• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Diangkat dari novel karangan Darcey Bell berjudul sama, film ini menceritakan seorang single parent, soccermom sekaligus vlogger bernama Stephanie (Anna Kendrick) yang secara tak sengaja berkenalan dengan Emily (Blake Lively), ibu dari teman anaknya saat sama-sama sedang menjemput anak mereka di sekolah. Karena pertemuan tersebut keduanya kemudian menjalin hubungan pertemanan dan sering mengobrol di rumah Emily dari hal-hal biasa sampai ke masalah pribadi. Suatu hari Emily meminta pertolongan sederhana pada Stephanie agar bisa menjemput anaknya disekolah, sementara ia pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, setelah esoknya Stephanie tidak lagi mendapatkan kabar dari temannya dan menyadari bahwa Emily telah menghilang tanpa kabar dan sebab yang jelas. Sehubungan hilangnya Emily secara misterius meninggalkan satu anak dan suaminya Sean Townsend (Henry Golding), Stephanie yang merasa sebagai satu-satunya teman mencoba membantu menyelidiki kasus misteri hilangnya Emily.

A Simple Favor pada dasarnya adalah film bertema misteri wanita hilang (gone girl). Film ini disutradarai oleh Paul Feig yang terkenal melalui filmnya Bridemaids dan Spy, kebetulan keduanya memang film favorit saya. Feig juga dibantu oleh penulis naskah Jessica Sharzer. A Simple Favor adalah tentang dua wanita yang hidup di dunia yang berbeda, keterikatan keduanya pun bisa dibilang kebetulan dan motifnya urgensi semata. Stephanie sebagai figur ibu rumah tangga yang mandiri, seperti kebanyakan ibu-ibu lain ia baik hati, hangat dan juga cerdas. Sedangkan Emily wanita yang terlihat memiliki segalanya, cantik, fashionable, rumah mewah, karir modeling, memiliki anak dan suami yang tampan, seolah dimata Stephanie sendiri, Emily adalah figur wanita sempurna dan memiliki segalanya. Tapi, dibalik itu Emily memiliki masalah rumah tangga, sifatnya agak jelek, misterius dan selalu tampak menyembunyikan sesuatu.

Secara sinopsis, sebetulnya film A Simple Favor beresiko membuat ceritanya seolah gampang ditebak dan predictable. Inti cerita film ini menyuruh kita menebak-nebak apakah Emily benar-benar hilang ataukah hanyalah skenario semata? Simply, ide cerita tidak berfokus pada kisah "gone girl" semata karena dalam sinopsis dan trailernya sendiri sudah berniat membocorkan hal tersebut, sedangkan menurut saya Feig hanya membuat motif cerita untuk drama "womanation" (istilah keren yang saya karang sendiri untuk menyebut cerita kaum para wanita) dengan bumbu komedi gelap didalamnya, atau mungkin semacam film-film noir yang melatarbelakangi masalah ambiguitas moral dan motif seksual. Ditangan Feig meski beberapa adegan misterinya terasa medioker, film ini tetap menjadi sajian yang terasa manipulatif, cerdas dan twisted dalam beberapa segmentasi kisahnya.

Dan yang paling utama adalah akting kedua pemeran utamanya, Anna Kendrick dan Blake Lively. Anna tetap berakting sebagai wanita unyu-unyu, menyenangkan dan innocent tapi juga memadukan tipikal emak-emak muda yang super kepo dan rempong. Sedangkan Lively, tetap menjadi sosok wanita yang elegan dan anggun sesuai karakternya yang biasa ia perankan, tapi disini terasa lebih kompleks seolah nuansanya terasa lebih gelap, sensual, little crazy dan intimidated. Entah apa jadinya jika saya berada di situasi bersama dua wanita cantik ini (d*mn! jangan mikir yang ngga-nggak ah! 😂), maksud saya seperti yang dirasakan Henry Golding yang berperan sebagai suami Emily yang merasakan dua dimensi hubungan cinta dan kedekatan personal berbeda diantara keduanya. Golding sendiri sudah kita kenal melalui aktingnya di film Crazy Rich Asians, dan aktingnya disini pun luar biasa dimana ia mampu mengimbangi chemistry dua artis lainnya tanpa harus menjadi tempelan semata, yang harus diakui ia adalah pria asia yang buat saya sangat karismatik, berwajah tampan dan juga cool. Di sisi lain saya menyukai penggalian latar belakang karakternya yang kuat, sehingga setiap karakter bukanlah peran-peran kosong tanpa identitas, setiap tokohnya punya dimensi yang kuat dan masa lalu yang tak terduga dan menarik disimak, sehingga baik Emily, Stephanie dan Sean dalam situasi manapun mampu terjalin chemistry dan emosi yang kuat karena kita mengenal siapa mereka melalui masa lalunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Di sebuah mansion besar dan mewah. Seorang gadis berambut keriting bernama Amanda (Olivia Cooke) masuk untuk menemui teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak dijumpainya, Lily (Anya Taylor-Joy). Meski keduanya berasal dan tumbuh bersama dan sama-sama pula dari golongan keluarga mapan, perihal sekian lama tidak bertemu mereka mengalami kesulitan berinteraksi dan memahami satu sama lain. Ditambah sekelumit masalah personal diantara keduanya, Amanda yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi kejiwaan karena telah membunuh kuda peliharaan ibunya, sedangkan Lily hidup bersama Mark (Paul Sparks), ayah tiri yang dibencinya. Setelah mencoba dan semakin akrab, Lily yang mengetahui sifat sosiopat dalam diri Amanda, meminta Amanda untuk membantunya melakukan rencana pembunuhan terhadap ayah tirinya tersebut.

Thoroughbreds adalah film yang berasal dari debut sutradara Cory Finley, film yang awalnya akan digarap sebagai drama panggung dan mengalami limbo pasca gagal ditayangkan selama 2 Tahun. Film yang mirip dengan "Heathers" karya Michael Lehmann bercerita soal dua gadis yang sangat bermasalah dan kehidupan yang sangat kacau. Lily adalah gadis yang merasa terus-menerus sengsara akibat dorongan dan tekanan dari ayah tiri yang seringkali memaksa Lily secara sepihak, terutama tuntutan masalah sekolah khusus pilihan Mark yang tidak ia suka. Amanda justru kebalikannya, Lily yang ditunjukkan lebih emosional dan pemarah, justru penuh dengan sikap tenang, aneh dan melihat ia bisa memanipulasi air matanya sendiri, membuatnya menjadi sosok psikopat yang creepy.

Tapi, Cory sanggup menuturkan dinamika hubungan diantara keduanya begitu intim dan realistis. Saya seperti sedang menyaksikan dua orang dengan karakter dan kepribadian berbeda. Tapi, keduanya melahirkan chemistry yang aneh tapi likeable, melihat mereka bercengkrama dan bertengkar seperti gadis pada umumnya, namun saat menonton tivi sambil mengkritik akting dalam film klasik atau sambil duduk-duduk di teras membicarakan soal rencana pembunuhan, Wow..! Adapula Tim, pria dewasa, naif dan eksentrik pula sebagai tokoh disfungsional, pria drugdealer yang ditemui dan dibayar untuk melakukan pembunuhan oleh Lily ini kerap hobi bermuluk dan bermimpi hidup sukses dan mapan dengan modal usaha ilegal yang ditekuninya. Tim diperankan Yelchin menjadi perjalanan akting terakhirnya.

Meski Cory punya unsur manipulatif, hingga saya terjebak dengan moralitas para pelaku tokohnya. Didorong juga motif kekanak-kanakkan dan aksi pembunuhan yang saya rasa tidak begitu cerdik tapi diangkat melalui permasalahan, komedi gelap dan satir moral kaum ningrat yang sangat menarik, sampai puncak ending film ini justru malah terasa antiklimaks. Ada sesuatu yang mengambang meski menyelipkan gabungan antara twist dan ambiguitas yang justru tidak dibangun dengan kokoh.


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sejak dulu saya selalu berangan bisa menuliskan atau setidaknya membuat sebuah film autobiografi kehidupan saya sendiri, hanya saja siapa yang mau mendengar cerita hidup saya yang sangat membosankan dan tidak terlalu penting. Tapi, kadang berbagai film seperti Boyhood, Edge of Seventeen, 20th Century Woman atau Paterson, kesederhanaan dan kekosongan yang kita lewati dalam hidup, jika kita mau melihat diri kita sendiri lewat sudut pandang orang ketiga ternyata hidup ini menyimpan sesuatu yang bermakna dan bernilai tinggi tanpa kita sadari. Itulah kenapa saya bisa begitu jatuh cinta dengan film yang tampil dengan kesederhanaannya sama seperti kisah semi-autobiografi dari debut penyutradaraan Greta Gerwig, Lady Bird yang related dengan kehidupannya sendiri.

Lady Bird atau nama tokoh utama bernama lengkap Christine "Lady Bird" McPherson (Saoirse Ronan) sebetulnya remaja SMA 17 tahunan yang serupa dengan gadis belia seusianya, punya banyak impian, struggling dan naif. Mengambil setting lokasi sama dengan tempat lahir Greta, Sacramento, California di tahun 2002, film ini menceritakan sekelumit kisah kehidupan keluarga, sekolah, sosial dan percintaan dari gadis yang bermimpi bisa kuliah di New York dan pergi meninggalkan kota tempat ia dibesarkan.


Sebetulnya kisah Lady Bird sekelibat tampak membosankan, bukan? Apalagi pernah teman saya yang melihat sebentar cuplikan trailer film ini pun jadi enggan menontonnya hanya karena trailernya tampak tak menarik dan terkesan generik. He was very wrong! Justru bagian menariknya adalah sang tokoh utama itu sendiri yang membuatnya menarik, nama "Lady Bird" (dengan tanda kutip) sama seperti tatanan warna rambut merahnya yang unik adalah hasil kreasinya sendiri, bahkan ia bersikeras menolak dipanggil dengan nama aslinya, "I gave it to myself. It’s given to me, by me". Selain itu Lady Bird adalah gadis yang selalu berusaha menjadi pusat perhatian dan mencoba berbeda dari yang lain, tampak dari berbagai kekonyolan yang ia lakukan kadang membuat saya tersenyum simpul.

Lady Bird adalah gadis yang keras kepala, sangat vocal, naif dan selalu berusaha menjadi pusat perhatian orang lain disekitarnya. Interpretasi nama Lady Bird seperti mewakili ciri seekor burung yang bisa terbang tinggi bebas dan berkicau semaunya dimanapun ia berada dengan pesona yang coba ia tebarkan ke dunia. Dalam keluarganya, Lady Bird selalu bertengkar dengan ibunya Marion McPherson (Laurie Metcalf) yang sama-sama keras kepala dan bersikap otoriter terhadap hidupnya, bahkan masalah-masalah sepele hingga adu mulut pun membuat kericuhan kecil seperti kucing dan tikus, meski setelahnya mereka kembali akrab satu sama lain dan pertengkaran sebelumnya pun terlupakan. Berbanding terbalik dengan ibunya, ayahnya Larry McPherson (Tracy Letts) justru bersikap sangat lunak dan pasif meski Larry tetap bisa menjadi figur ayah yang baik dan memberikan support terhadap apa yang anaknya inginkan. Lady Bird pun memiliki kisah cinta, dari pacar pertamanya yang canggung Danny (Lucas Hedges) dan pacar keduanya Kyle (Timothée Chalamet), anak band yang berteman akrab dengan gadis populer dan modis disekolahnya, Jenna (Odeya Rush). Bertemu dengan problematika dari putus cinta dan pengalaman seks pertamanya memberikan dinamika kehidupan Lady Bird seiring pencarian jati dirinya sebagai seorang wanita.


Nama Greta Gerwig tentu saja sangat mengejutkan, Lady Bird sebagai debut penyutradaraannya mampu ditanggapi positif sebagian besar kritikus bahkan sanggup terpilih dalam 5 nominasi Oscar, salah satunya pada kategori tertinggi "Best Motion Picture of the Year", meski disayangkan Greta belum mampu menyabet satupun piala disana. Membawa kisah kehidupannya sendiri melalui film indie bergaya hipster, Lady Bird adalah film yang begitu realistis terutama kehidupan Lady Bird sangat mencerminkan kehidupan sehari-sehari. Selain itu Greta berhasil mendeskripsikan setiap konflik dan tokoh sampingan tidak terbuang sia-sia, semua tokoh mampu dihidupkan dan mengisi kehidupan sang tokoh utama. Naskah yang ditulis sendiri oleh Greta pun diisi dengan dialog-dialog yang tidak membosankan dan padat makna, sebagaimana Greta memang sudah terbiasa menulis naskah film semisal Mistress America dan Frances Ha.

Mendapuk Saoirse Ronan sebagai karakter sentris dan artis senior Laurie Metcalf, keduanya mampu merealisasikan relasi ibu-anak yang terasa natural, powerful, lucu, manis dan emosional, mungkin tidak heran jika keduanya pun bisa meraih nominasi di ajang piala Oscar kemarin. Dan tentu saja sentuhan sinematografi yang terhampar dari tiap sudut take-shot yang menawan dan perfect, meski pengambilan gambarnya hanya melalui sudut rumah, pertokoan, dan sekolah katolik tempat Lady Bird belajar tapi gaya sinematis ini mendukung susunan cerita yang menambah suasana terasa warm dan sweet. Seolah Greta bukan saja ingin menyampaikan semi-otobiografi dirinya, tapi melalui kota kelahirannya Sacramento, Greta ingin mewakilkan rasa rindu dan cinta dirinya oleh ikatan kuat masa lalu di kota yang pernah ia tinggali.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Instagram seperti kita tahu adalah aplikasi sosial media yang sangat popular, yang bahkan tren tersebut hampir menggeser dua situs sosmed terkemuka yaitu facebook dan twitter. Instagram memang sudah lama menjamur ditengah masyarakat dunia, dan sekarang aplikasi ini makin hari semakin multifungsi, dari sekedar menjadi ajang narsisme, berfoto ria, hingga pamer gaya hidup, sampai-sampai aplikasi satu ini dipakai sebagai ajang mencari ketenaran instan dengan cara yang tak lazim, yang kemudian hal tersebut disebut sebagai "selebgram".

Ingrid Goes West merupakan komedi satir yang jelas-jelas menyindir gaya hidup sosial yang terbelenggu oleh teknologi gadget secara berlebihan, sangat jujur mengemukakan dampak negatif dari perkembangan sosiokultural yang spesifik menyerang psikologis para pelaku karena salah kaprah memanfaatkan teknologi tersebut. Ingrid Thorburn yang diperankan Aubrey Plaza adalah contoh ironi dari korban perbudakan teknologi yang sudah mengakar.


Film yang disutradarai oleh Matt Spicer, beserta penulis naskahnya David Bandon Smith memang mencoba menceritakan kisah "menyeramkan" dibalik perbudakkan teknologi dan aplikasi sosial media bernama instagram. Tidak serta merta menjadi thriller psikologis, tapi dibalut dengan komedi jenaka yang piawai diperankan oleh Aubrey Plaza yang mampu berakting norak dan gila. Ingrid kontan memang gila, semenjak penyerangan terhadap teman dunia maya-nya, Charlotte, ia harus mendekam di rumah sakit jiwa selama beberapa waktu. Keluar dari sana, Ingrid tidak serta merta sembuh dari penyakitnya, malah semakin menjadi-jadi saat ia mengenal salah satu "selebgram" terkenal bernama Taylor Sloane (Elizabeth Olsen), yang membuatnya teradiksi akan gaya hidup Taylor yang sangat sempurna. Tertarik untuk mengikuti jejaknya, Ingrid pindah ke California agar bisa bertemu dengan idolanya tersebut.


Taylor bak king of pop Michael Jackson buat Ingrid. Saya sendiri antara lucu, empati dan sedih, meski dibilang sakit jiwa pun, saya tetap merasa kasihan dengan pola pikir dan hidup Ingrid yang sama sekali tidak punya tujuan hidup, yang hanya tahu bahwa instagram sebagai satu-satunya cara ia bahagia dan keluar dari depresi, minder dan putus asanya selama ini. Lahir dari obsesi, Taylor yang "perfect" dimatanya, seluruh gaya hidup dari makan, tempat nongkrong, status dan segala macam yang diperlihatkan Taylor di instagramnya, mulai ditirunya. Bahkan penampilan dan warna rambutnya pun semakin hari semakin menyerupai Taylor.

Ibarat ironi dalam tawa. Spicer buat saya betul-betul pintar membentuk satir sosial, mengkritisi sehubungan sisi gelap dari teknologi dan pengaruhnya bagi psikologis kadang sulit dijamah dan mudah diabaikan. Selain media instagram yang buat orang sangat kekinian, tapi film ini mencoba mengungkapkan keprihatinan saat dunia nyata dan dunia maya bertukar posisi. Ingrid ibarat sisi keras dari korban penyalahgunaan instagram, yang jauh lebih dalam digambarkan sebagai tokoh dengan gangguan psikis dan depresi, tampak terlihat dari sikap bahagianya (sampai nangis) hanya karena melihat akun instagramnya di follow, bahkan kecenderungan adiktif ini malah menjadi obat (narkoba) bagi Ingrid dari beban masa lalunya selama ini. Taylor pun sama-sama penderita, adiksi karena sikap narsisme berlebihan, racun yang memperlihatkan sentimentil garis halus soal "korban" yang menukar kehidupan nyatanya untuk kehidupan palsunya di instagram.


Ingrid Goes West tidak mungkin berakhir bagus jika bukan buah kepiawaian penulis naskah Bandon Smith yang pintar meracik narasi observatif yang kadang tak sedikit mengkritisasi perilaku instagrammer melalui comparing cerita humanisme batman akan Bruce Wayne yang kadang betul-betul relatable. Selain itu komedi ringan pun cukup membantu, meski tidak terlampau lucu, salah satu yang membantu konsistensi cerita dan komedi adalah akting Aubrey Plaza yang memang sosok komedian wanita yang gencar bermain gila dan tidak waras, Elizabeth Olsen pun cukup mengimbangi chemistry memikat sebagai Taylor, dari sikapnya yang cukup ceria, cool dan berkepribadian sempurna, namun punya latar belakang hidup yang sebetulnya penuh kekurangan. O'Shea Jackson Jr. sebagai Dan Pinto, kekasih khayalan Ingrid, meski aktingnya sedikit biasa saja, anak dari rapper Ice Cube ini sepertinya mulai menjadi rising star hollywood, perannya yang cukup mirip ayahnya ini mulai menguasai bakat ayahnya sejak "Straight Outta Compton." Wyatt Russell sebagai suami dari Taylor yang menjadi tokoh cukup penting untuk membuka masa lalu dirinya dan Taylor. Dan, Nicky (Billy Magnussen) saudara Taylor yang dulunya pemabuk dan brengsek, troublemaker yang cukup memberi kekacauan bagi hidup Ingrid.

Well, Ingrid Goes West adalah sebuah film satir yang mengkritisi dampak dari penggunaan sosial media bernama instagram, ya bukan hanya instagram tapi menyeluruh. Sebuah film yang memenuhi pesan penting soal keterbelakangan sosial dan individu modern. Dikala sebagian orang terhanyut oleh arus globalisasi yang kian menyiratkan pentingnya privasi dan kesadaran moral dari sekedar berperilaku di dunia maya maupun nyata. Buat saya ini adalah gagasan bagus yang patut ditonton, bukan hanya komedinya yang sedikit gila, norak dan konyol, tapi pesan satir tentang krisis globalisasi yang memang sulit dibendung, dan Spicer mengungkapkannya dengan sangat cerdas.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Bagaimana jika sutradara indie macam Taika Waititi diberi proyek besar untuk menangani film blockbuster macam Thor: Ragnarok. Menyuntikkan unsur cerita, petualangan dan komedi macam "Hunt for the Wilder People" terus membuat semua petualangan sederhana itu dengan bumbu kosmik kental yang menceritakan soal dewa-dewa berkekuatan besar. Di industri Marvel saat ini rasanya kita tak meragukan lagi kemampuan studio besar ini menangani dan memilih tim kru untuk proyek-proyek superhero besar lainnya. Jika dibandingkan dua film Thor lainnya, ini seperti transformasi besar buat kisah solo si raja petir dari Asgard, Thor (Chris Hemsworth). Tentu saja melalui cita rasa berbeda, Thor: Ragnarok seperti film kulminasi epik yang menunjukkan jati diri sebenarnya dari film-film Marvel.

Thor harus terlibat dengan masa lalu kelam ayahnya Odin (Anthony Hopkins) yang dulu pernah mengurung kekuatan jahat bernama Hela (Cate Blanchett) sang 'queen of death' yang berencana menguasai Asgard dan dunia. Tapi, saat Thor mencoba menghentikannya, kekuatan Hela jauh melebihi diatasnya dan membuat senjata andalan Thor pun, palu Mjolnir hancur berkeping-keping. Disaat Asgard dikuasai kekuatan jahat, Thor yang melarikan diri terdampar di sebuah planet 'garbage' bernama Sakaar yang dikuasai oleh pemimpin gila bernama Grandmaster (Jeff Goldblum). Thor yang disekap dan ditangkap oleh seorang wanita Valkyrie (Tessa Thompson), ditengah keputusasaan saat Asgard terancam bahaya, Thor dipaksa menjadi petarung gladiator dan melawan rekan satu timnya di Avengers, Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo).


Sebelum Marvel menunjukkan pertarungan epik dengan Thanos di The Avengers: Infinity War, Thor: Ragnarok seakan ingin menunjukkan kapasitas villain sesungguhnya, semenjak kegagalan Ultron yang disangka kuat ternyata lembek, konyol dan memalukan. Kini hadir Hela, sebagai villain wanita pertama sekaligus terkuat dengan menunjukkan taringnya langsung menghancurkan senjata terkuat, Mjolnir. Tidak hanya villain kuat, intimidasi serta momok menakutkan yang berhasil mencuri perhatian lewat akting Cate Blanchett pun sangat menggembirakan, tak ada yang jauh lebih cocok memerankan akting Blanchett saat tatapannya yang kadang seksi pun menyimpan sorot mata tajam yang seakan membunuh.

Bukan Marvel jika tidak memiliki rentetan komedi, memajang Taika Waititi beserta penulis skenario Eric Pearson, Thor: Ragnarok memberi pesona Guardians of the Galaxy dengan cita rasa fantasy sci-fi '70-'80-an. Meski tahu bahwa filmnya bisa sedikit kelam karena berisi disaster dari kekacauan, kejatuhan, dan kehancuran Asgard. Filmnya ternyata lebih ringan dengan tingkah konyol para karakternya. Sehingga jika menginginkan film sedikit lebih serius dan emosional, maka jangan harap filmnya akan membawa gejolak perasaan lebih dalam atau setidaknya lebih menegangkan.


Tentu saya tidak menganggap komedi Thor: Ragnarok jelek, meski beberapa masih juga terasa garing, tapi tetap konsisten untuk menyedapkan pita tertawa saya bergema hingga film berakhir. Tapi, ini seperti 'trigger' yang menghilangkan nuansa atmosferik dan emosional. Meski saya sangat menyukai Waititi tidak menghancurkan penokohan Hela dengan sebuah trik kekonyolan dan terus membuat villain ini tetap sesuai dengan perwatakkannya yang serius, fully-evil dan hot. Tapi, moment by moment lenyap karena terlalu banyak banyolan yang dirasa sedikit mengganggu, membuat saya berpikir apa jadinya jika Thor: Ragnarok tidak memiliki komedi? Maka film ini sesuram jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Tapi, film ini tidak terlalu mengecewakan, Thor: Ragnarok adalah renovasi dan evolusi terbaik dari trilogi Thor disaat banyak yang mengatakan Thor adalah yang terburuk dari film solo superhero lainnya. Universe semakin luas, kemunculan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang sebentar, Loki (Tom Hiddleston) yang selalu identik dengan moralitas ambigu sebagai villain dan saudara Thor, Bruce Banner yang sepenuhnya dikuasai oleh si monster hijau, Hulk dengan tingkahnya yang childish dan polos tapi juga bisa sensitif. Thor, dengan gaya rambut barunya tampak lebih kece', dipotong oleh bukan orang biasa. Dan dua karakter baru yang cukup banyak menarik perhatian, Valkyrie, wanita yang suka mabuk tapi punya segudang rahasia dan latar belakang menarik, Korg (Taika Waititi), monster batu yang sangar tapi suara mirip robot Chappie, dan Grandmaster, pria berusia jutaan tahun yang punya watak aneh dan sangat gila.


Seperti yang saya bilang, Thor: Ragnarok adalah jati diri Marvel sebenarnya. Memanfaatkan semua formulasi yang sudah ada seperti komedi, tema futuristik, comic relief dan semua hal yang sudah tidak lagi menghebohkan, terbilang ini adalah masa kejayaan Marvel Cinematic Universe. Meski tak bisa dipungkiri seperti kurangnya suntikan emosi dan atmosferik yang kental, hingga terlalu bermain aman dalam cerita. Tapi tentu saja berharap The Avengers: Infinity War dan tahun-tahun kedepannya nanti Marvel tidak terjebak dalam situasi yang sama. Karena saya paham bahwa Marvel menyadari kekurangannya, menambalnya berkali-kali, hingga dapat dibuktikan Marvel hingga saat ini belum luput dari kegagalan.

Well, secara keseluruhan Thor: Ragnarok cukup memuaskan, tidak istimewa, tapi sangat menghibur. Setidaknya hal yang membuat saya memuji kesuksesan Waititi dan Pearson terletak pada referensinya, seperti penggunaan komedi yang interkoneksi dengan film Marvel sebelumnya, dan cara mereka memperlakukan para karakter baik jagoan, tokoh kacangan maupun villain dengan sangat baik dan relevan. Dan Hell Yea! mempercayai artis sekaliber Oscar, Cate Blanchett adalah pilihan yang tepat dan menjadi salah satu alasan menonton film yang satu ini, salah satu villain terbaik yang tidak kemenyek dan benar-benar "IMBA", bahkan membuat saya bertanya, apa yang bisa dilakukan film ini untuk mengalahkan dewi bernama Hela, jika dewa Thor sekalipun jadi benyek menghadapinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sebetulnya garapan dari sutradara Malcolm D. Lee ini terkesan usang untuk dipakai sebagai komedi alternatif yang kurang terasa orisinil, sebutlah dua film teranyar The Hangover, Bridesmaids dan ditahun yang sama "Rough Night" pun tak lebih sama dengan konsep film yang diberi judul "Girls Trip" ini. Terus apa yang membuat Girls Trip istimewa sehingga mampu meraup pendapatan box office diatas $100M sebagai film yang ditulis, disutradari, dan diperankan oleh hamppir semua keturunan Afrika-Amerika?

Girls Trip memang bukan sekedar komedi kurang waras yang senantiasa memberi kekacauan liar dan gila pada tingkat dewa dimana para wanita yang coba mewujudkan sebuah ledakan masa muda ditengah gempuran kehidupan yang semakin dewasa, terbilang sukses. Malcolm yang juga menangani sekuel ke-2 Babershop (Babershop: The Next Cut) tampaknya cukup mahir membawa jalinan cerita yang sentimental diantaranya, "komedi" dan "konflik". Kesuksesan ini bukan sekedar gempuran komedi tanpa garam yang eksplisit bersifat vulgar dan kasar. Tapi, bagaimana ia menyentil isu moral dan sosial dalam diagram publik figur yang sedang mengalami puncak karir, namun tersandung berbagai permasalahan serius termasuk skandal perselingkuhan yang mengancam karir, pernikahan dan juga persahabatan.

Pondasi ini diperkokoh dari keempat chemistry memikat dari Ryan (Regina Hall), Sasha (Queen Latifah), Lisa (Jada Pinkett Smith) dan Dina (Tiffany Haddish). Meski dalam film Ryan-lah pusat cerita. Tapi, dimana Sasha, Lisa dan Dina mampu tampil memberi gejolak berbeda dari setiap kepribadian yang unik dan berbeda, sehingga saya rasa pun tak ada yang namanya tempelan semata. Mereka berempat sahabat yang telah berteman sejak remaja hingga menginjak dunia dewasa (kerja). Persahabatan bagi mereka adalah segalanya, rumah bagi mereka, dimana "Flossy Posse" (sebutan khusus bagi geng mereka). Melakukan hal gila, liar dan berpesta sudah menjadi jati diri geng ini, hingga rutinitas dan kesibukkan mulai memudarkan hubungan mereka berempat.


Ryan menjadi seorang penulis terkenal yang tengah sukses bersinar, menikah dengan sahabat semasa kuliahnya, Stewart (Mike Colter). Sasha, jurnalis sukses yang memiliki blog pribadi, lalu beralih menulis kehidupan pribadi publik figur. Dina, yang paling heboh dan gila diantara mereka, dan terakhir single parent yang berusaha menjadi "ibu" dan "pengasuh" bagi kedua anaknya, Lisa. Masalah muncul saat Ryan memutuskan untuk mengajak geng-nya mengunjungi kota New Orleans untuk menghadiri acara tahunan Essence Festival, sembari menghidupkan kembali persahabatan mereka yang telah 5 tahun menghilang.

Bersama dua penulis naskah Kenya Barris dan Tracy Oliver, saya tak pernah meragukan bagian komedi dari Girls Trip, awalnya saya sempat ragu saat D. Lee tampak kesulitan memberi tawa kecuali perlahan mengenalkan kita pada watak dan latar belakang kehidupan empat wanita tersebut. Tapi, lambat laun meski tampak bersusah payah Girls Trip menemukan keasyikkannya, kegilaannya, dan keabsurdannya. Hampir sama dengan geng "Bad Moms", hanya saja perahu bertambah dari tiga menjadi empat. Seperti tingkah liar Dina, bertindak sesukanya dari menyemproti orang-orang dengan kencingnya, berkelahi dengan siapapun, sebagai yang paling agresif, tapi jujur. Lisa, meski dianggap paling seksi, tapi karena sikapnya sebagai ibu rumah tangga, norak dan tingkah konyolnya kadang sudah tingkat akut. Sasha yang paling peka dan sensitif dengan persahabatan, dan tentu saja Ryan, wanita yang kadang terlihat modis sebagai publik figur, namun sikapnya yang egois dan bermuka dua, kadang membuat saya sendiri geram dengan caranya yang tampak tak jujur dengan teman maupun dirinya sendiri, bahkan selalu risih dan curiga dengan teman paling dekatnya Sasha, meski akhirnya kita sendiri mengerti akan alasan yang ia perbuat sampai sejauh ini.

Meski hamparan cerita dan sekuens komedi tampak klise, tapi tujuan D. Lee tersampaikan dengan baik dengan bantuan komedi Rating 'R' hingga hamparan konflik pun terasa kompleks. Apalagi ia benar-benar membawa sensitifitas kehidupan selebritis yang memang tampak selalu jadi pusat perhatian, ironi yang memang selalu tampak nyata terlihat sehari-hari dari aib hingga skandal, terlepas kepopuleran mereka selalu jadi bahan berita, menyinggung pula profesi jurnalis yang kadang tak lepas dari musuh bebuyutan para publik figur, yang kadang dikatakan sebagai profesi tak berperasaan dan kejam.

Well, Girls Trip buat saya salah satu komedi terbaik tahun ini, sebagaimana ia begitu memberi kesenangan dan membuat saya tertawa non-stop. Efektif memberi lelucon sembari mengenal sensitifitas moral dalam kehidupan selebritis dan jurnalistik dengan cara yang fun and nasty. Semua itu mungkin takkan bagus tanpa chemistry memikat dari keempat wanita yang berusaha bertingkah segila, sekonyol dan seagresif mungkin, terutama tentu saja Tiffany Haddish yang menurut saya urat malunya sudah putus, kegilaan yang betul-betul norak tapi luar biasa lucu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Kumis ikonik, suara emas, rendah hati dan juga humoris, deskripsi kecil dari sosok grandpa berkepala tujuh namun punya enchantment luar biasa. Hayden Lee (Sam Elliot), dulunya aktor terkenal yang sempat menjadi legenda di film koboi era '70-'80-an. Diusianya yang tidak lagi muda dan pamornya sebagai aktor telah usai, Lee menghabiskan sisa hidupnya sendirian, ditemani ganja dari seorang drug dealer bernama Jeremy Frost (Nick Offerman) yang juga dianggapnya sebagai sahabat. Selain telah bercerai dengan istrinya Valerie (Katharine Ross) ia pun sempat tidak akur dengan anak perempuannya Lucy Hayden (Krysten Ritter). Kehidupannya mencapai puncak kritis, ketika Lee di diagnosa mengidap kanker Pankreas yang membuat hidupnya terancam, mengalami putus asa hingga berusaha menyembunyikan deritanya terhadap orang terdekatnya. Namun, Charlotte Dylan (Laura Prepon) seorang wanita muda yang dikenalnya lewat transaksi ganja, mulai membuatnya terpikat dan Charlotte akhirnya mengisi kehidupannya yang suram.

Mendapuk Elliot di film kedua Brett Haley memang bukan suatu kebetulan. Sebelumnya mereka berdua pernah berkolaborasi di "I'll See You in My Dreams" sebagai karakter sampingan. Kesan sebagai grandpa gentleman, membuat Haley terinspirasi dari sosok yang digambarkan oleh kepribadian Elliot sendiri, tentu dengan penempatan tokoh yang lebih sentris. Elliot memang pada puncaknya, eksis sebagai pria tua yang beruban, ia tampil sempurna, kendati suara beratnya menjadi ciri khas yang terdengar cool.


Memang tidak aneh, kekuatan The Hero terletak dari pesona Elliot, mengiringi perjalanan kisah sebagai mantan aktor berbakat yang kemudian penuh dilema di masa tua, bukan hanya penyakit, tapi juga hubungan dengan keluarganya. Kesan sebagai pecandu ganja, penyendiri, meski sepintas tampak periang, hidupnya tergolong suram. Haley memang ingin antusias menggerakkan situasi masa tua dalam perjuangan hidup mereka, dilema yang juga terasa di film pertamanya  "I'll See You In My Dream", dari seorang wanita tua yang berpijak pada keinginan hidup single tapi berkontemplasi mencari makna hidup sejati.

The Hero juga punya drama romansa yang memikat, dan panggung utama tentu saja kisah cinta antara Lee dan Charlotte. Elliot, perfection in imperfection, yang lugas memantapkan dirinya sebagai pria loveable yang gampang dicintai, karakterisasi kuat dan dalam, hingga saya tidak merasa risih tentang cinta beda umurnya dengan Charlotte, dengan kisah yang tak dipaksakan namun tetap terasa hangat dan begitu dewasa.

Tapi, sayang The Hero kurang mantap dalam bercerita, mengemban esensi emosi tapi tampak meleset dengan jalinan konflik yang ada. Apalagi semua yang ditampilkan oleh naskah Brett Haley dan Marc Basch terlalu klise, alih-alih sentimentil pun permasalahan dalam ruang lingkup kehidupan dan masa lalu Elliot hanya sekenanya, menggulirkan kontemplasi permasalahan hidup Lee sembari mencoba kembali memperbaiki setiap kesalahan yang pernah ia buat. Membuat saya sedikit sekali mengerti masalah yang terjadi bahkan antara Lee dan Lucy sekalipun, sampai pada garis konklusi yang rasanya tampak dipaksakan di bagian soal hubungan Lee dan Charlotte, semua hanya ambisi Haley memberi cinta, tapi tidak sampai pada klimaks yang emosional.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Membuat lelucon berisi hal-hal gila dan rusuh masih bisa diterima jika masih dalam koridor komedi yang relevan, lucu dan menghibur. Lain jikalau lelucon sudah terlalu eksplisit dan jorok untuk terus dijejali melalui "telinga" dan "mata" kita dengan sesuatu berbau vulgar dan mesum, apalagi ini sudah seringkali diucapkan oleh wanita-wanita cantik di film berjudul Rough Night. Mengingatkan saya dengan film "Dirty Grandpa" yang sudah merusak image aktor besar Robert de Niro, dan ini sama halnya dengan film tersebut yang mana jika saya bisa menuntut Lucia Aniello sebagai debut sutradara (yang juga seorang wanita), menghancurkan reputasi bintang besar seperti Scarlett Johansson, mungkin satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah menyarankan Anda untuk tak pernah menonton film ini jika Anda masih ingin menyelamatkan akal sehat Anda.

Sebutlah film ini mengawinkan "The Hangover" dan "Bridesmaids". Kisahnya soal Jess (Scarlett Johansson), seorang wanita yang sedang mencalonkan dirinya sebagai senator dan juga bersiap untuk melakukan pernikahan dengan kekasihnya Peter (Paul W. Downs). Sebelum hal itu terjadi, Jess bersama teman-teman satu sekolahnya dulu, Alice (Jillian Bell), Blair (Zoë Kravitz), Frankie (Ilana Glazer) dan juga teman kuliah Jess, Pippa/Kiwi (Kate McKinnon), selain demi merayakan reuni 10 Tahun mereka pun mengadakan pesta lajang sembari berlibur di kota Miami. Namun petaka terjadi saat seorang penari striptis yang mereka sewa mati akibat insiden yang tidak sengaja mereka lakukan, dalam keadaan takut dan panik mereka berusaha menutupi kejadian tersebut dan mencoba keluar dari masalah.


Tidak perlu waktu lama Rough Night membuat saya illfeel, setelah melihat sosok pria dengan kumis palsu, berbaju renang hijau menjijikkan, sekilas tampak memparodikan sosok Borat. Hingga tiba-tiba seorang wanita mabuk salah memasuki kamar tidur mencoba buang air didepan Jess dan teman-temannya. Ya, bersama dengan co-writer Paul W. Downs sekaligus merupakan kekasih Aniello sendiri, bisa dipahami mereka menginginkan komedi gila, eksplosif, dan konyol melewati batas-batas imajinasi yang bisa dipikirkan manusia. Dan alhasil ini lebih dari sebutan gila, ini terlalu kasar dan cacat untuk dijadikan sebuah parodi yang menghibur. Bahkan naskah Downs pun sama-sama tidak memiliki substansi yang kokoh untuk menceritakan lebih detil 5 kepribadian wanita yang berbeda karakteristik dan profesi ini. Mereka tidak memiliki nyawa, bahkan saat mencoba beralih konflik personal yang lebih dalam itu sudah hilang ditelan oleh kebisingan, kenorakkan, dan kemesuman yang dilakukan para wanita ini, yang boleh dibilang tak ada yang namanya improvisasi karakter, seolah mereka melakukan apa yang naskah tulis dan tugaskan. Selama mereka dibuat gila dan tak berakal, sehingga apa-apa termasuk menghisap kokain, hal-hal cabul dengan iringan musik dengan lirik serupa pornonya, termasuk begitu banyaknya aksesoris toy s*x dan alat peraganya yang bertaburan secara tiba-tiba didalam film, saya rasa jika masih ada akal, pikiran jorok tidak akan terlintas saat menonton film ini.


Tidak ada yang bisa saya harapkan dalam film ini, terutama karakter dominan antara Alice dan Jess sebagai sahabat yang paling dekat tidak menampilkan chemistry yang memikat, diganti dengan tingkah horny Alice yang berlebihan. Itu pun datang kepada Blair dan Frankie yang berakhir dengan orientasi seksual yang aneh, bahkan usaha besar yang sudah dilakukan oleh Kiwi dengan ke-absurdan dan kata-kata aneh terkesan flat dan garing. Bahkan sosok Demi Moore yang berakting sebagai Lea, tetangga pasangan nakal bersama Pietro (Ty Burrell), tidak sepenting yang saya kira. Tingkah bodoh hingga pemaksaan twist di pertengahan cerita menambah ketidaklogisan, dan berbagai plot hole dari kekacauan tidak dipergunakan untuk memperkuat karakterisasi dan konflik yang ada, melainkan hanya berfokus pada kegilaan berujung malapetaka cerita yang luar biasa buruknya. Dan cuplikan pendek credit scene di akhir, sekuel Rough Night, maybe? Trigger yang tampil cukup keren untuk memberi rasa penasaran, tapi, jika harus melanjutkan komedi neraka seperti ini lagi, kurasa tidak usah.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sulit menghamparkan lelucon demi lelucon kala kita diajak berbicara tentang kesedihan. Boleh jadi film yang menceritakan soal penyakit mematikan, akan terasa overdramatic. The Big Sick memang terdengar seperti film yang hanya berisikan kesedihan dan duka air mata, tapi justru film ini adalah percikan kompleks dan emosional dalam mengikuti kisah perjalanan cinta komedian sekaligus aktor yang sering terlihat sebagai tokoh sidekick, Kumail Nanjiani bersama sang istri Emily diperankan Zoe Kazan harus menghadapi dilema kisah cinta saat mereka menghadapi perbedaan budaya, agama, dan ras diantara keluarga, hingga kemunculan penyakit yang diderita Emily semakin membuat hubungan mereka semakin terpisah jauh.

Kumail Najiani, mungkin bukan aktor komedian besar dan menarik, terlebih aktingnya yang hanya sedikit mencuri peran sebagai pegawai kantor pos, satpam sekolah, tukang kabel, ataupun tukang pijat mesum sekalipun. Sungguh dia aktor yang sangat tidak penting, tapi Michael Showalter "Hello, My Name is Doris" (2016) selaku sutradara mencoba menerangkan siapa aktor yang selalu muncul sebentar tapi seringkali mencuri atensi. The Big Sick mungkin menjadi film pertama Kumail menjadi karakter sentris sekaligus berakting sebagai dirinya sendiri. Ditulis oleh Kumail sendiri juga istrinya Emily V. Gordon, film ini ternyata tidak sesumbar soal hubungan cinta dan beberapa permasalahan menyangkut penyakit misterius yang menimpa Emily ataupun persinggungan yang terjadi antara keluarga mereka berdua, melainkan sebuah dilema isu yang konteksnya terasa tajam menyampaikan perbedaan kontras yang berseberangan diantara tabrakkan kultur yang ada.


Mungkin memang terkesan generik untuk mengungkapkan bagaimana hubungan cinta Kumail dan Emily ini berawal hingga akhirnya terjadi asmara cinta besar diantara mereka. Dari sebuah pertemuan tak sengaja saat Kumail manggung sebagai stand-up comedian, kemudian terdengar teriakan tiba-tiba Emily yang menyela lelucon Kumail dipertengahan. Hubungan yang bisa dibilang spontan tersebut menjadi timbal balik awal kisah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Tapi, cukup mengesankan bahwa ini masih terasa kisah cinta yang manis, chemistry yang dibangun antara Kumail dan Kazan menghantarkan hubungan yang hangat dan kuat, apalagi saya seolah melihat sosok Emily versi asli pada Kazan, ceria dan energik, meski kadang sikap egosentris diantara keduanya menyebabkan konflik dari setumpuk masalah kebohongan dan ketidakterbukaan Kumail pada Emily. Lalu separuh cerita, diambil alih oleh ayah dan ibu Emily, Beth (Holly Hunter) dan (Ray Romano) pada saat Emily kemudian jatuh koma karena penyakitnya, namun disini pun terbantu karena tanpa diduga mereka berdua pun cukup asyik memadu gesekan keterikatan dengan Kumail, dari benci dan cinta, hingga turut melampiaskan isi hati, kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan yang sama saat orang yang mereka cintai terbujur diam dalam koma berhari-hari menghadapi penyakit misterius dan berbahaya.



Dibalik itu juga saya sangat suka cara naskah buatan pasangan suami-istri ini memberikan sentuhan humor hingga mampu membaurkannya bersama emosi, bahkan stereotip terhadap ras dan agama pun disentil melalui keluarga Kumail yang notabene muslim mencoba mencerminkan umat tersebut dalam kebaikan, kelembutan dan juga selera humor yang bagus. Meski seorang Kumail sendiri bukan perspektif religius yang hebat, bahkan ia diterpa kebimbangan kepercayaan, sebagai seorang karakter dibalik wajah menjengkelkan dan flat-face-nya, meski ia melekat sebagai tokoh komikal, tapi naskah cerita juga mencerminkan siapa dirinya tanpa menutup Kumail menjadi orang lain, ia menjadi dirinya sendiri secara natural bahkan sikapnya realistis, care, luwes, sabar dan netral. Bahkan acapkali bercak air mata yang terpantul dari pipinya seolah ia sedang mengenang kembali masa-masa koma Emily yang pernah terbaring 5 tahun lalu. Dari sini pun cukup meyakinkan bahwa dari bingkaian foto masa kecil yang acapkali terpersentasikan melalui cerita, mencerminkan sedikit realita singkat kehidupan Kumail sesungguhnya, dari seorang komedian stand-up biasa, sopir uber, hingga masalah hubungan antara ibunya Sharmeen (Zenobia Shroff), ayahnya Azmat (Anupam Kher), dan saudaranya Naveed (Adeel Akhtar) akibat perbedaan prinsip antara kebebasan dirinya dan kultur keluarga.


Sulit menyebutkan kekurangan yang ada di The Big Sick, dan Amazon harus bersenang hati saat menggelontorkan dana $12 juta dolar untuk mendistribusikan film ini, setelah menjadi salah satu film dengan transaksi terbesar dalam sejarah Sundance Film Festival. Berangkat dari itu, film The Big Sick memang film melodrama yang menyentuh dan breathtaking, tapi satir komedi gelap yang setiap saat terlontar dari mulut para aktornya kadang membawa suasana hangat dan lucu, membuat semuanya melebur menjadi satu dengan emosi penonton. Funny and melancholic, semua pesan cinta dari Kumail dan Emily bagaimana mereka hidup dalam perbedaan, menyentil masalah keluarga, hingga isu ras dan agama yang kadang terdengar tajam seperti teriakan salah satu penonton, "Go back to ISIS." saat Kumail melontarkan lelucon komikanya, kemudian cara mereka melewati hari-hari paling menakutkan dan hopeless, diiringi gejolak emosi yang naik turun seolah inilah salah satu perjuangan nyata dari definisi cinta sesungguhnya. The Big Sick adalah tawaran rom-com luar biasa menarik untuk ditonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Poster dan judulnya seakan sudah menjelaskan identitas asli keluaran animasi terbaru Dreamworks seakan mereka tidak mau serius dalam mendorong ambisi mereka membuat film yang lebih baik. Lihat saja film teranyarnya "The Baby Boss" tidak mencapai kesuksesan saat berakhir buruk dalam mengadaptasi buku gambar karya Marla Frazee. Cobalah pikir, ini seolah menyindir dan meledek superhero kawakan seperti Batman dan Superman klasik yang dulu dikenal karena kostum aksinya yang nyeleneh karena celana dalam mereka berada diluar, sementara dulu hal tersebut sah-sah saja bahwa itu tidak mengganggu identitas mereka sebagai yang terpopuler. Captain Underpants: The First Epic Movie adalah sebuah film "movie pranks" terkonyol dan terbodoh yang pernah dibuat Dreamworks, namun sangat menghibur sebagai action-comedy-superhero yang anti-garing.

Menceritakan dua bocah bernama George (Kevin Hart) dan Harold (Thomas Middleditch) adalah BFF (Best Friend Forever) yang punya selera humor tinggi dan sangat jahil juga senang bercanda. Hobi mereka adalah membuat komik, dan salah satu komik favorit buatan mereka adalah Captain Underpants. Meski begitu Jerome Horwitz Elementary School tempat mereka sekolah sangatlah suram, ditambah kepala sekolah mereka Mr. Krupp (Ed Helms) seorang yang galak dan sangat disiplin sehingga tidak menyukai segala kekonyolan yang dilakukan kedua anak tersebut, Krupp mencoba mencari bukti otentik untuk memisahkan mereka berdua agar perilaku mereka bisa diredam. Sampai akhirnya bukti didapat, dibantu murid paling pintar disekolah namun sama sekali tak punya selera humor, Melvin (Jordan Peele) merekam perbuatan jahil keduanya dengan boneka kura-kura CCTV.



Berangkat dari kejadian tersebut, saya sebenarnya tidak mau membicarakan darimana Captain Underpants itu datang. Pada kenyataannya film ini sudah diluar batas imajinasi dan kelogisan yang tidak dapat lagi dijelaskan. Semua terlalu diluar akal sehat, dari sekedar cincin hipnotis hingga taman bermain yang tiba-tiba ada dihalaman sekolah. Bodoh dan konyol, inilah yang saya dapatkan dari film adaptasi novel epic karya Dav Pilkey. Tapi tentu saja, jika menilik penulis skrip Nicholas Stoller yang menulis dan menyutradarai duologi "Neighbors" dan "Neighbors 2: Sorority Rising", hingga animasi konyol "Storks". Hingga sutradara David Soren yang dulu menggarap film "Turbo" tentang keong nascar. Jika melibatkan mereka berdua film ini memang absurd namun tidak terkesan dangkal, semua dalam balutan energi dan hujan komedi yang liar.

Digarap dengan enerjik dan hiperaktif, meski bisa saya bilang animasi film ini sedikit menyerupai "The Peanuts Movie" (2015), tapi tentu saja film ini tidak sehangat dan selembut itu. Komedi film ini sedikit kasar dan insulting. Namun semua terasa fresh, ejekan, sense of humor, komedi interaktif hingga pelesetan-pelesetan yang deras meluncur dari mulut para karakternya membuat saya tertawa lepas tanpa henti. Semisal Uranus yang dipelesetkan "Your Anus", hingga kebodohan dan kejahilan tanpa henti dilakukan George dan Harold kepada Mr Krupp dan Captain Underpants. Dan salah satunya kemunculan villain jahat yang ingin memusnahkan gelak tawa manusia, Professor Poopypants (Nick Kroll), nama yang terdengar lucu bukan? Ya, bahkan namanya menjadi bahan utama tertawaan dan ejekkan dalam film ini, saat ia hampir meraih piala dan penghargaan nobel atas penemuan terbesarnya menjadi asal muasal motifnya atas dasar kebencian dan amarah.


Semakin keras Anda tertawa, semakin bagus filmnya dan abaikanlah cerita film ini yang sudah jelas tidak akan kamu temukan progress cerita yang menakjubkan. Tapi, saya suka kesan film ini rapih dan tidak berantakan, optimisme Soren yang tahu film ini tidak akan pernah berakhir serius, menggarap skrip Stoller tanpa takut film ini terjebak kehancuran fantastis. Justru sebaliknya, semua perolehan point tertawa film ini tepat sasaran, hingga hal-hal bodoh yang dianggap sepele bagi saya malah menjadi bahan lelucon yang tidak tanggung-tanggung, contohnya sekretaris Mr. Krupp yang rela menunggu telepon berhadiah uang ratusan juta selama berhari-hari. Juga penamaan side-kick villain tak terduga "Anti-Humor Boy", WTF!? Ini kekonyolan luar biasa yang berhasil tertanam sebagai formula anti-depresi yang cukup matang mengadaptasi joke-joke yang asalnya dari novel Pilkey ini.

Ini adalah film terakhir antara kerjasama Dreamworks Animation dan distributornya 20th Century Fox yang berakhir manis, setelah berpindah tangan ke Universal Pictures. Meski belum ada kabar soal penggarapan film sekuelnya, saat kita berpendapat bahwa sub-judul film ini menyebutkan The First Epic Movie, tapi saya harap film ini suatu saat akan kembali dilanjutkan dengan sense of humor yang sama-sama konyol dan bodohnya. Karena film ini dibentuk bukan karena celana dalam superhero-nya, tapi rentetan komedi cerdas sekaligus bodoh yang membuatmu bergelak tawa tanpa henti. Dan juga penyampaian subtil soal rasa kesepian dan persahabatan dalam balutan konflik antara orang berselera humor tinggi dengan anti-humor sejati. Film ini tentu saja worth untuk ditonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


My Life as a Zucchini adalah sebuah contoh kasus dilema yang menyoroti kehidupan masa kelam anak-anak karena masalah orang tua yang terbilang pelik dan memilukan menyentil moral kala mereka kehilangan sosok orang tua yang diharapkan mampu mendampingi dan melindungi mereka semasa kecil. Film dengan judul dalam bahasa Prancis-nya Ma vie de Courgette adalah debut sutradara Claude Barras yang diadaptasi dari novel Autobiographie d'une Courgette karya Gilles Paris tahun 2002 lalu. Film ini juga meraih penghargaan nominasi Academy Awards tahun 2017 untuk kategori Best Animated Feature Film of the Year.

Seorang anak kecil berumur 9 Tahun Courgette (Gaspard Schlatter) hidup bersama ibunya seorang pecandu alkohol saat ayahnya kabur dari rumah. Namun karena kecelakaan tak disengaja ibunya meninggal dan memaksa Courgette menjadi yatim piatu dan hidup sendirian. Seorang petugas polisi baik hati yang peduli akan nasib Courgette, Raymond (Michel Vuillermoz) kemudian sudi mengantarkannya ke sebuah panti asuhan bernama "The Fountains" tempat keberadaan anak-anak yatim seusia dan senasib dengannya dirawat. Hingga suatu hari datanglah Camille (Sixtine Murat) seorang gadis yang membuat Courgette jatuh hati padanya dan mencoba untuk mendekatinya sebagai sahabat.


Film ini sebetulnya hanya berdurasi pendek 66 menit, tapi cukup banyak menyoroti kehidupan yang tidak enak untuk dicicipi seorang anak di kehidupan nyata. Dan hanya karena film ini dibuat dengan animasi stop-motion yang penuh warna-warni dan fruitable dengan kepala berbentuk labu yang lucu, menurut saya film ini hanya mampu dicerna oleh penonton dewasa. Dari kata-kata subtle tentang seks, referensi alkohol, pembunuhan, dan narkoba ini memang bukan film yang cukup layak disajikan bagi penonton berusia muda, meski standar PG-13 tercantum di rating MPAA.


My Life as a Zucchini bukan film yang sentimen menyinggung orang dewasa yang kadangkala menghakimi anak tentang cara berpikir mereka yang masih minim informasi, melainkan dimaknai soal kecenderungan mereka yang mampu menganalisa dan memahami apa-apa yang orang dewasa lakukan. Dengan tingkah polos dan wajah tanpa dosa, salah satunya Simon (Paulin Jaccoud) anak yang terbilang nakal diantara lainnya kemudian membicarakan soal hubungan antara wanita dan pria, hingga kemudian "keringat" dan "meledak" cukup memberikan kita evaluasi diri akan kenaifan dan ketabuan dewasa saat menyinggung isu pendidikan moral kepada anak-anak. Apalagi saat mereka telah tenggelam dalam perilaku buruk orang tua yang menyeret anak-anak mengenal kata-kata dan melihat perilaku yang tidak lagi pantas untuk diajarkan.

Film yang ditulis oleh Céline Sciamma dan para kontributornya Germano Zullo, Claude Barras dan Morgan Navarro memang cukup jeli merangkai cerita, kisahnya memang tentang wajah-wajah kehilangan dan kesepian. Tapi, narasinya tetap anggun mewarnai kelas usaha mereka untuk menyajikan cerita yang ceria saat kebersamaan, kekeluargaan, rasa cinta dan persahabatan mewarnai kehidupan Zucchini, Cammile dan anak-anak lainnya. Dan lagi bumbu komedi dan tingkah jenaka yang kadang memancing kehangatan dan kelucuan menjadi simbolisasi kejenakaan mereka meski disamping turut juga dihantui bayang-bayang masa lalu orang tuanya.


My Life as a Zucchini memang bukan kisah cerita tentang pesan moral orang tua kepada anak, melainkan cara Barras menjadikan subtle parenting untuk orang tua agar mampu memahami pesan dan ungkapan anak-anak bahwa mereka membutuhkan kehadiran orang tua sebagai contoh teladan yang baik bagi kehidupan. Diungkapkan pula melalui Courgette yang tetap tidak mampu menghilangkan memori kedua orang tuanya kala layang-layang dan kaleng bir, hingga nama panggilan pun (nama asli Courgette adalah Icare) menjadi kenangan terbesar yang tidak ingin ia lupakan selamanya, Barras memang menyentil empati, tapi juga caranya menyikapi nilai luhur disampaikan secara dalam dan luar biasa. Hingga konklusi akhir cukup tersaji begitu indah, tulus dan hangat sebagai tahap seimbang antara awal yang memilukan menjadi secercah harapan di kehidupan yang baru bagi anak-anak, meski sejujurnya saya berharap durasi film ini sedikit dipanjangkan oleh Barras, karena biasanya film normal berdurasi lebih lama dari ini, rasanya kisah yang semanis dan sejujur ini terlalu singkat untuk diselesaikan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Pengaruh globalisasi zaman cukup banyak berperan penting dalam pembentukkan karakter dan sifat manusia. Itu terlihat bagaimana setiap generasi terbentuk mengikuti ciri yang sesuai dengan norma dan kultur yang ada saat ia lahir, tumbuh dan hidup. Mungkin tak perlu jauh-jauh saat saya yang lahir di generasi "Y" pasti mempunyai perbedaan pendapat dan pola pikir berbeda dari segelintir orang tua yang telah hidup setengah abad. Dan Mike Mills (sutradara dan screenwriter film ini) sebagai pelaku utama yang lahir dan tumbuh di era struggle 3 generasi wanita mencoba menyampaikan sebuah kisah semi-autobiografi miliknya melalui sebuah surat cinta kepada ibunya sekaligus surat cinta untuk semua wanita yang lahir di 20th Century Women seluruh dunia.

Berlatar tahun 1979 di Santa Barbara, California, Dorothea Fields (Annette Bening) adalah seorang single mother yang khawatir tidak mampu untuk mendidik dan membesarkan sendirian anak laki-lakinya Jamie (Lucas Jade Zumann) yang kala itu menginjak umur 15 Tahun. Maka dari itu Dorothea meminta bantuan Abigail 'Abbie' Porter (Greta Gerwig) wanita yang tinggal bersamanya dan Julie (Elle Fanning) teman dekat Jamie sejak kecil, untuk menjaga dan membantu membesarkan dirinya hingga Jamie dewasa.


Dorothea sendiri adalah perwujudan dari ibu kandung Mills, lahir di era yang berbeda, tentu saja menginjak usia 55 tahun Dorothea harus menghadapi berbagai macam perubahan termasuk segala hal yang hadir dalam hidup anaknya. Musik punk, pop-culture, skateboard, hingga permainan skip challenge tak bermanfaat membuat semua hal asing dan aneh membuatnya khawatir dengan perkembangan anaknya tersebut. Tapi tentu saja Dorothea bukanlah tipikal ibu protektitf atau pemanja, sikap luwes dan supel selalu ia tampilkan meski berbagai pertentangan dengan anaknya selalu muncul ke permukaan. Abbie dan Julie pun sama-sama tokoh wanita yang hidup di generasi yang beda pula. Mereka berdua adalah sosok yang likable dan hadirnya mereka dalam hidup Jamie menghadirkan dinamika perspektif yang kuat dan masing-masing sudut pandang dari ketiganya mengeluarkan chemistry pada tingkatan berbeda dengan Jamie. "Whatever you think your life is going to be like, just know, it's not gonna be anything like that. "


Sebagai sebuah coming-of-age dengan bumbu nostalgia dan sejarah hidup sang penulis, film ini memang ingin menunjukkan identitas Mills dan hubungan eratnya bersama wanita-wanita yang pernah mengelilingi dunianya. Seperti 20th Century Women menggambarkan sudut pandang ibunya, dan Beginners (2011) mengambil sudut pandang dari ayahnya. Kesenangan itulah yang coba Mills sampaikan kepada penonton bahwa masa kecil hidupnya cukup menyenangkan dengan bertemunya berbagai sosok inspiratif dalam hidupnya. Konteks yang disampaikan 20th Century Women ini mempunyai gagasan cerita yang masing-masing menonjolkan setiap tokoh dan detil perspektif berbeda dari ketiganya, diikuti Jamie (Mills) sebagai observer.


Saya sangat menyukai bagaimana Mills menggambarkan chemistry pada masing-masing tokoh, mereka punya opini, pendapat, dan pengaruh kuat meski mereka terdiri dari berbagai frekuensi amplitudo yang berbeda. Mereka masing-masing mencirikan diri mereka sendiri dengan sangat shiny and personally, diikuti ruang lingkup permasalahan, latar belakang serta bagaimana cara mereka berbaur dan berkomunikasi, itu sudah cukup membuat semua karakter di film ini gampang dicintai.

Annette Benning sebagai lead mampu menunjukkan karakter kuat meski mature dan depresif yang terlihat dari kelesuan wajah dan hobi merokoknya, tapi cukup mudah disukai bahwa ia wanita yang mencoba hidup tegar menyadari bahwa ia tahu konsekuensi dirinya saat berada ditengah-tengah pergolakan zaman yang terus-menerus menggerus norma dan moral yang tak seperti ia rasakan dulu. Elle Fanning sebagai moral sensitive gemar memainkan aura sensualitas remaja entah dengan rambut berantakan, kaos longgar dan transparan, hingga masalah seksualitas dan pergaulan hidup yang bebas, tapi cukup punya keintiman personal dengan Jamie tanpa banyak kecanggungan yang berarti, meski saya secara pribadi kurang suka akan peran Elle disini. Greta Gerwig sebagai fotografer nyentrik dengan rambut merah pun mampu tampil unik dengan segala kecemasan dan kegalauan hidup yang ada pada dirinya, memberi kesan feminis garis keras yang ceria namun punya pandangan hidup dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat. Dan, terakhir William (Billy Crudup), pria dengan kontribusi paling kecil, tapi cukup berhasil mentengahi kehidupan para wanita ini tanpa harus mengganggu lebih banyak cerita.


Kemasan 20th Century Women pun tampil cantik dengan berbaurnya kilauan warna mencolok, mengeluarkan semua pernak-pernik keindahan dekorasi dan tata busana yang ada sehingga terpancar keindahan unik tersendiri dan a simply power of enchanted austerity, hingga beberapa potongan foto dan video klasik, hingga memadukan berbagai event moment pada balutan cerita, spontan ini sebuah gaya senimatis unik semacam "(500) Days of Summers". Dan juga berbagai mixing musik berbeda latar dan generasi mewakili setiap pergerakan dan bentrokan kultur yang ada, Dorothea yang sering memainkan musik klasik seperti, "As Time Goes By Lyrics by Rudy Vallee" dan jenis musik punk-rock band "Art Fag" dan "Black Flag" mengikuti trend Abbie dan Jamie.

Overall, ini secara pribadi memang film favorit saya, sebuah coming-of-age dengan perpaduan cerita sederhana dan sinematografi yang sangat memikat mata. Performa akting hingga berbagai pernak-pernik seputar isu feminisme, sosial, pergaulan bebas, hingga pengaruh bentrokan budaya dengan subtle diangkat menjadi sangat kaya dan luar biasa. Ini adalah sebuah film yang buat saya sulit untuk dilupakan, surat cinta sederhana untuk mewakili hati para wanita, Dorothea untuk generasi tua (old), Abbie untuk generasi dewasa (adult), dan Julie untuk generasi remaja (teen).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates