• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Jika kamu pernah pergi menaiki kereta api yang menempuh perjalanan jauh, ada dua hal yang akan kamu lakukan saat mulai merasa bosan, pertama: tidur kedua: nikmati saja pemandangan indah disekitarmu meskipun itu hanya terdiri pepohonan dan juga rerumahan disekitar. Mungkin kiasan tersebut terlalu berlebihan untuk menggambarkan film Brimstone, tapi itulah yang paling cocok mendeskripsikan film berdurasi 2 jam 28 menit dengan siksaan dan keburukan naskah dari debut penyutradaraan Martin Koolhoven. Film ini menggunakan alur maju-mundur yang terbagi dengan empat chapter (Revelation-Exodus-Genesis-Retribution). Merembes tema soal sekte penyesatan dan penyelewangan alkitab dan ayat-ayat suci Tuhan. Brimstone adalah sebentuk penodaan dalam ajaran, mungkin ambil contoh tv series "Orphan Black", kurang lebih didalamnya terdapat ajaran yang sama.


Tapi, bukan itu tujuan film ini dibuat, Brimstone adalah jiwa Koolhoven dalam melukiskan teror tradisional yang mengambil latar western. Kuda, koboi dan prostitusi adalah muatan Koolhoven menciptakan nuansa liar dan gila, tapi didalamnya juga muncul teror yang lebih gila bernama The Reverend (Guy Pearce). Di chapter 1 (Revelation), menceritakan gadis muda bisu bernama Liz (Dakota Fanning), bersama suaminya Eli (William Houston), dan kedua anaknya Sam (Ivy George) dan Matthew (Jack Hollington). kemunculan The Reverend sendiri penuh misteri, dari nasihat-nasihat rohaniah dan juga nubuatnya tentang nabi palsu ia menebar teror dan ancaman kepada Liz. Chapter 2 (Exodus), menceritakan pula gadis muda lainnya bernama Joanna (Emilia Jones), ia gadis asing yang tiba-tiba tinggal di sebuah rumah bordir milik Frank (Paul Anderson) untuk dijadikan seorang pelacur. Terakhir Chapter 3 dan 4 adalah jawaban dari kedua cerita tadi.


Menghubungkan korelasi cerita film inilah yang membuat saya bingung, meski telah dijawab dengan akhir yang bertubi-tubi hanya saja saya tetap tidak nyambung dengan maksud Koolhoven menceritakan kisahnya dengan acak, kecuali menstimulasi otak saya mempertanyai setiap hal yang terjadi, meski efektif mengejutkan tapi lemah menarasikan. Lemahnya narasi diikuti motif terselubung The Reverend dan buruknya akting Guy Pearce. Mungkin di Revelation act, The Reverend begitu mempesona atas kemunculannya yang pro-kontra, tapi begitu saya menyelesaikan tahap demi tahap cerita, saya menemukan tumpukkan rasa jijik melihat antagonis ini. Terlebih ketika tahu bahwa ia adalah pria pengecut, maniak, dan incest yang senang menganiaya wanita dan anak kecil dengan cambuknya, berbuat asusila dengan darah dagingnya, menusuk dari belakang, dan membunuh anak kecil tak bersalah. Apa yang membuat saya tertarik dengan tokoh yang dominan memberi atmosfer di film ini menjadi suram, kecuali membuat saya malah bersimpati dengan pria psikopat lainnya semacam Joker ataupun Dr. Hannibal yang jauh lebih berwibawa.


Dan hal itupun disempurnakan dengan betapa buruknya akting Guy Pearce di depan kamera, oh inikah yang membuatnya jarang mendapatkan peran di film besar setelah film "Memento". Membuat sakit mata melihat perilakunya yang menyimpang, terlebih melihat tingkahnya dengan jenggot mirip Abraham Lincoln dan luka wajah mirip Scarface yang terus menguntit Joanna dan Liz, ditengah kerumunan gadis-gadis prostitusi cantik yang bisa ia sewa. Ah, mungkin karena dia masih memegang teguh ajarannya yang menyimpang. Dan ini masih menjadi malapetaka saat melihat Samuel (Kit Harington) yang tampak mampu menjadi pahlawan kesiangan tapi kemudian berakhir menjadi tokoh meh. Anna (Carice van Houten) yang sama-sama menjadi duet Game of Thrones dengan Kit pun acapkali menjadi tokoh ketiga wanita kesepian yang menjadi teman seperjuangan Liz dan Joanna dalam menempuh penderitaan.

Well, ini adalah sebuah film horror rasa western dengan antagonis paling menjijikkan dan akting paling gagal meraih simpati bagi saya. Mengikuti narasi yang juga sama gagalnya, sisi baiknya Dakota Fanning adalah penyelamat di tengah kehancuran film ini, dengan akting tanpa dialog verbal, gadis muda ini lebih banyak meraih atensi dengan kecakapannya dalam berakting penuh rasa. Hal yang sama saya rasakan dengan akting adiknya, Elle Fanning di film "The Neon Demon." Dan film ini pun saya nobatkan tidak perlu ditonton karena hanya menghabiskan waktumu selama hampir 2 jam lebih, bahkan endingnya pun adalah sebentuk keabsurdan Koolhoven dalam bercerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dimulai dengan sebuah desa miskin yang dikuasai oleh sekelompok penjahat bengis yang dipimpin Bartholomew Rogue (Peter Sarsgaard). Tak tahan akan kekejaman yang dilakukannya, penduduk mengumpulkan tujuh orang ahlo bersenjata untuk melawan balik demi kebebasan mereka.

REVIEW:
Film ini diambil dari sebuah film lama yang dibuat dengan judul yang sama, The Magnificent Seven pada Tahun 1960. Kali ini Antoine Fuqua mempersembahkan kembali film ini dengan gambar dan teknik perfilman modern. Menciptakan pesona film yang pernah besar dengan rasa yang sama itu tidaklah mudah, tentu saja sama dengan apa yang ingin di berikan oleh film ini.

Meski menampilkan wajah-wajah yang sudah sangat familiar seperti Denzel Washington, Ethan Hawke, Chris Pratt, Lee Byung-hun, dan beberapa aktor pendukung lainnya yang sudah pasti akting mereka tidak bisa diremehkan. Namun, sayangnya mengembalikan pamor film besar ini sebesar film lamanya tentu saja teramat susah.

Hal yang mengecewakan adalah bagaimana naskah dan permainan cerita agak terlihat sedikit klise dan mudah dibaca. Ia tidak menampilkan sebuah gebukan besar apalagi sebagai film aksi dipenuhi tembak-menembak ala western.

Meski untuk action nya sendiri sebetulnya tidak mengecewakan dan tentu saja menyenangkan melihat bagaimana para ketujuh orang jago tembak ini dikumpulkan, tapi kesan emosi yang seharusnya diinginkan agak kurang. Salah satunya adalah pengembangan dan konflik karakter yang kurang besar menyebabkan ke tujuh karakter tak satupun memorable. Ditambah Peter Sarsgaard yang aktingnya sendiri tidak meyakinkan sebagai antagonis. Satu-satunya hal yang menghibur hanya adegan tembak-menembak dan aksi gerombolan bersenjata ini. Selebihnya biasa saja.

OVERALL, meski ia tampil menjadi biasa-biasa saja dan tanpa gebrakan emosi. Tapi, masih bisa menyenangkan hati ketika adegan aksinya masih mampu menghibur otak di kala stress. Setidaknya ia tidak menjadi film remake yang buruk.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates