• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Diantara superhero yang pernah muncul di layar lebar atau versi live action-nya, Spider-Man salah satu yang menurut saya punya daya pikat luar biasa terhadap penontonnya (termasuk saya). Terlebih bagian aksinya yang terlihat simple, unique, atraktif, dan tentu saja saat ia beraksi selain berayun dengan jaring laba-labanya, Spider-Man punya sequence kocak dan asyik. Dan tidak hanya itu, alter ego Peter Parker itu sendiri lebih mudah dicerminkan pada sosok ordinary people, remaja canggung dalam rutinitas normalnya di sekolah, teman, keluarga bahkan kehidupan cinta dan pubertas remaja, sehingga sosok Peter Parker lebih mudah menyatu dalam kehidupan kita sendiri dibanding lainnya.

Menjumpai Spider-Man aka Peter Parker (Tom Holland) rekrutan Tony Stark (Robert Downey Jr.) pada Captain America: Civil War yang lalu, sudah menjadi jawaban besar bahwa ia pasti akan diikut sertakan dalam universe Avengers dan tim besarnya. Dan hal itu telah ditunjukkan pula secara total pada scene opening film ini lewat munculnya reruntuhan pasca peperangan di film The Avengers (2012) dan sekaligus memperkenalkan villain Adrian Toomes aka Vulture (Michael Keaton) yang nantinya scene inilah yang akan menjelaskan betapa sejak konflik antara Iron Man dan Captain America sudah terlihat seberapa besar pengaruh setiap aksi yang dilakukan oleh anggota tim Avengers bagi efek global dan masa depan. Dan tentu saja keterkaitan antara rentetan kejadian film MCU sebelumnya memicu konflik lainnya, termasuk begitu besarnya pengaruh cerita pada Spider-Man: Homecoming.


Agar menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru, sehingga tak lagi nampak mengulangi kegagalan yang sempat dihadirkan The Amazing Spider-Man ala Andrew Garfield yang memaksa terhentinya trilogi. Mendapuk deretan penulis naskah seperti Jonathan M. Goldstein, John Francis Daley, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers dan Jon Watts sendiri sebagai sutradara, membuktikan film ini tidak lagi origin story. Bahkan kamu tidak akan menemui bahkan mengenali lagi setiap karakter di film ini. Meski tak perlu takut bahwa beberapa elemen cerita dan juga ciri khas Spider-Man tidak banyak berubah, hanya saja karakter pendukung serta relasi di film ini membuatmu merasakan zona Spider-Man yang benar-benar berbeda.


It's a teenager of high school want to be a professional superhero! Peter Parker versi Tom Holland menjadi sosok yang jauh lebih relevan dengan karakter remaja 15 tahun yang lebih hijau dengan segala tindakan dan aksinya yang masih terbilang ceroboh, lugu dan kekanak-kanakkan tapi penuh kelugasan dalam pembentukkan karakter secara hormonal dan juga penuh semangat jiwa muda. Membuatnya jauh lebih punya ciri khas "street-level" dan membuktikan bahwa menjadi superhero profesional itu butuh pendewasaan, kematangan, dan juga pengalaman untuk mengambil resiko dengan tanggung jawab yang lebih besar. Superhero mana yang membuat video dokumenter dan juga salah menangkap penjahat ini seperti superhero profesional?



Menghilangkan? tokoh Uncle Ben hanya salah satu perubahan cerita dan plot yang ada di semesta Peter Parker yang baru. Menariknya, perubahan mencolok dari lingkungan serta sosial kehidupan Peter Parker tetap terasa menarik, Ned (Jacob Batalon) menjadi best friend Peter yang NERD dan cerewet menjadi partner yang konyol dan lucu. Love interest, Liz (Laura Harrier) meski tidak secantik Emma Stone atau Kirsten Dunst, tapi ia cukup manis untuk menjadi pujaan hati, meski hubungan mereka sendiri minim pendekatan emosional yang terasa kurang chemistry. Aunt May (Marisa Tomei), she's a gorgeous MILF! memperjelas dirinya sebagai wanita yang paling menarik perhatian. Tony Stark aka Iron Man, jangan berharap aksi kerennya di film ini, ia hanya sekedar mentor sekaligus supervisor jarak jauh bagi Peter sendiri, namun perannya sendiri jauh lebih penting dari tokoh lainnya. Without Iron Man, Spider-Man's never will be someone. Termasuk sokongan costume-suit yang membuat Spider-Man lebih badass dan hi-tech, bahkan ada Karen, A.I. mirip Jarvis milik Iron Man di kostum barunya.


Spider-Man: Homecoming sebetulnya punya penceritaan yang menarik dan terasa fresh. Namun, saat membandingkannya dengan gaya bercerita film superhero MCU lainnya, Jon Watts seperti main aman, konsep yang ia usung tidak benar-benar asli dan minim aksi yang lebih deras dan inovatif, bahkan sequence aksi kapal laut? No way! mirip adegan Tobey Maguire menghentikan kereta. Jika ditanya seperti apa konsep brilliant? Lihat Logan, eksplorasi penceritaan yang terbilang out of the box dan berani membuatnya menjadi tontonan superhero baru dengan banyaknya sequence berkelas yang terasa lebih emosional. Tapi, ini masih sangat menarik mengingat komplikasi yang dihadirkan dalam diri Peter Parker secara personal jauh lebih dalam dan memikat antara dunia remaja dan pendewasaan menuju konteks superhero yang penuh tanggung jawab yang lebih besar dan berbahaya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Terkadang saya cukup tergelitik dengan fakta belakangan soal film DC yang cukup banyak merasakan lika-liku menggapai kesuksesan mereka secara kualitas dinilai inferior. Yap, ini bukan soal kesuksesannya yang cukup positif dalam hal menumpuk pundi-pundi dollar, contoh terakhirnya film Suicide Squad yang berhasil meraup keuntungan kotornya $325,021,779 tapi dicap kelewat buruk dalam penggalian karakter dan cerita yang repetitif. Sejarah kelam pendek DC ini sekelam film-film mereka yang cukup tertular oleh Christopher Nolan lewat The Dark Knight.

Mencoba lebih berwarna dengan komedi sebagai usaha perbaikan tone gelap mereka yang kelewat kental dengan sedikit pemanis. Dan tentunya menggaet teknik pemasaran baru dan anti-mainstream, DC sepertinya tak kehilangan akal keluar dari zona amannya untuk bisa menyaingi kompetitornya, Marvel. Dan tentu saja The Lego Batman Movie menjadi sebuah daya tarik berbeda dari film-film DC sebelumnya dengan menculik kesuksesan mainan buatan milik Ole Kirk Chiristiansen. What's a good news if we knew the Lego Movie's franchise was the great movie will come to win in The Lego Batman Movie?

Dengan tetap masih mengambil karakter Batman yang pernah kita temui di film The Lego Movie, menonton film The Lego Batman Movie ini ibarat menonton sebuah film batman yang diparodikan sebagai kartun animasi, sejak embel-embel logo ciri khas Warner Bros dan DC ini muncul sebelum film dimulai yang secara mengejutkan batman dengan suara berat ciri khas-nya tersebut membuat guyonan pada serangkaian awal film bahkan saat layar masih dalam mode black screen. Dan tidak kurang dari semenit hingga tiap-tiap menit film berlanjut yang dipegang oleh Chris McKay yang sekarang berperan seorang diri di bangku sutradara sudah menyajikan guyonan dan lelucon tanpa henti.

Tentu saja guyonan dan lontaran komedi tersebut datang dari berbagai hal, dan kebanyakan termasuk guyonan yang bersifat cibiran dan offensif yang datang dari mulut Batman sendiri yang tidak sedikit menyinggung beberapa tokoh karakter DC, bahkan salah satu karakter fenomenal Marvel sempat disindir dengan cukup menantang, seolah memang antara DC dan Marvel sedang melakukan perang dingin. Referensi segar dengan banyolan ala lego ini pun masih cukup cerdas dan bukan hanya sebagai komedi tanpa arah, tapi juga terdapat selingan nostalgia tentang pop culture film Batman dari masa ke masa yang muncul sebagai guyonan yang terus-menerus memancing tawa.

Dan tentu saja seperti film lego sebelumnya yang begitu bebasnya menjadi sebuah universe tanpa batas termasuk mengada-adakan sebuah karakter franchise besar film lain sebagai referensi tak masuk akal dan bahkan diluar nalar yang asalnya dari imajinasi seorang anak kecil yang bermain di atas sebuah papan meja milik ayahnya, seperti kita tahu kegilaan bahkan keabsurdan film Lego tetap mampu memberi tawa konstan dari awal hingga akhir. Dengan referensi liar dan gila ini memang Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern dan John Whittington yang beramai-ramai menjadi penulis naskah punya keberanian membawa tingkatan yang sama dengan pendahulunya yang sangat berhasil membuat saya tergila-gila dengan The Lego Movie.

Ya, memang film ini hampir memiliki semua kesenangan yang saya harapkan seperti yang film pertama lakukan, tapi sayangnya tidak semua lelucon film ini mampu saya terima dan terlampau kelewat batas dan berlebihan membuat ekspetasi saya dari awal baik-baik saja lalu menguap perlahan. Seperti perkataan awal saya bahwa The Lego Batman Movie ibarat seperti film parodi yang di animasikan, hanya saja dengan kualitas visual dan bobot referensi yang epic dan lengkap, justru aksi yang menuntut pada ke superhero-an batman dan juga relasi antar tiap karakter baik villain dan regu superhero lainnya terlalu absurd untuk diterima. Seperti tuntutan seorang Joker yang ingin dianggap oleh Batman buat saya terlalu kekanak-kanakan dan menciderai momentum psycho yang saya dapat dari berbagai referensi film sebenarnya soal Joker, meski saya memandang film ini memang tampak sebagai warna baru dari film yang selama ini gelap yang mungkin sebagian bisa menerima tapi sebagian juga tidak, hingga momentum terakhir klimaks yang juga menurut saya terlalu lebay dan aneh.

Mengangkat tema tentang arti keluarga, cinta dengan balutan kemurungan dan rasa trauma yang dialami alter ego Bruce Wayne dengan masa lalunya, film ini memang cukup ditolerir bagaimana ia sanggup mengangkat kisah superhero ini lebih dalam sepanjang sepak terjang dan sejarah kita mengetahui entah secara detil maupun sederhana sosok kelelawar tersebut. Dibalik bayang-bayang kehidupan mewah dan kaya raya, terselimuti sesuatu yang selalu menohok tentang sebab dari Bruce Wayne yang penyendiri serta letak kerapuhannya sendiri. Hingga bagaimana ia berada ditengah masyarakat kota Gotham dan eksistensi dirinya sebagai vigilant bagi hukum negara. Bahkan sosoknya diantara superhero, villain bahkan orang-orang terdekatnya yang cukup akrab bagi kita. Well, ini mungkin bukanlah film yang sebagus ekspetasi saya dengan film pertamanya, tapi ia masih memiliki timbunan referensi cerita yang tidak sembarangan dibuat dan ditata semenarik mungkin, yang dibalut dengan komedi segar dan tingkat absurditas tinggi tanpa henti yang tentunya jika kamu bisa menerimanya tanpa berat hati.
 
🎥 Director | Chris Mckay
🎥 Writer | Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, John Whittington
🎥 Studio | Warner Bros. Pictures
🎥 Rating | PG (for rude humor and some action)
🎥 Runtime | 104 minutes (1h 44min)



OFFICIAL RATING | THE LEGO BATMAN MOVIE (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates