• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Setelah tidak sukses dengan filmnya yang berusaha menjadi blockbuster 2012 lewat "Battleship". Ini tidak membuat sutradara Peter Berg patah arang, mencoba hijrah ke ranah "true event" melalui "Lone Survivor" yang ternyata cukup berhasil meraih atensi penonton, Berg lalu menemukan secercah ilham bahwa mungkin film seperti inilah yang seharusnya ia buat. Dan terbukti salah satu film suksesnya yang bertajuk Oil is a monster, Deepwater Horizon berhasil memukau penonton dengan hingar bingar cerita yang mumpuni serta ledakkan dan efek CGI massive yang bombastis. Yakin akan prospek filmnya bernilai cukup tinggi, Berg lalu optimis mengambil langkah kedua, memanggul salah satu tragedi besar dalam sejarah Amerika Serikat, bom Boston sebagai salah satu kejahatan terorisme terbesar setelah peristiwa 9/11.

Patriots Day adalah insiden yang masih segar dalam ingatan karena terjadi pada 15 April 2013 lalu tentang 2 kali pemboman di tempat sama yang terjadi kala festival marathon diselenggarakan di kota Boston. Tapi tenang saja, meski hanya berselang 4 Tahun lalu bukan berarti film ini akan melempem dalam cerita karena kita sudah tahu seluk-beluk kisah yang kala itu hangat diperbincangkan dunia. Dengan dana sebesar $45,000,000 ini Berg menjadikan Patriots Day bukan saja tentang kilas balik dan honorable story of humanity, melainkan sebuah film besar tentang kota Boston itu sendiri.

Mencoba untuk tidak repetitif pada kisah aslinya, Patriots Day memang tidak murni menceritakan kisah biopik yang diperankan oleh Mark Wahlberg sebagai polisi Boston bernama Tommy Saunders. Tommy ternyata hanyalah tokoh fiktif belaka, meski belakangan diketahui awalnya Wahlberg menolak untuk berpartisipasi dalam film ini, tapi kemudian berubah pikiran setelah membaca naskah yang sudah dibuat oleh Matt Cook, Joshua Zetumer dan Peter Berg itu sendiri. Meski tokoh utama hanyalah fiktif belaka, tapi apa yang diceritakan dalam film ini jujur merangkai cerita dari a sampai z. Justru peran Tommy seolah representasi diantara ratusan warga dan polisi Boston tak bernama yang ikut berperan dalam evakuasi, menjaga, dan menolong atas tragedi besar di kota tersebut.


Tragedi bom Boston memang hanya sepercik cerita kecil yang jika kita telusuri lebih dalam adalah kisah panjang dalam menaklukan terorisme di kota tersebut. Berg seolah menafsirkan film ini dengan cara yang berbeda, tragedi bom Boston memang menakutkan dan mengerikan, tapi sesuai judulnya ini justru menitik beratkan tentang arti kepahlawanan, patriotisme, semangat serta keberanian warga Boston saat dirundung duka dan rasa takut saat ancaman sedang berkecamuk di Boston. Terutama ini bukan saja tentang Tommy sebagai protagonis, melainkan ini berlaku kepada semua penegak hukum hingga warga sipil sebagai para pelaku yang ambil bagian dari keseluruhan agenda dan kejadian heroisme di kota tersebut.

Hal yang membuat saya berdecak kagum adalah bukti Berg meracik dua naskah terpisah antara "Boston Strong", difokuskan sebagai adegan aksi dan ketegangan dalam cerita. "Patriots' Day", difokuskan sebagai drama faktual, menjadi satu-kesatuan cerita yang bersinergi. Deepwater Horizon adalah salah satu dari kepiawaian Berg dalam bercerita, kebanyakan dalam setiap konsep film drama-action yang menghabiskan separuh durasinya hanya untuk bermain narasi dan dialog, selalu keteteran saat penontonnya menunggu bombardir action yang menggelora sudah dihinggapi rasa bosan. Tapi, konsistensinya dalam bercerita menjadi nilai tambah selain Berg sanggup menceritakan setiap detil dan seluk-beluk kejadian aslinya secara substansial sembari menjaga tempo dan intensitas kala membentuk power dan background. Berg pun berhasil menyatukan hasil film gambarnya sendiri dengan setiap rinci bukti rekaman otentik CCTV, foto, dan rekaman amatir masyarakat secara keseluruhan. Hal yang membuat saya heran kenapa ia membuang waktu dan uang hanya untuk membuat film seperti Battleship tempo lalu?


Patriots Day adalah film ketiga Mark Wahlberg bekerjasama dengan Peter Berg yang rata-rata ke semua filmnya adalah adaptasi kisah nyata. Tapi, di film ini Wahlberg mencoba berakting menjadi dirinya sendiri kala beberapa kali ia bertingkah bodoh, berkata kasar dan sarkas kadang sempat memancing tawa, tapi kontribusi dan ketangguhannya disetiap kondisi cukup menjadi delegasi patriotik polisi yang kuat dikota tersebut, hanya saja keterlibatannya di setiap adegan aksi terlalu kebetulan dan sengaja ditonjolkan, membuat saya sedikit bertanya pada delusi Berg terhadap tokoh utamanya, Tommy yang kakinya keseleo akibat kekonyolan yang dilakukannya di awal film. J.K. Simmons, Kevin Bacon, dan John Goodman masing-masing sebagai aparat petugas hukum meski tidak semenonjol peran Wahlberg tapi peran mereka sendiri mewakili setiap aksi dan keberanian di dalam lapangan maupun luar lapangan kota Boston. Hanya satu yang membuat saya agak kaget dan tidak menyangka, peran Melissa Benoist sebagai Katherine Russell, istri dari teroris pelaku peledakan bom, How adorable she is wearing hijab!?

Meski terbilang sebagai film aksi terorisme aktif, tapi Berg mencoba tidak terlalu provokatif ditengah langkah aksi propogandanya. Ia bersikap netral bahwa selain kita disuruh berada dalam posisi masyarakat dan polisi, kita pun masuk ke ruang lingkup para pelaku teroris, idealisme dan motifnya yang membuat kita menafsirkan ulang tanpa harus membela ataupun melaknat para pelaku teroris karena isu agama ataupun kaum tertentu. Lagipula Patriots Day memang bukanlah film yang fokus untuk mengenang para korban pemboman, melainkan aksi semangat dan keberanian yang ditunjukkan oleh seluruh warga Boston baik itu warga sipil, polisi, para korban, pemimpin gubernur dan mereka semua yang tinggal dan hidup di kota Boston adalah sebentuk kekuatan yang hadir melawan ancaman besar dan terorisme.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kehadiran seorang anak tentunya adalah sebuah kebahagiaan utama bagi setiap ibu manapun di dunia. Bahkan seperti kita tahu bahwa naluri seorang ibu untuk tetap bisa dekat dengan anaknya adalah sifat alami yang terjadi pada orang tua. Tidak hanya ingin terus berdekatan tapi juga berusaha untuk mengetahui, mengerti, dan memahami apa saja yang terjadi dalam kehidupan anaknya. Tapi, sebaliknya bagi sebagian anak tentunya kehadiran ibu yang terlalu kepo dan mengurusi setiap hal yang terjadi pada anaknya kadang membuat seorang anak risih dan merasa terganggu. Film dengan judul The Meddler karya sutradara Lorene Scafaria (Seeking a Friend for the End of the World) sekaligus penulis naskah film ini akan sedikit menyinggung kehidupan antara seorang ibu dan putri semata wayangnya yang sedang tidak akur karena beberapa hal yang sama seperti apa yang disinggung barusan.

Menceritakan tentang seorang wanita paruh baya bernama Marnie Minervini (Susan Sarandon) yang ketika itu tampak bahagia dengan sebuah iphone baru ditangan, apartemen dengan suasana pepohonan yang rindang, dan memiliki sejumlah rekening bank bekas suami tercintanya yang telah meninggal. Marnie pindah dari kota New Jersey ke kota New York demi dapat tinggal lebih dekat dengan putrinya, Lori (Rose Byrne), seorang wanita yang bekerja sebagai penulis naskah. Tapi, sayangnya kehadiran Marnie sendiri tak begitu disukai oleh anaknya tersebut, karena bagi Lori ibunya tampak tidak memiliki kegiatan lain selain mengkepoi seluruh kehidupan dan kegiatan dirinya. Hingga suatu hari Marnie mengerti situasi yang terjadi dari ketidakakuran antara dirinya dan anaknya, mencoba mengikuti saran anaknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain.

Tidak sulit buat The Meddler untuk membuat saya jatuh hati dengan jalinan ceritanya yang sederhana namun terasa menarik dan gampang disukai dengan beberapa guyonan simplenya. Mungkin The Meddler sendiri bukanlah cerita yang nantinya akan sepenuhnya berfokus pada hubungan naik-turun dan pertengkaran demi pertengkaran antara ibu-anak. Tapi, Lorene Scafaria jauh lebih memfokuskan pada kisah personal yang dialami seorang wanita beranak tunggal ini dengan kisahnya yang bercampur antara kebahagiaan dan kesedihannya. Bukan berarti apa yang disajikan The Meddler tampak tak begitu compatible, justru disini ada sebuah tolak ukur tentang apa yang dirasakan seorang ibu kala ditinggalkan oleh beberapa orang yang disayanginya.

Saya pernah mendengar bahwa semakin tua umur seseorang maka keinginannya untuk lebih dianggap dan diperhatikan oleh orang lain semakin besar. Upaya seorang Marnie ditengah kesepian dan kesendiriannya berusaha untuk tetap mendapatkan perhatian bahkan wanita yang tetap terlihat agak nyentrik di usianya yang sudah tidak lagi muda ini mencoba tetap eksis dengan keberadaannya dan bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya, baik dengan seorang sales apple berkulit hitam bernama Freddy bahkan hobinya yang sering ikut nimbrung saat teman-teman anaknya Lori mengadakan sebuah acara. Apalagi dengan tingkah royal Marnie kepada orang lain yang sebenarnya sangat lovable tapi juga ketika anggapan seorang psikolog anaknya menganggap perbuatannya sadly.

Sejujurnya saya malah begitu simpatik dengan kepribadiannya dan justru harus ditiru oleh banyak orang. Saya pikir kebanyakan orang bersedih hati dan galau ketika merasa kesepian ketika ketidak pedulian oleh anaknya sendiri justru nampak tak hadir dalam diri seorang Marnie. Yang saya lihat adalah sosok yang cukup ceria dan terus bahagia bagaimana caranya untuk tetap hadir dalam kehidupan, caranya untuk disukai oleh orang lain dan juga ketulusan hatinya. Memang segala tindakannya bertujuan untuk menghilangkan rasa kesepian dari anaknya yang merasa terkekang olehnya. Tapi, disisi lain saya sepenuhnya menyukai perbuatan-perbuatan wanita ini.

Dibalik kisah dingin dengan anaknya Lori, Marnie juga kedatangan seorang pujaan hati sebagai kisah asmaranya yang baru, seorang pensiunan polisi, Zipper (J.K. Simmons). Pria baruh baya yang juga akhirnya membuat kehidupan Marnie menjadi lebih menarik. Pria luwes dan gentle ini mengingatkan saya pada film I'll You See In My Dreams karya Brett Haley, yang sama-sama mengangkat cinta paruh baya yang dipertemukan secara tidak sengaja. Peran pria pecinta dan pemelihara ayam ini pun cukup memberikan pesona yang lucu dan unik yang membuat Marnie semakin menyukai dan terikat padanya. Nah, mungkin saya agak lupa menceritakan karakter Lori yang diperankan oleh Rose Byrne. Mungkin pada bagian ini tidak begitu banyak menampilkan performa akting dari seorang Rose Byrne. Tapi, sedikitnya penampilannya disini cukup andil dalam membangun kisah yang sepenuhnya tidak menyebalkan dan memaklumi setiap kondisi yang terjadi dalam karakter seorang Lori yang juga sama-sama kesepian dan kehilangan.

Well, mungkin kekurangan dari film The Meddler yaitu saat Lorene Scafaria tampak kebingungan dalam menentukan dan menjabarkan ceritanya pada saat pra-ending (Bukan pada endingnya). Saat semua konklusi cerita dikemas secara terburu-buru tanpa membuat sebuah jalinan cerita yang terkemas dengan baik. Tapi, untungnya itu tidak benar-benar menjadikannya akhir yang buruk, tentunya The Meddler masih terasa manis untuk tetap berusaha lucu dengan bumbu komedinya yang sederhana dan menarik. Film bertajuk hubungan dingin antara ibu dan anak ini memang berusaha menyelipkan sebuah cerita yang terasa simpatik dan mudah disukai.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates