• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sulit untuk tidak mengatakan installment dari proyek ketiga semesta primata berjudul War for the Planet of the Apes ini sebagai sebuah blockbuster. Pastinya penggunaan visual effect yang massive dan budget film yang terbilang selangit pun menjadi salah satu faktor kenapa nilai jual film ini begitu besar. Tapi, hal itu tidak cukup menjadikan Planet of the Apes itu film berkualitas, kesuksesan dua film "Rise" dan "Dawn"-lah yang menyelamatkan film ini dari bencana sesungguhnya. Dan tentu saja latah karena kesuksesan, War for the Planet of the Apes pun punya modal besar memetik puluhan juta dolar lagi untuk melariskan franchise besar ini. Dan tentu saja hal ini tergantung Matt Reeves yang punya tanggung jawab besar selaku sutradara untuk menentukan apakah film ini akan betul-betul sukses secara kualitas atau malah bernasib apes lantaran latah karena ambisi keuntungan semata.


Melalui serangkaian konflik yang terjadi di film sebelumnya, kehidupan Caesar (Andy Serkis) beserta koloni besarnya belum sepenuhnya aman dari bahaya. Sekelompok anggota militer manusia dan beberapa kera yang membelot dipimpin oleh pria botak kejam yang dijuluki The Colonel (Woody Harrelson) melakukan penyerangan membabi-buta yang bertujuan untuk membunuh Caesar yang dianggap sebagai pemimpin revolusioner kaum kera untuk menghancurkan kaum manusia. Tapi, akibat konflik dan aksi kejam The Colonel yang tidak menghiraukan kebaikan dirinya, Caesar yang awalnya berusaha berdamai dengan para manusia, akhirnya dengan penuh amarah dan kebencian ia memutuskan untuk melawan para manusia.

Masih berusaha untuk menanamkan serangkaian konflik antara ras manusia dan ras kera. Sebetulnya film ini bisa berujung pada masalah dan konflik repetitif dari film sebelumnya. Tapi, Reeves dan penulis naskah setianya Mark Bomback sepenuhnya tahu betul bahwa mekanisme cerita harus dirombak dari sekedar konflik manusia dan kera yang berkepanjangan menjadi komplikasi emosi dan masalah yang terpicu lebih dalam. Feel-nya masih sama dengan Dawn of Planet of the Apes, yaitu tentara-tentara manusia ini masih berusaha mencoba untuk protektif dari wabah virus ALZ-113 yang mengancam pada kepunahan dan juga skeptisme pada ras kera yang masih dianggap 'binatang buas' bagi mereka. Tapi, formula yang dihadirkan sedikit berubah, manusia lebih ruthless kepada ras kera, dan sudut pandang tidak lagi dalam pertukaran moment antara sisi manusia dan kera melainkan fokus pada masalah komplikasi emosi yang jauh lebih dalam dirasakan Caesar. Selain kemampuan bahasanya yang mulai meningkat, konflik pun menyebabkan kemanusiawian dan emosi Caesar sebagai kera jadi lebih hidup, tidak hanya sisi terang tapi sisi gelapnya yang juga dibayangi halusinasi kematian Koba (Toby Kebbell) yang dulu pernah mengkhianati dirinya.


Selain komplikasi masalah di dunia post-apocalypse dan formulasi campuran gritty dan cold yang lebih kental, ada dua orang yang sanggup meraih atensi yang membantu cerita film ini tidak tenggelam pada aksi balas dendam dan kebencian yang mungkin mempengaruhi kisah cerita lebih depresif. Gadis kecil bernama Nova (Amiah Miller) dan Bad Ape (Steve Zahn) sebagai tokoh baru pun banyak berkontribusi dan berperan penuh dalam merubah nuansa film ini. Nova kental merubah suasana film lebih warm saat terjadi timbal balik antara hubungan dirinya dengan para kera, terutama ditunjukkan melalui kasih sayang Maurice (Karin Konoval) kepada Nova yang punya sifat lembut dan keibu-ibuan. Bad Ape, kera penyendiri yang akhirnya jadi teman Caesar pun jadi pelepas tekanan, sembari bahasa manusia-nya yang masih kaku dan terbata-bata mengucapkan beberapa monolog ringan semacam "Oh no!" atau "Bad Apes" dan tingkah polah nya yang mengingatkan saya dengan Smeagol di film Lord of the Rings ini pun lebih banyak memancing tawa.


Visual effect? Jangan pernah meragukan budget sebesar $150,000,000 ini jadi tontonan menjemukan, mengkombinasikannya teknik penggunaan CGI yang begitu deras dan tutur yang emosional, War menjadi salah satu tontonan paling ambisius tahun ini. Melompat dari guyuran peluru dan tombak di dalam hutan tropis sampai pada moment berkuda Caesar dkk di padang bersalju yang dingin, hingga klimaks yang melibatkan ratusan rudal yang berhamburan di langit dan salju longsor besar yang hampir merobohkan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Film ini memang layak untuk ditonton sebagai popcorn movie. Tapi, kembali pada cerita, buat saya Reeves kembali memainkan keintiman emosional yang jauh lebih manusiawi dan sedikit dramatis, meski Reeves sendiri tidak memainkan lebih dalam emosi pada puncaknya dari sekedar akhir yang filosofis. Dan buat saya War for the Planet of the Apes adalah kulminasi cerita dimana sosok kera tidak lagi sekedar memamerkan kecerdasan otak melainkan inteleketual ras pun tumbuh seiring tercapainya emosi manusiawi yang lebih dalam.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya pernah membaca beberapa teori tentang remaja menurut pakar psikologis, G. Stanley Hall, bahwa “adolescence is a time of “storm and stress“. Yang artinya fase remaja adalah proses pembentukan kepribadian alias proses pencarian jati diri yang berdampak pada perubahan bentuk karakteristik manusia baik secara fisik, intelektual, dan emosional yang kadang cenderung mudah depresi, bimbang dan sedih. Fase itulah saat-saat remaja mengalami kondisi mental yang dapat mudah dipengaruhi oleh kondisi sosial dan lingkungan, tapi juga tidak sedikit mereka pun sulit untuk beradaptasi dengan baik dengan kondisi sekitarnya.

Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara debutan Kelly Fremon Craig tentang problematika yang dialami para remaja belasan tahun yang digambarkan oleh seorang gadis sekolahan bernama Nadine (Hailee Steinfeld). Nadine adalah gadis yang tumbuh bersama dengan saudara kandungnya yang lebih tua Darian (Blake Jenner). Sejak kecil hingga mereka telah berusia remaja, Nadine sangat membenci (cemburu) akan sosok Darian, karena sang kakak adalah pria popular, keren dan tampan. Sedangkan Nadine sendiri, bahkan tidak memiliki satupun teman bahkan dirinya sering di bully dan diledek oleh teman-teman sekitarnya. Apalagi sikap cuek dan tidak peduli Darian pada Nadine menambah hubungan buruk diantara mereka. Kecuali Krista (Haley Lu Richardson), satu-satunya sahabat Nadine sejak kecil yang mau berbagi keluh kesah dan waktu yang sangat berharga bagi dirinya. Hingga hari terburuk bagi Nadine pun terjadi, saat Nadine tanpa sengaja mempergoki saudaranya yang paling ia benci dan teman terbaiknya, Krista dan Darian sedang bercumbu di kamar.

The Edge of Seventeen adalah sebuah coming-of-age tentang studi karakter sekaligus sindiran tajam yang mengetengahkan sosok remaja dalam pencarian jati dirinya. Kita mengenal sosok Nadine adalah tipikal remaja yang memiliki emosi dan mental yang labil. Mudah marah dan emosi, moody, sering bimbang, berbicara blak-blakan, dan juga sering mengambil tindakan dan inisiatif secara impulsif dan terburu-buru tanpa dilandasi pikiran dan akal sehat terlebih dahulu. Apalagi Nadine adalah sosok yang selalu melawan dan memberontak, sulit menerima keadaan dan kenyataan hingga akhirnya meyakinkan dirinya untuk merusak dirinya sendiri, seperti yang kita lihat pada scene pertama, Nadine yang menemui guru di sekolahnya, Mr. Bruner (Woody Harrelson) yang mengatakan padanya bahwa ia berniat untuk bunuh diri.

Jika kita melihat kasus dan problematika yang dialami oleh Nadine ini memang cukup kuat. Hadir dalam sebuah perjalanan seorang remaja dalam mencari arti hidup, dari mulai persahabatan, masalah keluarga, masalah cinta, seksual, hingga masalah lingkungan dan sosial. Film ini memang begitu banyak menceritakan sekelumit masalah yang dialami oleh remaja pada umumnya, tapi mungkin jika kita menilik apa yang kita lihat pada karakteristik yang digambarkan Kelly melalui ceritanya adalah studi karakter remaja yang bukan tergolong dalam isu kenakalan remaja, melainkan remaja-remaja yang cenderung penyendiri dan disfungsi-sosial. Apalagi permasalahan remaja semacam ini justru lebih sulit dipahami dan sulit dimengerti, seperti yang terjadi pada hubungan Nadine dan ibunya Mona (Kyra Sedgwick), yang berkali-kali ibunya mencoba memahami permasalahan sang anak, tapi turut kesulitan untuk menghadapi tingkahnya yang unpredictable.

Menjadi sebuah cerita remaja yang diperankan sangat baik dan menggelitik oleh Hailee Steinfeld, Kelly juga mencoba mendekatkan studi karakter dengan mengenal kepribadian dan tingkah laku karakter Nadine, dengan caranya menghadapi permasalahannya dan juga bagaimana ia merespon setiap hal yang ada dalam lingkungannya.  Dan hebatnya Kelly benar-benar tahu dan mengerti betul caranya mengolah cerita dengan benar-benar tajam dan sentimentil. Kita dihadapkan pada remaja pathetic, emotional, dan as*hole, yang kadang selalu membuat kita kesal melihatnya, tapi kadang sesekali dapat menarik simpati penonton dan mengerti atas permasalahan yang terjadi dalam dirinya, apalagi kita mengetahui bahwa Nadine hanyalah seorang remaja yang sesungguhnya ingin dianggap ada dan dimengerti oleh orang-orang disekitarnya.

Tidak hanya itu, tidak lantas menjudge sembarangan melainkan kita melihat bagaimana proses Nadine yang tidak hanya tentang perilakunya yang distressful dan kekanak-kanakkan, tapi juga bagaimana ia memproses dirinya menjadi lebih kuat, dewasa, menerima dan memahami dengan caranya melihat dan belajar. Ya, apa yang kita lihat pada karakter Nadine sepenuhnya karakter yang pintar dan eksklusif, ia pintar berbicara, memandang dunia secara berbeda, melihat dirinya seakan spesial dan tahu segalanya, dan memandang orang-orang disekitarnya hanyalah pengganggu dan tidak berguna bagi dirinya. Tapi, seakan ia belajar dan belajar dari setiap hal yang ia dapatkan dalam hidupnya, apalagi saat ia bertemu dengan Mr. Burney yang terlihat tidak begitu peduli dengan permasalahan Nadine tapi ternyata dirinyalah yang lebih tahu cara menangani dan lebih dekat dengan anak muridnya tersebut, yang secara tak langsung mengajarkan Nadine akan suatu hal yang membuatnya berubah.

Meskipun cerita yang dihadirkan oleh Kelly termasuk ringan dan dibumbui dengan comedy-drama coming-of-age yang witty, namun sindirian permasalahan yang terjadi dalam kehidupan remaja pathetic dan dilematis dikemas dengan sangat menawan, tepat dan tajam, apalagi saya melihat apa yang dihadirkan oleh Kelly terasa jujur dan opened dalam bercerita. Menjadi sebuah sajian studi karakter yang menarik tentang aspek kehidupan remaja yang sebenarnya menjadi sindiran kuat yang tidak boleh sedikitpun diabaikan oleh siapapun baik terangkum dalam aspek lingkungan sosial, keluarga, dan pendidikan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates