• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Poster dan judulnya seakan sudah menjelaskan identitas asli keluaran animasi terbaru Dreamworks seakan mereka tidak mau serius dalam mendorong ambisi mereka membuat film yang lebih baik. Lihat saja film teranyarnya "The Baby Boss" tidak mencapai kesuksesan saat berakhir buruk dalam mengadaptasi buku gambar karya Marla Frazee. Cobalah pikir, ini seolah menyindir dan meledek superhero kawakan seperti Batman dan Superman klasik yang dulu dikenal karena kostum aksinya yang nyeleneh karena celana dalam mereka berada diluar, sementara dulu hal tersebut sah-sah saja bahwa itu tidak mengganggu identitas mereka sebagai yang terpopuler. Captain Underpants: The First Epic Movie adalah sebuah film "movie pranks" terkonyol dan terbodoh yang pernah dibuat Dreamworks, namun sangat menghibur sebagai action-comedy-superhero yang anti-garing.

Menceritakan dua bocah bernama George (Kevin Hart) dan Harold (Thomas Middleditch) adalah BFF (Best Friend Forever) yang punya selera humor tinggi dan sangat jahil juga senang bercanda. Hobi mereka adalah membuat komik, dan salah satu komik favorit buatan mereka adalah Captain Underpants. Meski begitu Jerome Horwitz Elementary School tempat mereka sekolah sangatlah suram, ditambah kepala sekolah mereka Mr. Krupp (Ed Helms) seorang yang galak dan sangat disiplin sehingga tidak menyukai segala kekonyolan yang dilakukan kedua anak tersebut, Krupp mencoba mencari bukti otentik untuk memisahkan mereka berdua agar perilaku mereka bisa diredam. Sampai akhirnya bukti didapat, dibantu murid paling pintar disekolah namun sama sekali tak punya selera humor, Melvin (Jordan Peele) merekam perbuatan jahil keduanya dengan boneka kura-kura CCTV.



Berangkat dari kejadian tersebut, saya sebenarnya tidak mau membicarakan darimana Captain Underpants itu datang. Pada kenyataannya film ini sudah diluar batas imajinasi dan kelogisan yang tidak dapat lagi dijelaskan. Semua terlalu diluar akal sehat, dari sekedar cincin hipnotis hingga taman bermain yang tiba-tiba ada dihalaman sekolah. Bodoh dan konyol, inilah yang saya dapatkan dari film adaptasi novel epic karya Dav Pilkey. Tapi tentu saja, jika menilik penulis skrip Nicholas Stoller yang menulis dan menyutradarai duologi "Neighbors" dan "Neighbors 2: Sorority Rising", hingga animasi konyol "Storks". Hingga sutradara David Soren yang dulu menggarap film "Turbo" tentang keong nascar. Jika melibatkan mereka berdua film ini memang absurd namun tidak terkesan dangkal, semua dalam balutan energi dan hujan komedi yang liar.

Digarap dengan enerjik dan hiperaktif, meski bisa saya bilang animasi film ini sedikit menyerupai "The Peanuts Movie" (2015), tapi tentu saja film ini tidak sehangat dan selembut itu. Komedi film ini sedikit kasar dan insulting. Namun semua terasa fresh, ejekan, sense of humor, komedi interaktif hingga pelesetan-pelesetan yang deras meluncur dari mulut para karakternya membuat saya tertawa lepas tanpa henti. Semisal Uranus yang dipelesetkan "Your Anus", hingga kebodohan dan kejahilan tanpa henti dilakukan George dan Harold kepada Mr Krupp dan Captain Underpants. Dan salah satunya kemunculan villain jahat yang ingin memusnahkan gelak tawa manusia, Professor Poopypants (Nick Kroll), nama yang terdengar lucu bukan? Ya, bahkan namanya menjadi bahan utama tertawaan dan ejekkan dalam film ini, saat ia hampir meraih piala dan penghargaan nobel atas penemuan terbesarnya menjadi asal muasal motifnya atas dasar kebencian dan amarah.


Semakin keras Anda tertawa, semakin bagus filmnya dan abaikanlah cerita film ini yang sudah jelas tidak akan kamu temukan progress cerita yang menakjubkan. Tapi, saya suka kesan film ini rapih dan tidak berantakan, optimisme Soren yang tahu film ini tidak akan pernah berakhir serius, menggarap skrip Stoller tanpa takut film ini terjebak kehancuran fantastis. Justru sebaliknya, semua perolehan point tertawa film ini tepat sasaran, hingga hal-hal bodoh yang dianggap sepele bagi saya malah menjadi bahan lelucon yang tidak tanggung-tanggung, contohnya sekretaris Mr. Krupp yang rela menunggu telepon berhadiah uang ratusan juta selama berhari-hari. Juga penamaan side-kick villain tak terduga "Anti-Humor Boy", WTF!? Ini kekonyolan luar biasa yang berhasil tertanam sebagai formula anti-depresi yang cukup matang mengadaptasi joke-joke yang asalnya dari novel Pilkey ini.

Ini adalah film terakhir antara kerjasama Dreamworks Animation dan distributornya 20th Century Fox yang berakhir manis, setelah berpindah tangan ke Universal Pictures. Meski belum ada kabar soal penggarapan film sekuelnya, saat kita berpendapat bahwa sub-judul film ini menyebutkan The First Epic Movie, tapi saya harap film ini suatu saat akan kembali dilanjutkan dengan sense of humor yang sama-sama konyol dan bodohnya. Karena film ini dibentuk bukan karena celana dalam superhero-nya, tapi rentetan komedi cerdas sekaligus bodoh yang membuatmu bergelak tawa tanpa henti. Dan juga penyampaian subtil soal rasa kesepian dan persahabatan dalam balutan konflik antara orang berselera humor tinggi dengan anti-humor sejati. Film ini tentu saja worth untuk ditonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Cukup mengejutkan melihat hasil rating rottentomatoes memberi nilai film ini dengan angka 99% (almost perfect!) dan disaat yang sama pun ternyata film yang disutradarai oleh Jordan Peele, kalau kamu ingat ia aktor yang pernah berduet akting dengan Keegan-Michael Key di film Keanu (2016). Get Out adalah film debutannya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, mampu bertengger di tangga teratas box office dengan raupan pendapatan opening weekend sebesar $33,377,060. Wow! angka-angka yang sangat fantastis untuk sebuah film debutan, bukan? Terus apa yang membuat film yang hanya bergenre horror-comedy ini sanggup meraih baik pendapatan dan kritikan positif yang bahkan di situs metacritic yang sangat pelit angka mampu memperoleh angka 84, menjadi film yang sangat antusias tahun ini? mari kita simak ulasannya.

Chris Washington (Daniel Kaluuya) seorang pria kulit hitam yang baru menjalin hubungan dengan kekasihnya seorang gadis kulit putih bernama Rose Armitage (Allison Williams), mereka berencana pergi menghabiskan akhir pekan mereka untuk mengunjungi sekaligus memperkenalkan kedua orang tua Rose pada Chris. Meski dengan sedikit rasa ragu dan khawatir tidak diterima orang tua pacarnya tersebut sehubungan perbedaan ras dan warna kulit, tapi akhirnya dengan memastikan bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang baik, akhirnya mereka berdua pergi dan bertemu dengan ayahnya Dean Armitage (Bradley Whitford) dan ibunya Missy Armitage (Catherine Keener) dengan sambutan hangat dan ramah oleh kedua orang tuanya itu. Tapi, hal tersebut tidak berlangsung lama sampai akhirnya Chris menyadari ada gelagat aneh yang terjadi di rumah dan keluarga tersebut.

Get Out memang bukan sekedar film horror biasa, yang menjelma menjadi sebuah horror-comedy yang mampu menyisipkan isu rasisme di tengah cerita yang sangat-sangat berbeda dari yang pernah kita tonton sebelumnya. Hebatnya hal tersebut ternyata bukan tempelan semata yang dibuat oleh Jordan Peele terasa jauh dari kata dangkal. Ia betul-betul mampu melibatkan isu tersebut justru sebagai inti cerita film ini yang memang tak bisa dipisahkan dan melekat antara keduanya. Film ini sangat kontras, antara kulit hitam dan juga kulit putih, dan tentu saja hal yang patut menjadi moment trigger adalah saat insiden seekor rusa yang tiba-tiba melintas dan menabrak mobil Chris dan Rose, lalu disusul polisi yang datang membantu mereka yang justru timbul konflik kecil sebagai moment dimana kita tahu inti permasalahan film ini berasal, sehingga kita seolah tahu bahwa isu rasisme dalam dunia modern ini memang seolah tak pernah habis dan segelintir orang tetap mempermasalahkan perbedaan ras sebagai tolak ukur keburukan dan diskrimansi terhadap beberapa kaum atau ras.

Ya, moment itu hanya sebagian kecil yang disusul oleh beberapa misteri yang menghubungkan hal-hal tersebut dengan beberapa fakta tersembunyi samar-samar namun pasti tetap dicapai. Misteri-misteri yang bergeser pada moralitas dan perlakuan terhadap kaum kulit hitam yang mampu ditampilkan sangat berbeda dari pengalaman saya menonton film-film yang mengedepankan rasisme pada zaman dulu yang jauh lebih heartless semacam 12 Years a Slave. Get Out tampak berusaha lebih halus seraya menampilkan sosok bersahabat namun tampak tetap tidak meninggalkan sisi ketidakmanusiaannya.

Selain dari isu yang menjadikan film ini tampak punya nyawa sebagai inti cerita yang memang jadi kekuatan film ini, ternyata beberapa elemen seperti persentasi, misteri, keunikan cerita, dan tentu saja diantaranya dua hal magis yang mampu di-mixing menjadi satu antara atmosfer intensif dan komedi gelap ala Jordan Peele ini berhasil menjadi santapan film yang sangat lezat. Sejauh film ini berjalan Get Out mampu membuat atmosfer yang tak henti-hentinya membuat tanda tanya dan ambigu atas apa-apa yang terjadi sepanjang film, selama beberapa moment jump-scare yang mengiringi timbal balik kisah yang semakin lama terasa semakin absurd dan mengganggu. Gangguan dan rasa aneh yang timbul dari tatapan, kata-kata dan hingga perilaku-perilaku abnormal yang kadang terekspresikan dengan baik oleh Daniel Kaluuya, bahkan hingga seringai dan ekspresi tak ikhlas Georgina (Betty Gabriel) ini terasa fresh, hingga tampak begitu sederhananya cerita yang dibuat semakin jelas bahwa semakin kita terdorong pada jebakan-jebakan dan sisi cerita yang semakin manipulatif ini semakin jelas pula kelakuan dan hal-hal aneh yang terjadi sepanjang film ini dijawab dengan satu tendangan yang konklusif.

Selain itu keberanian dan kemampuan Peele yang tampak berani mengambil moment-moment komedi yang tersisipkan pada tiap-tiap kemunculan Rod Williams (Lil Rel Howery) teman baik Chris sebagai steal scene sama sekali tidak mengganggu tensi dan atmosfer dark yang telah dibangun. Justru beberapa moment yang kebetulan lucu baik dari Rod dengan perkataan-perkataan bahkan tidak sedikit mengatakan soal perbudakan seks yang notabene entah sebagai senda gurau atau prasangka dan juga tindakan-tindakan yang ia lakukan, meski ia adalah orang yang berada diluar konteks cerita. Ia adalah penyeimbang dimana atmosfernya tidak terjerembab menjadi tenggelam dalam gelap.

Well, inilah jawaban bahwa Get Out telah berhasil menjadi film horror terbaik bahkan mungkin menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Memandang meski adegan slasher dan sadisnya tidak terlalu bloody-hell, tapi apa yang ditawarkan antara kegilaan, weirdness, atmosfer, motif dan cerita film ini patut diancungi jempol. Selain itu juga tak lupa antara halus dan tajam, Peele tetap membawa kamuflase isu rasisme yang saya pandang sebagai isu rasisme modern. Memandang ia tampak halus dan lembut dengan perbedaan  ras tapi tetap mampu menampilkan sisi yang tetap tidak berkemanusiaan sebagaimana hal tersebut bisa tercermin ditengah masyarakat modern. Dan dibalik timbulnya rasa takut dan kecemasan disertai gangguan atmosfer aneh, Peele juga tetap menyuntikkan sebuah komedi atraktif yang eksis namun tanpa mengganggu dan meruntuhkan sedikitpun atmosfer horror film tersebut.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates