• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sejak dulu selain sebagai sarana hiburan, film merupakan sebuah alat yang mampu menyelipkan pesan propoganda. Dan melalui selipan pesan tersebut maka buah pikiran dari si penulis atau si pembuat film akan tersampaikan entah itu sebuah pesan moral ataupun kritisi mengenai isu terkait yang berdampak pada masyarakat. Didasarkan karya novel berjudul "Their Finest Hour and a Half" milik Lissa Evans, film yang kemudian mendapatkan pemangkasan judul menjadi Their Finest ini memiliki sekelumit cerita yang penuh dengan beberapa isu dan kritisi terkait feminisme, perang, dan juga propoganda di dunia perfilman itu sendiri.

Berangkat dari peristiwa yang baru saja diangkat oleh sineas Christopher Nolan tentang sejarah besar Dunkirk, Their Finest didasarkan pada situasi kota London tahun 1940 pasca evakuasi besar-besaran yang sangat mempengaruhi mental tentara Inggris pada saat itu, selain kekalahan telak dari Jerman, negara Inggris pun mengalami masa-masa sulit bangkit dalam keterpurukan. Maka institusi pemerintahan bernama British Ministry of Information berupaya membuat sebuah film propoganda kepada publik. Seorang wanita bernama Catrin Cole (Gemma Arterton) pun ditunjuk untuk membuat dan menuliskan naskah cerita tentang 2 gadis kembar muda yang konon ikut membantu melakukan evakuasi dinamo dan menyelamatkan sebagian tentara di Dunkirk. Tapi, tugas Cole tidak mudah, karena tugasnya dalam menulis tiap-tiap point naskah cerita haruslah bersifat autentitas dan optimistik, karena ia tidak boleh kembali gagal seperti pada film sebelumnya yang justru menjadi bahan tertawaan dan olokan oleh penonton di bioskop.


Film memang tidak selamanya jujur, itulah yang ingin disampaikan oleh cerita film ini. Mengangkat situasi London saat The Blitz (serangan bom reguler oleh Jerman di kota-kota Inggris dan sekitarnya), saya menangkap bahwa ada sebentuk keinginan dan wujud dari sebuah pencetusan propoganda dalam film yang dibuat pemerintah ini condong pada ketidakrelevanan dengan kisah nyata yang ada. ketidak relevanan itu adalah bumbu cerita yang ditambah-tambahkan dalam film agar bisa menarik penonton. Dan sebuah kritisi disampaikan dalam cerita film ini bahwa seperti yang dikatakan Tom Buckley (Sam Claflin) selaku partner Cole, "Real life with the boring bits cut out". Selama itu masih wajar dan tidak mencemari kisah yang ada. Apapun diperlukan selama film tersebut dapat memuaskan penontonnya.


Selain itu saya pun menemukan begitu banyak pesan penting selaku perlakuan gender dan relasinya dalam hubungan pekerjaan (terutama di dunia hiburan). Sama seperti contoh satir akan adanya perbedaan dalam pengupahan kerja yang bahkan sampai saat inipun di dunia hiburan masih terjadi diskriminasi terhadap persamaan hak kaum wanita dan laki-laki. Dan hal ini secara lugas tersampaikan melalui refleksi seorang Cole yang diperankan oleh Gemma Arterton dengan sangat manis dan tangguh. Di tengah deras dan gemuruhnya kota London akibat perang serta beban dan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita demi pekerjaan (dan negaranya). Meski tidak diwujudkan dalam bentuk kisah yang lebih patriotik, ada energi yang disampaikan dalam bentuk kelembutan seorang Cole, selain kuat dan cerdas dalam bidang profesi yang ia cintai dan tekuni, dalam hal ini Cole cukup banyak mencurahkan secara subtil aksi feminisme yang ia wujudkan dalam ide naskah film yang ia buat. Selain menggambarkan kondisi perang Dunkirk kepada penonton melalui kisah heroik para pria, Cole sedikitnya menyelipkan pengaruh wanita dalam kapabilitas dan juga heroisme-nya di medan perang. Bahkan seolah Cole pun secara tak sadar menyindir kaum pria yang gampang berstereotip soal kemampuan wanita dalam hal ini terkait masalah teknis dan mekanis yang seolah hanya bisa dilakukan oleh kaum adam.


Meski memiliki segelintir isu yang cukup tajam dan satir, namun kekurangan Their Finest terletak pada masalah alur cerita yang cukup gagal meraih emosi. Meski disebut sebagai sebuah film romantis, tapi di act pertama saya menemukan rasa lelah bercampur bosan selaku garapan sutradara Lone Scherfig (One Day) ini jauh mementingkan naskah yang terlalu rapi tapi minim "ledakkan". Sejalan dengan alur dan langkah seorang Cole dalam keseriusannya menggarap naskah cerita dan film, sembari menikmati berbagai proses pra-produksi, syuting, editing hingga tahap post-produksi sebuah film klasik, mengingatkan saya dengan isi film "The Aviator" karya Martin Scorsese. Kejemuan datang karena keintiman dan kehangatan tidak hadir dalam asmara kehidupan Cole, juga bagaimana hubungan dirinya bersama Buckley hanya terlihat sebatas partner kerja, yang justru Scherfig menghadirkannya setelah di bagian act ketiga, berupaya menjadikanya sebagai bagian dari kejutan hingga efek tearjerking yang sama seperti yang dilakukannya pada film One Day. Efektif? iya! gelombang emosi akhirnya bisa saya rasakan di klimaks setelah 1 jam lebih saya terseok-seok dalam cerita yang penuh kehampaan.


Bahkan efek situasi perang dan The Blitz pun tidak dimaksimalkan, cenderung beberapa kali terjadi bombardir lokasi di dekat Cole pun kurang menggelegarkan rasa takut, meski beberapa kali sequens menampilkan mayat bergelimpangan dan bangunan porak-poranda, cenderung fokus cerita yang kian berganti arah sulit menemukan korelasi situasi yang mengarah pada ketegangan, hingga atmosfer The Blitz pun cenderung tidak lagi tampak mengerikan. Well, sebagai bentuk propoganda di dalam propoganda, film Their Finest secara tangguh menggambarkan betapa pengaruh wanita dalam pekerjaan begitu besar. Ini tersirat dari ketekunan dan juga keahlian seorang Cole yang akhirnya beberapa orang mau mengakui kemampuannya. Ini adalah sebuah kisah adaptasi novel British yang betul-betul mencoba mengangkat harga diri wanita dalam standar etos kerja, juga bisa menjadi kisah inspiratif yang cukup berpengaruh khususnya bagi kalian para wanita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



The Disappearance of Alice Creed akan bercerita tentang sebuah drama penculikan yang ditata sangat rapi dan begitu hati-hati. Film ini juga dari awal hingga akhir akan menyuguhkan tiga tokoh utama saja. Dua orang penculik dan satu sandera wanita. Nah, sebelum Saya mengulas film ini lebih lanjut ada baiknya kalau yang belum nonton film ini saya sarankan untuk berhenti membaca tulisan Saya, karena apa yang Saya tulis disini mengandung banyak SPOILER!. Jadi, jika kamu masih mau bersenang-senang dengan film ini silahkan tutup saja dan nikmati saja ulasan film Saya yang lain. Karena, sulit untuk tidak membeberkan spoilernya sendiri yang punya rentetan kejutan yang akan kamu dapatkan di film ini. Tapi, jika masih nekat, ya monggo...

Film ini akan diawali dengan sebuah skema rencana yang sangat-sangat rapi. Tak ada dialog, tak ada petunjuk apa-apa yang akan mengantarkanmu pada dua orang pria yang tengah sibuk melakukan sesuatu, membeli perlengkapan dan peralatan, membongkar pasang sebuah ruangan, mendandani mobil, hingga membawa masuk seorang wanita kedalam mobil dalam keadaan kepala ditutupi kain dan membawanya ke sebuah apartemen kosong. Ya, itu semua hanya demi sebuah penculikan yang telah disusun sedemikian rupa, sedemikian rapi, dan sedemikian hati-hati.

Danny (Martin Compston) dan Vic (Eddie Marsan) adalah mantan narapidana yang baru keluar dari penjara, yang memang sudah merencanakan aksi penculikan ini dari awal. Dan tentu saja orang yang diculiknya sendiri adalah Alice Creed (Gemma Arterton), anak dari seorang pengusaha kaya raya untuk meminta uang tebusan sebagai pertukaran dengan sang gadis. Sang sutradara, J Blakeson (The Descent 2) tidak akan bermain di area yang luas. Tapi, ia cenderung akan memainkan plot sempit di sebuah kamar apartemen yang berkonflik antara si penculik dan si sandera. Dan tentu seperti Saya bilang, walau ia hanya berkutat disitu saja tapi ia punya rentetan kejutan tak terduga dan begitu banyak konflik yang mengungkap kebenaran dari ketiga orang ini.

J Blakeson memang sudah membuat pondasi cerita yang terlihat begitu cerdas dan begitu dramatis. Walau sebelumnya ia hanya seorang pembuat naskah cerita film horor, tapi kesanggupannya menulis naskah sekaligus menyutradarai film ini patut diperhitungkan. Apalagi twist yang dihadirkan dalam film ini tidak hanya satu, tapi hingga tiga lebih kejutan yang menantimu. Dan Blakeson mampu meramu itu semua dalam sebuah area sempit seperti ini. Ya, tanpa clue dan tanpa menebak-nebak siapa mereka bertiga. Dibalik itu semua ternyata mereka punya hubungan misterius dan Saya pun sempat syok dengan hubungan Danny dan Vic begitu kotor dan menjijikkannya.

Bungkusan elemen kidnap thriller cerdas dan menegangkan ini memang sudah berhasil menjaga atmosfernya secara terus-menerus, sehingga ceritanya sendiri bisa dibangun dengan menarik. Tapi, sayangnya saya memang sempat terkejut dengan hubungan percintaan mereka bertiga ini. Bahkan disini terdapat sebuah cinta segitiga yang terasa ambigu antara Danny, Vic, dan Alice Creed. Mungkin point inilah yang terasa kurang digali lagi oleh J Blakeson, bahkan sebetulnya ia masih bisa memberikan kejutan lebih banyak. Bahkan Saya pun masih bertanya-tanya sosok Vic yang sebenarnya adalah satu-satunya otak dari segala rencana penculikan ini. Tapi, sayangnya memang latar belakang ketiganya ini kurang memberi emosi personal setiap karakter lebih dalam. Sehingga Saya cuman merasa tertarik dengan kehadiran plot cerita yang ada.

Tapi, Saya sebenarnya cukup salut dengan ketiga akting mereka disini. Cukup tampil berani dan disturbing. Apalagi ini kedua kalinya setelah film (A Deal Is a Deal), Gemma Arterton mau berakting telanjang tanpa sebenang kain pun, diborgol diatas ranjang bahkan kencing didepan penculik mau ia perankan secara totalitas. Mimik wajahnya pun membuat dampak histeria yang cukup membangun suasana. Dua jempol buat Gemma disini. Juga akting berani pun ditampilkan oleh Martin Compston dan Eddie Marsan. Walau tidak separah Gemma, tapi akting ciuman yang mereka lakukan berdua walau cuma satu scene, memberi efek disturbing luar biasa. Yakss, hubungan yang terjalin antara mereka berdua ini kadang membuat Saya ngilu dan ngelus-ngelus dada. Vic sendiri adalah karakter homoseksual tulen, tapi ia seorang cerdas, dominator, dan berwatak keras, karena dialah otak kejahatan ini. Tapi, entah kenapa ia bisa jatuh hati dengan Danny, yang terlihat lemah, bodoh, dan terlihat polos ini. Ya, karakter Danny adalah seorang ambigu dan entah apa yang ada di otaknya, nafsu kah? Atau cinta kah? Mungkin diantara dua lainnya, yang paling buruk aktingnya adalah Eddie Marsan.

Walau memang film ini punya kualitas dari segi cerita dan caranya membangun atmosfer sebagai film drama penculikan yang cerdas. Tapi, Saya tidak bisa menerima kehadiran jalinan cinta segitiga antara Vic, Danny, dan Alice Creed. Tidak jelas dan ambigu. Tiada latar belakang yang jelas tentang hubungan mereka sebenarnya. J Blakeson memang sangat berani dalam menampilkan beberapa adegan yang maksimal memberi teror, tapi disaat bersamaan ia kurang berani mengeksplorasi lebih banyak cerita. Bahkan menurut Saya ia terlalu fokus dalam membuat twist demi twist tapi kurang mendandani twist tersebut lebih berefek mengejutkan. Dan pada akhirnya Saya hanya menyukai film ini setengahnya saja.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jerry (Ryan Reynolds) adalah pria yang bekerja di sebuah pabrik pembuat bak mandi. Pegawainya pakai seragam merah jambu (Ah, lupakan, tidak penting). Jerry orangnya berkepribadian aneh, tapi tidak membuat orang-orang menjauhinya. Dia lucu dan kebetulan juga ganteng bro! (Yaiyalah, Ryan Reynolds!!!).

Nah, si Jerry ini punya penyakit dimana ia bisa denger kucing dan anjing piaraannya bicara. Tapi, ya tentu saja itu cuman ilusi dia aja karena masalah psikisnya. Si Jerry ini, punya rasa suka sama cewek cakep di tempat kerjanya itu, bernama Fiona (Gemma Arterton). Suatu ketika si Jerry ngecengin si Fiona, mau diajak makan di restoran cina. Karena, sebetulnya si Fiona ga tertarik dengan Jerry karena kepribadiannya itu. Ia, malah dengan sengaja tidak datang ke kencan tersebut dan malah pergi berkaraoke bersama teman sekantornya. Dengan, sedih hati karena sang pujaan hati tak datang pada hari itu, Si Jerry lekas pulang... Eh, dasar jodoh, baru aja pulang dari resto, ia malah ketemu Fiona di jalan, kebetulan hujan dan mobilnya mogok, si Jerry mengantarkannya pulang..

Nah disinilah, akhirnya kepribadian Jerry terungkap...
Lebih baik nonton sendiri aja ya... Yang pasti si Jerry jadi psikopat tukang jagal di film ini.

REVIEW:
Filmnya lucu?
Ya, karena ada kucing, anjing, dan juga potongan kepala manusia berbicara disini, tentu saja lucu.

Horor?
Ya iyalah, ada darah-darah, mutilasi, kepala manusia, dan tentu saja si Ryan Reynolds sebagai si tukang jagal kejam sekaligus baik hati. Nah, disinilah terlihat bagaimana beban psikologis Jerry dimana ada bisikan-bisikan dari dua hewan yang dia pelihara itu. Si kucing, Mr Whiskers menjadi pembujuk Jerry berbuat jahat dan si anjing, Bosco yang meluruskan hati Jerry ke jalan yang benar.

Ya, seperti yang saya tulis film ini keliatan sangat kejam dan seram. Tapi, sebetulnya hal tersebut tak terlalu membuat kita jijik atau ngeri, justru yang Saya lihat betapa konyolnya film ini. Walau pada dasarnya cuman sedikit Saya bisa ketawa nonton ini film.

Ya, tentu saja konyolnya adalah kucing dan anjing yang berbicara, dan juga kepala-kepala manusia korban mutilasi Jerry. Yap, disini kita tidak melihat sosok Jerry yang jahat, tetapi justru sosok Jerry yang polos... Ya, karakter Ryan Reynolds disini sangat polos.
Yang membuat sedikit tertarik dengan film ini adalah bagaimana fakta seramnya film penjagal, bisa dihiasi dengan humor-humor.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates