• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sejarah kelam penjajahan di masa lalu memang tidak bisa dilupakan oleh setiap negara manapun, termasuk Korea. Dibarengi gemuruh filmmaker Korea kerap unjuk taring agar bisa bersaing sebagai film blockbluster ala Asia. Titik inilah yang membuat seringnya mereka mengambil premis yang melatarbelakangi peperangan antara Korea dan Jepang, dimana Jepang sendiri memang sudah dikenal atas kebengisan dan kekejamannya di masa penjajahan terhadap Korea yang tak mampu dilupakan selamanya. Sebelum The Battle: Roar to Victory banyak film yang sudah membahas hal serupa, sejauh yang saya ingat yaitu 'Age of Shadow' dan 'Battleship Island'. Dan istimewanya di negaranya sendiri, film ini adalah film terlaris yang menyedot penonton sebanyak 1 juta dalam 4 hari penayangan. Yang bisa dikatakan film ambisius dari sutradara Won Shin-yeon ini mungkin berusaha mampu berkata banyak melalui filmnya.

Kita mendapatkan seorang tokoh utama Hwang Hae-Cheol (Yu Hae-Jin) seorang milisi kemerdekaan Korea bersama rekannya Jang-Ha (Ryoo Joon-Yeol) yang berjuang melawan para elite tentara Jepang yang dipimpin oleh Jiro Yasukawa (Kazuki Kitamura) si pembunuh harimau berkumis Pak Raden di Manchuria, China (1920). Tak lepas dari tentara Jepang sebagai penjahatnya yang super-duper kejam, kita akan melihat banyaknya adegan brutal dan bengis di film ini. Dari banyaknya adegan kepala terpenggal berserakan, hingga seorang bocah mati tertembak saat ia mencoba kabur membawa tali layangan, sementara gilanya para tentara asyik menyaksikannya sambil tertawa sebagai hiburan. Film ini memang hampir begitu banyak adegan eksploitatif yang kemungkinan besar bakal membuatmu banyak mengeluskan dada.

Sepanjang film berjalan ia akan dipenuhi dengan sederet aksi tanpa henti, dari aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, sumput-sumputan, dan tentu saja ia bukan sekedar aksi tanpa otak, tapi lebih ke alur yang lebih taktis, walau tidak sampai terkesan cerdas, rumit atau apapun dengan gagasan super simple tapi alurnya enak diikuti. Walau dalam beberapa adegan terkesan repetitif, tapi Shin-yeon mengurainya dengan elemen-elemen yang tampak baru dalam sajian film perang seperti senjata golok/parang yang digunakan Hae-Cheol untuk membantai para tentara Jepang dengan hebatnya. Walau kadang tingkahnya overreacted menurut saya, selalu maju sendirian ditengah senjata api yang ditodong tepat dihadapannya, well, saya dapat memaklumi karena meski begitu aksinya terlihat sangat keren dan brutal bagaikan saya sedang menyaksikan Iko Uwais di film The Raid. Tokoh lain pun tidak sekedar menjadi peramai semata, Jang-Ha yang bisa dikatakan second-leader hadir dengan kemampuan menembaknya, walau tak semenonjol Hae-Cheol, tapi ia punya kegesitan dan akal yang lumayan dibalik muka cemberutnya yang menyebalkan.

Tapi, saya sedikit agak kecewa dengan beberapa pengenalan karakternya yang terlampau seadanya, menimbulkan banyak tanda tanya dan sesaknya tokoh yang terus bermunculan sampai akhir membuat saya tidak peduli lagi dengan mereka. Seperti Hae-Cheol dan Jang-Ha yang ternyata punya ikatan masa lalu yang sama, membuat penasaran tapi nyatanya malah membingungkan. Sementara Jang-Ha yang sedikit banyak terlihat masa lalu dan hubungan bersama kakak perempuannya, malah lebih banyak mengambil porsi cerita. Yang lebih banyak ditekankan pada film ini justru pada interaksi para tokohnya, diwaktu luang kita dihadirkan nuansa jenaka dan santai para pejuang milisi, hal menarik lainnya juga datang pada Hae-Cheol yang seringkali tampak memberi semangat dari sebagai dialognya yang membuat kita terhenyak dengan kata-katanya soal patriotisme, kenapa kita berperang, dan bagaimana mereka ada disini meski latar belakang para milisi bukanlah prajurit murni. Sementara Ma Byeong-Ku (Jo Woo-Jin) menjadi sidekick Hae-Cheol yang penampilanya cukup menarik dengan syal birunya, dan sedikit ada bumbu romansa Choon-Hee (Lee Jae-In) sisa penduduk desa yang dibantai dan Yukio (Kotaro Daigo) yang rada-rada mirip Dilan sebagai tawanan tentara Jepang yang berumur masih sangat muda, tapi sayang di penghujung cerita mereka pun agak menggantung. Boss villain, Jiro yang diperankan cukup baik oleh Kitamura yang diawal cukup bengis menumbal harimau tanpa ampun pun tidak terlalu kentara dalam bagian aksinya, kecuali Park Ji-Hwan yang berperan sebagai tentara berpangkat Shigeru Arayoshi yang lebih banyak memberi penonton rasa penasaran, "Ini orang kok ga mati-mati!?"

Jika berbicara segi teknis dan sinematografi, film ini juaranya. Saya menonton ini seperti tidak percaya ini bukan film fantasi, tapi ia menyajikan landscape dan panorama keindahan dari setiap gambar yang ia sajikan, pergerakan dari gambar ke gambar dengan nuansa aksi dan perang yang memuntahkan peluru, meriam dan darah. Tapi, dari sana ia memperlihatkan bentang rumput hijau, ilalang, hutan, bukitan-bukitan bahkan ketika menyusuri lereng-lereng dari atas layaknya film Peter Jackson, LOTR yang dikombinasikan dengan 'Saving Private Ryan.'nya Steven Spielberg. Tidak berlebihan, karena penyajiannya memang sebaik itu, apalagi mungkin film ini tampak berputar-putar di satu tempat, tapi ia digarap dengan memunculkan berbagai panorama perspektif yang baru dari tiap scene yang ada.

Saya tidak mengatakan The Battle: Roar to Victory sebuah mahakarya yang besar, ia punya kekurangan terutama pada alur belakang: pengenalan tokoh dan alur depan: semerawutnya tokoh baru yang terus-menerus bermunculan yang kadangkala kita heran mereka ini siapa-siapa, apalagi bagi yang buta sejarah Korea. Yang paling menghibur tentu saja aksi 'movie walkthrough' disepanjang film yang akan memperlihatkan aksi kejar-kejaran antara milisi Korea dan tentara Jepang tanpa henti. Walau rada-rada repetitif tapi sekian banyak ia memberikan letusan-letusan kebrutalan dan kegilaan yang lumayan memancing emosi dan sensasi, sehingga alurnya tetap enak diikuti.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


10 Tahun berlalu sejak pertama kali Michael Bay memperkenalkan Transformers pertamanya, 10 Tahun pula Transformers kerap mendapat cibiran karena kualitas filmnya yang buruk. Tapi, ada satu hal yang malah membuat saya rindu dengan filmnya yang berisik dan kacau setelah menonton film BumbleBee. Sesuatu yang sepertinya telah melekat dan menjadi nyawa tapi kemudian hilang, hal yang saya tunggu-tunggu pada klimaks dalam skala gila-gilaan dari visual effect-nya Bay. Aneh memang, tapi itulah yang dicari kala mencari hiburan tak berotak di film Transformers untuk sesaat melakukan relaksasi mata, ditangan sutradara yang berbeda tentu saja ada beberapa hal yang terasa berubah kala BumbleBee ditangan Travis Knight filmnya bukan lagi atau tidak sama lagi dengan yang saya rasakan sebelumnya.

Buruk? Tentu saya pastikan tidak ada yang buruk di film ini. Ditangan Travis dan penulis naskahnya Christina Hodson, Bumblebee berubah menjadi sajian film bernyawa dan memiliki "hati" didalamnya. Sebagai sebuah reboot, Bumblebee adalah perombakan besar-besaran, dalam artian dari segi narasi, plot cerita dan karakter yang terkesan lebih manusiawi. Cerita utamanya adalah hubungan persahabatan seorang gadis bernama Charlie Watson (Hailee Steinfeld) dengan Bumblebee. Masing-masing keduanya punya kerumitan masalah kehidupan, Charlie adalah gadis penyendiri dan pemurung yang belum bisa move on dari kematian ayahnya, sedangkan Bumblebee dalam situasi genting saat perang Cybertron berkecamuk dan atas perintah Optimus Prime, ia dengan terpaksa datang ke bumi dan bersembunyi dari kejaran Decepticons. Namun naas, sesaat ia tiba, Bumblebee disergap oleh para militer Amerika yang dikomandoi Agen Burns (John Cena) dan pula diserang oleh seorang Decepticon yang diam-diam membuntutinya sehingga ia mengalami kerusakan dan kehilangan ingatan. Dalam kemelut tersebut, dikemudian hari Charlie menemukan Bumblebee tengah menjadi mobil rongsokan dan membawanya kerumah, mengetahui bahwa ia seorang alien Charlie mencoba bersahabat dan melindungi Bee dari dunia luar yang mungkin mengancamnya.

Saya mengenal Travis Knight lewat karya film animasinya Kubo and the Two Strings. Dan sejujurnya saya kurang terlalu suka dengan film tersebut meski para kritikus memujinya bahkan rottentomatoes memberi tomat segar 98%. Dan ternyata sama seperti Bumblebee, ia memang film yang luar biasa tapi sebetulnya ia terlihat sedikit payah. Tentu, saya tak meragukan dinamika cerita, perasaan, emosi dan kecerdasaan Travis membangun keseluruhan cerita menjadi satu irama yang terkoneksi. Tapi, tentu seharusnya Bumblebee bukan sebuah film yang dipenuhi drama melankolis, ia tak seimbang dengan iramanya membangun drama dan aksi. Justru terperangkap karena terlalu ber"hati" dengan keinginan membangun skala emosi yang lebih besar, sehingga kehilangan kesenangan saat melihat Autobots dan Decepticon meledak-ledak dan berjumpalitan. Apa karena ekspetasi atau mungkin pengaruh film sebelumnya, yang pasti hiburan terbesar Transformers adalah kehancuran, ledakan dan kebisingan yang terasa sedikit sunyi di film ini. Meski hanya satu hal yang hilang yaitu tak ada kota yang hancur dalam skala besar, meski beberapa paruh saya tetap terhibur dengan sekuens-sekuensnya yang terbangun dengan berbagai momentum yang cukup rapi.

Terlepas dari itu semua, Bumblebee memang memberikan apa yang disebut kualitas. Cerita persahabatannya bagai film E.T. the Extra-Terrestrial, tidak kekanak-kanakan tapi juga dewasa dalam melingkupi persoalan kedewasaan, kerelaan dan intimasi hubungan keluarga. Sesuatu yang membuat kisah hidup Charlie jauh lebih relevan dan berkarakter ketimbang Sam Witwicky yang berisik dan overacting. Beberapa kali saya terharu, tergetar dan tersenyum dengan kisah keduanya. Ditubuh robotnya pun Bumblebee layaknya bocah polos yang tingkahnya memancing tawa, tapi juga membuat kita sensitif terhadap tuturnya yang manusiawi dan bernyawa. Hal terkeren dalam film ini pun tak luput dari villain yang hadir, stoknya mungkin terbatas pada tiga tokoh saja. Satu dari kalangan manusia bernama Burns diperankan oleh John Cena, salah satu akting terbaik dalam karirnya. Dan dua dari kalangan decepticon, Shatter dan Dropkick, villain berwatak jahat tapi juga tampil sebagai mesin berotak tanpa harus melabeli diri mereka sebagai megalomania yang terkubur oleh motif ambisi yang terbatas layaknya Megatron. Dengan tampilan yang berlatar generasi Y tahun 80-an, musik berlantun khas semacam Take On Me milik "Aha" menjadi ciri khas yang membuat Bumblebee menjadi sajian yang terasa khas dan menarik.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


Dalam kurun waktu 2 dekade kita sudah mengenal 3 karakter Spider-Man modern yang diperankan oleh Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland. Ketiga-tiganya memiliki plot cerita yang hampir sama, entah kisah percintaan, pekerjaan, intelektual, tragedi paman Ben, dan segala yang sudah terasa familiar dengan karakter bernama Peter Parker. Nah, mungkin ide untuk membuat film Spider-Man out of the box dari kisah-kisah yang saya rasa lama-lama bakal jadi klise, tim studio Marvel beserta Sony Pictures berusaha untuk keluar dari kebiasaan lama. Maka tetap mengambil asal-usul adaptasi komiknya, Miles Morales (Shameik Moore) menjelma menjadi sosok the new Spider-Man. Tentu saja Spider-Man yang lebih muda dan segar, ayah dan ibu yang masih hidup, tanpa kisah cinta, dan berkulit hitam.

Miles Morales adalah remaja belasan tahun yang hidup bersama kedua orang tuanya. Miles memiliki seorang Ayah yang tidak ia sukai bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), seorang polisi yang keras dan kerap mengatur kehidupan pribadinya. Miles pun memiliki seorang paman yang ia cintai dan dekat dengannya, Uncle Aaron (Mahershala Ali) yang justru menjadi ayah keduanya. Miles sebetulnya hidup di kota yang sama dengan Peter Parker, dan mungkin diperkirakan 20 Tahun setelah kejadian-kejadian yang kita kenal sebelumnya, telah menikah dan hidup bahagia bersama Mary Jane. Beberapa plot cerita pastinya tidak akan saya jelaskan secara rinci, yang pasti disaat yang sama ketika Miles tergigit laba-laba misterius, seorang penjahat mencoba mengacaukan dimensi, sehingga beberapa Spider-Man di dimensi/universe lain tertarik ke dalam dunia tempat Miles tinggal, dan tugasnya sekarang adalah membawa pulang kembali para Spider-Man dan menyelamatkan kota dari kekacauan.

Melalui sebentuk animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film penuh kekacauan, kerumitan dan keanehan. Baik karakter, cerita maupun visual animasinya sendiri. Berbagai macam karakter Spider-Man bermunculan, actually dari Spider-Man berperut buncit dan paling menyedihan, Spider-Man Noir, Spider-Woman, dan Spider-Man paling aneh dan konyol mirip tokoh kartun Looney Tunes, Porky Pig. Segala hingar bingar cerita yang konyol, melewati batas imajinasi dan pikiran liarnya, sentuhan ini tentunya didapat dari naskah dan ide Phil Lord dan Rodney Rothman, terutama Lord yang notabene membuat Spider-Verse layaknya The Lego Movie. Dibelakangnya pula terdapat tiga sutradara serangkai yang memang sudah pernah menangani animasi lain Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman.

Untuk animasi visualnya sebetulnya sedikit non-konvensional, lihat saja efek ledakannya yang menyerupai gelembung sabun, beberapa desain karakternya yang nyeleneh dan kadang ambigu untuk dibawa ke realita kehidupan Miles. Tapi, tentu saja kita dapat memaklumi bahwa kita dapat beranggapan film ini serupa animasi The Lego Batman Movie (2017), jangan pernah bertanya tentang logika dan keabsurdannya, tapi kita menyadari bahwa ini adalah film animasi, dimana kebanyakan memang tak memerlukan pemahaman tersebut. Selama film masih membuat tertawa, menyentuh hati dan masih related dengan kejadian-kejadiannya, Spider-Verse memiliki hal tersebut. Dalam keseruan efek animasi yang tajam dan mengikat, yang paling saya suka adalah perpaduan animasi dan lagunya yang terasa klop, salah satunya lagu "Sunflower" yang dinyanyikan Post Malone dan Swae Lee terasa renyah berapa kalipun di putar dan dinyanyikan oleh Miles sendiri, bahkan saat filmnya selesai. Dan faktanya saya sudah sering mendengar lagu ini sebelum filmnya dirilis, bener-bener adem dan renyah didengar.

Dari segi cerita, selain humor khas Phil Lord, film ini tetap mengeksplorasi ruang perasaan dan hati dalam ceritanya yang penuh ironi. Berbarengan dengan pendekatan kisah familiar seperti romansa hubungan Peter dan Mary, sedikit cuplikan kereta Spider-Man 2-nya Sam Raimi yang paling memorable, berbagai pop-culture yang memperkaya dunia Spider-Man. Memang film ini tidak hanya menghibur, tapi memang benar-benar film tentang Spider-Verse yang kadang terasa seperti nostalgia. Berbagai villain pun muncul disini, dari Doctor Octopus, Scorpion, Green Goblin, dan Kingpin. meski tidak terlalu banyak dimunculkan karena memungkinkan membebani cerita. Mengatakan Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film terbaiknya Spider-Man? Melihat kekayaan dan motivasi film ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan cinta pada karakternya yang paling ikonik, tentu saja tanpa ragu saya mengatakan filmnya benar-benar keren, bernuansa, eksploratif, kaya, unik dan menyentuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Jika dipikir-pikir Aquman tak ayal seperti film action fantasy konvensional yang terikat dengan kisahnya yang standard dengen element visual bawah laut yang megah layaknya Percy Jackson. Disutradarai oleh James Wan yang lebih dikenal menangani film-film horror semacam Saw dan The Conjuring, lalu merambah ke action theme yang telah mensukseskan salah satu franchise besar Furious 7. Kini DC Comics mempercayai Wan untuk menangani salah satu karakternya yang populer, Aquaman aka Arthur (Jason Momoa). Meski saya sebut Aquaman ini film dengan kisah standard dan konvensional, tapi bukan juga deretan film buruk DC dalam universe yang coba dibangun. Ia memang menyajikan spirit petualangan penuh aksi memukau dan visual dunia bawah laut dan kota atlantis yang megah.

Diawali dengan kisah pertemuan orang tua Arthur, ibunya Atlanna (Nicole Kidman) seorang putri Atlantis yang berusaha kabur dari pernikahan orang tuanya dan Tom Curry (Temuera Morrison) penjaga mercusuar yang tak sengaja melihatnya dan mencoba menolongnya di tepi pantai. Pertemuan mereka menjadi benih cinta dan melahirkan seorang anak bernama Arthur. Ketika dewasa Arthur hanya tinggal bersama ayahnya saat ibunya Atlanna harus kembali ke Atlantis saat ia kecil dan tak pernah melihatnya lagi. Di lain pihak, Atlantis kini dikuasai oleh adik tiri Arthur (ibu yang sama tapi ayah berbeda) bernama King Orm (Patrick Wilson) yang berniat melawan manusia dipermukaan karena dianggap sebagai sebuah ancaman bagi dunia bawah laut. Mera (Amber Heard), anak dari King Nereus (Dolph Lundgren) sekutu sekaligus tunangan King Orm berupaya mencegah niat buruk Orm dengan membujuk Arthur merebut kembali tahta Atlantis dari tangannya. Agar upaya Arthur dan Mera berhasil mereka harus mencari trisula Atlan yang digunakan raja pertama Atlantis agar ia bisa menantang Orm dan merebut takhta.

Beberapa tahun terakhir mungkin beberapa orang kompak bahwa salah satu film DC Comics yang selamat dari banjir kritikan pedas adalah Wonder Woman. Film Wonder Woman memang tipikal film dengan cerita yang sebetulnya sangat sederhana, tapi saya menyukai filmnya karena punya spirit feminisme dan kemanusiaan yang kuat dalam balutan kisah mitologi. Dan menyangkut beberapa element termasuk komedi dan naskah pun cukup berhasil. James Wan dipercayai merangkul Aquaman sepertinya ingin membawa film dengan tampilan keren dengan atraksi visual dan aksi. Dan bukan cuman itu, Wan beserta tim penulis naskah David Leslie Johnson-McGoldrick dan Will Beall menyuntikkan setiap element agar filmnya tidak hanya renyah dimata tetapi renyah pula dihati. Wan mencoba memasukkan semuanya kedalam film seperti tak luput membawa isu lingkungan alam dan pula sentuhan emosional tentang cinta dan keluarga. Tapi, dalam eksekusi hanya sedikit yang bisa terasa, selebihnya hanya cerita linear dan biasa tentang petualangan mencari trisula, perebutan takhta kekuasaan layaknya Black Phanter, klimaks perang layaknya LOTR versi bawah laut dan berbagai suntikan aksi dan cerita yang sebetulnya jika ditilik tampak familiar. Dan kesan familiar inilah yang mungkin menyebabkan kisahnya sendiri terjebak oleh naskah yang enggan keluar dari kebiasaan.

Ada hal yang saya suka dan tidak suka di film ini. Terutama imbas villain yang lagi-lagi seperti kebanyakan villain superhero lainnya, yaitu sifat megalomania yang tidak memiliki kompleksitas dan kurang berkesan. Komedinya pun terasa hit & miss, dan beberapa malah terdengar seperti dialog biasa. Hal-hal yang saya suka tentu masih ada, ditangan Wan aksinya tetap memancing adrenalin, bumbu Furious 7 masih terasa melekat dengan aksi yang kebanyakan memang penuh chase scences, pertama adegan yang sudah ditampilkan dalam trailernya yang berdurasi panjang (promosi trailer yang terlalu berlebihan dan sia-sia) dan kedua kejar-kejaran dengan The Trench, salah satu best scene menurut saya. Aksi dan visual berpadu dalam gaya sinematik khas film action fantasy yang menyenangkan. Tapi, memang meski bermain di ranah visual, terkadang Wan kurang menyajikannya secara lebih berwarna dan indah, beberapa tone kadang malah terasa gelap, kaku dan kurang bernuansa dimana sebenarnya banyak yang bisa di eksplorasi dalam tatanan visual laut dan kota Atlantis yang seringkali diceritakan sebagai kota legenda paling indah. Hal yang cukup saya suka adalah kostumnya, beberapa kostum berat dan nyeleneh tapi membuat filmnya tampil agak berbeda, seperti kostum yang dipakai oleh para tentara Atlantis yang kesannya mirip kostum di game Halo, pakaian ketat dan blinking dipakai Mera dan Arthur yang awalnya kelihatan aneh tapi saya pikir kostumnya bagus dan tidak terlalu berlebihan. Dan ada Willem Dafoe disini berperan sebagai penasehat raja Atlantis yang loyal bernama Vulko, entah kenapa di film ini dandanannya tidak segarang film-film lainnya dan tampak lucu dengan gaya rambutnya yang klimis itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


The Battleship Island mungkin bisa menjadi salah satu tontonan yang bagus untuk melihat betapa sejarah kelam penderitaan rakyat Korea akibat kolonialisme Jepang sangatlah kejam dan tak manusiawi. Seingat saya baru dua film Korea yang pernah saya tonton bersangkutan dengan tragedi ini, judulnya The Last Princess (2016), namun sayang film ini terlampau melodrama dan terkesan mirip soap opera ketimbang film biopik yang serius. Sedangkan yang paling bagus menurut saya adalah The Age of Shadow, namun juga film ini hanya kisah fiksi semata. Ryoo Seung-wan sutradara sekaligus penulis naskah membawa kita menyelami perspektif cerita melalui perjuangan masyarakat tanpa kelas, tentu saja tanpa embel-embel patriotisme tentara. Bahkan termasuk Lee Gang-ok (Hwang Jung-min) dan anaknya So-hee (Kim Su-an), keluarga yang bisa dibilang mencari nafkah dengan menjadi seniman musik, dijebak (atau terjebak?) menjadi buruh tambang di pulau battleship Island (Hasima Island). Selain keduanya, ada anggota mafia bernama Choi Chil-sung (So Ji-seob) dan seorang wanita Mallyon (Lee Jung-hyun), sepasang kekasih yang bisa dibilang hubungan mereka benci-cinta dalam pertemuan tak terduga. Song Joong-Ki (Park Mu-young) seorang tentara yang diam-diam masuk ke Hashima. Selain dari mereka masih terdapat lagi karakter-karakter lainnya, meski tidak sedominan mereka, bisa dilihat dari poster yang terpampang mewakili wajah 400 orang Korea yang terisolasi di Hashima.

Tentu saja film ini mengangkat tema tentang realita kekejaman para tentara Jepang di Hashima, termasuk perbudakan dan penyiksaan terhadap kaum pria yang dijanjikan upah sebagai pekerja tambang, sedangkan kaum wanita dijadikan pelacur di rumah bordir bagi para tentara Jepang. The Battleship Island termasuk film dengan biaya produksi termahal yaitu US$21 million (Rp276 miliar), itu bisa dilihat bagaimana film ini akan dipenuhi berbagai visual effect yang megah dan epic. Bukan cuman visual efek, tapi bagaimana Ryoo Seung-wan memenuhi segala plot cerita dengan paket full-action, dari sekedar perkelahian di tempat mandi umum yang kotor dan licin, ledakan pipa gas dalam tambang yang penuh semburan api dan ledakan, hingga klimaks yang dramatis dan megah. Tidak heran film ini bisa dikatakan sebagai film yang sangat ambisius mencoba untuk menyaingi pasar blockbuster hollywood Amerika Serikat.

Tetapi The Battleship Island adalah film yang sebetulnya punya narasi cerita yang lemah. Tentu saja ini bisa dilihat bagaimana Ryoo mencoba membagi sekuens cerita dimana fokus cerita terbagi-bagi dengan linimasa yang kompleks dan berdiri sendiri. Melompat-lompati cerita sepertinya bukan keahlian Ryoo menangani set piece sebesar ini, dengan banyak karakter, banyak tempat dan banyak cerita. Ruang cerita tersebut menjadi sesak dan sempit, sehingga narasi yang disampaikan menjadi kabur dan seringkali tak jelas. Seperti kemunculan Song Joong-Ki yang tiba-tiba, Mallyon yang sama sekali tidak diceritakan asal-usul dan masalah yang dihadapinya di Hashima. Motif Choi Chil-sung yang seorang anggota mafia kok bisa-bisanya terjun menjadi buruh tambang. Semua latar cerita film ini terasa dibuat random, bahkan sekedar menceritakan asal-usul Hashima sebagai posisi tempat mencari nafkah para pekerja atau memang para pekerja paksa yang dijebak sama seperti yang dialami Lee Gang-ok? Bencinya saya memang tidak terlalu mengikuti fakta sejarah Hashima, tapi bukan berarti film ini memperlemah narasinya sendiri. The Battleship Island memang menjanjikan cerita yang emosional, menegangkan dan dramatis, seperti bagaimana sekuens hubungan ayah dan anak yang rentan terpisah, sepasang kekasih dalam pertemuan romantis di tempat yang salah, konflik internal, dan muatan politik keji beberapa karakternya membuat film ini sama sekali tidak monoton dan kita pun turut terikat dengan berbagai karakternya, bahkan beberapa elemen komedi sempat memancing tawa meski bungkusan adegan seringkali begitu intens, penuh kekerasan dan ledakan, lantaran terdapat sosok Lee Gang-ok, pria oportunis dan selengean yang sebetulnya tokoh sentris yang lemah dan tidak berdaya, tapi cukup memiliki akal dan upaya untuk tetap bertahan hidup dan melindungi anaknya. Tapi, tetap saja sih saya tidak menyukai narasi ceritanya yang lemah yang tidak bisa ditutup-tutupi di beberapa babak, membingungkan dan terkesan random.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Tepat 1 dekade setelah Marvel menerobos kesuksesan melalui MCU (Marvel Cinematic Universe) dengan mampu memboyong fanatisme masif dunia. Tentu saja ini bukan sekedar euforia semata, melainkan impian nyata dari segenap penonton yang dulu mungkin berangan-angan adanya crossover, termasuk saya ketika dulu masih berseragam abu-abu membayangkan akan adanya pertemuan antara Superman, Wonder Woman dan Batman dalam satu tim. Kesuksesan ini pun dibayar lunas ketika genap 10 Tahun Marvel terus-menerus membuktikan ketajaman mereka merangkul setiap film tanpa ada yang collapse. Dan puncaknya pasca Avengers: Infinity War, saya penasaran apa yang akan coba Marvel tawarkan, mengingat masih ada dua film lagi yaitu "Ant-Man and the Wasp" dan "Captain Marvel" sebelum nantinya kulminasi Avengers ke-4 tiba. Mengingat Avengers: Infinity War sendiri, saya seperti sedang menyaksikan major war atau klimaks cerita yang melibatkan antar-galaksi, ras alien dan dewa-dewa mitologi yang lebih melar. Dan ketika semuanya terjadi, kita pun bertanya apa / kemana peran Ant-Man dan setiap karakternya pada saat itu absent?

Dr. Hank Pym (Michael Douglas) dan anaknya Hope Van Dyne (Evangeline Lilly) mendapatkan misi baru untuk mencari Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer) istri Pym yang diduga masih hidup terjebak di Quantum Realm. Tentu saja pencarian mereka tidaklah mudah, pertama, mereka sedang diburu oleh FBI menyangkut konflik pasca film Captain America: Civil War. Kedua, musuh baru yang mampu menembus partikel padat, Ava aka Ghost (Hannah John-Kamen) yang mencoba mencuri teknologi milik Pym. Sedangkan sang tokoh utama, Scott Lang aka Ant-Man (Paul Rudd) pun sedang menjalani tahanan rumah, sehingga ia juga sedang terjebak dan mengalami hambatan untuk turut membantu misi mendesak tersebut.

Masih dengan sutradara yang sama, Peyton Reed beserta tim penulis naskah Chris McKenna, Erik Sommers, Paul Rudd, Andrew Barrer dan Gabriel Ferrari. Ant-Man and The Wasp memiliki warna yang hampir sama dengan film sebelumnya, ringan dan ceria dengan segala komedi pengobat lara di tiap menitnya. Hadir dalam sentuhan cerita soal keluarga juga tetek bengek menyoal new hi-tech hingga pengenalan lebih dalam dunia quantum realm yang pernah dimasuki Scott saat menyusut ke ukuran subatom. Eksplorasi dunia dilakukan oleh Marvel dari skala terkecil sampai skala terbesar semakin menembus dimensi yang tak terjamah akal dan kemampuan manusia, seperti ketakjuban kita tentang alam semesta dunia MCU di film Doctor Strange.

Film yang tampak sederhana ini mungkin di isi dengan dialog-dialog yang terdengar saintifik dengan istilah yang mungkin terdengar asing seperti subatom, quantum realm dsb. Tapi, filmnya tidak tampil begitu nge-jelimet dan memusingkan semacam "Interstellar" karya Christopher Nolan, tersirat pula dari wajah bengong dan ketidakpahaman Scott yang kerap kali terjebak dengan ocehan para jenius karakter membicarakan yang kadang kitapun hampir tidak paham. Komedi masih tetap mengguncang tawa, entah dalam keadaan normal atau keadaan kritis dan serius, bahkan sesekali mengandalkan kostum Ant-Man hingga repetisi lelucon ikonik Luis (Michael Peña) yang tetap banyol. Saya pun suka akan daya tarik baru tentang abstraksi visual, sajian porsi small-big swap events kostum Ant-Man yang tidak saja keren tapi dibuat lucu, debut The Wasp aka Hope dengan gaya rambut baru casual-nya, bersamaan kokohnya chemistry antara Scott aka Ant-Man dengan keterlibatannya dalam aksi yang lebih intens. Plus, Michelle Pfeiffer, pesona artis senior berusia 60 tahun yang tak kalah enchanting dan youthful, membuat saya terpikat untuk melihat lebih dinamika aksinya di film ini.


Selain itu, hadir pula Ava aka Ghost sebagai villain kedua wanita setelah Hela. Mungkin banyak yang mengecap buruk perihal karakter dan motifnya yang sentimentil, apalagi para pemuja Thanos, si big boss karismatik kerap dijadikan pembanding yang tak seimbang. Pemilihan tokoh yang kadangkala terbesit soal ability-nya melawan hukum fisika dan logika, namun saya mengamini Marvel membuatnya tanpa obsesi semata, melainkan masih mempergunakan efektifitas dan mencoba memainkan sisi kemanusiaan dan sentimen kehidupan tanpa memandang hitam-putih karakternya. Ada pula Dr. Bill Foster (Laurence Fishburne) rekan lama Hank Pym yang terlihat tak akur, dan selalu menganggap Hank Pym adalah rekan yang keras kepala dan egois. Trio Luis (Pena), Kurt (David Dastmalchian) dan Dave (T.I.) masih tetap tim yang tak ketinggalan untuk menambah adegan aksi dan humor menggelitik disetiap tempat. Dan tak lupa lupa keluarga Scott yang selalu tampak begitu erat dan harmonis, terutama little chemist dengan anaknya Cassie (Abby Ryder Fortson) yang semakin menggemaskan memadu kedekatan dengan ayah yang dicintainya.

Mencoba menetapkan genre family sebagai suntikan varian barunya, Ant-Man and The Wasp adalah wadah paling cocok untuk memperlihatkan secara subtil bahwa Marvel adalah studio yang tahu caranya menawarkan sesuatu tanpa terpengaruh euforia. Meski sekuel Ant-Man tidak terlalu istimewa, tapi sama seperti Thor: Ragnarok, cenderung memiliki cerita progresif dan terbuka, lelucon-lelucon segar, dan koloborasi kuat dua protagonisnya, hingga sentuhan manis soal keluarga begitu kental mengisi ruang-ruang cerita, meski kerap ada pula memandang sinis akan kebiasaan Marvel tentang konsep filmnya yang masih kurang berani dan kurang dark. Tapi, buat saya MCU sudah terkonsep dengan brilliant, cerdas dan berani, sehingga bukan mustahil jika MCU akan tetap mampu bersinar untuk 1 dekade lagi, jika mereka mau.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kenapa wanita selalu jadi korban pelecehan dan pemerkosaan? Seringkali tuduhan yang menyebabkan pelaku (lelaki) memperkosa wanita karena akibat dan ulah wanita itu sendiri. Jika tubuh perempuan tersebut semakin terbuka dan menggoda maka otomotis status wanita tersebut semakin inferior dan impolite, bahkan digenerelisasi secara intelektual dan dianggap sumber biang keladi masalah. Jadi, sangat wajar jika wanita jauh lebih banyak mendapat perkosaan karena perilaku mereka sendiri. Jika seperti itu kemana posisi laki-laki untuk bisa menghargai wanita dan tubuh mereka bukan sebagai objektifikasi dan olok-olok semata?

Revenge berasal dari film Prancis yang di nahkodai oleh sutradara debutan Coralie Fargeat. Melalui film pertamanya Revenge bercerita tentang seorang wanita sosialita bernama Jen (Matilda Lutz) yang diajak berlibur oleh kekasihnya yang kaya Richard (Kevin Janssens), di sebuah lokasi rumah mewah terisolasi di tengah padang gurun tak bernama. Tentu saja Jen tidak sendirian, Richard yang seorang pemburu ternyata mengajak kedua temannya Stan (Vincent Colombe) dan Dimitri (Guillaume Bouchède) ikut tinggal bersama mereka tanpa sepengetahuan dirinya. Tentu saja hal yang tidak diinginkan Jen terjadi, ia mendapat tindak perkosaan bahkan pembunuhan oleh ketiga pria tersebut. Dianggap sudah mati, Jen yang ternyata masih hidup menuntut balas dendam atas perbuatan ketiganya.


Film Revenge terdengar klise, iya. Tapi, Revenge buka film tanpa konteks, meski genre rape-revenge sudah kesekian kali dibuat, bahkan hampir berbarengan dengan film serupa yang berasal dari Indonesia, Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak. Coralie yang merangkap sebagai penulis naskah punya motif kuat yang bersandar pada isu feminisme dan eksploitasi wanita, tapi tentu dengan pendekatan yang sangat maskulin. Film ini penuh dengan adegan brutal, gory, bloody dan mengekspos rentetan adegan sensual. Tentu film ini tentang konfrontasi antara 1 wanita dan 3 pria, mengajak kita peduli soal nasib Jen yang terperangkap tak berdaya tanpa kekuatan dan pelindung. Perkosaan seperti sebuah kisah teror realita tak terelakkan pada wanita menghadapi takdir dominasi dan patriarki pria.

Eksploitasi adalah permainan yang dibawa Carolie ke ranah cerita, saya mengerti kenapa kamera begitu ragam mengumbar hampir seluruh bagian fisik Jen yang kerap mengundang birahi dibabak awal cerita. Kemudian melalui gestur dan mimik canda-menggoda didepan 2 pria asing, Jen tampak berjoget gemulai tanpa bimbang karena ia tahu sang pacar Richard disana sama-sama menyaksikannya. Lalu ditengah kesempatan lahirlah pemerkosaan. Dan selalu dibalik pemerkosaan melahirkan pembunuhan. Coralie sengaja memfasilitasi tokoh utama Matilda Lutz untuk terus berpakaian minim, meski seringkali ia berpakaian terbuka bukan untuk menggoda, kadang situasi dan kondisi tak mendukung dirinya untuk tampil tertutup. Bahkan ketika Jen, Stan dan Dimitri berpapasan pertama kali, bukan keinginan Jen untuk memperlihatkan dirinya sedang memakai celana dalam, kan?



Meski Carolie memuat isu feminisme. Tapi, saya menyukai bagaimana Revenge mencoba mempropoganda dua sisi koin baik-buruk. Bahkan Jen bukan serta-merta tokoh yang purely, gadis baik-baik lalu mendadak jadi korban. Semua punya asal muasal, sebut saja Richard peselingkuh yang berstatus keluarga ternyata seorang yang kasar dan kejam, Stan, pengecut yang penuh nafsu yang juga berstatus keluarga, Dimitri, pria apatis, bodoh dan doyan planga-plongo dan Jen tokoh utama yang ternyata seorang pelakor. Dan kemudian kita ditanya siapa yang jadi pemicu masalah? Apakah karena Jen seorang pelakor lalu ia bisa dicap sebagai wanita penggoda sehingga wajar jika ia diperkosa, sedangkan Jen kemudian dianggap wanita disposable, slut dan brainless oleh ketiga pria ini. Bahkan beberapa ucapan ofensif menohok masuk ke telinga saya mendengarkan pria-pria ini merendahkan Jen, "Woman always put up a fight" dan "Even for your tiny little oyster brain, it shouldn't be too difficult to understand." Ah, sakit!

Coralie tidak terlalu banyak menggunakan dialog, ia menggantinya dengan bahasa visual, gestur serta mimik wajah. Semudah kita mengetahui bahasa tubuh dan gestur Jen yang menggoda setiap saat, tatapan mesum nan mengganggu Stan yang kadang digambarkan sebagai predator iguana, tingkah planga-plongo Dimitri yang mengesalkan, dan bajingan bernama Richard yang patut dibenci atas tindakannya yang picik. Dengan membeberkan informasi seminimal mungkin, keyakinan moralitas tiap individu terasa twisted. Bermotifkan balas dendam yang terasa dominan, dari perubahan drastis wanita lemah dengan celana dalam seksi sekejap berubah menjadi wanita badass, kejam dan anarkis tanpa dipertanyakan lagi. Tentu saja tanpa peduli bahwa Jen adalah pelakor sekalipun, kita ikut mendukung aksi balas dendam yang dilakukannya.


Selain cerita, visualisasi yang dihamparkan Carolie terasa memikat dan berani, film dengan hamparan tanah tandus terasa gritty, dipadu dengan warna pinky. Kemudian ditimpal dengan adegan penuh darah merah meluluh lantah kesetiap saat dan tempat seolah sedang banjir darah, bahkan Carolie mengaku selalu kehabisan darah palsu hanya untuk mengisi adegan berdarah yang tidak tertampung jumlahnya. Meski saya tahu ini bukan film Quentin Tarantino, tapi adegan gore yang ditampilkan Carolie terasa menyakitkan dan berdarah-darah, bahkan memaksa penonton yang sudah terbiasa dengan film serupa harus menahan rasa ngilu dan sakit, apalagi adegan Jen yang tergelepar di atas pohon kering dalam keadaan terbalik tak nyaman, sembari menahan sakit perut tertusuk berjam-jam dialiri darah segar sudah cukup membuat saya lemas. Ditambah lagi, Carolie berhasil membuat sebuah adegan saling berburu yang menegangkan dan intens, meski ada satu adegan dimana saya disuruh menyaksikan adegan berputar-putar di satu tempat, dan juga absurditas tato burung di perut Jen kadang menggelitik pita tawa saya, tapi film ini tetap sangat menegangkan (menghibur).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Mengadaptasi sebuah game kedalam film memang bukan perkara gampang. Berulang kali menciptakan film yang sesukses atau setidaknya mendekati keberhasilan versi game-nya nyatanya tidak sebaik yang diharapkan, bahkan gagal meski mencoba berupaya tetap konsisten menyuntikkan berbagai hal ikonik dan otentik dari set piece background cerita, desain karakter, hingga stunning aksi yang hampir menyerupai standard game aslinya, seperti Assassin Creed dan Warcraft. Upaya menjaga orisinalitas agar tetap dapat dinikmati para fans bahkan memperkenalkan kepada non-gamers sekalipun ternyata tetap tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, bahkan untuk big franchise bernama Tomb Raider ini hanya sekedar daur ulang materi dalam game dengan segala cerita dan aksi yang sangat minim dan tidak sebombastis yang dibayangkan.

Karena saya sudah pernah menikmati game Tomb Raider dan Rise of the Tomb Raider hingga tamat. Mungkin lebih afdol jika saya sedikit membandingkan antara versi game (yang juga reboot) dengan versi live action-nya, jadi saya tidak akan mencoba membandingkan dengan versi milik Angelina Jolie, karena diantara versi Alicia Vikander yang berperan sebagai new Lara Croft ini dibangun dengan image yang berbeda. Setelah 17 tahun berselang new Tomb Raider ini memaksa kita mengenal lebih awal Lara Croft yang sungguh masih sangat hijau dan minim pengalaman. Sebagaimana Lara yang kita kenal pun masih bekerja sebagai kurir, bahkan Lara samasekali tidak memiliki kematangan sebagai petualang, sebagaimana hal ini baru ia dapat ketika ia mencoba mencari ayahnya Richard Croft (Dominic West) yang hilang selama 7 Tahun disebuah pulau misterius bernama Yamatai. Sebuah pulau yang menyimpan misteri legenda makam kuno Jepang, sang ratu Himiko yang konon dikenal sebagai cenayang yang memiliki kekuatan sihir yang besar. Dan Lara harus terseret kedalam bahaya tersebut.


Saya sebenarnya tidak begitu peduli dengan berbagai komentar sinis tentang pemilihan Alicia Vikander sebagai Lara. Sedangkan yang lain membandingkannya dengan Angelina Jolie yang memang tampak lebih sensual. Hei! ini bukan film semi-porn yang hanya menjual sensualitas belaka, kenyataannya ini adalah film garapan serius yang menampilkan adegan aksi penuh kekerasan, bukan film yang sedikit-sedikit mencoba mengumbar payudara dan bokong besar, jadi karena saya tidak begitu sentimen dengan fan service yang terlampau sexist, saya sebagai penikmat franchise ini pun menganggap Alicia memiliki cukup eyecandy yang memikat dengan caranya sendiri meski tampil penuh lumpur, luka dan darah disekujur tubuhnya. Ya, menarik tidak selalu tentang fisik bukan?

Sebagaimana franchise besar, dibawah naungan sang pemilik lisensi game, Square Enix dan sutradara Roar Uthaug. Keinginan untuk memberikan pengalaman sinematis intens sebagaimana keseruan dalam game didapat pula dalam LA-nya ternyata tampil begitu corny. Semua maksimalitas di hampir setiap adegan ikonik dan familiar dipastikan diketahui oleh fans (bagi yang pernah memainkan game-nya) hanya sekedar mengenalkan semua itu kepada khalayak awam yang baru mengenal Tomb Raider reboot, tanpa sedikitpun berpengaruh pada apakah semua itu bisa lebih seru dan menegangkan seperti dalam game? Mencoba lebih tegang dari sejak pertemuannya dengan Lu Ren (Daniel Wu) hingga bertemu dengan sindikat organisasi besar yaitu Trinity yang dipimpin oleh psikopat berdarah panas Mathias Vogel (Walton Goggins), potensi untuk meraih ketegangan itu memang terasa namun gagal mengikat hingga akhir, sebagai satu-satunya perempuan yang bertualang atau lebih dari sekedar life survival movie seorang diri ditengah dominasi kaum pria memang terasa menakjubkan melihat Lara seorang yang cerdik, berani dan tangguh. Tapi sayang, melemparkan rantaian adegan stunning action di dalam hutan hingga makam kuno, ternyata hanyalah terapi visual penuh kebetulan dan terlampau dipaksa, dimana nyawa Lara yang tampak berkali-kali seharusnya meregang nyawa tapi bak kucing 9 nyawa hanya karena hal-hal diluar dugaan dirinya terselamatkan begitu saja, seolah hidup berpihak padanya.


Tapi, hal tersebut sebenarnya masih bisa saya maklumi, karena masalah terbesar dari film ini adalah plot yang terlampau sederhana. Dramatisasi hubungan ayah-anak antara Lara dan Richard mungkin cukup emosional mengundang empati, namun karena ini adalah kisah Lara Croft yang terkenal mengandung teka-teki dan kunci arkeologis bak film Indiana Jones atau Treasure Hunter, hampir sepanjang film samasekali tidak menantang penonton ikut tertarik dan penasaran dengan plot yang sungguh predictable selain otot Lara yang justru jauh lebih memikat ketimbang puzzle itu sendiri. Semua pecahan puzzle yang dituntaskan hanya sekedar puzzle biasa tanpa membuat penonton ikut memutar otak, semua puzzle diselesaikan tanpa ada hal menarik didalamnya, seperti anak kecil yang mencoba membuka toples selai dan mengambil isinya tanpa harus bersusah payah membukanya, semua sudah diberi clue dan semua sudah diberi petunjuk, dengan sedikit akal dan otot Lara bisa melakukan semuanya begitu mudah. Cerita Tomb Raider hanya soal petualangan linear yang teramat biasa dan kerap kali terasa membosankan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Perempuan cantik berkelahi dan membunuh memang bukan lagi tontonan baru, cukup tengok contoh paling fenomenal Black Mamba yang diperankan Uma Thurman di film Kill Bill vol 1 & 2. Adegan yang selalu dilakoni aktor laki-laki ini kemudian berubah haluan saat perempuan mengambil alih lebih banyak. Tahun 2017 pun turut diramaikan bukan saja melalui "Atomic Blonde" yang mampu membuat akting Charlize Theron sangat anggun sekaligus badass, Korea Selatan pun tidak mau kalah menampilkan perempuan-perempuan berparas girl band ini sama gilanya dengan si "blondie" yang berjudul The Villainess aka Ak-Nyeo.

Sook-hee (Kim Ok-bin) seorang wanita malang yang berusaha mengejar pembunuh ayahnya, kini harus berada dibawah naungan organisasi underground yang dipimpin oleh Kwon-Sook (Kim Seo-hyung). Dengan sebuah identitas baru dan kehidupan baru untuk menyamarkan dirinya sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran, Sok-hee yang berharap untuk mendapatkan kehidupan normal bersama anaknya Eun-Hye, tidak serta-merta membuat kehidupan Sook-Hee terlepas dari masalah ketika ia dihadapkan pada dua pria yang dicintainya Joong-sang (Shin Ha-kyun) sang mantan kekasih dan Hyun-soo (Bang Sung-Jun) pria yang baru dikenalnya.


Sebelum saya membahas bagaimana adegan bak-bik-buk dalam film ini yang tampil begitu panas dan brutal, saya ingin mempertegas lagi bagaimana sosok perempuan di film ini begitu eksklusif. Jung Byung-Gil sang sutradara memberi posisi eksklusif bagi sosok wanita yang justru berbeda dari Atomic Blonde dalam ruang lingkup cerita espionase yang lebih dalam tapi tidak menekan kepribadian dan emosi sang tokoh utama. The Villainess sebaliknya, membawa potensi cerita yang lebih sempit dengan mengedepankan sensitifitas tokoh utama, Byung-Gil memporsikan cerita lebih mendasar dan lebih personal.

Diluar tema yang tampak begitu deras akan aksi. The Villainess mungkin bisa saya sebut sebagai melodrama-action yang tak kunjung henti memperlihatkan ketar-ketir kehidupan Sook-hee. Jung Byung-Gil beserta penulis naskah Jung Byung-Sik membuat ceritanya kian memporsir kedekatan kita pada emosi dan perasaan Sook-hee. Kita ikut bersimpati sekaligus menyukainya. Ketika ia beraksi segila, selincah dan sebadass, tapi tak luput akan sisi feminim dan manusiawinya Sook-hee. Dia tampak kuat dan beringas ketika menghabisi lawan-lawannya tanpa ampun, tapi disisi lain diperlihatkan sisi wanita naif dan lemah saat ia dipertemukan dengan kehidupan percintaan dan tenggelam oleh perasaannya tersebut. Dengan setumpuk kehidupan cinta dan pertemuannya dengan dua orang pria yang dicintainya, tentu selipan unsur romansa pastinya saya temui disini, meski adegan tersebut tampil begitu klise dari yang paling menempel dalam otak saya saat Sook-hee berpayungan dengan Hyun-soo ditengah hujan atau hal-hal romantis klise lainnya sehingga sekelibat saya seperti sedang menyaksikan serial drama korea, tapi ini tidak melunturkan imej The Villainess sebagai film action, justru mempertegas hubungan emosional para tokohnya terkukuh lebih solid.


Disisi lain Byung-Gil mencoba mengekspansi kehadiran wanita jauh lebih berpengaruh dalam film ini, seperti halnya Kwon-Sook sebagai tokoh chief wanita yang tegas dan karismatik, hingga para wanita assassin lainnya selain Sook-hee turut menyumbangkan ototnya, hingga terasa wanita di film ini tampak seperti kunoichi (ninja wanita) yang ototnya lebih banyak terpakai daripada pria (selain para anggota kriminal tentunya). Hingga menyelipkan seputar kultur modern di Korea Selatan soal operasi plastik sebagai standarisasi kecantikan di Korea, meski hal ini hanya terselip melalui sepercik adegan tak penting, tapi cukup mewadahi sedikit sindiran Byung-Gil mengenai hal ini.

Sebagai elemen utama yang disajikan yaitu aksi, ternyata berperan besar dalam menawarkan sinematis yang variatif dan belum pernah saya saksikan sebelumnya. Selain polesan sinematografinya yang sangat apik, perpaduan warna palette yang selalu pas dalam menggambarkan setiap moment yang berbeda-beda. Tapi, yang perlu digaris bawahi adalah penggunaan teknik dan efek kamera yang sangat fantastis saat aksi mulai diputar. Beberapa momen aksi diambil dengan efek teknikal "first person" (istilah dalam game FPS yang mengambil langsung sudut pandang orang pertama) hingga efek "fisheye", memberikan pengalaman sinematis yang begitu melekat dan dinamis dengan mata saya sehingga aksi brutal layaknya The Raid dan Kill Bill ini seolah kita sendiri yang mengalaminya, tanpa harus membuat saya pusing dan bingung dengan gerakan kameranya yang sangat aktif dan liar.



Tapi, sayang The Villainess memiliki ending yang tidak begitu konklusif dan terkesan membingungkan. Entah apa karena saya sebagai penulis dan penonton  yang kurang peka atau memang Byung-Gil yang kurang menggali lebih dalam soal konflik cerita. Kontradiksi ini lahir dari hubungan Sook-hee dan Joong-sang, perpisahan dan pertemuan mereka tampak begitu ambigu, apalagi sosok Joong-sang yang memiliki rahasia yang sedari awal sudah saya tebak dan memang mencurigakan. Dan hal aneh ini mengganggu saya terutama *SPOILER: Saya tak mengerti kenapa Joong-sang tega memutuskan membunuh anak darah dagingnya sendiri Eun-Hye yang buat saya masih sangat lucu-lucunya, (ingat adegan anak buah Joong-sang menyandra Hyun-soo dan Eun-Hyo dirumah, kemudian Hyun-Soo mengatakan pada Joong-sang melalui handphone bahwa Eun-Hye adalah anak kandungnya, tapi sayang jawaban dari Joong-sang sengaja dibuat tidak terdengar), ini membuat saya makin tak paham, apakah Joong-sang tak mempercayai kata-kata Hyun-Soo atau memang murni Joong-sang ini goblok dan tak menyadari bahwa Eun-Hye adalah anaknya sendiri? Tapi sayangnya Joong-sang mengakui pernah jatuh cinta pada Sook-hee, mereka menikah dan saya rasa dia tidak gila dan saya rasa dia hanya sedikit goblok dalam bertindak. Dari sini saya kontradiksi dengan kepribadian dan masalah yang dialami Joong-sang, hanya karena alasan pernah membunuh ayahnya Sook-hee, ia kemudian memalsukan kematian,  menyengsarakan Sook-hee dan tega membunuh Eun-Hye? Ini terlalu dangkal untuk sebuah konklusi. Meski saya menyadari mungkin seharusnya Byung-Gil dan Byung-Sik mengambil lebih banyak waktu menceritakan lebih dalam profil Joong-sang, sehingga konklusi terasa lebih masuk akal dan beralasan. Tapi, sayang ini membuat cerita menjadi timpang dan membuatnya menjadi menyebalkan. *SPOILER END*. Selain itu saya pun tak memahami apapun kondisi yang terjadi di universe The Villainess, termasuk organisasi yang dipimpin Kwon-Sook yang notabene apakah mereka berasal dari organisasi dibawah naungan polisi atau memang mereka berasal dari sindikat kriminal elite semacam John Wick yang menugaskan Sook-hee dan para wanita (cantik) rekrutan ini membunuhi target tanpa harus mempertanyakan siapa mereka. Meski ini bukan pondasi yang ingin disampaikan, tapi ini juga menimbulkan tanda tanya besar di akhir, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya The Villainess 2, meski hal ini tak mungkin terjadi.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya cukup terkesan sekaligus terkejut bahwa salah satu film yang berasal dari adaptasi manga/anime karya Hiroaki Samura ini meraih cukup banyak respon positif dari review luar semacam rottentomatoes dengan perolehan 82% dan metacritic 69%. Dibalik itu semua memang ada nama besar yang pantas diperhitungkan, tiada lain sang sutradara Takashi Miike yang dikenal akan film-filmnya yang fenomenal yaitu "13 Assassins", "Ichi the Killer" dan "Audition". Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa tahun 2015 lalu ia gagal memperoleh kesuksesan kala membuat film "Yakuza Apocalypse" yang justru dianggap terlalu absurd dan memantik bahwa karya yang satu ini kurang digarap dengan serius, hingga "Blade of the Immortal" aka Mugen no Junin muncul sebagai "act of retribution" buat Miike.

Berkisah tentang seorang samurai  bernama Manji (Takuya Kimura) yang diberi kekuatan keabadian oleh nenek misterius yang mengaku sebagai Yaobikuni. Kekuatan yang didapat dari cacing darah tersebut membuatnya tak bisa mati meski ditebas dan ditusuk berkali-kali. Sebagai samurai penyendiri nama Manji mulai terkenal selain karena harga kepalanya sebagai buronan cukup tinggi. Hingga 50 tahun kemudian seorang gadis tak berdosa bernama Rin Asano (Hana Sugisaki) mengalami kepahitan saat anak dari pemimpin dojo ini harus melihat ayahnya dibunuh dan ibunya diculik dan diperkosa oleh para anggota Itto-ryu yang saat itu sedang mengambil alih dojo-dojo di wilayah tersebut, dipimpin oleh samurai berkemampuan tinggi Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi). Demi niatan membalas dendam, Rin yang mendapat kabar akan kemampuan hidup abadi Manji, menyewanya sebagai bodyguard dan membantunya menyelesaikan misi balas dendamnya.


Cukup terbayang jika siapapun yang berpikir bahwa "Blade of the Immortal" mirip dengan "Rurouni Kenshin", sepintas tidak salah tapi tidak juga benar. Justru Blade of the Immortal terasa jauh lebih spicy dan gory, melihat banyaknya darah muncrat berceceran, hingga kaki dan tangan yang tampak putus tertebas kian tak berhenti bertebaran di tiap saat. Selayaknya film Takashi Miike yang terdahulu memang kerap menggunakan darah dan sayatan mengerikan semacam film slasher miliknya Ichi the Killer dan Audition yang fenomenal, Blade of the Immortal adalah jaminan bahwa Miike layak dijuluki Quentin Tarantino versi negeri Sakura.

Sayangnya, bagian aksi yang terbilang tampak gila-gilaan dan brutal ini tampak terasa repetitif, meski adu pedang dan tusuk menusuk tubuh yang menancap di badan Manji kian memberi efek rasa nyeri dan ngilu sepanjang cerita, aksi non-stop ini malah kurang menggairahkan. Saya mungkin tidak berbicara soal koreografi keren nan apik seperti "The Raid"-nya Gareth Evans. Hanya saja aksi yang kian padat kurang memorable dan kurang menancap di benak saya setiap kali Manji mengayunkan pedangnya berhadapan dengan petarung-petarung tangguh yang bisa dibilang punya karismatiknya masing-masing. Karena berhadapan dengan linimasa cerita penuh adegan bak-bik-buk tanpa henti, tapi mengedepankan esensi aksi dan kegilaan, tapi tak satupun adegan terasa lebih mendebarkan yang justru dijejali dengan aksi medioker ketimbang epic moment.


Tapi, bagian terbaiknya datang dari script naskah yang menjanjikan. Selama ini kelemahan di tiap-tiap live action yang diadaptasi manga/anime berasal dari naskah yang kurang cerdik merangkum konflik, cerita dan karakter yang diadaptasi. Miike dan penulis naskah yang membantunya Tetsuya Oishi berhasil meramu kesemua hal tersebut dalam sinkronitas yang cantik, menjangkau padatnya alur cerita manga yang jumlahnya 30 volume dalam satu naskah yang brilliant. Hal-hal yang tampak klise seperti motif balas dendam, rasa cinta, perjuangan, kesetiaan, penyesalan dan masa lalu kelam terasa begitu hidup. Dan setumpuk karakterisasi tokoh yang dijejali dalam durasi 140 menit ini cukup solid dan tiap tokoh mendapat peran yang setimpal, meski ada beberapa yang masih kurang menonjol karena keterbatasan durasi dan waktu, tapi Miike masih mampu mempertahankan tiap tokoh untuk berkembang dan jelas tokoh sampingan yang berjibun mendapatkan injeksi seadanya tanpa harus kehilangan identitas.


Takuya Kimura sebagai leading actor cukup berperan baik dengan tatapan matannya yang tajam, meski dengan raut wajah tak ramah dan pelit senyum, tapi kian mengisyaratkan relevanitas latar belakangnya yang gelap. Berpasangan dengan Hana Sugisaki sebagai Rin dan Machi, meski tampak agak kaku saat beradu akting, tapi kerap setiap moment mampu membangun chemistry diantara mereka berdua, dan bahkan tak jarang gurauan dan sedikit kekonyolan malah menghidupkan timbal balik diantara keduanya, membangkitkan sedikit sensitifitas antar tokoh yang ada. Kazuki Kitamura pun tampil cukup menarik, berperan sebagai Sabato Kuroi memancing aura quirky dan sharp, meski perannya tidak terlalu kontras disini. Sota Fukushi yang berperan sebagai antagonis sentris, meski agak timpang, tapi perannya sebagai Anotsu yang berkarakter dingin dan karismatik tetap terangkat, ditambah hubungan misteriusnya dengan Makie Otono-Tachibana (Erika Toda) yang setia padanya, memberikan kompleksitas watak Anotsu sebagai titular karakter yang gila ambisi tapi tetap memiliki penekanan moralitas dan emosi manusiawi yang subtil.

Overall, Blade of the Immortal sangat menghibur, menegaskan sutradara Takashi Miike adalah sineas brilliant dari negeri Jepang yang patut diperhitungkan. Kelemahan dasar film ini hanya terletak pada formulasi utama yang coba ditonjolkan Miike pada bagian action sebagai dasar kekuatan justru jadi kelemahan, apalagi ditambah kebrutalan dan kegilaan yang tampaknya "Mo-brothers" atau "Gareth Evans" jauh lebih greget daripada ini. Tapi, lagi-lagi tanpa script dan transformasi yang sempurna, semua itu tidak akan ada apa-apanya. Sebagai film ke-100 Takashi Miike, ini adalah salah satu adaptasi manga terbaik diantaranya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bagaimana jika sutradara indie macam Taika Waititi diberi proyek besar untuk menangani film blockbuster macam Thor: Ragnarok. Menyuntikkan unsur cerita, petualangan dan komedi macam "Hunt for the Wilder People" terus membuat semua petualangan sederhana itu dengan bumbu kosmik kental yang menceritakan soal dewa-dewa berkekuatan besar. Di industri Marvel saat ini rasanya kita tak meragukan lagi kemampuan studio besar ini menangani dan memilih tim kru untuk proyek-proyek superhero besar lainnya. Jika dibandingkan dua film Thor lainnya, ini seperti transformasi besar buat kisah solo si raja petir dari Asgard, Thor (Chris Hemsworth). Tentu saja melalui cita rasa berbeda, Thor: Ragnarok seperti film kulminasi epik yang menunjukkan jati diri sebenarnya dari film-film Marvel.

Thor harus terlibat dengan masa lalu kelam ayahnya Odin (Anthony Hopkins) yang dulu pernah mengurung kekuatan jahat bernama Hela (Cate Blanchett) sang 'queen of death' yang berencana menguasai Asgard dan dunia. Tapi, saat Thor mencoba menghentikannya, kekuatan Hela jauh melebihi diatasnya dan membuat senjata andalan Thor pun, palu Mjolnir hancur berkeping-keping. Disaat Asgard dikuasai kekuatan jahat, Thor yang melarikan diri terdampar di sebuah planet 'garbage' bernama Sakaar yang dikuasai oleh pemimpin gila bernama Grandmaster (Jeff Goldblum). Thor yang disekap dan ditangkap oleh seorang wanita Valkyrie (Tessa Thompson), ditengah keputusasaan saat Asgard terancam bahaya, Thor dipaksa menjadi petarung gladiator dan melawan rekan satu timnya di Avengers, Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo).


Sebelum Marvel menunjukkan pertarungan epik dengan Thanos di The Avengers: Infinity War, Thor: Ragnarok seakan ingin menunjukkan kapasitas villain sesungguhnya, semenjak kegagalan Ultron yang disangka kuat ternyata lembek, konyol dan memalukan. Kini hadir Hela, sebagai villain wanita pertama sekaligus terkuat dengan menunjukkan taringnya langsung menghancurkan senjata terkuat, Mjolnir. Tidak hanya villain kuat, intimidasi serta momok menakutkan yang berhasil mencuri perhatian lewat akting Cate Blanchett pun sangat menggembirakan, tak ada yang jauh lebih cocok memerankan akting Blanchett saat tatapannya yang kadang seksi pun menyimpan sorot mata tajam yang seakan membunuh.

Bukan Marvel jika tidak memiliki rentetan komedi, memajang Taika Waititi beserta penulis skenario Eric Pearson, Thor: Ragnarok memberi pesona Guardians of the Galaxy dengan cita rasa fantasy sci-fi '70-'80-an. Meski tahu bahwa filmnya bisa sedikit kelam karena berisi disaster dari kekacauan, kejatuhan, dan kehancuran Asgard. Filmnya ternyata lebih ringan dengan tingkah konyol para karakternya. Sehingga jika menginginkan film sedikit lebih serius dan emosional, maka jangan harap filmnya akan membawa gejolak perasaan lebih dalam atau setidaknya lebih menegangkan.


Tentu saya tidak menganggap komedi Thor: Ragnarok jelek, meski beberapa masih juga terasa garing, tapi tetap konsisten untuk menyedapkan pita tertawa saya bergema hingga film berakhir. Tapi, ini seperti 'trigger' yang menghilangkan nuansa atmosferik dan emosional. Meski saya sangat menyukai Waititi tidak menghancurkan penokohan Hela dengan sebuah trik kekonyolan dan terus membuat villain ini tetap sesuai dengan perwatakkannya yang serius, fully-evil dan hot. Tapi, moment by moment lenyap karena terlalu banyak banyolan yang dirasa sedikit mengganggu, membuat saya berpikir apa jadinya jika Thor: Ragnarok tidak memiliki komedi? Maka film ini sesuram jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Tapi, film ini tidak terlalu mengecewakan, Thor: Ragnarok adalah renovasi dan evolusi terbaik dari trilogi Thor disaat banyak yang mengatakan Thor adalah yang terburuk dari film solo superhero lainnya. Universe semakin luas, kemunculan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang sebentar, Loki (Tom Hiddleston) yang selalu identik dengan moralitas ambigu sebagai villain dan saudara Thor, Bruce Banner yang sepenuhnya dikuasai oleh si monster hijau, Hulk dengan tingkahnya yang childish dan polos tapi juga bisa sensitif. Thor, dengan gaya rambut barunya tampak lebih kece', dipotong oleh bukan orang biasa. Dan dua karakter baru yang cukup banyak menarik perhatian, Valkyrie, wanita yang suka mabuk tapi punya segudang rahasia dan latar belakang menarik, Korg (Taika Waititi), monster batu yang sangar tapi suara mirip robot Chappie, dan Grandmaster, pria berusia jutaan tahun yang punya watak aneh dan sangat gila.


Seperti yang saya bilang, Thor: Ragnarok adalah jati diri Marvel sebenarnya. Memanfaatkan semua formulasi yang sudah ada seperti komedi, tema futuristik, comic relief dan semua hal yang sudah tidak lagi menghebohkan, terbilang ini adalah masa kejayaan Marvel Cinematic Universe. Meski tak bisa dipungkiri seperti kurangnya suntikan emosi dan atmosferik yang kental, hingga terlalu bermain aman dalam cerita. Tapi tentu saja berharap The Avengers: Infinity War dan tahun-tahun kedepannya nanti Marvel tidak terjebak dalam situasi yang sama. Karena saya paham bahwa Marvel menyadari kekurangannya, menambalnya berkali-kali, hingga dapat dibuktikan Marvel hingga saat ini belum luput dari kegagalan.

Well, secara keseluruhan Thor: Ragnarok cukup memuaskan, tidak istimewa, tapi sangat menghibur. Setidaknya hal yang membuat saya memuji kesuksesan Waititi dan Pearson terletak pada referensinya, seperti penggunaan komedi yang interkoneksi dengan film Marvel sebelumnya, dan cara mereka memperlakukan para karakter baik jagoan, tokoh kacangan maupun villain dengan sangat baik dan relevan. Dan Hell Yea! mempercayai artis sekaliber Oscar, Cate Blanchett adalah pilihan yang tepat dan menjadi salah satu alasan menonton film yang satu ini, salah satu villain terbaik yang tidak kemenyek dan benar-benar "IMBA", bahkan membuat saya bertanya, apa yang bisa dilakukan film ini untuk mengalahkan dewi bernama Hela, jika dewa Thor sekalipun jadi benyek menghadapinya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Terpampang jelas dua suku kata "Dark Universe" dari special logo di film The Mummy kali ini, akan dipastikan monster-monster klasik semacam Drakula, Frankenstein, The Invisible Man, The Wolfman, dll akan muncul satu-persatu nanti. Katakanlah trend ini tak kalah menarik semenjak Marvel memulai start pertama kali, kemudian diikuti DC Comics, hingga creature monster macam King Kong dan Godzilla diadu dalam satu arena di dunia yang sama. Tapi, proyek yang telah dicapai melalui Dracula Untold (2014), namun sempat berakhir mengecewakan dan rencana tersebut di batalkan dan di undur, sehingga 3 tahun kemudian sepakat bahwa peresmian lahirnya Dark Universe akhirnya melalui film yang pernah di remake dan popular 18 Tahun lalu diperankan oleh Brandon Fraser. Tapi, sayangnya meski telah menjadi kick-off Universal Studios yang meyakinkan, ini bukan sebuah awal yang baik untuk memulai.


Memasang Tom Cruise sebagai pemeran utama, jelas film ini sedikit mirip dengan film-filmnya yang terdahulu, semisal Mission: Impossible dan Jack Reacher. Hal ini memang bukan hanya asa yang terasa dari trailer yang disuguhkan, melainkan memang merangkul David Koepp, Christopher McQuarrie dan sisanya Dylan Kussman sebagai penulis naskah, telah menegaskan elemen apa yang dibawa oleh The Mummy, yang juga digawangi sutradara yang pernah menyajikan film drama "People Like Us", Alex Kurtzman. Tom Cruise berperan sebagai treasure hunter bernama Nick Morton, pergi ke wilayah konflik Irak bersama temannya Chris Vail (Jake Johnson) untuk mencari harta karun tersembunyi disana. Saat terjebak akibat serangan mendadak pemberontak lokal, hingga peluru rudal terlontar di area tersebut, Nick tak menyangka lubang yang terbentuk dari ledakkan rudal justru membuka makam tersembunyi disana, tanpa mengetahui isi peti yang coba ia bawa bersama rekan yang baru datang Jenny Halsey (Annabelle Wallis), ternyata adalah makam mumi Mesir Princess Ahmanet (Sofia Boutella) yang dikutuk membawa malapetaka dan kejahatan di dunia.


Sebelum saya betul-betul merangkai kalimat untuk menjelaskan betapa buruknya The Mummy sebagai debut Dark Universe, secara garis besar naskah buatan Koepp, McQuarrie dan Kussman ini sangat menyakinkan dan punya jalinan cerita yang memikat. Hal-hal tersebut menyangkut teknik penceritaan gaya khususnya Koepp dan McQuarrie menegaskan parade aksi yang memukau, dari sekedar scene Tom Cruise dan Annabelle Wallis berjumpalitan dalam pesawat yang akan jatuh tanpa stuntman dan stuntwoman, mirip sekuens mendebarkan Tom Cruise di film "Mission: Impossible - Rogue Nation". Hingga deburan badai pasir yang dibuat oleh sihir Ahmanet memporak-porandakan kota London dan seisinya, menengok juga mirip adegan "Mission: Impossible - Ghost Protocol". Ini semua tanpa berusaha mencocoklogikan, pun dapat kita saksikan bagaiman visualisasi hingga permainan musik stylish dalam beberapa sekuens action telah mempertegas hal tersebut.

Tapi, sayang hal ini justru berdampak pada tempo cerita yang akhirnya jatuh sempoyongan, apakah ini karena pengaruh cerita yang harusnya bertema horror dan thriller jatuh menjadi laga aksi penuh fantasy dengan kesan yang akhirnya kurang menggigit? Entah pengaruh Tom Cruise yang ikut campur tangan mengedit naskah hingga pemasaran yang ia lakukan jatuh pada hasil pendapatan yang mengecewakan dan merugikan di box office dengan selisih $400 ribu dolar dari budget aslinya $125,000,000.



Bahkan melibas beberapa adegan aksi yang tidak lagi relevan dan terkesan aneh, hingga salah satu scene yang masih tersimpan dibenak saat detik-detik Ahmanet coba menusuk belati ke jantung Nick, namun aksinya tersebut sengaja dihentikan tanpa faktor yang kuat. Juga hal-hal menyangkut aksi tidak lagi spektakular dan menegangkan dikala hal ini pun berakhir dengan akhir yang antiklimaks yang kesannya justru sama dengan film-film horror chessy lainnya, berakhir tidak memuaskan. Meski diluar itu, sketsa kisah dan konflik memang terasa mengejutkan hingga kemunculan Dr. Henry Jekyll menambah kompleksitas masalah. Namun sayang, pengembangan karakter pun seadanya, sehingga ikatan diantara karakter tiada karuan, hingga motif tiap karakter lah yang membentuk mereka jadi masalah.

Hal berkesan dalam film ini hanya tentang akting Tom Cruise masih terasa menarik dengan selipan komedi yang masih mewarnai kemampuannya dalam berlaga ataupun bercanda. Identik dengan salah satu filmnya di "American Made" yang rilis di tahun sama. Untuk Sofia Boutella, saya tak tahu apa yang bisa saya sampaikan mengenai aktingnya, kecuali riasan menakutkan dengan bola mata mirip kelainan mata Polycoria, hingga ada scene mengerikan saat ia bergelantungan di rantai, namun kemudian penampakannya sekilas mirip villain superhero dengan kekuatan supernaturalnya yang memukau, seperti menghidupkan zombie hingga menyedot energi manusia melalui ciuman. Sementara Russell Crowe berperan sebagai Dr. Henry Jekyll, nama yang terdengar tidak asing lagi di film-film monster tentang seorang ilmuwan yang memiliki kepribadian ganda yang mengerikan, salah satu monster yang digadang-gadang akan dibuat versi solonya. Setelah ini mungkin Dark Universe punya tugas berat untuk kembali menyemangatkan ekspetasi penonton yang sudah dulu dikecewakan dengan film The Mummy ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Pertama kali saya doyan yang namanya nonton film, Transformers, jadi salah satu favorit yang membuat saya tergila-gila dengan karya Michael Bay satu ini. Terbatas bodohnya saya soal film, terpikat oleh daya tarik CGI dan robot super-duper-keren juga transformasi mereka ke mobil sport mewah yang tak kalah ultra-kecenya. Esensi menonton Transformers memang menjadi ketakjuban sendiri melihat Amerika Serikat pertama kali dimana negara lain pun belum sanggup menyentuh kerealistisan dan kemewahan yang ditawarkan film ini. Tentu saja alasan ini mendasar, lewat kemunculan perdana Transformers film Bay langsung mampu membuat takjub hati penonton maupun segelintir kritikus, dimana film pertamanya mampu menyabet 3 nominasi Oscar untuk kategori "Best Achievement in Sound Mixing", "Best Achievement in Sound Editing", dan "Best Achievement in Visual Effects". Menggebrak batas-batas visual dan auditory spektakular pada masa itu.



Tapi, Bay seperti terlena dan teradiksi dengan kesuksesan film pertama, hingga trilogi tercipta melalui "Revenge of the Fallen" dan "Dark of the Moon" yang ternyata tidak sebaik pendahulunya. Menyatakan film tersebut akan berakhir, nyatanya Bay masih bernafsu dan enggan mengakhiri perjuangan Optimus Prime dan para Autobots untuk melindungi bumi dan manusia, hingga dilanjutkan dengan Cade Yeager (Mark Wahlberg), menggantikan posisi Sam Witwicky (Shia LaBeouf) sebagai peran sentral. Rasa lelah ketika Bay sama sekali mengabaikan eksekusi matang cerita, melainkan membudidayakan visual effect hingga sound effect penuh ledakan. Hingga semakin saya menonton film Transformers, kejenuhan dan rasa lelah menonton film tak berotak hasil ambisi besar Bay ini tak meninggalkan kesan berarti, kecuali rasa jengkel.

Melanjutkan sekuel Transformers: Age of Extinction, rupanya bumi masih belum bisa jauh dari kata aman, setelah terombang-ambing di angkasa, Optimus Prime mencoba kembali ke planetnya Cybertron untuk menemui penciptanya, Quintessa. Tapi, Quintessa punya rencana lain guna menjadikan bumi sebagai wadah dan tumbal untuk mengembalikan planet mati Cybertrone seperti sedia kala. Dilain pihak, bumi, saat para Transformers berduyun-duyun datang ke bumi melalui sebongkah komet menjadi ancaman tersendiri bagi manusia, hingga diciptakan sebuah organisasi bernama TRF (Transformers Reaction Force) untuk memburu para Transformers. Sehingga sang heroik pelindung para Autobots, Cade Yeager bersama rekan setianya Bumblebee terpaksa bersembunyi sebagai buronan dunia.



Sebetulnya banyak sekali ruang lingkup yang dihadirkan dalam film Transformers sebagaimana konflik memecah berbagai sudut pandang cerita, menjadi wadah konflik yang lebih besar dan lebih universal, hingga mencoba mencocokkan sekelumit legenda Inggris, King Arthur hingga sosok penyihir Merlin, bahkan juga membawa-bawa perang dunia II hingga jam pembunuh yang konon telah menewaskan sang Fuhrer, Hitler sebagaimana peran para Transformers lebih besar dari yang kita duga. Tapi, ya itu tadi, jangan pernah berharap penyajian naskah cerita Art Marcum, Ken Nolan, dan Matt Holloway ini seepik kedengarannya. Menjelajahi segala cerita ajaib nan absurd, 2 jam 29 menit disajikan melalui gegap gempita visual CGI bombastis yang faktanya ini film Transformers termahal yang pernah dibuat Bay, hingga desingan sound effect dari sekedar dialog para Transformers dan suara robot Quintessa mirip efek DJ robot, hingga suara senjata nan canggih non-stop tidak membuatmu berkedip dan pasang telinga sepanjang film. Ini film bombastis dengan susunan cerita penuh kehampaan, penuh plot sembarang tempel seperti kapal Titanic yang tiba-tiba hancur dan menjadi kacau-balau saat menabrak bongkahan es.


Saya sebenarnya bingung mendefiniskan film Transformers dengan banyak plot yang kacau balau, kecuali CGI non-stop bin mahal ini sepenuhnya masih memanjakan mata, memang tidak membosankan, tapi pengaruh ini menyebabkan rasa jengkel ditambah rasa mual tak tertahankan mengiringi transisi cerita tak bersusun, melompat kesana kemari, hingga terburu-burunya Bay dalam bercerita tanpa substansi yang terkukuh kuat, ditambah durasinya pun terlampau panjang untuk menyebabkan rasa lelah hingga rasa ngantuk tak tertahankan oleh mata. Temponya cepat, secepat lompatan cerita yang tidak lagi fokus untuk bisa sekedar membentuk narasi dan tensi, perkembangan karakter, motif, hingga emosi dan chemistry yang memikat kuat. Meski sedikitnya tercuri kedekatan kita pada karakter utama, Yeager kala itu seorang single parent, ditinggal anak perempuannya kuliah, berusaha mencari pendamping hidup, hingga kisah memilukan seorang gadis bernama Izabella (Isabela Moner), hidup diantara reruntuhan kota saat menjadi korban perang epik di film prekuelnya dahulu.


Meski begitu, masih banyak hal positif sehubungan dangkalnya cerita nan epik penuh keabsurdan film Transformers. Kala kita masih menemukan beberapa imajinasi liar Bay sehubungan karakter baru yang muncul baik para Transformers maupun manusia. Ada beberapa karakter menarik yang masih mencuri atensi sehubungan desain kopi ulang karakter familiar di film-film seperti "Wall-E" dan "Chappy". Karakter manusia pun sama halnya, saat dua wanita beda generasi mulai mendekati kehidupan Yeager, tampil cantik juga sensual yang tak kalah memikatnya dengan Megan Fox dan Rosie Huntington-Whiteley. Dua-duanya memang lumayan memikat tidak hanya menjual daya tarik fisik, melainkan performa akting hingga memberi nyawa Vivian Wembley (Laura Haddock) dan Izabella sebagai pemanis, terutama Izabella, peran gadis kecil yang rasanya terlalu di eksploitasi Bay dengan umur dibawah kewajaran gadis seusianya. Namun sayang, Anthony Hopkins yang berperan sebagai Sir Edmund Burton, penghubung antara Vivian dan Yeager, sepintas punya andil besar namun ternyata hanya tokoh kosong belaka.

Overall, Transformers: The Last Knight masih layak tonton bagi mereka yang mencari hiburan tak berotak dengan maksimalitas visual dan gelora sound effect, mengabaikan keabsurdan dan ketidakmasuk akalan cerita. Hingga lontaran demi lontaran kocak barisan komedi, kadang garing, kadang lucu juga masih cukup mampu menyegarkan, meski kedunguan dan kebisingan cerita masih tak terbendung oleh pikiran kita. Well, saya harap fakta bahwa Transformers ke-5 akan menjadi film terakhir si-jenius Michael Bay yang terlupakan, meski masih terdengar isu soal 14 naskah yang akan dikembangkan untuk franchise ini kedepannya. Tentu menarik melihat siapa lagi yang akan menangani film epik ini sekali lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates