• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Coba kamu pikir kalau film kayak 'Crazy Rich Asian' jadi sebrutal dan sesadis film-film thriller macem Don't Breathe, eh bukan hanya Don't Breathe saja tapi lebih gilanya lagi film ini bukan cuman teror hide and seek penuh keseriusan tapi juga diselimuti unsur komedi tolol didalamnya. Tapi, apa sih yang tidak bisa dilakukan di zaman sekarang mencampur unsur-unsur tersebut dan membuatnya menjadi nyata (baca: Really Crazy Rich!) oleh duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, dan ditulis naskahnya oleh Guy Busick dan Ryan Murphy. Sejujurnya saya nggak mengikuti beberapa film-film mereka kecuali dua sutradara ini pernah collab dalam film horor 'V/H/S'. Tapi, tentu saja film ini adalah sebuah kejutan menarik tahun ini.

Plot film ini seputar Grace (Samara Weaving) yang segera menggelar pernikahan dengan pria yang berasal dari keluarga kaya raya, Alex (Mark O'Brien). Hingar bingar dan kebahagiaan menyelimuti wajah berbinar Grace, bersamaan musik bethoveen melantun mengiringinya kepelaminan. Tapi, siapa sangka petuah menjadi malapetaka Grace ketika ia tidak menyadari kisah horor di rumah itu alias keluarga yang malah membuatnya harus menjadi korban dalam permainan keji, kotor dan kelewat jahat dari para anggota keluarga Alex disana.

Nuansa vintage dengan kesan golding mengisi hampir tiap sudut rumah, seolah terasa bernuansa elegant dan classic. Dalam rumah mewah itu kita akan dikenalkan begitu banyak karakter, terutama pada keluarga besar Alex tentu saja, dan sisanya adalah para 'pelayan'. Grace sebagai pusat cerita satu-satunya yang berusaha survive, berusaha bersembunyi, berlari dan yah mungkin kita akan hafal film-film bertajuk serupa. Tapi, saya pikir sang sutradara sadar jika ia terus membawa cerita linear yang basi akan membuat kisah hide and seek dapat gampang ditebak, jadi sekelibat kita mungkin akan mengira bahwa sampai akhir filmnya ya tentang kucing-kucingan di dalam rumah. Tapi, makin kesini kita makin merasa kalau setiap karakter yang ada bertindak unpredictable, mereka punya peran dalam merubah dinamika cerita. Dan inilah bagian menariknya, contohnya Daniel (Adam Brody) saudara Alex yang ternyata tindakannya diluar perkiraan kita.

Inilah yang membuat Ready or Not jadi sedikit istimewa, ini bukan tentang Grace semata, dibalik motif dan asal-usul keluarga Alex yang punya muatan sektarian. Ada sedikit humanitas dan kemasuk akalan yang hampir saja di awal cerita saya sering takut kalau nantinya para karakter sebanyak ini hanya bertindak mengikuti cerita dan berakhir menjadi tokoh kosong belaka. Bahkan bibi Helene (Nicky Guadagni) bukan pajangan seram mirip tokoh Disney, Ursula. Mereka semua hampir memiliki peran dan sifat bahkan tidak sedikit ada unsur tentang ikatan keluarga dan cinta. Satu sama lain pun punya karakteristik berbeda dan gampang diingat, dan yang paling bisa diingat adalah tingkah tolol dan kocak mereka. Komedinya dibuat cerdas nan tolol, unsur gory-nya yang serius pun lumayan membuat penonton di bioskop pun menunduk sangking ngilunya. Dan dua hal yang berseberangan ini sukses disajikan tanpa saling mendistorsi satu sama lain.

Tapi tentu saja, semua itu mungkin tak sempurna tanpa leading actress Samara Weaving, si Margot Robbie KW yang berperan sangat ciamik. Berperan sebagai Grace, sesosok wanita yang awalnya terlihat biasa, tak merasa aneh dan khawatir dengan keluarga barunya, kecuali rasa cemas normal dari tak diterimanya ia dikeluarga Alex yang berbeda latar dan status sosial, identitas barunya sebagai istri, dan tentu saja raut kebahagiaan yang memancar dari wajah khas wanita baru menikah. Lalu, dibalik 180 derajat ketika kenyataan melewati ekspetasinya. Wajahnya bercampur aduk dari kebingungan, kehancuran dan ketakutan setengah mati, bahkan di akhir pun saya meyukai transformasi aktingnya berubah-ubah mengikuti perjalanan satu malamnya yang penuh darah. Satu lagi, musik yang mengiringi pergerakan-pergerakan gambar Grace mendukung kegilaan suasana hatinya. (Dimana lagi ada wanita yang sedang merasakan kegilaan dihadapannya, malah disuguhi musik beat gitar listrik!)

Tapi, Ready or Not dipersiapkan bukan tanpa celah, ia punya kekurangan kecil tapi mencolok. Kita tahu bahwa ia punya sederet karakter unik yang berbeda yang sebetulnya punya ceritanya sendiri-sendiri. Namun sayang sangking menariknya mereka, diantaranya malah ada yang menggantung, beberapa coba diceritakan ditengah-tengah secara menarik tapi kemudian tak ada jawaban di akhir yang membuat kita sedikit melongo. Dan ini bukan satu orang, bahkan beberapa seolah punya latar belakang menarik, tapi malah jadi setumpuk script asal tempel untuk mengisi dialog mereka. Saya suka motifnya, meski saya rasa sektarian atau pemuja setan kayaknya sudah sering dipraktekan oleh para sineas masa kini, tapi Ready or Not adalah cicipan rasa yang lumayan baru untuk genre serupa, terutama bagian komedinya yang pintar memancing tawa ditengah deras kecemasan penonton melihat nasib Grace. Satu lagi, dialognya pun cukup badass, karena rasanya baru kali ini ada film horror-thrilling yang kontras dan kaya akan jumlah umpatan kasar.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Sebagai penikmat gamenya, film Dreadout adalah film yang mengecewakan. Ditangan Kimo Stamboel sutradara yang sudah lama dikenal berduet dengan Timo Tjahjanto, mencoba untuk menyamai kesuksesan rekannya yang kemarin menyuguhkan action-thriller The Night Comes for Us. Sebetulnya jika saya sedikit meraba-raba film Kimo yang dulu, saya memang belum terlalu suka dengan gaya penyutradaraannya. Setup dalam penyampaian dan cerita Kimo sejak dulu terasa kurang dan amburadul. Tengoklah Headshot yang sebetulnya action scene tak perlu saya ragukan namun begitu melihat cerita amat berantakan yang ternyata ini pun tetap saja menular pada film Dreadout.

Keluar dari plot asli gamenya, dengan latar lebih sempit yang awalnya sebuah kota mati dirubah menjadi apartemen tua dan tertinggal. Kimo sebetulnya tetap setia dengan berbagai element khas Dreadout, terutama flash kamera ajaib dari handphone yang dipakai sang tokoh utama Linda (Caitlin Halderman) sebagai senjata mematikan pengusir setan. Bercerita gang remaja SMA yang mencoba mencari latar video live horror yang dipakai untuk mendapat follower di sebuah aplikasi sosial media. Mendapatkan sebuah ide untuk mengambil latar sebuah gedung tua yang dikenal angker namun memiliki akses terbatas dan terlarang, Linda yang diketahui mengenal penjaga gedung tersebut meminta bantuannya untuk mendapatkan izin untuk bisa masuk kesana. Tapi, seketika kesenangan mereka menjadi malapetaka saat sebuah portal misterius menyeret mereka masuk ke dunia lain yang mengerikan.

Okelah jika mengatakan bahwa penceritaan Dreadout terkesan amburadul meski saya sendiri pun tidak ambil pusing ketika plot ceritanya pun diluar kisah aslinya. Mengadaptasi game memang kerap mengecewakan walau kali ini mencoba membuktikannya lewat film lokal, Dreadout pun tetap saja menjadi sekumpulan adaptasi game gagal lainnya. Garapan Kimo bisa dibilang sangat serius dan ambisius, teknik CGI dan pengambilan gambar pun bisa dibilang oke punya. Melihat setan terbang berbaju kebaya merah sebagai musuh utama mampu meneror dengan wajah bengisnya, adegan demi adegan yang terasa penuh kekacauan dan sentuhan aksi khas Mo Brothers. Tapi, sekali lagi, Kimo adalah ahli pembuat kekacauan, sangking kacaunya cerita yang ia buat pun terasa ikut kacau balau.

Adegan-adegannya terasa buruk dan clumsy, hingga terkadang bukannya menjerit ketakutan justru yang hadir lebih banyak jerit tawa. Sedari awal pun saya sering melihat adegan-adegan yang tidak penting, walau saya mengerti Kimo melakukannya agar dapat membangun watak dan karakter yang berbeda pada tiap tokoh. Alih-alih bagus, justru para pemerannya seringkali bertingkah konyol dan menggelikan, hanya karena Kimo berusaha menampilkan subjek karakter yang berbeda-beda, dan tentu saja berbeda-beda dalam menampilkan kekonyolannya. Ceritanya pun terkesan mondar-mandir, repetitif, sampai kadang sulit membayangkan bahwa apakah Kimo sedang membuat film komedi atau horror, karena sedikitpun tak ada kesan horror yang didapat walau Kimo berani meniadakan jump scare agar filmnya murni menggarap horror atmosfer yang berkualitas. Menghadirkan ciri khas Dreadout dengan kamera flash sebagai senjata Linda pun sedari awal terlihat penuh resiko, perlawanan dari serangan hantu menggunakan teknik unik ini ternyata memang merugikan, apalagi ketika Kimo gagal memberi sentuhan ciri khas game ke dalam film malah membuat filmnya kontan, tambah aneh. Dari segi narasi pun dialog-dialognya terkesan kasar, rancu, hingga saya sempat kebingungan tentang apa yang sedang mereka katakan dan lakukan karena beberapa dialog saling berebutan bagai kucing saya dirumah ribut mengeong menunggu diberi makan, meminimalisir dialog dengan sekedar memanfaatkan umpatan 'sunda' dan kalimat pendek penuh teriakan histeris.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dengan sebuah horror apocalypse tentang invasi alien terhadap bumi, film horror mainstream yang sedikit tampak seperti salah satu karya novelis terkenal Stephen King yang sudah diadaptasi kedalam film tahun 2008, The Mist. Film debut sutradara sekaligus penulis naskah John Krasinski, bersamaan dengan sang istri Emily Blunt, yang keduanya pun sama-sama merangkap sebagai tokoh utama juga sebagai keluarga pasutri tiga anak. Evelyn Abbott (Emily Blunt), Lee Abbott (John Krasinski), dan kedua anaknya Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe). Konsep ceritanya sama seperti "It Comes At Night" tentang keluarga suburbian ditengah hutan lebat, yang harus bertahan hidup dari ancaman mengerikan yang mengintai kapanpun dimanapun oleh sesosok makhluk yang buta namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Sesuai judulnya, film ini tentang sebuah hutan yang sedikitpun tidak boleh mengeluarkan suara keras. Sekilas untuk seorang Krasinski yang notabene baru menggeluti kursi sutradara tidak cukup kerepotan dalam membuat wahana menegangkan dan pintar memainkan narasinya. Sayangnya, cerita film yang digarapnya memiliki banyak kekurangan, cukup beralasan bahwa beberapa adegan dalam film tidak terlalu pintar dan memiliki banyak kecolongan logika. Singkatnya, Krasinski membuat konsep yang terencana dan pintar dalam memainkan latar, tetapi membuat setiap perilaku karakter dalam film ini mempunyai banyak kecerobohan dan kebodohan. Contohnya, saat Evelyn yang mengambil cucian basahnya dan tersangkut oleh paku di tangga.

Meski begitu naskah dan cerita yang juga dibantu oleh Bryan Woods dan Scott Beck, bukanlah point yang membuat A Quiet Place jatuh total. Film ini tentu saja digarap dengan sangat baik oleh Krasinski, melalui sinematografer Charlotte Bruus Christensen yang mampu menghanyutkan saya dengan ketenangan dalam gambar siluet yang indah. Dengan sigap pengambilan landscape ladang jagung, hutan dan kota mati yang sebetulnya tidak terlalu diperlihatkan secara detil sebagaimana cerita film ini pun tidak begitu panjang lebar soal sebab dan asal muasal secara lebih luas, namun dengan gaya bak film bisu mengantarkan ketegangan dan atmosfer yang tak pernah lepas kendali secara sinematis. Selain itu, hal yang membuat A Quiet Place mampu meraih score 95% di rottentomatoes bukan karena horror ataupun konsep ceritanya, tetapi bagaimana Krasinski tetap memasukan unsur soal keluarga begitu kuat dan emosional. Pesan cerita dalam balutan konflik keluarga, dari peran Lee seorang ayah yang menjaga keluarganya tetap utuh, Evelyn yang berjuang mati-matian sebagai ibu saat ia hendak melahirkan anak ditengah kemelut bahaya, dan kedua anaknya terutama Regan, gadis yang merasa bersalah atas masa lalu yang dilakukannya, yang juga menganggap orang tuanya tidak lagi mempedulikan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.

Meskipun saya merasa monster dalam film ini tidak terlalu terlihat mengerikan, apalagi monster yang tidak mampu melihat ini hanya terlihat beberapa kali sekelibat seperti bayangan. Tapi, horror yang mengandalkan jump scare dan atmosfer ini tetap konsisten menjaganya sampai akhir, dengan konklusi yang tidak sampai jatuh pada antiklimaks.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dulu saya sempat mengira bahwa film horror adalah salah satu out date genre yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Melihat bagaimana pola pikir masyarakat yang sudah begitu maju dan seolah mereka tidak lagi gampang ditakuti oleh apalagi hal berbau mistis. Mendapati cerita teman saya yang baru menonton film IT, alih-alih takut sepanjang film, teman saya yang sebetulnya terbilang super-duper penakut malah menganggap Pennywise adalah badut yang lebih banyak berbuat konyol ketimbang seram. Tapi, sungguh daya tarik horor tak ubahnya genre lain yang berkembang seiring semakin canggihnya teknologi CGI, ada yang menyebutnya horror anti-mainstream atau modern horror. Horror jalur baru inilah yang kerap menghasilkan horror berkualitas dengan hasil berbeda seperti "The Witch" dan "It Comes At Night." Nah, kebetulan digarap oleh studio yang sama, A24 kembali menelurkan film antimainstream lainnya berjudul Hereditary.

Hereditary punya formula yang sama dengan keduanya, yaitu horror psikologis nan mengganggu lewat sesuatu yang tak nampak tapi menciptakan rasa takut dan cemas luar biasa. Dinahkodai oleh debut sutradara Ari Aster yang juga merangkap penulis naskah, menjadikan film Hereditary yang cukup banyak menjadi perbincangan hangat ini sukses membuat saya hampir terlompat dari kursi bioskop oleh pengalaman teror dengan rasa berbeda yang bahkan tidak saya jumpai dari film The Conjuring sekalipun. Meski tidak relevan untuk membandingkan dengan film tersebut, tentu saja Hereditary memiliki satu tingkat lebih baik dari film garapan James Wan ini.

Bercerita tentang Annie (Toni Collette) yang berprofesi sebagai pembuat miniatur bangunan, bersama dengan keluarga kecilnya yang terdiri dari suaminya Steve (Gabriel Byrne) dan kedua anaknya masing-masing si sulung, Peter (Alex Wolff) dan bungsu, Charlie (Milly Shapiro). Pasca ibu Annie meninggal karena penyakit demensia dideritanya, keluarga Annie perlahan mulai mengalami berbagai kejadian aneh dan mengerikan, yang kemudian menuntun Annie dari ancaman yang diwariskan oleh keluarganya sendiri secara turun temurun.

Ada yang mengatakan Hereditary ini memiliki kesamaan cerita dengan film Indonesia, Pengabdi Setan. Meskipun dibilang sama, tapi film yang tampil di Sundance Film Festival Februari 2018 lalu memiliki banyak modal untuk dianggap sebagai film unik dan berbeda dari film horror biasanya. Mungkin plot cerita terbilang umum, tapi saya suka bagaimana Aster mengolah sedemikian rupa sehingga malah menghasilkan teka-teki dan sandiwara penuh konflik emosional. Katakanlah saya tadi bilang bahwa Hereditary hampir membuat saya terlompat dari kursi, mungkin terdengar hiperbolis tapi jujur Hereditary bukan film bermodal jump scare sana-sini dengan scoring berlebihan demi menaikkan atmosfer. Cukup sederhana, film yang bermain dengan tempo lambat ini, membakar perlahan-lahan agar penonton jadi tenggelam didalamnya, sehingga beberapa kejutan yang bisa dibilang begitu tipis dan tak terduga begitu efisien mencengkram bulu kuduk penonton.


Tapi, horror dan ketakutan bukan elemen utama yang membuat Hereditary gampang disukai, Aster pun tidak main-main mengolah setiap sisi baik sinematografi yang apik hingga pengenalan karakter yang kuat. Sinematografi dari Pawel Pogorzelski melengkapi teror lewat visualnya, banyak gambar hingga close up wajah dengan beragam ekspresi sanggup memicu ketegangan dan emosi. Sinematis yang tidak saja mengagumkan, tapi juga sanggup melekat di ingatan penonton dalam jangka waktu lama. Dari kualitas akting yang didominasi oleh empat orang, Toni Collette sebagai leading act berakting luar biasa, berlakon sebagai Annie, ibu rumah tangga yang depresif dengan penyakit mental yang diwariskan oleh keluarganya, performa yang ditampilkan dengan segala kegelisahan dan kegilaannya mampu membuat saya sesak tak terhingga. Milly Shapiro dan Alex Wolff sebagai young cast juga punya daya magis dalam cerita, Milly yang digambarkan sebagai anak kecil dengan tingkah lakunya yang weird abis, dan Wolff berakting diluar dugaan dengan sosok remaja tanggung yang hobi menghisap ganja bersama temannya, tapi beberapa kali sorot wajahnya terekam begitu intens menjiwai karakternya yang labil ditengah kegilaan melanda keluarganya, dan salah satu scene yang memorable adalah ketika Peter memukul wajahnya di meja sampai berdarah, dan adegan ini real dilakukannya. Dan terakhir Gabriel Byrne, sosok kalem dari bapak yang kerap menjadi penengah dikeluarga gila ini.


Tapi, bukan berarti Hereditary berakhir tanpa cela, kerap kali saya membaca kritikan soal ending yang dianggap chessy, bahkan ada yang bilang gini, "endingnya udah gitu aja?". Hal ini pula yang saya rasakan setelah ending credit scene berakhir, ada mood yang hilang bercampur ketidak efektifan Aster meramu hasil, meski saya rasa semua kepingan puzzle tersusun rapi dengan simbolisme soal kutukan dibuat dengan sangat baik. Tapi, klimaks selalu punya peran besar menggeser mood penonton meski film Hereditary sendiri punya power cerita efektif luar biasa. Meski begitu, sekali lagi A24 berhasil merangkul horror antimainstream-nya, membawa teror psikologis dan curse-movie ketingkat lebih tinggi, beautiful, unique, powerful, emotional and to be sure it's haunting.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kenapa wanita selalu jadi korban pelecehan dan pemerkosaan? Seringkali tuduhan yang menyebabkan pelaku (lelaki) memperkosa wanita karena akibat dan ulah wanita itu sendiri. Jika tubuh perempuan tersebut semakin terbuka dan menggoda maka otomotis status wanita tersebut semakin inferior dan impolite, bahkan digenerelisasi secara intelektual dan dianggap sumber biang keladi masalah. Jadi, sangat wajar jika wanita jauh lebih banyak mendapat perkosaan karena perilaku mereka sendiri. Jika seperti itu kemana posisi laki-laki untuk bisa menghargai wanita dan tubuh mereka bukan sebagai objektifikasi dan olok-olok semata?

Revenge berasal dari film Prancis yang di nahkodai oleh sutradara debutan Coralie Fargeat. Melalui film pertamanya Revenge bercerita tentang seorang wanita sosialita bernama Jen (Matilda Lutz) yang diajak berlibur oleh kekasihnya yang kaya Richard (Kevin Janssens), di sebuah lokasi rumah mewah terisolasi di tengah padang gurun tak bernama. Tentu saja Jen tidak sendirian, Richard yang seorang pemburu ternyata mengajak kedua temannya Stan (Vincent Colombe) dan Dimitri (Guillaume Bouchède) ikut tinggal bersama mereka tanpa sepengetahuan dirinya. Tentu saja hal yang tidak diinginkan Jen terjadi, ia mendapat tindak perkosaan bahkan pembunuhan oleh ketiga pria tersebut. Dianggap sudah mati, Jen yang ternyata masih hidup menuntut balas dendam atas perbuatan ketiganya.


Film Revenge terdengar klise, iya. Tapi, Revenge buka film tanpa konteks, meski genre rape-revenge sudah kesekian kali dibuat, bahkan hampir berbarengan dengan film serupa yang berasal dari Indonesia, Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak. Coralie yang merangkap sebagai penulis naskah punya motif kuat yang bersandar pada isu feminisme dan eksploitasi wanita, tapi tentu dengan pendekatan yang sangat maskulin. Film ini penuh dengan adegan brutal, gory, bloody dan mengekspos rentetan adegan sensual. Tentu film ini tentang konfrontasi antara 1 wanita dan 3 pria, mengajak kita peduli soal nasib Jen yang terperangkap tak berdaya tanpa kekuatan dan pelindung. Perkosaan seperti sebuah kisah teror realita tak terelakkan pada wanita menghadapi takdir dominasi dan patriarki pria.

Eksploitasi adalah permainan yang dibawa Carolie ke ranah cerita, saya mengerti kenapa kamera begitu ragam mengumbar hampir seluruh bagian fisik Jen yang kerap mengundang birahi dibabak awal cerita. Kemudian melalui gestur dan mimik canda-menggoda didepan 2 pria asing, Jen tampak berjoget gemulai tanpa bimbang karena ia tahu sang pacar Richard disana sama-sama menyaksikannya. Lalu ditengah kesempatan lahirlah pemerkosaan. Dan selalu dibalik pemerkosaan melahirkan pembunuhan. Coralie sengaja memfasilitasi tokoh utama Matilda Lutz untuk terus berpakaian minim, meski seringkali ia berpakaian terbuka bukan untuk menggoda, kadang situasi dan kondisi tak mendukung dirinya untuk tampil tertutup. Bahkan ketika Jen, Stan dan Dimitri berpapasan pertama kali, bukan keinginan Jen untuk memperlihatkan dirinya sedang memakai celana dalam, kan?



Meski Carolie memuat isu feminisme. Tapi, saya menyukai bagaimana Revenge mencoba mempropoganda dua sisi koin baik-buruk. Bahkan Jen bukan serta-merta tokoh yang purely, gadis baik-baik lalu mendadak jadi korban. Semua punya asal muasal, sebut saja Richard peselingkuh yang berstatus keluarga ternyata seorang yang kasar dan kejam, Stan, pengecut yang penuh nafsu yang juga berstatus keluarga, Dimitri, pria apatis, bodoh dan doyan planga-plongo dan Jen tokoh utama yang ternyata seorang pelakor. Dan kemudian kita ditanya siapa yang jadi pemicu masalah? Apakah karena Jen seorang pelakor lalu ia bisa dicap sebagai wanita penggoda sehingga wajar jika ia diperkosa, sedangkan Jen kemudian dianggap wanita disposable, slut dan brainless oleh ketiga pria ini. Bahkan beberapa ucapan ofensif menohok masuk ke telinga saya mendengarkan pria-pria ini merendahkan Jen, "Woman always put up a fight" dan "Even for your tiny little oyster brain, it shouldn't be too difficult to understand." Ah, sakit!

Coralie tidak terlalu banyak menggunakan dialog, ia menggantinya dengan bahasa visual, gestur serta mimik wajah. Semudah kita mengetahui bahasa tubuh dan gestur Jen yang menggoda setiap saat, tatapan mesum nan mengganggu Stan yang kadang digambarkan sebagai predator iguana, tingkah planga-plongo Dimitri yang mengesalkan, dan bajingan bernama Richard yang patut dibenci atas tindakannya yang picik. Dengan membeberkan informasi seminimal mungkin, keyakinan moralitas tiap individu terasa twisted. Bermotifkan balas dendam yang terasa dominan, dari perubahan drastis wanita lemah dengan celana dalam seksi sekejap berubah menjadi wanita badass, kejam dan anarkis tanpa dipertanyakan lagi. Tentu saja tanpa peduli bahwa Jen adalah pelakor sekalipun, kita ikut mendukung aksi balas dendam yang dilakukannya.


Selain cerita, visualisasi yang dihamparkan Carolie terasa memikat dan berani, film dengan hamparan tanah tandus terasa gritty, dipadu dengan warna pinky. Kemudian ditimpal dengan adegan penuh darah merah meluluh lantah kesetiap saat dan tempat seolah sedang banjir darah, bahkan Carolie mengaku selalu kehabisan darah palsu hanya untuk mengisi adegan berdarah yang tidak tertampung jumlahnya. Meski saya tahu ini bukan film Quentin Tarantino, tapi adegan gore yang ditampilkan Carolie terasa menyakitkan dan berdarah-darah, bahkan memaksa penonton yang sudah terbiasa dengan film serupa harus menahan rasa ngilu dan sakit, apalagi adegan Jen yang tergelepar di atas pohon kering dalam keadaan terbalik tak nyaman, sembari menahan sakit perut tertusuk berjam-jam dialiri darah segar sudah cukup membuat saya lemas. Ditambah lagi, Carolie berhasil membuat sebuah adegan saling berburu yang menegangkan dan intens, meski ada satu adegan dimana saya disuruh menyaksikan adegan berputar-putar di satu tempat, dan juga absurditas tato burung di perut Jen kadang menggelitik pita tawa saya, tapi film ini tetap sangat menegangkan (menghibur).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kanibalisme, sebuah kata yang cukup terdengar mengerikan di telinga awam. Lewat temanya saja kanibal seolah identik dengan kekejaman, kebrutalan dan pemberi rasa mual karena manusia normal mana yang mau melihat manusia memakan manusia lainnya ketika bagian tubuh dicabik dan dimutilasi sampai pada tingkat mengkonsumsi layaknya daging sapi dimakan mentah. Identitas itu cukup melebur secara klasik dalam dua film bertema serupa seperti "Cannibal Holocaust" yang kontroversi dan "The Silence of the Lambs" yang fenomenal. Raw aka Grave merupakan film berbahasa Prancis, debut sutradara Julia Ducournau yang kembali memberi tantangan pada penontonnya apa arti dari kanibalisme sebenarnya bukanlah soal tradisi suku primitif ataupun merupakan gejala penyakit psikopatik, melainkan gejala dalam sosial urban yang ternyata mampu melekat dalam kondisi manusia normal manusia yang bersifat 'natural'.

Justine (Garance Marillier) merupakan gadis remaja yang baru saja akan memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswa di kampus kedokteran hewan. Semua keluarga Justine berprofesi sebagai dokter hewan sekaligus penganut prinsip hidup vegetarian. Sebelumnya Justine harus mengikuti kegiatan ospek mahasiswa yang dilakukan oleh senior di kampusnya. Namun, melalui beberapa kejadian memaksanya melanggar prinsip keluarga dan terpaksa mengkonsumsi daging sebagai pantangannya. Lambat laun Justine menemui gejala aneh setelah ia tahu pertama kalinya rasa dari daging yang ia makan hingga membawanya menyadari akan dirinya adalah seorang kanibal yang kecanduan.



Mencampur kisah coming of age, Raw secara simpel menjelma sebagai horror (drama) tentang kehidupan gadis normal ditengah tekanan sosial dan pencarian jati dirinya sebagai remaja belasan tahun. Justine tampak sebagai gadis biasa, polos, pendiam (kuper) namun cerdas dalam bidang akademiknya. Justine pun begitu akrab dengan seorang pria gay yang baru ia kenal dan juga sekamar dengannya, Adrien (Rabah Nait Oufella) sebagai satu-satunya teman dekatnya yang baik dan ramah terhadapnya. Selain itu Justine pun memiliki seorang saudara kandung sekaligus seniornya sendiri bernama Alexia (Ella Rumpf), wanita berperawakan emo, kasar, egois dan suka seenaknya terhadap Justine.

Raw mengajak saya menikmati gelagat tumbuhnya kepribadian Justine sekaligus mengungkapkan fakta dirinya sebagai seorang kanibal yang tidak diketahui oleh dirinya sendiri. Antara dilema moral sebagai manusia dan hewan kanibal. Pergolakkannya dalam mencari jati diri sembari mengenal siapa dirinya, hingga menawarkan sedikit romansa pergolakan jiwa muda dalam kenaifannya mencari cinta kepada seorang homoseksual ataupun mudahnya ia diperalat oleh tindakan senioritas dan dominasi dari kakaknya sendiri.


Ducournau yang juga selaku penulis naskah film ini mempunyai sekelumit misi untuk memberi kesenangan demi kesenangan meski tempo mengalun lambat, melalui visualisasi yang cukup gory dan mengganggu, dari sekedar memakan rambut sampai mengubek-ubek anus sapi. Ducournau dengan rasa tak berdosa memaksa penonton gentar dengan teror visualnya, hingga film ini selesai tiada kata indah terucap untuk merangkai kisah yang begitu menjijikkan namun cantik, selain menahan lahap makanan yang hampir terkunyah masuk tenggorokan kembali dimuntahkan akibat hampir setiap adegan dipenuhi kegiatan-kegiatan menjijikkan dan mengganggu yang asalnya tidak semua berasal dari adegan kanibalisme. Sedangkan Ducournau sengaja mempropoganda penonton lewat visual tapi tidak lewat teror kanibal yang adegan tersebut bisa dihitung dengan jari dan tak segila yang dibayangkan.

Selain itu Raw menyelipkan isu remaja dalam pencarian identitas, saat para pemilik almamater ini begitu liar dalam kegiatan mereka diluar jam kegiatan kuliah dengan masih tercium aroma seks bebas, cinta monyet, senioritas dan alkohol disamping fakta yang tanpa kita sadari film ini masih dalam ruang lingkup kampus dan asrama. Di lain hal Ducournau menjelaskan hubungan antara Justine dan Alexia sebagai saudara kandung pun tampak absurd, kecenderungan antara perasaan benci-cinta itu justru merusak konflik relatable dalam perkembangan cerita sebagaimana kisahnya sendiri lebih banyak dibangun oleh hubungan keduanya, dan justru ketertarikan saya muncul pada hubungan semi-romantis antara Justine dan Adrien yang kadang menemui dilema.


Raw sebenarnya bukanlah film kanibal yang terasa menghantui dan memberi ruang teror mengerikan, hasil itu hanya tampak pada usaha keras Ducournau menonjolkan ke semuanya dari segi visual yang disturbed dan bukan pada pola kisah yang lebih berani dan menantang. Menampik batas-batas kewajaran dalam sinematis yang masih terlihat memikat dan cantik, Raw dikategorikan horror kanibal yang masih wajar dan tidak pada sampai tahap kontroversi, meski terdapat kasus pada Festival Film Gothenburg, Swedia. Raw setidaknya membuat 30 orang meninggalkan layar bioskop sebelum film selesai, sisanya dikondisikan pingsan dan muntah saat menontonnya.

Tapi, Raw masih bisa ditolerir, akting memikat artis muda Garance Marillier cukup memberi nuansa teror dalam keheningan yang sangat intens yang cukup dapat dinilai dari tatapan matanya yang tajam mengumbar nafsu buasnya, hingga tahap adegan vulgar dan gila yang berani ia lakukan. Selain itu melalui tema horror urban film ini menunjukkan identitas kanibalisme, karena Ducournau sendiri sedang menggambarkan eksistensi mereka yang bisa saja hidup ditengah masyarakat seperti yang pernah disampaikan melalui film "The Neon Demon", ataupun persamaan akan gelora hasrat para kanibal terhadap daging manusia sebagaimana keluarga vampir Cullen pada darah manusia. Obsesi, kecanduan, orientasi hingga sifat natural seorang kanibal yang kemudian ditampar oleh kesadaran berpikir manusia yang masih menggunakan hati nurani dan akal.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Tangan buntung dan kaki buntung, Arlen (Suki Waterhouse) telah menggambarkan realita kejam dunia distopia yang dihiasi gurun mati dan tandus, untuk seorang wanita muda yang juga tergabung dalam gerombolan manusia terbuang (The Bad Batch), aturan tak berlaku di dunia yang terisolasi di wilayah Texas, Amerika Serikat sehingga menjadikan sifat mereka liar dan gila. Sang sutradara sekaligus penulis naskah Ana Lily Amirpour melahirkan sebuah ambisi cantik dari sekedar film pertamanya "A Girl Walks Home Alone at Night", sebuah kota di Iran yang didalamnya terdapat vampir penghisap darah. The Bad Batch melahirkan dunia yang menghempaskan moral apalagi hukum, saat kaum kanibal adalah hal paling mengancam di dunia yang dilalui Arlen.

Ada beragam rasa saat melewati ide kreatif yang ditawarkan Amirpour, para kaum kanibal yang atletis dan berotot, sampai permukiman kumuh yang disebut sebagai "Comfort", dimana komunitas masyarakat tersebut dipimpin oleh pria eksentrik bergaya retro, The Dreams (Keanu Reeves), menggandeng sederet istri berperut buncit (hamil), suka berpesta di malam hari dengan house music dan menenggak drugs mencari kesenangan. Arlen sebagai fokus cerita awalnya adalah korban mangsa para kanibal, setelah mencoba lolos, ia lalu ditemukan dan ditolong oleh The Hermit (Jim Carrey), seorang gelandangan yang membawanya ke "Comfort", sebuah tempat teraman dari serangan kaum kanibal. Singkat cerita, 5 bulan kemudian, Arlen menuntut balas atas perlakuan kaum kanibal. Hingga dalam perjalanan ia pun bertemu dengan salah satu kanibal bergaya macho-meksiko bernama Miami Man (Jason Momoa) yang sedang mencari Honey (Jayda Fink) anaknya yang hilang.

The Bad Batch memang punya daya tarik sendiri, memancing dunia distopia dalam balutan arthouse yang nyentrik dan aneh, plus alunan soundtrack retro electronic. Plot awal terasa meyakinkan, mengenalkan kita pada tokoh utama Arlen, kehilangan arah dan tujuan, berjalan sendirian di tengah hamparan gurun panas dan tandus, hingga mengawali keganasan Arlen sebagai korban kaum kanibal. Kehilangan satu kaki dan satu tangan, horror dan ancaman telah tereskalasi dengan baik, apalagi kegilaan berlanjut saat melihat sekumpulan pria berotot dan bermuka seram adalah kanibal itu sendiri. Membuat dunia yang terasa ngeri-ngeri sedap, dan juga bagaimana landscape sinematis berhasil ditangkap pada tiap-tiap moment terasa prestisius. kembali mendapuk Lyle Vincent (A Girl Walks Home Alone at Night) yang berhasil memvisualisasikan dunia yang statis lagi suram terasa cantik dan indah.


Sayang, langkah narasi tidak secantik wajah Suki dan segala aspek artistiknya, dasar cerita yang ingin disampaikan Amirpour mulai terlihat cacat, saat Arlen bergerak dengan motif balas dendam tanpa dasar yang kuat. Pertemuannya dengan Honey, hingga mencuat hubungan tak kasat mata antara Arlen dan Miami Man, mulai mempengaruhi tujuan yang saya pikir Amirpour memberikan tidak sekedar cerita aksi dan gila semacam "Mad Max: Fury Road". Tapi, menampilkan bahwa manusia tanpa belas kasih pun masih memiliki "cinta" dan "kasih sayang" untuk dilindungi. Tapi, ini lebih dari sekedar banyaknya kejanggalan cerita, mencuat segala aksi tanpa toleransi, hingga ketidakmasuk akalan gerak-gerik dilakukan Arlen tanpa intelektual. Keanehan, absurditas hingga keseimbangan tiap konflik tokoh sama sekali tidak koheren, semua tampak aneh dan konklusi akhirpun tanpa rasa heran semakin memberi rasa beban menonton, menghubungkan soal "cinta" dan "tujuan".

Dilandasi kegilaan, distopia dan carut-marut moralitas, tapi sedikitpun adegan brutal tidak lebih dari Miami Man memotong daging manusia seperti memotong daging sapi, lalu disantap seperti barbeque di siang hari. Filmnya tak segila yang dibayangkan, bahkan beberapa kali menelantarkan peran macam Keanu Reeves, tanpa mengerti apakah ia betul-betul jahat atau baik yang pintar berkata bijak dan berfilosofi. Giovanni Ribisi pun demikian, pria autis yang selalu teriak-teriak tak jelas di Comfort, memancing kegaduhan dan kebodohan tapi sama sekali tak penting untuk dilihat. Mungkin salah satu yang cukup menarik, Jim Carrey, laksana gelandangan bisu, yang kadang bersimpati dan berperilaku konyol di depan Arlen dan Miami Man, meski akhirnya perannya tak sejalan dengan rasa empati yang dimilikinya, cenderung juga tokoh tak penting.


The Bad Batch, memang sepenuhnya film dengan porsi cerita yang dangkal, alih-alih pintar pun sedemikian buruknya, Arlen dengan tipikal heroine yang kebingungan mencari arah dan tujuan, sama dengan bingungnya Amirpour menentukan perwatakan, konflik hingga emosi tokoh untuk meningkatkan dramatisasi dan juga simpati kita pada Arlen yang juga minim identitas siapa dia sebenarnya, dan kenapa ia bisa dibuang. Meski dibalik itu, Suki cukup terampil membuat tatapan yang kuat dan indah, dengan segala kelemahan dan cacat tubuhnya di dunia yang jelas keras dan tak berperkemanusiaan, bahkan mengalahkan tubuh sixpack Jason Momoa yang kuat dan indah.

Cinta dan ketertarikan dalam hembusan dunia penuh bad batch dan immoral, tapi sayang ini tidak terlalu indah untuk terealisasi. Meski saya cukup punya bayangan keren soal hubungan antara si Arlen dan Miami Man, bagaimana rasa benci dan canggung itu berbuah cinta dan petualangan yang mempertemukan keduanya antara si kanibal jahat penuh cinta dan si korban yang penuh kebimbangan tanpa ambisi. Tapi, ini tidak cukup, terlalu banyak kebodohan dan pesan filosofis tak karuan. Perkembangan karakter yang lemah, meski filmnya jika ditilik secara visual dan audio memang terasa eksentrik dan cantik. Pada akhirnya The Bad Batch hanya cita rasa coca-cola yang sengaja dicampur dengan minyak kayu putih, segar di awal namun menyengat dan membuat mual di akhir.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Horror biasanya didasari dengan seberapa mampu film tersebut mampu membuat penontonnya mengalami teror mimpi buruk. Semakin menyeramkan semakin baik. Tapi, mungkin tidak berlaku bagi A Dark Song, meski kental dengan nuansa okultisme yang menyajikan usaha berkomunikasi dengan dunia spiritual dan gaib. Namun film yang berasal dari negara Irlandia yang digarap oleh sutradara pendatang baru Liam Gavin, bukanlah film yang jor-joran membuatmu berteriak histeris sambil menutup mata berkali-kali melihat wujud astral yang menyeramkan. Tidak, film berdurasi 1 jam 40 menit hanya berisi muatan ritual rumit dan panjang, yang secara garis besar adalah praktek seorang dukun dengan mantra dan ilmu sihirnya digambarkan secara menyeluruh, antara bahaya serta konsekuensi yang dihadapi seorang penganut ilmu hitam.


Seorang wanita bernama Sophia Howard (Catherine Walker) meminta bantuan occultist berpengalaman Joseph Solomon (Steve Oram) untuk melakukan praktik ritual sihir yang dikenal dengan sebutan "Abramelin", yakni ritual yang diyakini mampu membuat seseorang berkomunikasi langsung dengan malaikat pelindung pribadinya. Sophia melakukan hal tersebut demi bisa berkomunikasi dengan anaknya yang meninggal, Jack, yang masih berumur 7 Tahun. Ia menyewa sebuah rumah dipinggiran kota Wales, dan mengajak Solomon untuk melakukan ritual tersebut disana. Tapi, ritual yang mereka lakukan memiliki banyak rintangan dan pantangan, termasuk mengharuskan mereka terisolasi didalam rumah selama berbulan-bulan. Hingga hal tak terduga membuat ritual mereka menjadi berantakan dan berujung malapetaka.

Seperti yang sudah singgung barusan, A Dark Song memang bukan tipikal horror yang dipenuhi hal-hal menakutkan seperti jump scare, bahkan disajikan dengan slow-burning tanpa memainkan atmosfer hingga scoring dari Ray Harman juga tidak membuat film ini lebih menyayat dan disturbing. Tapi, A Dark Song punya sesuatu yang istimewa sebagai bagian dari ritual yang tidak sesederhana kelihatannya. Gavin sekaligus penulis naskah film ini terinspirasi dari salah satu ritual sihir dari para pendiri oklutisme modern yang konon diambil dari sejarah kenabian kaum Yahudi. Untuk hal ini mungkin saya tidak akan menjelaskannya secara rinci dan anda bisa membacanya sendiri di google, hanya saja saya terhibur bagaimana ritual ini disajikan melalui pengalaman yang cukup mistis dan janggal selain dari bahaya yang mengintai diantara mereka berdua.



Seperti kita tahu, hal-hal bersifat black magic dan mistis berlaku banyak syarat dan pantangan yang harus dipenuhi. Dan film ini mewujudkan sebuah ketegangan psikologis kala Solomon dan Sophia harus melewati tahap demi tahap syarat yang harus dipenuhi agar ritual berjalan mulus. Terutama hal ini dijumpai Sophia yang tersiksa lahir dan batin, dari melakukan sesuatu yang menjijikkan, semedi tanpa makan dan minum hingga buang air pun tidak diizinkan, hingga pelecehan seksual serta maut yang hampir merenggut nyawanya. Memang gila tapi dasar motifnya cenderung kuat, dirundung duka dan kehilangan, sampai-sampai membuatnya menjadi seorang murtad dan kafir. Terjerumus sebagai pengabdi ajaran sesat. Sophia menjadi seorang figur emosional yang memendam rasa kebencian, kesedihan dan kesesatan namun proses 'menemukan' dari film ini nyatanya memberikan sebuah pengalaman spiritual bagi dirinya sendiri, tanpa memberi momok kisah kontemplasi, tapi nyatanya akhir dalam film ini menjelaskan tentang hati gelap seorang manusia. Ya, akhir yang buat saya tidaklah biasa.

Bagian menarik lainnya adalah kisah hubungan Solomon dan Sophia diibaratkan sebagai seorang guru dan murid. Meski tahu bahwa Solomon dibayar mahal oleh Sophia, tapi Solomon digambarkan berwatak keras, galak dan otoriter, hingga saya pun kadang menyengir melihat ketidak akuran keduanya saat Solomon bukan perihal orang yang mau diperintah seenaknya oleh Sophia meski tahu ia sudah dibayar. Bahkan sesekali Solomon menyiram ember berisi air ketika Sophia terlelap tidur. Tapi, ini tetap bisa dipahami mengetahui Sophia seringkali melanggar aturan-aturan yang berlaku bagi ritual, dimana jelas ia seolah menyepelekan ritual berbahaya ini. Dilain hal mereka juga harus berhadapan dengan dilema ketidakpastian karena hasil dari ritual ditentukan oleh kesucian Sophia baik lahir dan batin, jika berhasil tentu saja keinginan Sophia akan terkabul, jika gagal sudah pasti liang kubur siap menanti mereka berdua.


Gavin pun secara menyeluruh tetap menyajikan bingkaian estetika dalam balutan ritual gelap diterangi lilin yang mengelilingi bilik rumah, juga dekorasi ritual yang semakin menambah sensasi mistis yang kental. Hingga menghamparkan beberapa kejadian aneh namun dibentuk indah sedemikian rupa melalui ketenangan dan depresi, dengan kesan mencekam yang dibuat Gavin secara ringan hingga di penghujung kisah pun cukup berhasil memberi teror keputusasaan kala menyambut klimaks ritual yang memberikan getaran fantasi yang memukau. Setiap momen film bisa ditangkap saat ritual panjang dan melelahkan menjadi bagian yang sangat akurat kala menemukan sebuah ritual yang tidak sedikit membeberkan subtil moral menyangkut karakter Sophia yang notabene dibutakan oleh keinginan balas dendam, hingga Solomon pria brewok yang galak tapi bersikap jujur dan idealis. A Dark Song adalah sebuah penyampaian horror yang substansial, mungkin bagi penggiat horror akan sulit menyukainya karena sepanjang durasi film ini sama sekali tidak akan berusaha membuatmu takut setengah mati, tapi ini tetap sebuah gagasan ide yang unik saat Gavin memperlihatkan detil ritual yang mengasyikkan sekaligus gila, eksekusi yang menyajikan drama psikologis hingga estetika keindahan ritual dalam balutan mistis yang begitu pekat tersaji. Ya, daripada itu saya pun menyadari bahwa niat Gavin seolah mencoba mengutarakan kegelapan hati manusia dengan tamparan, penerangan, kepercayaan dengan cara yang biadab dan kotor tanpa harus berusaha mengajarinya dengan kontemplasi keimanan yang halus.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya jadi teringat dengan salah satu horror indie-classic The Blair Witch Project yang terkenal karena menyampaikan materi horror-nya dengan cara tak biasa melalui kekuatan atmosfer mencekam tanpa harus bersusah payah menakuti penonton dengan jump scare atau penampakan mengerikan seperti halnya hantu, iblis, vampir ataupun zombie sekalipun. Sama halnya dengan It Comes At Night, "It" yang dimaksud dalam judulnya memiliki makna jamak dan tidak bisa dikategorikan sebagai entitas makhluk atau mungkin bisa dikatakan demikian, sebagaimana hal-hal seram yang terjadi dalam film ini justru datang dari sesuatu yang disebut kondisi dan keadaan yang memaksa manusia harus berjibaku untuk bertahan hidup. Psikologis manusia yang dilanda ketakutan ekstrim inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Trey Edward Shults sebagai horror-thriller psychological yang mendebarkan jantung.

Premis filmnya meyakinkan, sebuah zaman pasca-kiamat dimana penyakit menular dan mematikan melanda dunia, tapi tentu saja Shults membuatnya menjadi minimalis, sama seperti 10 Cloverfield Land, set dunia yang diperlihatkan justru hanya dari sepetak keluarga yang hidup terisolasi dalam rumah di tengah hutan, diantaranya Paul (Joel Edgerton), istrinya Sarah (Carmen Ejogo) dan anaknya Travis (Kelvin Harrison Jr.). Sehingga hal-hal di film ini sengaja ditutup-tutupi dan detil isu dalam kiamat pun takkan pernah terjelaskan secara lebih rinci, meski begitu apa yang disampaikan Shults tetap meyakinkan, kekuatan cerita yang dihamparkan secara menakjubkan memberi atmosfer mencekam kala teror tersebut datang dari ancaman dibalik gelapnya hutan, penyakit menular, hingga dilema moral kala manusia berhadapan dengan keputusasaan dan ketakutan. Hingga Paul dan keluarganya didatangi oleh seorang pria misterius dan mencurigakan yang mengaku datang ketempatnya hanya untuk mencari air bersih demi menunjang kehidupan anak dan istrinya yang tinggal beberapa kilometer dari tempat Paul tinggal.


Moment film ditangkap melalui atmosfer kala mengelilingi tiap bilik kayu rumah Paul yang gelap gulita saat malam datang dengan penerangan seadanya, hingga menyusuri hutan gelap yang mendapati aura mencekam didalamnya. Tapi, tentu saja kita takkan menemukan apa-apa kecuali film ini terdapat keragu-raguan, kecemasan, hingga timbul depresi dan delusi dalam paranoia yang berlebihan. Mungkin film ini berakhir dengan kontradiksi yang menimbulkan pertanyaan dan perdebatan kala konklusi berakhir tidak terjawabkan. Tapi, mungkin inilah yang ingin disampaikan Shults, keraguan, ketakutan disertai teka-teki membingungkan menjadi inti bagaimana manusia normal mampu berubah akibat efek psikologis yang membutakan hati nurani, saat rasa takut menjadi bagian paling menyeramkan dalam diri manusia.

Ya, beberapa point penting memang tidak terjawab secara memuaskan, meski ditutup dengan akhir yang menakjubkan, tragis dan betul-betul gila. Hingga akhirnya "It" hanya sebatas sesuatu yang mengganjal dihati tanpa tahu apa makna dibalik perisitiwa dari segelintir keanehan yang terjadi di rumah Paul, kecuali kita memaksakan sendiri konotosi dibalik hal tersebut secara implisit antara aneh dan mengganggu, terlebih delusi dari mimpi-mimpi surealis yang terjadi pada Travis membuat hal-hal yang nampak terjadi menjadi semakin membingungkan dan sepenuhnya abstrak. Tapi, tentu saja jangan pernah terjebak oleh rekayasa cerita Shults, kita takkan pernah tahu siapa yang sesungguhnya jahat di film ini, apakah sesungguhnya hantu sang kakek menjadi asal muasal penyebab atau mungkin ada hal lain yang menjadi indikasinya. Ya, It Comes At Night adalah film horror yang membingungkan hingga saat ini.



SPOILER ALERT!
Ini hanya teori dan opini pribadi yang liar untuk sedikit menjelaskan setumpuk pertanyaan dalam film ini. Tahu kenapa Shults mengawali kisahnya dengan pembunuhan yang dilakukan Paul dan keluarganya terhadap kakek Bud? Dalam kondisi penyakit yang dideritanya, saya rasa Bud menjadi hantu penasaran. Memang hantu Bud tidak dijelaskan secara eksplisit, melalui gangguan atau penampakan secara langsung. Namun justru datang melalui mimpi-mimpi buruk yang dialami Travis. Memang ambigu, tapi bukankah wujud hantu tidak sepenuhnya meneror melalui poltergeist atau teror hantu konvensional semacam itu. Apalagi melihat bahwa Travis secara pribadi merasa kehilangan saat melihat kakeknya ditembak dan dibakar didepan matanya sendiri. Membuat Travis seolah memberi pesan kepada cucu terdekatnya tersebut sebagai pesan yang mengerikan.

Coba ingat dan pikir, siapa yg membuat anjing Stanley berlari menuju hutan, lalu pas dikejar oleh Travis tiba gonggongan beserta anjingnya ikut menghilang, dan suatu malam setelahnya, Travis terbangun (aneh tiba-tiba ia terbangun diwaktu tersebut dan ngelonyor turun ke bawah meski telah dibahas kalau ia memiliki penyakit susah tidur, yang tidak lain karena mimpi buruknya selama ini, menemui Kim? Saya rasa itu konyol) dan secara mengejutkan tiba-tiba menemukan anak Will, Andrew, tertidur (terkapar) di luar ruangan (Ingat? Ruangan Bud!), dan pintu merah terbuka dari dalam dan setelahnya Travis mendengar suara aneh seperti ada seseorang dan kemudian secara mengejutkan Stanley terkapar belumuran darah. Dan saat ditanya mengenai soal kenapa Andrew bisa keluar dan tertidur ditengah ruangan Bud, dan ia mengatakan lupa apa yg telah terjadi pada dirinya. Bukankah sudah jelas, Andrew tidak punya penyakit tidur berjalan, dan ia tidak ingat apa yg terjadi dengannya.

Mengenai penyakit menulari Travis? Saya rasa kita bisa menafsirkan sendiri-sendiri. Apakah hantu tersebut bisa secara langsung menulari penyakit tersebut atau tidak. Toh, saya juga berpikir begini, Shults memang berencana tidak membuat hantu terlihat nyata, meski hantu dijelaskan melalui mimpi buruk, karena tujuannya disini adalah teror psikologis manusia dengan bumbu teka-teki dan moral dalam wabah penyakit yang tak terjelaskan, ini seperti siratan makna lukisan Triumph of the Death di kamar Travis, dan bukan soal jelmaan hantu Bud. Meski pesannya disampaikan secara subtil, teori saya mengatakan film ini adalah film hantu yang sengaja tidak menjelaskan bahwa ini adalah film hantu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Tidak semua orang percaya hantu, makhluk metafisik yang tak kasat mata ini dianggap hanya sebatas imajinasi manusia dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi, tidak barang tentu untuk seorang penganut agama atau segelintir paranormal yang yakin akan eksistensi dunia yang berseberangan dengan dunia nyata melalui tanda-tanda, komunikasi roh ataupun sekelibat penampakkan sosok misterius yang tiba-tiba muncul dibalik kegelapan. Saya rasa jika menilik hal tersebut memang akan membawa rasa ambigu dan menimbulkan tanda tanya perihal apakah makhluk yang biasa dianggap inkarnasi kematian manusia menuju hantu itu benar-benar ada, atau hanya akibat efek psikologis manusia semata.

Personal Shopper adalah film yang mengkaburkan batas antara realitas dan ilusi yang membuat kita bertanya apakah hantu itu nyata atau tidak. Maureen (Kristen Stewart) wanita yang bekerja sebagai asisten belanja pribadi seorang selebritis besar mencoba pergi ke Paris untuk mendatangi bekas rumah saudara kandungnya Lewis yang meninggal akibat serangan jantung. Dahulu Maureen dan Lewis sempat berjanji jika salah satu dari mereka meninggal, maka satu diantara mereka harus berusaha untuk mencoba membuat kontak dan komunikasi, menilik keyakinan besar saudaranya terhadap hal-hal bersifat spiritualitas dan percaya akan entitas roh kehidupan setelah mati. Namun, beberapa hari setelah Maureen mengunjungi bekas rumah saudaranya itu dan mendapatkan tanda-tanda gaib disana, ia terkejut dan heran oleh pesan misterius yang dikirim melalui chat handphone dari seseorang yang tidak diketahui siapa dan apa motifnya.


Oliver Assayas adalah sutradara yang saya kenal lebih dulu dengan salah satu karyanya "Clouds of Sils Maria" (2015). Kesamaan antara dua film besutannya ini bercerita tentang tokoh sampingan dalam kehidupan selebritis besar antara glamoritas dan popularitas yang bergesekkan dengan kehidupan psikologis dan juga permasalahan yang terjadi didalamnya. Dan kesamaan kedua, peran Kristen Stewart sebagai asisten khusus selebritis di kedua perannya tersebut. Film ini sebelumnya mendapatkan penilaian kontradiksi saat pertama kali ditayangkan di Cannes International Film Festival ketika para kritikus mencemooh film ini, meski separuhnya lagi memuji dengan sambutan hangat hingga akhirnya para juri resmi dari kompetisi tersebut memutuskan Assayas berhak memenangkan gelar sutradara terbaik tahun ini.

Sebetulnya film ini punya banyak hal menarik perihal garapan Assayas memiliki sentuhan mistis dan horror didalamnya. Saya suka tone film ini tampak begitu gelap, misterius dan dingin, namun terasa artistik dan indah melalui nuansa yang tampak berkilauan dari sisi pinggir pusat kemewahan dunia popularitas. Ciri khas Assayas masih terasa kental melalui tempo yang mengalun lambat dan tenang, hanya saja mengagumkan dalam permainan gerak gambar, scoring, hingga dentuman eksekusi suara yang seksama menciptakan aura mencekam dalam visualiasasi dan ketukan suara langkah sepatu Maureen ketika berkeliling sudut rumah tua tanpa penerangan dalam keheningan. Hingga membawa saya dalam rasa takut Maureen dalam pikiran cemas, gemetar dan terintimidasi oleh sesuatu yang mengintainya dibalik selimut kegelapan.


Saya sebetulnya sedikit mengerti apa yang sedang Assayas maksud dalam film ini dan juga alasan sebagian kritikus menilai buruk film ini. Personal Shopper bertujuan untuk memberikan skeptisme kepada publik tentang terror yang mengintai, membuat kebingungan serta mempertanyakan realitas sekental mungkin. Maureen sesungguhnya tokoh yang terbilang dalam misi mengungkapkan misteri selagi ia pun dilanda duka kesedihan akan kehilangan orang tersayangnya, selain mengenal Mauree yang serta mengalami krisis identitas, kehilangan tujuan dan terhinggap dalam depresi kesendirian. Menukil dalam psychological thriller film ini menghamparkan dilema juga delusi dalam hal yang setipis mungkin menipu penontonnya dalam balutan thrilling horror yang mind-blowing. Sehingga kita percaya apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita dengar, dan semua itu distimulasi melalui insiden dan tragedi pembunuhan yang nyatanya menggoyahkan penontonnya soal teror hantu atau sesungguhnya pelaku manusia yang nyata. Dan problem tersebut berlanjut di akhir cerita yang menegaskan bahwa semua yang dialami Maureen seorang diri itu nyata atau delusi dalam ketakutan dirinya.


Tatkala mempertanyakan plot dan cerita yang membingungkan, saya jauh lebih terpikat oleh akting Kristen Stewart. Aura negatif dalam mimik wajah penuh derita dan pesimistis seolah hidupnya terenggut oleh kematian sang kakak, tapi keberanian untuk topless, pancaran kecantikkan dalam wajah kusut dan kusam namun indah, membuat saya terdorong untuk mengetahui lebih dalam latar belakang dan kepribadian kosongnya. Scene masturbasi adalah scene terbaik, hal yang sempat saya bayangkan semenit sebelum ia benar-benar siap berganti busana dengan memakai gaun mewah, mahal dan seksi pribadi milik boss-nya, rasa takut, gelisah sekaligus kenakalan yang ia buat seketika mengejutkan sekaligus menggoda bahwa tak terbayang hal yang baru semenit saya pikirkan ternyata benar-benar dia lakukan. Bukan berpikir mesum, tapi nyatanya refleksi psikis yang memang dipersentasikan dalam film dibentuk secara alami tanpa kepura-puraan, tanpa berpikir untuk mencoba bersimpati tapi secara keseluruhan mengerti jalan pikiran wanita ini tanpa harus membuat kita jadi sok tahu lebih dalam.

Well, mendalami kesimpulan atas cerita film ini saya condong percaya bahwa hantu dalam film ini betul-betul nyata dan ada. Tidak peduli Assayas membolak-balikkan pikiran saya soal ambiguitas dalam pikiran depresi dan delusi, karena beberapa point dalam film meyakinkan bahwa hantu dalam film ini memang eksis karena siapa yang menjatuhkan gelas dan siapa yang melintas melewati lift dan pintu geser otomatis tanpa terlihat mata, dan semua itu terjadi saat Maureen tidak hadir dan melihat disana. Tapi semua tergantung persepsi masing-masing, saat Hilma Af Klint, pelukis abstrak pertama di dunia yang memperkenalkan lukisan tak berbentuk, namun visualisasi tersebut nyata untuk dapat dilihat dan dirasakan sebagai seorang yang percaya akan energi spiritual dan hal gaib, meski semua tampak abu-abu jika memang Assayas mencoba memberi rasa keragu-raguan di akhir cerita, saya pikir tujuannya harus gagal karena delusi ataupun hantu, keduanya memang abstrak untuk dibicarakan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Ibarat film-film trio Warkop DKI, film klasik seperti punya daya tarik tersendiri bagi para pecinta film yang tidak dimiliki film sekarang. Begitu sederhana dan konvensionalnya film klasik dibuat sebelum betul-betul ditemukannya trik manipulasi gambar, teknik pencahayaan dan efek CGI mumpuni, film-film semacam itu sudah tidak bisa lagi ditemukan di era serba modern sekarang sehingga membuat film-film klasik menjadi langka dan terasa antik. Syukurlah jika ternyata segelintir sutradara masih mau menggunakan trik-trik film sederhana zaman dulu yang pastinya sudah sangat sedikit digunakan seperti yang masih terasa dalam film-filmnya Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez.

Dan classic experience paling kental saya dapatkan ada pada film The Love Witch (Penyihir Cinta). Film yang tampil sangat mencolok sebagai film cult dengan cerminan horror classic era '60-an. Ini adalah film berbiaya murah yang keseluruhan aspek seperti set dekorasi, musik, dan kostum dibuat dan ditangani oleh sutradara sekaligus penulis naskah film itu sendiri. Hanya saja bagaimana bisa film yang sekelibat tampak seperti film chessy ini disambut hangat oleh para kritikus dan pengamat film yang dipersentasikan sepenuhnya oleh sutradara wanita bernama Anna Biller.


Film ini bercerita tentang penyihir wanita muda bernama Elaine (Samantha Robinson) yang berencana menetap tinggal di sebuah kota baru. Ia adalah wanita cantik dengan kulit putih, rambut hitam panjang terurai, riasan menor dengan lipstik pink, eyeliner hitam dan eye shadow biru yang sangat mencolok, tidak lain dan tidak bukan itu digunakannya sebagai trik tebar pesona demi mendapatkan pria yang bisa jatuh cinta kepadanya, ditambah dengan menggunakan ramuan dan mantra sihir buatannya sendiri, kemampuan menghipnotis mata serta daya tarik sensual dan erotisme yang ia tunjukkan kepada tiap pria yang digaetnya. Meski terbayangi masa lalu setelah perceraian dan kematian suaminya, tapi hasratnya untuk berburu sekaligus menaklukan hati pria adalah tujuan terbesar dalam hidupnya.

Elaine mungkin bukanlah tipikal wanita yang terwujud dalam realitas budaya dan mungkin tidak ada yang lebih mengada-ada soal wanita selain dirinya, tapi ia lebih dicerminkan sebagai bentuk sensibilitas wanita terhadap cara pandangnya mengenai cinta, hasrat dan seks. Mungkin terlihat tampak murahan begitu ceritanya bergulir dan numb-acting, menggunakan element tempo dulu baik penggunaan proyektor murahan, pencahayaan berlebihan, serta romansa sebegai bentuk olokan. Tapi, begitu banyak hal yang tersampaikan Biller bergitu provokatif dan satir menyindir berbagai aspek seksualitas serta gambaran pernikahan yang digambarkan dengan bentuk eksploitasi pria terhadap wanita. Dan terus terang menyampaikan kepedulian seorang wanita terhadap seksualitas dan pentingnya pemenuhan sisi erotisme terhadap kepuasan yang lebih dari sekedar kebutuhan biologis semata.


Biller menyampaikan sebuah tutur subtil tentang bagaimana seksualitas bukan semata-mata ditujukan kepada pria. Tanpa berusaha mendukung salah satu gender, Biller berusaha menyampaikan hal tersebut dengan menyeimbangakan keduanya bahwa wanita adalah sebentuk keindahan dalam fantasi pria yang tak pernah terbatas namun mengadiksi sehingga menjadi buta dan gila. Dan wanita adalah sosok yang selalu berusaha memenuhi kepuasan orang lain dari fantasi semu yang datang dari hasrat cinta yang besar didalamnya. Dalam materi berisi absurditas, paganisme, romantic dan erotisme seksual yang tergambar seperti di film "Eyes Wide Shut". Tapi, sayang film ini memiliki kesenjangan dalam ceritanya yang rapuh dan melelahkan akibat dari kurangnya Biller merangsang kegilaan dan emosional lebih dalam selain memandang bahwa cinta, seks dan sihir itu sama-sama mampu mengendalikan pikiranmu melalui caranya yang gila atau pada klimaks yang substansial di film ini. Tapi, saya akui ini adalah bentuk Biller menghargai sebuah film klasik dan satir dalam menangguhkan eksploitasi dan eksplorasi yang dalam begitu cantik dan artistik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah beberapa dekade sutradara berdarah India M. Night Shyamalan ini tidak lagi terdengung namanya dalam membuat film keren dan unforgettable semacam, "The Sixth Sense". Meski di kemudian hari memutuskan mengambil lompatan berbeda dari sekedar membuat film berbeda genre yang gagal dipasaran, "The Last Airbender" dan "After Earth" justru malah membuat namanya semakin redup dan terlupakan. Sampai akhirnya sutradara yang dikenal lewat keahliannya mengecoh penonton dengan plot twist-nya, Split kembali menjadi ciri khas lama M. Night Shyamalan yang menggabungkan unsur horror-suspense yang dicampur misteri berliak-liuk yang mengantarkanmu pada tumpukan misteri yang akan membuat bahagia di akhir cerita.

Kisahnya tentang tiga gadis muda Casey Cooke (Anya Taylor-Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) yang diculik disebuah parkiran mobil oleh seorang pria misterius (James McAvoy) yang dikenal memiliki 24 kepribadian berbeda dan menyekap mereka bertiga disebuah ruangan tertutup dan gelap. Seperti yang kita tahu dari sinopsis awal bahwa tujuan pria tersebut adalah membangkitkan kepribadian terakhirnya yang ke-24 dan sebagai yang terkuat diantara 'mereka' yang dinamakan "The Beast".


Saat pertama kali saya mengecap level film Split sebagai sebuah film yang menegangkan secara intens seperti di film "10 Cloverfield Land" tahun lalu. Terbangun dan tersekap di ruangan sempit tanpa jendela bersama orang asing dengan gelagat mencurigakan dan aneh, semua yang saya rasakan selama hampir 2 jam menonton, Split ternyata film yang nihil sensasi yang tidak sedikitpun membuatmu merasakan ketegangan yang berarti. Split seperti apa yang saya rasakan pada film-film M. Night Shyamalan sebelumnya, mencampur teknik visual kelam dan dark dengan penyesuaian cerita yang kompleks terjerembab pada daramitisi psikologis dan DID (Dissosiative Identity Disorder) yang hilang moment keseimbangan.



Dari interaksi Casey, Claire, dan Marcia dengan tiap-tiap perubahan karakter Kevin Wendell Crumb (kepribadian utama), dimulai dari sosok Dennis, kepribadian yang superbersih dan rapih, yang merupakan otak dari penculikan mereka bertiga sebagai sandera. Hedwig, kepribadian anak 9 tahun yang polos. Patricia, kepribadian wanita atau ibu-ibu setengah baya. Barry, kepribadian yang menyukai fashion dan memiliki keahlian dalam merancang busana, karakter ini lebih sering berinteraksi di dunia luar dan berbincang dengan Dr. Fletcher (Betty Buckley). Dan terakhir, The Beast, sang monster yang dinantikan oleh semua kepribadian dalam tubuh Kevin sebagai evolusi makhluk terkuat yang pernah ada. Unfortunately, yang saya lihat hanyalah talk, talk, dan talk soal kepribadian Kevin yang dibicarakan bersama Dr. Fletcher mengganggu alur cerita, walau sequence itu sendiri sesungguhnya menguatkan detil cerita lebih menarik. Moment yang disuapkan oleh M. Night Shyamalan pada kita tidak terlalu akurat dan cenderung bermasalah dalam menampilkan ke-24 kepribadian tersebut secara memikat. Efeknya adalah melemahkan ketegangan yang justru cenderung terlihat seperti drama-psikologi yang terasa mondar-mandiri dalam bercerita.


Untungnya yang menarik disini adalah akting James McAvoy dan Anya Taylor-Joy (The Witch) yang cukup membangun konsep. Meski pada kenyataannya tidak ke semua kepribadian ditampilkan secara menyeluruh, dari ke-24 hanya beberapa yang mendominasi cerita karena sudah pasti keterbatasan durasilah alasannya. Tapi, bolak-balik berganti kepribadian menjadi tantangan tersendiri bagi McAvoy, dari sekedar berganti busana hingga ekspresi wajah yang acapkali berubah-ubah dan ekspresif. Diimbangi tokoh Casey yang depresif beserta penceritaan masa lalu kelam yang dihadapinya cukup mengacak-acak isi pikiranmu. Dan tentu saja motif besar M. Night Shyamalan adalah plot twist. Membuat kamu bertanya-tanya siapa Casey, siapa Kevin dan seluruh kepribadian yang ada dalam dirinya, dan apakah makhluk bernama The Beast itu ada, dan juga hal-hal lain yang tentu saja terus-menerus menuntutmu pada rasa ingin tahu yang lebih besar dari apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalamnya.


Yups, janji manis bagi M. Night Shyamalan yang berhasil mengeksekusi dan mempermainkan isi otak kita dengan mencoba-coba menebak twist ending berhasil memperdaya putaran otak yang mengintai kita sejak awal, menjadi satu-satunya alasan mengapa M. Night Shyamalan masih cukup brilliant mampu mendorong batas-batas imajinasi liar saya soal ending film ini. Dan juga salah satu alasan mengapa penikmat film-filmnya tetap menyukai sentuhan karyanya yang klasik meskipun memang konklusi Split tak ayal hanya mampu diterima segelintir orang. Dan juga sehubungan penyakit mental tentang 'identity disorder' cukup menjadi daya tarik sendiri membuat Split terasa seperti film misteri bercampur fantasy menjadi konsep yang terasa asyik. Meski M. Night Shyamalan sendiri harus cepat menyadari bahwa ia terlalu fokus untuk menampilkan efektifitas cerita yang mempengaruhi twist, tapi lupa mempertimbangkan bahwa perjalanan menuju kesana harus dibuat jauh lebih menarik dari ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates