• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Dalam kurun waktu 2 dekade kita sudah mengenal 3 karakter Spider-Man modern yang diperankan oleh Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland. Ketiga-tiganya memiliki plot cerita yang hampir sama, entah kisah percintaan, pekerjaan, intelektual, tragedi paman Ben, dan segala yang sudah terasa familiar dengan karakter bernama Peter Parker. Nah, mungkin ide untuk membuat film Spider-Man out of the box dari kisah-kisah yang saya rasa lama-lama bakal jadi klise, tim studio Marvel beserta Sony Pictures berusaha untuk keluar dari kebiasaan lama. Maka tetap mengambil asal-usul adaptasi komiknya, Miles Morales (Shameik Moore) menjelma menjadi sosok the new Spider-Man. Tentu saja Spider-Man yang lebih muda dan segar, ayah dan ibu yang masih hidup, tanpa kisah cinta, dan berkulit hitam.

Miles Morales adalah remaja belasan tahun yang hidup bersama kedua orang tuanya. Miles memiliki seorang Ayah yang tidak ia sukai bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), seorang polisi yang keras dan kerap mengatur kehidupan pribadinya. Miles pun memiliki seorang paman yang ia cintai dan dekat dengannya, Uncle Aaron (Mahershala Ali) yang justru menjadi ayah keduanya. Miles sebetulnya hidup di kota yang sama dengan Peter Parker, dan mungkin diperkirakan 20 Tahun setelah kejadian-kejadian yang kita kenal sebelumnya, telah menikah dan hidup bahagia bersama Mary Jane. Beberapa plot cerita pastinya tidak akan saya jelaskan secara rinci, yang pasti disaat yang sama ketika Miles tergigit laba-laba misterius, seorang penjahat mencoba mengacaukan dimensi, sehingga beberapa Spider-Man di dimensi/universe lain tertarik ke dalam dunia tempat Miles tinggal, dan tugasnya sekarang adalah membawa pulang kembali para Spider-Man dan menyelamatkan kota dari kekacauan.

Melalui sebentuk animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film penuh kekacauan, kerumitan dan keanehan. Baik karakter, cerita maupun visual animasinya sendiri. Berbagai macam karakter Spider-Man bermunculan, actually dari Spider-Man berperut buncit dan paling menyedihan, Spider-Man Noir, Spider-Woman, dan Spider-Man paling aneh dan konyol mirip tokoh kartun Looney Tunes, Porky Pig. Segala hingar bingar cerita yang konyol, melewati batas imajinasi dan pikiran liarnya, sentuhan ini tentunya didapat dari naskah dan ide Phil Lord dan Rodney Rothman, terutama Lord yang notabene membuat Spider-Verse layaknya The Lego Movie. Dibelakangnya pula terdapat tiga sutradara serangkai yang memang sudah pernah menangani animasi lain Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman.

Untuk animasi visualnya sebetulnya sedikit non-konvensional, lihat saja efek ledakannya yang menyerupai gelembung sabun, beberapa desain karakternya yang nyeleneh dan kadang ambigu untuk dibawa ke realita kehidupan Miles. Tapi, tentu saja kita dapat memaklumi bahwa kita dapat beranggapan film ini serupa animasi The Lego Batman Movie (2017), jangan pernah bertanya tentang logika dan keabsurdannya, tapi kita menyadari bahwa ini adalah film animasi, dimana kebanyakan memang tak memerlukan pemahaman tersebut. Selama film masih membuat tertawa, menyentuh hati dan masih related dengan kejadian-kejadiannya, Spider-Verse memiliki hal tersebut. Dalam keseruan efek animasi yang tajam dan mengikat, yang paling saya suka adalah perpaduan animasi dan lagunya yang terasa klop, salah satunya lagu "Sunflower" yang dinyanyikan Post Malone dan Swae Lee terasa renyah berapa kalipun di putar dan dinyanyikan oleh Miles sendiri, bahkan saat filmnya selesai. Dan faktanya saya sudah sering mendengar lagu ini sebelum filmnya dirilis, bener-bener adem dan renyah didengar.

Dari segi cerita, selain humor khas Phil Lord, film ini tetap mengeksplorasi ruang perasaan dan hati dalam ceritanya yang penuh ironi. Berbarengan dengan pendekatan kisah familiar seperti romansa hubungan Peter dan Mary, sedikit cuplikan kereta Spider-Man 2-nya Sam Raimi yang paling memorable, berbagai pop-culture yang memperkaya dunia Spider-Man. Memang film ini tidak hanya menghibur, tapi memang benar-benar film tentang Spider-Verse yang kadang terasa seperti nostalgia. Berbagai villain pun muncul disini, dari Doctor Octopus, Scorpion, Green Goblin, dan Kingpin. meski tidak terlalu banyak dimunculkan karena memungkinkan membebani cerita. Mengatakan Spider-Man: Into the Spider-Verse adalah film terbaiknya Spider-Man? Melihat kekayaan dan motivasi film ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan cinta pada karakternya yang paling ikonik, tentu saja tanpa ragu saya mengatakan filmnya benar-benar keren, bernuansa, eksploratif, kaya, unik dan menyentuh.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Seperti yang telah saya buat dalam postingan 10 Artis Paling Favorit 2016. Rasanya tidak afdol jika tidak membuat postingan untuk kategori aktor favorit tahun 2016. Meski selang waktunya sudah terlalu lama, tapi post ini baru selesai dibuat hari ini. Meski begitu dengan sedikit bersusah payah tentu saja list ini dibuat berdasarkan segi performa aktor bersangkutan dalam berakting seperti ketampanan, kemachoan, keanehan ataupun keseksian sekalipun.
----------------------------------------------------------


10. Eddie Redmayne
Pria bookworm dan canggung sepertinya sudah melekat dari diri Eddie Redmayne. Sebagaimana aktingnya di film terbaru dari J.K. Rowling di film Fantastic Beasts and Where to Find Them sebagai Newt Scamander. Menggantikan posisi Harry Potter sebagai main character. Sisi ikonik dalam diri Eddie Redmayne terpancar begitu mempesona mengalahkan pesona karakter lainnya dalam film ini. Dan tentu saja mengikuti keempat sekuelnya, sangat menarik melihat perkembangan karakter ini akan jadi seperti apa.

9. Jared Leto
Berusaha untuk tidak terjebak pada Joker-nya Heath Ledger. Sesuai janjinya Jared Leto memberikan Joker versi dirinya yang anti-mainstream yang bahkan diluar ekspetasi tampil segila dan sesinting yang dibayangkan. Tawa disturbing turut menciptakan atmosfer creepy pada dirinya. Meski disayangkan gegara film Suicide Squad menjadi film amburadul. Aktingnya hanya jadi pemanis tak berbobot. Jikalau filmnya sedikit bagus saja, tidak semestinya ia berada di urutan nomer 9.

8. Daniel Radcliffe
Ada dua film yang menyulitkan saya memilih antara Swiss Army Man dan Imperium yang membuat Daniel Radcliffe menarik perhatian saya, hingga akhirnya saya memutuskan memasukkan keduanya sekaligus. Diluar perannya sebagai Harry Potter selama lebih se-dekade membuat kemampuan aktingnya kian terasah. Dua filmnya kontras antara film konyol dan film serius, membuktikan Radcliffe bukanlah aktor multi-face biasa sekali pakai.

7. Ryan Gosling
Sebetulnya saya mau memasukkan akting Ryan Gosling di film La La Land. Tapi, menurut saya aktingnya disitu masih terlalu mainstream, cool dan status playboy-nya masih tercium. Maka saya jauh lebih memilih The Nice Guys sebagai akting favorit saya. Konyol dan bodoh itulah definisi seorang Ryan Gosling di film ini. Bagaimana mungkin aktor setampan dan sekeren ini dibuat menjadi karakter goofy dan menjatuhkan statusnya sebagai pria pujaan wanita. Tapi, ini bukti bahwa Gosling berani tampil bodoh sekaligus profesional diluar aktingnya yang melulu keren terus.

6. Tom Hanks
Aktor yang belakangan sering memerankan tokoh biografi, Tom Hanks aktor senior yang berkali-kali memajang namanya sebagai nominator Oscar memang patut diancungi jempol. Aktingnya sebagai kapten Sully pun nyaris sempurna. Ada ekspresi ketenangan dibalik peristiwa traumatis yang mengguncang jiwanya. Sebuah pendalaman karakter yang betul-betul dijiwai oleh Tom Hanks yang mudah untuk disukai.

5. Joseph Gordon-Levitt
Boleh jika mengatakan Joseph Gordon-Levitt adalah seorang aktor muda berbakat dan bertalenta. Salah satu aktingnya yang keren melalui perannya sebagai Edward Snowden. Bahkan salah satu kritikus lokal yang saya kenal mengatakan aktingnya disini hampir tidak mampu membedakannya dengan orang asli.

4. Viggo Mortensen
Viggo Mortensen mungkin hampir dilupakan sebagai aktor. Tapi, jangan lupakan aktingnya di film Captain Fantastic, karena aktingnya disinipun sangat fantastic. Bugil sepenuhnya dan berakting sebagai orang liar bersama anak-anaknya. Buat saya Viggo setengah gila di film ini, tapi tetap menjadi salah satu favorit saya tahun ini.

3. Andrew Garfield
Dua kali Andrew Garfield memerankan tokoh religius tahun ini, pertama Hacksaw Ridge, kedua Silence. Dan kedua-duanya adalah film terbaik karena aktingnya Garfield sangat luar biasa. Lupakan ia sebagai Spider-Man, disinilah Garfield membuktikan bahwa ia bukan aktor kelas kacangan yang selalu dicirikan sebagai aktor yang cuma bisa berakting sebagai remaja galau karena cinta. Diluar itu ia justru jauh lebih garang dengan cara galau yang berbeda.

2. Mahershala Ali
Saya tidak menyalahkan Mahershala yang aktingnya hanya sebentar di Moonlight namun menang Oscar sebagai Best Supporting Actor in Role. Sebagai salah satu aktor kulit hitam dan seorang muslim, saya akui kehangatan dan kebaikan yang ia salurkan kepada anak kecil tak dikenalnya sanggup menyentuh hati. Ya, saya tahu dari dulu Oscar memang tidak pernah menyepelekan aktor dan artis yang berakting sebentar, contohnya Anthony Hopkins di film Silence of the Lambs. Dan Mahershala membuktikan bahwa kualitas lebih dikedepankan daripada kuantitas.

1. Chasey Affleck
Complex and strong performance acting, sebuah hasil nubuat bagi Casey Affleck yang akhirnya betul-betul membuatnya memenangkan Oscar pertamanya di film Manchaster by the Sea. Sebuah akting berkelas wahid tentang kesuraman, kemurungan, dan ketidaksetabilan emosi dan mental yang terpancarkan sangat intens dan natural dari Casey sebagai pria biasa yang bekerja sebagai craftsman. Meski banyak skeptis soal isu moral abusive yang ia lakukan, namun hasil tetap harus membuktikan bahwa penilaian Oscar haruslah objektif.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Nama Barry Jenkins mungkin masih terdengar asing ditelinga kita. Sebagai sutradara itu sungguh wajar mengingat Moonlight sendiri adalah karya kedua setelah film perdananya berjudul "Medicine for Melancholy". Tapi siapa sangka film yang diadaptasi dari teater pascasarjana milik Tarell Alvin McCraney ini berhasil menggeser kandidat terkuat "La La Land" pada perhelatan terbesar Oscar 2017 lalu dan menjadi pemenang pada kategori "Best Motion Picture of the Year", dan juga sukses mencuri piala lainnya pada masing-masing kategori, "Best Performance by an Actor in a Supporting Role" dan "Best Adapted Screenplay". Cerita Moonlight sendiri adalah hasil ekstraksi dan inspirasi dari pengalaman hidup yang sama antara Barry Jenkins dan Tarell Alvin McCraney, bagaimana dulu kedua ibu mereka sama-sama berjuang dalam menghadapi kecanduan drugs. Selain itu mereka juga sama-sama berasal dari latar belakang keluarga yang hidup di kota Liberty City sebagai lokasi syuting sekaligus latar cerita film itu sendiri.


Moonlight adalah potret hidup panjang seorang laki-laki keturunan Afrika-Amerika dengan segelintir komplikasi kepribadian dan latar belakang hidup yang ada dalam hidupnya. Terlahir di sebuah lingkungan yang keras bernama Miami, narkoba, kulit hitam, bullying, ibu yang pecandu, hingga menjadi seorang gay yang miskin. Saya rasa tidak ada lagi yang lebih sulit menerima dan menghadapi konsekuensi dalam realitas masalah diskriminasi kompleks semacam ini, dan tentu saja permasalahan hidup yang dialami satu orang karakter ini dirangkum dalam 3 fase kehidupan dengan 3 nama berbeda, Little (childhood)/Chiron (boyhood)/Black (youth).

Fase pertama (little), menceritakan masa kecil Little (Alex R. Hibbert) dalam pertemuannya dengan seorang pria asing bernama Juan (Mahershala Ali) dan istrinya Teresa (Janelle Monáe). Fase ini mengungkapkan pencarian tentang arti kasih sayang, kebimbangan jati diri hingga proses untuk menemukan kebahagiaan masa kecil ditengah bully dan ibunya yang crack addicted bernama Paula (Naomi Harris), disaat rumah orang lain (Juan-Teresa) justru menjadi sandaran kehangatan dan cinta yang tidak ia dapatkan dirumahnya sendiri. Fase kedua (chiron), fase remaja Chiron (Ashton Sanders) yang terdeskripsikan kurus namun lebih galak dengan tatapan dingin dan sunyi seolah memprotes ketidak berubahnya hidup kala perlakuan sama tetap menghampiri hidupnya, bully hingga orientasi seksual semakin bergetar membentuk emosi nyata yang lebih kuat dan berkembang. Dan terakhir fase ketiga (black), seolah hasil dari apa yang ia dapat dimasa muda dan kehidupannya di penjara, perubahan fisik macho dengan anting dan gigi palsu emas mulai merubah sepenuhnya image Black (Trevante Rhodes) sebagai seorang drug dealer di daerah Georgia, Atlanta.


Meski film Moonlight adalah film murah yang hanya menggelontorkan budget $1,500,000, tapi apa yang diciptakan Jenkins dalam film Moonlight terasa seperti sebuah harmonisasi warna yang terasa kaya dan artistik. Meski dibandingkan pencapaian pesaingnya La La Land dengan budget $30,000,000 yang juga kaya warna dan sinematis, tapi buat saya ini tidak sebanding dengan hasil yang dicapai Moonlight. Moonlight adalah karya sinematis yang langka untuk budget seminim itu, pengaturan posisi lighting dan remangnya lampu neon dipancarkan ke setiap sudut dan arah pandang menghasilkan perpaduan warna yang sangat brilliant, kisah yang depresif dan melankolis ini pun seolah luput karena dibungkus oleh nuansa sinematis colorful yang mencolok pada film ini.


Pencapaian lainnya pun saat Jenkins sukses memberikan sebuah gradasi karakter melalui perubahan drastis yang mencolok. Tiga fase itu tersusun rapi tanpa membuat ketiganya terasa aneh dan ganjil, dan apa yang melingkupi soal distorsi kehidupan melalui pesan moral dan emosi tersampaikan seluruhnya melalui sudut pandang karakter yang kompleks. Orientasi seks, rasial, dan efek lingkungan yang memicu perubahan psikis berhasil tercampur dalam karakteristik satu orang manusia.

Untuk akting mungkin banyak yang mempermasalahkan Mahershala Ali yang berhasil memenangkan Oscar hanya untuk aktingnya yang sebentar. Tapi, jangan salah bahwa Anthony Hopkins di film "Silence of the Lambs" pun berhasil meraih simpati para juri Oscar. Mungkin kesan mendalam yang diberikan Mahershala Ali sebagai pria baik dan hangat terpancar begitu kuat saat ia mau mengasuh anak tak dikenalnya dengan rendah hati. Entah karena isu "oscar so white" tapi buat saya penghargaan bukan berarti dari penilaian kuantitas namun kualitas tak peduli seberapa banyak atau sedikit seorang aktor/artis berperan dalam film tersebut. By the way, Moonlight adalah film melankolis dan emosional yang terbentuk dengan pancaran keindahan visual sederhana tapi menghipnotis mata, sekaligus kisah penuh makna tentang degradasi moral kelas bawah, pertarungan dengan kerasnya hidup hingga rasa kesepian luar biasa yang menghinggapi seorang manusia yang lahir sepenuhnya berbeda.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates