• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



The Battleship Island mungkin bisa menjadi salah satu tontonan yang bagus untuk melihat betapa sejarah kelam penderitaan rakyat Korea akibat kolonialisme Jepang sangatlah kejam dan tak manusiawi. Seingat saya baru dua film Korea yang pernah saya tonton bersangkutan dengan tragedi ini, judulnya The Last Princess (2016), namun sayang film ini terlampau melodrama dan terkesan mirip soap opera ketimbang film biopik yang serius. Sedangkan yang paling bagus menurut saya adalah The Age of Shadow, namun juga film ini hanya kisah fiksi semata. Ryoo Seung-wan sutradara sekaligus penulis naskah membawa kita menyelami perspektif cerita melalui perjuangan masyarakat tanpa kelas, tentu saja tanpa embel-embel patriotisme tentara. Bahkan termasuk Lee Gang-ok (Hwang Jung-min) dan anaknya So-hee (Kim Su-an), keluarga yang bisa dibilang mencari nafkah dengan menjadi seniman musik, dijebak (atau terjebak?) menjadi buruh tambang di pulau battleship Island (Hasima Island). Selain keduanya, ada anggota mafia bernama Choi Chil-sung (So Ji-seob) dan seorang wanita Mallyon (Lee Jung-hyun), sepasang kekasih yang bisa dibilang hubungan mereka benci-cinta dalam pertemuan tak terduga. Song Joong-Ki (Park Mu-young) seorang tentara yang diam-diam masuk ke Hashima. Selain dari mereka masih terdapat lagi karakter-karakter lainnya, meski tidak sedominan mereka, bisa dilihat dari poster yang terpampang mewakili wajah 400 orang Korea yang terisolasi di Hashima.

Tentu saja film ini mengangkat tema tentang realita kekejaman para tentara Jepang di Hashima, termasuk perbudakan dan penyiksaan terhadap kaum pria yang dijanjikan upah sebagai pekerja tambang, sedangkan kaum wanita dijadikan pelacur di rumah bordir bagi para tentara Jepang. The Battleship Island termasuk film dengan biaya produksi termahal yaitu US$21 million (Rp276 miliar), itu bisa dilihat bagaimana film ini akan dipenuhi berbagai visual effect yang megah dan epic. Bukan cuman visual efek, tapi bagaimana Ryoo Seung-wan memenuhi segala plot cerita dengan paket full-action, dari sekedar perkelahian di tempat mandi umum yang kotor dan licin, ledakan pipa gas dalam tambang yang penuh semburan api dan ledakan, hingga klimaks yang dramatis dan megah. Tidak heran film ini bisa dikatakan sebagai film yang sangat ambisius mencoba untuk menyaingi pasar blockbuster hollywood Amerika Serikat.

Tetapi The Battleship Island adalah film yang sebetulnya punya narasi cerita yang lemah. Tentu saja ini bisa dilihat bagaimana Ryoo mencoba membagi sekuens cerita dimana fokus cerita terbagi-bagi dengan linimasa yang kompleks dan berdiri sendiri. Melompat-lompati cerita sepertinya bukan keahlian Ryoo menangani set piece sebesar ini, dengan banyak karakter, banyak tempat dan banyak cerita. Ruang cerita tersebut menjadi sesak dan sempit, sehingga narasi yang disampaikan menjadi kabur dan seringkali tak jelas. Seperti kemunculan Song Joong-Ki yang tiba-tiba, Mallyon yang sama sekali tidak diceritakan asal-usul dan masalah yang dihadapinya di Hashima. Motif Choi Chil-sung yang seorang anggota mafia kok bisa-bisanya terjun menjadi buruh tambang. Semua latar cerita film ini terasa dibuat random, bahkan sekedar menceritakan asal-usul Hashima sebagai posisi tempat mencari nafkah para pekerja atau memang para pekerja paksa yang dijebak sama seperti yang dialami Lee Gang-ok? Bencinya saya memang tidak terlalu mengikuti fakta sejarah Hashima, tapi bukan berarti film ini memperlemah narasinya sendiri. The Battleship Island memang menjanjikan cerita yang emosional, menegangkan dan dramatis, seperti bagaimana sekuens hubungan ayah dan anak yang rentan terpisah, sepasang kekasih dalam pertemuan romantis di tempat yang salah, konflik internal, dan muatan politik keji beberapa karakternya membuat film ini sama sekali tidak monoton dan kita pun turut terikat dengan berbagai karakternya, bahkan beberapa elemen komedi sempat memancing tawa meski bungkusan adegan seringkali begitu intens, penuh kekerasan dan ledakan, lantaran terdapat sosok Lee Gang-ok, pria oportunis dan selengean yang sebetulnya tokoh sentris yang lemah dan tidak berdaya, tapi cukup memiliki akal dan upaya untuk tetap bertahan hidup dan melindungi anaknya. Tapi, tetap saja sih saya tidak menyukai narasi ceritanya yang lemah yang tidak bisa ditutup-tutupi di beberapa babak, membingungkan dan terkesan random.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Perempuan cantik berkelahi dan membunuh memang bukan lagi tontonan baru, cukup tengok contoh paling fenomenal Black Mamba yang diperankan Uma Thurman di film Kill Bill vol 1 & 2. Adegan yang selalu dilakoni aktor laki-laki ini kemudian berubah haluan saat perempuan mengambil alih lebih banyak. Tahun 2017 pun turut diramaikan bukan saja melalui "Atomic Blonde" yang mampu membuat akting Charlize Theron sangat anggun sekaligus badass, Korea Selatan pun tidak mau kalah menampilkan perempuan-perempuan berparas girl band ini sama gilanya dengan si "blondie" yang berjudul The Villainess aka Ak-Nyeo.

Sook-hee (Kim Ok-bin) seorang wanita malang yang berusaha mengejar pembunuh ayahnya, kini harus berada dibawah naungan organisasi underground yang dipimpin oleh Kwon-Sook (Kim Seo-hyung). Dengan sebuah identitas baru dan kehidupan baru untuk menyamarkan dirinya sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran, Sok-hee yang berharap untuk mendapatkan kehidupan normal bersama anaknya Eun-Hye, tidak serta-merta membuat kehidupan Sook-Hee terlepas dari masalah ketika ia dihadapkan pada dua pria yang dicintainya Joong-sang (Shin Ha-kyun) sang mantan kekasih dan Hyun-soo (Bang Sung-Jun) pria yang baru dikenalnya.


Sebelum saya membahas bagaimana adegan bak-bik-buk dalam film ini yang tampil begitu panas dan brutal, saya ingin mempertegas lagi bagaimana sosok perempuan di film ini begitu eksklusif. Jung Byung-Gil sang sutradara memberi posisi eksklusif bagi sosok wanita yang justru berbeda dari Atomic Blonde dalam ruang lingkup cerita espionase yang lebih dalam tapi tidak menekan kepribadian dan emosi sang tokoh utama. The Villainess sebaliknya, membawa potensi cerita yang lebih sempit dengan mengedepankan sensitifitas tokoh utama, Byung-Gil memporsikan cerita lebih mendasar dan lebih personal.

Diluar tema yang tampak begitu deras akan aksi. The Villainess mungkin bisa saya sebut sebagai melodrama-action yang tak kunjung henti memperlihatkan ketar-ketir kehidupan Sook-hee. Jung Byung-Gil beserta penulis naskah Jung Byung-Sik membuat ceritanya kian memporsir kedekatan kita pada emosi dan perasaan Sook-hee. Kita ikut bersimpati sekaligus menyukainya. Ketika ia beraksi segila, selincah dan sebadass, tapi tak luput akan sisi feminim dan manusiawinya Sook-hee. Dia tampak kuat dan beringas ketika menghabisi lawan-lawannya tanpa ampun, tapi disisi lain diperlihatkan sisi wanita naif dan lemah saat ia dipertemukan dengan kehidupan percintaan dan tenggelam oleh perasaannya tersebut. Dengan setumpuk kehidupan cinta dan pertemuannya dengan dua orang pria yang dicintainya, tentu selipan unsur romansa pastinya saya temui disini, meski adegan tersebut tampil begitu klise dari yang paling menempel dalam otak saya saat Sook-hee berpayungan dengan Hyun-soo ditengah hujan atau hal-hal romantis klise lainnya sehingga sekelibat saya seperti sedang menyaksikan serial drama korea, tapi ini tidak melunturkan imej The Villainess sebagai film action, justru mempertegas hubungan emosional para tokohnya terkukuh lebih solid.


Disisi lain Byung-Gil mencoba mengekspansi kehadiran wanita jauh lebih berpengaruh dalam film ini, seperti halnya Kwon-Sook sebagai tokoh chief wanita yang tegas dan karismatik, hingga para wanita assassin lainnya selain Sook-hee turut menyumbangkan ototnya, hingga terasa wanita di film ini tampak seperti kunoichi (ninja wanita) yang ototnya lebih banyak terpakai daripada pria (selain para anggota kriminal tentunya). Hingga menyelipkan seputar kultur modern di Korea Selatan soal operasi plastik sebagai standarisasi kecantikan di Korea, meski hal ini hanya terselip melalui sepercik adegan tak penting, tapi cukup mewadahi sedikit sindiran Byung-Gil mengenai hal ini.

Sebagai elemen utama yang disajikan yaitu aksi, ternyata berperan besar dalam menawarkan sinematis yang variatif dan belum pernah saya saksikan sebelumnya. Selain polesan sinematografinya yang sangat apik, perpaduan warna palette yang selalu pas dalam menggambarkan setiap moment yang berbeda-beda. Tapi, yang perlu digaris bawahi adalah penggunaan teknik dan efek kamera yang sangat fantastis saat aksi mulai diputar. Beberapa momen aksi diambil dengan efek teknikal "first person" (istilah dalam game FPS yang mengambil langsung sudut pandang orang pertama) hingga efek "fisheye", memberikan pengalaman sinematis yang begitu melekat dan dinamis dengan mata saya sehingga aksi brutal layaknya The Raid dan Kill Bill ini seolah kita sendiri yang mengalaminya, tanpa harus membuat saya pusing dan bingung dengan gerakan kameranya yang sangat aktif dan liar.



Tapi, sayang The Villainess memiliki ending yang tidak begitu konklusif dan terkesan membingungkan. Entah apa karena saya sebagai penulis dan penonton  yang kurang peka atau memang Byung-Gil yang kurang menggali lebih dalam soal konflik cerita. Kontradiksi ini lahir dari hubungan Sook-hee dan Joong-sang, perpisahan dan pertemuan mereka tampak begitu ambigu, apalagi sosok Joong-sang yang memiliki rahasia yang sedari awal sudah saya tebak dan memang mencurigakan. Dan hal aneh ini mengganggu saya terutama *SPOILER: Saya tak mengerti kenapa Joong-sang tega memutuskan membunuh anak darah dagingnya sendiri Eun-Hye yang buat saya masih sangat lucu-lucunya, (ingat adegan anak buah Joong-sang menyandra Hyun-soo dan Eun-Hyo dirumah, kemudian Hyun-Soo mengatakan pada Joong-sang melalui handphone bahwa Eun-Hye adalah anak kandungnya, tapi sayang jawaban dari Joong-sang sengaja dibuat tidak terdengar), ini membuat saya makin tak paham, apakah Joong-sang tak mempercayai kata-kata Hyun-Soo atau memang murni Joong-sang ini goblok dan tak menyadari bahwa Eun-Hye adalah anaknya sendiri? Tapi sayangnya Joong-sang mengakui pernah jatuh cinta pada Sook-hee, mereka menikah dan saya rasa dia tidak gila dan saya rasa dia hanya sedikit goblok dalam bertindak. Dari sini saya kontradiksi dengan kepribadian dan masalah yang dialami Joong-sang, hanya karena alasan pernah membunuh ayahnya Sook-hee, ia kemudian memalsukan kematian,  menyengsarakan Sook-hee dan tega membunuh Eun-Hye? Ini terlalu dangkal untuk sebuah konklusi. Meski saya menyadari mungkin seharusnya Byung-Gil dan Byung-Sik mengambil lebih banyak waktu menceritakan lebih dalam profil Joong-sang, sehingga konklusi terasa lebih masuk akal dan beralasan. Tapi, sayang ini membuat cerita menjadi timpang dan membuatnya menjadi menyebalkan. *SPOILER END*. Selain itu saya pun tak memahami apapun kondisi yang terjadi di universe The Villainess, termasuk organisasi yang dipimpin Kwon-Sook yang notabene apakah mereka berasal dari organisasi dibawah naungan polisi atau memang mereka berasal dari sindikat kriminal elite semacam John Wick yang menugaskan Sook-hee dan para wanita (cantik) rekrutan ini membunuhi target tanpa harus mempertanyakan siapa mereka. Meski ini bukan pondasi yang ingin disampaikan, tapi ini juga menimbulkan tanda tanya besar di akhir, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya The Villainess 2, meski hal ini tak mungkin terjadi.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Korea Selatan terkenal dengan soap opera drama yang cukup mendunia terutama di Indonesia. Dimulai dari kisah asmara sepasang kekasih dari benci hingga cinta, sampai yang hits bertajuk drama perang yang terdengung sebagai drama televisi termahal di Korea Selatan. The Last Princess pun lewat sinema besar mencoba peruntungan lebih dari sekedar tetek bengek film asmara maupun drama keluarga yang membumi. Bertemakan sejarah kolonialisme Jepang dan merupakan adaptasi novel karya Bi-Young Kwon berjudul "Princess Deok-hye", Hur Jin-ho meletakkan kesempatan terbaiknya mentengahkan kisah nyata perjuangan besar wanita dalam sejarah yang hampir dilupakan oleh negaranya sendiri berjudul The Last of Princess (Deokhyeongju).

Bercerita di tahun 1912 Princess Deok-hye (Son Ye-jin) adalah pewaris kerajaan terakhir Joseoung (Korea). Semenjak ayahnya King Gojong (Baek Yoon-Sik) meninggal Deok-hye bersama ibunya terpaksa bertahan hidup dibawah kekuasaan Jepang. Saat beranjak usia 13 tahun Doek-hye dipaksa dikirim ke Jepang, ditemani handmaiden bernama Bok-soon (Ra Mi-ran). Bertolak belakang dengan keinginan hatinya sendiri, Deok-hye harus rela meninggalkan negara kelahirannya dan dijadikan sebagai alat kepentingan politik di negara Jepang. Suatu ketika Kim Jang-han (Park Hae-il) yang memiliki hubungan dengan Deok-hye sejak kecil muncul di Jepang, menyamar sebagai tentara. Jang-han membawa misi untuk “menyelundupkan” Deok-hye dan membawanya kembali ke Joseon.

Sebetulnya saya tidak begitu peduli bagaimana cara sebuah film digulirkan, meski teknik dan penceritaan Jin-ho lebih mirip soap opera ketimbang konsep yang diperkaya secara lebih tegas dan mulia. Tapi sayangnya The Last Princess jauh mementingkan aspek melodramatik ketimbang struggle yang menjadi kekuatan utamanya, yang justru overdramatic yang tidak efektif. Sedikit-sedikit Jin-ho menghasilkan air mata yang tumpah terlalu banyak dan tidak tepat sasaran. Dan ini ditemukan sepenuhnya dalam film, seolah metode ini dipergunakan sebagai amunisi utama Jin-ho untuk menghabiskan satu kotak tisu penontonnya, melalui serentet penderitaan yang dialami tokoh utamanya. Dan ini di "amin"kan oleh sang sutradara sekaligus penulis naskah yang keroyokan antara Hur Jin-ho, Lee Han-eol, dan Seo You-min, makin banyak penderitaan maka film yang dihasilkan lebih baik.


Tapi, beberapa scene saya menjumpai heroism dan keberanian dari tokoh utamanya, meski awalnya Jin-ho dibentuk melalui tokoh egosentris, naif dan distressing. Perangkatnya dikembangkan melalui yel-yel serta pidato menyentuh Jin-ho ditengah rakyat Korea yang ditindas dan dipekerja paksakan oleh Jepang. Tapi, setelah itu semangatnya kembali pudar dan akhirnya kembali diseret melalui tugas Deok-hye untuk berjuang kembali ke kampung halamannya yang selama ini ia rindukan. Beriringan kesedihan dan air mata terus-menerus menjadi pesan yang disampaikan oleh Jin-ho, hingga akhirnya air mata menjadi hal yang saya sepelekan. Apalagi penindasan ini dilakukan oleh antagonis yang buat saya terlalu dilebih-lebihkan kemunculannya, Yoon Je-Moon sebagai karakter bengis dengan tatapan jahatnya sebagai Han Taek-Soo.

Dan inipun diperburuk melalui kemampuan penyutradaraan Jin-ho yang terasa compang-camping. barisan cerita terasa tumpang tindih disetiap adegan, apalagi berharap film ini mampu membagi kisah antara dua alur cerita antara Kim Jang-Han sewaktu tua di tahun 1961 dengan kisah Deok-hye di tahun 1961, sayang diantara keduanya tidak saling menyeimbangkan, setiap film ini mencoba berkilas-balik hasilnya menjadi tidak rapih dan hasilnya sedikit berantakan.


Tapi, Jin-ho punya beberapa kelebihan untuk menutupi kekurangannya meliputi segi teknis dan art decoration-nya hampir menyamai "The Handmaiden". Juga pemilihan busana yang vintage tanpa membuatnya lebih kuno dan jauh lebih mencerminkan pesona yang lebih modern. Dan untuk segi aktingnya sendiri seperti Son Ye-jin meski terlalu banyak aura pesimistis dan kesedihan tapi saya sedikit suka aktingnya yang solid terutama dibagian akhir cerita saat digambarkan melalui realitanya di masa depan yang kelam selain aktingnya di A Moment to Remember. Dan juga Park Hae-il dalam perjuangannya menyelamatkan kekasih hatinya, meski film ini tidak didukung dengan cerita yang lebih romantis dan jauh lebih banyak mengandung aksi pun cukup mendukung chemistry antara keduanya.

Well, setidaknya film ini cukup punya ambisi menjadi film yang mencoba menjadi sebuah blockbuster Asia, meski realitanya film ini adalah segumpal biografi yang tercermin melalui penderitaan, air mata, hingga berujung pada kegilaan dan keputusasaan. Meski menyempit melalui persentasi yang kurang tepat dalam membentuk emosi dan empati. Saya kira film ini sedikit banyak menggambarkan realita yang ada antara tragedi eksploitasi wanita dan hak asasi manusia di Korea Selatan, semuanya cukup relevan tersaji melalui haluan kerja keras penyutradaraan Jin-ho meski dirasa dengan segala pernak-pernik melodramatisasi cerita film ini tampak klise dan sedikit berlebihan.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Setiap orang pasti punya kenangan hidup tak terlupakan. Sejauh apapun waktu berlalu jika kenangan itu sangat berarti dan sangat berkesan ia akan tetap terekam dalam otak meskipun sekarang semuanya sudah berubah. Dan semua jenis kenangan itu adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Kenapa? Because, nobody can't go back and change the past.

Jika kamu suka film drama korea yang bisa membuatmu menghabiskan satu kotak tisu maka film Unforgettable (Pure Love) bisa menjadi satu acuan referensi yang cocok buatmu. Menceritakan seorang penyiar radio music yang sedang On Air di sebuah ruangan studio. Kala itu ia sedang membacakan sebuah surat dari pendengar untuk dibacakan di radio. Tapi, tak diduga ternyata surat itu adalah surat dari cinta pertamanya dulu.

Kita akan dikembalikan lagi ke masa 23 Tahun silam pada tahun 1991, dimana menceritakan kehidupan 5 orang sahabat diantaranya si penyiar sendiri, Beom-Sil (Do Kyung-soo) dikenal sebagai cowok lugu dan pendiam, sedangkan Soo-Ok (Kim So-hyun) adalah cewek manis dan periang yang ditaksir oleh Beom-Sil, dan sisanya San-Dol (Jun Suk-Yeon), Gae-duk (Da-wit Lee), dan Gil-Ja (Joo Da-Young). Bersama-sama mereka melewati musim panas bersama dengan suka cita.

Mengangkat kisah persahabatan berbalut kisah cinta anak remaja, Saya mungkin memasukkan film ini kedalam kategori kalau dalam bahasa anime itu slice of life. Karena, setting tempat dan waktu yang mungkin mengingatkan kita pada kampung halaman, desa terpencil di pinggir laut. Ditambah nuansa zaman anak ’90-an yang kental dengan nuansa hangat dan tentram.

Pernah terdengar bahwa promosi untuk film ini saja sudah menghabiskan biaya yang begitu besar. Namun sayangnya film ini kurang mendapat tanggapan  dan antusiasme oleh warga koreanya sendiri. Apa yang menjadi masalahnya? Padahal film ini dibintangi oleh salah satu anggota personil boyband, D.O. (Do Kyung-soo) dari EXO. Mungkin disini Saya akan mengulas dari dalam yang mungkin saja pengaruh tersebut berasal dari isi filmnya sendiri.

Lee Eun-Hee sebenarnya punya potensi yang besar untuk menjadikan filmnya Unforgettable lebih dari sekedar film drama melankolis. Ia juga punya soundtrack asyik berjudul ‘Dust in the Wind’ yang mengiringi perjalanan kisah lima sahabat ini menjadi kian melirih. Tapi, sayangnya Lee punya masalah alur bagian awalnya. Mencoba mengiringi awal film dengan persahabatan yang hangat, lucu dan manis. Apa yang kita harapkan tentang itu semua malah terasa datar dan menjemukan.

Terseok-seok dengan beberapa scene yang terasa bolong dan tidak penting. Fakta bahwa ingin membawa juga kisah malu-malu cinta Beom-Sil dan Soo-Ok pun tidak terasa efektif. Akting mereka tidak jelek, bahkan menurut Saya pun mereka berlima punya karakter mereka masing-masing. Tapi, membuat Beom-Sil yang jarang bicara ditambah Soo-Ok yang tidak peka, menyambung kisah mereka berdua tampaknya terasa sulit. Apalagi ketiga sisanya tak banyak membantu memperkuat sosok cinta mereka lebih hadir.

Parahnya, ketika konflik panas yang ditunggu-tunggu hadir pas hampir sejam durasinya, efeknya menjadi tambah buruk. Elemen cemburu, marah, dan sedih yang coba mendegup emosi tampak ambigu dan maksa banget. Walau Saya baru bisa merasakan konflik hubungan yang begitu emosional. Tampaknya, karena awal yang sudah gagal mendominasi, kenikmatan film ini sudah pergi terlalu jauh. Meski ia sendiri punya klimaks yang menjanjikan seperti lagunya yang mampu memberikan campuran emosi yang meluap-luap. Memang terasa menusuk, apalagi memang bagian akhirlah kamu akan menemukan banyaknya tangisan demi tangisan. Moment inilah yang paling terasa ngena banget. Tapi, tetap saja cerita yang terasa ambigu dan hambar di bagian awal tetap tak banyak membantu film ini untuk menjadi unforgettable.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Hyeon-sook (Hie-ae Kim) adalah janda yang hidup bersama dua anak perempuannya Man-ji (Ah-sung Ko) dan Cheon-Ji (Hyang-gi Kim). Setelah suaminya meninggal 9 tahun lamanya Hyeon-sook lah satu-satunya tulang punggung yang mengurus kehidupan dan sekolah kedua anaknya itu. Cheon-Ji dan Man-Ji adalah kakak beradik dengan sifat yang bertolak belakang. Cheon-Ji adalah gadis yang pendiam yang bahkan hampir tak punya seorangpun teman disekolahya tapi ia memiliki sifat yang baik dan tak banyak tingkah, baik kepada ibu maupun kakaknya, sedangkan kakaknya memiliki sifat dingin, cuek dan menjengkelkan yang selalu membuat susah ibunya.

Hingga hari dimana Cheon-Ji meninggal bunuh diri tanpa meninggalkan pesan apapun telah membuat duka bagi ibu dan kakaknya. Demi menghilangkan duka kesedihan, mereka berdua pindah ke tempat tinggal baru di sebuah apartement murah. Dan tak menyangka Man-ji melihat salah satu teman sekelas Choen-ji, Hwa-yeon (Yoo-Jeong Kim) yang ternyata tinggal di apartemen yang sama. Demi mengetahui latar belakang kehidupan adiknya di sekolah ia menemui Hwa-yeon yang akhirnya menemukan titik kebenaran tentang alasan adiknya melakukan bunuh diri.

REVIEW:
Kepergian karena kematian seseorang yang sangat disayangi kadang akan membuat luka teramat dalam bagi orang terdekat apalagi ia merupakan satu bagian dari sebuah keluarga yang utuh. Ditambah dibalik senyumnya selama ini ternyata ia menyimpan begitu banyak kepedihan yang ditinggalkan dalam hidupnya yang tak pernah diketahui siapapun. Itulah sedikit gambaran apa yang ingin disampaikan oleh film korea yang berjudul Thread of Lies aka U-a-han geo-jit-mal. Thread of Lies adalah drama keluarga yang akan menyampaikan begitu banyak pesan moral soal keluarga, kasih sayang, persahabatan dan bullying. Kenapa ada soal bullying? Iya karena dari hal inilah permasalahan film ini muncul.

Bullying disekolah seakan sebuah tradisi yang terus-menerus memberikan momok menakutkan bagi penderitanya. Dan bukan hal mustahil jika terus-menerus perbuatan itu dilakukan bisa memberi dampak negatif yang berujung kepada penderitaan secara psikologis. Dan itulah yang dirasakan oleh Choen-ji selama ini. Ia sama seperti karakter-karakter lain yang menjadi objek pelampiasan seseorang untuk kesenangan pribadi. Dan biasanya mereka adalah orang yang dijauhi dari lingkungan sosialnya karena sifatnya yang aneh dan pendiam.

Han Lee mencoba memperkenalkan sebuah hubungan keluarga yang sederhana, namun kemudian ia menggiring pada sebuah impact yang akhirnya membuat sebuah rasa kehilangan, rindu, dan kesedihan mendalam. Yang akhirnya memberikan rasa simpatik pada sebuah karakter yang notabene yang tidak menonjol dalam sosial kehidupannya. Ceritanya sendiri akan dibalut dengan kisah sederhana namun kita akan digiring satu-persatu pada kenyataan yang lebih pahit ketimbang apa yang terjadi tentang kematian Cheon-ji.

Dan akhirnya terbentuk jalinan cerita yang terhubung kian kompleks dan akan memberikanmu kejutan demi kejutan yang akan memberi efek penasaran seperti puzzle yang mulai terkumpul satu-persatu walau Han Lee sendiri tidak mencoba membuatnya menjadi drama gelap penuh misteri. Ia tetap mengikuti alur sederhananya, mencoba tetap mengimbangi dramanya namun tak terjebak dalam cerita yang terlalu melow. Dibalik itu semua ia akan tetap memberikan mutu konflik dramatis yang akan memberimu peluang mendapatkan emosi setiap karakter yang terselubung saat kita menyingkap misteri film ini satu persatu. Ia memang akan memuat konten berisi tangisan dan kesedihan, namun Han Lee bisa mengorganisir dengan baik setiap adegan dan menjadi tidak berlebihan dan akhirnya menjadi harmonisasi yang hangat, kelam, dan terasa pahit juga menyakitkan.

Selain dengan alur cerita yang cermat juga tidak kalah bagusnya di bagian para cast yang bermain seperti Hie-ae Kim yang mampu tampil sebagai seorang ibu yang rapuh dengan kesedihannya namun cukup tegar. Ah-sung Ko yang juga tampil baik sebagai gadis yang dingin namun juga memiliki rasa peduli dan sayang yang tinggi. Dan Woo-hee Chun mampu berperan sebagai gadis yang terlihat kejam namun tak sampai membencinya. Dan juga cast-cast yang mendukung pergerakkan cerita yang kadang bisa membuat kita begitu emosional dan juga kadang beberapa adegan yang mengundang tawa.

OVERALL, Thread of Lies adalah sebuah drama korea tentang keluarga dan persahabatan yang dicampur aduk menjadi satu dalam kesederhanaan cerita. Ia memang terasa sederhana namun gejolak cerita yang tabirnya dibuka satu-persatu menjadikannya puzzle cerita yang lebih kompleks, lebih tajam, emosional, dan akhirnya ia akan menjadi sebentuk kehangatan yang begitu pedih. Ia akan terus mengiringimu mengenalkan seorang karakter yang hilang di awal cerita namun terus memberimu pengetahuan tentang sosok bernama Choen-ji.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates