• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Setelah menonton film karya sutradara korea Hong-jin Na ini ada perasaan bercampur aduk. Film yang mengangkat sebuah misteri investigasi ini terasa sangat mengganggu, meneror, dan juga memberi rasa takut-cemas ketika upayanya menebarkan teror tak biasa ini sangat berbau klenik dan mistis. Mengerikan? Tentu saja, jika kamu disantet dan diguna-guna oleh seseorang bahwa tak ada yang bisa dilakukan untuk membalas dan siapa yang melakukannya, kecuali dilawan dengan ilmu hitam lagi. Apalagi ilmu hitam tak bisa disembuhkan dengan bantuan medis, karena sifatnya yang ghaib dan mistik. Perasaan yang sama ketika saya menonton film yang sama-sama mengangkat tema kutukan dan ilmu sihir, 'The Witch' karya Robert Eggers. Dan karya dari negeri ginseng ini mencoba mengungkap kembali sisi mengerikan dari yang namanya santet dan demonisme.

Sebuah desa pinggiran kota tanpa nama di Korea awalnya merupakan desa normal dan aman. Namun, kemudian berubah menjadi sedikit aneh ketika terjadi pembantaian sebuah keluarga dan beberapa kejanggalan yang terjadi di desa tersebut. Disertai penduduk yang mulai mengalami penyakit misterius seperti penyakit kulit dan perilaku aneh layaknya zombie. Awalnya para polisi mengira ini akibat para penduduk yang memakan jamur-jamur asing dihutan. Tapi, desas-desus mengatakan juga ini ulah pendatang orang asing berkewarganegaraan jepang yang bertingkah aneh dan suka menyendiri di dalam hutan.

Dibalik popularitas dan terkenal akan boyband dan drama tv-nya, sinematis film Korea pun mulai dilirik dan diakui dalam membuat film-film misteri thriller yang cukup rutin mengeluarkan ide-ide brilliant secara inovatif dan selalu sering disanjung oleh kritikus skala internasional. Awalnya film berjudul asli sokjung ini pun juga berhasil memberikan sebuah thriller-mystery yang terbungkus dalam sajian teror black magic. Jong-Goo (Kwak Do-won) adalah salah satu polisi di desa tersebut yang harus menerima serangan santet terutama putri kesayangannya oleh dukun yang diduga hantu. Sejak awal film ini bergulir sekelumit hal-hal aneh sudah terjadi dari pembantaian seluruh keluarga oleh anggota keluarganya sendiri, beberapa penyakit kulit aneh, hingga kedatangan misterius pria tua jepang yang diduga penyebab kejadian-kejadian aneh tersebut.

The Wailing berhasil menciptakan sebuah atmosfer aneh, membingungkan, dan tentunya teror-teror kutukan yang mengerikan. Sejak awal hingga klimaks film ini pun telah berhasil membuat saya terus menduga-duga dan terus bertanya-tanya sampai membuat saya bingung dengan 'APA', 'DARIMANA' dan 'SIAPA' yang menyebabkan teror dan keanehan di desa itu, seolah desa tersebut telah dikutuk oleh sesuatu yang tak nampak. Bahkan terduga sang orang jepang pun masih menjadi sebuah sangkaan dan kitapun masih menduga-duga dengan anggapan masyarakat dan gosip-gosip orang sekitar. Meski membingungkan tapi secara cerdas Hong-jin Na terus-menerus menebarkan teror demi teror aneh dan mistik, sama seperti yang saya rasakan pada film The Witch. Hanya saja The Wailing jauh lebih kaya cerita ketika ia sanggup menempelkan beberapa balutan cerita investigasi yang konstruktif dan juga pembawaan cerita yang masih nyaman dan tak terlampau menguras ketegangan dan batin.

Beberapa elemen black magic dan satanic seperti ritual-ritual perdukunan, kambing hitam, ayam-ayam tumbal, gagak, kupu-kupu berterbangan, pendeta dan ritual exorcism betul-betul terasa sepanjang menonton film ini. Dari pria telanjangan didalam hutan sambil memakan bangkai binatang. Film ini benar-benar terasa kental akan hal mistis dan sangat mengganggu. Jujur saja mungkin ini adalah sebuah upaya berbeda yang selama ini disajikan oleh film korea yang biasanya menyajikan teror psikopat dan ajang saling bunuh. Tapi, meski memiliki elemen yang kental dengan hal gaib, inilah pondasi bahwa teror semacam ini sama sadisnya dengan psikopat, bahkan lebih sadis. Selain membuat teka-teki yang berputar-putar, The Wailing juga sanggup membuat saya beberapa kali emosi dan kesal dengan apa yang terjadi pada film ini.

Selain atmosfer cerita yang betul-betul membuat saya terganggu. Sinematografi yang disajikan The Wailing juga sanggup menciptakan nuansa tenang yang menghanyutkan. Dengan beberapa kali latar berwarna biru tua dan gelap kontras menjadi sebuah gambaran antara keindahan desa yang tenang sekaligus gelap dan terancam. Saya sangat menikmati gerak-gerik kamera yang diam dan tenang saat beberapa kali shot film ini tampil secara anggun. Ya, cukup menjanjikan bahwa Hong-jin Na berhasil membuat tidak hanya atmosfer mengganggu dan teror-teror psikologisnya tapi juga sinematografi yang juga apik.

Beberapa aktor dan artis disini juga kerap tak asing dimata saya. Contohnya, Jun Kunimura sebagai orang jepang asing di film ini. Kalau mata kalian sama dengan saya, maka tebakan kita sama bahwa Jun memang pernah nongol di film Kill Bill sebagai salah satu boss Yakuza yang dipenggal kepalanya, Boss Tanaka (Meski perannya cuma sebentar). Yups, perannya disini juga cukup sentral, dimana ada sebuah ambiguitas terhadap peran yang dimainkannya, perawakan ambigu yang tenang, misterius, dan tentunya aneh. Dan satulagi gadis aneh yang kadang muncul kadang tidak, ternyata diperankan oleh si gadis manis, Woo-hee Chun (Han Gong-ju, Thread of Lies). Dan juga kemunculan dukun nyentrik di pertengahan film cukup memberi respon besar untuk perubahan arah film ini, Il-Gwang (Hwang Jung-min).

Sekali lagi Hong-jin Na berhasil membuat sebuah thriller psikologis dengan tema yang berbeda dengan elemen mistiknya. Bahkan menurut saya The Wailing jauh lebih baik dari apa yang pernah ia sajikan lewat film The Chaser, walau kedua film ini sama-sama punya jalinan cerita yang bikin emosi dan kesal karena memiliki orang yang sangat jahat dan berhati iblis. Jika kamu menyukai film-film korea dengan basis thriller misteri maka The Wailing menjadi salah satu film yang wajib ditonton. Penuh dengan twist yang membuat sebuah perputaran cerita yang cerdas.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Hyeon-sook (Hie-ae Kim) adalah janda yang hidup bersama dua anak perempuannya Man-ji (Ah-sung Ko) dan Cheon-Ji (Hyang-gi Kim). Setelah suaminya meninggal 9 tahun lamanya Hyeon-sook lah satu-satunya tulang punggung yang mengurus kehidupan dan sekolah kedua anaknya itu. Cheon-Ji dan Man-Ji adalah kakak beradik dengan sifat yang bertolak belakang. Cheon-Ji adalah gadis yang pendiam yang bahkan hampir tak punya seorangpun teman disekolahya tapi ia memiliki sifat yang baik dan tak banyak tingkah, baik kepada ibu maupun kakaknya, sedangkan kakaknya memiliki sifat dingin, cuek dan menjengkelkan yang selalu membuat susah ibunya.

Hingga hari dimana Cheon-Ji meninggal bunuh diri tanpa meninggalkan pesan apapun telah membuat duka bagi ibu dan kakaknya. Demi menghilangkan duka kesedihan, mereka berdua pindah ke tempat tinggal baru di sebuah apartement murah. Dan tak menyangka Man-ji melihat salah satu teman sekelas Choen-ji, Hwa-yeon (Yoo-Jeong Kim) yang ternyata tinggal di apartemen yang sama. Demi mengetahui latar belakang kehidupan adiknya di sekolah ia menemui Hwa-yeon yang akhirnya menemukan titik kebenaran tentang alasan adiknya melakukan bunuh diri.

REVIEW:
Kepergian karena kematian seseorang yang sangat disayangi kadang akan membuat luka teramat dalam bagi orang terdekat apalagi ia merupakan satu bagian dari sebuah keluarga yang utuh. Ditambah dibalik senyumnya selama ini ternyata ia menyimpan begitu banyak kepedihan yang ditinggalkan dalam hidupnya yang tak pernah diketahui siapapun. Itulah sedikit gambaran apa yang ingin disampaikan oleh film korea yang berjudul Thread of Lies aka U-a-han geo-jit-mal. Thread of Lies adalah drama keluarga yang akan menyampaikan begitu banyak pesan moral soal keluarga, kasih sayang, persahabatan dan bullying. Kenapa ada soal bullying? Iya karena dari hal inilah permasalahan film ini muncul.

Bullying disekolah seakan sebuah tradisi yang terus-menerus memberikan momok menakutkan bagi penderitanya. Dan bukan hal mustahil jika terus-menerus perbuatan itu dilakukan bisa memberi dampak negatif yang berujung kepada penderitaan secara psikologis. Dan itulah yang dirasakan oleh Choen-ji selama ini. Ia sama seperti karakter-karakter lain yang menjadi objek pelampiasan seseorang untuk kesenangan pribadi. Dan biasanya mereka adalah orang yang dijauhi dari lingkungan sosialnya karena sifatnya yang aneh dan pendiam.

Han Lee mencoba memperkenalkan sebuah hubungan keluarga yang sederhana, namun kemudian ia menggiring pada sebuah impact yang akhirnya membuat sebuah rasa kehilangan, rindu, dan kesedihan mendalam. Yang akhirnya memberikan rasa simpatik pada sebuah karakter yang notabene yang tidak menonjol dalam sosial kehidupannya. Ceritanya sendiri akan dibalut dengan kisah sederhana namun kita akan digiring satu-persatu pada kenyataan yang lebih pahit ketimbang apa yang terjadi tentang kematian Cheon-ji.

Dan akhirnya terbentuk jalinan cerita yang terhubung kian kompleks dan akan memberikanmu kejutan demi kejutan yang akan memberi efek penasaran seperti puzzle yang mulai terkumpul satu-persatu walau Han Lee sendiri tidak mencoba membuatnya menjadi drama gelap penuh misteri. Ia tetap mengikuti alur sederhananya, mencoba tetap mengimbangi dramanya namun tak terjebak dalam cerita yang terlalu melow. Dibalik itu semua ia akan tetap memberikan mutu konflik dramatis yang akan memberimu peluang mendapatkan emosi setiap karakter yang terselubung saat kita menyingkap misteri film ini satu persatu. Ia memang akan memuat konten berisi tangisan dan kesedihan, namun Han Lee bisa mengorganisir dengan baik setiap adegan dan menjadi tidak berlebihan dan akhirnya menjadi harmonisasi yang hangat, kelam, dan terasa pahit juga menyakitkan.

Selain dengan alur cerita yang cermat juga tidak kalah bagusnya di bagian para cast yang bermain seperti Hie-ae Kim yang mampu tampil sebagai seorang ibu yang rapuh dengan kesedihannya namun cukup tegar. Ah-sung Ko yang juga tampil baik sebagai gadis yang dingin namun juga memiliki rasa peduli dan sayang yang tinggi. Dan Woo-hee Chun mampu berperan sebagai gadis yang terlihat kejam namun tak sampai membencinya. Dan juga cast-cast yang mendukung pergerakkan cerita yang kadang bisa membuat kita begitu emosional dan juga kadang beberapa adegan yang mengundang tawa.

OVERALL, Thread of Lies adalah sebuah drama korea tentang keluarga dan persahabatan yang dicampur aduk menjadi satu dalam kesederhanaan cerita. Ia memang terasa sederhana namun gejolak cerita yang tabirnya dibuka satu-persatu menjadikannya puzzle cerita yang lebih kompleks, lebih tajam, emosional, dan akhirnya ia akan menjadi sebentuk kehangatan yang begitu pedih. Ia akan terus mengiringimu mengenalkan seorang karakter yang hilang di awal cerita namun terus memberimu pengetahuan tentang sosok bernama Choen-ji.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Han Gong-Ju (Woo-hee Chun) adalah seorang gadis sekolah yang terpaksa pindah sekolah dan juga terpaksa tinggal dirumah mantan gurunya lantaran sebuah aib yang harus ditanggung akibat skandal besar yang di alami olehnya. Masalah pelik yang harus diterimanya mau tidak mau. Bahkan keluarga dan sekolahnya pun meski dengan berat hati harus menjauh bahkan dijauhi dari lingkungannya sendiri.

gambar film han gong-ju by lemonvie

Bagi saya sendiri ini adalah sebuah film yang akan menggiringmu pada tanda tanya besar di awal-awal film tentang apa yang terjadi dengan Gong-Ju sehingga ia harus pindah sekolah dan terpaksa tinggal bersama mantan gurunya. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dalam hati saya tentang apa sih yang terjadi dengan Gong-Ju? Ada sesuatu yang ia tutup-tutupi? Kenapa dia harus berhadapan dengan aparat hukum? Kemana orang tuanya disaat ia sedang menghadapi masalah besar ini? Kenapa ada guru yang mau membantunya? Apa Gong-Ju melakukan kejahatan? ataukah ia saksi dari kejahatan itu sendiri?

Dengan kebingungan saya dan mencari-cari tahu tentang apa yang sebenarnya yang terjadi tentang Gong-Ju sehingga Saya melihat seorang gadis dengan kerapuhannya itu mencoba tegar dari setiap masalah yang ia hadapi. Dan pada akhirnya kita tahu kenyataan pahit dari seorang Gong-Ju.

gambar film han gong-ju by lemonvie 2

Ya, tentu ini mungkin bukan sekedar sebuah rasa pahit saja, tetapi rasa pahit yang menempel permanen yang mungkin tidak akan pernah hilang selamanya pada diri Gong-Ju. Dan Saya pun merasakan rasa sakit, pahit, dari mencoba tegar dan bertindak normal dengan semua yang ia hadapi. Ini sebuah studi karakter tentang menghadapi apa yang dialami perasaan Gong-Ju yang amat menyakitkan dan tentu akan mengakibatkan perubahan kondisi dalam hidupnya. Tapi, saya salut meski dengan semua yang terjadi padanya meski menyakitkan tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan dan kenapa Gong-Ju disini begitu menyebalkan dan berusaha menutup-nutupi dirinya baik kepada orang-orang disekitarnya, bahkan teman baru yang sangat baik kepadanya, semuanya ada alasan.

gambar film han gong-ju by lemonvie 3

gambar film han gong-ju by lemonvie 4

Menyangkut segi cerita film korea yang satu ini mungkin sulit bagi saya untuk melupakan film-film besar serupa yang akan membuatmu merasakan rasa sakit yang teramat gila yang harus diderita oleh karakter sentralnya. Dan ini salah satunya. Mungkin pada paruh cerita akan banyak mengalami sekelumit pertanyaan ada apa dengan karakter utama dan sayangnya apa yang ingin disampaikan hampir membuat Saya bukannya penasaran tetapi seakaan malah menimbulkan kebingungan. Apalagi Su-jin Lee sepertinya kurang mampu mengendalikan dan merapikan plot maju-mundurnya sehingga terasa seperti melompat kesana kemari sehingga alur ceritanya pun agak berantakkan.

gambar film han gong-ju by lemonvie 5

Meski plot cerita yang amburadul tapi apa yang ingin disampaikan Su-Jin Lee tersampaikan, ini karena Woo-hee Chun berhasil menghidupkan karakter gadis yang berusaha terus tabah dan kuat menghadapi rasa sakit dan malunya. Berhasil membuat Saya bersimpati dan berempati terhadap apa yang dialami sang gadis. Bagaimana pun ia gadis baik, hanya saja kadang hidup berkata lain.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates