• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Awalnya Mud terlihat sangat mirip dengan kedua film arahan sutradara Coen Brothers, antara "No Country for Old Men" dan "True Grit", dengan atmosfer kental yang terasa gritty, mysterious and thrilling. Jeff Nichols selaku sutradara yang pernah menggelarkan film misteri berjudul "Take Shelter" yang mengacak-acak pikiran saya lewat keraguan antara kenyataan dan delusi. Mud hampir sepenuhnya sama, hanya saja genre yang saya sebutkan diatas dicampur adukkan melalui pengkisahan ala drama coming of age sederhana dengan pengembangan cerita yang lebih adult dan faded.

Mud sesungguhnya sederhana dan film ini tentu saja bukan tipikal film yang dipenuhi adegan berdarah ataupun action yang dipenuhi baku hantam antar pria koboi, tampil dengan elemen misterinya yang intens film ini mengajak kita mengenal dua bocah belasan tahun bernama Ellis (Tye Sheridan) dan Neckbone (Jacob Lofland) yang sedang menyusuri sungai Mississipi karena tertarik melihat sebuah perahu boat tua yang tergantung di atas pohon di sebuah pulau tak berpenghuni. Tapi, mereka tak menyangka bahwa di sana mereka bertemu dengan seorang buronan bernama Mud (Matthew McConaughey) yang sedang bersembunyi dipulau dengan wajah kumal, kemeja putih kotor, sambil tersenyum hangat Mud meminta bantuan mereka dan mengajaknya bekerja sama.

Mud ternyata film yang kental menceritakan soal cinta dan hakikatnya dalam kehidupan muda dan dewasa seorang manusia, tapi bukan berarti Nichols fokus menjadikannya romansa penuh melodrama layaknya film Nicholas Sparks. Film ini jauh lebih dewasa dalam menuturkan kisah cinta yang terpisah jarak antara Mud dan kekasihnya Juniper (Reese Witherspoon). Melibatkan Ellis yang diperankan Tye Sheridan sebagai sudut pandang dan tokoh utama, Mud menjelma menjadi sketsa tokoh yang memiliki segudang problematika kehidupan yang terbilang sangat kompleks. Sembari Ellis mengenali hubungan Mud dan Juniper, ia pun kerap mencari dan memaknai arti cinta itu sendiri sambil menatap hubungan retak kedua orang tuanya yang membuatnya struggling.



Mud buat saya adalah pesona film yang berbeda dari kebanyakan film regular, Nichols lewat nuansanya yang terbilang kusam, tapi maknanya jauh lebih warm dan heartbreaking dalam menyerempetkan segala empati dan sentimentil kita pada emosi para tokoh. Apalagi misteri film ini disebarkan melalui pengaruh karismatik Matthew McConaughey sebagai pria misterius, abstrak dan penuh kejutan. Dan juga Sheridan sebagai messenger dan penghubung antara dua tokoh dewasa ini mengalami goncangan emosi kala ia terus mempertanyakan eksistensi cinta yang selalu datang ke dalam hidupnya, antara sifat anak kecil yang jujur dan simpatik namun juga naif kala ia terbawa oleh permasalahan besar dan rumit orang dewasa. Bahkan sesekali saya sebagai penonton turut terguncang kala ikut-ikutan naif melihat cinta itu diperlihatkan sangat manis dan indah, lalu Nichols mengobok-oboknya dengan sinis dan pahit perihal cinta sesungguhnya begitu menyakitkan dan palsu di belakangnya, hingga hal tersebut terjadi berulang kali membuat saya terombang-ambing hingga muncul pertanyaan dari alam bawah sadar saya, "What love is matter?"


Meski Jeff Nichols terbilang bukan big director semacam Steven Spielberg ataupun Christopher Nolan. Melihat Mud juga bukan film yang terasa ambisius, tapi secara komposisi Mud adalah film besar yang punya substansi cerita yang kokoh dan kuat. Pergolakkan emosi kita saat menemui berbagai segmentasi konflik kala cerita terus menggedor emosi hingga membolak-balikkan saya pada rangkaian kisah yang sentimentil. Ditunjang kehebatan Matthew meski bisa dibilang ia bukan tokoh sentral, pesonanya muncul dalam kemisteriusan dan kehangatan yang terpancar dari lusuhnya tokoh yang ia perankan. Dan film ini menjadi awal mula Matthew mulai banyak berakting di film-film besar setelahnya, meski sebelumnya ia adalah aktor yang sering bermain di film rom-com murahan yang hobi membuka baju, tapi akhirnya saya juga secara pribadi menyukai aktingnya di "Dallas Buyers Club" dan "Interstellar". Juga buat Witherspoon, mbak cantik yang aduhai ini punya pesona dan akting yang sebetulnya tidak banyak tapi beberapa kali hampir membuat emosi saya tercampur aduk kala memerhatikan setiap emosi yang keluar dari dirinya membuat saya percaya tak percaya akan perasaan tak jujur dalam hatinya.

Well, Mud memang terbukti adalah film yang sangat menawan, mencoba bercerita secara dalam dan substansial melalui tokoh dan ceritanya yang cukup mengejutkan. Dipuji dan disambut hangat oleh para kritikus memang tidak bisa dipungkiri, Mud adalah karya terbaik Jeff Nichols sejauh ini sepanjang saya menonton filmnya Take Shelter maupun "Midnight Special".
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa yang saya rasakan pada animasi keluaran studio Laika Entertainment ini adalah sebuah film animasi penuh imajinasi liar tapi tetap mempunyai jalinan cerita penuh melankolis tentang arti sebuah keluarga. Dunia sihir dalam film kadang bisa direfleksikan tanpa batas dan tanpa aturan tertentu. Dan dalam sekian banyak imajinasi tentang sihir selalu tentang bagaimana dunia sihir itu dapat menjadi sebuah kekaguman dan secara visual akan terasa fantastis. Yap, tak tertutup juga pada film dengan latar belakang sebuah era kuno jepang dan segala suntikan-suntikan imajinasi sihir liarnya. Kubo and the Two Strings adalah sebuah cara pandang berbeda dunia sihir yang selama ini kita pikir hanya sapu terbang, tongkat sihir, dan semua elemen mainstream lainnya. Nah, film ini menjadi sebuah wadah elemenisasi dunia sihir dengan kultur budaya timur.

Kubo and the Two Strings bercerita tentang pelarian seorang ibu bersama anaknya, Kubo (Art Parkinson) dari tangan kakeknya yang seorang raja bulan, Moon King (Ralph Fiennes) dan juga saudari ibunya yang jahat, The Sisters (Rooney Mara). Terlepas dari itu Kubo telah kehilangan sebelah matanya yang telah direbut kakeknya. Untuk itulah, ibunya berusaha untuk melindungi Kubo yang memiliki sebuah kekuatan yang ingin direbut oleh kakeknya. Nantinya Kubo akan berpetualang bersama Monkey (Charlize Theron) dan Beetle (Matthew McConaughey) dalam misi pentingnya dalam mencari tiga benda pusaka milik ayahnya Hanzo seorang legenda pejuang samurai, untuk mengalahkan kakeknya sendiri, Moon King.

Inti film Kubo sendiri memang untuk mengikuti kisah dan sepak terjang petualangan supranatural dengan segmen-segmen cerita magis dalam pencarian pusaka Hanzo. Sejak awal kita sudah di suguhi visual fantastis ketika ibu Kubo membelah lautan hanya dengan petikan senar shamisen (sejenis alat musik petik jepang berjumlah tiga senar) miliknya. Tidak hanya itu, sepertinya shamisen itu pun memiliki kekuatan magis lain ketika kubo mampu melipat kertas origami dan menggerakkannya layaknya benda hidup hanya dengan memainkan shamisen tersebut. Memang sangat fantastis bahwa apa yang nantinya disajikan dalam film Kubo ini tidak sampai disitu.

Kita juga dikenalkan dengan dunia gelap dan misterius yang nantinya akan dihadapi Kubo dalam perjalanannya. Tentu hal paling membuat saya terbelalak dan cukup merasa tercekam, merasa unik, sekaligus merasa lucu adalah nuansa gelap animasi ini. Dari manusia tengkorak dengan puluhan pedang tertancap di kepala, bola-bola mata misterius raksasa penghuni bawah laut, serta berbagai elemen dunia sihir yang buat saya cukup punya visual yang teramat sangat fantastis.

Segmentasi cerita ini juga penuh dengan lika-liku dengan cerita yang begitu gelap dan kelam. Itu bisa terlihat dari apa yang memang studio Laika buat tentang dunia-dunia animasi mereka terdahulu (Coraline, Boxtrolls dan ParaNorman). Dan memang film-film tersebut meski punya desain karakter yang bisa dikatakan tak ada lucu dan imutnya tapi ia senantiasa punya muatan cerita yang cukup berisi dan sedikit menyinggung tentang berbagai kompleksitas karakternya sendiri, ketimbang ia terlalu banyak menyuguhkan pernak-pernik visual cantiknya. Sama dengan Kubo and the Two Strings memang menyuguhkan bagaimana ia secara tidak langsung dengan berbagai bahasa puitisnya sama-sama punya point of view dan pengembangan karakternya sendiri.

Tapi, sayangnya film debutan sutradara Travis Knight, yang telah memproduseri film Boxtrolls dan ParaNorman ini dengan fantasi membahana malah terlalu lurus dan terlalu sederhana. Kubo terlihat seperti sebuah cerita dongeng. Meski ditengahnya nanti kita akan menemukan sebuah cerita tak terduga tapi sayangnya kisah Kubo terlalu banyak ambiguitas dan terkesan minor bahasan dan gaya bahasa ala dongeng pengantar tidur. Untuk ceritanya sendiri okelah, ia memang terasa begitu 'dalem' dalam pengembangan setiap karakternya. Tapi, sayang untuk memahami film ini lewat apa yang ingin disampaikan oleh Kubo lewat permainan origaminya pada penduduk desa cukup lama dan hal tersebut baru dapat saya pahami ketika saya sudah separuh jalan menonton film ini. Memang sederhana tapi bukan berarti Kubo secara nyaman mampu memberi sebuah sajian yang terasa kontemporer.

Bahkan klimaks dan ending film ini, OMG! ga banget buat saya yang semakin lama seperti sebuah dongeng jaman jebot era jepang dan dunia yang ingin disampaikan oleh penulis naskah dan cerita Marc Haimes dan Chris Butler malah semakin absurd dan semakin tak saya sukai. Apakah saya yang tak nyambung atau memang filmnya yang terlalu luntang-lantung. Mungkin juga karena penulis naskah yang sebelumnya memproduseri film gagal (A thousand words, The Legend of Zorro) dikombinasikan dengan  penggarap film ParaNorman mungkin mereka berdua tidak terjadi kesinambungan. Setiap segmen film Kubo ini menyuguhi elemen fantasi yang baru lagi dan kemudian disumpeli fantasi baru lagi, memang bagus tapi jalinan ceritanya terlihat begitu-begitu saja.

Tapi buat saya, the special one! untuk desain karakter dan juga pengisi suara film ini cukup jempolan dan membuat saya cukup jatuh hati dan suka melihat bagaimana voice karakter seperti Rooney Mara, Charlize Theron, Ralph Fiennes, dan Matthew McConaughey. Juga desain karakter yang mengimbangi suara mereka seperti Kubo, Ibu Kubo, Monkey, Beetle, The Sisters (cukup ikonik dan mengingatkan saya pada beberapa karakter animasi jepang lainnya, if you know what i mean..), tapi untuk kakeknya, Moon King adalah sebuah pengecualian. Jangan tanya kenapa saya tak suka dengan yang satu ini.

Saya tak begitu terpengaruh dengan besarnya rating film ini di IMDB, Rottentomatoes, bahkan Metacritic. Ketika filmnya tidak sesuai selera saya, berarti film ini tidak sebaik yang dibayangkan. Mungkin karena visual, desain karakter, dan dunia dalam film ini yang membuat rating film ini besar. Dan mungkin juga ceritanya bak dongeng-dongeng nenek moyang. Tapi, mungkin abaikanlah ketika saya begitu banyak mengkritik film ini, karena itulah yang saya rasakan. Tentu, baik visual yang memang tidak murahan dan memang terlihat bahwa Laika dan Travis Knight membuat film ini terasa masterpiece dan berhasil dengan bumbu ceritanya yang melankolis, sederhana, namun menyedihkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates