• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengungkapkan rasa sedih dan rasa luka di hatinya. Secara umum orang akan beranggapan bahwa kesedihan bisa diungkapkan hanya dengan air mata, tapi mungkin juga tidak. Pengungkapan rasa sedih dan terluka juga bisa diungkapkan melalui kata-kata maupun tulisan. Seperti apa yang ditunjukkan Nocturnal Animals di film ini, antara percampuran drama melodramatis dan psikologi thriller. Mungkin saya akan sedikit membeberkan *SPOILER* untuk mengetahui usaha apa yang coba diungkapkan sutradara Tom Ford yang kisahnya sendiri diadaptasi dari novel karya Austin Wright berjudul "Tony and Susan". Jadi, jika tidak ingin mendapatkan bocoran film ini sebaiknya tidak melanjutkan membaca ulasan saya kali ini.

Jika menyerempet tentang kesedihan, Nocturnal Animals mengeksplisitkan secara tragis dan esktrim yang dikemudikan dengan cara penceritaan non-linier dan kompleks. Jika, saya menyebutnya kompleks sebetulnya film ini cukup sederhana, hanya saja film ini menceritakan dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, Susan Morrow (Amy Adams) seorang wanita kaya dengan kelas sosial yang tinggi sebagai pecinta karya seni yang memiliki sebuah art gallery, suatu hari Susan dikirimi sebuah manuscript novel berjudul "Nocturnal Animals" oleh mantan suaminya Edward Sheffield yang dulu ia tinggalkan kurang lebih 20 tahun lalu dan meminta dirinya kembali membaca karya suaminya tersebut. Kedua, Tony Hastings (Jake Gyllenhaal), pria yang diceritakan dalam novel fiksi Edward yang dideskripsikan sebagai dirinya sendiri, yaitu pria yang berencana melakukan liburan bersama istrinya Laura Hastings (Isla Fisher) dan anak perempuannya India Hastings (Ellie Bamber) mengalami kejadian tragis ditengah jalan yaitu pemerkosaan serta pembunuhan anak dan istrinya oleh sekomplotan orang tak dikenal yang dipimpin oleh pria yang dikenal dengan nama Ray Marcus (Aaron Taylor-Johnson).

Apa yang saya tangkap dalam film ini memang memberikan saya cukup multitafsir setelah menontonnya, karena melihat apa yang dilakukan oleh Edward mengirimkan novel tersebut kepada mantan istrinya sendiri cukup memberikan ambiguitas, apalagi setelah di akhir film ini pun sepertinya memang sengaja membuat penontonnya bertanya-tanya dan tidak memberikan penjelasan yang jelas (Apakah ia melakukannya untuk rujuk, teror, atau sebuah tujuan tersembunyi). Kecuali hal yang paling umum untuk disimpulkan memang tujuan Edward yang kita rasakan dan tangkap dari caranya menceritakan isi novelnya tersebut untuk mengungkapkan kepada mantan istrinya tentang kesedihan, kehilangan, penderitaan dan kelemahan yang digambarkan dari karakter Tony yang terjadi juga pada dirinya sendiri.

Juga bagaimana respon Susan yang sesekali membaca novel tersebut semakin tenggelam, membuat kondisi pikiran dan psikisnya terganggu lalu membuatnya kembali terbayang masa lalu kelamnya bersama Edward. Yang sedikit demi sedikit tabir kehidupan gelap dan buruk yang Susan alami semakin terang, berhasil membolak-balikkan pikiran dan simpatik penonton dan membuat serpihan dari rasa sakit dan kepahitan yang dalam baik yang dialami oleh Edward maupun Tony semakin membuat penonton merasakan ambigu.

Dua serpihan cerita yang dibagi dua ini memang terasa pakem dikedua sisinya, baik cerita Susan bersamaan kisah masa lalu dan juga kehidupannya sekarang. Dan juga cerita tragis yang dialami oleh Tony sebagai kisah "story in a story" sebagai sebuah kisah eksplorasif yang memilukan. Yang keduanya sama-sama mampu saling berkaitan satu sama lain yang membuat kehidupan Edward aka Tony sama-sama memberikan penderitaan yang hampir sama. Bahkan dari sisi kekejamannya pun hampir sama yang satu sisi dilakukan secara halus dan satu sisi dilakukan secara ekstrim, membuat akting Jake Gyllenhaal pun terasa sangat menyedihkan, lemah dan rapuh.

Untuk beberapa aspek yang ditonjolkan oleh Tom Ford dalam film ini pun cukup saya puji, baik untuk akting pemerannya, tata visual, tata busana dan juga tata rias. Darkly toned dan tata rias make up sudah cukup memberi kesan kelam cukup mencuri perhatian, dengan beberapa penyorotan lukisan-lukisan dan beberapa objek seni surealis bahkan telanjang, dan juga aktor dan artis yang berakting sangat luar biasa, apalagi tokoh tak disangka-sangka Bobby Andes (Michael Shannon) yang berperan sebagai polisi detektif yang membantu Tony menangkap pembunuh istri dan anaknya pun cukup memberi atensi sebagai polisi jujur dan badass yang berusaha memperjuangkan keadilan ditengah carut marutnya peristiwa dan permasalahan yang terjadi secara internal maupun ekstenal. Dan juga Aaron Taylor-Johnson yang aktingnya "out of the box", semacam kriminal sakit jiwa yang aktingnya disini seperti as*hole-man.

Well, film ini sebetulnya memiliki begitu banyak bagian yang sangat bagus dan sangat ok sebagai film drama thriller yang membuat kita terseret dalam kesedihan dan rasa sakit yang dialami oleh dua tokoh yang mengalami hal yang hampir sama yang ceritanya bergerak secara non-linier. Walau memang saya sedikit menyayangkan konklusi akhir yang memang tidak banyak membantu pakem cerita yang kuat diawal menjadi terasa mengambang dan kurang eksploitatif. Tapi, saya cukup terhibur apalagi jajaran cast dalam film ini pun sudah memberikan perannya secara maksimal, apalagi adegan pembukaan yang memang cukup memberi elemen ketegangan dan teror sekaligus intimidasi psikologis ini sudah cukup membawa saya pada tingkat cerita tragedi yang mengerikan, menyayat hati sekaligus compelling.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
10 Artis Paling Favorit 2016



Salah satu daya tarik sebuah film tentu saja adalah aktor atau artis yang bermain dalam film tersebut. Entah film tersebut sebuah film action, drama, romance, ataupun horror. Terutama kaum adam yang tidak hanya mencari kesenangan menonton film dari sebuah aksinya saja, tapi juga tertarik pada kecantikkan atau keseksian artis yang bermain didalamnya. Tapi, tentunya Saya tidak akan menilai dari segi fisik saja, tapi juga bagaimana aktingya mampu memberinya pesona tersendiri yang mampu mengambil hati tidak hanya pria tapi juga wanita. So, inilah daftar 10 Artis Favorit 2016 versi LEMONVIE.
----------------------------------------------------------

Klik di bawah ini jika ingin melihat
10 Aktor Paling Favorit 2016
 

10. Susan Sarandon
Susan Sarandon
Perannya di film The Meddler membuat saya jatuh hati pada artis bernama Susan Sarandon. Perannya sebagai Nini Minervini, seorang ibu yang kehadirannya tidak disukai oleh anaknya sendiri, punya karakter yang loveable, tidak hanya orang-orang terdekatnya tapi juga teman-teman anaknya sendiri, yang justru sangat menyukai bahkan berharap Minervini adalah ibu kandungnya sendiri, dikarenakan karakternya yang royal, dermawan dan perhatian, ditengah kesepian dirinya tanpa perhatian anaknya sendiri. Meski bukan artis muda yang cantik, tapi tidak menutup dirinya tampil mempesona dibalik penampilannya yang tetap kece'.

9. Helen Mirren
Helen Mirren
Helen Mirren di film Eye in the Sky ini tampil dengan garang dan keras. Tidak ada sedikitpun sisi feminim seorang wanita yang dibawakan oleh Helen sebagai Kolonel Katherine Powell. Dengan seragam tentara dan cara kerjanya yang tak kenal belas kasih, kita sudah melihat perawakan militernya yang sanggup mengkomandoi dan memimpin regu penangkapan terorisme di film ini.

8. Margot Robbie
Margot Robbie
Dibalik buruknya kualitas film Suicide Squad sebagai salah satu koleksi DC yang gagal. Tapi, ada satu alasan mengapa mereka (terutama kaum adam) tetap terhibur setelah menonton film ini. Salah satunya, Harley Quinn yang diperankan oleh Margot Robbie, dibalik cosplay nyentrik dan seksi, make-up dan hairstyle yang weird, tidak menutup Robbie tampil luar biasa mempesona dan ikonik. Apalagi aktingnya tidak kalah hebat sebagai pasangan Joker yang sama-sama gilanya. Jika saja film ini tahu caranya bikin kegilaan, kejahatan dan kekacauan lebih tinggi, mungkin saja do'i bisa berada diperingkat nomor satu list saya. Joker beruntung bisa dapat do'i.

7. Lulu Wilson
Lulu Wilson
Memasukkannya dalam list bukan karena saya pedofil, haha. Tapi, Lulu Wilson dalam film Ouija: Origin of Evil punya tampang polos, innocent dan manis. Tapi, ekspresinya yang kadang datar, aneh dan creepy, apalagi efek CGI wajahnya yang kadang dibuat seram dengan dialog-dialog ngehe yang ia buat, sudah cukup menjadi alasan dik Lulu dalam list saya.

6. Rima Te Wiata
Walau cuman berakting sebentar di film Hunt for the Wilderpeople. Tapi sosok Rima Te Wiata yang berperan sebagai Bibi Bella, dengan kehangatan dan kebaikan dirinya sanggup meluluhkan hati Ricky Backer yang notabene super nakal. Bibi Bella mampu menjadi penengah dua orang laki-laki yang sifat dan umurnya bertolak belakang yang keduanya sama-sama menyukai sosok dirinya yang penuh kasih sayang.

5. Kate Beckinsale
Kate Beckinsale
Bertahun-tahun Kate Beckinsale berperan sebagai vampire lycans di film "Underworld" series, akhirnya akting berkelasnya terpakai di film Love & Friendship sebagai Lady Susan Vernon. Akting Kate disini terlihat begitu mempesona, elegan sekaligus menyebalkan, begitu pas dengan karakternya arogan dan licik, tapi dibalik itu ia hadir dengan kasih sayang dan sifat keibuan.

4. Amy Adams
Amy Adams
Berperan dalam tiga film tahun 2016 lalu, "Batman v Superman: Dawn of Justice", "Nocturnal Animals" dan Arrival. Memang sangat layak Amy Adams diperingkat tinggi di list ini. Meski saya sendiri baru menonton satu film, Arrival, tapi aktingnya sebagai Professor Louise Banks, Amy sukses menampilkan karakter cerdas dan depresif, kala perannya disini sangat menarik dan charming, berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa alien, itu sungguh luar biasa. Meski sebelumnya 'Lois/Louise' adalah kekasih Superman yang notabene sama-sama alien.

3. Auli'i Cravalho
Tidak ada larangan tokoh kartun masuk dalam kategori ini, selama ia punya jenis kelamin dan punya daya tarik yang kuat. Moana adalah salah satu jenis tokoh animasi Disney yang berkarakter kuat, pandai, lucu, cantik dan berjiwa petualang. Sosok inilah yang membuat saya penasaran siapa pengisi suara Moana tersebut. Yaitu tidak lain Auli'i Cravalho, gadis manis asli kepulauan Hawaii yang punya kemiripan wajah dari karakter yang ia suarakan, bahkan menurut saya jika Moana dijadikan live action, mungkin hanya Auli'i saja yang pantas memerankannya.

2. Elle Fanning
Elle Fanning
Meski tidak atau belum berani untuk tampil buka-bukaan di film ini, tapi Elle Fanning telah mencuri atensi. Perannya di film The Neon Demon, mengukuhkan karakter dirinya lebih dewasa, elegan dan cantik. Tidak ada lagi sosok remaja ataupun anak kecil dalam diri Elle. Ia adalah wanita muda belasan tahun dengan obsesi besarnya sebagai model papan atas di kota Los Angeles. Yups, sangat tertarik melihat aktingnya di film yang lebih besar.

1. Min-hee Kim
Min-hee Kim
Melihat kapasitasnya sebagai nona tuan rumah yang cantik dan elegan antara pesona gaya dan tutur bicaranya yang melambangkan wanita berkasta tinggi, Lady Hideko, Saya lebih memilih Min-hee Kim ketimbang Tae-ri Kim, di film The Handmaiden. Selain itu Lady Hideko juga punya sisi kerapuhan dan kelemahan yang tersembunyi rapih, selain karakter lesbian yang ia perankan, Min-hee Kim juga tampil berani di depan kamera bersama partnernya Tae-ri Kim sebagai pasangan kekasih. Memang sangat tepat memilihnya di list pertama sebagai artis terfavorit tahun 2016 lalu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jika ada sebuah film yang menampilkan penampakan pesawat luar angkasa yang besar, melayang di atas permukaan bumi, sudah pasti adegan berikutnya pesawat tersebut melakukan sebuah serangan dadakan tanpa peringatan dan menghancur leburkan kota-kota yang disinggahinya tanpa belas kasih. Tapi, film "Arrival" karya Denis Villeneuve ("Prisoner", "Sicario") akan terasa berbeda dari film-film klise semacam itu. Mungkin kurang lebih seperti Neill Blomkamp yang juga mengeksposisi kisah kedatangan alien dengan sudut pandang berbeda di "District 9". Ya, tidak ada pertempuran besar melibatkan tank, pesawat, senjata misil ataupun rudal, justru film yang diadaptasi dari short-story karangan Ted Chiang, berjudul "Story of Your Life"  melakukan sebuah transisi cerdas dan manusiawi antara manusia dengan alien yang dijuluki (heptapod) melalui cara komunikasi bahasa (language) dua arah.

Mungkin kedatangan alien tetap saja menjadi momok menakutkan dan tentu menjadi ancaman besar bagi bumi dan seluruh umat manusia, bagaimana sebuah benda asing dari luar atmosfer bumi tiba-tiba datang dengan sangat misterius. Meski kedatangan mereka ke bumi tidak dalam bentuk ancaman, namun untuk mengetahui misi dan rencana sebenarnya para heptapod itu ke bumi, maka Louise Banks (Amy Adams) salah seorang profesor yang ahli dalam penerjemah bahasa (linguist), dimintai bantuan oleh seorang kolonel tentara bernama Weber (Forest Whitaker) yang untuk menerjemahkan bahasa heptapod guna mendapatkan informasi dari mereka melalui kontak komunikasi secara langsung.

Bersama dengan para regu penyidik yang Louise pimpin termasuk salah seorang fisikawan teoritis bernama Ian Donnelly (Jeremy Renner), mereka kemudian dikirim langsung ke dalam pesawat alien. Dalam sebuah ruangan yang cukup luas di bagian kapal alien, Louise dan regu akhirnya bertatap muka dengan dua heptapod yang di separasi oleh sebuah dinding berbentuk kaca. Nah, saat memasuki paruh inilah Saya mulai merasakan sebuah perbedaan besar yang dilakukan oleh Villeneuve dalam merangkai cerita yang amat jenius dan butuh sebuah analisa, bagaimana ia menata konsep bahasa dan linguistik yang dimiliki oleh alien tersebut, yang tentu saja betul-betul berbeda dengan pemahaman dan pandangan manusia selama ini.

Seperti saat Ian mengemukakan tentang teori Saphir-Whorf, bagaimana sebuah bahasa dapat mempengaruhi pikiran seseorang. Dari sebuah gagasan ide yang dimiliki Villeneuve, kemudian ia memberikan teori observasi dan analisa khusus dari sebuah materi bahasa yang benar-benar asing dan tentu saja fiktif (tidak nyata). Kita di ajak menganalisa dan mengetahui pola-pola dasar yang dipelajari oleh Louise, seperti tulisan alien yang circle yang dibuat dari semburan tinta yang berasal dari tangan alien dan juga bahwasanya bahasa yang dimiliki oleh alien tersebut tidak terpaut oleh waktu (non-linear). Disinilah Saya mengakui kejeniusan Villeneuve menjabarkan teori-teori tak baku tentang bahasa dann sains, kita diajak mengenali sesuatu yang asing tapi dengan mudah kita menyimak dan mengikuti apa yang disajikan oleh film ini. Sama ketika Christopher Nolan menggagaskan ide 5 dimensinya di film "Interstellar", meskipun buat saya ide cerita Arrival jauh lebih bisa diterima dan lebih mudah dimengerti.

Selain menyisipkan ideologi bahasa alien yang begitu cerdas, permainan cerita Arrival pun membentuk sebuah puzzle dan twist yang cerdas. Dengan naskah gubahan Eric Heisserer ("Final Destination", "Lights Out"), kita tidak bisa menebak dengan mudah apa yang diinginkan oleh para alien heptapod tersebut. Apakah kehadiran mereka sebagai scientist ataukah hanya sebagai tourist? Dengan suasana dalam ruangan pesawat alien yang begitu mencekam, misterius dan asing, apalagi gubahan sound effect dan scoring music Jóhann Jóhannsson membuat sebuah kick atmosfer yang membuat bulu kuduk merinding. Lalu, alur maju-mundur dari problematika Louise beserta kenangan anaknya memberikan dramatisir cerita yang terasa kuat akan sosok Louise, apalagi saya sangat mengakui akting Amy Adams yang cukup depresif dan bagus di film ini.

Secara global, film ini pun cukup berhasil membawa isu tentang perang, propoganda, bentrokkan dan juga beda prinsip yang dipegang tiap-tiap negara menyangkut kedatangan alien tersebut, meski memang tak benar-benar menyeluruh dan malah film ini hanya berkutat dalam satu tempat saja, tapi bagaimana tangkasnya Villeneuve menyeret tragedi besar ini menjadi peristiwa non-minoritas. Membuat situasi yang terasa chaotic, ada konflik bahkan ketika semua orang mulai meragukan kehadiran alien tersebut, satu-satunya yang masih berpikiran positif dan masih mempertanyakan kehadiran sebenarnya heptapod tersebut hanyalah Louise.

Well, "Arrival" adalah sebuah film sci-fi luar biasa jenius yang berhasil mempertemukan antara ilmu sains dan ilmu bahasa (linguistik). Meski bukanlah sebuah film yang akan dipenuhi visual effect menggelegar atau perang invasi skala besar, tapi cinematography arahan Bradford Young ini juga mampu tampil misterius dan megah, dengan alur cerita yang punya narasi kompleks dan drama kehidupan yang lebih manusiawi. Meski film ini akan memenuhi segudang pertanyaan menggelitik, apalagi soal waktu yang dijelaskan oleh film ini tampak sulit untuk di relevansi, tapi bagian inilah yang membuat Arrival tidak langsung mudah dilupakan begitu saja, karena film ini akan membuat siapapun tertarik untuk kembali menyusun kepingan puzzle tersebut, dan saat berhasil menyelesaikannya maka siapapun mereka akan mendapatkan sesuatu yang terasa memuaskan dan sangat menakjubkan.

*SPOILER*

Pasti ada yang masih kebingungan perihal twist yang dihadirkan oleh "Arrival" di film ini, saya akan menjelaskan sedikit saja apa yang sedang terjadi, tentu dengan pemahaman dan pendapat saya sendiri, dan juga berasal dari referensi yang saya kumpulkan (Sejauh kepintaran otak saya yang tidak seberapa ini, hehe). Jadi, jangan coba-coba membaca spoiler berikut jika tidak mau kena bocoran isi film ini. So, pertama, apakah alien heptapod itu berniat jahat? Jelas jawabannya tidak! Justru kehadiran heptapod itu untuk membantu para manusia, sekaligus meminta sebuah bantuan kepada manusia. Salah satu alien heptapod telah menjelaskan bahwa selama 3000-an Tahun sudah mereka telah membantu kelangsungan hidup manusia hingga saat ini, jelas dalam dialog saat Louise dikirim sendirian oleh alien heptapod tersebut, kita sudah mengetahui misi dari alien tersebut datang ke bumi. Juga keinginan mereka untuk meminta bantuan kepada manusia, meski cerita film ini juga tidak menjelaskan permintaan tolong apa yang diinginkan oleh para heptapod kepada manusia.

Selain dari itu, sisi menariknya lagi, kedatangan para heptapod ini untuk mencegah terjadinya perpecahan diantara negara yang sedang memanas, makannya film ini juga membawa isu tentang konflik dan perseteruan negara yang terjadi dalam realita kehidupan nyata, dan cara alien untuk menyatukan negara adalah meletakkan 12 UFO pada tiap-tiap titik lokasi bumi yang berbeda. Dalam keadaan terancam sudah pasti setiap negara akan bersatu dalam melindungi bumi dari serangan alien.

Dan terakhir, kedatangan alien tersebut adalah untuk memberikan sebuah skill dan miracle kepada manusia, mereka secara tidak langsung mengajarkan pada manusia untuk mempelajari bahasa mereka sekaligus membaca tulisan circular. Manfaatnya? Sudah jelas bahwa siapapun yang menguasai dan memahami tulisan itu akan mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan dan juga dapat merubahnya. Mungkin tampak rumit dan tampak tak masuk akal jika tidak dijelaskan secara rinci teori yang dikemukakan oleh film ini.

Kata kuncinya hanya dua untuk mengartikannya, pertama teori yang dikemukakan oleh Saphir-Whorf, bagaimana teori ini menjelaskan bahwa 'bahasa' bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Kedua, pemahaman bahasa circular para alien heptapod yang tidak dipengaruhi oleh waktu (non-linear). Teori ini pula yang coba dikuatkan melalui seorang Louise Banks sebagai satu-satunya yang mengerti dan mengetahui arti tulisan circular milik alien tersebut. Dengan menguasai bahasa tersebut secara tidak langsung Louise bisa mengetahui masa depan suami dan anaknya, sebagai sequence twist film ini. Berdasarkan teori, bahasa diartikan bisa berpengaruh pada mental dan psikologis seseorang, seperti yang beberapa kali Ian tanyakan kepada Louise yang mempelajari bahasa alien, "Apakah kamu bermimpi tentang alien-alien tersebut?", "Jika kau mengerti bahasa mereka, maka kamu akan sama seperti alien-alien tersebut.".

Samar-samar secara halus Villeneuve memaparkan kondisi mental dan psikologis Louise, tentang munculnya buah pikiran soal anaknya yang mengidap penyakit kanker di masa depan. Dan itu terjadi pada saat Louise mulai memahami bahasa heptapod tersebut. Jika mendalami tata bahasa yang dimiliki alien tentang bagaimana alien heptapod tidak terpaut oleh waktu adalah, teori sederhana tentang pola lingkaran dalam bentuk tulisan alien tersebut sebagai simbol mengisyaratkan pola waktu yang tidak maju (non-linear), atau dalam artian tidak berawal dan berujung seperti sebuah circular. Tidak seperti manusia yang mengenal adanya masa lampau, masa sekarang dan masa lalu, atau bisa dikatakan linear (maju).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Clark Kent/Kal-El (Henry Cavill) adalah wartawan muda yang merasa terasing oleh kekuatan di luar imajinasi siapapun. beralih ke Bumi beberapa tahun yang lalu dari planet Krypton, pikiran Clark tumbuh dengan norma-norma yang diajarkan orang tua angkatnya, Martha dan Jonathan Kent. Ia kemudian menyadari adanya kemampuan super dalam dirinya. Saat bumi berada dalam keadaan bahaya, Clark tak hanya dituntut menjadi pahlawan tetapi juga bisa menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

REVIEW :
Memasang ekspetasi terlalu tinggi buat film ini memang sangat wajar, apabila film ini dijalankan oleh pemegang cerita sekaliber Nolan. Tapi, disayangkan sekali bahwa ekspetasi tinggi tersebut berbuah pada kekecewaan yang berarti. Ini bukan karena filmnya yang jelek, hanya saja disayangkan beberapa faktor yang membuat film ini kurang terasa seperti gambaran trailernya yang mempunyai esensi tinggi di dalamnya. Memang, ketika kita melihat bahwa inilah Superman yang harus dibuat dengan cara semanusiawi mungkin dan sekelam mungkin, tetapi sayangnya sisi emosional yang seharusnya kita inginkan sebanyak mungkin dalam ledakkan film seperti Batman triloginya Nolan ataupun hubungan kisah kehidupan Clark Kent sendiri dengan kehidupan keluarga ataupun sosial yang ada di film ini tidak terasa sama sekali. Yang kita lihat hanyalah kisah yang yang terasa di panjang-panjangkan pada awal film dan juga sedikit ke absurd-an cerita.

Entah siapa yang salah dalam penggarapan, apa kita harus menyalahkan Synder sebagai sutradara yang yang pemegang penuh naskah atau Nolan plus David S. Goyer yang tak bisa menciptakan Superman yang lebih berbobot seperti yang kita lihat pada penggarapan Batman trilogi? Yup, Yang pasti Man Of Steel adalah sebuah karya yang tak sempurna tetapi bukan juga film yang benar-benar jatuh sehingga harus masuk kotak sampah. Saya masih menganggap atau masih bisa saya katakan film ini jauh lebih matang dan lebih baik dari Superman-superman yang pernah dibuat sebelumnya. Pemilihan Henry Cavill sebagai Superman adalah pemilihan yang cukup tepat dengan Superman yang tidak terlalu meninggikan intensitas ketampanan, tetapi lebih kepada karisma dan kekuatan si Superman yang manusiawi yang lebih bisa dilahirkan oleh si Cavill. Michael Shannon pun begitu berarti di film ini, sebagai sosok musuh tangguh Superman ia bisa menjadikan dirinya pantas sebagai Jendral Zod dengan sosok yang angkuh dan kejam. Yang Saya suka dari Man Of Steel pun setidaknya penceritaan karakter yang lebih detil dari sosok manusia super ini, seperti penjelasan arti dari S di kostumnya dari bahasa Krypton yaitu "hope (harapan)", dan juga penceritaannya awal dari kehancuran Krypton yang membuat Kal-El/Clark Kent di kirim ke bumi sampai ia tumbuh dewasa.

Saya tak begitu benci atau mencap film ini jelek, hanya saja ekseusi yang kurang renyah pada penceritaannya. Sosok Lois Lane sebagai kekasih Superhero pun sepertinya tidak begitu menyita perhatian dan perannya di film inipun begitu minim, bahkan bisa Saya katakan seperti sebuah figuran yang hanya muncul untuk menjalankan sebuah roda cerita, tak lebih dari itu. Untungnya, kekecewaan film ini dengan begitu banyaknya lobang di kisahnya, tetap memiliki Positive Value, misalnya adegan klimaks ketika Superman bertempur dengan seluruh tentara Krypton yang menyerang bumi dibawah pimpinan Zod yang jauh lebih melindungi manusia ketimbang kaumnya sendiri. Kota dan gedung-gedung yang runtuh, para warga yang berlarian, dan seperti yang Saya ceritakan tadi yaitu adegan pertempuran antara manusia super dengan kecepatan tinggi layaknya Anime/kartun Jepang Dragon Ball menjadi nilai lebih tersendiri.

Overall, meski menilik kadar cerita dan sisi emosional yang tidak memuaskan, tetapi setidaknya Nolan-Synder sudah berhasil menciptakan kisah Man Of Steel dengan gayanya sendiri yang lebih manusiawi dan lebih dark. Pemilihan cast pada Cavill dan Shannon menjadi sangat berarti untuk merubah image Superman yang lama menjadi lebih hidup dan lebih modern saat ini. Saya kira film ini tetap layak tonton dengan mengabaikan ekspetasi terlalu tinggi dan tetap memilih menonton film ini sebagai hiburan semata.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates