• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Wah! ga nyangka sudah lama sekali saya tidak membuat artikel dan review film setelah 3 bulan rehat, padahal maunya cuman sebentar aja tapi rupanya semakin lama saya istirahat malah membuat saya semakin berat dan malas menulis blog lagi. Dan akhirnya blog ini nganggur selama 3 bulan lebih. Tapi at last, saya niatkan diri kembali membuat artikel blog film lagi meski nantinya tulisan ga sebagus dulu karena sudah lama tidak melatih menulis. Nah, sementara ini saya bukan mau curhat tentang masalah itu dan lupakan sejenak, tapi disini saya mencoba membuka kembali review film yang sudah lama terbengkalai dan tak terurus hingga akhirnya ada satu review film yang mungkin cukup menarik dan membuat saya tertarik kembali untuk memberikan ulasan terhadap film, ya film apalagi selain film yang pasti membuat interest bagi penduduk laki-laki terutama saya, haha... ya, tidak lain adalah Wonder Woman yang diperankan oleh seorang artis cantik dan mantan model dari Israel, Gal Gadot.

Melihat track record DCEU (DC Extended Universe) yang sering gagal melampaui ekspetasi dan rasa puas fans dan penonton hingga berujung kegagalan BvS dan Suicide Squad pada masa itu, kecuali The Dark Knight trilogi nya Nolan. Akhirnya kebuntuan proyek DC dibayar lunas dan diselamatkan oleh figur wanita. Tidak tanggung-tanggung bahwa yang menyelamatkannya bukan cuman satu wanita tapi dua, pertama dibalik layar, sang sutradara Patty Jenkins dan didepan layar, sang pemeran utama Gal Gadot. Entah apa yang dipikirkan oleh DC sehingga mau mendapuk Jenkins yang notabene lebih mengarah pada genre ciri khas-nya yaitu drama seperti "Monster" dan menangani beberapa episode drama TV Series. Tapi, nyatanya keberuntungan berpihak pada film ini setelah 141 menit saya akui tak ada rasa bosan dan saya pun sangat terhibur dengan cerita solid dengan beberapa bumbu komedi di dalamnya.

Ya, meski kesolidan cerita Wonder Woman sendiri cukup tersandung oleh beberapa mekanisme cerita yang terbilang biasa saja, ditambah ketidakmampuan Patty menangani masalah teknis yang cukup serius kurang membangun ketegangan dan daya tarik efek visual dan CGI dengan lebih seru dan menantang layaknya Zack Synder atau Michael Bay. Tapi, justru sebaliknya apa yang tidak bisa dibangun oleh mereka berdua bisa ditangani dengan cara yang jauh lebih baik oleh Jenkins yang mampu mengeluarkan seluruh daya tarik seorang Gal Gadot yang terbungkus menjadi seorang wanita feminis tapi perkasa sang 'princess of the Amazons', Wonder Woman aka Diana dari keseluruhan eksistensinya yang tidak sekedar menjual tubuh sensual dan kecantikan. Dengan tema yang sudah pasti bisa berujung pada cerita maskulin ini mampu di pukul sama rata bagaimana seorang wanita mampu eksis ditengah-tengah dunia keras dan kejamnya pria.

Ketangguhan seorang Diana terpancar karena aura meyakinkan dari seorang Gal Gadot yang buat saya pribadi dia betul-betul pantas memerankannya. Disini Jenkins meyakinkan bahwa superhero bukan sekedar kuat atau mampu mengalahkan musuh atau orang jahat sekali pukul, tapi bagaimana cerita mengalir menggunakan hati dan emosi seorang Diana, cerita bergulir dari ketangguhan dan keberanian yang dimiliki seorang Wonder Woman sejatinya adalah orang yang tidak memahami dunia luar, eksis dalam keterasingan dan buta akan dunia, tapi mampu mempengaruhi dengan cara yang sangat aneh namun beautifully enchanting. Dengan latar perang dunia II, beralaskan dunia penuh penderitaan dan kekelaman Wonder Woman bukan cuman memproses dirinya menjadi lebih kuat secara fisik dengan daya tahan tubuh bak Superwoman yang bahkan dijuluki dengan julukan seram "godkiller", tapi juga kuat secara personal emotion yang dipadukan keberanian, kepercayaan dan kelembutan dalam dirinya.

Another charming, selain dari daya tarik kecantikan dan pesona Gal Gadot tidak lupa bahwa setiap superhero selalu didampingi oleh love interest-nya sendiri yang diperankan oleh cukup apik dan sama-sama mempesona yang selalu berada disamping Diana, Chris Pine aka Steve Trevor. Meski tampang Chris Pine yang lebih cocok sebagai playboy urakan nan tampan, aktingnya disini terasa canggung dan konyol. Harus saya akui sendiri sebelum awalnya menonton film ini duet antara Gadot dan Pine terasa menjanggal antara chemistry mereka satu sama lain, hingga akhirnya ekspetasi itu terpatahkan dengan sendirinya. Mereka ternyata lebih dari sekedar hubungan romantis nan klise, mereka muncul bagaikan dua tonggak berdirinya cerita Wonder Woman. Dari sekedar pertemuan dan peristiwa tak sengaja, lalu awkward moment, percakapan lucu dan nakal, hingga bentrokan kepercayaan yang bersifat dogmatis antara mereka berdua.

Well, setiap adegan dan cerita mungkin terasa biasa saja bahkan nuansanya mungkin sudah predictable bagi beberapa penonton (bahkan villain sendiri terbilang nothing special). Dengan asal muasal cerita yang berasal dari karangan Zack Synder sendiri beserta dua partnernya Allan Heinberg dan Jason Fuchs, tentu saja saya masih tetap kurang menyukai apa yang dihasilkan oleh cerita ciri khas miliknya itu, sehingga Patty Jenkins sendiri yang awam dengan film semacam ini saya sangat memberikan pujian setinggi langit pada dirinya dengan kemampuannya menangani dan menterjemahkan cerita standard Synder menjadi cerita yang solid dan penuh dengan moralitas kemanusiaan. Dan juga meski diperankan oleh seorang wanita sebagai figur utama cerita tapi film ini bukan tentang feminisme atau semacamnya, tapi menyikapi stereotipe mungkin masih menjadi udara segar bahwa gender wanita bisa jauh lebih hebat dan jauh lebih memikat dari superhero pria pada umumnya, dan Wonder Woman mengobati luka hati fanboys DC dan audience lainnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kisah heroik dan kepahlawanan tidak selalu terjadi dalam medan peperangan seperti di PD1 maupun PD2. Bahkan ruang lingkup kecil seperti kisah penyelamatan dan keberanian para coast guard yang telah berjasa menyelamatkan 30 nyawa awak kapal tanker minyak SS Pendleton yang tersesat di tengah laut, bersamaan dengan badai dan gelombang mengerikan yang telah membuat kapal yang mereka tumpangi terbelah menjadi dua yang terjadi di lepas Pantai Cape Cod, New England. Menjadi sejarah besar sebagai kisah penyelamatan paling hebat dan berani yang terjadi pada tahun 1952. Hingga akhirnya keempat penyelamat itu mendapatkan sebuah medali emas kehormatan, sebagai jasa atas banyaknya nyawa terselamatkan dan juga keberanian mereka dalam menembus medan berbahaya dengan menggunakan perahu sekoci kecil yang bahkan bisa memutus nyawa mereka sendiri.

Cerita film ini akan berfokus pada dua lokasi, pertama menyimak kehidupan sang tokoh heroik Bernie Webber (Chris Pine), seorang coast guard yang canggung dan taat pada peraturan. Saat itu Bernie tengah mempersiapkan rencana pernikahannya bersama kekasih tercintanya, Miriam (Holliday Grainger). Tapi sayangnya, sebelum momen bahagia tersebut terlaksana, sang komandan Daniel Cluff (Eric Bana) menugaskan Bernie beserta kru lain untuk melakukan penyelamatan berbahaya yang mungkin akan menghilangkan nyawanya. Bersama dengan rekannya Richard Livesey (Ben Foster), Andy Fitzgerald (Kyle Gallner), and Ervin Maske (John Magaro), mau tidak mau mereka melakukan tugas berat tersebut dengan sebuah sekoci kecil melawan arus ombak yang begitu mematikan. Di lokasi lain, dalam kapal tanker, para awak yang dipimpin oleh seorang kepala mekanik, Ray Sybert (Casey Affleck) harus menangani kemelut serta perpecahan antara para awak. Dan juga memastikan keselamatan mereka dan menemukan daratan.

The Finest Hours adalah sebuah pengalaman menonton rescue-survival yang berlangsung selama 117 menit yang terasa sangat membosankan. Craig Gillespie yang mengambil kisah nyatanya dari buku Casey Sherman dan Michael J. Tougias sebagai pedoman tidak mampu lebih emosional dan menegangkan. Seluruh visual efek dari atmosfer, badai, hujan, gemuruh, serta gelombang-gelombang besar yang menghantam dan efek CGI kapal yang terbelah  sepanjang film ini terasa begitu sia-sia. Tak ada sesuatu yang bisa diharapkan mendongkrak ketegangan intens. Justru apa yang didapat adalah sebuah visual tersebut yang terasa gelap, suram, dan blank.

Padahal Gillespie punya dua momen bagus yang dapat diisi dengan cerita yang lebih banyak, antara sebuah kisah survival para awak di kapal tanker, serta kisah penyelamatan heroik yang menegangkan. Tapi, sayangnya dengan alur yang berjalan lambat, serta mencoba-coba menstimulasi ketegangan dari goyangan, hentakan dari besi-besi dan rantai yang melanting hanyalah sebuah percobaan yang memberikan kata-kata, "oh, ya...". Bahkan tidak jarang mencoba memadu cerita cinta Bernie Webber dan Miriam sebagai dramatisasi dan emosi terasa kurang meyakinkan dan chessy. Bahkan mencampurkan emosi percintaan ala 'shakespeare' pun tidak bisa larut dalam cerita. Dan juga ada scene saat Miriam yang memaksa komandan Cluff untuk membawa kembali Webber dalam aksi penyelamatannya, malah momen-nya terasa awkward dan salah posisi, sehingga membuat saya malah sedikit tertawa. (Karena Miriam gagal memaksa Cluff untuk menghentikan penyelamatan, justru diusir tanpa berbuat apa-apa)

Ada dua leading role pada film ini yang terpisah dalam masing-masing tempat, Chris Pine dan Casey Affleck. Chris Pine selaku coast guard bukanlah sosok yang benar-benar tampil solid dalam aktingnya. Aktingnya terasa awkward dan act-less. Bahkan Saya tidak melihat seorang yang greater sepanjang saya menonton film ini, walau memang tidak harus ditonjolkan sebagai heroik tapi setidaknya Gillespie bisa mengambil moment-moment terbaiknya dimana ia bisa tampil lebih menggebrak. Bahkan, kesan dirinya dihadapan Eric Bana sebagai komandan menyebalkan tampak tidak hebat sama sekali. Bahkan saya lebih meyukai peran Casey Affleck yang lebih punya karakterisasi kuat sebagai pemimpin awaknya yang dalam keadaan kacau-balau dan terpecah. Ia mampu tampil meyakinkan sebagai orang yang cukup disegani.

Well, The Finest Hours sesungguhnya masih dapat tertolong karena ceritanya sendiri masih berupa true story, maka pada bagian akhir kita masih diperlihatkan foto-foto klasik tokoh utama beserta penghargaan atas keberanian dan aksi hebat para coast guard ini. Tentu The Finest Hours juga menyelipkan sebuah pesan kecil bahwa "luck" dan "hope" adalah sebuah kata-kata semu yang tetap harus dimiliki seseorang ketika mereka merasa tidak punya harapan dan keberuntungan lagi. Walau segmentasi tersebut tersebut hanya bisa dilihat saat kita terseret dalam penceritaan yang berantakan, gloomy, chessy, dan boring.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates