• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Bagi Saya Rogue One: A Star Wars Story adalah sebuah film penting bagi franchise gede sebesar Star Wars. Meski hanya merupakan sebuah spin-off dan Stand-Alone, tapi Rogue One menjelma sebagai kisah yang benar-benar akan mempengaruhi ketiga kisah Star Wars: A New Hope, Star Wars: The Empire Strikes Back dan Star Wars: Return of Jedi. Kenapa? Karena ini adalah prequel yang mengarah pada pembuatan senjata berbahaya yang paling dikenal dalam sejarah film Star Wars, Death Star. Dan semua berkat keberhasilan Gareth Edwards yang dipercayai menangani side story of an epic movie. Ketika ia berhasil melucuti kembali dunia besar yang masih terkait dalam cerita Star Wars terdahulu.

Jika saja ia gagal maka reputasi besar yang telah dibangun J.J. Abrams lewat Star Wars: The Force Awakens akan kembali terburai. Apalagi ini adalah franchise yang dipercaya akan bersinar kembali di era ini sebagai salah satu best sci-fi and space traveler movie, ketika  karya J.J. Abrams telah benar-benar mengangkat setinggi-tingginya derajat esensi dunia yang dicintai para fanboys Star Wars, tatkala hancur lebur di triloginya yang dulu, Star Wars: The Phantom Menace, Star Wars: Attack of the Clone dan Star Wars: Revenge of the Sith.

Rogue One akan membuka ceritanya tanpa ada lagi embel-embel opening crawl yang selalu menghiasi awal kisah Star Wars, dan langsung mengarah pada kemegahan visualnya. Hingga kita diperkenalkan pada seorang wanita bernama Jyn Erso (Felicity Jones). Dia merupakan seorang anak dari ilmuwan bernama Galen Erso (Mads Mikkelsen) yang dipaksa Empire untuk membangun sebuah senjata paling berbahaya dan paling mematikan, Death Star.

Agar dapat menghancurkan senjata pemusnah massal tersebut, Rebellion mencoba merekrut Jyn yang mempunyai koneksi kuat dengan Galen agar dapat menemukan dan mendekati dirinya, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui titik lemah Death Star. Dalam misi tersebut Jyn dibantu oleh Cassian Andor (Diego Luna) anggota Rebellion dan droid milik Imperial yang diprogram ulang, K-2SO (Alan Tudyk), lalu dibantu oleh tiga orang pria yang ditemuinya di planet Jedha, Bodhi Rook (Riz Ahmed), pilot Imperial yang membelot, Chirrut Imwe (Donnie Yen) ksatria buta dan rekannya, Baze Malbus (Jiang Wen).

Bagaikan kisah-kisah sebelumnya, Rogue One akan membawamu pada konflik sengit antara Empire dan Rebellion. Tapi, tanpa embel-embel sang Jedi. Bahkan disini kita akan menemukan begitu banyak tokoh-tokoh baru yang sedikitpun tak akan kita kenal. Meski begitu Rogue One ditulis oleh dua penulis naskah handal, Chris Weitz yang telah menulis naskah Cinderella (2013), dan Tony Gilray yang telah menulis trilogi film The Bourne. Telah berhasil membawa sebuah cerita solid antara perang dingin dan perang panas antara dua kubu yang saling berseteru di hamparan dunia seluas angkasa raya. Dan juga konflik politik dan pemberontakan yang cukup kental dan sedikit kelam.

Bahkan taste dari karya sang pencipta, Goerge Lucas ini berhasil dimunculkan kembali, tatkala Saya sendiri sedikit meragukan sutradara Gareth Edwards dengan karya-karya sebelumnya, Monsters, Monsters: Dark Continent dan Godzilla. Walau cukup menyenangkan, tapi itu bukanlah karya yang luar biasa. Tapi kali ini, Edwards membuktikan bahwa ia bisa seperti J.J. Abrams yang mengerti dan mampu memberi sensasi antara classical element dan juga bagaimana cinematography film ini berhasil memperkokoh segi visualnya. Kita masih menemukan atmosfer luar biasa kala kita menemukan hamparan planet-planet fiksi, starfighter, blaster gun, dan paling utama scene-scene kemunculan Darth Vader yang menjadi perhatian paling besar, bahkan bagaimana nantinya sang penguasa Sith ini penampilannya berhasil se-badass dulu, bagaimana ia lahir sebagai salah satu villain terbaik yang pernah ada di dunia perfilman.

Disini kita mengenal kembali sosok wanita sebagai tokoh utamanya, Jyn Erso yang diperankan cukup powerful oleh Felocity Jones. (Bahkan new-Jedi pun seorang wanita, membuat Star Wars sekarang menjadi kisah tentang emansipasi wanita, hahaha...). Jyn menjadi tokoh utama yang terpaksa berada ditengah konflik sengit. Wanita tangguh yang dibebani sebuah tanggung jawab besar dan juga dilema ketika ayahnya sendiri menjadi sosok penjahat yang juga diburu oleh Rebellion. Kita juga diajak mempermainkan emosi antara hubungan seorang anak dan ayahnya. Walau Gareth sendiri kurang mampu membuat kisah emosional yang lebih menggigit. Tapi, cukup memberi nyawa pada tokoh yang diperankan oleh Felocity Jones.

Untuk peran Mads Mikkelsen disinipun agak kurang mencuri perhatian, dikala aktingnya sendiri kurang mendapat sorotan kamera. Dan juga beberapa sidekick seperti Donnie Yen dan Jiang Wen pun hanya sebagai tempelan dan tujuan mereka tampil hanya sebagai bodyguard dan tukang pukul Jyn Erso. Meski sosok Donnie Yen cukup berperan hingga akhir film, tidak seperti dua pesohor Indonesia kita yang hanya muncul sebagai cameo di film Star Wars. Dan juga droid K-2SO yang disuarakan oleh Alan Tudyk, sidekick yang cukup memberi hiburan dengan dialog-dialognya yang absurd. Dan Diego Luna sebagai yang paling dekat hubungannya dengan Jyn Erso, bahkan ada keterikatan dan konflik dalam hubungan mereka pun sama-sama tak bisa berperan lebih penting dari sekedar pengawal dan pelindung. Membuat hampir semua jajaran cast dalam film ini tampak seperti tempelan dan tak begitu memorable.

Well, Rogue One: A Star Wars Story adalah film yang cukup memuaskan, dengan cerita yang cukup solid dibawakan oleh Edwards. Menjadikan Rogue One sebagai paket komplit dari franchise besar milik Star Wars. Walau bukan kisah yang penuh adegan dramatis dan emosional, dan juga bukan karya besar yang masih punya banyak kekurangan. Sebagai sebuah blockbuster film ini cukup menghibur bahkan bagi para penggemarnya pun Rogue One adalah sebuah film wajib tonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Seperti film-film J.A. Bayona sebelumnya seperti (The Impossible) dan (The Orphanage). A Monster Calls pun mendapatkan perlakuan serupa, dimana ia lebih menitik beratkan sebuah konflik emosional dari sebuah keluarga antara orang tua dan anak. Dimana The Impossible lahir dari kisah nyata sebuah keluarga yang terpisah karena bencana tsunami dan The Orphanage yang bercerita tentang seorang ibu yang kehilangan putra angkatnya yang diduga diculik hantu di rumah bekas panti asuhan yang ditinggalinya.

Dan kali ini ia kembali menyutradarai sebuah film drama fantasi berjudul A Monster Calls, yang di adaptasi dari sebuah novel fantasi karya Patrick Ness. Bercerita seputar kehidupan Conor (Lewis MacDougal) yang dihadapkan pada ibunya (Felocity Jones) yang terkena penyakit dan juga harus menghadapi bully-an dari teman-teman di sekolahnya. Hingga suatu hari tepat pada pukul 12:07 muncul monster (Liam Neeson) yang berasal dari pohon di dekat rumahnya. Monster itupun mendekat  padanya dan akan mengatakan bahwa ia akan menceritakan 3 kisah cerita yang dialami monster tersebut, dan Conor pada cerita ke-4 nya harus menceritakan kisahnya sendiri pada monster tersebut.

REVIEW:
Walau bisa dibilang ceritanya sendiri berpusat pada Conor dan konflik latar belakang keluarganya. Bayona menempatkan sisi kelam pada kehidupan Conor. Disini kita akan melihat sebuah karakter introvert dan pemurung. Dimana karakter Conor itu sendiri telah digambarkan dengan sangat baik oleh Lewis MacDougall. Disini juga kita akan melihat bagaimana karakter seorang Conor yang begitu memperhatikan ibunya. Salah satu elemen terbaik dari film ini adalah bagaimana J.A. Bayona memperlakukan karakter Conor sendiri. Ia adalah salah satu karakter yang memiliki emosional yang rapuh.

Selain itu juga ada nama-nama casting yang sudah di akui aktingnya, seperti Felocity Jones dan Sigourney Weavey. Dimana mereka juga mampu tampil solid untuk melibatkan sebuah emosional para karakter antara hubungan Conor, ibu, dan neneknya dan terlebih lagi dengan ayahnya (Toby Kebbell). Mereka memiliki sebuah chemistry kuat yang sanggup membuatmu merasakan hubungan yang lebih intim dari sebuah keluarga. Ia tampil penuh emosional dan hangat.

Meski di awal film sempat keteteran dan film berjalan dengan tempo cerita yang lambat. Tapi, satu hal yang menarik dari film ini adalah penjabaran cerita utama dan beberapa cerita yang disampaikan dari sebuah dongeng sang monster. Meski memang terkesan adanya out of story. Tapi, nantinya ada keterkaitan pada cerita utama yang akan menjadi satu kesatuan cerita yang memiliki makna tentang kebaikan, pengakuan, dan kesendirian. Dan kemudian ditutup dengan klimaks yang terasa manis.

Dari segi visual sendiri, seperti yang Saya bilang. Ia digarap dengan elemen dark fantasy, dengan setting visual yang agak gelap dan juga sedikit creepy. Meski memang ia tidak tampil se blink-blink nya sebuah film fantasi milik Disney. Meski memang digarap dengan elemen gelap, namun masih tetap menyajikan elemen visual yang memanjakan mata. Dan lagi Liam Neeson (Pengisi Suara Monster) mampu menjadi dubbing yang semakin mempertegas sang monster dan sisi creepy saat kemunculannya berkali-kali.

OVERALL, A Monster Calls adalah upaya J.A. Bayona untuk menampilkan sisi emosional sebuah keluarga yang mengambil latar belakang seorang anak yang diahadapkan dalam kesedihan, kemurungan, dan rasa takutnya. Ia memiliki cerita yang gelap namun tetap memiliki banyak selipan makna kehidupan, karakterisasi, dan pengembangan kedewasaan. Ini adalah sebuah kisah yang manis dan juga sedikit menohok antara rasa takut seorang anak tentang kehilangan ibunya serta hubungannya dengan orang-orang disekitar yang begitu emosional dengan set visual fantasy yang dark.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates