• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dengan sebuah horror apocalypse tentang invasi alien terhadap bumi, film horror mainstream yang sedikit tampak seperti salah satu karya novelis terkenal Stephen King yang sudah diadaptasi kedalam film tahun 2008, The Mist. Film debut sutradara sekaligus penulis naskah John Krasinski, bersamaan dengan sang istri Emily Blunt, yang keduanya pun sama-sama merangkap sebagai tokoh utama juga sebagai keluarga pasutri tiga anak. Evelyn Abbott (Emily Blunt), Lee Abbott (John Krasinski), dan kedua anaknya Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe). Konsep ceritanya sama seperti "It Comes At Night" tentang keluarga suburbian ditengah hutan lebat, yang harus bertahan hidup dari ancaman mengerikan yang mengintai kapanpun dimanapun oleh sesosok makhluk yang buta namun memiliki pendengaran yang sangat tajam. Sesuai judulnya, film ini tentang sebuah hutan yang sedikitpun tidak boleh mengeluarkan suara keras. Sekilas untuk seorang Krasinski yang notabene baru menggeluti kursi sutradara tidak cukup kerepotan dalam membuat wahana menegangkan dan pintar memainkan narasinya. Sayangnya, cerita film yang digarapnya memiliki banyak kekurangan, cukup beralasan bahwa beberapa adegan dalam film tidak terlalu pintar dan memiliki banyak kecolongan logika. Singkatnya, Krasinski membuat konsep yang terencana dan pintar dalam memainkan latar, tetapi membuat setiap perilaku karakter dalam film ini mempunyai banyak kecerobohan dan kebodohan. Contohnya, saat Evelyn yang mengambil cucian basahnya dan tersangkut oleh paku di tangga.

Meski begitu naskah dan cerita yang juga dibantu oleh Bryan Woods dan Scott Beck, bukanlah point yang membuat A Quiet Place jatuh total. Film ini tentu saja digarap dengan sangat baik oleh Krasinski, melalui sinematografer Charlotte Bruus Christensen yang mampu menghanyutkan saya dengan ketenangan dalam gambar siluet yang indah. Dengan sigap pengambilan landscape ladang jagung, hutan dan kota mati yang sebetulnya tidak terlalu diperlihatkan secara detil sebagaimana cerita film ini pun tidak begitu panjang lebar soal sebab dan asal muasal secara lebih luas, namun dengan gaya bak film bisu mengantarkan ketegangan dan atmosfer yang tak pernah lepas kendali secara sinematis. Selain itu, hal yang membuat A Quiet Place mampu meraih score 95% di rottentomatoes bukan karena horror ataupun konsep ceritanya, tetapi bagaimana Krasinski tetap memasukan unsur soal keluarga begitu kuat dan emosional. Pesan cerita dalam balutan konflik keluarga, dari peran Lee seorang ayah yang menjaga keluarganya tetap utuh, Evelyn yang berjuang mati-matian sebagai ibu saat ia hendak melahirkan anak ditengah kemelut bahaya, dan kedua anaknya terutama Regan, gadis yang merasa bersalah atas masa lalu yang dilakukannya, yang juga menganggap orang tuanya tidak lagi mempedulikan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi.

Meskipun saya merasa monster dalam film ini tidak terlalu terlihat mengerikan, apalagi monster yang tidak mampu melihat ini hanya terlihat beberapa kali sekelibat seperti bayangan. Tapi, horror yang mengandalkan jump scare dan atmosfer ini tetap konsisten menjaganya sampai akhir, dengan konklusi yang tidak sampai jatuh pada antiklimaks.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mengangkat tema perselingkuhan dan masalah suami-istri berbalut thriller-suspense, sepertinya The Girl on the Train adalah salah satu film yang sangat dinantikan, setelah tahun 2014 lalu "Gone Girl" sukses memperlihatkan tragedi destructive dan manipulatif kehidupan rumah tangga. Dipegang oleh sutradara Tate Taylor, "Get on Up", "The Help". Dan di adaptasi dari sebuah novel 'best seller' karangan Paula Hawkins, cerita film ini memang mempunyai segudang misteri dan twist, terutama menyangkut wanita yang hilang dibalik selimut gelap drama perselingkuhan. Ya, film yang memang awalnya digadang-gadang akan sehebat karya Gillian Flynn dan David Fincher, tapi apa yang diharapkan pada akhirnya tidak sebaik kenyataan.

Rachel (Emily Blunt) adalah seorang alkoholik yang mengalami depresi setelah ia ditinggal oleh suaminya Tom (Justin Theroux) dengan alasan sifat istrinya yang kasar, pemabuk dan lagi tidak mampu memberinya seorang anak, berujung Tom berselingkuh dan menikah lagi dengan seorang agen perumahan bernama Anna (Rebecca Ferguson) dan memiliki seorang anak. Tidak mampu menerima kenyataan, dalam keadaan pengaruh alkohol Rachel seringkali berperilaku aneh, dari mengintip dan mengawasi rumah tangga ex-husband dari luar jendela kereta api, berkeliaran di lingkungan rumah Tom, hingga kedapatan dirinya menyelinap masuk ke dalam rumah dan membawa anak Tom keluar halaman.

Tidak sampai disitu saja, suatu hari pengasuh anak Tom, Megan (Haley Bennett) dinyatakan hilang oleh berita media. Detektif Riley (Allison Janney) melakukan penyelidikan dan investigasi terkait hilangnya Megan, dari spekulasi yang mengkaitkan suaminya sendiri, Scott (Luke Evans) yang tinggal di dekat rumah Tom hingga psikiater Megan, Dr. Kamal Abdic (Edgar Ramírez) yang belakangan hubungan mereka tampak lebih dekat. Dan juga menyeret Rachel beserta skandal kehidupan rumah tangganya yang juga dicurigai adanya keterlibatan dirinya dalam kasus Megan.

Bagaikan sebuah puzzle yang kompleks, tentunya Tate dan penulis naskahnya Erin Cressida Wilson harus mampu merangkai dan menyusun setiap kepingan cerita novelnya, agar membentuk satu kesatuan paragraf yang utuh. Tapi, sayangnya kompleksitas cerita film ini tampaknya terlampau rumit bagi mereka berdua, bagaikan benang kusut yang alurnya saling membelit satu sama lain. Erin dan Tate kesulitan menghadirkan susunan cerita yang memikat, bagaimana upayanya menyisipkan seluruh konflik dan persoalan yang ada dalam cerita, tapi justru hadir dengan latar belakang yang begitu sesak dan penjejalan alur cerita yang terasa sempit. Sehingga film ini tampak gagal menuntun eksploitasi sisi setiap karakter secara lebih tajam.

Mentengahkan cerita tiga orang wanita dari berbagai sudut pandang dan persepektif, The Girl on the Train memang menghadirkan tiga alur cerita yang mengalun secara acak dan pelan, mondar-mandir, maju-mundur tanpa satu adegan pun mendominasi. Tatkala Tate dan Wilson terus-menerus mencoba mengkonversi setiap halaman novelnya, mereka terjebak dalam narasi cerita yang justru tidak berbobot. Bahkan hal ini berdampak pada tokoh-tokoh yang sebenarnya berakting sangat ciamik oleh ketiga wanita cantiknya, Emily Blunt, Rebecca Ferguson dan Haley Bennett, terlihat tampak kacau balau. Berbekal kejutan demi kejutan yang dirangkai setiap babak pun tidak mampu membangun ceritanya yang sedari awal film ini sudah ditumpuki berbagai problem karakterisasi personal yang membingungkan.

Sebetulnya, pola yang ingin dibangun oleh Tate dan Wilson adalah untuk bisa menumpahkan seluruh isi materi novel yang ada menjadi thriller-mystery penuh intrik, ada segelintir pembangunan psikologis destructive melalui penderitaan dan kesedihan bercampur aduk dalam sisi wanita yang diperankan oleh Emily Blunt. Juga rasa tidak bahagia dan penderitaan psikis yang dirasakan Megan, karena perilaku posesif dan pengekangan oleh suaminya. Lalu Anna, sebagai sindiran seorang wanita yang terlihat hidup bahagia namun terproyeksi sebagai seorang selingkuhan. Ada sequence yang menyentil tindak kekerasan, kepahitan, rasa kesepian, godaan nafsu dan penggapaian masalah psikologis lainnya, yang sayangnya tidak ada satupun gejolak emosi yang melekat, bahkan saat menghadirkan sebuah ketegangan pun hampir tak terasa hadir sedikitpun.

Well, merangkai sebuah cerita novel yang penuh dengan berbagai kompleksitas cerita yang dipenuhi intrik, ditambah membangun setiap personal karakter yang tidak sedikit adalah tugas yang berat. Apalagi materi yang didapat berasal dari 'best-selling' novel, sudah pasti ingin menyajikan paragraf dan tulisan dari tiap lembar cerita misteri menjadi visual yang mencekram adalah sebuah konsekuensi besar. Setiap orang punya harapan, bahkan berharap bahwa film The Girl on the Train punya wahana secerdik novelnya, memang sama sekali kurang memuaskan, walaupun saya sendiri belum membaca bukunya, tapi saya punya ekspetasi besar bagaimana akhir klimaks film ini pun sudah mencerminkan bagaimana bukunya ini bisa dicintai oleh penggemarnya hingga sukses terjual sampai jutaan copy.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates