• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dibalik kegemilangan film fantasi Disney yang telah berhasil mencuri perhatian lewat Cinderella (2015) dan The Jungle Book (2016) yang sukses menyabet 1 piala Oscar pada kategori Best Visual Effects. Sepertinya gelora studio animasi terbesar Amerika Serikat tersebut semakin tergoda mengembalikan kejayaan film animasi klasik legenda mereka ke tampilan visual yang lebih cantik dan lebih realistis dengan pemakaian teknologi CGI modern. Meski pada awalnya tersandung kegagalan dalam mengembalikan esensi film aslinya seperti "Alice in Wonderland", "Alice Through the Looking Glass", "Oz the Great and Powerful", dan "Maleficent". Sepertinya Disney mulai menemukan titik terang dalam menemukan letak kesalahan yang mereka buat dalam membuat live-action film animasi tersebut.


Dengan mengikuti versi Beauty and the Beast (1991) sebagai versi original-nya sang sutradara Bill Condon yang pernah dipercaya menangani penutup film The Twilight Saga: Breaking Dawn ini tetap mengikuti versi aslinya dan tentu saja buat saya pribadi, "It's a wonderful!". Tatkala apa yang pernah saya nikmati di versi aslinya tetap menjelma menjadi cerita dongeng yang sangat luar biasa dan mengharukan. Ini benar-benar terasa bagaimana kepiawaian Condon tetap tidak mengubah esensial film aslinya seperti saat pertama saya mendapatkan kembali moment pengenalan karakter Belle (Emma Watson), dengan ciri khas drama musikal yang dinyanyikan oleh penduduk sekitar sepanjang kota tempat Belle tinggal yang pada saat itu ia dikenal warga sebagai gadis cantik namun dianggap sering bertingkah aneh dan berbeda oleh orang sekitar karena hobinya membaca buku (bookworm).


Dan tentu saja selama 129 menit film ini berjalan saya sangat berdecak kagum akan pengarahan cerita yang tidak mengkhianati cerita aslinya. Meskipun saya merasakan beberapa perubahan dan juga penambahan alur cerita, seperti latar belakang cerita antara Belle dan Beast di masa lalu yang tak pernah diceritakan di film animasinya dengan penambahan efek magical-nya. Dan juga beberapa penambahan lirik lagu pada "Belle", "Gaston" and "Be Our Guest" dan lagu barunya seperti "How Does a Moment Last Forever", "Days in the Sun" and "Evermore". Lalu, beberapa scene seperti Belle yang melihat ayahnya di dalam cermin yang mungkin dirubah untuk memastikan cerita lebih berkonflik dan mendorong karakter utamanya untuk beraksi lebih masuk akal. Tapi, karena pengarahan penulis naskah film ini yaitu Evan Spiliotopoulos dan Stephen Chbosky dalam filmnya "The Perks of Being a Wallflower" itu seperti sebuah pelengkap yang membuat saya yang sudah menonton versi animasinya tetap merasa merasakan ramuan fresh dan emosional dari versi live-action. Dan untuk efek visual dalam film ini pun meski tersaji dengan cukup sederhana namun semua terasa menakjubkan, bagaimana latar, furnitur-furnitur hidup, dan juga efek Beast pada Dan Stevens terasa menawan.


Dari segi teknisnya sendiri kita tak perlu meragukan lagi racikan visual fantasy Disney yang berasal dari sinematografer Tobias A. Schliessler yang betul-betul memanjakan mata tiap menitnya. Hamburan lightning lampu serta set dekorasi dari Katie Spencer yang sudah teruji keterampilannya pada film "Atonement" dan "Pride & Prejudice" terasa begitu glamour dan cantik. Meski untuk Costume Design sendiri meski terbilang menarik tapi masih kalah jauh dibanding gaun yang dipakai Lily James saat ia menjadi Cinderella, terbaik yang pernah ada. Dan untuk kualitas akting? Emma Watson adalah jawaranya, penampilannya disini menurutku melebihi perannya sebagai Hermione, meski acapkali nada sinis datang padanya karena karakteristik dirinya dan animasi sangat jauh berbeda. Tapi, aktingnya buat saya seiring vokal suaranya yang indah saat musik mengalun, ekspresi dan kepiawaiannya berperan terasa begitu beautiful enchanted. Aktingnya sebagai Belle yang cantik betul-betul hidup dan saya tak meragukannya sebagai wanita yang sangat cantik. Lain dengan peran Luke Evans sebagai antagonis yang awalnya saya cukup suka akan kecocokkannya berperan sebagai Gaston meski untuk persamaan suaranya dalam bernyanyi dengan Richard White kurang mengintimidasi dan kurang menawan.



Well, kehebatan Beauty and the Beast terletak pada elemen romantisme nya yang kedongengan tapi tetap penuh dengan pesan makna tentang arti kindness, inner beauty, honesty, dan love. Semua keindahan itulah yang kembali disajikan dalam film ini dengan sesuatu yang sangat hebat dan klasik. Ada komedi yang lucu, musik yang riang, pendalaman cerita tokoh yang lebih baik, visual yang kelewat cantik, dan tentu saja peran Emma Watson yang very charming. Mungkin dengan film-film Disney terakhir yang mulai terbukti kian membaik, sepertinya kita bisa menunggu dengan harapan yang lebih besar dengan beberapa film another live action of classic animation yang memang sudah direncanakan akan dibuat setelah ini. Dan mungkin juga suatu hari nanti animasi Ghibli akan kebagian jatah seperti ini juga.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mengangkat tema perselingkuhan dan masalah suami-istri berbalut thriller-suspense, sepertinya The Girl on the Train adalah salah satu film yang sangat dinantikan, setelah tahun 2014 lalu "Gone Girl" sukses memperlihatkan tragedi destructive dan manipulatif kehidupan rumah tangga. Dipegang oleh sutradara Tate Taylor, "Get on Up", "The Help". Dan di adaptasi dari sebuah novel 'best seller' karangan Paula Hawkins, cerita film ini memang mempunyai segudang misteri dan twist, terutama menyangkut wanita yang hilang dibalik selimut gelap drama perselingkuhan. Ya, film yang memang awalnya digadang-gadang akan sehebat karya Gillian Flynn dan David Fincher, tapi apa yang diharapkan pada akhirnya tidak sebaik kenyataan.

Rachel (Emily Blunt) adalah seorang alkoholik yang mengalami depresi setelah ia ditinggal oleh suaminya Tom (Justin Theroux) dengan alasan sifat istrinya yang kasar, pemabuk dan lagi tidak mampu memberinya seorang anak, berujung Tom berselingkuh dan menikah lagi dengan seorang agen perumahan bernama Anna (Rebecca Ferguson) dan memiliki seorang anak. Tidak mampu menerima kenyataan, dalam keadaan pengaruh alkohol Rachel seringkali berperilaku aneh, dari mengintip dan mengawasi rumah tangga ex-husband dari luar jendela kereta api, berkeliaran di lingkungan rumah Tom, hingga kedapatan dirinya menyelinap masuk ke dalam rumah dan membawa anak Tom keluar halaman.

Tidak sampai disitu saja, suatu hari pengasuh anak Tom, Megan (Haley Bennett) dinyatakan hilang oleh berita media. Detektif Riley (Allison Janney) melakukan penyelidikan dan investigasi terkait hilangnya Megan, dari spekulasi yang mengkaitkan suaminya sendiri, Scott (Luke Evans) yang tinggal di dekat rumah Tom hingga psikiater Megan, Dr. Kamal Abdic (Edgar Ramírez) yang belakangan hubungan mereka tampak lebih dekat. Dan juga menyeret Rachel beserta skandal kehidupan rumah tangganya yang juga dicurigai adanya keterlibatan dirinya dalam kasus Megan.

Bagaikan sebuah puzzle yang kompleks, tentunya Tate dan penulis naskahnya Erin Cressida Wilson harus mampu merangkai dan menyusun setiap kepingan cerita novelnya, agar membentuk satu kesatuan paragraf yang utuh. Tapi, sayangnya kompleksitas cerita film ini tampaknya terlampau rumit bagi mereka berdua, bagaikan benang kusut yang alurnya saling membelit satu sama lain. Erin dan Tate kesulitan menghadirkan susunan cerita yang memikat, bagaimana upayanya menyisipkan seluruh konflik dan persoalan yang ada dalam cerita, tapi justru hadir dengan latar belakang yang begitu sesak dan penjejalan alur cerita yang terasa sempit. Sehingga film ini tampak gagal menuntun eksploitasi sisi setiap karakter secara lebih tajam.

Mentengahkan cerita tiga orang wanita dari berbagai sudut pandang dan persepektif, The Girl on the Train memang menghadirkan tiga alur cerita yang mengalun secara acak dan pelan, mondar-mandir, maju-mundur tanpa satu adegan pun mendominasi. Tatkala Tate dan Wilson terus-menerus mencoba mengkonversi setiap halaman novelnya, mereka terjebak dalam narasi cerita yang justru tidak berbobot. Bahkan hal ini berdampak pada tokoh-tokoh yang sebenarnya berakting sangat ciamik oleh ketiga wanita cantiknya, Emily Blunt, Rebecca Ferguson dan Haley Bennett, terlihat tampak kacau balau. Berbekal kejutan demi kejutan yang dirangkai setiap babak pun tidak mampu membangun ceritanya yang sedari awal film ini sudah ditumpuki berbagai problem karakterisasi personal yang membingungkan.

Sebetulnya, pola yang ingin dibangun oleh Tate dan Wilson adalah untuk bisa menumpahkan seluruh isi materi novel yang ada menjadi thriller-mystery penuh intrik, ada segelintir pembangunan psikologis destructive melalui penderitaan dan kesedihan bercampur aduk dalam sisi wanita yang diperankan oleh Emily Blunt. Juga rasa tidak bahagia dan penderitaan psikis yang dirasakan Megan, karena perilaku posesif dan pengekangan oleh suaminya. Lalu Anna, sebagai sindiran seorang wanita yang terlihat hidup bahagia namun terproyeksi sebagai seorang selingkuhan. Ada sequence yang menyentil tindak kekerasan, kepahitan, rasa kesepian, godaan nafsu dan penggapaian masalah psikologis lainnya, yang sayangnya tidak ada satupun gejolak emosi yang melekat, bahkan saat menghadirkan sebuah ketegangan pun hampir tak terasa hadir sedikitpun.

Well, merangkai sebuah cerita novel yang penuh dengan berbagai kompleksitas cerita yang dipenuhi intrik, ditambah membangun setiap personal karakter yang tidak sedikit adalah tugas yang berat. Apalagi materi yang didapat berasal dari 'best-selling' novel, sudah pasti ingin menyajikan paragraf dan tulisan dari tiap lembar cerita misteri menjadi visual yang mencekram adalah sebuah konsekuensi besar. Setiap orang punya harapan, bahkan berharap bahwa film The Girl on the Train punya wahana secerdik novelnya, memang sama sekali kurang memuaskan, walaupun saya sendiri belum membaca bukunya, tapi saya punya ekspetasi besar bagaimana akhir klimaks film ini pun sudah mencerminkan bagaimana bukunya ini bisa dicintai oleh penggemarnya hingga sukses terjual sampai jutaan copy.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates