditengah-tengah aksi spektakular yang disajikan sepanjang film ia juga terampil memberikan beberapa joke-joke segar yang membuat film ini memberi sedikit rileks ditengah ketegangan film yang berkecamuk. Meski agak disayangkan ia sedikit tersendat di beberapa adegan menuju akhir cerita walau nantinya tetap berakhir dengan klimaks yang menarik.

OVERALL, Doctor Strange telah menjadi sajian spektakular yang tidak hanya menjadi sebuah adaptasi komik yang seru saja, tapi Scott Derrickson mampu memainkan teknis visual yang megah dengan elemen cerita yang bersatu padu dengan segala elemen superpower dan metafisika-nya yang rumit dan rapih.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Seperti kita tahu bahwa Tony Stark aka Iron Man (Robert Downey Jr.) dan Steve Rogers aka Captain America (Chris Evans) adalah dua anggota tim Avengers yang selalu berseteru dan berselisih paham bagaikan air dan api. Meski bisa dibilang mereka adalah rekan satu tim yang selalu bekerja sama dalam menyelesaikan misi dan menyelamatkan bumi dari ancaman, tapi walau mereka berdiri di sisi yang sama tetapi kepercayaan dan keyakinan ego mereka yang berseberangan yang akan menentukan dan berdampak perubahan besar bagi tim ini.

Akibat peperangan dan ancaman yang terjadi pasca penyerangan yang mengakibatkan kehancuran kota-kota di beberapa belahan dunia yang diserang bukan berarti seluruh tindakan yang dilakukan Avengers dianggap benar dan dituding apa yang mereka lakukan demi melindungi bumi telah merenggut sebagian nyawa rakyat sipil tak bersalah. Karena kekuatan dan kemampuan mereka yang dianggap berbahaya maka badan pemerintahan melakukan sebuah upaya agar seluruh anggota Avengers menandatangani surat perjanjian yang telah disetujui oleh sekian banyak negara agar seluruh kegiatan Avengers yang selama ini bergerak sendiri dapat dikontrol sepenuhnya oleh pemerintahan. Usaha ini pun di tentang keras oleh sang kapten yang justru hal ini malah sangat di dukung oleh Tony Stark, bahkan beberapa anggota tim.

gambar captain america civil war by lemonvie

Tidak berhenti di situ saja, saat konferensi penandatanganan itu dilakukan tanpa diduga terjadi serangan bom yang di duga pelaku pembom itu adalah teman masa lalu kapten, Bucky aka Winter Soldier (Sebastian Stan). Hal ini pun membuat Steve mencari tahu apakah hal ini sepenuhnya benar dilakukan Bucky atau tidak? Dari sini konflik dan perseteruan antara dua kubu superhero yang bertentangan terjadi.

gambar captain america civil war by lemonvie 2

Bisa Saya kira bahwa apa yang disajikan oleh duo Russo ini sama halnya dengan yang dilakukan pada Captain America: Winter Soldier (2014). Konflik yang terjadi tidak semata-mata sebuah pertengkaran kecil dua superhero tetapi justru konflik besar yang melibatkan dunia politik dan pemerintahan. Inilah kenapa cerita yang terjalin cukup kompleks, bahkan di paruh awalnya saja kita sudah diajak mengikuti pergerakan cerita yang tidak biasa dan konflik besar yang nantinya akan berpengaruh pada setiap karakter yang ada.

gambar captain america civil war by lemonvie 3

gambar captain america civil war by lemonvie 4

Dia tidak seperti The Avengers (2012) yang notabene bermain di area konflik cerita yang agak kecil tapi dengan aksi besar, tapi apa yang duo Russo ini lakukan adalah sebuah pergerakkan cerita dengan manuver tinggi yang tidak hanya melibatkan banyak superhero dengan kemampuan mereka yang beragam. Tapi, ia benar-benar mengolah setiap konflik antar tokoh yang tidak hanya bermain kejar-kejaran, tetapi juga membawa konflik yang lebih dingin dengan adanya sisi balas dendam, ideologi, rasa benci, dan pergolakkan emosi yang dibawa oleh anggota tim lainnya.
 
gambar captain america civil war by lemonvie 5
 
Disini juga kita akan bertemu dengan beberapa karakter baru seperti Black Panther dan Spider-Man. Dengan banyaknya tokoh disana-sini yang banyak dimunculkan tidak sampai membuat kita pusing dan kebingungan. Duo Russo sepertinya tahu caranya membuat setiap karakter tidak serta merta hanya sebagai tempelan, bahkan beberapa dari mereka mendapatkan posisi yang pas, tidak berlebihan juga tidak kekurangan. Sehingga meski mereka ditempatkan pada satu wadah pun, alur cerita dan konflik utama tetap pada jalurnya.

gambar captain america civil war by lemonvie 6

Dengan permainan elemen ceritanya sangat kuat, untuk permainan aksi dan keseruan ala Marvel tetap membuat kita berdecak kagum. Tidak ada momen aksi yang membosankan dan membuat tidur. Semua pada porsi yang seimbang, antara cerita yang dibalut dengan tensi yang tidak pernah turun ditambah dengan aksi spektakuler setiap superhero yang saling baku hantam. Dan tidak juga terlupa bahwa film ini masih bisa membuatmu tertawa segar dengan candaan dan selingan yang tidak membuat film ini terjerumus ke dalam sisi gelap.


Overall, sebuah kejutan tentang bagaimana pendewasaan cerita dan konflik yang tidak lagi komikal justru membawa Captain America: Civil War sebagai perubahan dan evolusi yang menakjubkan. Dia tidak lagi menjadi sebuah cerita dan konflik sederhana ala superhero pada umumnya tentang mengalahkan musuh yang mengancam bumi, namun cerita yang kompleks dan sangat serius tentang emosi dan konflik karakter yang lebih luas, tapi tetap pada cara yang menawan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Entah apa yang ada dipikiran Tim Miller dalam membuat film ini. Seketika setelah Saya menonton film ini sangat-sangat diluar nalar tapi Saya sangat-sangat terhibur sangking sintingnya. Dimulai dengan adegan baku hantam dengan para penjahat di dalam mobil dan jalanan, Deadpool alias Wade (Ryan Reynolds) mempunyai dendam kesumat kepada gembong penjahat bernama Francis (Ed Skrein) yang telah membuat wajah dan tubuhnya hancur meski mempunyai kehidupan abadi dan tak bisa mati walau ditembak pistol berkali-kali.


gambar deadpool by lemonvie

Yah, meski ia tahu bahwa pada masa lalunya sendiri ia divonis memiliki kanker berbahaya yang mengancam nyawa bahkan kehidupan bersama pacarnya Vanessa (Morena Baccarin). Karena, tak tahu apa yang harus dilakukan, Wade mendapatkan tawaran dari seseorang yang mengatakan bisa menyembuhkan penyakit mematikan itu sekaligus membuatnya menjadi seorang berkekuatan layaknya superhero, akhirnya mantan tentara itu memutuskan untuk menerima tawaran itu. Hingga apa yang terjadi pada dirinya meski kanker dalam tubuhnya telah lenyap, tapi resiko kerusakan tubuh dan wajah tampannya membuat ia menjadi monster dan harus mencari cara mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula. Dan orang yang bisa menyembuhkan itu ialah orang yang membuatnya menjadi monster.

gambar deadpool by lemonvie 2

gambar deadpool by lemonvie 3

Dipenuhi Jokes jorok dan juga tidak sedikit menyindir-nyindir aktor dan artis film bahkan anehnya ia menyindir pelaku pemain serta kru film, ini adalah film paling gila dan konyol yang pernah Saya tonton dari semua film marvel. Bukan hanya itu, bahkan kebrutalan dan kesadisan film ini cukup membuat penonton awam bisa muntah ditempat sangking gokilnya. Ya betul, tak satupun dalam adegan film ini tanpa rasa hormat bahkan sangat kurang ajar.

gambar deadpool by lemonvie 4

Meski benar-benar gila tapi ia tetap film marvel, ia masih tetap menyimpan sebuah sajian komikal ala marvel yang tak pernah lupa jati dirinya. Ia membawa dua pondasi besar film Marvel yaitu antara X-Men dan Avengers. Karena membawa dua franchise besar itu maka Miller mau tidak mau harus benar-benar bekerja keras membawa kisah Deadpool ini menjadi lebih besar. Dan tentu saja, akhirnya ia berhasil melakukannya meski dengan cara yang salah bahkan kelewat kasar. Ia menjadikan Deadpool porak poranda dengan semua aksi dan ocehan sang aktor utama yang kelewat ancur, tapi sisi baiknya ia tidak benar-benar membuat film ini hancur, malah sebaliknya. Apalagi di dongkrak oleh dua mutan asuhan Professor X yang ikut membantu meramaikan film ini.

Untuk adegan aksinya pun tak perlu ditanya, jika kamu membandingkannya dengan Kick-Ass (2010) yang juga sama ngaconya. Maka, boleh dibilang Deadpool pemenangnya. Bagaimana tidak, ia lebih banyak bermain darah dan adegan bocar-bacir darah dan tubuh manusia sana-sini. Ibarat, ia bukan superhero panutan yag patut ditiru dengan segala aksi yang memang sudah kelewat sadis.

gambar deadpool by lemonvie 5

Overall, Deadpool adalah salah satu superhero badass yang tidak hanya vulgar dan kurang ajar dengan segala ocehan dan tindakannya. Tapi, Ia berhasil membuat Saya terpukau dengan aksi nyeleneh dan kelewat kasarnya itu. Film ini bertindak dengan semua ketidaklogisan dan tingkat konyol luar biasa, namun terasa fresh. Adegan aksinya pun bisa dibilang sadis tapi Incredible Awesome!
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates