• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Tahun 2016 ini Mike Flanagan selaku sutradara yang menangani film horor Oculus dan Absentia melakukan sebuah gebrakan dengan mengeluarkan tiga film horor sekaligus. Diantaranya adalah Hush, Ouija: Origin of Evil, dan Before I Wake. Nah diantara dua film lainnya yang saya anggap berhasil memberi esensi horor berkualitas bahkan salah satunya masuk dalam tangga box office, Before I Wake mungkin bukan film yang punya daya tarik dan tak terlalu berpengaruh buat penonton. Tapi, apakah hal itu juga karena pengaruh kualitas film itu sendiri?

Berkisah tentang dua orang tua Jessie (Kate Bosworth) dan Mark (Thomas Jane) yang baru saja kehilangan seorang anak akibat sebuah kecelakaan. Tentu anak semata wayangnya itu memberikan dampak kesedihan dan luka yang dalam bagi kedua orang tua ini. Hingga untuk menghilangkan kesedihan dan duka mereka mencoba move on dengan mengadopsi seorang anak yatim piatu bernama Cody (Jacob Tremblay) untuk menggantikan peran anak mereka. Cody sendiri merupakan anak yang cukup pintar dan menyukai yang namanya kupu-kupu. Tapi, sayangnya Cody mengalami gangguan tidur dan selalu terjaga di malam hari. Dihadapan Jessie dan Mark ia mengakui tentang seorang makhluk bernama Canker Man yang selalu muncul dan memakan manusia saat ia mencoba tidur. Mungkin hal itulah yang menyebabkan dirinya terus terjaga agar makhluk mengerikan tersebut tidak mengganggu dirinya dan kedua orang tua barunya.

Dengan pertanyaan yang saya paparkan di paragraf pertama tentang kualitas yang mempengaruhi daya tarik ternyata masuk akal ketika Before I Wake sebetulnya punya premis cerita yang menarik tapi Mike Flanagan tidak bisa mempersentasikan film horor dengan trik fantasinya menjadi sangat berantakan dan membingungkan. Jika saja Anda tidak membaca sinopsis film ini terlebih dahulu saya yakin banyak orang akan lebih kebingungan dengan alur cerita yang terasa sangat ambigu dan membingungkan. Beberapa elemen penting yang ingin disampaikan oleh Mike pun tak berjalan dengan baik. Apalagi ketika hal-hal seperti munculnya beberapa kali hantu anak Jessie dan Mark dan kupu-kupu aneh yang berterbangan di ruang keluarga terasa tidak cermat dan tidak jelas. Hal itu dikarenakan ketidak relevanan antara hal yang terjadi sesungguhnya apakah itu realitas, ilusi, ataukah mimpi, hingga pertanyaan-pertanyaan yang membuat begitu banyak kebinngungan tersebut berdampak pada cerita yang semakin lama semakin membosankan.

Bahkan untuk elemen horor dan jump scare film ini juga terasa hambar. Hal yang saya rasakan adalah begitu sedikitnya Before I Wake mencoba menakuti dan memberi rasa takut penontonnya. Bahkan gangguan-gangguan kecil yang dialami oleh Jessie dan Mark tak benar-benar memberikan efek takut bagi para penghuninya dan justru hal terjadi sebaliknya, mereka berdua malah menjadi terkesan dengan apa yang terjadi dengan keanehan-keanehan yang mereka alami. Bukannya takut, malah mereka memanfaatkan Cody untuk membuat mereka bertemu dengan anaknya yang telah meninggal.

Bahkan saya tak begitu melihat ikatan batin antara Jessie-Mark dan anak barunya Cody. Yang terjadi justru konflik-konflik yang dimunculkan Mike Flanagan begitu konyol dan sedikit mengesalkan. Apalagi karakter Jessie yang semakin lama keinginannya semakin tidak masuk akal dan absurd. Bahkan ketika Before I Wake diakhiri dengan sebuah konklusi mengejutkan pun saya cuma bisa berkata, "Oh, begitu...". Karena alur ceritanya yang semakin lama semakin melelahkan untuk terus dihadapkan dengan sebuah cerita dangkal sampai akhir. Membuat kejutan di akhir film ini menjadi tidak maksimal.

Dengan melihat dibalik tiga film yang diusung Mike Flanagan tahun 2016, Before I Wake adalah yang paling buruk. Mungkin bukan pada premis ceritanya yang sebetulnya buat saya cukup menarik dengan campuran tema fantasinya, bagaimana sebuah mimpi indah dan mimpi buruk bisa menjadi kenyataan. Tapi sayangnya persentasi yang buruk, dialog-dialog rancu, horor yang dangkal, serta konsep cerita yang kurang tergali. Membuat Before I Wake tidak mempunyai daya tarik sebagai horor berkualitas. Apalagi poster film ini juga saya merasa agak kurang menjual. Tapi, hal yang yang masih kita garis bawahi, setidaknya Mike Flanagan masih berhasil dengan kedua filmnya yang sama-sama mengusung tema horor di tahun 2016. Jadi, tentu kita masih bisa menikmati film lainnya yang tentunya jauh lebih berbobot.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah teror mati lampunya (Lights Out), teror hantu tahun ini sepertinya tidak berhenti sampai disitu saja, kehadiran tak terduga justru datang dari film yang prekuelnya pernah "super-gagal-rusak-total" Ouija (2014) yang digarap oleh Stiles White. Tiga tahun kemudian sekuelnya hadir kembali dalam bentuk dan kualitas jauh di atas film pertamanya itu, Ouija: Origin of Evil. Disutradrai oleh Mike Flanagan yang juga sudah sukses membuat satu film horor bertema cermin yang endingnya brengsek-sek-sek banget (Oculus). Yups, sebuah lompatan unik dari teror benda-benda pembawa kutukan dari teror cermin ke teror papan ouija. Suatu yang jarang terjadi ketika film pertamanya sudah babak belur, tapi seketika ditangan Mike semua ekspetasi rendah saat trailer pertamanya dirilis di putar balikkannya di film keduanya. Dan ia telah berhasil menaikkan pamor kutukan papan ouija yang pernah anjlok menjadi, classic and authentic .

Dimulai dari adegan ritual seorang wanita peramal nasib, Alice Zander (Elizabeth Reaser) dirumah nya bersama 2 kliennya yang meminta kepada Alice agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang sudah mati di dunia roh. Elemen supranatural pun mulai mencengkram dari lilin-lilin yang mati sendiri, lemari yang terbuka sendiri, hingga kemunculan sosok bayangan di balik tirai pintu yang membuat kedua kliennya tak percaya tapi ketakutan setengah mati. Setelah ritual komunikasi roh tersebut selesai dan kliennya pulang, ternyata oh ternyata Alice adalah peramal gadungan, elemen supernatural tadi hanyalah kedok kebohongan dari sebuah trik khusus yang sudah sedemikian rupa dibuat demi meraup keuntungan. Bahkan yang membantunya adalah kedua anak perempuannya, Lina Zander (Annalise Basso) dan Doris Zander (Lulu Wilson).

Tenang saja, kepalsuan tersebut hanyalah prolog cerita. Teror sebenarnya datang saat ibunya membeli papan ouija tersebut di sebuah toko (ternyata banyak dijual di toko), sebagai alat bantu kerja barunya untuk menipu orang lagi. Tapi, saat Alice menguji coba papan ouija tersebut tanpa disadarinya telah otomatis terhubung antara dunianya dan dunia roh, yang membuat rumah dan keluarganya mulai diganggu terutama Doris yang mulai berperilaku aneh dan tak wajar.

Hal yang paling terasa selama film ini berlangsung adalah visualiasi film ini berbeda jauh dengan apa yang kamu rasakan di trailernya. Ia punya rasa klasik yang terasa kental, ditambah saat title film ini muncul. Mike Flanagan telah berhasil mencuri perhatian saya dengan efek kamera creepy yang terasa old school ini. Tidak salah memang menerapkan setting dan latar di era 1956. Bahkan saya merasa sedang kembali kemasa lalu. Semua bumbu elemen jadul itu berbaur dengan teror yang ditanam secara perlahan. Dan tentunya Mike mampu memberi sentuhan jump scare efektif di setiap adegan.

Dan salah satu kunci penebar horor tersebut tidak lain Lulu Wilson alias Doris sendiri. Gadis polos dan innocent inilah puncak keseraman film ini, Mike Flanagan berhasil menemukan momen-momen creepy dari Doris. Walau sudah sering seorang gadis kecil digunakan sebagai senjata pamungkas penebar teror klise, tapi Mike mampu mengubah image Doris menjadi lebih unik dan lebih autentik. Apalagi saat kamera men-shot dan memfokuskan wajah datar dan tanpa ekspresi Doris, ataupun saat sosoknya tiba-tiba nongol dibelakang. Atmosfer creepy Doris seolah benar-benar ngehe.

Tapi, bukan berarti Ouija tampil tanpa kekurangan. Kunci di setiap film bisa dikatakan bagus atau tidak terletak pada cerita. Dan cerita terbagi dalam tiga bagian, cerita awal, cerita tengah, dan ending. Dan jika diantara tiga salah satunya rusak, rusaklah film tersebut. Ouija sebetulnya sudah berhasil memberi sentuhan klasik film ini dengan dua jempol. Bahkan saya sendiri suka semua adegan ngeri seperti mulut menganga lebar, mulut dijahit, sampai-sampai Doris yang menempel di dinding. Semua itu sudah dipersentasikan dengan baik oleh Mike, tapi entah apa karena delete scene oleh pihak bioskop atau memang aslinya memang seperti itu, akhir cerita film ini terasa berantakan sekali. Padahal saya suka bagaimana konklusi akhir film ini mulai semakin mendebarkan di ujung. Bahkan saya pikir akan adanya adegan slasher. Tapi, ketika ia berada di adegan klimaks ada kesan terburu-buru, maksa dan bahkan scene mondar-mandirnya membuat saya bingung apa yang sedang terjadi. Dan itu merusak suasana yang sudah dijaga dari awal.

Yah, mengabaikan fakta kacaunya bagian klimaks film ini. Ouija: Origin of Evil telah berhasil menemukan jati dirinya kala prequel-nya yang kacau balau itu. Setidaknya kita masih mendapatkan rasa ngerinya bermain papan Ouija. Dan semua itu di visualisasikan secara matang dan klasik, memberi tampilan creepy yang luar biasa. Dan atmosfer ngehe itu berhasil ditampilkan oleh salah satu pemerannya Lulu Wilson, walau artis kecil yang terlihat polos dan innocent. Tapi, akting dan dialog-dialognya seperti, "Wanna hear something cool?" kemudian dilanjutkan kalimatnya tentang proses kematian seseorang dikatakan dengan tidak wajar oleh anak kecil menambah betapa horornya Doris film ini. Jadi, jika mau menikmati film ini cukup masukkan dua faktor ini, faktor pertama nikmati horor creepy-nya yang manjur, faktor kedua abaikan ending kacaunya, sekian.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates