• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Jika film tentang hubungan sepasang manusia sudah sangat membosankan, mungkin film ini bisa jadi alternatif saat hubungan kasih sayang dan cinta itu datang dari ikatan seekor anjing militer "K-9" bernama Rex dan pawangnya US Marine cantik bernama Megan Leavey (Kate Mara). "Nama" yang dipakai sebagai judul film ini adalah upaya sutradara Gabriela Cowperthwaite mengangkat biografi unik dan sederhana namun didalamnya terkandung penghormatan dalam skala besar sebagai warrior dan juga pelayan negara yang andil dalam pengendusan senjata, bom rakitan dan penyelamatan banyak nyawa saat mereka dikirim ke medan perang, Irak, disamping sekaligus memperlihatkan eksistensi mereka dalam perjuangan, kepercayaan, ikatan batin, loyalitas hingga kehangatan yang bisa saya rasakan melalui hubungan persahabatan yang indah dan luar biasa.


Megan lahir tanggal 28 Oktober 1983, ia adalah anak tunggal dari ibunya Jackie Leavey (Edie Falco) dan ayahnya Bob (Bradley Whitford), setelah mereka bercerai dan berpisah, Megan cenderung sebagai penyendiri hingga membuatnya mengalami masalah dalam menjalin komunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Sampai suatu ketika Megan memutuskan untuk bekerja sebagai seorang marinir AS, dan bertemu dengan Rex (E168) sebagai rekan satu timnya dalam menjalankan tugas misi ke wilayah perang Irak. 100 kali dalam dua kali penempatan mereka di Fallujah tahun 2005 dan Ramadi tahun 2006, hingga dalam misi terakhir mereka terkena luka akibat ledakan bom improvisasi saat bertugas. Sampai pada suatu waktu Megan memutuskan untuk hengkang dari satuan militer dan meminta izin untuk mengadopsi Rex dan membawanya pulang, namun permohonannya tersebut ditolak dan Megan menemui kesulitan saat anjing yang sudah dianggapnya sebagai sahabat dan penyelamat hidupnya tidak lagi bisa bersamanya.


Cowperthwaite adalah sutradara wanita yang pernah menangani film dokumenter "Blackfish" (2013) yang juga sama-sama mengangkat kisah hewan sebagai film perdananya mendapatkan cukup banyak pujian. Dan ini film keduanya bersama dengan tiga penulis naskah yang membantunya Pamela Gray, Annie Mumolo dan Tim Lovestedt dengan mengangkat tema serupa. Cerita film ini simple namun tidak membuatnya menjadi sajian yang klise apalagi membuatnya terasa kekanak-kanakan. Ya, ini bukan persahabatan seorang anak kecil dengan anjingnya yang pintar bermain basket atau sepak bola. Tapi, persahabatan hangat yang melibatkan kesetiaan besar didalamnya seperti "Hachi: A Dog's Tale" yang diperankan oleh Richard Gere. Hampir mirip, tapi tidak se-subtil dan semelodramatis itu, kisah Megan Leavey membentuknya sebagai titular karakter yang jauh lebih punya nyawa melalui penyampaian latar belakang kuat diantara keduanya. Tercermin melalui permasalahan keluarga, feminisme yang meletakkan figur perempuan yang digenjot secara mental dan fisik dari sketsa militarisasi, dan juga bagaimana membentuk chemistry kuat antara Megan dan Rex dari kesulitan PDKT hingga perjuangan Megan mengambil hak asuh Rex membentuk cinta yang terlihat begitu kuat dari aksi dan simpati yang tersampaikan melalui cara yang bittersweet.


Saya kira ini bukanlah film yang setengah hati, semua tampil mengejutkan dan menggetarkan melalui penyutradaraan yang sangat luar biasa. Membentuknya melalui serangkaian gejolak atmosfer dalam situasi negara Irak yang digambarkan cukup relevan, baik dalam penggambaran realita kondisi "panas" dan "mencekam" hingga bahaya yang mengintai dari arah yang tidak terduga. Ini sesungguhnya film biopik tentang persahabatan, tapi juga film perang. Semua di-mixed sedemikian rupa sehingga kisahnya pun terasa keras dan kasar namun subtil menyampaikan kehangatan yang emosional, semua mengikuti perkembangan karakter seorang wanita dalam wujud zero to hero diantara panasnya padang pasir, beratnya situasi perang, hingga berhadapan dengan terorisme, senjata api dan bom. Sehingga honorifik ini berasal dari penafsiran saya soal ekspansi kaum wanita selain tentang seberapa besar penghormatan mereka terhadap keberanian serta eksistensinya sebagai sukarelawan perang.


Saya menyematkan akting Kate Mara yang tampil cukup powerful dan natural, aktingnya bersama Rex membuat saya percaya ada ikatan batin yang secara tak langsung terasa diantara mereka berdua. Melalui pancaran rasa cinta hingga sorot mata diantara keduanya seperti menciptakan harmoni yang begitu hangat dan manis, yang bahkan lebih manis dari brownies kukus yang terasa sangat lezat. Ya, semua dibentuk dengan cara manisnya Cowperthwaite menceritakan secara perlahan hubungan yang dibentuk dengan kesukaran Megan berkomunikasi dan menundukkan Rex yang dianggap sebagai anjing paling agresif dan galak diantara anjing lainnya. Selain itu saya juga cukup menyanjung akting Tom Felton sebagai Andrew Deanyang, diluar perkiraan tampil cukup likeable dan sosok pria yang hangat saat ia menjadi mentor Megan yang berpengalaman, meski sebentar, diluar aktingnya yang biasa ia lakoni sebagai antagonis tukang bully, Draco Malfoy saya rasa cukup bagus juga lakonnya sebagai pria berwibawa yang diperankannya dengan wajah yang cukup manis dan baik hati.

Well, mungkin film ini tidak sampai membuat air matamu berlinang, tapi setidaknya cukup banyak memberikan haru deru dan juga luapan emosi yang terhantar hangat melalui akting dan chemistry Kate Mara. Juga persentasi melalui drama biopik soal perang ini juga bukan hal yang dibuat remeh-temeh. Semua dihamparkan melalui alur, kisah dan juga persentasi yang menarik juga relatable. Saya kira ini salah satu film tentang persahabatan anjing dan manusia terbaik tahun ini, dan juga tentang sebuah film untuk memberikan penghormatan besar bagi keduanya yang berhasil mendapatkan pujian dan penghargaan akan keberanian dan kerja keras mereka dalam sebuah tim yang solid, loyal dan bravely.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Cukup mengejutkan melihat hasil rating rottentomatoes memberi nilai film ini dengan angka 99% (almost perfect!) dan disaat yang sama pun ternyata film yang disutradarai oleh Jordan Peele, kalau kamu ingat ia aktor yang pernah berduet akting dengan Keegan-Michael Key di film Keanu (2016). Get Out adalah film debutannya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, mampu bertengger di tangga teratas box office dengan raupan pendapatan opening weekend sebesar $33,377,060. Wow! angka-angka yang sangat fantastis untuk sebuah film debutan, bukan? Terus apa yang membuat film yang hanya bergenre horror-comedy ini sanggup meraih baik pendapatan dan kritikan positif yang bahkan di situs metacritic yang sangat pelit angka mampu memperoleh angka 84, menjadi film yang sangat antusias tahun ini? mari kita simak ulasannya.

Chris Washington (Daniel Kaluuya) seorang pria kulit hitam yang baru menjalin hubungan dengan kekasihnya seorang gadis kulit putih bernama Rose Armitage (Allison Williams), mereka berencana pergi menghabiskan akhir pekan mereka untuk mengunjungi sekaligus memperkenalkan kedua orang tua Rose pada Chris. Meski dengan sedikit rasa ragu dan khawatir tidak diterima orang tua pacarnya tersebut sehubungan perbedaan ras dan warna kulit, tapi akhirnya dengan memastikan bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang baik, akhirnya mereka berdua pergi dan bertemu dengan ayahnya Dean Armitage (Bradley Whitford) dan ibunya Missy Armitage (Catherine Keener) dengan sambutan hangat dan ramah oleh kedua orang tuanya itu. Tapi, hal tersebut tidak berlangsung lama sampai akhirnya Chris menyadari ada gelagat aneh yang terjadi di rumah dan keluarga tersebut.

Get Out memang bukan sekedar film horror biasa, yang menjelma menjadi sebuah horror-comedy yang mampu menyisipkan isu rasisme di tengah cerita yang sangat-sangat berbeda dari yang pernah kita tonton sebelumnya. Hebatnya hal tersebut ternyata bukan tempelan semata yang dibuat oleh Jordan Peele terasa jauh dari kata dangkal. Ia betul-betul mampu melibatkan isu tersebut justru sebagai inti cerita film ini yang memang tak bisa dipisahkan dan melekat antara keduanya. Film ini sangat kontras, antara kulit hitam dan juga kulit putih, dan tentu saja hal yang patut menjadi moment trigger adalah saat insiden seekor rusa yang tiba-tiba melintas dan menabrak mobil Chris dan Rose, lalu disusul polisi yang datang membantu mereka yang justru timbul konflik kecil sebagai moment dimana kita tahu inti permasalahan film ini berasal, sehingga kita seolah tahu bahwa isu rasisme dalam dunia modern ini memang seolah tak pernah habis dan segelintir orang tetap mempermasalahkan perbedaan ras sebagai tolak ukur keburukan dan diskrimansi terhadap beberapa kaum atau ras.

Ya, moment itu hanya sebagian kecil yang disusul oleh beberapa misteri yang menghubungkan hal-hal tersebut dengan beberapa fakta tersembunyi samar-samar namun pasti tetap dicapai. Misteri-misteri yang bergeser pada moralitas dan perlakuan terhadap kaum kulit hitam yang mampu ditampilkan sangat berbeda dari pengalaman saya menonton film-film yang mengedepankan rasisme pada zaman dulu yang jauh lebih heartless semacam 12 Years a Slave. Get Out tampak berusaha lebih halus seraya menampilkan sosok bersahabat namun tampak tetap tidak meninggalkan sisi ketidakmanusiaannya.

Selain dari isu yang menjadikan film ini tampak punya nyawa sebagai inti cerita yang memang jadi kekuatan film ini, ternyata beberapa elemen seperti persentasi, misteri, keunikan cerita, dan tentu saja diantaranya dua hal magis yang mampu di-mixing menjadi satu antara atmosfer intensif dan komedi gelap ala Jordan Peele ini berhasil menjadi santapan film yang sangat lezat. Sejauh film ini berjalan Get Out mampu membuat atmosfer yang tak henti-hentinya membuat tanda tanya dan ambigu atas apa-apa yang terjadi sepanjang film, selama beberapa moment jump-scare yang mengiringi timbal balik kisah yang semakin lama terasa semakin absurd dan mengganggu. Gangguan dan rasa aneh yang timbul dari tatapan, kata-kata dan hingga perilaku-perilaku abnormal yang kadang terekspresikan dengan baik oleh Daniel Kaluuya, bahkan hingga seringai dan ekspresi tak ikhlas Georgina (Betty Gabriel) ini terasa fresh, hingga tampak begitu sederhananya cerita yang dibuat semakin jelas bahwa semakin kita terdorong pada jebakan-jebakan dan sisi cerita yang semakin manipulatif ini semakin jelas pula kelakuan dan hal-hal aneh yang terjadi sepanjang film ini dijawab dengan satu tendangan yang konklusif.

Selain itu keberanian dan kemampuan Peele yang tampak berani mengambil moment-moment komedi yang tersisipkan pada tiap-tiap kemunculan Rod Williams (Lil Rel Howery) teman baik Chris sebagai steal scene sama sekali tidak mengganggu tensi dan atmosfer dark yang telah dibangun. Justru beberapa moment yang kebetulan lucu baik dari Rod dengan perkataan-perkataan bahkan tidak sedikit mengatakan soal perbudakan seks yang notabene entah sebagai senda gurau atau prasangka dan juga tindakan-tindakan yang ia lakukan, meski ia adalah orang yang berada diluar konteks cerita. Ia adalah penyeimbang dimana atmosfernya tidak terjerembab menjadi tenggelam dalam gelap.

Well, inilah jawaban bahwa Get Out telah berhasil menjadi film horror terbaik bahkan mungkin menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Memandang meski adegan slasher dan sadisnya tidak terlalu bloody-hell, tapi apa yang ditawarkan antara kegilaan, weirdness, atmosfer, motif dan cerita film ini patut diancungi jempol. Selain itu juga tak lupa antara halus dan tajam, Peele tetap membawa kamuflase isu rasisme yang saya pandang sebagai isu rasisme modern. Memandang ia tampak halus dan lembut dengan perbedaan  ras tapi tetap mampu menampilkan sisi yang tetap tidak berkemanusiaan sebagaimana hal tersebut bisa tercermin ditengah masyarakat modern. Dan dibalik timbulnya rasa takut dan kecemasan disertai gangguan atmosfer aneh, Peele juga tetap menyuntikkan sebuah komedi atraktif yang eksis namun tanpa mengganggu dan meruntuhkan sedikitpun atmosfer horror film tersebut.
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates