• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Ini bukanlah film mengenai seorang kapten dari sebuah tim olahraga terkenal, juga bukan seorang kapten (baca: Captain America) dari sebuah tim superhero, melainkan ini adalah film tentang sosok pria paruh baya yang memimpin sebuah keluarga yang terdiri dari 6 orang anak yang mengajari mereka cara hidup, ideologi serta prinsip yang bertubrukkan dengan pola hidup, aturan masyarakat serta perkembangan zaman. Captain Fantastic adalah sebuah tutur cerita yang unik dan komikal dari sebuah generasi mental yang sebetulnya dikisahkan tidak dari awal, namun langsung disuapi suatu kondisi dan permasalahan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan pria bernama Ben (Viggo Mortensen) yang saat itu sedang mengkhawatirkan kondisi istrinya yang tengah mengalami depresi berat.


Pada awalnya alur cerita film ini membuat saya bingung dan membuat saya bertanya-tanya, perihal cerita ini langsung memaksa saya berada di pusat masalah dan bukan mencoba memperkenalkan satu-persatu siapa ini dan siapa itu dan latar belakang yang coba dipondasikan. Tapi, melalui proses berjalannya cerita saya mulai mengetahui dan mengerti siapa Ben dan sefantastis apa dirinya. Ben yang kita kenal dalam film langsung include dalam posisinya sebagai bapak dari keenam anaknya yang diberi nama anti-mainstream yaitu Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalise Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks), dan Nai (Charlie Shotwell). Dibawah asuhan ayahnya sendiri, mereka berenam tinggal dan hidup di pedalaman hutan, mengajari mereka berbagai hal yang tidak biasa seperti berburu rusa dan climbing. Dan tidak hanya, Ben pun mengajari dan mengasupi anak-anaknya untuk mempelajari dan mendalami ilmu seperti hukum, filsafat, dan sejarah. Semua diajarkannya dalam sebuah latihan rutin baik fisik, otak, dan mental.


Ini ibarat dunia dan surga bagi Ben yang ia ciptakan bersama anak-anaknya, tanpa mengenal dunia luar, masyarakat sosial dan hukum. Ben menciptakan dunia tanpa kesenjangan dan independensi murni kebebasan yang tak terikat kultur, norma maupun hukum masyarakat. Bahkan pada anak-anaknya sendiripun Ben mengajarkan sikap bebas berpendapat dan bebas melakukan apa yang mereka mau selama masih dalam koridor keluarga. Tapi, dengan tradisi yang dibuat Ben dalam keluarga kecilnya, semacam kebiasaan telanjang bulat kecuali pada saat makan atau merayakan hari rayanya sendiri, cukup menjadi bukti bahwa ada faham Marxisme dalam sistem kehidupan yang Ben emban kepada anak-anaknya. Meski begitu sisi positifnya Ben dan koloni kecilnya hidup rukun dan bahagia, bahkan cara didikan Ben pun sedikit demi sedikit mempengaruhi saya dan membuat saya bersimpati karena disini Ben tanpa mencoba mengotoriter keluarganya namun sanggup menghasilkan anak-anak yang cerdas secara literasi dan tangguh secara fisik, sehingga wajar jika bagi anak-anaknya pun Ben sangat dicintai baik figurnya sebagai ayah maupun sebagai pemimpin. Hingga masalah besar pun terjadi saat istri Ben dikabarkan meninggal karena bunuh diri dan memaksa Ben dan keenam anaknya kembali ke kota untuk menghadiri pemakaman ibunya.


Tapi disisi lain prinsip dan cara hidup Ben justru berseberangan dengan sebagian besar keluarganya yang lain, bahkan saudara iparnya menentang gaya hidup yang ditanamkan pada anak-anaknya yang berakibat rusaknya masa depan ponakannya. Bahkan mertua Ben, Jack (Frank Langella) menuduh dirinyalah yang bertanggung jawab atas kematian anak perempuannya karena pemaksaan ideologi yang ditanam dalam keluarganya. Dan disinilah kedua sisi saling bertubrukan dan bersilangan antara dunia yang dibawa oleh prinsip hidup Ben dengan kehidupan nyata dalam lingkungan mayoritas masyarakat yang realistis. Disinilah saya mulai merasakan ambiguitas dari ketidaksempurnaan hidup Ben yang dianut, ada sebuah bentrokan nyata yang sulit untuk tidak terlihat. Ada konsekuensi yang dihadapi Ben dan keenam anaknya, dibalik sistem hidup yang keren ditunjukkan olehnya beberapa kali pada segelintir orang. Ada disorientasi, kelemahan dan ketidaksiapan yang dihadapi Ben dan anak-anaknya dalam mengatasi situasi secara mental serta adaptasi mereka di lingkungan baru dan asing.


Ini mungkin hanya sekedar kisah fiktif belaka, namun kisah Captain Fantastic karya sutradara debutan Matt Ross ini cukup punya wadah besar dan satir dalam memproyeksikan masalah pembudayaan yang kontradiktif. Ditengah arus dunia yang semakin keras dan imbalance ada saja pertentangan yang mencoba menggebrak dasar-dasar aturan masyarakat dan lingkungan yang semakin kokoh. Meski disatu sisi saya sendiri cukup mendukung tindakan dan keyakinan Ben dalam pandangan hidupnya karena pengaruh hidup bebas, pengajaran berbagai filsafat dan ideologi, serta pendidikan fisik yang diemban kepada anak-anaknya. Tapi, disatu sisi saya cukup menentang keras tindakannya yang cukup banyak malah melenceng dari sistem kebebasannya yang justru kebablasan hingga berujung usahanya menutup diri bersama anak-anaknya dengan kehidupan luar akhirnya semakin memberi kesan rancu serta negatif pada dirinya. At the end, Captain Fantastic adalah kisah drama yang buat saya terasa manis, lucu, eksentrik, unik, dan juga begitu kontradiktif yang sangat luar biasa diperankan oleh Viggo Mortensen secara kompleks dan menarik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Setelah teror mati lampunya (Lights Out), teror hantu tahun ini sepertinya tidak berhenti sampai disitu saja, kehadiran tak terduga justru datang dari film yang prekuelnya pernah "super-gagal-rusak-total" Ouija (2014) yang digarap oleh Stiles White. Tiga tahun kemudian sekuelnya hadir kembali dalam bentuk dan kualitas jauh di atas film pertamanya itu, Ouija: Origin of Evil. Disutradrai oleh Mike Flanagan yang juga sudah sukses membuat satu film horor bertema cermin yang endingnya brengsek-sek-sek banget (Oculus). Yups, sebuah lompatan unik dari teror benda-benda pembawa kutukan dari teror cermin ke teror papan ouija. Suatu yang jarang terjadi ketika film pertamanya sudah babak belur, tapi seketika ditangan Mike semua ekspetasi rendah saat trailer pertamanya dirilis di putar balikkannya di film keduanya. Dan ia telah berhasil menaikkan pamor kutukan papan ouija yang pernah anjlok menjadi, classic and authentic .

Dimulai dari adegan ritual seorang wanita peramal nasib, Alice Zander (Elizabeth Reaser) dirumah nya bersama 2 kliennya yang meminta kepada Alice agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang sudah mati di dunia roh. Elemen supranatural pun mulai mencengkram dari lilin-lilin yang mati sendiri, lemari yang terbuka sendiri, hingga kemunculan sosok bayangan di balik tirai pintu yang membuat kedua kliennya tak percaya tapi ketakutan setengah mati. Setelah ritual komunikasi roh tersebut selesai dan kliennya pulang, ternyata oh ternyata Alice adalah peramal gadungan, elemen supernatural tadi hanyalah kedok kebohongan dari sebuah trik khusus yang sudah sedemikian rupa dibuat demi meraup keuntungan. Bahkan yang membantunya adalah kedua anak perempuannya, Lina Zander (Annalise Basso) dan Doris Zander (Lulu Wilson).

Tenang saja, kepalsuan tersebut hanyalah prolog cerita. Teror sebenarnya datang saat ibunya membeli papan ouija tersebut di sebuah toko (ternyata banyak dijual di toko), sebagai alat bantu kerja barunya untuk menipu orang lagi. Tapi, saat Alice menguji coba papan ouija tersebut tanpa disadarinya telah otomatis terhubung antara dunianya dan dunia roh, yang membuat rumah dan keluarganya mulai diganggu terutama Doris yang mulai berperilaku aneh dan tak wajar.

Hal yang paling terasa selama film ini berlangsung adalah visualiasi film ini berbeda jauh dengan apa yang kamu rasakan di trailernya. Ia punya rasa klasik yang terasa kental, ditambah saat title film ini muncul. Mike Flanagan telah berhasil mencuri perhatian saya dengan efek kamera creepy yang terasa old school ini. Tidak salah memang menerapkan setting dan latar di era 1956. Bahkan saya merasa sedang kembali kemasa lalu. Semua bumbu elemen jadul itu berbaur dengan teror yang ditanam secara perlahan. Dan tentunya Mike mampu memberi sentuhan jump scare efektif di setiap adegan.

Dan salah satu kunci penebar horor tersebut tidak lain Lulu Wilson alias Doris sendiri. Gadis polos dan innocent inilah puncak keseraman film ini, Mike Flanagan berhasil menemukan momen-momen creepy dari Doris. Walau sudah sering seorang gadis kecil digunakan sebagai senjata pamungkas penebar teror klise, tapi Mike mampu mengubah image Doris menjadi lebih unik dan lebih autentik. Apalagi saat kamera men-shot dan memfokuskan wajah datar dan tanpa ekspresi Doris, ataupun saat sosoknya tiba-tiba nongol dibelakang. Atmosfer creepy Doris seolah benar-benar ngehe.

Tapi, bukan berarti Ouija tampil tanpa kekurangan. Kunci di setiap film bisa dikatakan bagus atau tidak terletak pada cerita. Dan cerita terbagi dalam tiga bagian, cerita awal, cerita tengah, dan ending. Dan jika diantara tiga salah satunya rusak, rusaklah film tersebut. Ouija sebetulnya sudah berhasil memberi sentuhan klasik film ini dengan dua jempol. Bahkan saya sendiri suka semua adegan ngeri seperti mulut menganga lebar, mulut dijahit, sampai-sampai Doris yang menempel di dinding. Semua itu sudah dipersentasikan dengan baik oleh Mike, tapi entah apa karena delete scene oleh pihak bioskop atau memang aslinya memang seperti itu, akhir cerita film ini terasa berantakan sekali. Padahal saya suka bagaimana konklusi akhir film ini mulai semakin mendebarkan di ujung. Bahkan saya pikir akan adanya adegan slasher. Tapi, ketika ia berada di adegan klimaks ada kesan terburu-buru, maksa dan bahkan scene mondar-mandirnya membuat saya bingung apa yang sedang terjadi. Dan itu merusak suasana yang sudah dijaga dari awal.

Yah, mengabaikan fakta kacaunya bagian klimaks film ini. Ouija: Origin of Evil telah berhasil menemukan jati dirinya kala prequel-nya yang kacau balau itu. Setidaknya kita masih mendapatkan rasa ngerinya bermain papan Ouija. Dan semua itu di visualisasikan secara matang dan klasik, memberi tampilan creepy yang luar biasa. Dan atmosfer ngehe itu berhasil ditampilkan oleh salah satu pemerannya Lulu Wilson, walau artis kecil yang terlihat polos dan innocent. Tapi, akting dan dialog-dialognya seperti, "Wanna hear something cool?" kemudian dilanjutkan kalimatnya tentang proses kematian seseorang dikatakan dengan tidak wajar oleh anak kecil menambah betapa horornya Doris film ini. Jadi, jika mau menikmati film ini cukup masukkan dua faktor ini, faktor pertama nikmati horor creepy-nya yang manjur, faktor kedua abaikan ending kacaunya, sekian.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates