• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sebelum saya membahas seputar film Christopher Nolan berjudul Dunkirk. Terlebih dahulu saya ingin menceritakan seberapa besar pengaruh dan pentingnya peristiwa bersejarah tentang kekalahan terbesar negara Inggris di masa perang dunia ke II, yang terjadi dari 27 Mei hingga 4 Juni 1940. Melibatkan 400.000 tentara sekutu Inggris dan Perancis yang terkepung oleh tentara Jerman di lepas pantai Dunkirk, hingga akhirnya terjadi misi evakuasi dan penyelamatan besar-besaran yang tentu saja tanpa disadari bahwa peristiwa ini menjadi salah satu bukti adanya 'keajaiban' dibalik kisah besar sepanjang sejarah umat manusia dimana para tentara Jerman yang seharusnya mampu membantai para tentara musuh yang terkepung dan menundukkan Dunkirk dengan mudah, namun atas misteri yang sampai saat ini masih tidak mampu dijawab, atas perintah langsung dari pemimpin tertinggi mereka, Adolf Hitler serangan tentara Jerman ke wilayah Dunkirk serentak dihentikan, sehingga evakuasi yang dikenal sebagai operasi Dinamo ini berhasil menyelamatkan ratusan ribu nyawa tentara dan memulangkan mereka kembali ke tempat asal.


Kisah ini memang terdengar epic sebagaimana kisah "Schindler's List" tentang penyelamatan seorang pria kaya terhadap ribuan rakyat sipil Yahudi yang dibantai oleh tentara Nazi yang kita kenal sebagai tragedi Holocaust menjadi sejarah kemanusiaan yang penuh emosi dan air mata, apalagi kita tahu film ini digarap oleh sutradara jenius yang suka akan hal-hal jelimet. Sebagai seorang "fanboy" saya akui Nolan memang selalu menggarap filmnya dengan totalitas dan penuh keseriusan. Setiap filmnya mampu membuat saya takjub dengan konsep yang dibuatnya. Tapi sayangnya, saya akui juga tidak ada sutradara yang sempurna, mengikuti filmography Nolan sejauh ini ia memang kurang tangkas dalam menciptakan sebuah film bernyawa dan emosional yang justru tenggelam dalam cerita yang dark dan dazing. Dan tentu saja sebagai film yang menceritakan tentang tragedi kemanusiaan Nolan harus mampu menciptakan sebuah letupan emosi dan dramatisasi cerita.


Sama dengan film "Interstellar" atau "Inception", melalui ciri khas Nolan yang tetap membagi plot cerita dalam tiga point of views, yaitu sky blue, dark blue and orange (udara, laut dan daratan) sehingga tercipta sebuah timeline yang non-linear. Ini menjadi sebuah konsep yang cerdas dalam memasuki ranah dunia yang lebih nyata dari karya-karya fiksi ilmiah Nolan sebelumnya, membuat Dunkirk yang notabene repetasi kejadian sejarah jadi dipenuhi moment kejutan setiap menitnya. Konsep inilah yang belum pernah dirancang dalam kisah historis nyata dan realistis yang lebih efektif memancing ketakjuban dan mengisi plot dengan detil yang lebih luas bagaimana Nolan menyambung tiap-tiap benang plot terpisah antara waktu dan tempat menjadi satu-kesatuan yang utuh.


Dan keluasan inilah yang menciptakan semesta yang lebih besar dari sekedar mempertontonkan karakterisasi manusia didalamnya. Dunkirk bukan sedang menceritakan tentang satu, dua atau juga sekelompok orang semacam "Saving Private Ryan". Dunkirk adalah keseluruhan yang terlibat dalam sejarah film ini baik tentara maupun warga sipil yang turut serta datang melakukan penyelamatan. Tidak ada satu tokoh pun baik yang diperankan oleh Tom Hardy yang berkontribusi penuh di atas udara sebagai pilot tentara bernama Farrier, Cillian Murphy dalam kondisi trauma dan tercogok sendirian di tengah lautan, ataupun Fionn Whitehead sebagai tentara muda dan tentara lainnya yang terjebak di pesisir pantai Dunkirk mencari cara untuk keluar dan selamat dari sana. Tidak satupun dari mereka hadir tampil lebih menonjol dan emosional, mereka hanya sebagian kecil dari ratusan ribu orang yang ingin selamat dengan perasaan penuh ketakutan, keputusasaan, penderitaan, dan harapan yang sama. Sehingga Dunkirk jauh lebih mengedepankan sisi atmosferik dan kondisi sejarah itu sendiri, dan bukan tentang perasaan yang dirasakan secara lebih personal.

Untuk segi teknis dan atmosfer, saya tak meragukan bahwa Nolan berhasil membuat sebuah medan besar dan epic, dan semua itu tercipta dengan sinematografi yang indah, fantastis dan realistis. Sehingga seolah-olah saya pun ikut tenggelam dan berada langsung di dalam peristiwa tersebut. Hal ini dikarenakan Nolan dikenal sebagai sineas anti-CGI, penggunaan seminim-minimnya efek CGI dalam film Dunkirk dengan teknik ilusi, bahan peledak dan penggunaan properti asli seperti pesawat tempur, kapal boat, dan tentu saja mengambil lokasi syuting di tempat aslinya, it's totally realistic masterpiece! Oscar nomination? Best Pictures? Maybe yes. Terlebih lagi untuk kerjasama Nolan yang ke-6 kalinya dengan Hans Zimmer dalam menggarap background musik, kembali berhasil meramu ruang atmosfer medan perang Dunkirk menjadi sangat menegangkan dan membantumu lebih fokus sepanjang cerita.


Overall, menjadi film terpendek Nolan sejauh ini yang hanya berdurasi 106 menit, dan film adaptasi true event dan perang pertama baginya. Dunkirk adalah salah satu film perang terbaik dengan konsepnya yang unik dan berbeda dengan film bertema sama. Tapi, sayangnya ini juga pertama kalinya saya dikecewakan oleh Nolan, ini bukan berarti Dunkirk jelek dan tidak bagus dan tentu saja ini bagian dari sebuah karya masterpiece miliknya. Hanya saja tidak seperti film-film Nolan lainnya, Dunkirk tidak meninggalkan kesan kuat dan mendalam sebagai film dramatic event, justru kehampaan yang saya rasakan sejak keluar dari pintu bioskop menimbulkan kebimbangan besar yang membuat saya di satu sisi merasakan kepuasan tapi sisi lainnya ada sebentuk kekecewaan di waktu yang sama. Tapi, pada akhirnya saya tetap melihat film ini dari sisi objektif (tidak sebagai fanboy) bahwa apa yang Dunkirk berikan itu istimewa, sinematis, dan epic.
Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments


Steven Spielberg adalah sutradara pertama yang paling saya kenal sebelum mengenal lebih banyak nama-nama sutradara besar lainnya dan merupakan salah satu terfavorit saya hingga sekarang. Tentu jika kamu mengenal beberapa buah karya tangannya yang menjadi legenda film dan sinematografi klasik, semisal Jaws, Indiana Jones, Saving Private Ryan, Schindler's List dan Jurassic Park. Mungkin terdengar begitu lawas, tapi dari sanalah awal cerita saya mengenal sutradara yang telah meraih 3 buah Oscar yang telah membukukan namanya sebagai sutradara terbaik di Hollywood. Hingga sekarang karya terbaiknya tetap mengalir deras tanpa membuatnya pudar dan menghilang, bahkan film terakhirnya yang lebih kental dengan political theme, Lincoln dan Bridge of Spies, tetap membuatnya diakui sebagai sutradara berkelas.

Dan kali ini Steven Spielberg sepertinya ingin kembali lagi merambah dunia penuh petualangan serunya dengan mengusung tema, family oriented. Itu bisa dilihat dari kembalinya kolaborasi Spielberg dengan penulis naskah sekaligus sahabat lamanya Melissa Mathison, yang telah membawa film ikonik besar di era 80-an, E.T. The Extra-Terrestrial. Tentu dengan teknik visual dan sinematografi cantik hasil debut kerjasama Spielberg bersama studio besar Walt Disney Pictures, ia kembali menghadirkan kisah hangat tentang arti sebuah persahabatan. The BFG (Big Friendly Giant) merupakan film yang diadaptasi dari salah satu buku novel karangan Roald Dahl (Charlie and the Chocolate Factory, Fantastic Mr. Fox, Matilda).

Suatu malam, Sophie (Ruby Barnhill) salah seorang anak perempuan yang tinggal di sebuah panti asuhan terjaga dari tidurnya dan sedang berkeliling dalam rumah pantinya. Malam itu tanpa sengaja ia melihat bayangan aneh bergerak dibalik kota sepi London, dari balik tirai jendela ia terkejut karena melihat sesosok makhluk raksasa memakai kerudung sedang berkeliaran di kota itu. Lalu tanpa sebab, makhluk raksasa itu menculik Sophie dan membawanya jauh dari kota, ketempat persembunyian makhluk raksasa tersebut tinggal. Disana tentu saja kecemasan Sophie muncul bahwa mungkin saja ia diculik untuk menjadi santapan makhluk raksasa tersebut.

Tapi, ternyata pria yang nantinya diberi nama BFG (Mark Rylance) adalah pria tua raksasa yang ramah dan baik hati. Ia mengatakan bahwa ia bukanlah seorang kanibal yang suka memangsa manusia, ia terpaksa menculik Sophie untuk tinggal bersama seumur hidupnya, agar Sophie tidak menyebarkan rahasia dirinya ke dunia manusia. Tentu mendengar hal tersebut tetap tak merubah niat Sophie untuk mencoba kabur dari sana. Tapi sayangnya rencana tersebut tidak berjalan semudah itu, karena disana juga ditinggali beberapa makhluk raksasa yang bahkan jauh lebih besar dari BFG, bahkan mereka lebih kejam, lebih jahat dan suka memakan manusia.

Tentu hal yang amat menjanjikan bahwa film yang digawangi sutradara brilliant sekaliber Oscar dan juga studio animasi Walt Disney, membuat The BFG layak untuk disejajarkan dalam film fantasi spektakular. Tapi enggan untuk berspekulasi tentang sesuatu yang tampaknya hebat, dengan semua kehebohan itu ternyata apa yang disajikan oleh The BFG hanya sebuah kesenangan yang hampir tampak kosong. The BFG memang punya sequence cerita yang menarik dan tak terduga. Apalagi disokong animasi warna cahaya berkelap-kelip dengan latar malam yang gelap yang menawan hati. Tentu kamu tak perlu ragu untuk setiap olahan animasi dari studio semacam Disney. Sayangnya setelah film ini berakhir ada sesuatu yang terasa hilang dan ketika saya bertanya pada diri saya soal film ini, "Apa yang membuat film ini menjadi istimewa?"

Tentunya aspek cerita tentang persahabatan antara anak kecil dan makhluk besar (atau anggaplah monster) dengan hubungannya yang begitu hangat dan sederhana tampak tak begitu menarik. Tapi, ditangan Spielberg dan naskah gubahan Melissa Mathison, cukup berhasil dalam menyuntikkan kisah warm and full of kindness. Terdapat adanya keterikatan dan hubungan unik yang terjadi antara Sophie dan BFG, seperti kisah persahabatan yang pernah ditulis naskahnya oleh Melissa (E.T. dan Ponyo). Apalagi terdapat sebuah intimiadasi dan bully dari karakter sebesar BFG oleh makhluk yang lebih besar dan lebih jahat. Dan itu memunculkan sebuah rasa iba dan simpatik bahwa ia pun harus merasakan penderitaan dan rasa takut, meski dia sendiri ditakuti oleh sosok manusia. Ada sebuah pesan moral bahwa yang baik selalu ditindas yang jahat, tapi kebaikan yang lain datang untuk melindungi kebaikan lainnya.

Kemudian kita pun tidak hanya disuguhi sebuah kisah tentang persahabatan dan petualangan. Tapi juga, dunia tak kasat mata dari sesuatu yang bukan benda yaitu, a dream. Mimpi digambarkan dalam bentuk sebuah bola cahaya yang terbang layaknya seekor kunang-kunang. Tapi, disinilah masalah timbul dari penceritaan yang tak mampu berjalan beriringan. Tumpukan sequence cerita BFG terasa kurang kuat dan pondasi yang ia bangun seiring film berjalan semakin tumpul. Meski kita akan dihamparkan begitu banyak visualisasi menjanjikan dari dunia sederhana milik BFG, tapi tak satupun yang ditampilkan terasa memorable dan berkesan.

Tapi, saya suka bagaimana nantinya perjalanan cerita di second sequence untuk mengakhiri kisah the BFG menjadi bagian penceritaan yang paling kuat dan menarik. Meski saya merasa bagian ini terlalu Spielberg paksa ikut ditempel dalam plot cerita tanpa membuat sebuah perpaduan warna cerita yang seimbang. Tapi kelihatannya konklusi ini cukup efektif mengubah alur cerita yang sedarinya tampak membosankan menjadi sedikit menghibur.

Well, The BFG akhirnya hanya sebuah film fantasi yang cukup menghibur untuk ditonton bersama keluarga dengan visualisasinya yang cantik dan memikat. Mungkin bukan sebuah karya besar dari Steven Spielberg dan Walt Disney. Tapi, tetap memberikan sebuah sentuhan moral yang mengandung kisah manis dan hangat tentang arti sebuah kebaikan persahabatan yang tak kenal batas. Film sederhana dan menghibur yang cocok sekali ditonton untuk segala usia.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates