• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Mengangkat tema perselingkuhan dan masalah suami-istri berbalut thriller-suspense, sepertinya The Girl on the Train adalah salah satu film yang sangat dinantikan, setelah tahun 2014 lalu "Gone Girl" sukses memperlihatkan tragedi destructive dan manipulatif kehidupan rumah tangga. Dipegang oleh sutradara Tate Taylor, "Get on Up", "The Help". Dan di adaptasi dari sebuah novel 'best seller' karangan Paula Hawkins, cerita film ini memang mempunyai segudang misteri dan twist, terutama menyangkut wanita yang hilang dibalik selimut gelap drama perselingkuhan. Ya, film yang memang awalnya digadang-gadang akan sehebat karya Gillian Flynn dan David Fincher, tapi apa yang diharapkan pada akhirnya tidak sebaik kenyataan.

Rachel (Emily Blunt) adalah seorang alkoholik yang mengalami depresi setelah ia ditinggal oleh suaminya Tom (Justin Theroux) dengan alasan sifat istrinya yang kasar, pemabuk dan lagi tidak mampu memberinya seorang anak, berujung Tom berselingkuh dan menikah lagi dengan seorang agen perumahan bernama Anna (Rebecca Ferguson) dan memiliki seorang anak. Tidak mampu menerima kenyataan, dalam keadaan pengaruh alkohol Rachel seringkali berperilaku aneh, dari mengintip dan mengawasi rumah tangga ex-husband dari luar jendela kereta api, berkeliaran di lingkungan rumah Tom, hingga kedapatan dirinya menyelinap masuk ke dalam rumah dan membawa anak Tom keluar halaman.

Tidak sampai disitu saja, suatu hari pengasuh anak Tom, Megan (Haley Bennett) dinyatakan hilang oleh berita media. Detektif Riley (Allison Janney) melakukan penyelidikan dan investigasi terkait hilangnya Megan, dari spekulasi yang mengkaitkan suaminya sendiri, Scott (Luke Evans) yang tinggal di dekat rumah Tom hingga psikiater Megan, Dr. Kamal Abdic (Edgar Ramírez) yang belakangan hubungan mereka tampak lebih dekat. Dan juga menyeret Rachel beserta skandal kehidupan rumah tangganya yang juga dicurigai adanya keterlibatan dirinya dalam kasus Megan.

Bagaikan sebuah puzzle yang kompleks, tentunya Tate dan penulis naskahnya Erin Cressida Wilson harus mampu merangkai dan menyusun setiap kepingan cerita novelnya, agar membentuk satu kesatuan paragraf yang utuh. Tapi, sayangnya kompleksitas cerita film ini tampaknya terlampau rumit bagi mereka berdua, bagaikan benang kusut yang alurnya saling membelit satu sama lain. Erin dan Tate kesulitan menghadirkan susunan cerita yang memikat, bagaimana upayanya menyisipkan seluruh konflik dan persoalan yang ada dalam cerita, tapi justru hadir dengan latar belakang yang begitu sesak dan penjejalan alur cerita yang terasa sempit. Sehingga film ini tampak gagal menuntun eksploitasi sisi setiap karakter secara lebih tajam.

Mentengahkan cerita tiga orang wanita dari berbagai sudut pandang dan persepektif, The Girl on the Train memang menghadirkan tiga alur cerita yang mengalun secara acak dan pelan, mondar-mandir, maju-mundur tanpa satu adegan pun mendominasi. Tatkala Tate dan Wilson terus-menerus mencoba mengkonversi setiap halaman novelnya, mereka terjebak dalam narasi cerita yang justru tidak berbobot. Bahkan hal ini berdampak pada tokoh-tokoh yang sebenarnya berakting sangat ciamik oleh ketiga wanita cantiknya, Emily Blunt, Rebecca Ferguson dan Haley Bennett, terlihat tampak kacau balau. Berbekal kejutan demi kejutan yang dirangkai setiap babak pun tidak mampu membangun ceritanya yang sedari awal film ini sudah ditumpuki berbagai problem karakterisasi personal yang membingungkan.

Sebetulnya, pola yang ingin dibangun oleh Tate dan Wilson adalah untuk bisa menumpahkan seluruh isi materi novel yang ada menjadi thriller-mystery penuh intrik, ada segelintir pembangunan psikologis destructive melalui penderitaan dan kesedihan bercampur aduk dalam sisi wanita yang diperankan oleh Emily Blunt. Juga rasa tidak bahagia dan penderitaan psikis yang dirasakan Megan, karena perilaku posesif dan pengekangan oleh suaminya. Lalu Anna, sebagai sindiran seorang wanita yang terlihat hidup bahagia namun terproyeksi sebagai seorang selingkuhan. Ada sequence yang menyentil tindak kekerasan, kepahitan, rasa kesepian, godaan nafsu dan penggapaian masalah psikologis lainnya, yang sayangnya tidak ada satupun gejolak emosi yang melekat, bahkan saat menghadirkan sebuah ketegangan pun hampir tak terasa hadir sedikitpun.

Well, merangkai sebuah cerita novel yang penuh dengan berbagai kompleksitas cerita yang dipenuhi intrik, ditambah membangun setiap personal karakter yang tidak sedikit adalah tugas yang berat. Apalagi materi yang didapat berasal dari 'best-selling' novel, sudah pasti ingin menyajikan paragraf dan tulisan dari tiap lembar cerita misteri menjadi visual yang mencekram adalah sebuah konsekuensi besar. Setiap orang punya harapan, bahkan berharap bahwa film The Girl on the Train punya wahana secerdik novelnya, memang sama sekali kurang memuaskan, walaupun saya sendiri belum membaca bukunya, tapi saya punya ekspetasi besar bagaimana akhir klimaks film ini pun sudah mencerminkan bagaimana bukunya ini bisa dicintai oleh penggemarnya hingga sukses terjual sampai jutaan copy.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dimulai dengan sebuah desa miskin yang dikuasai oleh sekelompok penjahat bengis yang dipimpin Bartholomew Rogue (Peter Sarsgaard). Tak tahan akan kekejaman yang dilakukannya, penduduk mengumpulkan tujuh orang ahlo bersenjata untuk melawan balik demi kebebasan mereka.

REVIEW:
Film ini diambil dari sebuah film lama yang dibuat dengan judul yang sama, The Magnificent Seven pada Tahun 1960. Kali ini Antoine Fuqua mempersembahkan kembali film ini dengan gambar dan teknik perfilman modern. Menciptakan pesona film yang pernah besar dengan rasa yang sama itu tidaklah mudah, tentu saja sama dengan apa yang ingin di berikan oleh film ini.

Meski menampilkan wajah-wajah yang sudah sangat familiar seperti Denzel Washington, Ethan Hawke, Chris Pratt, Lee Byung-hun, dan beberapa aktor pendukung lainnya yang sudah pasti akting mereka tidak bisa diremehkan. Namun, sayangnya mengembalikan pamor film besar ini sebesar film lamanya tentu saja teramat susah.

Hal yang mengecewakan adalah bagaimana naskah dan permainan cerita agak terlihat sedikit klise dan mudah dibaca. Ia tidak menampilkan sebuah gebukan besar apalagi sebagai film aksi dipenuhi tembak-menembak ala western.

Meski untuk action nya sendiri sebetulnya tidak mengecewakan dan tentu saja menyenangkan melihat bagaimana para ketujuh orang jago tembak ini dikumpulkan, tapi kesan emosi yang seharusnya diinginkan agak kurang. Salah satunya adalah pengembangan dan konflik karakter yang kurang besar menyebabkan ke tujuh karakter tak satupun memorable. Ditambah Peter Sarsgaard yang aktingnya sendiri tidak meyakinkan sebagai antagonis. Satu-satunya hal yang menghibur hanya adegan tembak-menembak dan aksi gerombolan bersenjata ini. Selebihnya biasa saja.

OVERALL, meski ia tampil menjadi biasa-biasa saja dan tanpa gebrakan emosi. Tapi, masih bisa menyenangkan hati ketika adegan aksinya masih mampu menghibur otak di kala stress. Setidaknya ia tidak menjadi film remake yang buruk.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates