• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Di saat generasi aktor dan artis baru yang begitu banyaknya mengisi panggung dunia industri perfilman Hollywood saat ini, namun sepertinya tidak sedikit pula generasi lama semacam Arnold Schwarzenegger maupun Sylvester Stallone mampu tetap bersaing dalam puncak popularitas untuk mendapatkan peran sentral dalam sebuah film. Seolah tiada kata uzur dengan kemelut umur yang sudah tidak lagi muda, tapi para senior film action ini tetap punya daya tarik sendiri saat mereka sedang berlaga. Dan tentu saja salah satu dari mereka yang masih eksis hingga sekarang meskipun acapkali popularitasnya kurang sebanding dengan kedua rekannya tersebut, Mel Gibson sepertinya tidak boleh dipandang sebelah mata tidak hanya kemampuannya dalam urusan laga action, tapi juga kemampuan aktingnya yang mumpuni, dan lebih dari itu kemampuannya dalam penyutradaraan.

Lewat film terbarunya "Blood Father" ini Mel ditantang kembali lewat perannya sebagai seorang ayah bernama Link. Seorang pria mantan narapidana yang baru saja dibebaskan bersyarat dari sel tahanan selama 17 tahun untuk mencoba hidup bersih dan tenang dalam sebuah trailer sekaligus bekerja menjadi tukang tato untuk meninggalkan dunia kelam dan kerasnya dulu serta berusaha berhenti menjadi pecandu alkohol selamanya. Karena telah bebas dari penjara Link berusaha untuk menemui anak perempuannya yang hilang untuk dapat kembali bertemu dengannya setelah sekian lama ia rindukan, namun siapa sangka Link segera mendapatkan kontak langsung dari anaknya Lydia (Erin Moriarty) yang menelepon dirinya, namun bukan kabar baik yang ia terima ternyata anaknya berada dalam situasi berbahaya yang mengancam keselamatan nyawanya karena keterlibatan dirinya atas pembunuhan serta menyeretnya pada organisasi kriminal berbahaya yang ingin membunuhnya. Karena berusaha menyelamatkan anaknya dari mara bahaya serius Link akhirnya terpaksa memutuskan kembali terjun di dunia yang seharusnya baru saja ia tinggalkan.

Buat saya cukup disayangkan tatkala film yang di usung oleh sutradara Jean-François Richet ini tidak cukup popular dan terkenal diantara film action lainnya, pengecualian jika yang bermain tidak lain semacam Jason Statham atau Vin Diesel sekalipun meski film solo mereka kadang tidak sebagus yang diharapkan setidaknya masih diminati kebanyakan orang. Blood Father justru mengusung genre action-thriller yang terasa sangat gritty dan intense. Adegan action film ini tampak membabi buta dengan dipenuhi segolongan orang-orang bertampang sangar, bertato dan liar yang siap mengajak Mel Gibson dan Erin Moriarty terpacu adrenalin dengan sangat keras. Meski tipikal film ini mengajak kita hit and run, tapi dengan screenwriter Peter Craig dan Andrea Berloff yang sebenarnya sederhana ini, Jean tidak membuat ceritanya sendiri melempem dan justru dipenuhi sebuah hubungan emosional drama keluarga. Sedari film ini berjalan kita telah dibekali dengan segudang pertanyaan sebab-alasan Lydia terlibat dengan kekasihnya Jonah (Diego Luna) yang masih menyimpan misteri siapa dirinya yang nantinya akan dijawab segmented dengan kebenaran yang sangat pelik dan mengejutkan.

Selain itu untuk bagian aktingnya sendiri punya profit bagus yang mampu diperankan oleh Mel dan Erin yang terhubung dengan chemistry yang kuat sebagai father-daughter, dengan hubungan yang pada awalnya terasa canggung dan kaku. Tapi, seiring cerita berjalan hubungan mereka berdua justru terlihat makin kuat. Ada Link dengan perawakan kasar dengan kehidupannya yang gelap, bahkan sosoknya diperkuat dengan koneksinya dengan seorang 'preacher' (Michael Parks) dari kalangan dan pendukung neo-nazi, hingga seorang sahabat baiknya di penjara bernama Arturo Rios (Miguel Sandoval). Namun, tampak lembut dan ramah akan kehidupan barunya bahkan saat ia memiliki seorang sahabat sekaligus sponsornya, Kirby (William H. Macy). Dan Lydia pun cukup mampu mengimbangi karakter anak yang kehilangan peran orang tua, fearfulness, namun sebetulnya tampak bertindak untuk melindungi dan menyayangi juga ayahnya meski kerap kali ia kurang terlihat beruntung dan pintar memutuskan sesuatu. Ya, disini pun saya sesungguhnya masih melihat juga figur seorang ayah yang bukan saja soal pasang badan dan berkorban nyawa untuk anaknya, disini saya pun menemukan masih adanya hubungan moral saat Link yang masih menasehati Lydia dengan cara pandang hidup, pergaulan serta caranya dalam mengambil keputusan dengan cara yang lebih dewasa.

Well, Blood Father cukup memuaskan, ketegangan yang dibangun serta bagian action dan pengembangan chemistry father-daughter ini terasa kuat dan menghibur. Meski saya cukup menyayangkan cerita yang buat saya sendiri sebetulnya masih bisa dikembangkan menjadi lebih rumit dengan konflik lebih mendalam, tapi keputusan cerita yang memang sudah dibuat sedemikian rupa terasa antiklimaks. Ya, karena pada dasarnya sedari awal Jean dan penulis naskahnya bertujuan untuk memperlihatkan sosok pria yang baru mendapatkan kebebasan dan hidup lebih baik, tapi karena demi melindungi dan menyayangi anak kandungnya sendiri rela menyerahkan segalanya bahkan hidupnya sendiri yang lebih relevan sebagai film yang memancing emosi penonton dengan drama kehidupannya yang menyentuh dari caranya yang gritty ketimbang sebuah tontonan action-thriller penuh dengan adegan tembak-menembak yang jauh lebih gila dan abnormal.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dibalik cerita kelam perang dunia, tidak sedikit pula ia menyimpan kisah menarik dan fenomenal yang selalu membuat decak kagum dunia, dan kadang mereka tidak datang dari sesuatu yang dibilang istimewa, tapi karena suatu sebab mereka menjadi sesuatu yang istimewa. Itulah yang mendorong sutradara film seperti Mel Gibson (Braveheart, The Passion of the Christ) membuat biografi sang prajurit legenda nan unik, yang bukan dari kalangan atas dan bukan dari prajurit berpangkat. Desmond Doss (Andrew Garfield) adalah satu-satunya prajurit yang tak pernah memegang senjata bahkan membunuh musuhnya dalam perang dunia II. Karena ia mempunyai keyakinan dan prinsip bahwa membunuh nyawa seseorang adalah sebuah dosa besar dalam agama yang dianutnya.

Film Hacksaw Ridge ini akan memulai kisah Desmond semasa kecil, kita akan diperkenalkan bagaimana masalah keluarganya bersama ayahnya Tom Doss (Hugo Weaving), seorang mantan prajurit perang di masa PD1 dan seorang pemabuk yang selalu bertingkah kasar pada keluarganya, ibunya Bertha Doss (Rachel Griffiths) dan kakaknya Harold Doss (Nathaniel Buzolic). Kemudian berlanjut ke masa remaja Desmond, ketika ia bertemu dengan cinta pertamanya, Dorothy Schutte (Teresa Palmer), seorang perawat yang tidak sengaja ditemuinya di rumah sakit. Lalu dilanjutkan pada kisah ia mendaftarkan diri menjadi relawan perang sebagai paramedis dan lika-liku kesulitannya di kamp pelatihan, karena pada waktu itu ia menolak memegang senjata dan dianggap pembangkang. Sampai-sampai ia dipenjara militer dan disidang atas kasusnya.

Naskah gubahan Andrew Knight dan Robert Schenkkan ini telah di rangkum oleh Mel menjadi padat dan berisi. Satu jam pertama kita akan digiring untuk mengetahui latar belakang, keluarga, pujaan hati, dari seorang Doss Desmond 16 Tahun kebelakang, lalu di jam selanjutnya kita akan menemui sebuah perang yang kamu harus tahu, mengingatkan kita pada film Saving Private Ryan yang brutal dan horor. Ya, perang yang terasa sangat nyata dan menegangkan ini dipenuhi desingan peluru, ledakan bom, tubuh-tubuh tertembus peluru, hamburan daging manusia, dan mayat-mayat bergelimpangan dimakan tikus dan belatung. Tentu ini adalah bagian terbaik dalam film yang katanya pada Festival Film Venice mendapatkan standing ovation selama 10 menit, September 2016 lalu.

Hacksaw Ridge memang sebuah paket lengkap tentang biografi seseorang dalam perang dunia. Tentunya ia hampir punya segalanya. Bahkan hal yang tidak dimiliki oleh film Fury (2015) sekalipun. Ia punya latar belakang kisah kehidupan dan percintaan layaknya Pearl Harbor (2001), lalu ia juga punya sesi pemanasan di kamp militer layaknya Full Metal Jacket (1987), hingga kemudian sesi terakhir ia punya set perang epik, Saving Private Ryan (1998) dengan kondisi perang di Okinawa mirip (Flags of Our Father, Letters from Iwo Jima-2006). Dan mungkin buat Saya pribadi Hacksaw Ridge mungkin bisa dinobatkan sebagai film war terbaik tahun ini.

Dengan semua kelebihan itu bukan berarti Hacksaw Ridge tidak punya kekurangan. Ada beberapa hal terasa kurang nonjok dan kurang efisien dalam menggambarkan penceritaan latar belakang, walau tidak terlalu terasa dan tak terlampau mengancam. Ia gagal dalam memberi kesan cerita biopik yang teratur dan legit. Permasalahan pertama adalah kisah cinta Desmond dan Dorothy yang dianggap terlalu berlebihan dan terlalu mengumbar dialog-dialog gombal yang menggelikan. Kedua, ia tidak secara gamblang menceritakan kisah keluarganya dengan lebih emosional dan juga latar belakang lain dengan hubungannya bersama kakaknya sendiri yang tiba-tiba hilang. Dan kesemua itu terasa terlalu standar untuk sebuah cerita biopik sebesar dan sepengaruh ini.

Mesin utama cerita ini ada pada aktor utama film ini, Andrew Garfield. Sosok pemuda biasa tapi penuh keyakinan dan prinsip kuat yang dipegangnya untuk membunuh karena larangan agama yang dianutnya. Meski dianggap pengecut, pembangkang, bahkan dianggap orang gila, ia tetap pada pendirian untuk tetap berada digaris depan sebagai paramedis dengan caranya sendiri. Sosok yang unik dan dianggap aneh ini menjadi tokoh yang memang tak pernah ada di satuan militer manapun, tapi akhirnya menjadi sebuah tokoh yang dikagumi karena keberanian, tekad, dan hati mulia sebagai tokoh yang heroik. Dan Andrew telah berhasil memerankan kesemua hal itu dengan secantik mungkin.

Kemudian aktor dan artis lain yang juga punya pengaruh besar di film ini adalah Hugo Weaving dan Teresa Palmer, keduanya inilah yang sudah banyak berperan membangun dan menutupi latar belakang cerita yang tumpul dan standar diawal. Lalu, beberapa aktor kawakan yang dipilih di medan perang pun cukup memberikan peran yang lumayan krusial seperti Sam Warthington, Vince Vaughn, Richard Roxburgh, Matt Nable, dan Luke Bracey.

Hacksaw Ridge adalah sebuah film perang epik yang dibalut kisah biopik dramatis dan romantis. Ia adalah kisah nyata heroik seorang prajurit perang yang sangat emosional dengan efek perang realistis yang mendominasi. Mengembalikan esensial film perang yang sudah lama tidak terasa selama beberapa dekade terakhir. Menjadikan film ini termasuk war epic movies terbaik tahun ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates