• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Banyak orang mengatakan Atomic Blonde itu female-John Wick. Mungkin memang bisa dikatakan demikian karena film ini disutradarai langsung oleh David Leitch, salah satu yang menangani John Wick pertama setelah pecah kongsi dengan Chad Stahelski yang bersolo karir dengan "John Wick: Chapter 2". Film ini diadaptasi dari novel graphic karya penulis Antony Johnston dan ilustratornya Sam Hart, berjudul "The Coldest City", diterbitkan tahun 2012 lalu. Tapi buat saya pribadi Atomic Blonde justru lebih kental akan aroma espionage ketimbang berusaha menjadi film action thriller dengan terjangan peluru jarak dekat yang terus-menerus memompa jantungmu hingga akhir dengan ketegangan adrenalin tiada henti.

Pada tahun 1989, menceritakan seorang agen mata-mata rahasia MI6 bernama Lorraine Broughton (Charlize Theron) yang ditugaskan oleh pemimpinnya Eric Gray (Toby Jones) dan anggota CIA Emmett Kurzfeld (John Goodman) pergi ke Berlin yang kala itu sedang dalam situasi tak stabil karena isu pembatasan tembok Berlin antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Sebagai permata berharga bagi agensi Lorraine dibantu kontak personal David Percival (James McAvoy) melacak keberadaan "List", yang berisi informasi  dan daftar agen lapangan Soviet yang aktif di Eropa Barat. Kejadian ini bermula saat James Gasciogne (Sam Hargrave) salah satu agen MI6 dibunuh oleh seseorang bernama Yuri Bakhtin (Johannes Johannesson), hingga pembunuhan ini menyeret nama Conrad Satchel salah satu agen yang mengkhianati Gasciogne, yang menjual informasi rahasia tersebut ke Soviet.


Atomic Blonde jauh lebih kalem, tenang dan dingin, kalau saya bandingkan film ini jauh lebih mirip dengan teknis dan style ala film "Nicolas Winding Refn" seperti "Drive" dan "Only God Forgives". Film ini memang punya muatan stylish yang terlihat dari pesona karismatik karakter utamanya Theron, Theron is amazing badass and sensual woman! Yups, Theron memang sudah sering menggeluti dunia akting untuk genre action-pack, dari yang paling awal saya rasakan saat ia berakting sampingan di "The Italian Job" dan pemeran utama di "Aeon Flux" meski ini adalah film dengan kualitas buruk untuk job-nya. Mungkin satu-satunya akting Theron yang fantastis dan maskulin terlihat saat ia berperan sebagai Furiosa di film "Mad Max: Fury Road", tak salah memang ke-badass-annya melebihi aktor utamanya Tom Hardy. Kemudian beraksi menjadi antagonis utama di film "The Fate of the Furious", meski aksinya masih kurang greget. Dan akhirnya Atomic Blonde muncul sebagai titik hot sang mantan model dari Afrika Selatan ini untuk menjejali dirinya dalam aksi yang lebih menantang, lebih brutal, dan lebih gila hingga tentu saja jualan maskulinitas bercampur erotisme sensual menjadi daya pikat tak terelakkan dari Theron.


Lorraine dengan busananya yang cantik menggunakan mantel tebal, sepatu hak hitam, dan black glassess selalu berusaha tampil elegant meski kala itu ia mondar-mandir di tengah kota Berlin yang sedang kacau. Meski terbilang wanita, tapi siapa sangka Lorraine hampir sama dengan "Natasha Romanoff", tiada yang namanya woman vs woman, semua yang dihadapinya adalah para pria dewasa. Meski memang apa yang dihadapinya tidak sebanyak dan se-massive John Wick, tapi aksinya tidak kalah gilanya dengan Iko Uwais di film "The Raid: Berandal" atau "Headshot". Kebanyakan memang aksi Theron ada pada koreografi fighting scene dan jarang menggunakan straight gunfire, apalagi setiap adegan ia lakukan tanpa stunt-woman. Semua teknik bag-big-bug Theron lakukan sendirian hingga percaya tak percaya dua gigi Theron mengalami crack saat syuting sedang berlangsung. Darah, muka bonyok, hingga permainan tali selang dan benda-benda tajam yang menusuk dan merobek daging dan kulit, semakin membuat brutalism terasa ngilu disekujur tubuh. Dan hebatnya lagi Theron kerap membanting dan men-"smack down" laki-laki dewasa yang ukurannya justru rata-rata jauh diatasnya. Namun meski terlihat garang dan sangat kuat, Leitch masih meletakkan kemanusiawian dan limit, kelelahan dan tubuh sempoyongan masih terasa dari nafas panjangnya yang keluar dari mulutnya, hingga beberapa kalipun ia menghadapi musuh ada saatnya Lorraine jatuh dan bangkit berkali-kali, hingga mentolerir diri bahwa Lorraine still weakness and vulnurable as a woman strike.

Dibalik adrenalin dan maskulinitas yang dihadirkan Theron sepanjang film, namun naughty side masih coba dipancarkan Leitch melalui lekuk tubuh sensual Theron. Ditambah kedatangan wanita misterius Delphine Lasalle (Sofia Boutella), hingga special relationship keduanya dihamparkan melalui cahaya lampu neon yang menggelora dan cantik semakin menghembuskan eksploitasi erotisme dan lesbian dalam film ini dengan sedikit lebih vulgar but brilliant. David Percival yang diperankan oleh James McAvoy pun sedikit tampil mengejutkan, penampilan wild ala Brad Pitt di film "Fight Club" membuat perannya disini semakin misterius dan apapun yang ia lakukan Percival adalah satu-satunya orang yang tidak beres dan perilakunya mencerminkan kemunafikan.


Tapi dibalik kesemua itu Atomic Blonde punya satu kelemahan dibagian naskah cerita, Leitch dan penulisnya Kurt Johnstad ("300" and "300: Rise of an Empire") kerap kali keteteran dalam mengembangkan intensitas dan substansi spionase cerita. Setiap kali saya mencoba untuk menikmati perkembangan cerita hingga menghubungkan setiap isu yang ada, hilangnya arah dan kesan tarik ulur membuahkan hasil cerita yang kurang seru hingga akhirnya saya hanya mengikuti arus aliran. Dan meski begitu Leitch cukup konsisten memberikan kenikmatan menonton dari kesemua daya tarik yang lumayan oke dari sinematografi ala John Wick dari Jonathan Sela, dan composer music yang juga sama di film tersebut, beating and funky dari Tyler Bates. 

Well, Atomic Blonde cukup memuaskan, terutama totalitas akting Charlize Theron jauh lebih terasa baddass dari film-filmnya yang terdahulu, meski untuk action-pack masih prefer pada John Wick karena jauh lebih explosive dan rapid. Dan lemahnya cerita Atomic syukurnya masih dapat ditutupi dengan tampilan film yang cukup artsy dan tentu saja jualan erotisme dan brutalisme yang tercampur cukup mendebarkan emosi kaum adam di film ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa yang terjadi saat Perang Dunia II telah berakhir? Dan bagaimana nasib tentara Jerman yang tersisa setelah Hitler dan Nazi telah dinyatakan kalah telak dalam peperangan di tahun 1945? Perang pada dasarnya telah menanamkan benih kebencian dan kedengkian besar setelah pemerintahan diktator tersebut telah menunjukkan kekejamannya terhadap kaum Yahudi dan sekutunya, sehingga setelah semuanya berakhir pun seolah sisa-sisa dari pengikutnya harus membersihkan sendiri "kekacauan" dari tangan mereka sendiri. Sejarah yang diangkat dalam film Land of Mine (Under sandet) adalah sejarah kejahatan perang terburuk pasca perang dunia II, saat negara Denmark memaksa 2.000 lebih POW (Prisoner of War) Jerman untuk membersihkan 2,2 juta ranjau aktif dan berbahaya yang tersebar dipelosok negara mereka.


Land of Mine adalah film besutan sutradara Martin Zandvliet (A Willing Patriot, Dirch (A Funny Man)) yang memperoleh nominasi Oscar ke-89 pertamanya mewakili negara Denmark di "Best Foreign Language Film." Dimulai saat seorang "Danish" Sgt. Carl Rasmussen (Roland Møller) ditugaskan oleh Lt. Ebbe Jensen (Mikkel Boe Følsgaard) untuk mengawasi 14 tawanan Jerman yang dibawa menuju lepas pantai Barat Denmark, guna menetralisir lokasi penuh ranjau yang terhitung 45 ribu buah didalam pasir sepanjang pantai. Mereka semua adalah remaja yang masih terbilang muda terdiri dari Sebastian (Louis Hofmann), Helmut (Joel Basman), Ernst (Emil Belton), Werner (Oskar Belton), Wilhelm (Leon Seidel) dan August (yang saya sebut adalah para aktor yang aktingnya paling menonjol).


Secara teknis Rasmussen hanya sendirian mengawasi ke 14 tentara muda Jerman dalam operasi pembersihan ranjau. Tapi sebetulnya ditilik ke dalam sejarah asli yang diberitakan media, para POW seharusnya langsung berada dibawah kendali para tentara Inggris. Mengelupaskan kata moralitas, Land of Mine cukup banyak mengkritisi rasa empati dalam peti kebencian yang seolah telah menghilangkan nurani dan moralitas kemanusiaan dalam perang. Diskriminasi dalam film ini membuat kita bertanya-tanya "who is the real evil in a world war?".

Zandvliet memfokuskan pada hubungan Rasmussen dan para tawanan Jerman muda, Rasmussen awalnya muncul sebagai sosok berdarah dingin yang tak segan-segan meluapkan amarah dan kebenciannya pada Jerman. Tapi hubungan dengan para remaja ini mulai membuatnya terombang-ambing antara permasalahan moral dan dendam pribadi dihatinya. Para tentara Jerman pun tidak serta merta diam dalam derita, Sebastian yang paling menonjol diantara mereka bersinar sebagai leader dan guard, Ernst dan Werner sebagai saudara kembar yang berusaha saling melindungi dan Helmut sebagai pemberontak yang pesimistis. Para remaja Jerman dengan seragam lengkap dan wajah-wajah lesu, kotor penuh luka, seolah tersimpan rasa takut dan harapan dimata mereka saat putus asa hadir diantara hidup dan mati mereka.


Meski bukan film bertema perang frontal dengan lusinan terjangan peluru layaknya "Saving Private Ryan", tapi jangan salah bahwa Land of Mine hampir sama dengan "The Hurt Locker" tapi dengan "esensi" game puzzle komputer familiar ala "Minesweeper", film ini punya konsep tersendiri untuk memberikan kesan menegangkan dan brutal di tengah atmosfer yang terbilang calm to do, but seriously act. Memperlihatkan saat-saat para POW ini melucuti satu demi satu ribuan padang ranjau yang bersembunyi diantara timbunan pasir. Kita takkan pernah tahu kapan, dimana dan siapa yang akan menjadi korban dari ledakan ranjau tersebut, dan bom! seperti film-film horror yang memainkan efek jump scare, kita turut dihantui rasa was-was saat detik-detik mendebarkan para tentara ini harus berhadapan dengan resiko kematian dan tubuh hancur ditangan mereka. Dan ini berhasil membuat saya berkali-kali mengucap istighfar tiap kali moment itu datang dari arah yang tidak terduga.


Tapi intimasi melalui chemistry yang dibangun para karakter masih kurang matang, meski cukup yakin bahwa terdapat transisi jiwa yang bergelut dengan emosi dan nurani, hingga tatapan penuh keyakinan dan natural saat beberapa adegan tragis cukup menyayat hati, tapi saya pribadi sedikit merasa terganggu melihat ketidak mulusan adegan demi adegan tersusun kurang relevan membentuk rasa iba dan akrab yang agak bumpy.

Dan Mungkin sebagai film yang tidak menggunakan efek CGI, beberapa ledakan hasil technical effect masih terasa kurang rapi dan bersih, beberapa kali ledakan yang diciptakan pada beberapa moment masih terasa tearing. Tapi dapat dimaklumi karena disisi lain atmosfer ketidaktenangan bercampur deg-degan itu tetap mampu dihadirkan sepanjang film. Juga sinematografi mumpuni dari Camilla Hjelm patut diancungi jempol, ditembak pada lokasi syuting otentik sejarah yang mereka pilih di Oksbøllejren dan Varde, menghasilkan perpaduan cantik antara calm, sorrowful dan warm. Well, Land of Mine mengingatkan kita bahwa perang adalah sebuah kekejaman tanpa arti, memunculkan penderitaan, kebencian dan kematian sehingga pelaku sejarah perang siapapun dan sekecil apapun mereka sejatinya adalah korban.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates