• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mike Stangle (Adam Devine) dan Dave Stangle (Zac Efron) adalah dua bersaudara yang bekerja menjalankan bisnis minuman keras. Tapi tentu mereka berdua jauh lebih dikenal sebagai biang pengacau acara keluarga. Setiap kali mereka menghadiri acara keluarga ataupun pesta ulang tahun mereka selalu merusak bahkan menghancurkan acara tersebut akibat kegilaan dan tingkah liar mereka. Suatu hari ayah, ibu dan saudari kandung beserta pasangannya berkunjung ke rumah Mike dan Dave. Tidak lain kunjungan mereka adalah soal rencana pesta pernikahan saudari mereka, Jeanie Stangle (Sugar Lyn Beard). Agar tidak ada lagi kekacauan di hari istimewa itu oleh mereka, keluarganya menyuruh Mike dan Dave untuk datang ke pesta dengan membawa teman kencan sehingga kelakuan gila mereka dapat dikendalikan.

Setuju dengan hal tersebut, mereka pun mulai memasang iklan di internet untuk segera mencari wanita yang akan menjadi teman kencan mereka di pernikahan yang akan diselenggarakan di pulau hawaii. Tentunya mereka memilih wanita dengan karakter wanita baik-baik dan berpendidikan. Well, tanpa susah payah iklan tersebut menjadikan mereka berdua terkenal dan iklan mereka diminati begitu banyak orang terutama wanita. Tentunya iklan tersebut dilirik juga oleh Tatiana (Aubrey Plaza) dan Alice (Anna Kendrick). Dua gadis bad girl. Tertarik dengan traveling gratis ke hawaii mereka pun mencoba mendekati Stangle bersaudara itu dengan berpura-pura menjadi gadis good girl.

Entah sejak kapan bintang yang dikenal dengan nama asli Zachary David Alexander Efron (Zac Efron) karena keseksiannya bahkan termasuk dalam barisan artis tertampan/tercantik kedua di dunia di tahun 2011, menjadi salah satu spesies manusia yang mulai suka berakting absurd dan konyol. Terakhir saya sadar bahwa pria berparas tampan dan suka pamer tubuh atletisnya ini mulai konyol saat ia bermain film berjudul Neighbors, dibawah arahan sutradara yang memang sudah konyol+gila sejak lahir, Seth Rogen. Dan dibawah arahan Jake Szymanski kembali membuktikan sekonyol apa dirinya disini, ditambah kolaborasinya dengan Adam Devine yang juga bertampang blo'on dan bertingkah konyol.

Sebagai sutradara yang masih hijau, film ini adalah debut besar pertamanya, jika sebelumnya Jake Szymanski lebih banyak menyutradarai beberapa TV Series dan TV Movie. Tapi, disini ia mampu membuktikan bahwa ia bisa memberikan sebuah komedi segar yang tak garing dimata penonton. Tentu hanya dengan melihat poster film ini saja sudah menggambarkan betapa nakal, seksi dan konyolnya film ini. Beberapa kali Jake mampu menyuntikkan komedi dengan dialog-dialog kotor dan konyolnya. Ya, tentu saja dialog-dialog tersebut datang dari keempat mulut artis utamanya, Zac, Adam, Aubrey dan Anna.

Tidak cuma dialog kotor saja, tapi seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Disini ada Zac Efron dan partnernya Adam Devine punya eksplorasi tidak terbatas dalam menunjukkan kekonyolan-kekonyolannya. Dua orang inilah yang memberi energi besar buat film ini. Mereka bagaikan saudara dalam kisah nyata, mereka mengeluarkan begitu banyak mimik menggelikan dibalik perkataan konyol yang mereka lontarkan. Salah satunya saat mereka berekspresi menangis tersedu seperti bocah 5 tahun yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya dan juga saat Adam Devine menunjukkan ekspresi wanita yang sedang orgasme, U're ridiculous, dude! Anna Kendrick dan Aubrey Plaza pun tak kalah lucunya, meski masih kalah konyol dengan lawan main prianya.

Tapi, sayangnya Jake harus lebih banyak belajar lagi dalam persentasi filmnya yang terasa murahan dan kurang nikmat. Bahkan menggunakan hawaii sebagai tempat syuting, objek wisata ini kurang tereksplorasi, kecuali lokasi syuting Jurassic Park di pulau ini. Juga soal gambaran gila film ini juga ternyata terlalu lembut dan terlalu tenang, ekspetasi tentang kekacauan dan kegilaan hanyalah sebuah angin lewat, jika saja tak ada Zac dan Adam mungkin film ini akan terasa hambar. Dan tentu cerita film ini sudah bisa ditebak seperti apa, berjalan dengan cerita yang biasa saja dan predictable. Kadang tak tahu film ini kurang bisa memfokuskan antara hubungan cinta, persahabatan, dan persaudaraan. Terlihat Jake hanya main gedor dan tembak saja setiap adegan yang ada tanpa memberi kekuatan konflik dan berpikir bahwa yang penting itu lucu dan semua orang tertawa.

Film yang begitu banyak menyinggung judul-judul film lawas dalam dialognya juga tak kunjung memberi kejutan segila yang dipikirkan bahkan sampai akhir. Kecuali, masih dengan tingkah konyol kedua aktor utamanya. Beruntungnya bahwa saya melupakan cerita dan tetap ok dengan guyonan konyol dan lebay para aktor/artisnya. Dan juga Jake tak lupa memanfaatkan bakat dua cast-nya yang memang pernah beradu akting dan menunjukkan suara emasnya di film Pitch Perfect, Anna Kendrick dan Adam Devine. Film ini tetap menyenangkan dan konyol untuk ditonton, mengabaikan bagaimana persentasi dan ceritanya yang teramat biasa saja.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Karakter di film troll ini merupakan hasil kreasi dari sebuah boneka troll yang dibuat oleh penebang kayu bernama Thomas Dam, tahun 1958. Kemudian oleh Dreamworks Animation memasukkan boneka-boneka tersebut kedalam animasi petualangan penuh warna. Troll digambarkan sebagai makhluk kecil berukuran bola tenis dengan berbagai bentuk, warna dan juga memiliki sifat yang selalu bahagia. Hobi mereka adalah bernyanyi, bermain musik, dan berpelukkan setiap hari. Tapi, kehidupan yang penuh keceriaan itu terancam dengan kedatangan bargen, makhluk raksasa berwarna suram dan tidak bahagia. Agar bargen bahagia maka satu-satunya cara adalah memakan para trolls. Dan akhirnya para trolls dikurung dalam sebuah pohon di tengah kota bargen dan setiap datangnya sebuah perayaan dipilih satu dari mereka untuk dimakan.

Hari besarpun tiba bagi kaum bargen, seorang raja mengangkat anaknya sebagai raja baru di kota. Untuk merayakan hari istimewa itu maka raja pun mengizinkan anaknya memilih salah satu troll terbaik untuk dimakan. Tapi, sayangnya dihari itu jugalah para trolls telah berencana kabur dan berhasil melepaskan diri dari mangsa kaum bargen selama ini. 20 Tahun berlalu, merasa hidup dalam damai dan bahagia, mereka kembali berpesta dan melakukan hobi lama mereka, yaitu bernyanyi dan saling berpelukan satu sama lain. Tapi, salah satu bager yang diusir dari kota menyadari tempat persembunyian para trolls dan mengambil beberapa dari mereka untuk dibawa kembali ke kota. Untuk menyelamatkan para trolls yang diambil, dua dari trolls yaitu ratu para trolls, Poppy (Anna Kendrick) dan si menyebalkan Branch (Justin Timberlake) yang harus menyelamatkan teman-teman mereka kembali dengan selamat.

Buat Saya animasi keluaran Dreamworks itu nomor dua setelah Disney. Bukan karena kualitasnya yang jelek, bahkan buat Saya pribadi Dreamworks juga sanggup mengeluarkan animasi-animasi pamungkasnya seperti Shrek, How to Train Your Dragon 1 & 2, Madagascar, ataupun ketiga seri Kung-fu Panda-nya. Namun karena sisanya yang terlalu kurang terjamin kualitasnya. Seperti Turbo, Puss in Boots, Croods, Antz, dan masih banyak lagi yang lain. Kalian tidak setuju? Justru yang kalian harus lihat adalah Dreamworks kalah jauh dibanding Disney yang setiap tahun menelurkan setidaknya 2 atau 3 animasi yang bahkan begitu banyak mendapat pujian kritikus dan menembus rating rottentomatoes diatas 90%. Dan pertanyaannya apakah nasib Trolls termasuk diantara film-film kurang berkualitas Dreamworks lainnya? Hmmm... Jawabannya hampir saja. Karena Trolls tak sepenuhnya jelek tapi juga tak sepenuhnya bagus.

Trolls adalah refleksi sebuah kesenangan dan kegembiraan. Mencoba membawa kita terpengaruh lewat caranya mengeksplorasi warna, bentuk aneh dan lucu para makhluk trolls. Ditambah hentakkan beat musik yang menggebuk sebagai backsound yang mengiringi pergerakkan animasi, terutama lagu yang dinyanyikan oleh Justin Timberlake 'Can't Stop The Feeling' yang punya rasa yang terdengar ramai  dan gurih untuk didengarkan. Suasana bright itulah yang diciptakan Trolls hampir di sepanjang film ini. Gubahan naskah cerita Jonathan Aibel dan Glenn Berger pun mampu di eksekusi dengan baik oleh Walt Dohrn dan Mike Mitchell, dengan cerita dan animasi yang buat setiap orang mungkin merasa Oriented to Children Audience, namun ia dibangun basic cerita yang lebih seru dan menantang.

Penggarapan animasinya pun terasa menghipnotis. Bukan saja elemen warna-warninya yang seperti gulali yang melayang-layang. Kemunculan bargen sebagai kaum penindas, elemen gelap dan suram memberi sebuah perpaduan yang lebih kaya antara gulali manis dan kentang busuk. Tidak hanya itu, Walt Dohrn dan Mike Mitchell yang menghasilkan sebuah dunia unik dan aneh tanpa adanya campur tangan manusia, tidak hanya tentang dunia kecil trolls dan bargen tapi ketika Poppy dan Branch mengeksplorasi dunia yang terasa imajinatif walau tampak sedikit ditampilkan tapi terasa efektif.

Unsur komedinya pun berhasil dirangkap memberi penonton sebuah tawa manis, meski datang dari atmosfer yang terasa childish. Hal ini juga turut disertai karakter kontras antara Poppy yang optimistic disandingkan dengan Branch yang gloomy, memberikan kombinasi yang terasa lucu, attractive, dan enjoyable. Dan juga kedatangan tamu tak diundang Cloud Guy ketika high five scene antara dia dan Branch yang terasa sangat fun. Kembali pada bagian musik dan backsound, Trolls punya opsi untuk menarik penonton dengan sing and music. Terlihat dari bagian pengisi suara yang dipakai seperti Anna Kendrick, Justin Timberlake, Zooey Deschanel, Russell Brand, bahkan Gwen Stefani pun ikut menyumbangkan suaranya, memang diakui mereka semua punya suara yang merdu. Daftar-daftar itu telah memperlihatkan upaya besar untuk menggiring penonton tidak hanya menjual visual namun juga auditori audience. Penggantian dubber yang awalnya Jason Schwartzman and Chloë Grace Moretz sudah membuktikan semuanya. Memang penggunaan tema musik pada film bisa memberikan dampak positif namun tidak disangkal juga bisa memberikan dampak negatif.

Jika positifnya mungkin Anda sudah membacanya dari tulisan di atas, sebaliknya negatifnya adalah efek pada cerita yang semakin tertutup. Jonathan dan Glenn pun punya sequence story yang bagus. Tapi, ia kian meredup ketika berada pada klimaks dan ending yang terasa forgettable. Ia terasa terlalu banyak bersenang-senang dan seperti jatuh dari tempat yang tinggi, trolls yang sudah memberi cerita petualangan yang lumayan asyik diikuti berhasil menutupi semua elemen childish-nya namun kemudian ia seperti terpeleset jatuh di akhir. Memberi kesenangan yang selama ini terbangun menjadi kurang lovable.

Trolls memang sudah menghasilkan sebuah upaya besar dengan mengandalkan musik sebagai pengiring hidangan utama. Walau terasa childish dan porsi utamanya memang untuk menarik kalangan anak-anak untuk menyukai tidak saja animasinya, tapi juga mendulang pundi-pundi penjualan merchandise dan promosi lagu. Tapi, sisi baiknya trolls adalah petualangan yang menarik dengan warna-warni riangnya, mengundang tawa dengan rasa manisnya, musik yang terasa enjoyable dan pengisi suara yang suaranya terasa enak di dengar. Ia adalah sebuah hidangan yang cocok ditonton bersama keluarga.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jerry (Ryan Reynolds) adalah pria yang bekerja di sebuah pabrik pembuat bak mandi. Pegawainya pakai seragam merah jambu (Ah, lupakan, tidak penting). Jerry orangnya berkepribadian aneh, tapi tidak membuat orang-orang menjauhinya. Dia lucu dan kebetulan juga ganteng bro! (Yaiyalah, Ryan Reynolds!!!).

Nah, si Jerry ini punya penyakit dimana ia bisa denger kucing dan anjing piaraannya bicara. Tapi, ya tentu saja itu cuman ilusi dia aja karena masalah psikisnya. Si Jerry ini, punya rasa suka sama cewek cakep di tempat kerjanya itu, bernama Fiona (Gemma Arterton). Suatu ketika si Jerry ngecengin si Fiona, mau diajak makan di restoran cina. Karena, sebetulnya si Fiona ga tertarik dengan Jerry karena kepribadiannya itu. Ia, malah dengan sengaja tidak datang ke kencan tersebut dan malah pergi berkaraoke bersama teman sekantornya. Dengan, sedih hati karena sang pujaan hati tak datang pada hari itu, Si Jerry lekas pulang... Eh, dasar jodoh, baru aja pulang dari resto, ia malah ketemu Fiona di jalan, kebetulan hujan dan mobilnya mogok, si Jerry mengantarkannya pulang..

Nah disinilah, akhirnya kepribadian Jerry terungkap...
Lebih baik nonton sendiri aja ya... Yang pasti si Jerry jadi psikopat tukang jagal di film ini.

REVIEW:
Filmnya lucu?
Ya, karena ada kucing, anjing, dan juga potongan kepala manusia berbicara disini, tentu saja lucu.

Horor?
Ya iyalah, ada darah-darah, mutilasi, kepala manusia, dan tentu saja si Ryan Reynolds sebagai si tukang jagal kejam sekaligus baik hati. Nah, disinilah terlihat bagaimana beban psikologis Jerry dimana ada bisikan-bisikan dari dua hewan yang dia pelihara itu. Si kucing, Mr Whiskers menjadi pembujuk Jerry berbuat jahat dan si anjing, Bosco yang meluruskan hati Jerry ke jalan yang benar.

Ya, seperti yang saya tulis film ini keliatan sangat kejam dan seram. Tapi, sebetulnya hal tersebut tak terlalu membuat kita jijik atau ngeri, justru yang Saya lihat betapa konyolnya film ini. Walau pada dasarnya cuman sedikit Saya bisa ketawa nonton ini film.

Ya, tentu saja konyolnya adalah kucing dan anjing yang berbicara, dan juga kepala-kepala manusia korban mutilasi Jerry. Yap, disini kita tidak melihat sosok Jerry yang jahat, tetapi justru sosok Jerry yang polos... Ya, karakter Ryan Reynolds disini sangat polos.
Yang membuat sedikit tertarik dengan film ini adalah bagaimana fakta seramnya film penjagal, bisa dihiasi dengan humor-humor.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates