• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Tidak semua orang percaya hantu, makhluk metafisik yang tak kasat mata ini dianggap hanya sebatas imajinasi manusia dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi, tidak barang tentu untuk seorang penganut agama atau segelintir paranormal yang yakin akan eksistensi dunia yang berseberangan dengan dunia nyata melalui tanda-tanda, komunikasi roh ataupun sekelibat penampakkan sosok misterius yang tiba-tiba muncul dibalik kegelapan. Saya rasa jika menilik hal tersebut memang akan membawa rasa ambigu dan menimbulkan tanda tanya perihal apakah makhluk yang biasa dianggap inkarnasi kematian manusia menuju hantu itu benar-benar ada, atau hanya akibat efek psikologis manusia semata.

Personal Shopper adalah film yang mengkaburkan batas antara realitas dan ilusi yang membuat kita bertanya apakah hantu itu nyata atau tidak. Maureen (Kristen Stewart) wanita yang bekerja sebagai asisten belanja pribadi seorang selebritis besar mencoba pergi ke Paris untuk mendatangi bekas rumah saudara kandungnya Lewis yang meninggal akibat serangan jantung. Dahulu Maureen dan Lewis sempat berjanji jika salah satu dari mereka meninggal, maka satu diantara mereka harus berusaha untuk mencoba membuat kontak dan komunikasi, menilik keyakinan besar saudaranya terhadap hal-hal bersifat spiritualitas dan percaya akan entitas roh kehidupan setelah mati. Namun, beberapa hari setelah Maureen mengunjungi bekas rumah saudaranya itu dan mendapatkan tanda-tanda gaib disana, ia terkejut dan heran oleh pesan misterius yang dikirim melalui chat handphone dari seseorang yang tidak diketahui siapa dan apa motifnya.


Oliver Assayas adalah sutradara yang saya kenal lebih dulu dengan salah satu karyanya "Clouds of Sils Maria" (2015). Kesamaan antara dua film besutannya ini bercerita tentang tokoh sampingan dalam kehidupan selebritis besar antara glamoritas dan popularitas yang bergesekkan dengan kehidupan psikologis dan juga permasalahan yang terjadi didalamnya. Dan kesamaan kedua, peran Kristen Stewart sebagai asisten khusus selebritis di kedua perannya tersebut. Film ini sebelumnya mendapatkan penilaian kontradiksi saat pertama kali ditayangkan di Cannes International Film Festival ketika para kritikus mencemooh film ini, meski separuhnya lagi memuji dengan sambutan hangat hingga akhirnya para juri resmi dari kompetisi tersebut memutuskan Assayas berhak memenangkan gelar sutradara terbaik tahun ini.

Sebetulnya film ini punya banyak hal menarik perihal garapan Assayas memiliki sentuhan mistis dan horror didalamnya. Saya suka tone film ini tampak begitu gelap, misterius dan dingin, namun terasa artistik dan indah melalui nuansa yang tampak berkilauan dari sisi pinggir pusat kemewahan dunia popularitas. Ciri khas Assayas masih terasa kental melalui tempo yang mengalun lambat dan tenang, hanya saja mengagumkan dalam permainan gerak gambar, scoring, hingga dentuman eksekusi suara yang seksama menciptakan aura mencekam dalam visualiasasi dan ketukan suara langkah sepatu Maureen ketika berkeliling sudut rumah tua tanpa penerangan dalam keheningan. Hingga membawa saya dalam rasa takut Maureen dalam pikiran cemas, gemetar dan terintimidasi oleh sesuatu yang mengintainya dibalik selimut kegelapan.


Saya sebetulnya sedikit mengerti apa yang sedang Assayas maksud dalam film ini dan juga alasan sebagian kritikus menilai buruk film ini. Personal Shopper bertujuan untuk memberikan skeptisme kepada publik tentang terror yang mengintai, membuat kebingungan serta mempertanyakan realitas sekental mungkin. Maureen sesungguhnya tokoh yang terbilang dalam misi mengungkapkan misteri selagi ia pun dilanda duka kesedihan akan kehilangan orang tersayangnya, selain mengenal Mauree yang serta mengalami krisis identitas, kehilangan tujuan dan terhinggap dalam depresi kesendirian. Menukil dalam psychological thriller film ini menghamparkan dilema juga delusi dalam hal yang setipis mungkin menipu penontonnya dalam balutan thrilling horror yang mind-blowing. Sehingga kita percaya apa yang kita lihat, kita rasakan dan kita dengar, dan semua itu distimulasi melalui insiden dan tragedi pembunuhan yang nyatanya menggoyahkan penontonnya soal teror hantu atau sesungguhnya pelaku manusia yang nyata. Dan problem tersebut berlanjut di akhir cerita yang menegaskan bahwa semua yang dialami Maureen seorang diri itu nyata atau delusi dalam ketakutan dirinya.


Tatkala mempertanyakan plot dan cerita yang membingungkan, saya jauh lebih terpikat oleh akting Kristen Stewart. Aura negatif dalam mimik wajah penuh derita dan pesimistis seolah hidupnya terenggut oleh kematian sang kakak, tapi keberanian untuk topless, pancaran kecantikkan dalam wajah kusut dan kusam namun indah, membuat saya terdorong untuk mengetahui lebih dalam latar belakang dan kepribadian kosongnya. Scene masturbasi adalah scene terbaik, hal yang sempat saya bayangkan semenit sebelum ia benar-benar siap berganti busana dengan memakai gaun mewah, mahal dan seksi pribadi milik boss-nya, rasa takut, gelisah sekaligus kenakalan yang ia buat seketika mengejutkan sekaligus menggoda bahwa tak terbayang hal yang baru semenit saya pikirkan ternyata benar-benar dia lakukan. Bukan berpikir mesum, tapi nyatanya refleksi psikis yang memang dipersentasikan dalam film dibentuk secara alami tanpa kepura-puraan, tanpa berpikir untuk mencoba bersimpati tapi secara keseluruhan mengerti jalan pikiran wanita ini tanpa harus membuat kita jadi sok tahu lebih dalam.

Well, mendalami kesimpulan atas cerita film ini saya condong percaya bahwa hantu dalam film ini betul-betul nyata dan ada. Tidak peduli Assayas membolak-balikkan pikiran saya soal ambiguitas dalam pikiran depresi dan delusi, karena beberapa point dalam film meyakinkan bahwa hantu dalam film ini memang eksis karena siapa yang menjatuhkan gelas dan siapa yang melintas melewati lift dan pintu geser otomatis tanpa terlihat mata, dan semua itu terjadi saat Maureen tidak hadir dan melihat disana. Tapi semua tergantung persepsi masing-masing, saat Hilma Af Klint, pelukis abstrak pertama di dunia yang memperkenalkan lukisan tak berbentuk, namun visualisasi tersebut nyata untuk dapat dilihat dan dirasakan sebagai seorang yang percaya akan energi spiritual dan hal gaib, meski semua tampak abu-abu jika memang Assayas mencoba memberi rasa keragu-raguan di akhir cerita, saya pikir tujuannya harus gagal karena delusi ataupun hantu, keduanya memang abstrak untuk dibicarakan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Cinta itu kadang rumit dan membingungkan, dan kadang akan membawa kegalauan yang berkepanjangan pada seseorang. Apalagi jika sudah jatuh terlalu dalam, apakah ada hal mudah untuk melupakannya dalam sekejap mata? Tentu saja tidak. Seperti kutipan dalam film ini sendiri, "hidup itu sebuah komedi yang ditulis oleh penulis komedi yang sadis". Cinta itu memang indah, tapi juga terkadang sadis dalam caranya bekerja dalam kehidupan yang lucu ini. Café Society karya Woody Allen ini mungkin akan menafsirkan hal itu kedalam kisah asmara yang dipenuhi kehidupan glamor masyarakat kelas atas ini.

Phil Stern (Steve Carell) dan istrinya Karen (Sheryl Lee) merupakan pengusaha sukses dan punya pengaruh besar dibidang perfilman hollywood. Suatu hari Phil ditelepon oleh saudara perempuannya yang tinggal di New York, Rose Dorfman (Jeannie Berlin), untuk memintanya mencarikan pekerjaan buat anaknya, Bobby Dorfman (Jesse Eisenberg), seorang keturunan yahudi. Bobby memiliki seorang ayah bernama Marty Dorfman (Ken Stott) dan kakaknya yang seorang gangster, Ben (Saul Stein). Dengan kesibukkan kerjanya yang begitu padat, membuat Bobby sulit untuk berbicara bahkan menemui pamannya tersebut. Hingga akhirnya Phil meminta sekretarisnya, Vonnie (Kristen Stewart) untuk menemani sementara waktu ponakkannya tersebut hingga ia mendapatkan pekerjaan yang pas. Tapi, siapa sangka disaat itulah Bobby tertarik dengan kecantikkan Vonnie dan akhirnya jatuh cinta padanya. Tapi, Bobby mengalami kesulitan saat tanpa diketahui dan tanpa ia sadari Vonnie memiliki seorang kekasih yang ternyata pamannya sendiri, Phil yang sedang menjalin hubungan gelap dengannya selama 1 Tahun lebih.

Sangat gampang mengetahui ciri-ciri film Woody Allen, pertama adalah tata visualnya yang cantik, kedua latar belakang tokoh yang bercirikan hidup glamor dan mewah, dan ketiga kompleksitas cerita cinta orang dewasa, dan keempat setidaknya ia punya minimal satu film yang ia rilis setiap tahunnya. Cafe Society merupakan sebuah cerita yang mengangkat tema tentang perselingkuhan, niat perselingkuhan, hasil dari perselingkuhan, rasa patah hati dan kegalauan. Dan hal yang menarik dari film Woody yang satu ini adalah kompleksitas cerita yang mampu menggelitik saya. Bagaimana tidak, seorang wanita yang dicintai baik oleh ponakan dan pamannya sendiri. Dan konflik mereka tidak langsung ditembak langsung ke sasaran, tapi dengan cermat Woody memasang seunik dan selucu mungkin hubungan tak kasat mata antara Bobby, Phil, dan Vonnie. Hingga akhirnya ia mulai membongkar satu-persatu hubungan gelap mereka bertiga. Tapi, tentunya hal ini tidak dengan cara yang keras dan kasar, justru ia terkesan lebih lembut dan damai.

Kekurangan film ini sebenarnya sudah terlihat jelas, manakala Woody tampak tak fokus dalam bercerita. Kesan mondar-mandirnya pun membuat kita tidak tahu kemana arah tujuan cerita ini. Kadang disaat kita menikmati satu cerita tentang hubungan Bobby, Vonnie dan Phil. Tiba-tiba ia melompat kecerita lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan cerita utama. Manalagi drama panggung film ini hampir saja mengalami kemunduran. Dipertengahan, Woody sengaja membelokkan cerita film yang sebenarnya sudah terkendali dan terasa menarik ini, secara tiba-tiba kita akan mengenali plot baru lagi tentang hubungan Bobby bersama istrinya  yang baru, Victoria (Blake Lively). Perubahan drastis ini justru malah menjadi kelemahan terbesar.

Kebetulan, ini adalah pertemuan ketiga kalinya buat Jesse Eisenberg dan Kristen Stewart, yang sebelumnya pernah berkolaborasi di film Adventureland dan American Ultra. Dan kali inipun akting mereka kembali bersama-sama menjadi sepasang kekasih. Jesse berperan sebagai seorang laki-laki yang canggung dan gugupan, saya pikir perannya disini sangat cocok sekali dengan tampangnya yang memang polos bawaan sejak lahir. Dan Kristen Stewart sendiri berperan sebagai wanita cantik dan sederhana yang gampang dicintai oleh Bobby dan digilai oleh Phil.

Tapi lain dari itu menurut saya Vonnie sendiri she's nothing special sampai sebegitunya dua pria ini mengorbankan segala yang ia miliki sampai-sampai mempertaruhkan rumah tangga. Walau memang kadang hal semacam itu bisa saja terjadi, karena cinta itu buta. Dan sayangnya saat kedatangan tamu tak di undang, Blake Lively sebagai love interest kedua Bobby tidak begitu dimaksimalkan performa aktingnya, padahal ia bisa saja bermain lebih apik karena saya sendiri percaya dengan kemampuan aktingnya dan terlebih perannya sendiri benar-benar menggantikan sosok Kristen Stewart ketika sejenak ia hilang dari cerita. Tapi, justru tidak lebih hanya sebagai tempelan saja.

Sepanjang saya menonton Café Society selain dari performa akting, segi visual, dan ceritanya, selebihnya ia terasa hampir menjemukan jika saja kisahnya bisa lebih lebih fokus dan tidak dibarengi cerita lain yang tak nyambung. Apalagi endingnya yang menggantung membuat cerita film terasa anti-klimaks, bahkan membuat sebagian penonton mungkin akan kecewa. Tapi, sebetulnya ia masih cukup menarik ketika cerita cinta tarik ulur antara Bobby dan Vonnie ini terlihat begitu mempesona. Dibarengi dengan cerita cinta yang menggelitik antara rasa galau, patah hati, rasa berselingkuh, dan rasa canggung. Mungkin tidak ada salahnya sih mencoba film Woody Allen yang satu ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Menjadi artis besar dan berakting di depan kamera itu tidaklah mudah, upaya untuk selalu berakting totalitas selalu menjadi faktor utama seorang bintang besar bisa bersinar karena penampilannya. Tapi, bukan berarti melakoni sebuah peran itu tanpa sebuah beban. Karena berakting adalah berperan menjadi orang lain. Kebiasaan dan gaya hidup yang bertolak belakang, serta sifat yang bertolak belakang dengan diri kita sendiri akan menyebabkan depresi berkepanjangan. Meskipun dunia akting bukanlah hal baru lagi, berbagai peran sudah dilakoni. Mungkin bisa jadi jika seorang aktor/artis dimintai peran yang tidak disukainya, tetapi terpaksa menjalaninya. Mungkin ini yang dirasakan oleh Maria Enders (Juliette Binoche), seorang artis senior yang sudah berumur 40 Tahun menjejali dunia akting dan kehidupan seorang superstar.


gambar film clouds of sils maria by lemonvie 1

Bersama asistennya Valentine (Kristen Stewart), Maria sudah mencicipi asam garam dunia akting. Beberapa film besar sudah ia bintangi, bahkan ia telah mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi dari bakatnya selama ini. Apalagi satu hal yang bisa membanggakan di dunia perfilman adalah akting luar biasanya 20 Tahun yang lalu sebagai Sigrid. Peran seorang gadis muda yang menjalin cinta bersama wanita tua bernama Helena. Tapi, siapa sangka film itu di buat sekuelnya, bahkan Maria harus berperan sebagai Helena. Peran yang sangat sulit untuk ia lakoni.

gambar film clouds of sils maria by lemonvie 2

gambar film clouds of sils maria by lemonvie 3

Tak dipungkiri bahwa ini adalah bagian cerita seorang wanita yang tenar dengan kesuksesan perannya yang tak pernah pudar dimakan usia. Meski sudah menjalani karirnya selama bertahun-tahun tapi kegemilangannya tak bisa dilupakan oleh sebagian besar orang. Ini mungkin menjadi sebuah contoh besar untuk semua bintang besar yang telah menjalani karir panjangnya.

Mungkin inti point Olivier Assayas disini adalah pengenalana seorang wanita paruh baya dengan segala kerapuhannya. Karakterisasi yang unik tapi mungkin apa yang dialami Maria ini bisa juga dialami oleh artis lainnya. Itulah akting, memerankan sebuah tokoh dengan kerumitan dan sifat yang harus dilakoni secara perfeksionis adalah sebuah perkara yang tak mudah. Merubah diri kita menjadi diri orang lain, apalagi peran tersebut dapat mempengaruhi psikis kita.

gambar film clouds of sils maria by lemonvie 4
 
Berakting itu rumit, bukan tentang kamu menghafal dialog perdialog, dan juga bukan tentang bagaimana kamu tampil maksimal didepan layar. Tetapi kamu juga dituntut untuk memperdalam dan juga menghayati sebuah tokoh, merubah total siapa dirimu. Memaksa kamu untuk menyukai peran itu suka tidak suka.

gambar film clouds of sils maria by lemonvie 5

Disini kita akan melihat duet solid antara Juliette Binoche dan Kristen Stewart. Saya suka bagaimana hubungan mereka terjalin dengan sebuah konsep, yang satu mendukung yang lainnya. Maksudnya adalah konflik utama tidak datang dari mereka berdua, melainkan satu sama lain saling mendukung peran sehingga tercipta harmonisasi yang terasa segar.

Apalagi Assayas menghubungkan sebuah ketenangan yang digambarkan dari objek pegunungan Alpen yang indah yang sebetulnya menggoyangkannya ke sebuah rasa takut, kerapuhan, dan kebingungan sebuah karakter. Dan Mencampur adukkannya menjadi satu.

gambar film clouds of sils maria by lemonvie 6

Overall, Clouds of Sils Maria adalah studi karakter seorang wanita paruh baya dengan masa kejayaan dan ketenaran seorang artis dengan dilema aktingnya. Ia tampil indah dengan segala bentuk keindahan pegunungan dan sinematografi yang tenang, tapi membawamu ikut menerjemahkan sosok Maria yang harus mengambil peran yang tak disukainya. Mungkin cukup manis dan mengesankan, walau sedikit aneh untuk penonton awam, tapi kita akan mengerti sendiri apa yang menjadi masalah yang dihadapi Maria.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates