• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Nama Martin Scorsese memang telah lama dikenal sebagai sutradara terbaik yang dimiliki Hollywood hingga saat ini. "Raging Bull", "Taxi Driver" "Goodfellas" dan terakhir "The Wolf of Wall Street" yang mencoba mengeksplor sisi hedonisme ekstrim manusia melalui hasrat keduniawian mereka yang gila, kali ini sebaliknya melalui Silence Martin justru mengajak kita untuk berkontemplasi ria melalui perjalanan spiritiualisme rohaniah manusia namun tetap terasa ekstrim dalam berbicara. Silence adalah sebuah penuturan kisah "journey into darkness" manusia dalam mencermati hakikat pemahamannya yang paling tinggi. Tentu saja melalui siksaan, penderitaan dan pengorbanan Silence adalah segenggam upaya Scorsese untuk menyediakan sebuah fasilitas mediasi mencari Tuhan melalui melalui pengalaman umatnya yang faithful.

Di tahun 1637 dua Jesuit Portugis, Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) melakukan perjalanan menuju negara Jepang untuk mencari mentor mereka Ferreira (Liam Neeson) yang dikabarkan telah menjadi murtad dari ajaran kekristenan karena mengalami siksaan. Meski sadar bahwa misi mereka berdua sangat berbahaya terlebih penduduk Jepang saat itu sangat gencar melakukan pemburuan dan penyiksaan terhadap orang-orang katolik.


Silence seolah kata yang ingin menyindir eksistensi Ketuhanan itu sendiri, meski "Where are you god when i need you?" menjadi ucapan yang seringkali kita teriakan dalam hati sembari menunggu jawaban do'a dari-Nya yang tak kunjung pasti. Meski dengan skeptisme besar umat manusia yang punya cara pandang berbeda dalam memutuskan apakah itu benar ataupun salah. Tapi, jelas apapun itu keyakinan (agama) seolah candu yang semakin kamu tenggelam di dalamnya semakin kokoh dinding keimanan itu sebagai landasan pokok untuk mencari ketenangan jiwa. Martin Scorsese lewat adaptasi novel karya Shusaku Endo memaksa kita untuk berkontemplasi, mencari makna sesungguhnya dari faith, quest and sacrifice saat dinding bernama iman tersebut di uji melewati batas-batas kemampuan yang manusia bisa lakukan terhadap keyakinannya.

Faith in your heart, but can you prove it? Makna terbesar Silence sendiri adalah puncak rasa sakit dalam hati, iman, dan fisik. Dimana wilayah antara rasa kemanusiaan dan keimanan seperti sebuah kertas tipis. Jepang adalah kegelapan itu sendiri, ada "collision" besar antara culture dan proselytism. Dan para missionaris ibarat poison yang datang masuk kedalam ekosistem budaya yang telah mengakar di Jepang sebagai sebuah ancaman, meski dibalik itu tersirat makna dalam akan ketulusan dalam ajaran dan cinta kasih agama mereka. Meski disadari ada "collision" yang mustahil untuk menjadi "ikatan" nyata. Jepang sendiri hingga sekarang pun terbukti betul-betul menjaga dan merawat kebudayaan mereka, hingga memastikan merekalah sekarang yang jadi sumber budaya. Meski isyarat dalam film sendiri seolah eksplisit menggambarkan Jepang adalah pembudaya yang kolektif, keras dan kejam terhadap sumber tradisi luar.


Di film ini pun kepercayaan seperti sebuah kebutuhan primer dan bukan lagi tuntutan, ketika manusia yang tergambar oleh realita sekelompok kaum katolik dari rakyat kelas bawah Jepang cukup menyadarkan bahwa ada adiksi, ketersesatan dan penderitaan di diri mereka. Tergenggam oleh otorisasi hingga aturan pemerintahan negara yang berusaha menjaga warisan nenek moyang, Rodrigues dan Garupe pun bukan serta merta karakter sentris tanpa nyawa, mereka terseret dalam arus gelombang besar dengan penderitaan dan taruhan nyawa yang berat sebagai "searcher" dan "missionary" yang diluar diplomasi masuk sebagai akar benalu. Selagi mereka berdua berkontemplasi, merenungi bahwa selain melihat sebentuk keindahan, ketulusan, dan kebaikan di negara Jepang yang masih penuh rawa, hutan lebat, dan kabut tebal. Ada pula struggling akibat penderitaan yang mereka alami cukup sesekali mempertanyakan dan meragukan tentang keyakinan mereka sendiri.

Silence buat saya bukan hanya tentang kepercayaan katolik, buddha dan budaya Jepang itu sendiri, film ini bersifat universal dan bukan film yang melulu mencoba memperdebatkan siapa benar atau siapa salah, sebagai another religion saya pun cenderung menilainya sebagai objektivitas dan observasi perenungan yang dalam saat kita tahu kepercayaan itu sifatnya sama, meski seringkali agama dipakai sebagai pembanding yang justru mengakibatkan perseteruan. Dan itu tersampaikan dari seorang pendeta naif Rodrigues yang sangat teguh pendirian, meski terombang-ambing ditengah kerusakkan dan penghancuran moral yang tengah menimpanya, ada pertempuran fanatisme yang naif dan juga rasa sakit yang menggerogoti hati nuraninya. Dan Kichjiro yang diperankan oleh Yôsuke Kubozuka adalah interpretasi manusia yang relatable, oportunis, egois dan hypocritical mencoba yakin dirinya sebagai bagian dari penganut agama tapi jujur dalam ketakutan yang kadang kita mengamini segala tindakannya yang memang sangat wajar sebagai makhluk kerdil penuh dosa.


Untuk sinematografi Silence berhasil menciptakan kesan cantik dan indah dibalik kegelapan dan kesunyian atmosfer, meski seolah acapkali jeritan tak kasat mata terdengar terasa dekat akibat dari perasaan takut, putus asa, dan dilema yang berakhir di ujung ketidakpastian. Mungkin kekurangan film ini ada di durasi hampir 3 jam-nya yang terlampau panjang, meski secara garis besar film ini menyita kita untuk melihat pemandangan akan sebuah kekejaman dan ketidakadilan, acapkali membuat saya terhanyut dan merenungi jika eksposisi moral tersebut terjadi di dalam agama saya. Teruntuk di Indonesia sendiri film-film bertema religi masih terlalu kaku dan terlalu banyak mengkaitkan sudut pandang agama didalam isu rumah tangga dan percintaan yang sebetulnya sudah cukup melelahkan. Upaya penyegaran seharusnya lebih digelontorkan untuk mengkaitkan isu-isu lainnya yang memang sedang panas terjadi di negeri kita, kurangnya toleransi hingga kenyataan pahit permainan orang-orang yang memanfaatkan "atas nama agama" demi kepentingan politik sama-sekali belum kritis untuk disampaikan.

Well, Silence adalah sebuah perjalanan spiritiual yang mengobrak-abrik tidak hanya emosi tapi juga keimanan itu sendiri, meletup dengan keterbatasan manusia sebagai makhluk yang paling kerdil, merenungi batasan antara kekuatan dan obsesi kita sebagai manusia, hingga mencermati hakikat kedekatan kita dengan Tuhan yang ternyata telah melampaui akal sehat dan nalar manusia itu sendiri. Well done, Marty!
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Howard Hughes (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pengusaha sukses asal Texas. Dia adalah sutradara film—film epik besar pertama sejak jaman film bersuara, Hell’s Angels yang sempat mencetak film termahal dunia, dan film western pamer payudara, The Outlaw. Dia juga merupakan produser film—yang paling terkenal adalah Scarface versi asli tahun 1932 dengan sutradara Howard Hawks. Dan, kecintaannya terhadap penerbangan membuatnya dirinya bangga dijuluki Sang Penerbang. Film ini adalah mengenai karirnya yang penuh pertaruhan besar dalam perfilman maupun industri pesawat, kisah cintanya yang penuh petualangan, dan penyakit yang dideritanya.


REVIEW :
      Sebelum memasuki Tahun 2000-an, Martin Scorsese selalu berkolaborasi dengan aktor yang dulu menjadi artis paling gemilang yaitu Robert de Niro. Kolaborasi itu tak elak memberikan keberhasilan luar biasa pada film-film Scorsese lainnya seperti Taxi Driver, Goodfellas dan Raging Bull yang mendapatkan pujian luar biasa dari berbagai kritikus maupun penontonnya. Setelah era de Niro mulai meredup dan kemampuan aktingnya yang mulai memudar maka ia ingin mencari lagi aktor yang bisa menyamai kejayaannya itu maka bertemulah ia dengan Leonardo di Caprio. Dan percayalah bahwa Leo telah menunjukkan talenta terbaiknya dimana kolaborasi Scorsi dan Leo ini telah menyamai bahkan melebihi kekuatannya dengan de Niro.

Dengan menyandang raihan 5 Piala Oscar memang tak bisa terbantahkan dengan apa yang terkandung di film Aviator ini. Dengan efek warna khas dan sinematografi yang luar biasa, Scorsi menciptakan sebuah film di era 70-an yang tampak begitu real dan brilliant. Ya, sentuhan inilah yang membuat Saya berdecak kagum bahwa film ini mampu tampil mewah meski dengan old fashion-nya. Tidak hanya itu, jalan cerita yang menjanjikan dan begitu kompleks telah hadir menjadi jalinan cerita yang tak mungkin membosankan dengan durasi film yang hampir 3 jam ini.

Tak jauh dari ciri khas Scorsi membuat film yang menggambarkan kondisi psikologis tokoh utamanya yang labil. Dengan kematangan serta karisma Leo yang ditunjukkannya sebagai Howard Hughes sosok pria kaya yang congkak, eksentrik dan playboy tetapi sifatnya yang cenderung terlalu higinies, bertingkah parno dan aneh selalu dianggap gila oleh orang-orang terdekatnya, inilah salah satu bagian terkuat film ini selain dari naskah yang bagus dan sinematografi yang wah. Bukan hanya menggambarkan sisi pribadi sang karakter Howard tetapi bagaimana kita melihat sisi positif karakter dimana kita melihat berkembangnya usaha miliknya dari seorang sutradara fenomenal lalu menjadi pengusaha sukses maskapai penerbangan dengan persaingannya dengan perusahaan-perusahaan lain yang ingin menjatuhkannya.

Well, dengan performa terbaik para pemerannya, telah menolong kita dengan durasi film yang mungkin bisa melelahkan dan mebosankan. Namun segi kekurangan itu pasti ada disetiap film yang mungkin terasa sempurna dari segala halnya. Filmnya sendiri bukan yang terbaik dari Scorsese menurut saya. Tidak mengeksploitasi sisi gila-gilaan dan minim pergolakkan emosional yang biasa ditemukan dalam film-film lain Scorsese. Karakter lain pun terasa hanya jadi tempelan dan kurang memiliki daya tarik. Jadi, The Aviator bukanlah film sempurna dalam karyanya, namun ini tetap menjadikannya film masterpiece dan jenius.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bercerita tentang perjalanan petinju kelas menengah era 50an bernama Jake Lamotta (Robert de Niro) yang berusaha menanjak karirnya menjadi petinju sukses di kotanya, bersama dengan adiknya Joey (Joey Pesci) yang mendukung penuh pekerjaannya itu. Lalu, Jake Bertemu dengan Vickie (Cathy Moriarty) seorang wanita cantik yang ditaksirnya di kolam renang umum yang akhirnya dinikahinya. Lalu kisahnya diceritakan antara problema karir dan rumah tangganya dari awal sampai akhir karirnya.

Film dengan format hitam putih buatan Martin Scorsese ini jangan dilihat dengan sebelah mata. Dengan kekuatan cerita serta akting sempurna hal tersebut tidak akan menjadikan film ini bermutu jelek dan terkesan kuno. Kesan Saya menonton film yang bertemakan tinju diperankan oleh Robert de Niro sangat berkualitas dengan akting para cast-nya yang tak setengah-setengah mampu menguatkan film ini.

Kisah nyata tentang petinju besar di era '50 bernama Jake Lamotta ini mampu digali sangat dalam. Antara kisah kehidupan rumah tangga dan perjalanan karirnya di atas ring pun berjalan secara berimbang. Yang saya suka disini adalah ketika kecemburuan Lamotta yang berlebihan terhadap istrinya yang terlihat terlalu gila dan tambah menjadi-jadi, bahkan adiknya Lamotta pun di tuduh telah bercinta dengan istrinya. Kegilaannya itu malah membuat Lamotta menjadi semakin tidak waras saat berada di atas ring. Tidak hanya menampilkan sisi kerasnya di ring tetapi Lamotta juga menunjukkan sisi kerasnya di dalam rumah tangga.

Hingga di penghujung karirnya ia telah mendapatkan gelar yang ia dambakan lalu pensiun agar ia dengan istri dan kedua anaknya dapat merasakan masa tuanya yang bahagia. Tetapi, sayangnya istrinya meminta cerai dan mengambil hak asuh kedua anaknya akibat ulahnya di bar miliknya sehingga ia harus masuk penjara, bukan mendapatkan kebahagiaan namun malah sengsara dengan kelakuan bodoh yang seharusnya tak ia lakukan.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates