• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Apa cuma saya yang merasa kalau instalment ke-8 dari The Fate of the Furious ini terasa kurang semenjak kepergian aktor Paul Walker? Apalagi di sekuel terbarunya ini ceritanya soal pengkhianatan dari pemimpin yang menyebut kelompok mereka sebagai 'family' yaitu Dom (Vin Diesel). Mengikuti sepak terjang tokoh protagonis sentris Optimus Prime di "Transformers: The Last Knight" yang juga sama-sama berkhianat, seharusnya film yang lagi-lagi berganti sutradara menjadi F. Gary Gray, "The Italian Job" dan "Straight Outta Compton" ini menjadi sekuel paling emosional dan menegangkan, tapi apalah daya, meski franchise ini sudah berusaha bertransformasi bagus menjadi heist movie sejak film ke-5 nya ternyata film ini hanya sebuah repetesi latah pada film-film FF sebelumnya.

Kedatangan villain baru seorang hacker bernama Chiper (Charlize Theron) yang sanggup merekrut dan membuat Dom membelot dari kelompoknya, memang tampak menjanjikan bahwa kali ini musuh yang dihadapi lebih manipulatif dan lebih berbahaya dari biasanya. Yups, semenjak Charlize Theron berhasil memukau aksinya lewat di "Mad Max: Fury Road", sebagai villain utama wanita pertama, The Fate of the Furious serasa dipenuhi aksi menegangkan dan cerita yang lebih kompleks dari biasanya. Apalagi Hobbs (Dwayne Johnson) juga harus bernasib na'as saat ia harus dijebloskan ke penjara gara-gara pengkhianatan Dom, menyisakan Letty (Michelle Rodriguez), Roman (Tyrese Gibson), Tej Parker (Ludacris) dan Ramsey (Nathalie Emmanuel) tanpa leader, menyadari bahwa sedari awal memungkinkan misi mereka semakin mustahil untuk dilakukan.


Namun sepertinya jangan terlalu berharap lebih banyak dari film ini, teaser dalam trailer film ini pun hanya sekedar memperpanjang antrian bioskop. Premis tentang pengkhianatan Dom pun hanya sekedarnya saja, Chris Morgan sebagai penulis naskah film ini pun terlampau dangkal dalam menghadirkan konflik dan permasalahan yang justru dijejali begitu banyak plot cerita yang terlampau terpaksa. Sebetulnya tidak masalah toh ini memang bukan tipikal film yang mengedepankan esensi cerita namun berusaha memenuhinya dengan aksi penuh ledakan, adrenalin, kebut-kebutan mobil di jalan raya, maskulinitas, dan steroid. Tapi, jika saja Gray dan Morgan mau berusaha tidak mengungkapkan twist hingga akhir cerita dan sedikit mau menawarkan hal baru dengan sebuah aksi yang bercampur suspense, mungkin agaknya film ini sedikit berbeda. Tapi, keduanya tentu saja menyepelekan berbagai aspek terutama masalah cerita yang tak masuk akal, mengada-ada, dan tidak berbobot-bobot.


Ditambah saya lebih prefer dengan duo beradik Deckard Shaw (Jason Statham) dan Owen Shaw (Luke Evans)  sebagai villain ketimbang Chiper. Musuh macam apa yang memiliki gerak terbatas, berpingit ria didalam ruangan dan lebih banyak mengancam musuh di balik layar komputer tanpa banyak melakukan aksinya secara langsung. Jujur saja Chiper tidaklah sehebat yang saya bayangkan, mungkin inilah faktor kenapa ia ingin merekrut Dom dalam timnya, motifnya klise, ditambah kehebatan dirinya hanyalah sebatas nama besarnya sebagai hacker dan selebihnya tidak ada. Dan bodohnya, meski tampak sebagai villain yang manipulatif dan licik, percayalah Chiper jauh dibawah rata-rata dan lebih mudah diperdaya musuhnya sendiri ketimbang ia lebih cerdik mendominasi alur cerita.


Di satu sisi, sayapun tidak menyukai kehadiran Deckard yang kemudian bersekutu dengan Hobbs, Letty dkk. Ada rasa canggung antara keterlibatan dirinya yang sama-sama berada tergabung untuk menangkap Chiper, terlebih pemaksaan motif Deckard yang punya dendam pribadi pada Chiper pun terkesan diada-adakan, membuat saya berpikir tidak peduli lagi kenapa ia mesti ada di film ini kecuali menambah jumlah orang botak dan juga kontribusinya dalam maksimalitas adu mulutnya bersama Hobbs, meski parahnya tokoh Deckard pun tidak ditampilkan secara maksimal dan justru hanya jadi bulan-bulanan di film ini yang semestinya diperlakukan jauh lebih baik dan sehebat dia di film sebelumnya. Dan beberapa konflik cerita, argh! entah saya betul-betul muak dengan berbagai inkonsistensi dan dangkalnya cerita membuat saya sedikit capek menuturkan deretan buruknya materi naskah di film ini.


Tapi, karena tujuan saya menonton film ini hanya sekedar hiburan tanpa menuntut cerita yang lebih kompleks, The Fate of the Furious memang banyak menghadirkan keriuhan dan aksi yang memborbardir dari segelintir efek CGI dan modal menghancurkan puluhan mobil. Dari sekedar gimmick sequence yang terinspirasi dari film "World War Z" versi mobil di kota New York atau juga klimaks inovatif dari kejar-kejaran mobil di atas lantai es dan submarine, ini memang terasa sedikit seru dan asyik. Terlebih beberapa dialog dan lontaran adu mulut yang selebihnya banyak ditonjolkan dari Tyrese Gybson yang konyol hingga perubahan drastis sosok Deckard yang lebih banyak beraksi secara lucu. Well, entah jika film ke-9 dengan judul yang mungkin bisa jadi Fire of the Furious, Fury of the Furious, Fantastic of the Furious, atau Final of the Furious akan kembali berlanjut (dan sepertinya pasti), saya berharap suatu saat franchise ini segera diakhiri karena buat saya tanpa hadirnya Paul Walker ada moment yang terasa hilang bersamaan hilangnya dramatisasi cerita yang lebih memupuk soal 'family' yang lebih emosional pada franchise ini, meski di dalam film kehadiran Paul akan tetap dibuat selalu ada dan hidup sebagai Brian O'Conner sampai kapan pun, mungkin suatu saat karakter ini akan kembali di inkarnasikan dengan sosok aktor lainnya, maybe? we'll see soon...
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah sekian lama menikmati begitu banyak animasi keluaran Disney, saya mulai dihinggapi rasa kebosanan. Dari dulu animasi Disney selalu menjadi jawara favorit studio yang mengeluarkan animasi terbaik buat saya. Setiap tahun setidaknya mereka mengeluarkan satu atau dua animasi yang tidak hanya dipuji dalam hal animasi yang membelalak mata tapi juga isi cerita yang selalu memberikan reaksi positif buat saya. Tapi, tahun ini kebosanan mulai saya rasakan ketika formula yang mereka keluarkan tidak sedikit memiliki pola cerita yang sama. Bahkan lama-lama saya mulai mudah memprediksi apa yang ingin disampaikan oleh Disney. Tak ada hal baru dan tak ada energi baru.

Tengok ketika saya memberikan begitu banyak kritikan negatif pada film (Finding Dory). Walau dalam kasusnya orang banyak berpandangan bahwa Finding Dory sudah menjadi animasi yang berhasil mencuri hati para penontonnya. Tapi, saya tidak mau munafik bahwa saya tidak begitu merasakan dampak impresif begitu besar setelah saya selesai menonton film itu. Alhasil, ada rasa pesimistis bahwa Disney sepertinya mulai merasa nyaman dengan pola-pola sama dalam bercerita dengan bermodalkan teknis visual dan petualangan klise.

Ketika ekspetasi menonton animasi saya berkurang. Saya mencoba memandang film-film mereka dengan cara yang berbeda dan sedikit dibawah ekspetasi. Dan apa yang saya rasakan memang betul-betul terjadi ketika Moana kembali lagi dengan cerita petualangan yang terasa begitu-begitu saja. Kali ini dengan empat orang pemegang kendali bangku sutradara terdiri dari Ron Clements, John Musker, Chris Williams dan Don Hall. Cukup terlihat bahwa Moana menjadi proyek yang cukup ambisius dan ditangani dengan serius karena mereka semua adalah orang-orang yang pernah menangani film-film besar Disney baru-lama seperti Aladdin, The Little Mermaid, Hercules dan Big Hero.

Cukup mengherankan bukan, ketika kalimat saya di paragraf sebelumnya sudah cukup menggambarkan bahwa Moana lagi-lagi menjadi film animasi Disney non-impresif. Eiits, jangan salah. Itu malah menjadi satu-satunya kekurangan film ini dibanding begitu banyaknya kelebihan yang akan saya utarakan satu-persatu dalam film ini. Kembali dalam sebuah dongeng di lautan luas dengan segala elemen magis didalamnya. Mengingatkan saya pada film animasi jepang karya Hayao Miyazaki, Ponyo. Dimana lautan seperti memiliki spirit atau roh. Yep, apakah idenya mencontek ya saya tidak tahu dan juga tidak begitu peduli. Legenda dimana samudera seluas itu memiliki roh dewi laut bernama Te Fiti. Dewi yang memiliki kekuatan besar dalam mengatur kehidupan samudera yang luas itu.

Moana (Auli'i Cravalho) sendiri adalah karakter utama film ini. Ia adalah anak kepala suku desa di pulau terpencil, Motunui. Setelah berumur 16 Tahun Moana menjadi penerus kepala suku menggantikan ayahnya. Tapi, dalam hatinya Moana memiliki ambisi dan keinginan besar menjelajah lautan luas. Meski aturan dan larangan bagi seluruh penduduk dari ayahnya untuk tidak melewati batas lautan karena ancaman dan bahaya lautan. Tapi, takdir berkata lain ketika mengharuskan Moana untuk menjelajahi lautan luas dan berbahaya itu demi menyelamatkan desanya yang mulai terkena wabah kutukan akibat jantung Te Fiti yang dicuri dan hilang oleh seorang demigod, Maui (Dwayne Johnson). Agar kutukan itu berhenti Moana harus mengembalikan jantung hati dewi tersebut ke tempat semula dan meminta bantuan Maui sebagai partner perjalanannya.

Pesona terbesar dari film ini tentu saja keindahan lautannya. Film yang dalam proses pembuatannya dilakukan selama 5 Tahun ini cukup berhasil memberikan sebuah pernak-pernik kepulauan tropis. Yaps, hal yang membuat saya percaya bahwa film ini dilakukan secara totalitas dan dalam penelitian langsung ke negara Polynesia selama bertahun-tahun, semata-mata demi membuat film yang benar-benar terasa alami dan natural. Apalagi pengisi suara yang dipakai di film ini seperti Auli'i Cravalho benar-benar asli orang lokal. Bagaimana film ini bertujuan untuk membuat sebuah tema ocean tropis yang penuh dengan warna hangat dan natural.

Film ini tentunya menyajikan petualangan mengarungi lautan yang luas. Berhadapan dengan kengerian dan bahaya lautan. Dengan teknis visual spektakular film ini akan mengiringimu dengan begitu banyak olahan fantasi luar biasa. Tapi, mungkin saya sedikit menyayangkan bahwa Disney memang telah terikat akan etika dengan tema film yang bersifat terlalu banyak kesenangan dan kegembiraan. Jika saja Disney bisa lebih berani lagi membawa nuansanya agak lebih kelam, seperti keberaniannya membawa tema Inside Out yang agak sulit dicerna untuk konsumsi anak-anak.

Mungkin Moana bisa lebih menghipnotis dengan nuansa ceritanya yang lebih kaya dan bercampur. Apalagi nuansa mengerikan lautan yang digambarkan oleh nenek Moana, Gramma Tala (Rachel House) kenyataannya malah terlalu lucu dan imut. Lihat saja di trailernya, Kakamora yang terlihat cute dan oh crab! desain monster kepiting yang terlalu absurd sebagai monster mengerikan penghuni bawah laut. Melihat bahwa Moana hanya menyajikan sebuah petualangan penuh keceriaan dan keseruan seperti film-film Disney lainnya, tanpa mengikat sebuah cerita yang sedikti kelam dan dark.

Tapi, dibalik itu semua saya sangat menyukai peran Moana sebagai leader character film ini. Mungkin memang tidak sedikit Disney membawa tokoh utama seorang wanita. Tapi, buat saya Moana punya karakter yang jauh lebih tangguh, berani dan lebih kuat dari yang selama ini pernah dibuat oleh pihak Disney. Pesona wanita berkulit eksotis ini membuat saya jatuh hati, apalagi secara desain ia sedikit lebih realistis daripada karakter-karakter utama wanita lainnya yang pernah dikeluarkan Disney. Dan lain itu juga Maui yang voice-nya diisi oleh Dwayne Johnson punya karakter yang sama-sama punya karakter yang loveable dan interisting. Hanya bermodalkan sebuah perahu layar kecil, petualangan mereka berdua terasa cukup lucu dan seru.

Seperti biasa dalam petualangan Moana dan Maui ini juga tidak lupa menyajikan selipan nyanyian dan musikalitas. Dan juga seperti yang dilakukan oleh Finding Dory, Moana tidak lagi menyajikan sebuah klimaks emosional penuh air mata seperti apa yang sering dilakukan oleh film-film Disney sebelumnya. Tapi, kemudian menggantinya dengan sebuah smart twist yang juga cukup memberi pesona dan warna dalam film ini. Ini mungkin juga sebuah upaya baru bagi studio untuk menggambarkan bahwa Disney juga mampu membawa sebuah sajian film berkelas tanpa harus mengobral klimaks penuh air mata. Mungkin memang petualangan Moana terasa begitu-begitu saja dan begitu sederhana, tapi apa yang disajikan oleh film ini adalah "KESAN" yang diberikannya setelah menonton film ini begitu menempel dan sulit dihilangkan dalam ingatan. Bahwa separuhnya saya mengagumi fantasi tropis yang sekali lagi membuat saya takjub. Khusus bahwa dengan modal film seperti ini, Disney kembali lagi menawan hati saya untuk tidak bosan menonton film Disney berikutnya. Ekspetasi kembali meroket!
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments



Bercerita tentang Calvin (Kevin Hart) adalah seorang cowok populer dan terkenal di sekolahnya. Sebaliknya, tidak bagi Bob (Dwayne Johnson), yang sering dibully dan dipermalukan oleh teman-teman sekolahnya. 20 Tahun kemudian, kedua orang ini justru mengalami perubahan dalam hidup mereka, Si Calvin yang dulunya terkenal sekarang hanya menjadi pegawai akuntan biasa, sedangkan Bob menjadi agen CIA yang berbahaya. Karena lewat rencana reuni sekolahnya, Bob menghubungi kembali Calvin, karena Calvin pernah menolongnya dulu. Dan kembali Bob meminta bantuan teman lamanya itu.

REVIEW:
Menghadirkan duet tokoh utama, Central Intelligence mencoba formula yang sama seperti kebanyakan film komedi lainnya. Dan kali ini duet tersebut ialah Kevin Hart dan Dwayne Johnson. Karena ini film komedi untuk lucu-lucuan, Saya mencoba mereview dulu bagian komedinya.

Seperti kita tahu, Rawson Marshall Thurber yang juga penyutradara (We're the Millers), terasa kurang menggigit bagian komedinya. Ditambah, Kevin yang dirasa agak terlalu lebay dalam berakting, malah membuatnya tidak lucu sama sekali. Ditambah, chemistry keduanya agak kurang kuat, seperti yang saya bilang tadi. Kevin terlalu lebay dengan aktingnya, sedangkan Dwayne ya begitu-begitu saja tak membantu sama sekali.

Saya sebetulnya juga tidak benci-benci banget sama film ini. Faktor utamanya adalah bagian cerita, meski komedi kacang garing ini hampir tidak membuat Saya ketawa, tapi ia mampu tampil menarik dibagian cerita. Memiliki premis menarik meski kelihatannya biasa saja. Bagian cerita yang kompleks bisa membuat otakmu berpikir sehingga kita akhirnya bertanya-tanya tentang kebenaran. Bahkan elemen yang satu ini berhasil dijaga sampai akhir.

OVERALL, Central Intelligence menjadi duet komedi gagal dan biasa saja tapi berhasil mencuri perhatian dari cerita yang membuatmu tertahan sampai ending karena lumayan kompleks dan membingungkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates