• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Terpampang jelas dua suku kata "Dark Universe" dari special logo di film The Mummy kali ini, akan dipastikan monster-monster klasik semacam Drakula, Frankenstein, The Invisible Man, The Wolfman, dll akan muncul satu-persatu nanti. Katakanlah trend ini tak kalah menarik semenjak Marvel memulai start pertama kali, kemudian diikuti DC Comics, hingga creature monster macam King Kong dan Godzilla diadu dalam satu arena di dunia yang sama. Tapi, proyek yang telah dicapai melalui Dracula Untold (2014), namun sempat berakhir mengecewakan dan rencana tersebut di batalkan dan di undur, sehingga 3 tahun kemudian sepakat bahwa peresmian lahirnya Dark Universe akhirnya melalui film yang pernah di remake dan popular 18 Tahun lalu diperankan oleh Brandon Fraser. Tapi, sayangnya meski telah menjadi kick-off Universal Studios yang meyakinkan, ini bukan sebuah awal yang baik untuk memulai.


Memasang Tom Cruise sebagai pemeran utama, jelas film ini sedikit mirip dengan film-filmnya yang terdahulu, semisal Mission: Impossible dan Jack Reacher. Hal ini memang bukan hanya asa yang terasa dari trailer yang disuguhkan, melainkan memang merangkul David Koepp, Christopher McQuarrie dan sisanya Dylan Kussman sebagai penulis naskah, telah menegaskan elemen apa yang dibawa oleh The Mummy, yang juga digawangi sutradara yang pernah menyajikan film drama "People Like Us", Alex Kurtzman. Tom Cruise berperan sebagai treasure hunter bernama Nick Morton, pergi ke wilayah konflik Irak bersama temannya Chris Vail (Jake Johnson) untuk mencari harta karun tersembunyi disana. Saat terjebak akibat serangan mendadak pemberontak lokal, hingga peluru rudal terlontar di area tersebut, Nick tak menyangka lubang yang terbentuk dari ledakkan rudal justru membuka makam tersembunyi disana, tanpa mengetahui isi peti yang coba ia bawa bersama rekan yang baru datang Jenny Halsey (Annabelle Wallis), ternyata adalah makam mumi Mesir Princess Ahmanet (Sofia Boutella) yang dikutuk membawa malapetaka dan kejahatan di dunia.


Sebelum saya betul-betul merangkai kalimat untuk menjelaskan betapa buruknya The Mummy sebagai debut Dark Universe, secara garis besar naskah buatan Koepp, McQuarrie dan Kussman ini sangat menyakinkan dan punya jalinan cerita yang memikat. Hal-hal tersebut menyangkut teknik penceritaan gaya khususnya Koepp dan McQuarrie menegaskan parade aksi yang memukau, dari sekedar scene Tom Cruise dan Annabelle Wallis berjumpalitan dalam pesawat yang akan jatuh tanpa stuntman dan stuntwoman, mirip sekuens mendebarkan Tom Cruise di film "Mission: Impossible - Rogue Nation". Hingga deburan badai pasir yang dibuat oleh sihir Ahmanet memporak-porandakan kota London dan seisinya, menengok juga mirip adegan "Mission: Impossible - Ghost Protocol". Ini semua tanpa berusaha mencocoklogikan, pun dapat kita saksikan bagaiman visualisasi hingga permainan musik stylish dalam beberapa sekuens action telah mempertegas hal tersebut.

Tapi, sayang hal ini justru berdampak pada tempo cerita yang akhirnya jatuh sempoyongan, apakah ini karena pengaruh cerita yang harusnya bertema horror dan thriller jatuh menjadi laga aksi penuh fantasy dengan kesan yang akhirnya kurang menggigit? Entah pengaruh Tom Cruise yang ikut campur tangan mengedit naskah hingga pemasaran yang ia lakukan jatuh pada hasil pendapatan yang mengecewakan dan merugikan di box office dengan selisih $400 ribu dolar dari budget aslinya $125,000,000.



Bahkan melibas beberapa adegan aksi yang tidak lagi relevan dan terkesan aneh, hingga salah satu scene yang masih tersimpan dibenak saat detik-detik Ahmanet coba menusuk belati ke jantung Nick, namun aksinya tersebut sengaja dihentikan tanpa faktor yang kuat. Juga hal-hal menyangkut aksi tidak lagi spektakular dan menegangkan dikala hal ini pun berakhir dengan akhir yang antiklimaks yang kesannya justru sama dengan film-film horror chessy lainnya, berakhir tidak memuaskan. Meski diluar itu, sketsa kisah dan konflik memang terasa mengejutkan hingga kemunculan Dr. Henry Jekyll menambah kompleksitas masalah. Namun sayang, pengembangan karakter pun seadanya, sehingga ikatan diantara karakter tiada karuan, hingga motif tiap karakter lah yang membentuk mereka jadi masalah.

Hal berkesan dalam film ini hanya tentang akting Tom Cruise masih terasa menarik dengan selipan komedi yang masih mewarnai kemampuannya dalam berlaga ataupun bercanda. Identik dengan salah satu filmnya di "American Made" yang rilis di tahun sama. Untuk Sofia Boutella, saya tak tahu apa yang bisa saya sampaikan mengenai aktingnya, kecuali riasan menakutkan dengan bola mata mirip kelainan mata Polycoria, hingga ada scene mengerikan saat ia bergelantungan di rantai, namun kemudian penampakannya sekilas mirip villain superhero dengan kekuatan supernaturalnya yang memukau, seperti menghidupkan zombie hingga menyedot energi manusia melalui ciuman. Sementara Russell Crowe berperan sebagai Dr. Henry Jekyll, nama yang terdengar tidak asing lagi di film-film monster tentang seorang ilmuwan yang memiliki kepribadian ganda yang mengerikan, salah satu monster yang digadang-gadang akan dibuat versi solonya. Setelah ini mungkin Dark Universe punya tugas berat untuk kembali menyemangatkan ekspetasi penonton yang sudah dulu dikecewakan dengan film The Mummy ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Banyak orang mengatakan Atomic Blonde itu female-John Wick. Mungkin memang bisa dikatakan demikian karena film ini disutradarai langsung oleh David Leitch, salah satu yang menangani John Wick pertama setelah pecah kongsi dengan Chad Stahelski yang bersolo karir dengan "John Wick: Chapter 2". Film ini diadaptasi dari novel graphic karya penulis Antony Johnston dan ilustratornya Sam Hart, berjudul "The Coldest City", diterbitkan tahun 2012 lalu. Tapi buat saya pribadi Atomic Blonde justru lebih kental akan aroma espionage ketimbang berusaha menjadi film action thriller dengan terjangan peluru jarak dekat yang terus-menerus memompa jantungmu hingga akhir dengan ketegangan adrenalin tiada henti.

Pada tahun 1989, menceritakan seorang agen mata-mata rahasia MI6 bernama Lorraine Broughton (Charlize Theron) yang ditugaskan oleh pemimpinnya Eric Gray (Toby Jones) dan anggota CIA Emmett Kurzfeld (John Goodman) pergi ke Berlin yang kala itu sedang dalam situasi tak stabil karena isu pembatasan tembok Berlin antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Sebagai permata berharga bagi agensi Lorraine dibantu kontak personal David Percival (James McAvoy) melacak keberadaan "List", yang berisi informasi  dan daftar agen lapangan Soviet yang aktif di Eropa Barat. Kejadian ini bermula saat James Gasciogne (Sam Hargrave) salah satu agen MI6 dibunuh oleh seseorang bernama Yuri Bakhtin (Johannes Johannesson), hingga pembunuhan ini menyeret nama Conrad Satchel salah satu agen yang mengkhianati Gasciogne, yang menjual informasi rahasia tersebut ke Soviet.


Atomic Blonde jauh lebih kalem, tenang dan dingin, kalau saya bandingkan film ini jauh lebih mirip dengan teknis dan style ala film "Nicolas Winding Refn" seperti "Drive" dan "Only God Forgives". Film ini memang punya muatan stylish yang terlihat dari pesona karismatik karakter utamanya Theron, Theron is amazing badass and sensual woman! Yups, Theron memang sudah sering menggeluti dunia akting untuk genre action-pack, dari yang paling awal saya rasakan saat ia berakting sampingan di "The Italian Job" dan pemeran utama di "Aeon Flux" meski ini adalah film dengan kualitas buruk untuk job-nya. Mungkin satu-satunya akting Theron yang fantastis dan maskulin terlihat saat ia berperan sebagai Furiosa di film "Mad Max: Fury Road", tak salah memang ke-badass-annya melebihi aktor utamanya Tom Hardy. Kemudian beraksi menjadi antagonis utama di film "The Fate of the Furious", meski aksinya masih kurang greget. Dan akhirnya Atomic Blonde muncul sebagai titik hot sang mantan model dari Afrika Selatan ini untuk menjejali dirinya dalam aksi yang lebih menantang, lebih brutal, dan lebih gila hingga tentu saja jualan maskulinitas bercampur erotisme sensual menjadi daya pikat tak terelakkan dari Theron.


Lorraine dengan busananya yang cantik menggunakan mantel tebal, sepatu hak hitam, dan black glassess selalu berusaha tampil elegant meski kala itu ia mondar-mandir di tengah kota Berlin yang sedang kacau. Meski terbilang wanita, tapi siapa sangka Lorraine hampir sama dengan "Natasha Romanoff", tiada yang namanya woman vs woman, semua yang dihadapinya adalah para pria dewasa. Meski memang apa yang dihadapinya tidak sebanyak dan se-massive John Wick, tapi aksinya tidak kalah gilanya dengan Iko Uwais di film "The Raid: Berandal" atau "Headshot". Kebanyakan memang aksi Theron ada pada koreografi fighting scene dan jarang menggunakan straight gunfire, apalagi setiap adegan ia lakukan tanpa stunt-woman. Semua teknik bag-big-bug Theron lakukan sendirian hingga percaya tak percaya dua gigi Theron mengalami crack saat syuting sedang berlangsung. Darah, muka bonyok, hingga permainan tali selang dan benda-benda tajam yang menusuk dan merobek daging dan kulit, semakin membuat brutalism terasa ngilu disekujur tubuh. Dan hebatnya lagi Theron kerap membanting dan men-"smack down" laki-laki dewasa yang ukurannya justru rata-rata jauh diatasnya. Namun meski terlihat garang dan sangat kuat, Leitch masih meletakkan kemanusiawian dan limit, kelelahan dan tubuh sempoyongan masih terasa dari nafas panjangnya yang keluar dari mulutnya, hingga beberapa kalipun ia menghadapi musuh ada saatnya Lorraine jatuh dan bangkit berkali-kali, hingga mentolerir diri bahwa Lorraine still weakness and vulnurable as a woman strike.

Dibalik adrenalin dan maskulinitas yang dihadirkan Theron sepanjang film, namun naughty side masih coba dipancarkan Leitch melalui lekuk tubuh sensual Theron. Ditambah kedatangan wanita misterius Delphine Lasalle (Sofia Boutella), hingga special relationship keduanya dihamparkan melalui cahaya lampu neon yang menggelora dan cantik semakin menghembuskan eksploitasi erotisme dan lesbian dalam film ini dengan sedikit lebih vulgar but brilliant. David Percival yang diperankan oleh James McAvoy pun sedikit tampil mengejutkan, penampilan wild ala Brad Pitt di film "Fight Club" membuat perannya disini semakin misterius dan apapun yang ia lakukan Percival adalah satu-satunya orang yang tidak beres dan perilakunya mencerminkan kemunafikan.


Tapi dibalik kesemua itu Atomic Blonde punya satu kelemahan dibagian naskah cerita, Leitch dan penulisnya Kurt Johnstad ("300" and "300: Rise of an Empire") kerap kali keteteran dalam mengembangkan intensitas dan substansi spionase cerita. Setiap kali saya mencoba untuk menikmati perkembangan cerita hingga menghubungkan setiap isu yang ada, hilangnya arah dan kesan tarik ulur membuahkan hasil cerita yang kurang seru hingga akhirnya saya hanya mengikuti arus aliran. Dan meski begitu Leitch cukup konsisten memberikan kenikmatan menonton dari kesemua daya tarik yang lumayan oke dari sinematografi ala John Wick dari Jonathan Sela, dan composer music yang juga sama di film tersebut, beating and funky dari Tyler Bates. 

Well, Atomic Blonde cukup memuaskan, terutama totalitas akting Charlize Theron jauh lebih terasa baddass dari film-filmnya yang terdahulu, meski untuk action-pack masih prefer pada John Wick karena jauh lebih explosive dan rapid. Dan lemahnya cerita Atomic syukurnya masih dapat ditutupi dengan tampilan film yang cukup artsy dan tentu saja jualan erotisme dan brutalisme yang tercampur cukup mendebarkan emosi kaum adam di film ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates