• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Mungkin memang wajar jika film berjudul Siti garapan sutradara Eddie Cahyono ini bukanlah film yang terkenal dan asing ditelinga, bahkan sejak penayangannya 2014 lalu Siti tidak langsung beredar dalam bioskop-bioskop umum di Indonesia, justru Siti pertama kali ditayangkan di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014. Meski terbilang film indie, tapi Siti telah memenangkan beberapa penghargaan di dalam bahkan di luar negeri, salah satunya sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015 lalu. So, seperti apakah film yang dibuat dalam format hitam-putih, rasio gambar 1.33 : 1 dan juga pemakaian dialog bahasa jawa yang kental? Mari kita simak ulasannya berikut.

Sesuai judulnya, film ini akan mengedepankan sekelumit kehidupan seorang wanita bernama Siti (Sekar Sari) yang tinggal di pinggir pantai Parangtritis. Siti hidup bersama dengan mertuanya Darmi (Titi Dibyo), anaknya Bagas (Bintang Timur Widodo) dan suaminya Bagus (Ibnu Widodo). Semenjak tempat karaoke dimana Siti bekerja dan mencari nafkah harus ditutup paksa oleh petugas kepolisian, Siti terpaksa harus mencari kembali pekerjaan lain lantaran semenjak suaminya terbaring lumpuh dan sakit, Siti lah satu-satunya tulang punggung keluarganya tidak hanya untuk menghidupi keluarganya tapi juga ia harus melunasi hutang suaminya yang masih menunggak.

Jika membaca sinopsis diatas sesungguhnya Siti memang bukan tipikal film yang menyenangkan untuk ditonton, Siti menjabarkan cerita yang sangat sederhana, menyinggung sisi masyarakat kelas bawah dengan segala realita kehidupan yang cukup familiar, Mencoba berbagi tawa dan senyum akan sebuah keluarga tapi juga tercampur oleh sebuah duka dan rasa derita yang begitu dalam tentang mencari makna hidup. Diparuh awal kita diperkenalkan latar belakang kehidupan Siti dan keluarganya yang tinggal disebuah rumah gubuk tua, dari sekedar mengurus anak semata wayangnya Bagas yang tidak mau pergi ke sekolah, ibu mertua baik yang selalu membantu mengurus rumah, hingga merawat suaminya yang enggan berbicara sepatah katapun dengannya.

Film ini awalnya memang cukup melelahkan dan membosankan, Eddie menuntun kita menelusuri setiap problematika familiar yang sebetulnya gampang untuk diterka, apalagi dengan penerapan cerita yang terlalu panjang lebar dan take long shot, sedikit percakapan, sedikit scoring, dari cuma sekedar obrolan-obrolan biasa, candaan, hingga nasihat-nasihat kecil. Melalui potret kecil dari wanita yang mencoba terus tersenyum saat ia berhadapan dengan penderitaan dan keterpurukan yang berusaha ia tutup-tutupi. Tapi, film ini memang cukup berhasil menggambarkan seorang wanita yang layaknya sudah jatuh tertimpa tangga, namun tetap berusaha mencoba bangkit kembali.

Kemudian saat pertengahan film, Eddie mulai membuka satu tabir yang membolak-balikkan gambaran seorang Siti yang sejak awal digambarkan seperti sebuah kertas putih. Dari riasan dan pakaian, seolah sosok Siti yang telah tertanam di awal menghilang digantikan oleh sosok lain yang lebih gelap. Sederhana tapi cukup meyakinkan bahwa peran Sekar Sari berhasil memberi nyawa pada Siti, ia berhasil menghidupkan realitas kehidupan hanya dari sikap, dialog, dan pergerakkan hidupnya yang tampak apa adanya, bahkan saat adanya scene Siti yang berada dalam kamar mandi yang cukup menohok.

Menjadi cerminan sosial dan moral ketika film ini sedikit menyentil hati  nurani saat semua itu dilakukan karena keterpaksaan kondisi dan keadaan. Tapi, Siti hanya mencoba memberikan kita rasa peduli dan sebuah sindiran hidupnya yang tajam, tanpa menghadirkan emosi batin yang lebih kuat. Siti terlalu monoton dalam bercerita, apalagi saya kurang melihat pergolakkan batin yang kurang natural dan kurang saya terima, apalagi pertengkaran kekanak-kanakkan antara Siti dan suaminya Bagus yang enggan berbicara. Apalagi soal Bagas yang mengadu pada Siti soal hantu di sekolah, terasa absurd dan hanya mengarang-ngarang saja.

Well, film Siti memang bisa menjadi sebuah sindiran kecil tentang tragedi moral dari sosok wanita yang menapaki jejak hidupnya yang gelap. Ada sentilan moril antara hidup susah dan terhimpit oleh paksaan kondisi, meski ia tetap menghadirkan rasa cinta, rasa peduli, kesetiaan, pengorbanan dan juga rasa benci dari caranya film ini berbicara dengan sangat jujur. Tapi, sayangnya Eddie memang tidak memainkan ceritanya lebih emosional, justru ia menampilkan karakternya secara lebih subjektif. So, Siti mungkin bukanlah film yang gampang diterima secara publik, hadir dengan cerita yang terlampau puitis, tapi ia memperlihatkan potret hidup manusia yang sebetulnya bersembunyi di sekitar kita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa sih yang membuat sebuah salju longsor menjadi sebuah ide kreatif nan sensitif, yang inspirasinya didapat dari sebuah cuplikan video di youtube, kemudian menjadi sebuah konflik keluarga yang emosional dan uncomfortable? Seperti yang diakui oleh sutradara Ruben Östlund yang telah membawa film ini dan juga negara Swedia menjadi salah satu wakil pada ajang film terbesar di dunia, pemilihan Oscar pada nominasi Best Foreign Language. Yups, tentunya salah satu yang membuat Force Majeure (Turist) menjadi menarik adalah bagaimana sebuah peristiwa mengerikan tak terduga seperti salju longsor bisa menjadi sebuah tragedi yang bisa meretakkan sebuah hubungan.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang menikmati liburan mereka di pegunungan Alpen, diantaranya Tomas (Johannes Kuhnke), istrinya Ebba (Lisa Loven Kongsli), dan kedua anak mereka Vera (Clara Wettergren) dan Harry (Vincent Wettergren). Tentu, yang namanya liburan bersama keluarga adalah sebuah tradisi wajib yang menyenangkan diluar aktivitas hidup yang melelahkan. Tomas dan keluarga berencana menginap disana selama lima hari lamanya. Hingga hari kedua hal tak terduga terjadi, saat mereka bersantai dan menikmati acara makan siang di sebuah restoran, tiba-tiba terjadi peristiwa salju longsor dari kejauhan yang nampaknya tak begitu mengkhawatirkan, hingga lama-kelamaan salju longsor tersebut mendekati tempat mereka dan membuat semua orang ketakutan dan mengalami kepanikan, sampai akhirnya debu salju tersebut menutupi seluruh area restoran. Beruntungnya tragedi tersebut tidak membahayakan nyawa siapapun, namun  cukup menimbulkan 'shock' bagi Tomas dan keluarganya.

Pada dasarnya topik masalah utama yang ditekankan oleh Ruben Östlund adalah, tindakan yang dilakukan Tomas saat terjadinya salju longsor. Tindakkan yang berupa insting untuk menyelamatkan diri sendiri. Persoalan yang membawa ketidakterimaan Ebba yang kecewa dengan tindakan Tomas, yang ternyata rela mengorbankan keluarganya dan hanya memikirkan nyawanya sendiri. Hingga kejadian tersebut berakibat pada hubungan mereka yang terancam retak. Tidak hanya itu, bahkan ceritanya pun sedikit sensitif dan tajam, terutama ada sebuah singgungan antara pola pikir wanita dan pola pikir pria. Bagaimana sebuah kejadian luar biasa, memunculkan intuisi berbeda dari kedua pola pikir tersebut.

Sangat sentimentil dan betul-betul tajam bagaimana hal seperti ini pun bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan jujur saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi seseorang yang saya kenal. Ia menceritakan kepada saya bahwa suatu malam seorang wanita terbangun dan tersadar bahwa terjadi gempa di daerahnya, sehingga wanita tersebut panik dan segera keluar dari rumahnya. Tapi, ternyata ia baru sadar bahwa dirinya lupa membangunkan keluarganya sendiri yang tengah itu sedang tertidur lelap didalam rumah ketika gempa terjadi, sementara ia sendirian saja menyelamatkan dirinya. Dari cerita yang saya dapat tersebut, itupun menjadi sebuah cerita inspiratif yang juga sukar untuk dijelaskan. Bahkan Force Majeure pun kesulitan menerangkan bagaimana intuisi dan refleks bekerja dalam keadaan terdesak semacam itu.

Nah, konteks cerita tersebut sebenarnya bisa menarik dan menakjubkan ketika Ruben mampu mengolah perpaduan taste yang cukup tenang sekaligus terasa sangat mengganggu. Bahkan ketika gubahan scoring music, Antonio Vivaldi's Summer Concerto dari instrumen accordion yang didapat Ruben dalam salah satu video seorang anak 12 Tahun, menjadi sebuah alunan musik yang uncomfortable. Ada situasi yang Ruben ingin jelaskan dari sebuah ketidaktenangan dan ketidaknyamanan yang terjadi pada hubungan keluarga ini. Ia berhasil memberikan efek tersebut, ketika sedikit demi sedikit Ruben menyertakan juga kisah misterius, suram, beserta komedinya yang aneh. Nyatanya memang kisahnya sendiri sangatlah sederhana, tapi apa yang disampaikan betul-betul tajam dan cukup akurat. Meski bagian akhirnya Saya sudah mengira bakal seperti apa, tapi sebetulnya menjadi konklusi yang cukup memberi keseimbangan konflik yang ada.

Selain itu, bagian sinematografi yang bekerja menghamparkan keindahan pegunungan Alpen yang dingin beserta salju putihnya, menangkap setiap momen arthouse dari ketenangan, rasa dingin dan suara-suara yang ditimbulkan ditempat tersebut menjadi sebuah arena kisah yang aneh dan mengganggu. Meski, Force Majeure bukanlah sebuah kisah yang enak untuk ditonton, sebaliknya film ini memberi sebuah cerita yang suram, tajam, dan uncomfortable. Tapi, drama komedi gelap ini memberi sentuhan cerita yang betul-betul tajam dan mengoyak-ngoyak pikiran kita, enggan memberi kesenangan, tapi terus-menerus memberikan kita emosi kepanikan yang nyata dan konflik hubungan keluarga yang sentimentil, dari yang awalnya baik-baik saja berubah menjadi hubungan yang tidak bahagia. Membuatnya lebih menarik dari sebuah kesenangan yang lebih nyata.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Hyeon-sook (Hie-ae Kim) adalah janda yang hidup bersama dua anak perempuannya Man-ji (Ah-sung Ko) dan Cheon-Ji (Hyang-gi Kim). Setelah suaminya meninggal 9 tahun lamanya Hyeon-sook lah satu-satunya tulang punggung yang mengurus kehidupan dan sekolah kedua anaknya itu. Cheon-Ji dan Man-Ji adalah kakak beradik dengan sifat yang bertolak belakang. Cheon-Ji adalah gadis yang pendiam yang bahkan hampir tak punya seorangpun teman disekolahya tapi ia memiliki sifat yang baik dan tak banyak tingkah, baik kepada ibu maupun kakaknya, sedangkan kakaknya memiliki sifat dingin, cuek dan menjengkelkan yang selalu membuat susah ibunya.

Hingga hari dimana Cheon-Ji meninggal bunuh diri tanpa meninggalkan pesan apapun telah membuat duka bagi ibu dan kakaknya. Demi menghilangkan duka kesedihan, mereka berdua pindah ke tempat tinggal baru di sebuah apartement murah. Dan tak menyangka Man-ji melihat salah satu teman sekelas Choen-ji, Hwa-yeon (Yoo-Jeong Kim) yang ternyata tinggal di apartemen yang sama. Demi mengetahui latar belakang kehidupan adiknya di sekolah ia menemui Hwa-yeon yang akhirnya menemukan titik kebenaran tentang alasan adiknya melakukan bunuh diri.

REVIEW:
Kepergian karena kematian seseorang yang sangat disayangi kadang akan membuat luka teramat dalam bagi orang terdekat apalagi ia merupakan satu bagian dari sebuah keluarga yang utuh. Ditambah dibalik senyumnya selama ini ternyata ia menyimpan begitu banyak kepedihan yang ditinggalkan dalam hidupnya yang tak pernah diketahui siapapun. Itulah sedikit gambaran apa yang ingin disampaikan oleh film korea yang berjudul Thread of Lies aka U-a-han geo-jit-mal. Thread of Lies adalah drama keluarga yang akan menyampaikan begitu banyak pesan moral soal keluarga, kasih sayang, persahabatan dan bullying. Kenapa ada soal bullying? Iya karena dari hal inilah permasalahan film ini muncul.

Bullying disekolah seakan sebuah tradisi yang terus-menerus memberikan momok menakutkan bagi penderitanya. Dan bukan hal mustahil jika terus-menerus perbuatan itu dilakukan bisa memberi dampak negatif yang berujung kepada penderitaan secara psikologis. Dan itulah yang dirasakan oleh Choen-ji selama ini. Ia sama seperti karakter-karakter lain yang menjadi objek pelampiasan seseorang untuk kesenangan pribadi. Dan biasanya mereka adalah orang yang dijauhi dari lingkungan sosialnya karena sifatnya yang aneh dan pendiam.

Han Lee mencoba memperkenalkan sebuah hubungan keluarga yang sederhana, namun kemudian ia menggiring pada sebuah impact yang akhirnya membuat sebuah rasa kehilangan, rindu, dan kesedihan mendalam. Yang akhirnya memberikan rasa simpatik pada sebuah karakter yang notabene yang tidak menonjol dalam sosial kehidupannya. Ceritanya sendiri akan dibalut dengan kisah sederhana namun kita akan digiring satu-persatu pada kenyataan yang lebih pahit ketimbang apa yang terjadi tentang kematian Cheon-ji.

Dan akhirnya terbentuk jalinan cerita yang terhubung kian kompleks dan akan memberikanmu kejutan demi kejutan yang akan memberi efek penasaran seperti puzzle yang mulai terkumpul satu-persatu walau Han Lee sendiri tidak mencoba membuatnya menjadi drama gelap penuh misteri. Ia tetap mengikuti alur sederhananya, mencoba tetap mengimbangi dramanya namun tak terjebak dalam cerita yang terlalu melow. Dibalik itu semua ia akan tetap memberikan mutu konflik dramatis yang akan memberimu peluang mendapatkan emosi setiap karakter yang terselubung saat kita menyingkap misteri film ini satu persatu. Ia memang akan memuat konten berisi tangisan dan kesedihan, namun Han Lee bisa mengorganisir dengan baik setiap adegan dan menjadi tidak berlebihan dan akhirnya menjadi harmonisasi yang hangat, kelam, dan terasa pahit juga menyakitkan.

Selain dengan alur cerita yang cermat juga tidak kalah bagusnya di bagian para cast yang bermain seperti Hie-ae Kim yang mampu tampil sebagai seorang ibu yang rapuh dengan kesedihannya namun cukup tegar. Ah-sung Ko yang juga tampil baik sebagai gadis yang dingin namun juga memiliki rasa peduli dan sayang yang tinggi. Dan Woo-hee Chun mampu berperan sebagai gadis yang terlihat kejam namun tak sampai membencinya. Dan juga cast-cast yang mendukung pergerakkan cerita yang kadang bisa membuat kita begitu emosional dan juga kadang beberapa adegan yang mengundang tawa.

OVERALL, Thread of Lies adalah sebuah drama korea tentang keluarga dan persahabatan yang dicampur aduk menjadi satu dalam kesederhanaan cerita. Ia memang terasa sederhana namun gejolak cerita yang tabirnya dibuka satu-persatu menjadikannya puzzle cerita yang lebih kompleks, lebih tajam, emosional, dan akhirnya ia akan menjadi sebentuk kehangatan yang begitu pedih. Ia akan terus mengiringimu mengenalkan seorang karakter yang hilang di awal cerita namun terus memberimu pengetahuan tentang sosok bernama Choen-ji.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Jika kamu pernah nonton kera sakti di tipi, kamu pasti udah tahu ceritanya kayak apa. Eittss tunggu dulu... yang ini beda, walau tak beda-beda dikit. Intinya sih, ini ada beberapa siluman dan juga beberapa pemburu siluman. Nah, disini ada seorang pemburu siluman dengan metode kocak dan aneh dengan menggunakan buku cerita bertemu dengan wanita pemburu siluman profesional. Kejadiannya, disini ada siluman babi yang susah ditangkap oleh para pemburu siluman, makannya si pemburu siluman dengan buku cerita tersebut harus bertemu dengan Siluman paling hebat yang dikurung di bawah batu untuk belajar mengetahui menangkap sang siluman babi.

Bagi kamu yang udah biasa menonton film-filmnya Stephen Chow, pasti sudah tahu betapa brilliant dia dalam mengeksekusi antara bagian komedi dan ceritanya. Ya, dia sang ahli pengocok perut sekaligus mampu menjadikan cerita yang juga menyentuh. Jika memang kamu penikmat film-film dia sebelumnya, seperti Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle, maka Saya yakin kamu juga suka film ini.

Meski tema yang diambil sudah puluhan kali dibuat, tapi cerita yang dipegang oleh Stephen Chow ini menjadi terasa fresh. Lawakan-lawakan yang tak kenal garing, bahkan kelewat konyol. Meski kita tahu Chow memang ahli meracik lawakan, tapi si Chow tahu bahwa ada beberapa unsur yang tidak boleh ia lewatkan dalam filmnya. Ia tak lupa untuk membumbuinya dengan kisah romantis manisnya, humanity, melankolis, dan tentu adegan aksi yang akan mengembalikan kamu ke momen pertarungan ala Kung fu Hustle.

OVERALL, saya baru tahu bahwa Stephen Chow tidak hanya menjadi aktor lawak berbakat, tapi juga ia bisa menduduki kursi sutradara dengan sangat baik. Yap, lawakannya tak pernah garing meski sudah satu dekade ia membuat film. Dibarengi kualitas cerita mumpuni. Menjadikan Journey to the West versi orisinil nya sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Memang bukan hal mudah untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang jauh dari kehidupan kota besar. Hijrah dari kenyamanan hidup kota dengan segala teknologi serba ada dan serba instan ini membuat kita tidak tahu betapa kerasnya hidup di pedalaman desa. Mungkin inilah yang dirasakan oleh Yuki Hirano (Sota Sometani) seorang pemuda yang baru saja menerima pengumuman gagal lulus ujian universitas dari sekolahnya, yang membuatnya harus memilih apa ia harus menambah masa sekolahnya satu tahun lagi atau tidak. Memang sangat berat baginya untuk menemukan
kelanjutan dari kehidupannya apalagi ia juga harus putus juga dengan pacarnya. Hingga akhirnya ia tanpa sengaja mendapatkan informasi dari selebaran di pinggir jalan tentang pelatihan satu tahun sebagai penebang pohon di hutan. Dengan hati polosnya ia pun mengikuti pekerjaan tersebut tanpa menyadari apa yang akan dihadapinya nanti.

gambar wood job by lemonvie

Dari sinilah kekonyolan dan kepolosan Yuki bagaimana sulitnya hidup jauh dari kota dimana ia benar-benar harus beradaptasi dengan lingkungan keras di desa, bahkan ia harus menjalani pelatihan tersebut di hutan pegunungan. Berkali-kali ia mencoba kabur dari sana apalagi dia harus berhadapan dengan mentor berwatak keras seperti Yoki Iida (Hideaki Ito). Tapi, meski begitu ia masih saja bertahan lantaran tertarik dengan wanita cantik Naoki Ishii (Masami Nagasawa) yang ia lihat dari brosur tempat ia mengetahui soal pekerjaan ini.

gambar wood job by lemonvie 2

gambar wood job by lemonvie 3

Saya sebenarnya sudah menyangka bahwa memang betul tema yang diambil bisa dijadikan bahan lelucon seperti yang pernah Saya tonton dengan tema sama  yaitu anime Silver Spoon. Selipan komedi sederhana seperti ini memang bisa sangat menyenangkan, apalagi kita bisa melihat keindahan pegunungan dan hutan di jepang menambah kesegaran film ini. Memang benar-benar lucu apalagi melihat tingkah Yuki yang notabene sangat polos tidak membuat Saya jenuh melihat kekonyolannya.

gambar wood job by lemonvie 4

Tapi, sayangnya Saya tidak bisa melihat bahwa ceritanya benar-benar terfokus, memang betul ada konflik, tapi sayangnya Saya tidak begitu melihat konflik internal yang kuat dari cerita antara tokoh utama dengan karakter-karakter pendukung cerita. Memang jika sebuah cerita apalagi sebuah drama meski banyak selipan komedi didalamnya akan tetapi jika drama tidak melibatkan emosi penontonnya, akan berdampak pada cerita yang membosankan.

gambar wood job by lemonvie 5

Memang tidak sampai pada titik membosankan. Ia masih sanggup memberimu hiburan dan bagaimana kamu masih diperkenalkan bagi penonton awam tentang adat istiadat, bahasa lokal yang tak dimengerti, dan bagaimana latar belakang kehidupan sebuah desa terpencil yang jauh dari gadget dan kehidupan kota. Bagaimana eksistensi Yuki yang memang orang baru di desa itu dan bagaimana ia sanggup beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dari kebiasaan hidupnya sehari-hari. Bahkan bagaimana belajar betapa sulitnya menjadi penebang kayu di hutan.

gambar wood job by lemonvie 6

Overall, ini adalah tentang eksistensi seseorang didalam sebuah lingkungan sederhana dari kehidupan seorang penebang kayu. Adaptasi lingkungan yang jauh dari kata betah tapi seolah menyeretmu masuk kedalam kebiasaan hidup orang-orang sekitar, serta bagaimana kamu merasakan betapa sulitnya sekaligus kekagumanmu tentang apa yang tidak pernah kamu lihat di kota, tapi kamu bisa merasakannya di pedalaman desa. Ia tampil sederhana tapi tidak dengan sebuah kekuatan besar yang memberi porsi cukup untuk memberi emosi pada penonton, ia sangat sederhana hingga kita merasa bahwa drama yang ditampilkan begitu standar. Tapi, tentunya ia tidak benar-benar buruk, ia masih dibantu dengan komedi yang masih membuatmu tertawa lepas.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kita takkan pernah lepas dari masalah kehidupan. Bahkan keinginan hampir setiap manusia adalah bisa hidup bahagia dengan memiliki rumah dan keluarga yang kita cintai. Bahkan keinginan kita akan terusik akibat kekuatan besar yang dinamakan uang dan kekuasaan yang ingin menghancurkan kebahagiaan itu. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh film bertema Leviathan ini.

Jika kita menelusuri lebih jauh mungkin memang judul ini akan mengacu pada monster raksasa yang tinggal di dalam laut. Dalam kitab injil dalam kisah Nabi Ayub pun makhluk tersebut disebutkan sebagai jelmaan iblis pembuat kerusakan. Saya sebenarnya tidak tahu sejarah tentang makhluk ini bahkan Saya pun harus menelusuri kisah makhluk ini di google. Tapi, singkat cerita katanya kisah film ini bisa disamakan sedikit dengan kisah dari The Job dari Injil yang mungkin saja ingin disampaikan dalam cerita sederhana sebuah keluarga di pinggiran kota Rusia.

gambar film leviathan by lemonvie

Nikolay (Aleksei Serebryakov) beserta sahabat sekaligus pengacara yang tinggal di kota Moskow bersama melawan walikota serakah dan korup yang ingin mengambil hak tanah Kolya di persidangan. Ini seperti keadilan melawan sebuah kejahatan oleh penguasa tamak. Memang tidak mudah untuk menjatuhkan nama besar walikota yang memang notabene di dekengi oleh hukum yang malah condong kepada uang dan bukan kepada keadilan. Kita bisa melihat kebusukkan demi kebusukkan politik di kota itu.

gambar film leviathan by lemonvie 2

Mungkin tidak disitu saja lika-liku Kolya yang temperamental dalam menghadapi masalahnya di dalam persidangan demi meminta keadilan hukum, tapi kita juga akan melihat kekacauan yang ada di dalam keluarganya sendiri. Seperti istrinya Lilya (Elena Lyadova) yang tidak bisa akur dengan anaknya Roma (Sergey Pokhodaev) dari pernikahan pertama Kolya. Juga masalah perselingkuhan. Mungkin apa yang di sampaikan oleh cerita ini adalah kesabaran dari Kolya sendiri atas keputusan Tuhan memperlakukan dirinya seperti ini.

gambar film leviathan by lemonvie 3

gambar film leviathan by lemonvie 4

Untuk kisahnya sendiri bisa dikatakan sederhana, latar belakang ceritanya pun hanya sekedar sebuah tempat di pinggiran kota. Namun cerita dan latar sederhana ini mampu di persentasikan dengan sangat-sangat kuat, kita akan mengikuti alur bagaimana usaha seorang manusia yang harus menghadapi dilema pahit kehidupannya dengan kesabaran. Ini seperti kisah nyata yang bisa ditemui disetiap jalan kehidupan. Apakah kamu akan menyerah ataukah tetap pada pernyataanmu?

Bisa dikatakan mungkin cerita Kolya ini sangat-sangat sederhana dan manusiawi. Tapi, sebetulnya makna yang ingin disampaikan jauh lebih rumit dari yang kita sanggup pikirkan. Dia mampu mendorongmu masuk kedalam cerita sehingga kamu bisa merasakan marah, kesakitan, dan kebingungan. Bertanya-tanya apakah kesalahannya sampai bisa terjadi hal seperti ini? Padahal kita bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, pada akhirnya kita harus memaknai cerita sederhana ini tidak hanya dari segi perspektif kita tapi lebih kepada apa tujuan dari semua masalah hidup.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates