• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Jika menilik dari keempat aktor dan artis yang bermain di film ini antara Tilda Swinton, Ralph Fiennes, Matthias Schoenaerts dan Dakota Johnson saya sudah mencium aroma kenakalan dan romansa erotisme yang liar dalam film ini. Terutama Dakota Johnson, perihal keberaniannya mengumbar adegan seks BDSM di film "Fifty Shades of Grey", meski saya berani bilang ketelanjangannya sangatlah sia-sia saat filmnya berakhir murahan. Mencermati film berjudul A Bigger Splash adaptasi dari novel dan film klasik Prancis-Italia berjudul "La Piscine" adalah film yang berbau perselingkuhan yang dilakoni keempat aktor dan artis yang mendominasi gambar dalam poster film ini. Ya, sesuai judulnya film yang disutradarai Luca Guadagnino memang tidak jauh dari yang namanya percikan (splash) air yang semata-mata dikonotasikan asal muasal masalah yang menghinggapi hubungan mereka berempat sebagai sebuah pertemuan tak diinginkan yang dilatar belakangi motif terselubung.

Marianne Lane (Tilda Swinton) dikenal sebagai rockstar besar yang sedang berlibur di pulau Pantelleria, Italia bersama kekasihnya Paul De Smedt (Matthias Schoenaerts) yang juga filmmaker terkenal. Tapi, privasi liburan mereka harus terganggu oleh kedatangan dua orang tidak diduga, Harry Hawkes (Ralph Fiennes) produser musik sekaligus teman lama Marianne dan Paul, datang bersama anak perempuannya yang cantik Penelope Lannier (Dakota Johnson). Tapi tentu saja kunjungan mereka tidak hanya mengganggu hari spesial mereka berdua, tapi lambat laun masa lalu yang pernah hinggap diantara mereka mulai menimbulkan kecemburuan dan prasangka yang berdampak pada hubungan yang semakin retak.


Diawal film memang kita tidak bisa menyangkal hubungan antara Marianne dan Paul De Smedt sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Kebahagiaan dan kesenangan mereka terpancar dari beberapa adegan seks yang intens, bertelanjangan di pondok, hingga bermain lumpur bersama. Film ini memang bercerita tentang cinta, hanya saja cinta digambarkan melalui rangsangan seksual yang luar biasa ditonjolkan oleh Guadagnino. Tidak melakukan seksual berarti tidak cinta bukan? Tapi, selain membahas soal cinta, seks dan nafsu, film ini menggiring kita dengan empat orang yang punya keunikan dan sifat sebagai point utama "permainan" yang memang sudah tampak terlihat dari perilaku yang nyatanya nyeleneh dan mengganggu.

Marianne sedang dalam tahap pemulihan pita suaranya yang sedang dalam kondisi pemulihan, ya seperti kita tahu dia bintang rock, maka dari itu akting Tilda sendiri dikategorikan seorang semi-bisu, meski berupaya bersuara itu hanya terdengar melalui suara mirip orang yang sedang flu berat. Paul tokoh yang kalem dan cool, orang yang paling merasa jengkel akan kedatangan Harry dan Penelope ini seringkali mengoprek kamera yang selalu ia bawa. Penelope, gadis yang mengaku berumur 22 tahun, dengan tampilan sedikit agak nakal dan wild selalu mencoba curi-curi pandang dan menggoda kekasih Marianne. Dan tentu saja yang paling gila, norak, eksentrik dan bermulut besar adalah Harry, mantan kekasih Marianne yang seringkali terlihat sedikit gila dan perilaku sembarangannya selalu membuat kita menepok jidat karenanya.


Mengetahui bahwa A Bigger Splash adalah film drama berbalut thriller-psychological, ya film ini dibentuk melalui kecanggungan dan keanehan. Tapi materinya tidak dibentuk secara substansial, sembari mengenal tokoh yang ada. Bercengkrama mengenal masing-masing sifat dan hubungan yang hadir diantara mereka, hingga akhirnya motif antara kedatangan dan juga hubungan masa lalu mereka mulai dikupas sedikit demi sedikit. Melalui bentuk guyonan dan lelucon, diiringi berbagai musik pendamping Observatory Crest, Jump Into the Fire, Emotional Rescue, Miss Manhattan dan Unforgettable, film ini memang sedikit bernuansa musik klasik hingga moment tercipta juga terasa asyik sekaligus misterius dan memancing rasa curiga. Sambil memperlihatkan luas dan indahnya pulau dari Pantelleria hingga bertemu warga lokal semakin memikat kita akan keadaan historis dan nuansa elok, kitapun semakin larut dalam hubungan yang tampaknya memang sedikit bisa diprediksi akan menjadi film yang dikotori oleh perselingkuhan.


Bersama dengan penulis naskah David Kajganich, A Bigger Splash adalah film tentang nafsu, hasrat dan cinta yang coba disampaikan melalui sebuah persentasi yang generik. Buat saya film ini hampir berpeluang menjadi cerita yang membosankan karena tidak diiringi sebuah emosi, tapi saya cukup suka Guadagnino membentuknya melalui karakter-karakter yang tampak mencurigakan dan memiliki gelagat yang aneh, terlebih hubungan antara Harry dan Penelope yang diceritakan sebagai sepasang ayah dan anak ini memancing skeptisme hubungan yang sangat dipertanyakan. Pondasi film ini begitu kuat karena penampilan berani dan liar dari keempat tokoh utamanya yang saya jamin dipenuhi tipu muslihat, kepura-puraan, dan kebenaran yang saya rasa cukup membuat saya jijik dan tidak percaya dengan yang dilakukan oleh Harry dan Penelope diakhir cerita, meski dirasa wajar jika mengatakan bahwa seperti yang dikatakan oleh Harry, "We're all obscene. Everyone's obscene. That's the whole fucking point. We see it and we love each other anyway." Meskipun perkataan itu tidak mutlak kita benarkan karena pada kenyataannya konklusi dalam film ini cenderung mengatakan bahwa cinta bisa mengorbankan apa saja termasuk orang yang kita anggap berharga bagi kehidupan itu sendiri. Meski rasa menjijikkan film ini terlalu tumpul karena eksistensi masa lalu yang coba diungkapkan terlalu kurang deep diceritakan, tapi saya rasa ini masih cukup relevan untuk yang memang mencari sebuah film yang menampilkan sebuah drama psikologis yang cantik dan erotisme sensual seperti ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa yang saya rasakan pada animasi keluaran studio Laika Entertainment ini adalah sebuah film animasi penuh imajinasi liar tapi tetap mempunyai jalinan cerita penuh melankolis tentang arti sebuah keluarga. Dunia sihir dalam film kadang bisa direfleksikan tanpa batas dan tanpa aturan tertentu. Dan dalam sekian banyak imajinasi tentang sihir selalu tentang bagaimana dunia sihir itu dapat menjadi sebuah kekaguman dan secara visual akan terasa fantastis. Yap, tak tertutup juga pada film dengan latar belakang sebuah era kuno jepang dan segala suntikan-suntikan imajinasi sihir liarnya. Kubo and the Two Strings adalah sebuah cara pandang berbeda dunia sihir yang selama ini kita pikir hanya sapu terbang, tongkat sihir, dan semua elemen mainstream lainnya. Nah, film ini menjadi sebuah wadah elemenisasi dunia sihir dengan kultur budaya timur.

Kubo and the Two Strings bercerita tentang pelarian seorang ibu bersama anaknya, Kubo (Art Parkinson) dari tangan kakeknya yang seorang raja bulan, Moon King (Ralph Fiennes) dan juga saudari ibunya yang jahat, The Sisters (Rooney Mara). Terlepas dari itu Kubo telah kehilangan sebelah matanya yang telah direbut kakeknya. Untuk itulah, ibunya berusaha untuk melindungi Kubo yang memiliki sebuah kekuatan yang ingin direbut oleh kakeknya. Nantinya Kubo akan berpetualang bersama Monkey (Charlize Theron) dan Beetle (Matthew McConaughey) dalam misi pentingnya dalam mencari tiga benda pusaka milik ayahnya Hanzo seorang legenda pejuang samurai, untuk mengalahkan kakeknya sendiri, Moon King.

Inti film Kubo sendiri memang untuk mengikuti kisah dan sepak terjang petualangan supranatural dengan segmen-segmen cerita magis dalam pencarian pusaka Hanzo. Sejak awal kita sudah di suguhi visual fantastis ketika ibu Kubo membelah lautan hanya dengan petikan senar shamisen (sejenis alat musik petik jepang berjumlah tiga senar) miliknya. Tidak hanya itu, sepertinya shamisen itu pun memiliki kekuatan magis lain ketika kubo mampu melipat kertas origami dan menggerakkannya layaknya benda hidup hanya dengan memainkan shamisen tersebut. Memang sangat fantastis bahwa apa yang nantinya disajikan dalam film Kubo ini tidak sampai disitu.

Kita juga dikenalkan dengan dunia gelap dan misterius yang nantinya akan dihadapi Kubo dalam perjalanannya. Tentu hal paling membuat saya terbelalak dan cukup merasa tercekam, merasa unik, sekaligus merasa lucu adalah nuansa gelap animasi ini. Dari manusia tengkorak dengan puluhan pedang tertancap di kepala, bola-bola mata misterius raksasa penghuni bawah laut, serta berbagai elemen dunia sihir yang buat saya cukup punya visual yang teramat sangat fantastis.

Segmentasi cerita ini juga penuh dengan lika-liku dengan cerita yang begitu gelap dan kelam. Itu bisa terlihat dari apa yang memang studio Laika buat tentang dunia-dunia animasi mereka terdahulu (Coraline, Boxtrolls dan ParaNorman). Dan memang film-film tersebut meski punya desain karakter yang bisa dikatakan tak ada lucu dan imutnya tapi ia senantiasa punya muatan cerita yang cukup berisi dan sedikit menyinggung tentang berbagai kompleksitas karakternya sendiri, ketimbang ia terlalu banyak menyuguhkan pernak-pernik visual cantiknya. Sama dengan Kubo and the Two Strings memang menyuguhkan bagaimana ia secara tidak langsung dengan berbagai bahasa puitisnya sama-sama punya point of view dan pengembangan karakternya sendiri.

Tapi, sayangnya film debutan sutradara Travis Knight, yang telah memproduseri film Boxtrolls dan ParaNorman ini dengan fantasi membahana malah terlalu lurus dan terlalu sederhana. Kubo terlihat seperti sebuah cerita dongeng. Meski ditengahnya nanti kita akan menemukan sebuah cerita tak terduga tapi sayangnya kisah Kubo terlalu banyak ambiguitas dan terkesan minor bahasan dan gaya bahasa ala dongeng pengantar tidur. Untuk ceritanya sendiri okelah, ia memang terasa begitu 'dalem' dalam pengembangan setiap karakternya. Tapi, sayang untuk memahami film ini lewat apa yang ingin disampaikan oleh Kubo lewat permainan origaminya pada penduduk desa cukup lama dan hal tersebut baru dapat saya pahami ketika saya sudah separuh jalan menonton film ini. Memang sederhana tapi bukan berarti Kubo secara nyaman mampu memberi sebuah sajian yang terasa kontemporer.

Bahkan klimaks dan ending film ini, OMG! ga banget buat saya yang semakin lama seperti sebuah dongeng jaman jebot era jepang dan dunia yang ingin disampaikan oleh penulis naskah dan cerita Marc Haimes dan Chris Butler malah semakin absurd dan semakin tak saya sukai. Apakah saya yang tak nyambung atau memang filmnya yang terlalu luntang-lantung. Mungkin juga karena penulis naskah yang sebelumnya memproduseri film gagal (A thousand words, The Legend of Zorro) dikombinasikan dengan  penggarap film ParaNorman mungkin mereka berdua tidak terjadi kesinambungan. Setiap segmen film Kubo ini menyuguhi elemen fantasi yang baru lagi dan kemudian disumpeli fantasi baru lagi, memang bagus tapi jalinan ceritanya terlihat begitu-begitu saja.

Tapi buat saya, the special one! untuk desain karakter dan juga pengisi suara film ini cukup jempolan dan membuat saya cukup jatuh hati dan suka melihat bagaimana voice karakter seperti Rooney Mara, Charlize Theron, Ralph Fiennes, dan Matthew McConaughey. Juga desain karakter yang mengimbangi suara mereka seperti Kubo, Ibu Kubo, Monkey, Beetle, The Sisters (cukup ikonik dan mengingatkan saya pada beberapa karakter animasi jepang lainnya, if you know what i mean..), tapi untuk kakeknya, Moon King adalah sebuah pengecualian. Jangan tanya kenapa saya tak suka dengan yang satu ini.

Saya tak begitu terpengaruh dengan besarnya rating film ini di IMDB, Rottentomatoes, bahkan Metacritic. Ketika filmnya tidak sesuai selera saya, berarti film ini tidak sebaik yang dibayangkan. Mungkin karena visual, desain karakter, dan dunia dalam film ini yang membuat rating film ini besar. Dan mungkin juga ceritanya bak dongeng-dongeng nenek moyang. Tapi, mungkin abaikanlah ketika saya begitu banyak mengkritik film ini, karena itulah yang saya rasakan. Tentu, baik visual yang memang tidak murahan dan memang terlihat bahwa Laika dan Travis Knight membuat film ini terasa masterpiece dan berhasil dengan bumbu ceritanya yang melankolis, sederhana, namun menyedihkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates