• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Apa yang terjadi saat Perang Dunia II telah berakhir? Dan bagaimana nasib tentara Jerman yang tersisa setelah Hitler dan Nazi telah dinyatakan kalah telak dalam peperangan di tahun 1945? Perang pada dasarnya telah menanamkan benih kebencian dan kedengkian besar setelah pemerintahan diktator tersebut telah menunjukkan kekejamannya terhadap kaum Yahudi dan sekutunya, sehingga setelah semuanya berakhir pun seolah sisa-sisa dari pengikutnya harus membersihkan sendiri "kekacauan" dari tangan mereka sendiri. Sejarah yang diangkat dalam film Land of Mine (Under sandet) adalah sejarah kejahatan perang terburuk pasca perang dunia II, saat negara Denmark memaksa 2.000 lebih POW (Prisoner of War) Jerman untuk membersihkan 2,2 juta ranjau aktif dan berbahaya yang tersebar dipelosok negara mereka.


Land of Mine adalah film besutan sutradara Martin Zandvliet (A Willing Patriot, Dirch (A Funny Man)) yang memperoleh nominasi Oscar ke-89 pertamanya mewakili negara Denmark di "Best Foreign Language Film." Dimulai saat seorang "Danish" Sgt. Carl Rasmussen (Roland Møller) ditugaskan oleh Lt. Ebbe Jensen (Mikkel Boe Følsgaard) untuk mengawasi 14 tawanan Jerman yang dibawa menuju lepas pantai Barat Denmark, guna menetralisir lokasi penuh ranjau yang terhitung 45 ribu buah didalam pasir sepanjang pantai. Mereka semua adalah remaja yang masih terbilang muda terdiri dari Sebastian (Louis Hofmann), Helmut (Joel Basman), Ernst (Emil Belton), Werner (Oskar Belton), Wilhelm (Leon Seidel) dan August (yang saya sebut adalah para aktor yang aktingnya paling menonjol).


Secara teknis Rasmussen hanya sendirian mengawasi ke 14 tentara muda Jerman dalam operasi pembersihan ranjau. Tapi sebetulnya ditilik ke dalam sejarah asli yang diberitakan media, para POW seharusnya langsung berada dibawah kendali para tentara Inggris. Mengelupaskan kata moralitas, Land of Mine cukup banyak mengkritisi rasa empati dalam peti kebencian yang seolah telah menghilangkan nurani dan moralitas kemanusiaan dalam perang. Diskriminasi dalam film ini membuat kita bertanya-tanya "who is the real evil in a world war?".

Zandvliet memfokuskan pada hubungan Rasmussen dan para tawanan Jerman muda, Rasmussen awalnya muncul sebagai sosok berdarah dingin yang tak segan-segan meluapkan amarah dan kebenciannya pada Jerman. Tapi hubungan dengan para remaja ini mulai membuatnya terombang-ambing antara permasalahan moral dan dendam pribadi dihatinya. Para tentara Jerman pun tidak serta merta diam dalam derita, Sebastian yang paling menonjol diantara mereka bersinar sebagai leader dan guard, Ernst dan Werner sebagai saudara kembar yang berusaha saling melindungi dan Helmut sebagai pemberontak yang pesimistis. Para remaja Jerman dengan seragam lengkap dan wajah-wajah lesu, kotor penuh luka, seolah tersimpan rasa takut dan harapan dimata mereka saat putus asa hadir diantara hidup dan mati mereka.


Meski bukan film bertema perang frontal dengan lusinan terjangan peluru layaknya "Saving Private Ryan", tapi jangan salah bahwa Land of Mine hampir sama dengan "The Hurt Locker" tapi dengan "esensi" game puzzle komputer familiar ala "Minesweeper", film ini punya konsep tersendiri untuk memberikan kesan menegangkan dan brutal di tengah atmosfer yang terbilang calm to do, but seriously act. Memperlihatkan saat-saat para POW ini melucuti satu demi satu ribuan padang ranjau yang bersembunyi diantara timbunan pasir. Kita takkan pernah tahu kapan, dimana dan siapa yang akan menjadi korban dari ledakan ranjau tersebut, dan bom! seperti film-film horror yang memainkan efek jump scare, kita turut dihantui rasa was-was saat detik-detik mendebarkan para tentara ini harus berhadapan dengan resiko kematian dan tubuh hancur ditangan mereka. Dan ini berhasil membuat saya berkali-kali mengucap istighfar tiap kali moment itu datang dari arah yang tidak terduga.


Tapi intimasi melalui chemistry yang dibangun para karakter masih kurang matang, meski cukup yakin bahwa terdapat transisi jiwa yang bergelut dengan emosi dan nurani, hingga tatapan penuh keyakinan dan natural saat beberapa adegan tragis cukup menyayat hati, tapi saya pribadi sedikit merasa terganggu melihat ketidak mulusan adegan demi adegan tersusun kurang relevan membentuk rasa iba dan akrab yang agak bumpy.

Dan Mungkin sebagai film yang tidak menggunakan efek CGI, beberapa ledakan hasil technical effect masih terasa kurang rapi dan bersih, beberapa kali ledakan yang diciptakan pada beberapa moment masih terasa tearing. Tapi dapat dimaklumi karena disisi lain atmosfer ketidaktenangan bercampur deg-degan itu tetap mampu dihadirkan sepanjang film. Juga sinematografi mumpuni dari Camilla Hjelm patut diancungi jempol, ditembak pada lokasi syuting otentik sejarah yang mereka pilih di Oksbøllejren dan Varde, menghasilkan perpaduan cantik antara calm, sorrowful dan warm. Well, Land of Mine mengingatkan kita bahwa perang adalah sebuah kekejaman tanpa arti, memunculkan penderitaan, kebencian dan kematian sehingga pelaku sejarah perang siapapun dan sekecil apapun mereka sejatinya adalah korban.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa sih yang membuat sebuah salju longsor menjadi sebuah ide kreatif nan sensitif, yang inspirasinya didapat dari sebuah cuplikan video di youtube, kemudian menjadi sebuah konflik keluarga yang emosional dan uncomfortable? Seperti yang diakui oleh sutradara Ruben Östlund yang telah membawa film ini dan juga negara Swedia menjadi salah satu wakil pada ajang film terbesar di dunia, pemilihan Oscar pada nominasi Best Foreign Language. Yups, tentunya salah satu yang membuat Force Majeure (Turist) menjadi menarik adalah bagaimana sebuah peristiwa mengerikan tak terduga seperti salju longsor bisa menjadi sebuah tragedi yang bisa meretakkan sebuah hubungan.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang menikmati liburan mereka di pegunungan Alpen, diantaranya Tomas (Johannes Kuhnke), istrinya Ebba (Lisa Loven Kongsli), dan kedua anak mereka Vera (Clara Wettergren) dan Harry (Vincent Wettergren). Tentu, yang namanya liburan bersama keluarga adalah sebuah tradisi wajib yang menyenangkan diluar aktivitas hidup yang melelahkan. Tomas dan keluarga berencana menginap disana selama lima hari lamanya. Hingga hari kedua hal tak terduga terjadi, saat mereka bersantai dan menikmati acara makan siang di sebuah restoran, tiba-tiba terjadi peristiwa salju longsor dari kejauhan yang nampaknya tak begitu mengkhawatirkan, hingga lama-kelamaan salju longsor tersebut mendekati tempat mereka dan membuat semua orang ketakutan dan mengalami kepanikan, sampai akhirnya debu salju tersebut menutupi seluruh area restoran. Beruntungnya tragedi tersebut tidak membahayakan nyawa siapapun, namun  cukup menimbulkan 'shock' bagi Tomas dan keluarganya.

Pada dasarnya topik masalah utama yang ditekankan oleh Ruben Östlund adalah, tindakan yang dilakukan Tomas saat terjadinya salju longsor. Tindakkan yang berupa insting untuk menyelamatkan diri sendiri. Persoalan yang membawa ketidakterimaan Ebba yang kecewa dengan tindakan Tomas, yang ternyata rela mengorbankan keluarganya dan hanya memikirkan nyawanya sendiri. Hingga kejadian tersebut berakibat pada hubungan mereka yang terancam retak. Tidak hanya itu, bahkan ceritanya pun sedikit sensitif dan tajam, terutama ada sebuah singgungan antara pola pikir wanita dan pola pikir pria. Bagaimana sebuah kejadian luar biasa, memunculkan intuisi berbeda dari kedua pola pikir tersebut.

Sangat sentimentil dan betul-betul tajam bagaimana hal seperti ini pun bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan jujur saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi seseorang yang saya kenal. Ia menceritakan kepada saya bahwa suatu malam seorang wanita terbangun dan tersadar bahwa terjadi gempa di daerahnya, sehingga wanita tersebut panik dan segera keluar dari rumahnya. Tapi, ternyata ia baru sadar bahwa dirinya lupa membangunkan keluarganya sendiri yang tengah itu sedang tertidur lelap didalam rumah ketika gempa terjadi, sementara ia sendirian saja menyelamatkan dirinya. Dari cerita yang saya dapat tersebut, itupun menjadi sebuah cerita inspiratif yang juga sukar untuk dijelaskan. Bahkan Force Majeure pun kesulitan menerangkan bagaimana intuisi dan refleks bekerja dalam keadaan terdesak semacam itu.

Nah, konteks cerita tersebut sebenarnya bisa menarik dan menakjubkan ketika Ruben mampu mengolah perpaduan taste yang cukup tenang sekaligus terasa sangat mengganggu. Bahkan ketika gubahan scoring music, Antonio Vivaldi's Summer Concerto dari instrumen accordion yang didapat Ruben dalam salah satu video seorang anak 12 Tahun, menjadi sebuah alunan musik yang uncomfortable. Ada situasi yang Ruben ingin jelaskan dari sebuah ketidaktenangan dan ketidaknyamanan yang terjadi pada hubungan keluarga ini. Ia berhasil memberikan efek tersebut, ketika sedikit demi sedikit Ruben menyertakan juga kisah misterius, suram, beserta komedinya yang aneh. Nyatanya memang kisahnya sendiri sangatlah sederhana, tapi apa yang disampaikan betul-betul tajam dan cukup akurat. Meski bagian akhirnya Saya sudah mengira bakal seperti apa, tapi sebetulnya menjadi konklusi yang cukup memberi keseimbangan konflik yang ada.

Selain itu, bagian sinematografi yang bekerja menghamparkan keindahan pegunungan Alpen yang dingin beserta salju putihnya, menangkap setiap momen arthouse dari ketenangan, rasa dingin dan suara-suara yang ditimbulkan ditempat tersebut menjadi sebuah arena kisah yang aneh dan mengganggu. Meski, Force Majeure bukanlah sebuah kisah yang enak untuk ditonton, sebaliknya film ini memberi sebuah cerita yang suram, tajam, dan uncomfortable. Tapi, drama komedi gelap ini memberi sentuhan cerita yang betul-betul tajam dan mengoyak-ngoyak pikiran kita, enggan memberi kesenangan, tapi terus-menerus memberikan kita emosi kepanikan yang nyata dan konflik hubungan keluarga yang sentimentil, dari yang awalnya baik-baik saja berubah menjadi hubungan yang tidak bahagia. Membuatnya lebih menarik dari sebuah kesenangan yang lebih nyata.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Saya sangat tertarik membuat salah satu review film dari Turki ini untuk menelaah bagaimana cerita tentang lima gadis bersaudara ini menghadapi sebuah kerumitan hidup yang sangat menggoyahkan dan emosional. Sangat-sangat luar biasa bagaimana Saya bisa memberi applause setelah menontonnya. Bisa Saya katakan menyentuh, dan bisa juga membuat Saya berpikir sejenak untuk meresapi setiap bagan cerita yang bisa sangat bermakna ini.


Ini tentang lima bersaudara Sonay, Selma, Ece, Lale, dan Nur. Mereka adalah bersaudara yatim piatu yang terpaksa di asuh oleh nenek dan pamannya. Suatu hari sepulang sekolah mereka berlima bermain-main di pantai bersama beberapa teman lelaki di sekolahnya. Sepulang dari sana nenek mereka mendengar kabar bahwa mereka berlima diketahui bersentuhan dan melakukan hal tak bermoral, meski hal itu tidak serta merta mereka lakukan dengan sengaja dan hanya sedang bermain-main. Meski begitu bahwasannya lingkungan dan cara hidup agama yang di anut oleh keluarga ini sangat dalam dan juga karena tak ada lagi orang tua bagi mereka untuk melindungi para gadis ini, maka nenek dan pamannya mulai merencanakan untuk menikahkan mereka satu persatu.

gambar film mustang by lemonvie

Mungkin secara garis besar film ini membukakan mata Saya bahwa peran orang tua itu sangat besar bagi kelangsungan seorang anak, apalagi yang dibesarkan adalah anak gadis. Dengan segala bentuk globalisasi yang ada dari dulu sampai sekarang dapat berdampak kepada psikologis seorang anak, entah pengaruh itu berdampak positif atau berdampak negatif. Tapi, mungkin point ini hanya sedikit menyerempet dari kisah film ini meski pengaruh yang terjadi dalam cerita sangat besar. Bagaimana seorang remaja dengan kebebesan hidupnya dan hak untuk bertindak bercampur aduk dengan tindakkan orang tua yang posesif.

gambar film mustang by lemonvie 1

Masa remaja adalah masa dimana kesenangan dan hidup bebas itu adalah separuh kehidupan mereka, dan juga masa-masa dimana pemikiran mereka sangat labil dan secara mental pun belum dikatakan dewasa. Tetapi, kadang memang betul sebebas-bebasnya seorang remaja pastilah keresahan orang tua adalah faktor mengapa mereka menjadi posesif. Nah, disinilah hebatnya film ini mencampur adukkan segala elemen emosional antara kedua faktor tersebut.

gambar film mustang by lemonvie 2

gambar film mustang by lemonvie 3

Apalagi mengambil sisi agama yang di anut oleh orang tua asuh mereka, mau tidak mau tidak hanya rasa malu yang ditanggung oleh keluarga ini tetapi juga aturan dan hukum agama yang keras (Turki adalah negara dengan kaum mayoritas beragama Islam). Ini tentang bagaimana moralitas, hukum agama, remaja labil, dan aturan kehidupan yang kadang mau tidak mau harus ada yang dikorbankan dalam hidup. Mungkin bisa Saya bilang Saya pun mengikuti alur yang sebetulnya segmennya sederhana tapi mampu dijabarkan dengan sangat rumit tapi terkendali. Bagaimana satu persatu lima dari mereka mereka mampu diceritakan dengan sangat mengagumkan dan emosional.
 
gambar film mustang by lemonvie 4

Tapi, meski begitu tamparan keras terjadi ketika kita akan berperang batin tentang tindakkan posesif berlebihan. Pengekangan dan penjara bagi hidup seorang manusia meski dirasa yang dilakukan benar tetapi kadang bisa saja salah. Justru hal ini berakibat pada sebuah perlawanan dan penentangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Kita takkan pernah lepas dari masalah kehidupan. Bahkan keinginan hampir setiap manusia adalah bisa hidup bahagia dengan memiliki rumah dan keluarga yang kita cintai. Bahkan keinginan kita akan terusik akibat kekuatan besar yang dinamakan uang dan kekuasaan yang ingin menghancurkan kebahagiaan itu. Mungkin inilah yang ingin disampaikan oleh film bertema Leviathan ini.

Jika kita menelusuri lebih jauh mungkin memang judul ini akan mengacu pada monster raksasa yang tinggal di dalam laut. Dalam kitab injil dalam kisah Nabi Ayub pun makhluk tersebut disebutkan sebagai jelmaan iblis pembuat kerusakan. Saya sebenarnya tidak tahu sejarah tentang makhluk ini bahkan Saya pun harus menelusuri kisah makhluk ini di google. Tapi, singkat cerita katanya kisah film ini bisa disamakan sedikit dengan kisah dari The Job dari Injil yang mungkin saja ingin disampaikan dalam cerita sederhana sebuah keluarga di pinggiran kota Rusia.

gambar film leviathan by lemonvie

Nikolay (Aleksei Serebryakov) beserta sahabat sekaligus pengacara yang tinggal di kota Moskow bersama melawan walikota serakah dan korup yang ingin mengambil hak tanah Kolya di persidangan. Ini seperti keadilan melawan sebuah kejahatan oleh penguasa tamak. Memang tidak mudah untuk menjatuhkan nama besar walikota yang memang notabene di dekengi oleh hukum yang malah condong kepada uang dan bukan kepada keadilan. Kita bisa melihat kebusukkan demi kebusukkan politik di kota itu.

gambar film leviathan by lemonvie 2

Mungkin tidak disitu saja lika-liku Kolya yang temperamental dalam menghadapi masalahnya di dalam persidangan demi meminta keadilan hukum, tapi kita juga akan melihat kekacauan yang ada di dalam keluarganya sendiri. Seperti istrinya Lilya (Elena Lyadova) yang tidak bisa akur dengan anaknya Roma (Sergey Pokhodaev) dari pernikahan pertama Kolya. Juga masalah perselingkuhan. Mungkin apa yang di sampaikan oleh cerita ini adalah kesabaran dari Kolya sendiri atas keputusan Tuhan memperlakukan dirinya seperti ini.

gambar film leviathan by lemonvie 3

gambar film leviathan by lemonvie 4

Untuk kisahnya sendiri bisa dikatakan sederhana, latar belakang ceritanya pun hanya sekedar sebuah tempat di pinggiran kota. Namun cerita dan latar sederhana ini mampu di persentasikan dengan sangat-sangat kuat, kita akan mengikuti alur bagaimana usaha seorang manusia yang harus menghadapi dilema pahit kehidupannya dengan kesabaran. Ini seperti kisah nyata yang bisa ditemui disetiap jalan kehidupan. Apakah kamu akan menyerah ataukah tetap pada pernyataanmu?

Bisa dikatakan mungkin cerita Kolya ini sangat-sangat sederhana dan manusiawi. Tapi, sebetulnya makna yang ingin disampaikan jauh lebih rumit dari yang kita sanggup pikirkan. Dia mampu mendorongmu masuk kedalam cerita sehingga kamu bisa merasakan marah, kesakitan, dan kebingungan. Bertanya-tanya apakah kesalahannya sampai bisa terjadi hal seperti ini? Padahal kita bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, pada akhirnya kita harus memaknai cerita sederhana ini tidak hanya dari segi perspektif kita tapi lebih kepada apa tujuan dari semua masalah hidup.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates